Posts Tagged ‘nafsu’

seks,nikmat,gairah

October 20, 2009

Judul: Nafsu Mbak Ambar

Author : Hidden , Category: Setengah Baya

Perkenalanku dengan Mbak Ambar berawal dari seringnya aku melakukan kegiatan chatting di internet.

Singkat cerita, wanita tersebut ingin ketemu denganku di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Surabaya. Setelah beberapa saat aku duduk sambil meminum sofdrink yang aku pesan, seorang wanita sebaya berjalan menghampiri tempat dudukku.

“Dandy ya..?” sapa wanita tersebut.

“Iya, maaf anda siapa ya?” balasku bertanya.

“Namaku Ambar” kata wanita itu mengenal diri.

“Silahkan duduk Mbak” kataku mempersilahkan wanita tersebut duduk.

Setelah memesan minuman American float, kami berdua terhanyut dalam obrolan-obrolan yang terkadang membuat kami tertawa bersama. Umur 33 tahun tidak memperlihatkan tubuh Ambar mengendur sedikitpun. Tubuh Ambar memang tidak seberapa tinggi, perkiraan aku 165/50. Bibirnya yang sedikit sensual dan dipadu wajahnya yang manis, membuat wanita tersebut kelihatan lebih dewasa. Pinggulnya yang indah dengan style bagaikan gitar spanyol, membuat nafasku naik turun tidak beraturan. Tonjolan bongkahan daging kembar di dadanya yang menurut tebakanku berukuran 34, semakin memperlihatkan sempurnanya wanita tersbut.

“Dandy, kenapa kok bengong?” tanya Ambar.

“Ngg.. nggak kok Mbak, aku cuman terpana aja dengan Mbak” godaku

“Akh kamu bikin aku GR saja” katanya tersenyum.

“Oya Mbak kemarin kok bisa langsung PV nickname aku?” tanyaku.

“Iya ada seseorang yang kasih nickname kamu, kata temanku kamu orangnya asyik aja” jelas Ambar.

“Emang siapa sih Mbak nama teman nya?” tanyaku selidik.

“Sudah deh Dandy, maaf aku nggak bisa kasih namanya. Yang penting aku sudah ketemu kamu sekarang” kata Ambar menjelaskan.

Kami berdua cerita tentang kehidupan kita masing-masing, dan ternyata Ambar termasuk single parent. Itu karena beberapa tahun yang lalu, suaminya pergi entah kemana. Dengan wajah yang sedikit suram, Ambar menceritakan kisahnya sampai dia harus bercerai dengan suaminya.

Ada guratan kesedihan yang nampak jelas diwajahnya, aku seperti tersihir dengan ceritanya. Sehingga membuat aku sering menarik nafas panjang. Ambar menceritakan kalau di Surabaya ini tinggal dengan kakak perempuannya. Sebut saja kota pinggiran kota Surabaya tinggalnya.

Hampir 1 jam penuh kami ngobrol tanpa terasa, sampai akhirnya aku menawarkan untuk mengakhiri pertemuan tersebut.

“Ambar, sudah malam nih” kataku

“Iya” jawabnya lirih.

“Mas, aku dianter pulang ya?” pinta Ambar.

“Oke, tapi mobilku jelek lho” kataku merendah.

“Jelek-jelek kan beli sendiri, lagian aku butuh orangnya kok” goda Ambar.

‘DEG’ jantungku terasa berhenti seketika walaupun dengan secepat itu pula aku berusaha mengontrol keadaan diriku yang mulai ngeres. Aku berusaha menerjemahkan apa arti sebenernya perkataan Ambar tersebut. Betapa bahagianya diriku jika memang dia mau kencan denganku. Seiring obrolan yang sedikit membuat nafasku sesak, kami berdua suadah berada dalam mobil dan segera meluncur untuk mengantar Ambar. 45 menit kemudian, kami sudah berada di sebuah rumah yang tidak sebegitu besar tetapi view nya sangat mengagumkan.

“Dandy, mampir dulu ya?” ajak Ambar.

“Aduh maaf deh, sepertinya ini sudah malam” kataku.

“Sebentar aja, sekalian aku buatin kopi” pinta Ambar menggebu.

Tangannya yang lentik menarikku supaya turun dari mobil dan akhirnya aku memarkir mobilku di depan rumahnya. Ketika aku masuk ruang tamu, bau semerbak bunga sedap malam menyengat hidungku dan menambah suasana romantis.

“Dandy, silahkan diminum,” kata Ambar.

“Iy–iya..” jawabku gugup.

Entah berapa lama aku menikmati suasana sekeliling, karena tanpa terasa Ambar sudah membawa 2 buah cangkir yang berisi kopi dan teh. Aku langsung meminum kopi hangat yang sudah dihidangkan Ambar.

“Mmm, kok sepi memang kakak kamu dimana?” tanyaku.

“Nggak tahu tuh Dandy, mungkin lagi keluar” jawab Ambar.

Malam itu memang Ambar kelihatan sangat menggairahkan, dengan u can see warna cream dipadu dengan rok mini warna merah muda membuat kakinya yang jenjang semakin nampak indah. Sesekali aku melirik pahanya yang putih mulus sehingga membuat ‘adik kecilku’ mulai berontak.

“Dan, kenapa kok bengong?” tanya Ambar mengagetkan lamunanku.

“Tidak apa-apa kok” kataku.

“Dany, aku mau tanya sesuatu boleh nggak?” tanya Ambar.

“Silahkan Mbak” jawabku.

“Mmm, kata temanku kamu sering menulis pengalaman sex kamu di internet ya?” tanyanya.

“Iy–iya sih Mbak” jawabku dengan wajah memerah.

“Terus apa yang kamu ceritakan itu benar kisah nyata kamu?” tanyanya kembali.

“Iya Mbak, aku sengaja tuangkan di situs itu karena aku belum menemukan sosok yang pas buat aku ajak share tentang masalah sex,” jelasku.

“Apa istri kamu tahu?” tanya menyelidik.

“Ya pasti nggaklah Mbak” jawabku.

“Aku sudah baca semua karya tulis kamu dan aku tertarik dengan style kamu saat bercinta dengan wanita setengah baya. Sepertinya kamu perfect banget dalam urusan yang satu itu” puji Ambar.

“Akh, biasa aja kok Mbak.. ” jawabku datar.

Kami membicarakan hal-hal mengenai sex dengan jelas dan terbuka, sehingga tanpa terasa jam sudah menunjukkan pk.20.30 malam.

“Mbak sudah malam nih, aku mau pulang dulu ya?” pintaku.

“Iya deh dan tapi.. ” Ambar tidak meneruskan pembicaraanya.

Ambar langsung berdiri dan menghadap tepat di depan wajahku dan sesaat kemudian Ambar sudah berada diatas pangkuanku.

“Dandy, aku ingin bukti kehebatan kamu dalam bercinta” pintanya.

“Mbak nanti ada orang.. ” jawabku ragu

Tanpa bisa meneruskan rasa kekhawatiranku, bibir Ambar langsung menyumbat bibirku. Tangannya melingkar di leherku sehingga lumatan bibir Ambar seakan menyesakkan nafasku. Kami berdua saling melumat dan mengadu lidah, sehingga lambat tapi pasti birahiku mulai terusik untuk bangkit. Rok mini Ambar yang tadinya rapi, sekarang sudah terangkat ke atas. Celana berenda warna pink semakin menambah kesempurnaan pinggul Ambar. U can see cream Ambar sudah terlepas semua kancingnya sehingga bra nya yang berwarna pink nampak jelas dihadapanku.

Sesekali tubuhnya meliuk-liuk diatas pangkuanku, seakan-akan memberikan indikasi bahwa dia sudah mulai gatal.

Sesaat kemudian Ambar berdiri dan mengkangkangi wajahku, naluriku segera menggerakan wajahku untuk medekati selangkangannya. Bibirku yang sudah mulai nakal, menjilati lutut, paha dan sampailah di tengah selangkangan Ambar. Aku melihat CD warna pink yang tadinya masih bersih, sudah mulai banjir dengan lendir yang membasahi permukaan nonoknya.

“Ohhk.. Dandy.. teruss..” desah Ambar.

Dengan lihai, tanganku yang kiri mendorong pantat Ambar supaya lebih maju dan tangan kiriku menyibak CD yang dikenakan Ambar. Lidahku dengan mudah mendarat pada lubang nonok Ambar yang tampak rimbun ditutupi oleh rambut-rambut kemaluan yang hitam pekat. Bagaikan menjilat es cream, aku semakin berani mengoyak nonoknya dengan lidahku.

“Aoowww.. Daannddyy.. nikmat sekali sayaangg” desah Ambar.

“Dannddy.. aku.. keeluuarr.. aaakhh” Ambar mendesah panjang dan bersamaan dengan rintihan tersebut, cairan hangat keluar dari lubang nonoknya. Dengan liarnya aku segera menjilati seluruh cairan birahi yang meleleh itu, dan aku segera berdiri dari tempat dudukku semula.

Hanya dengan menyibak rok Ambar, aku membimbing tubuh Ambar untuk setengah menunduk. Tangannya menopang tubuhnya pada sandaran tempat duduk. Sedetik kemudian aku sudah mengeluarkan batang kontolku, hanya aku buka resletingku, kontolku sudah berdiri tegak keluar. Ambar hanya menunduk pasrah dengan apa yang akan aku lakukan. Tanganku segera melorotkan CD Ambar sampai sebatas lutut, aku segera menggesek-gesekan kepala kontolku pada lubang Ambar.

“Uggh.. Danddy.. gelii.. ” rintih Ambar.

“Sudah sayang.. masukkan.. aku nggak tahan.. please” pinta Ambar.

Setelah berkata demikian, Ammbar segera menekan pinggulnya sehingga batang kontolku mulai mengoyal bibir nonoknya.

“Aooaa.. beesaarr seekali Danddy..” kata Ambar.

Hanya sekali tekan saja, seluruh batang kemaluanku sudah terbenam dalam lubang nonoknya, kedua tanganku menahan pinggul Ambar agar mengikuti iramaku.

Aku sengaja tidak menggerakkan keluar masuk kontolku, akan tetapi aku menggoyang pinggulku. Gerakan berputar membuat Ambar menggerinjang hebat. Dengan santainya aku memainkan gejolak birahinya, sehingga beberapa saat kemudian tangan Ambar yang pertamnya menopang tubuhnya pada sandaran tempat duduk, sekarang berganti menekan pantatku untuk tidak melepaskan kontolku saat Ambar mencapai orgasme yang kedua.

“Dan.. teruuss.. jangann berhenti saayanng..” rintih Ambar.

Mendengar rintihan Ambar dan gelagat akan orgasmenya Ambar, aku segera menggoyang cepat pinggulku dan sesekali menekan dalam kontolku pada lubang kewanitaanya.

“Amppunn.. kkaamuu.. memang.. hheebbaatt..” rintih Ambar.

Beberapa saat kemudian.

“Danddyy.. aakuu nggak tahann.. oookkhh.. teruss.. sayang.. Danddyy..” Ambar merintih panjang saat aku merasakan cairan hangat membasahi batang kontolku dan jujur saja hal itu membuat birahiku mendekati pucaknya..

“Ccreekk.. Crekk.. Creekk.. ” suara batang kontolku keluar masuk pada lubang nonoknya yang sudah membanjir.

Tubuh Ambar tidak lagi menunduk, tubuh kamu berdiri berbelakangan. Tanganku menggapit perut Ambar dari belakang, pantat Ambar yang sexy menjorok kebelakang dan mendempet sepenuhnya dengan perutku. Tangan Ambar memainkan kedua belah payudaranya, posisi ini memudahkan aku untuk melakukan ‘tusukan-tusukan’ kontolku yang lebih mentok dalam lubang nonoknya.

“Mbaak.. aku.. mau.. keluar..” rintihku.

“Iyaa.. Danndydyy akuu jugaa maau laagii..” rintih Ambar.

“Mbaak.. kita keluarr.. barengg..” kataku.

“Iyaa.. sayangg.. oookkhh” Ambar semakin panjang rintihannya.

Gerakan kami semakin cepat dan tanpa sadar kami melakukannya di ruang tamu rumah Ambar. Batang kontolku semakin senut-senut menahan semburan pejuku yang sudah berada di ujung kontolku.

“Daanddydy.. aku.. kkeell.. uuuaarr aakhh” rintih Ambbar.

“Iyaa.. aaku juggaa Mbaakk.. ” rintihku panjang.

“Aakkhh.. ” kami berdua merintih panjang saat semburan pejuku dalam nonok Ambar.

“Crrutt.. Crut.. Crut.. Crutt.. ” entah berapa kali semburan pejuku muncrat dalam nonok Ambar. Dan disaat aku masih menikmati sisa-sisa kenikmatan persetubuhan tersebut, Ambar seketika merubah posisinya dan duduk. Wajahnya tepat di depan batang kontolku yang masih mengencang.

“Mmm.. ” bibirnya yang mungil segera melumat batang kontolku. Lidahnya menjilati sisa-sisa tetesan peju yang keluar dari ujung kontolku.

“AAkkh.. Mbaakk.. nikmat sekali.. ” rintihku.

Batang kontolku ditelan habis oleh mulut Ammbar yang sensual, hal itu membuat aku semakin terbang saja dan sedikit demi sedikit kontolku mulai melembek dan ‘tidur’ seperti semula.

“Ihh Dandy, punya kamu memang luar biasa. Apa yang selama ini hanya aku dengar dari teman-teman, sekarang aku sudah buktikan” puji Ambar.

Aku hanya menengadahkan wajahku ke atas langit-langit karena sambil memuji Ambar masih saja mengulum, mengocok dan menjilati kontolku. Dentangan jam dinding berbunyi sepuluh kali, aku segera membenahi pakaianku yang amburadul.

“Mbak sudah malam nih, aku mau balik dulu?” kataku.

“Muuacchh..” Ambar mengecup kontolku dan kembali memasukkan kontolku dalam CD, serta merapikan celanaku.

Ambar bangkit dari duduknya dan berhadapan dengan tubuhku, tangannya merangkul leherku.

“Dandy.. ma kasih ya kamu telah memberikan kepuasan untukku” kata Ambar.

“Sama-sama Mbak.. ” kataku lirih.

“Kapan-kapan bisa kan kita ulangi lagi?” tanya Ambar.

“Bisa Mbak, atur aja waktunya” jawabku pasti.

Bersamaan dengan itu bibir Ambar melumat bibirku, 5 menit lamanya Ambar melumat bibirku. Setelah kecupan romantis tersebut, aku segera beranjak menuju mobil starletku. Sambil kembali memandang Ambar yang berdiri di depan pintu melambaikan tangannya, aku segera menekan gas mobilku untuk meninggalkan rumah wanita tersebut.

Malam itu benar-benar membuat aku tidak bisa melupakan dengan apa yang aku alami, Ambar seorang wanita yang anggun ternyata bisa takluk di atas ranjang oleh keperkasaanku.

udul: Permohonan Seorang Teman dan Suaminya

Author : Hidden , Category: Pesta Sex

Aku punya teman SMU dulu. Hubungan kami sangat baik, karena kami sama-sama aktif di OSIS. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan ke Australia, sedangkan aku, karena keadaan ekonomi yang pas-pasan, puas menamatkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah.

Setelah lulus, aku bekerja di Jakarta. Entah suatu kebetulan atau bukan, saat bekerja di salah satu perusahaan swasta, aku bertemu kembali dengan Anna, yang bekerja di perusahaan rekanan perusahaan kami. Kami bertemu waktu ada penandatanganan kerjasama antara perusahaannya dengan perusahaan tempatku bekerja. Kami pun kembali akrab setelah tidak bertemu sepuluh tahun. Ia masih tetap cantik seperti dulu. Dari ceritanya, aku dapatkan informasi bahwa ia memperoleh master di bidang marketing. Selain itu, sama sepertiku, ia telah tiga tahun menikah, suaminya orang Jawa Timur, tetapi mereka belum dikaruniai anak; sedangkan aku ketika itu masih lajang. Usai kerja, kami suka pulang bareng, sebab rumahnya searah denganku. Kadang-kadang jika ia dijemput suaminya, aku ikut numpang mobil mereka.

Aku tak pernah terpikir kalau temanku Anna memiliki suatu rahasia yang suaminya sendiri pun tak pernah tahu. Suatu ketika, kuingat waktu itu hari kamis, aku ikut pulang di mobil mereka, kudengar Anna berkata pada suaminya,

”Pa, lusa aku ulang tahun yang ke-28, kan? Aku akan minta hadiah istimewa darimu. Boleh kan?”

Sambil menyetir, suaminya menjawab, ”Ok, hadiah apa rupanya yang kau minta, sayang?”

”Hmmm, akan kusebutkan nanti malam waktu kita…” sambil tersenyum dan mengerlingkan mata penuh arti.

Suaminya bergumam, ”Beginilah istriku. Kalau ada maunya, harus dituruti. Kalau tidak kesampaian, bisa pecah perang Irak.” Kemudian tak berapa lama, ia melanjutkan, ”Gimana Gus, waktu SMU dulu, apa gitu juga gayanya?”

Kujawab, ”Yah, begitulah dia. Waktu jadi aku ketua dan dia sekretaris OSIS, dia terus yang berkuasa, walaupun program kerja aku yang nyusun.”

”Idiiiih, jahat lu Gus, buka kartu!” teriak Anna sambil mencubit lenganku pelan.

Suaminya dan aku tertawa. Sambil kuraba bekas cubitannya yang agak pedas, tetapi memiliki nuansa romantis, kubayangkan betapa bahagianya suaminya beristrikan Anna yang cantik, pintar dan pandai bergaul.

Aku kemudian turun di jalan depan kompleks perumahan mereka dan melanjutkan naik angkot ke arah rumahku yang letaknya tinggal 3 km lagi.

Aku sudah lupa akan percakapan di mobil mereka itu, ketika malam minggu, aku cuma duduk-duduk di rumah sambil menonton acara televisi yang tidak menarik, tiba-tiba kudengar dering telepon.

”Gus, kau ada acara? Anna dan aku sedang merayakan ulang tahunnya. Datanglah ke rumah kami. Dia sudah marah-marah, sebab baru tadi aku bilang mau undang kau makan bersama kami. Ok, jangan lama-lama ya?” suara Dicky, suami Anna terdengar.

”Wah, kebetulan Mas, aku sedang bete nich di rumah. Aku datang sekitar 20 menit lagi ya?” jawabku.

”Baiklah, kami tunggu” katanya sambil meletakkan gagang telepon.

Aku bersiap-siap mengenakan baju hem yang agak pantas, kupikir tak enak juga hanya pakai kaos. Sepeda motor kukeluarkan dan segera menuju rumah Dicky dan Anna.

Setibanya di sana, kuketuk pintu. Anna membuka pintu. Kulihat gaunnya begitu indah membalut tubuhnya. Potongan gaunnya di bagian dada agak rendah, sehingga menampakkan belahan buah dadanya yang sejak SMU dulu kukagumi, sebab pernah kulihat keindahannya tanpa sengaja waktu ia berganti baju saat olah raga dulu.

Kusalami dia sambil berkata, ”Selamat ulang tahun, ya An! Panjang umur, murah rejeki, cepat dapat momongan, rukun terus dalam rumah tangga”

Tanpa kuduga, tanganku disambut dengan hangatnya sambil diberikannya pipinya mencium pipiku. Yang lebih tak terduga, pinggiran bibirnya – entah disengaja atau tidak – menyentuh tepi bibirku juga.

”Trims ya Gus” katanya.

Aku masuk dan mendapati Dicky sedang duduk di ruang tamu sambil menonton televisi. Dicky dan Anna mengajakku makan malam bersama. Cukup mewah makan malam tersebut, sebab kulihat makanan restoran yang dipesan mereka. Ditambah makanan penutup berupa puding dan beragam buah-buahan membuatku amat kenyang. Usai makan buah-buahan, Dicky ke ruang bar mini dekat kamar tidur mereka dan mengambil sebotol champagne.

”Wah, apa lagi nich?” tanyaku dalam hati.

”Ayo Gus, kita bersulang demi Anna yang kita cintai” kata suaminya sambil memberikan gelas kepadaku dan menuangkan minuman keras tersebut.

Kami bertiga minum sambil bercerita dan tertawa. Usai makan, kami berdua kembali ke ruang tamu, sedangkan Anna membereskan meja makan. Dicky dan aku asyik menonton acara televisi, ketika kulihat dengan ekor mataku, Anna mendatangi kami berdua.

”Mas, ganti acaranya dong, aku mau nonton film aja! Bosen acara TV gitu-gitu terus” rajuknya kepada suaminya.

Dicky menuju bufet tempat kepingan audio video dan sambil berkata padaku, ia mengganti acara televisi dengan film, ”Nah, gitulah istriku tersayang, Gus. Kalau lagi ada maunya, jangan sampai tidak dituruti.”

Kami tertawa sambil duduk bertiga. Aku agak kaget waktu menyaksikan, ternyata film yang diputar Dicky adalah film dewasa alias blue film.

”Pernah nonton film begini, Gus? Jangan bohong, pria seperti kita jaman SMP saja sudah baca Playboy dulu, bukan?” tanyanya.

”He.. he.. he.. nonton sich jangan ditanya lagi, Mas. Udah sering. Prakteknya yang belum” tukasku sambil meringis.

Agak risih juga nonton bertiga Anna dan suaminya, sebab biasanya aku nonton sendirian atau bersama-sama teman pria.

”Anna kemarin minta kita nonton BF bertiga. Katanya demi persahabatan” ujar suaminya.

”Ya Gus, bosen sich, cuma nonton berdua. Sekali-sekali variasi, boleh kan?” kata Anna menyambung ucapan suaminya dan duduk semakin rapat ke suaminya.

Kami bertiga nonton adegan film. Mula-mula seorang perempuan bule main dengan pria negro. Lalu pria Asia dengan seorang perempuan Amerika Latin dan seorang perempuan bule.

”Wah, luar biasa” batinku sambil melirik Anna yang mulai duduk gelisah.

Kulihat suami Anna sesekali mencium bibir Anna dan tangannya yang semula memeluk bahu Anna, mulai turun meraba-raba tepi buah dada Anna dari luar bajunya. Cerita ketiga semakin panas, sebab pemainnya adalah seorang perempuan bule yang cantik dan bertubuh indah dan dua orang pria, yang satu Amerika Latin dan yang satunya lagi bule. Si perempuan diciumi bibir lalu buah dadanya oleh si pria bule, sedang si pria Amerika Latin membuka perlahan-lahan rok dan celana dalam si perempuan sambil menciumi lutut dan pahanya. Kedua pria tersebut menelentangkan si perempuan di sofa, yang satu menciumi dan meremas buah dadanya, sedang yang lain menciumi celah-celah paha. Adegan itu dilakukan secara bergantian dan akhirnya si pria bule menempatkan penisnya ke klitoris si perempuan hingga si perempuan merintih-rintih. Rintihannya makin menjadi-jadi sewaktu penis tersebut mulai memasuki vaginanya. Di bagian atas, buah dadanya diremas dan diciumi serta disedot si pria Amerika Latin. Si perempuan kemudian memegang pinggang si pria Amerika Latin dan mencari penisnya untuk diciumi dan dimasukkan ke dalam mulutnya. Si pria memberikan penisnya sambil terus meremas buah dada si perempuan. Begitulah, penis yang satu masuk keluar vaginanya, sedang penis yang lain masuk keluar mulutnya.

Aku merasakan penisku menegang di balik celana dan sesekali kuperbaiki dudukku sebab agak malu juga pada Anna yang melirik ke arah risleting celanaku. Aku merasa horny, tetapi apa daya, aku hanya penonton, sedangkan Anna dan Dicky, entah apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Kukerling Dicky dan Anna yang sudah terpengaruh oleh film tersebut.

Tak lama kemudian kulihat gaun Anna semakin turun dan buah dadanya sudah semakin tampak. Benar-benar indah buah dadanya, apalagi saat kulihat yang sebelah kiri dengan putingnya yang hitam kecoklatan, sudah menyembul keluar akibat jamahan tangan suaminya. Desahan Anna bercampur dengan suara si perempuan bule di film yang kami saksikan. Mereka berdua tampak tidak peduli lagi dengan kehadiranku. Aku lama-lama segan juga, tetapi mau pamit kayaknya tidak etis. Kuluman bibir Dicky semakin turun ke leher Anna dan berlabuh di dada sebelah kiri. Bibirnya melumat puting sebelah kiri sambil tangan kanannya meremas-remas buah dada kanan Anna. Gaun Anna hampir terbuka lebar di bagian dada.

Tiba-tiba Anna bangkit berdiri dan menuju dapur. Ia kemudian keluar dan membawa nampan berisi tiga gelas red wine. Ia sodorkan kepada kami berdua dan kembali ke dapur mengembalikan nampan. Aku dan suaminya minum red wine ketika kurasakan dari arah belakangku Anna menunduk dan mencium bibirku tiba-tiba.

”Mmmmfff, ahhh, An, jangan!” kataku sambil menolakkan wajahnya dengan memegang kedua pipinya.

Anna justru semakin merapatkan wajah dan tubuhnya dari arah atas tubuhku. Lidahnya masuk dengan lincahnya ke dalam mulutku sedangkan bibirnya menutup rapat bibirku, buah dadanya kurasakan menekan belakang kepalaku. Aku masih mencoba melawan dan merasa malu diperlakukan demikian di depan suaminya.

Rasa segan bercampur nafsu yang menggelora membuat wajahku semakin memanas, terlebih atas permainan bibir dan lidah Anna serta buah dada yang ditekankan semakin kuat.

Kudengar suara suaminya, “Tak usah malu, Gus. Nikmati saja. Ini bagian dari permintaan spesial Anna kemarin. Kali ini ia tidak minta kado yang lain, tapi kehadiranmu.”

Aku berhasil melepaskan diri dari serangan Anna dan sambil terengah-engah kukatakan, ”An, tolong… jangan perlakukan aku seperti tadi. Aku malu. Dicky, aku minta maaf, aku mau pulang saja.”

Aku bergegas menuju pintu. Tapi tiba-tiba Anna menyusulku sambil memeluk pinggangku dari belakang.

Sambil menangis ia berkata, ”Gus, maafkan aku. Aku tidak mau kau pulang sekarang. Ayolah, kembali bersama kami.”

Ia menarik tanganku duduk kembali. Aku terduduk sambil menatap lantai, tak berani melihat wajah mereka berdua. Di seberangku, Dicky dan Anna duduk berjejer.

Dicky berkata, ”Gus, tolonglah kami. Ini permintaan khusus Anna. Sebagai sahabat lamanya, kuharap kau tidak keberatan. Sekali lagi aku minta maaf. Kami sudah konsultasi dan berobat ke dokter agar Anna hamil. Ternyata bibitku tidak mampu membuahinya. Padahal kami saling mencintai, aku amat mencintainya, dia juga begitu terhadapku. Kami tidak mau cerai hanya oleh karena aku tidak bisa menghamilinya. Kami tidak mau mengangkat anak. Setelah kami bicara hati ke hati, kami sepakat meminta bantuanmu agar ia dapat hamil. Kami mau agar anak yang ada di dalam rumah tangga kami berasal dari rahimnya, walaupun bukan dari bibitku. Aku senang jika kau mau menolong kami.”

Aku tidak menjawab. Kucoba menatap mereka bergantian.

Kemudian Anna menambahkan kalimat suaminya, ”Aku tahu ini berat buatmu. Jika aku bisa hamil olehmu, anak itu akan menjadi anak kami. Kami minta kerelaanmu,Gus. Demi persahabatan kita. Please!” katanya memohon dengan wajah mengiba dan kulihat air matanya menetes di pipinya.

”Tapi, bagaimana dengan perasaan suamimu, An? Kau tidak apa-apa Dick?” tanyaku sambil menatap wajah mereka bergantian.

Keduanya menggelengkan kepala dan hampir serempak menjawab, ”Tidak apa-apa.”

”Aku pernah cerita pada suamiku, bahwa dulu kau pernah punya hati padaku, tapi kutolak karena tidak mau diganggu urusan cinta” papar Anna lagi.

”Ya Gus, Anna sudah ceritakan persahabatan kalian dulu. Aku dengar darinya, kau bukan orang yang suka jajan dan sejak dulu kau tidak nakal terhadap perempuan. Kami yakin kau bersih, tidak punya penyakit kelamin. Makanya kami sepakat menentukan dirimu sebagai ayah dari anak kami” tambah suaminya.

”Bagaimana Gus, kau setuju? Kau rela? Tolonglah kami ya!” pintanya mengiba.

Aku tidak menjawab. Hatiku tergetar. Tak menduga ada permintaan gila semacam ini dari sepasang suami istri yang salah satunya adalah sahabatku dulu. Namun di hati kecilku timbul keinginan untuk menolong mereka, meskipun di sisi lain hatiku, merasakan getar-getar cinta lama yang pernah timbul terhadap Anna.

”Gus, kau mau kan?” tanya Anna sambil berjalan ke arahku.

”Baiklah, asal kalian tidak menyesal dan jangan salahkan jika aku jadi benar-benar suka pada Anna nanti” jawabku tanpa berani menatap muka mereka.

”Tak apa, Gus. Aku tak keberatan berbagi Anna denganmu. Aku tahu kau dulu tulus mencintai dia, pasti kau takkan menyakiti dia. Sama seperti aku, tak berniat menyakiti dirinya” kata Dicky lagi.

Anna lalu duduk di lengan kursi yang kududuki sambil memegang daguku dan menengadahkan wajahku hingga wajah kami bersentuhan dan dengan lembut ia mencium kedua kelopak mataku, turun ke hidung, pipi dan akhirnya bibirku ia kecup lembut. Berbeda dengan ciumannya tadi, aku merasakan kenyamanan yang luar biasa, sehingga kubalas lembut ciumannya. Aku hanyut dalam ciuman yang memabukkan. Sekelebat kulihat Dicky mengamati kami sambil mengelus-elus risleting celananya.

Anna mengajakku duduk ke sofa panjang, tempat Dicky berada. Kini ia diapit olehku dan suaminya di sebelah kanannya. Kami berdua terus berciuman.

Adegan di video kulirik sekilas, suasana semakin panas sebab si perempuan bule sudah disetubuhi oleh dua pria sekaligus, yang satu berada di bawah tubuhnya dengan kontol menancap dalam toroknya, sedangkan kontol yang satu lagi memasuki duburnya. Kedua kontol tersebut masuk keluar secara berirama menambah keras rintihan dan jeritan nikmat si perempuan.

Kami bertiga terpengaruh oleh tayangan demikian, sambil melihat film tersebut, aku terus menciumi wajah, bibir dan leher Anna, sementara suaminya sudah membuka gaun Anna, turun hingga sebatas pinggulnya hingga terpampanglah kini kedua teteknya yang sintal.

Desahan Anna semakin liar ketika lidahku menggelitiki lehernya yang jenjang dan suaminya berganti memagut bibirnya. Bibir dan lidahku semakin turun menuju celah-celah teteknya. Tangan kiriku meremas tetek kanannya sambil bibirku melumat pentil tetek kirinya. Ia mengerang semakin kuat, ketika tangan kiriku turun ke pinggulnya dan mengelus-elus pinggul dan pinggangnya. Ciumanku semakin turun ke perutnya dan berhenti di pusarnya. Lama menciumi dan menggelitiki pusarnya, membuatnya makin menggeliat tak menentu.

Suaminya kulihat berdiri dan membuka seluruh pakaiannya. Dicky kini dalam keadaan bugil dan memberikan kontolnya untuk digelomoh Anna. Dengan bernafsu, Anna mencium kepala kontol suaminya, batangnya dan akhirnya memasuk-keluarkan kontol itu ke dalam mulutnya. Tangan kanannya memegang batang kontol suaminya sambil bibir dan lidahnya terus melakukan aksinya. Kulihat kontol suaminya agak panjang, lebih panjang dari punyaku, maklum suaminya lebih tinggi daripada aku, cocoklah Anna mendapat suami tinggi sebab tingginya 167 Cm, sama denganku.

Sambil terus memesrai kontol suaminya, Anna mengangkat sedikit pantat dan pinggulnya seakan-akan memberikan kesempatan buatku melepaskan gaunnya sama sekali. Secara alamiah, kedua tanganku bergerak menurunkan gaunnya hingga ke lantai, sehingga tubuh Anna hanya tinggal ditutupi selembar kain segitiga di bagian bawahnya. Tangan kiri Anna bergerak cepat melepaskan celana dalamnya. Kini ia benar-benar telanjang, sama seperti suaminya. Anna duduk kembali sambil menelan kontol suaminya, hingga pangkalnya. Ia sudah benar-benar dalam keadaan puncak birahi.

Aku mengambil posisi berlutut di celah-celah paha Anna. Kuamati sela-sela paha Anna. Toroknya dihiasi rambut-rambut jembut yang tipis, tapi teratur. Agaknya ia rajin merawat toroknya, sebab rambut-rambut kemaluan itu dicukur pada bagian labia, sehingga memperlihatkan belahan yang indah dengan itil yang tak kalah menariknya. Kuarahkan jari-jariku memegang itilnya.

”Auuwww, aaahhh, enak Gus… terusin dong…” desisnya sambil menggeliatkan pinggulnya dengan indah.

Aku tidak menjawab, tetapi malah mendekatkan wajahku ke pahanya dan lidahku kujulurkan ke itilnya.

”Ooooohhhh, nikmatnyaaaaa…” desahnya sambil mempercepat gerakan mulutnya terhadap kontol Dicky.

Kuciumi itilnya sambil sesekali melakuan gerakan menyedot. Itilnya sudah tegang sebesar biji kacang hijau. Indah sekali bentuknya, apalagi ketika kukuakkan labianya bagian atas itilnya. Kedua labianya kupegang dengan kedua tanganku dan kubuka lebar-lebar lalu dengan lembut kujulurkan lidahku menusuk ke dalam toroknya.

”Aaaaaahhhhhh… Gusssss… kau pintar banget!” rintihannya semakin meninggi.

Aku melakukan gerakan mencium, menjilat, menusuk, menyedot secara bergantian, bahkan tak urung kuisap itil dan kedua labianya secara bergantian, hingga erangan dan rintihannya semakin keras. Cairan birahinya mengalir semakin banyak. Kusedot dan kumasukkan ke dalam mulutku. Gurih rasanya. Kedua tangannya kini memegang belakang kepalaku dan menekankannya kuat-kuat ke pahanya sambil menggeliat-geliat seksi. Semakin lama gerakannya semakin kuat dan dengan suatu hentakan dahsyat, ia menekan dalam-dalam toroknya ke wajahku. Agaknya ia sudah orgasme. Kurasakan aliran air menyembur dari dalam toroknya. Rupa-rupanya cairan kawinnya bercampur dengan air seninya. Anehnya, aku tidak merasa jijik, bahkan kuisap seluruhnya dengan buas. Ia menolakkan kepalaku, mungkin merasa jengah karena kuisap seluruh cairannya, tanpa mau menyisakan sedikit pun. Aku tidak mengikuti perlakuannya, tapi terus menekan wajahku menjilati seluruh cairannya yang menetes dan mengalir ke pahanya.

Aku masih bersimpuh di celah-celah paha Anna, ketika ia mendekatkan wajahnya mencium bibirku.

”Makasih ya Gus, kamu pintar banget bikin aku puas!” katanya.

Kulihat Dicky terpengaruh atas orgasme istrinya, ia berdiri dan berkata, ”Ayo sayang, aku belum dapet nih!”

”Aaahh, aku masih capek, tapi ya dech. Aku di bawah ya” sambutnya sambil menelentangkan tubuh di sofa panjang tersebut.

Suaminya mengambil posisi di sela-sela paha Anna dan menggesek-gesekkan kontolnya ke itil Anna. Anna kembali naik birahi atas perlakuan Dicky. Makin lama Dicky memasukkan kontolnya semakin dalam ke dalam torok Anna. Anna membalas dengan membuka lebar-lebar pahanya. Kedua kakinya dipentang dan dipegang oleh kedua tangan suaminya. Anna lalu mengisyaratkan aku mendekatinya. Aku jalan mendekati wajahnya. Ia lalu membuka celana panjangku hingga melorot ke lantai. Celana dalamku pun dibukainya dengan ganas dan kedua tangannya memegang kontolku. Sambil menyentuh kontolku, perlahan-lahan ia dekatkan wajahnya ke arah pahaku dan menjilat kepala kontolku.

”Ahhh, ssshhh, Ann… Nikmatnyaaaa” desahku sambil membuka bajuku.

Kini kami bertiga benar-benar seperti bayi yang baru lahir, telanjang bulat. Anehnya, aku tidak merasa malu seperti mula-mula. Adegan yang hanya kulihat dulu di blue film, kini benar-benar kualami dan kupraktekkan sendiri. Gila! Tapi akal sehatku sudah dikalahkan. Entah oleh rasa suka pada Anna atau karena hasrat liarku yang terpendam selama ini.

Anna semakin liar bergerak menikmati tusukan kontol suaminya sambil melumat kontolku. Kedua tanganku tidak mau tinggal diam dan meremas-remas kedua tetek Anna dengan pentilnya yang semakin mencuat bagaikan stupa candi.

Hunjaman kontol suaminya kulihat semakin hebat sebab Anna semakin kuat menciumi dan menjilati bahkan menelan kontolku hingga masuk seluruhnya ke dalam mulutnya. Kurasakan kepala kontolku menekan ujung tenggorokannya, tapi Anna tidak peduli, air ludahnya menetes di sela-sela bibirnya yang tak kenal lelah menelan kontolku. Bahkan ketika seluruh kontolku ia telan, lidahnya mengait-ngait lubang kencingku, rasanya agak panas, tapi geli bercampur nikmat. Aku ikut merintih tanpa kusadari. Kini desahan dan erangan kami bertiga sudah melampaui adegan di film yang sudah tak kami hiraukan lagi.

Sekilas sempat kulihat adegan di video memperlihatkan pergantian adegan dari adegan si perempuan bule berjongkok di atas pinggang si pria Amerika Latin memasuk-keluarkan kontolnya sambil menggelomoh kontol si pria bule. Kemudian si pria bule menempatkan diri di belakang si perempuan dan memasukkan kontolnya ke dalam dubur si perempuan sambil kedua tangannya meremas tetek si perempuan. Dari bahwa, si pria Amerika Latin menciumi bibir si perempuan. Rintihan si perempuan bertambah kuat sewaktu kedua pria tersebut mengeroyok torok dan duburnya dengan hebat. Erangannya berganti dengan jeritan nikmat ketika kedua pria itu semakin kuat menghentakkan kontol mereka dalam-dalam.

Terpengaruh oleh adegan tersebut, Dicky menancapkan kontolnya sedalam-dalamnya ke torok istrinya. Tangan kiri Anna mengelus-elus itilnya sendiri dengan kencang, sedang kontol suaminya masuk keluar semakin cepat. kontolku disedot kuat-kuat oleh Anna dan gigitan gemasnya kurasakan pada batang kontolku. Remasanku makin kuat di tetek Anna sambil sesekali kuciumi bibirnya.

”Ahhh, aku hampir sampai, An… Aaahhh torokmu enak benar!” rintih Dicky.

”Sabar sayang, aku juga hampir dapat. Sama-sama ya? Oooohhhh, akkhhhh… enak benar tusukan kontolmu. Ayo sayang, yang dalam… aaauhhggghhhhh… Ooouukhhhhh” rintih Anna semakin tinggi hingga tiba-tiba ia menjerit.

Jeritan Anna membahana memenuhi ruangan bagaikan raungan serigala, ketika dengan hebatnya kontol suaminya menghunjam dengan cepat dan berhenti saat orgasmenya pun menjelang. Kedua pahanya menjepit pinggul suaminya sedang mulutnya menelan kontolku hingga ujungnya kurasakan menekan tekak tenggorokannya. Kuperhatikan tubuh Anna yang indah bergetar-getar beberapa saat, apalagi di bagian pahanya.

Suaminya menghempaskan tubuh di atas tubuh Anna, sementara kedua tangan Anna memeluk tubuh suaminya. Aku melepaskan diri dari Anna dan mengambil tempat duduk sambil mengamati mereka berpelukan sambil bertindihan.

Kulihat adegan film hampir habis. Berarti kami bertiga main satu setengah jam, sebab tayangan film tadi kulihat berdurasi dua jam, sedangkan waktu kami bercakap-cakap bertiga tadi, permainan film baru berlangsung setengah jam.

”Luar biasa daya tahan Anna” pikirku.

Kudengar Anna berkata dari balik himpitan tubuh suaminya, ”Ntar giliranmu ya Gus. Kasihan kamu belum apa-apa, padahal aku dan suamiku sudah dapat!”

”Nggak apa-apa An. Santai aja. Aku kan cuma pelengkap penderita” candaku.

”Jangan gitu dong say” Anna menolakkan tubuh suaminya dan berdiri lalu mendekatiku.

”Kamu kan orang penting, makanya kamu yang kami minta menemani saat istimewaku malam ini” katanya sambil mencium bibirku lembut sambil melingkarkan kedua tangannya ke leherku.

”Mas, kita main di kamar aja yuk, biar lebih enak” pinta Anna pada suaminya.

Suaminya hanya mengangguk dan mematikan video lalu bergerak mengikuti istrinya ke arah kamar mereka. Aku masih duduk.

Judul: Aku Menikmati Diperkosa Supirku dan Temannya

Author : kodokbrewok , Category: Pemerkosaan

Namaku Widuri berumur 25 tahun, aku dilahirkan dalam lingkungan keluarga yang cukup mapan. Karena itu aku terbiasa berhias dan menikmati kehidupan yang lumayan mewah. Kulitku putih dan orang bilang tubuhku cukup ideal. Aku telah berumah tangga, Sandi suamiku mempunyai perusahaan yang bergerak di bidang eksport import. Saat ini dia sedang tidak berada di rumah. Dia pergi keluar kota selama kurang lebih sebulan untuk mengurus keperluan bisnisnya. Aku terbiasa ditinggal sendiri di dalam rumah mewahku. Tapi sebulan yang lalu dia pulang membawa seseorang yang akan dijadikan supir di rumahku. Dia adalah Martono, seorang pria berumur kurang lebih 40 tahunan. Rambutnya botak kulitnya hitam dan wajahnya terlihat buruk keras. Suamiku yang mempekerjakannya sebagai supir kami sebagai balas jasa telah menyelamatkan suamiku dari ancaman perampokan di jalan raya. Meskipun aku kadang-kadang ketakutan melihat matanya yang jelalatan melihatku, tapi aku menghormati keputusan suamiku. Dia memang pintar mengemudi mobil dan mengetahui seluk-beluk kotaJakarta. Seringkali Aku belanja ke Mall hanya diantar oleh Martono karena suamiku betul-betul sangat sibuk.

Suatu hari ketika aku sedang memasak di dapur, tiba-tiba aku dikejutkan dengan kehadiran Martono yang menatapku dengan jelalatan.

“Oh Pak Martono…. kaget saya melihat bapak tiba-tiba sudah ada disini.” Aku memanggilnya dengan sebutan bapak karena dia lebih tua dariku.

“Maaf nyonya kalau saya ternyata mengagetkan …..”. Dia menjawab tapi tatapan matanya tidak berhenti menatap dadaku. Aku sedikit risih dengan tatapannya, lalu aku pura-pura menyibukkan diri memasak kembali. Martono masih diam saja di dapur menatap bagian belakang tubuhku.

“Ada keperluan apa bapak ke dapur.” Akhirnya aku bertanya setelah sekian lama mendiamkannya.

“ Nyonya sangat cantik sekali…..dan seksi” Martono menjawab.

Aku terkejut dengan jawabannya itu. Jantungku berpacu semakin cepat, aku mulai was-was.

“Jangan-jangan….ah, tidak mungkin…. Semoga dia cuma berkata sebenarnya, hanya caranya mengungkapkan seperti orang yang terbiasa hidup di jalanan. Tanpa basa-basi.” Aku berusaha menenangkan deburan jantungku.

“ Terimakasih…..” aku menjawab dengan sedikit gemetar.

“Sebenarnya Nyonya sangat menggairahkan, setiap kali saya di dekat Nyonya pasti “adik” saya terbangun. Saya masih yakin dapat memuaskan Nyonya.” Martono berkata tanpa basa-basi.

Deg…. Dugaanku ternyata benar, aku takut sekaligus marah dengan Martono. Aku menghadapnya dengan mengacungkan pisau dapur yang sedang kupakai.

“ Hei Martono, jangan kurang ajar terhadapku. Ingat aku adalah majikanmu. Aku bisa memecatmu sekarang juga karena kelakuanmu yang tidak sopan terhadapku. Selama ini aku menerimamu karena menghormati suamiku.” Aku membentak tanpa menghiraukan usianya yang lebih tua dariku.

Tanpa-diduga-duga dia memelintir tanganku yang memegang pisau sehingga pisau itu terlempar. Aku mengaduh kesakitan. Tapi tangan kirinya telah memelukku dengan erat. Aku tidak bisa bergerak sama sekali, karena himpitan tenaganya yang kuat.

“Kamu kira aku bisa ditakuti dengan mainan seperti itu…. hah.” Dia sekarang menelikung tanganku dan mendekapkan badanku ke badannya. Aku gemetar ketakutan dan tidak terpikir untuk berteriak saking gugupnya.

“Aku memang mengincarmu dari dulu, karena itu mengatur siasat agar dia dirampok oleh kawa-kawanku. Aku pura-pura datang menolongnya. Sekarang kalau kau berani melawan, maka kau akan tahu akibatnya. Kau dan suamimu bisa kubunuh kapan saja bila kau coba-coba melapor pada pihak yang berwajib. Aku punya banyak kawan preman di jalanan yang bisa dengan mudah kuperintahkan.” Martono mengancamku. Aku semakin ketakutan, hilanglah sudah harapanku.

“Aku akan melepaskan pelukanku kalau kau mengerti kondisimu saat ini.” Martono meneruskan.

Aku hanya diam menggigil ketakutan dan mengangguk. Dia menyeringai dan melepaskan pelukannya. Aku langsung terduduk di lantai dan menangis. Martono tertawa penuh kemenangan. Sedangkan hatiku sangat kalut. Martono bisa melakukan apa saja terhadapku. Kalau aku melaporkan dia pada Polisi maka jiwaku dan suamiku akan terancam.

“ Kamu tidak perlu menangis… karena aku akan memberikan kepuasan batin yang tak terhingga kepadamu. Aku tahu kebutuhan batinku sangat kurang karena suamimu jarang berada di rumah. Kamu sangat kesepian kan?. Pikirkan saja bahwa suamimu tidak ada disini sedangkan kau merasa sangat kesepian, siapa yang salah sekarang….” Martono berkata dengan tenangnya.

Sambil duduk Martono membuka resluiting celananya. Kemaluannya tampak telah membesar dan kini tepat mengarah di depan wajahku. Akupun kembali membuang muka sambil memejamkan mata. Martono mulai memaksa untuk mengoral batang kejantanannya. Tangannya keras segera meraih kepalaku dan wajahnya ke depan kemaluannya. Setelah itu kemudian Martono memaksakan batang kejantanannya masuk ke dalam mulutku hingga sampai pangkal penis dan sepasang buah zakar bergelantungan di depan bibirku.

Dengan agak terpaksa aku membuka mulutku dan mulai menciumi penis Martono, sebenarnya ukuran penis Martono hampir sama dengan milik suamiku tetapi punya Martono sedikit lebih panjang dan agak membesar di bagian kepalanya. Akhirnya perlahan aku mulai menjilati dan mengulum penis itu.

“Ohh.. Nikmat sekali sayaang, kau memang pintar”

Martono mengerang sambil meremas rambutku lalu ia mendorong dan menarik penisnya di mulutku. Aku terus mengutuk diriku yang rela memberikan sesuatu yang lebih pada orang lain daripada untuk suamiku karena selama ini aku selalu menolak kalau Mas Sandi minta untuk memasukan penisnya ke mulutku.

Aku gelagapan karena mulutku kini disumpal oleh kemaluan Martono yang besar itu. Martono mulai mengocokkan batang penisnya dimulutku yang megap-megap karena kekurangan Oksigen. Dipompanya kemaluannya keluar masuk dengan cepat hingga buah zakarnya terasa memukul-mukul daguku. Tak terasa air mataku mengalir deras, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa….

Bunyi berkecipak karena gesekan bibirku dan batang penis yang sedang dikulum tidak dapat dihindarkan lagi. Hal ini membuat Martono makin bernafsu dan makin mempercepat gerakan pinggulnya yang tepat berada di depan wajahku. Batang penisnya juga semakin cepat keluar

masuk di mulutku, dan sesekali membuatku tersedak dan ingin muntah.

Lama sekali rasanya batang penis Martono kukulum dan membuatku makin lemas dan pucat. Akhirnya tubuh Martono pun mengejan keras dan Martono menumpahkan spermanya di rongga mulutku. Hal ini membuatku tersentak dan kaget, ingin memuntahkannya keluar namun pegangan tangan Martono di kepalaku sangat keras sekali, sehingga dengan terpaksa aku menelan sebagian besar sperma itu.

“Aaah..,” Martono pun mendesah.

“Akhirnya aku bisa menikmati mulutmu yang indah sayang……..” Terasa sakit rasanya hatiku. Aku seperti wanita yang tidak berharga dan bisa dipermainkan oleh siapa saja. Aku hanya bisa menangis tanpa bisa melawan.

“Ayo ikut aku…..” Martono kemudian menarik tanganku dengan kasar. Dengan setengah menyeretku dia membawaku ke kamar tidurku. Didorongnya tubuhku ke atas ranjangku yang empuk.

“Hmm. Kamar yang bagus dan wangi…. Cocok untuk kita saling melepas hasrat yang sangat nikmat.” Martono mengagumi kamar tidurku yang luas dan bersih.

Aku tetap berbaring telungkup dengan menangis. Sia-sia saja aku walaupun berteriak, tidak ada tetangga yang akan mendengarku. Hidup di Jakarta kadang-kadang tidak memperdulikan penderitaan tetanga. Yang paling parah, Martono bisa mencelakakanku, yang paling kutakuti sebenarnya kalau dia sampai mencelakakan suamiku.

“Hei… jangan diam saja. Bangun sini.” Martono membentakku.

Aku lalu bangun mendekatinya. Dia menyeringai dan berkata. “Lepaskan seluruh pakaianmu dan menarilah.”

“Gila… apakah aku disuruh berstriptease dihadapannya. Terhadap suamikupun aku belum pernah melakukannya.” Aku semakin gemetar….

“Tolong, jangan lakukan ini kepada kami….. kalau pak Martono perlu uang nanti kami beri sesuai permintaan bapak.” Aku memberanikan diri menolak kemauannya dengan suara yang bergetar.

“Jangan menolak, atau aku telpon temanku sekarang juga untuk mengurus suamimu. Tapi kalau kau memberikan layanan terbaikmu, maka kau jamin dirimu dan suamimu tidak akan binasa. Rahasia diantara kita tidak akan diketahuinya dan kaupun dapat menikmati keperkasaanku. Ha.. ha.. ha..” Martono malah balik membentak.

Perlahan-lahan aku mulai melepaskan pakaian yang kupakai. Kubuka kancing bajuku satu persatu dengan tangan gemetar. Nafas Martono nampak sedikit tertahan tegang ketika aku membuka bra warna pink yang kupakai. Aku menggoyang-goyangkan pantatku perlahan-lahan sambil membuka celana dalam yang merupakan bagian terakhir perlengkapan pakaianku. Aku menutupi payudaraku dan bagian kewanitaanku dengan kedua belah tanganku sebisa mungkin. Hatiku makin tidak karuan.

Mata Martono semakin beringas “Beruntung sekali aku mendapatkanmu……. Tubuhmu yang putih mulus dan kencang sungguh luar biasa indahnya. Mari sini sayang.” Martono menarik tanganku dan membaringkanku telentang.

Dia dengan tergesa-gesa melepaskan pakaiannya. Badannya yang hitam menandakan dia terbiasa bekerja di bawah terik matahari. Terlihat beberapa tatto di badannya. Selama ini aku tidak pernah melihat dia mempunyai tatto. Kepalaku terasa berkunang-kunang, rasanya aku hampir tidak sanggup menahan peristiwa ini.

Martono perlahan-lahan mendekati aku yang tergolek lemas ditempat tidurku. Diambang kesadaran kurasakan sesuatu yang basah merayap menelusuri kakiku dan terus beranjak naik menuju pahaku, tanganku berusaha mencari tahu apa sebenarnya yang menelusuri kaki dan pahaku.

“Oh.. Martono.. apa yang Bapak lakukan..” aku tersentak kaget ketika kudapati ternyata lidah Martono menempel di belahan pahaku.

“Tenanglah.. nikmati saja..”, aku berontak, aku tak bisa membiarkan kekurang ajaran orang ini, aku harus bisa melepaskan diri dari bajingan ini, tapi tak berdaya aku melakukan semua itu, tubuhku lemas, akan tetapi terasa dorongan hasrat menjalari seluruh tubuhku yang memang jarang mendapatkannya dari suamiku.

“Bajingan kau.. lepaskan!, aku ini majikanmu.” Kali ini timbul perasaan nekatku yang tadi dihimpit ketakutan.

“Kurang ajar.. Bajingan.. lepaskan..!” kembali aku berteriak sambil berusaha menendang, tapi lagi-lagi aku begitu lemah dan tiba-tiba saja lidah Martono yang basah menyeruak menyapu organ tubuhku yang paling sensitif.

“Akhh..” Oh.. Tuhan nikmat sekali rasanya lidah orang ini, tubuhku mengejang, lama lidah Martono bermain dengan Vaginaku dan sesekali ia menyentuh dan menggigit clitorisku yang mulai mengembang dan mengeras. Cairan vaginaku mulai keluar meleleh berbaur dengan air liur Martono yang masih saja menusukan lidahnya ke vaginaku.

Tiba-tiba tubuhku kembali menegang, dan kurasakan sesuatu menjalar diseluruh tubuhku dan seakan berkumpul dirahimku lalu..

“Ohh.. hh.. Akh..” erangan panjang dari mulutku mengiringi semprotan cairan hangat yang keluar dari dalam liang vaginaku dan membasahi mulut Martono.

Ohh.. aku orgasme dengan orang selain suamiku dan hendak memperkosaku dengan biadab, tapi rasanya nikmat sekali orgasmeku dari Martono ini dan aku selalu menginginkan lebih dari itu. Kini tubuhku benar-benar lemas sambil kedua pahaku tetap menghimpit kepala Martono dengan nafas yang terengah-engah.

Perlahan Martono melepaskan kepalanya dari selangkanganku dan merayap keatas tubuhku yang masih belum bisa membuka mataku.

“Apa kubilang.. nikmat kan?” Martono berbisik ditelingaku.

“Ja.. hh.. jangan Pak sudah..” sebentar Martono menghentikan aksinya mungkin untuk memberiku kesempatan mengumpulkan tenaga kembali.

“Nyonya tahu kalau saya udah jatuh cinta saat pertama melihat nyonya, jadi nikmati saja tanda cinta dari saya.

“Tidak Pak.. jangan..” setengah menangis aku memelas agar ia mau melepaskanku dari nafsu bejatnya.

“Pak Sandi sangat beruntung memiliki nyonya.., cantik dan bertubuh idaman lelaki..”

Dengan lembut ia mencium keningku, hidungku, pipiku dan sambil menghembuskan nafasnya ia mencium telingaku membuat gairah dalam tubuhku kembali berkobar dan seluruh bulu-bulu halus di tubuhku berdiri.

“Bibir nyonya indah..” itu yang terdengar sebelum ia melumat kedua belah bibir sensualku, aku berusaha menghindar tapi nikmat sekali rasanya

Judul: Aku Menikmati Diperkosa Supirku dan Temannya 2

Author : Hidden , Category: Pemerkosaan

Perlahan aku mulai membalas dengan membuka bibirku membiarkan lidah Martono menyeruak masuk kedalam mulutku. Ia melepaskan ciumannya lalu bergerak menelusuri leherku dan menggigit puting susuku.

“Susu nyonya sungguh menggairahkan.. indah sekali sayang..”

Ia mengulum dan membenamkan wajahnya di belahan dadaku. aku menggelinjang dan hasratku lebih berkobar akhirnya kudekap tubuh yang menindih diatasku, oh.. Tuhan ia sudah telanjang bulat, kurasakan belahan pantatnya di kedua tanganku. Lama ia menelusuri dan meremas payudaraku.

“Jangan.. Pak.. aku mohon jangan.. aku nggak mau menghianati suamiku….!” untuk kesekian kalinya aku memelas sambil berusaha merapatkan kedua kakiku dan mendorong tubuh Martono agar menjauh dariku.

Tanpa mempedulikan rintihanku Martono bergerak berusaha membuka kakiku dan menempatkan tubuhnya diantara kedua kakiku. Dengan reflek kedua tanganku bergerak menutupi selangkanganku, tapi kembali tangan Martono menarik kedua tangan ku dan membawanya keatas kepalaku. Langsung saja ia menyapu kedua ketiakku yang mulus tanpa bulu dengan lidahnya, kembali akupun merasakan sensasi kenikmatan sebagai akibat sapuan lidahnya yang basah itu.

“Ohh..” tubuhku bergetar sesuatu yang keras berusaha menyeruak masuk lubang kenikmatanku, dan perlahan benda itu mulai tenggelam dalam selangkanganku. Aku mendongak, mataku terpejam merasakan sensasi kenikmatan yang tiada taranya dan diakhiri dengan satu sodokan kuat akhirnya amblaslah seluruh penis Martono kedalam liang vaginaku.

Tubuhku terasa penuh seakan benda itu menancap tepat di rahimku, hilanglah sudah pertahanan terakhir kesucian rumah tanggaku. Tanganku mencengkram erat tubuh Martono dan menancapkan kuku-kukuku di pundaknya, perlahan tetes air mata mengalir disudut mataku yang terpejam. Lalu Martono mulai menggerakan pantatnya dan mulai mengobok-obok isi liang vaginaku.

“Ohh.. Nyonya.. nikmat sekali.. Kau.. kau.. begitu rapat..” Martono terus mengocok vaginaku maju dan mundur dan akupun semakin menikmatinya, hilang rasanya rasa pedih dihatiku terobati dengan kenikmatan yang tiada taranya. Mulutku mulai meracau mengeluarkan desahan dan ocehan.

“Akhh.. Pak.. Aduuh.. ohh..” lama Martono memacu birahinya dan akupun mengimbanginya dengan menggelora, sampai akhirnya kembali aku mengejang dan sambil memeluk erat tubuh Martono aku kembali menyemprotkan cairan yang meledak dalam rahimku, aku orgasme untuk yang kedua dari Martono. Untuk beberapa saat Martono menghentikan gerakannya dan memeluk erat tubuhku sambil melumat bibirku. Aku benar-benar menikmati orgasme yang kedua ini, mataku terpejam sambil kulingkarkan kedua kakiku ke pinggang Martono.

Tak berapa lama kemudian Martono mencabut penisnya yang masih mengacung kokoh dari dalam rahimku.

“Oh..” ada sesuatu yang hilang rasanya dari tubuhku.

Perlahan ia bergerak menyamping dan membalikan tubuhku, kali ini aku pasrah dan lemah tak berdaya hanya menurut saja. Kembali ia menaiki tubuhku, kali ini dari belakang dan mulai menusuk-nusukan penisnya ke pantatku. Akupun menyambut sodokan benda tumpul itu dengan sedikit membuka kakiku dan mengangkat pantat kenyalku, cairan yang keluar dari rahimku mempermudah masuknya senjata Martono melalui jalan belakang dan kembali menancap di vaginaku. ia bergerak sambil kedua tangannya meremas payudaraku dari belakang dan menggenjotkan pantatnya menghantam liang vaginaku

Gesekan demi gesekan kurasakan semakin nikmat menyentuh kulit halus liang vaginaku, tanganku mencengkram erat seprei tempat tidurku yang acak-acakan.

“Ohh.. Nyonya.. Nikmat sekali.. Ohh..”

Martono benar-benar hebat, ia bisa bertahan lama menggauliku dengan berbagai posisi, sedangkan akupun semakin gila saja meladeni nafsu setan Martono. Untuk ketiga kalinya aku mencapai klimaks sedangkan Martono mesih saja berpacu diatas tubuhku. Sekarang pasisi tubuhku duduk dipangkuan laki-laki ini sambil mendekap dengan kepala mendongak kebelakang, leluasa ia mencumbu leherku yang mulai sudah basah dengan keringat yang keluar dari seluruh pori-pori tubuhku.

Seakan tak pernah puas terus saja ia mengulum dan menjilati kedua payudaraku, kurasakan penis Martono menghujam telak keliang senggamaku yang mendudukinya. Kocokan demi kocokan yang semakin gaencar kurasakan menggesek kulir vaginaku sebelah dalam, erangan dan cengkraman menghiasi gerakannya. Kali ini aku benar-benar melepaskan seluruh hasratku yang selama ini terpendam, aku tak mempedulikan lagi siapa laki-laki yang menyetubuhiku, yang jelas aku ingin terpuaskan.

Lama posisi duduk itu berlangsung sampai akhirnya tubuh Martono semakin gencar menyodok vaginaku, gerakannya semakin cepat. Martono menghempaskan tubuhku kembali terlentang ditempat tidur, tubuhnya mengejang dan memeluk rapat tubuhku sampai aku hampir tak bisa bernafas. Lalu kurasakan semburan hangat dengan kencang membentur dinding rahimku.

“Akhh..” Martono mengerang panjang sambil menekan pantatnya kebawah dengan keras, kucengkram dan kembali kulingkarkan kakiku kepinggangnya dan akupun melepaskan sisa orgasme yang masih tersisa ditubuhku. Untuk orgasme yang terakhir ini kami berlangsung hampir bersamaan, akhirnya dengan terkulai lemah tubuh Martono roboh menindih tubuhku yang lemas pula. Lama kami terdiam merasakan sisa kenikmatan itu dan akhirnya Martono mulai beringsut menjauh dari tubuhku.

“Terima kasih Nyonya sayang..” setengah sadar dan tidak kudengar Martono membisikan kata-kata itu sambil mengecup keningku. Lalu ia berdiri mematung di samping tempat tidur. Aku tidak tahu kapan ia pergi karena setelah itu aku tertidur karena lelah dan kantuk yang menyerangku tanpa mempedulikan keadaan kamar tidurku yang acak-acakan.

Sore hari aku baru terbangun dari tidurku, tubuhku serasa hancur dan lelah bukan kepalang. Kulihat keadaan diriku terasa sisa sperma yang mulai lengket membanjir di selangkanganku. kulihat banyak sekali cairan sperma Martono keluar meleleh dari dalam vaginaku bercampur dengan cairan rahimku dan membasahi seprei tempet tidur. Setengah merangkak aku menuju kamar mandi membersihkan tubuhku dari bekas keringat dan dosa, guyuran air hangat membuat tubuhku sedikit lebih segar walaupun rasa capek itu masih terasa ditubuhku. Kulihat vaginaku memerah dan bekas cupangan nampak di payudaraku, lama aku berada di kamar mandi menunggu cairan sperma Martono keluar semua meninggalkan liang rahimku. selesai mandi cepat-cepat kubereskan tempat tidurku dan mengganti seprei serta sarung bantal guling dengan yang masih baru..

Aku masih termenung memikirkan kejadian siang tadi, aku mengutuk diriku sendiri dan sangat menyesal dengan hal itu. Bajingan benar Martono itu, ia telah menodai kesucian rumah tanggaku yang selama ini kujaga dengan baik. Yang lebih kusesalkan lagi akupun menikmati permainannya yang sangat nikmat. Belum pernah aku merasakan senggama sepanjang itu dengan Mas Sandi, aku bisa mencapai klimax sampai empat kali, kuakui hebat sekali permainan Martono.

*****

Pada malam hari bel pintu berbunyi. Kupikir suamiku sudah pulang, aku buru-buru membukakan pintu. Betapa terkejutnya aku melihat Martono datang dengan membawa seorang teman yang berbadan tegap.

“Selamat malam nyonya….. aku membawakan teman yang akan membuat nyonya merasakan sensasi yang luar biasa.” Martono menyeringai kepadaku sedangkan temannya senyum-senyum menyebalkan.

“Bagaimana nyonya, bukankah sudah saya katakan untuk menikmati saja sensasi kenikmatan yang kami tawarkan daripada melaporkan kami kepada pihak yang berwajib. Saya melihat nyonya begitu bernafsu dan sangat menikmatinya juga, bukan?.” Aku menjadi jengah mengingat kejadian tadi siang.

Memang diakui akupun terhanyut dibuai permainan Martono. Aku hanya diam memejamkan mataku dan menarik nafas dalam-dalam sekedar menenangkan perasaanku yang tidak karuan. Tiba-tiba aku mendorongnya maka ia terjatuh, dan kesempatan ini aku melarikan diri menuju pintu kamar mandi. Aku pikir untuk melarikan diri menuju kamar mandi dan mengunci diriku dari Martono dan temannya.

Tapi tiba-tiba tangan Martono sudah menangkapku dan memelukku dengan erat.

“Hentikan…….. aku tidak mau melakukannya.” Aku berteriak-teriak tetapi temannya Martono malah mengamati aku dengan napsu.

“Kamu benar-benar membuatku bernafsu, bagaimana mungkin aku membiarkan wanita yang sangat menggairahkan pergi?”.

“Sebaiknya nyonya jangan banyak bertingkah, berteriakpun percuma… lebih baik layani aku dan Bejo. Ha… ha… ha…” Martono menyeringai.

“Lepaskan aku… lepaskan aku…” aku berusaha meronta, tapi Martono mengangkat tubuhku dan membawaku ke kamar tidurku yang telah digunakan tadi siang. Dengan mudahnya dia melemparku ke atas ranjang.

Aku sangat terkejut dengan perkembangan keadaa ini. Mereka akan memperkosa aku seperti ini. Tetapi apa yang aku bisa lakukan? Sekarang kami semua berada di kamar tidurku. Bejo mendekat dan merobek pakaianku dan menarik paksa BH dan CD yang ku kenakan sehingga payudaraku terlihat jelas. Aku menyesal hanya mengenakan pakaian daster sehingga memudahkan mereka melampiaskan nafsunya. Aku malu sekali terlihat bagian- bagian rahasia di hadapan orang-orang selain suamiku.

“wow… payudara yang indah, nyonya sungguh mempunyai anugerah yang tak terhingga.” Kata Bejo.

“Aku suka sekali payudara yang besar dan putih mulus tanpa cacat.” Bejo melanjutkan.

“Kita beruntung mendapatkan buruan seperti ini…” Martono menyahut. Kemudian tangan Martono menggerayangi susuku dan meremas-remasnya kedua payudaraku. Martono menisap-isap putting susuku dengan penuh nafsu, dan Bejo mulai menggerayangi perut dan pahaku. Tiba-tiba terasa tangannya yang kasar memasuki celah sempit di vaginaku. Kini aku mengerti mereka akan berusaha merangsangku.

“Ampun….. jangan lakukan ini kepadaku “ aku memohon belas kasih mereka, tetapi mereka tidak menunjukkan sedikitpun rasa simpati, malah wajah mereka menunjukan kebuasan nafsu birahi. Mereka dengan cekatan telah melepaskan pakaian mereka masing-masing. Penis Martono sudah kulihat dan kunikmati tadi siang, tetapi sekarang aku terkejut melihat Penis Bejo yang luar biasa, panjangnya sekitar 18 cm dan kelihatan berurat-urat. Aku makin gemetar ketakutan sekaligus rasa aneh yang menjalar seakan-akan ingin merasakan sensasi penis besar milik Bejo. Wajahku terasa panas. “Ah, Mas Sandi… maafkan aku.”

Tangan ku telah ditangkap oleh Martono dan payudaraku kembali diisapnya. Bejo memegang pinggangku dan menaruh burungnya di lubang pantat ku.

“Jangan… jangan disitu… tolong..” Aku menjerit-jerit kesakitan merasakan dorongan penis Bejo dari belakang.

“Nyonya jangan cemas……. akan sedikit menyakitkan ……..tetapi setelah itu kamu akan menikmatinya.” Bejo berkata kepadaku dengan senyum sinis.

“Bukankah tadi siang memekmu telah dipakai oleh Martono, maka aku ingin mencicipi pantatmu yang kuyakin tidak pernah terpakai, masih perawan… ha.. ha… ha..”

Tak lama aku berteriak kesakitan tetapi secepat aku membuka mulut ku untuk menangis Supir ku memasukkan burungnya di dalam mulutku dan aku tidak bisa menangis.

Sementara itu Bejo menaruh penisnya pada lubang pantat ku dan menarik pinggangku ke arahnya. Dia tetapi tidak bisa memasukkan burungnya ke dalam lubang pantatku yang sakit.

“Martono… apakah kamu punya mentega di dapur sebab lubang nya sangat sempit” Bejo bertanya

“Wah beruntung sekali kau mendapatkan cewek perawan…..ambillah sendiri di dapur.” Martono malah tertawa.

Bejo lalu pergi menuju dapur.

“Martono, tolong lepaskan aku…. Aku tidak sanggup lagi.” Aku memelas pada Martono.

“Nyonya…tenang saja dan nikmati. Bukankah nyonya sudah tahu bahwa nyonya sudah lama kami idam-idamkan untuk dinikmati oleh kami. Aku adalah supirmu dan Bejo adalah seorang supir truk. Dalam hidup kami jarang-jarang memiliki kesempatan mendapatkan wanita menggairahkan seperti kamu! Maka bagaimana mungkin kami akan tinggalkan?” Martono malah menjawab dengan senyum kemenangan.

Kemudian kusadari tidak ada cara lain dan tak seorangpun dapat menyelamatkanku. Maka aku berfikir untuk menikmatinya saja seperti yang diucapkan Martono kepadaku. Aku sudah merasa kepalang basah, kenapa tidak dinikmati saja sekalian, toh akupun merasakan kenikmatan yang tiada tara dengan Martono tadi siang. Aku merubah posisiku seperti seorang pelacur, aku tidak peduli lagi.

Martono mulai bertindak dengan pekerjaan nya Martono yang tertunda. Dia meremas-remas payudaraku, kemudian Bejo yang baru datang mengoleskan mentega pada lubang pantatku dan mengolesi burungnya juga. Kemudian ia memposisikan burungnya pada lubang pantatku dan dengan beberapa tekanan dia berusaha menerobos lubang pantatku. Aku merasakan sangat sakit tetapi aku sudah tidak melawan lagi. Bejo mendorong paksa burungnya dan posisi Martono di depanku membuatku terdorong mundur. Aku merasakan sesuatu yang besar dan kuat berada di pantatku.

udul: Aku Menikmati Diperkosa Supirku dan Temannya 3

Author : Hidden , Category: Pemerkosaan

“Auh… sakit… ampun…” aku melepaskan penis Martono dari mulutku.

Bejo sengaja mendiamkan burungnya beberapa saat membiarkanku agar terbiasa. Setelah beberapa menit Bejo mulai mendorong lagi penisnya.

“Auh…. Jangan…” aku berteriak kembali, rasanya sangat sakit. Seluruh penis Bejo telah masuk dan merobek pantatku, terasa ada sedikit darah mengalir dari lubang pantatku. Aduh! Kontolnya itu sangat besar sehingga terasa sangat ketat di lubang pantatku!

“Auhh.. aduh… aduh… tolong.. aku akan mati… Kau merobek pantatku.. rasanya punggungku mau patah… Kau Bajingan!” Aku menjerit dengan suara nyaring tetapi mereka berdua hanya diam dan mulai beraksi lagi.

“Sekarang kontolku sudah masuk, Martono… kamu boleh meninggalkan aku sekarang.” Bejo berkata pada Martono. Martono hanya menganguk.

“Baiklah, aku akan menonton pertunjukanmu…. Nyonya, sekarang anda adalah bagiannya.” Martono sekali lagi mencium payudaraku dan meninggalkanku. Dia duduk di kursi meja hias dan menonton perbuatan Bejo terhadapku. Sekarang aku sepenuhnya dipermainkan oleh Bejo.

“Kau kekasihku sekarang, aku akan membuatmu merasakan sensasi yang sangat menyenangkan… aku akan membuatmu ketagihan… kau akan jadi pelacurku.” Bejo sesumbar.

“Sudahlah… kumohon keluarkan penismu… aku tak tahan lagi…. Sakit…. Rasanya aku hampir mati” terasa air mataku menitik.

“Aku tidak akan membiarkanmu mati…. Nikmati saja… sebentar lagi akan terasa lebih nikmat.” Bejo berbisik sambil menjilat telingaku. Dia lalu meraih payudaraku dan meremasnya.

Kemudian ia mencabut burungnya separuh, lalu mendorong dengan kekuatan besar.

“ Jangan…. Tolong hentikan.. aku mau mati…. Hentikan sebentar…. sakit!” Aku mulai menangis tetapi ia tidak mendengarkanku dan tetap menggenjot pantatku dengan penuh nafsu. Aku roboh!

Bejo tetap memperkosaku tanpa mendengarkan aku dan dia memegang pinggul ku dengan tangan nya dan menggenjotku dengan cepat.

Selama memperkosaku, burungnya menyentuh bagian sensitifku dan membuatku merasakan getaran-getaran lembut dan menyenangkan. Aku mulai berpikir lagi, dalam kondisi tanpa pengharapan dan tak seorangpun dapat menolongku, mengapa aku tidak sekalian saja menikmati penis super ini. Pelan-pelan aku mulai menikmati gesekan penis Bejo pada pantatku, aku mulai menggoyangkan pinggulku. Kelihatannya Bejo menyadari perubahan dalam diriku.

“Ayoo sayang… nikmati…. Auh… enak sekali… betapa sesaknya pantatmu..”

Aku menggoyangkan lagi pinggulku, rasa sakit yang terima tadi kini berangsur-angsur tidak terasa lagi. Bejo kini meningkatkan kecepatannya dan aku juga. Payudaraku menggantung mondar mandir akibat genjotan Bejo. Kurasakan penis Bejo sangat keras dan kuat di dalam pantatku.

“lihat… sekarang nyonya mulai menyukainya kan.” Martono berkomentar kepadaku.

Bejo terus menggenjot pantatku, aku mulai menyukai permainannya.

“Bejo… kau memang laur biasa.. kau bisa menaklukkan wanita manapun. Aku salut padamu.” Martono malah terkagum-kagum pada Bejo.

“Sebentar lagi, nyonya akan jadi pelacur kami.” Martono tertawa.

“Kurang ajar….” Hatiku berteriak tetapi badanku masih bergerak-gerak mengikuti irama genjotan penis Bejo.

“Auhh… ohh…” aku merintih-rintih tak sadar

Tangan bejo meremas-remas payudaraku dengan lembut. Rabaan tangannya membuatku makin terangsang. Perlahan-lahan tangannya bergeser ke bagian kewanitaanku. Jari-jarinya dengan kasar menyentuh vaginaku.

“Ohh…. Hmmm…….” Tanpa sadar aku menggigil dan merintih. Aku merasakan kenikmatan yang lain dalam diriku. Jari-jarinya bermain-main di clitorisku. Darahku seperti berkumpul di titik sensitif itu.

“Auhh… enak…. Hmmm… Ohh…. Nikmat…” tak tahan aku dibuatnya. Tubuhku rasanya semakin melayang-layang. Setelah beberapa saat, tubuhku menegang dan berkelojotan sesaat. Air maniku tumpah… aku orgasme.

“Teruskan sayang… jangan ditahan… aku akan memberikan kebahagiaan untukmu.” Antara sadar dan tidak akau mendengar Bejo berbisik ditelingaku.

Dalam permainan ini aku berkali-kali aku orgasme, tapi sepertinya Bejo mempunyai stamina yang luar biasa. Aku merasa kelelahan tetapi bahagia, setelah 25 menit kemudian tiba-tiba terasa penis Bejo mengeras. Jari-jarinya makin menekan clitorisku.

“Ohh…. Aku keluar…” akhirnya Bejo berteriak.

“Ohh…nikmatnya… keluarkan didalam saja, teruskan… jangan keluarkan kontolmu.” Aku tak sadar setengah berteriak. Bejo tertawa dengan penuh kemenangan. Cairan hangat memasuki lubang pantatku.

“Auhhh…….” Akupun orgasme bersamanya. Rasanya nikmat sekali. Bejo masih menduduki pantatku beberapa saat lalu mencabut burungnya.

“Ploop….” Terdengar bunyinya. Martono dan Bejo tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.

Aku menghembuskan nafasku dan merasa sangat nikmat. Sekarang jam 3 malam. Tadi siang aku merasakan kenikmatan bersama Martono. Dan malam ini aku merasakan kenikmatan bersama Bejo. Aku menjadi sangat ketagihan. Selma ini aku hanya mendapat kepuasan dari suamiku. Tapi sekarang, aku sepertinya keranjingan berhubungan sex. Aku ingin mendapatkan lebih. Aku ingin yang lebih mengasyikkan….

“Martono, aku akan istirahat……. Aku sungguh sangat puas” Bejo berkata.

“Nyonya, anda sungguh sangat mengagumkan….” Aku tersenyum mendengar pujian dari Bejo.

“Istirahatlah…” Martono menjawab.

“tunggu dulu….” Setengah berteriak aku kepada mereka berdua. Mereka menatap wajahku dengan heran.

“Kau telah memperkosa lubang pantatku, aku telah memberikannya. Tapi sekarang aku ketagihan… aku ingin merasakan kontol 18 cm itu dalam memekku. Aku ingin merasakan kontol besar punyamu..” Aku telah gila… aku tak peduli lagi siapapun yang akan memperkosaku, malah aku ketagihan…

Martono berteriak padaku “Nah, lihat…. aku berjanji akan memberimu kesenangan yang terbaik di dunia.”

“Dia benar….tinggalkanlah kami berdua, aku akan menikmati tubuhnya. Dia akan menjadi pelacur bagiku malam ini. Dan besok aku akan tinggalkan nyonyamu sebagai wanita yang sangat haus sex.” Dengan tenang Bejo berkata pada Martono. Martono sambil tertawa pergi ke ruang tamu kemudian Bejo menutup pintu.

*****

“Nyonya sungguh seorang nyonya yang cantik dan mempunyai bentuk badan yang ramping dan menggairahkan.” Aku tersenyum. Aku menjadi sangat malu. Aku jadi salah tingkah. Aku malu tapi akupun menikmatinya. Aku begitu berharap pada apa yang akan terjadi berikutnya.

“Betapa senangnya saya mempunyai kesempatan untuk mendapatkan nyonya. Nyonya sungguh seorang nyonya yang cantik.” Bejo berkata dan berusaha membawaku dalam pelukannya.

Aku gemetar terdiam. Kemudian dia menyibakkan rambutku, kemudian ia menaruh bibirnya pada bibir ku dan mulai mencium dengan sangat bernafsu dan kasar. Sementara itu tangannya diletakkan pada pantatku dan menekan-nekan dengan bernafsu. Bibir mungilku terasa sangat basah olehnya. Kemudian ia menarik blus biru yang kupakai. Dan tangannya terus menjalari badan ku dan aku benar-benar merasakan ketidaksukaan tetapi sekarang aku adalah juga merasakan basah dan tidak sabar untuk mendapatkan kenikmatan darinya. Apa yang telah terjadi denganku….

Biasanya suamiku hanya sanggup bertahan selama setengah jam untuk melayaniku. Tapi kini aku berhadapan dengan seorang pria jantan yang mungkin sudah sangat sering menaklukkan wanita-wanita. Sedangkan tadi siang Martono sanggup membuatku orgasme berkali-kali. Setelah agak lama Bejo berusaha merangsangku. Dan aku mulai menggelinjang-gelinjang tak sabar.

Ia berbaring di sampingku dan memintaku untuk merangsangnya. Ini adalah kesempatanku untuk melayani nafsunya walaupun aku merasakan malu awalnya tetapi sekarang aku telah berhasil secara penuh merangsangnya. Dan aku mulai menggerakkan tanganku di sekujur tubuhnya. Bejo menutup matanya dan aku mulai menciuminya. Dadanya berbulu, pahanya adalah sangat kokoh, lebih dari itu ia adalah seorang pria jantan. Aku mencium puting susu nya sekarang ia memulai merintih

“ohhhh….aaahhaaahhhhh .. ternyata nyonya pandai menyenangkan hati pria.”.

Sekarang aku betul-betul ingin lihat burung besar nya. Terlihatlah sesuatu yang luar biasa, seekor burung berukuran 18 cm secara penuh menegang dan dua bola sedang menggantung dengan indah. Aku duduk di dadanya dan mulai menjilat burungnya. Aku merasa sangat ingin untuk makan “pisang ambon” ini sebab pertama kali aku melihat burung sangat besar. Aku memainkan burungnya seperti anak perempuan kecil bermain-main dengan boneka. Tiba-tiba terasa vaginaku diciumi, aku betul-betul merasakan getaran-getaran listrik yang mengalir ke sekujur tubuhku karena sentuhan lidahnya yang menyentuh klitorisku.

“Auh…Hmmf…” aku tidak sadar melenguh.

Tetapi aku berusaha berkonsentrasi pada burung besarnya. Aku mulai menjilati batang pisangnya dan menggerakkan mulutku naik turun, aku ingin makan semakin banyak dan pada akhirnya tiba-tiba penisnya menegang dan menyemprotkan cairan sperma ke mulutku.

Kemudian dengan liarnya Bejo menggerayangi tubuh telanjangku. Hisapan demi hisapan, jilatan lidahnya menyapu bersih lekuk tubuhku.

“Aow…. hmm,” aku merintih saat lidah Bejo mulai menjilati bibir vaginaku kembali.

“Woowww.. Mulus sekali nyonya ini.., gimana sayang? …Enak?,” Bejo seperti mengejekku, aku terpejam tak mampu memandang Bejo. Lidah Bejo semakin liar dan membuat kenikmatan tersendiri padaku.

“Ehmmhh,” aku merintih tak bisa menahan kenikmatan itu, pinggulku mulai bergerak teratur seirama jilatan lidah Bejo divaginaku, aku pasrah dan menikmati permainan itu. Malah saat ini aku mulai bernafsu agar penis Bejo mengoyak vaginaku yang sudah gatal.

Tapi rupanya Bejo sengaja menyiksaku, jilatan lidahnya sudah masuk menerjang vaginaku. Aku sudah bergerak tak karuan menerima kenikmatan darinya, tapi tak juga Bejo menyetubuhiku.

“Ohhh.. Nngghh..,” aku tak tahan lagi, seluruh rasa nikmat berkumpul diklitorisku membuat pertahananku akhirnya jebol. Aku orgasme dengan belasan kedutan kecil divaginaku. Aku malu sekali pada Bejo yang tersenyum.

Bejo kemudian mencium dan mengulum bibirku beberapa lama, tanpa sadar aku membalas lumatan bibirnya dengan nafsu pula. Kurasakan dia berusaha menepatkan posisi ujung penisnya dibelahan bibir vaginaku.

“Hmmm.., aahh.. Nghh..,” aku merintih nikmat saat penis besar Bejo mendesak masuk keliang nikmatku.

“Ouhh.., sudah kusangka vaginamu masih rapat sayanghh.., nikmati permainan kita ya manis,” Bejo berbisik lagi membuatku semakin melayang dipuji-puji.

Penis Bejo keluar masuk secara teratur di vaginaku dan aku mengimbanginya dengan gerakan pinggul memutar.

“Hmm.., puaskan aku sayang..,” tak sadar aku membalas bisikan Bejo itu sambil memeluk tubuhnya untuk lebih rapat menindihku.

“Cantik kamu sayang.., cantik sekali wajahmu saat nikmat ini,”

“Ohh… teruskan sayang.. Aku milikmu saat ini..,”

Kuakui permainan Bejo memang luar biasa, romantis, lembut, tapi sungguh memacu birahiku secepat genjotannya di tubuhku. Gerakan tubuh Bejo semakin cepat dan teratur diatas tubuhku. Erangan dan rintihanku sudah tak tertahan aku memang birahi saat itu. Tapi saat aku hampir klimaks, mendadak Bejo menghentikan aktifitasnya dan mencabut penisnya dari vaginaku.

“Ayo sayang kita berdiri,” Bejo menarik tubuhku berdiri, lalu mendorong punggungku menjadi posisi menungging, dan Bejo dibelakangku kembali menghujamkan penisnya ke vaginaku. Aku merasakan kenikmatan yang yang tertahankan dengan posisi doggy style ini.

“Ahh.. Ouhh.. teruss..,” hanya itu yang terucap di bibirku saat sodokan penis Bejo masuk dalam posisi nungging itu.Bejo semakin keras mengocokku dari belakang, aku semakin tak terkendali kurasakan kenikmatan sudah puncak dan menjalar diseluruh tubuhku mengumpul dibagian pantat, paha, vagina dan klitorisku.

“Ahh sayang.. Ohh.. Hmmph..,” aku tak kuasa lagi membendung kenikmatan itu, dinding vaginaku berkedut berkali-kali disodok penis Bejo. Belum habis orgasme yang kurasakan, Bejo menarik tubuhku dan menggendongku. Aku memeluknya erat-erat.

Judul: Aku Menikmati Diperkosa Supirku dan Temannya 4

Author : Hidden , Category: Pemerkosaan

“Ayo cantik.. Ini lebih nikmat sayang.., sekarang keluarkanlah seluruh cairan kenikmatanmu,” dalam posisi itu penis Bejo masih mengocokku tangannya mengangkat tubuhku naik turun dengan posisi berdiri.

“Ahhh.. Uohh….,” Vaginaku berkedut-kedut dengan cepat, orgasmeku begitu luar biasa ditangan Bejo.

“Ouhhkk.. Aku mau keluar…. Ahhh,” Bejo orgasme dengan posisi berdiri menopang tubuhku yang lunglai. Kurasakan seburan spermanya menembus dinding rahimku. Lalu Bejo menjatuhkan tubuh kami diatas ranjang kembali, kami berpelukan seperti pasangan kekasih.

Kemudian ia menciumku penuh kasih dan pergi ke ruang tengah.

*****

Aku terbangun jam 9 pagi, rasanya tubuhku agak lelah. Aku lalu menuju kamar mandi membersihkan sisa-sisa permainan tadi malam. Badanku benar-benar terasa segar setelah mandi. Setelah mandi aku menuju kulkas. Di lemari es dalam kamarku kulihat beberapa buah apel. Aku makan sekedar mengganjal perutku. Aku masih memakai handuk yang melilit tubuhku. Sambil bercermin, kuperhatikan tubuhku. Hmm.. masih seksi dan padat.

Tiba-tiba supirku Martono datang. Ia telah telanjang. supirku adalah seorang laki-laki yang sangat buruk. Usianya sekitar 40 tahu, rambutnya botak dan berwajah buruk, tapi mempunyai perkakas yang besar pula walaupun tidak sebesar punya Bejo. Penisnya setengah ereksi.

“Selamat pagi nyonya…” Martono menyapaku. Aku diam saja. Dia lalu melepas handukku dan menggendongku ke ranjang. Aku kini berbaring diranjang dengan telanjang bulat. Maryono mengamati badanku dengan sangat bernafsu.

“nyonya, anda sungguh sangat seksi.” Aku tenang-tenang saja, namun aku bingung begitu menyadari bahwa supirku sendiri telah memperkosaku dan menikmati tubuhku..

Kemudian seperti seekor serigala lapar dia melompat kepadaku dan mulai menciumku di mana-mana. Martono sungguh bernafsu. Dia menciumi leherku dan membuatku melenguh. Setelah sekitar sepuluh beberapa menit dia menciumi bibir, wajah dan menghisap payudaraku, ia menjilat perutku dan turun menyentuh vaginaku yang berbulu dengan lidah. Aku menggigil dan menghentak seolah-olah aku mendapat suatu goncangan raksasa. Ia melebarkan kakiku dan yang dimulai menjilati clitorisku dengan liar.

“Hoohh…. Ehh.” aku mulai mengerang dengan tak terkendali.

Martono meregangkan kaki ku lebih lebar. Sekarang memekku terpampang dengan jelas di wajahnya.

“Ow.. nyonya, memekmu sungguh indah.” Aku menutup mataku dengan malu. Kemudian ia menggosok-gosok kepala burungnya dan kemudian menempatkannya pada memekku.

Ketika burungnya menyentuh memekku badan ku menggigil. Aku merintih. Kemudian ia menangkupkan payudaraku yang besar dengan tangan kanannya. Supirku mempermainkan payudaraku dengan liar. Burungnya sudah siap untuk masuk memekku.

Dia mencium bibirku dengan lembut, aku menaruh lidahku didalam mulutnya. Kami saling berpagutan.

“Liang peranakanku koyak oleh Bejo dan masih terasa sakit, masukanlah kontolmu pelan-pelan..” aku meminta.

Martono hanya tersenyum seperti setan kepadaku dan tiba-tiba dia mendorong dengan kuat sehingga penisnya sepenuhnya berada dalam vaginaku. Aduh!

Bejo benar-benar telah membuat liang vaginaku mengendurkan dan memperbesar memekku, sehingga penis Martono masuk ke dalam liang peranakanku dengan mudah. benar Beberapa lama kemudian tubuhku melengkung dan menjerit. Vaginaku mengeluarkan cairan kenikmatan.. aku orgasme lagi! Martono memperhatikan wajahku dengan terheran-heran!!!!!!

“Wow… luar biasa…”. Martono berhenti sejenak dan menatapku dengan tatapan kesetanan sampai orgasmeku mereda.

Akan tetapi begitu Martono mulai memompa vaginaku lagi, aku tidak bisa mengendalikan dan lagi-lagi dengan seketika punggungku melengkung dan menyemburkan orgasme. Mereka benar-benar telah merubahku sehingga aku tidak bisa mengendalikan diriku lagi. Mereka merubahku menjadi seorang betina yang haus sex.

“Nyonya, apakah anda berusaha untuk membuat rekor dunia didalam hal orgasme?. Lihatlah sekarang, bagaimana aku membuat anda seperti pelacur yang gila kontol!!.”

“Kamu akan jadi pelacurku!!!!” sambil mengatakan itu, ia mulai memompa pelan-pelan tetapi di dalam tubuhku rasanya sangat nikmat sekali. Kemudian teriakanku berubah jadi rintihan nyaring yang penuh nafsu.

Aku merintih dengan suara menggairahkan “ Uohh……… teruskan…. Hmmm… nikmatnya… punyamu memang luar biasa.”

“sayang memek mu menjadi sangat panas dan licin!!!!”

Tetapi pada saat aku betul-betul terangsang, Martono menggodaku. Dia menghentikan goyangan pinggulnya dan mencabut penisnya. Dia mulai mencium payudaraku. Aku merintih kesetanan.

“jangan dilepas… cepat masukkan… masukkan..” aku berteriak-teriak.

Martono menatpku dan dengan tertawa dia bilang “ Nyonya, sekarang anda betul-betul seperti seorang pelacur yang gila kontol. Tidak sadarkah anda sedang meminta supir nyonya untuk menyetubuhi anda sendiri.”

“ Semenjak kamu menceritakan kepadaku bahwa kau sengaja mencari cara untuk memperkosaku dan akan memberikan aku sensasi sex yang luar biasa dan tidak pernah aku rasakan dari suamiku, didalam hati kecilku aku merasa penasaran, aku begitu terangsang. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi dan aku kehilangan kendali terhadap dirikuku!!!! Aku tidak pernah berhubungan sex dengan seseorang selain dari suamiku. Aku tidak menyadari bahwa sebenarnya aku sangat menginginkan bermain sex dengan orang lain… aku sangat menginginkannya!” akhirnya aku bicara.

“Martono, aku merasa seperti menikmati lagi berhubungan sex pertama kalinya dalam hidupku. Kamu sungguh-sungguh memberikan aku suatu pengalaman yang menggetarkan! Sekarang tolonglah aku, pompa memekku…. Aku tak tahan lagi!!!!!!” Supirku tersenyum dan dia mulai menggenjotku pelan-pelan.

“Nyonya, anda adalah wanita yang sangat menggairahkan. Aku selalu memimpikan untuk berhubungan kelamin denganmu. Aku dulu onani di kamar kecil dengan memikirkanmu. Nyonya, aku sungguh mendapat kesenangan luar biasa dari memekmu!”

Tetapi kemudian aku menjerit “Aku tidak tahan lagi, tolonglah perkosa aku ……..dengan keras, lebih kasar…… lebih cepat lagi… Augh.. cepatlah….tolong…..” dengan ini secara otomatis aku menggerak-gerakkan pinggulku naik turun bergesekkan dengan penisnya. Melihat itu Martono tertawa dengan nyaring dan menciumi bibirku, dia mulai mempermainkanku seperti banteng kesetanan. Oh… Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tiba-tiba aku merasakan desakan-desakan yang sangat kuat pada liang vaginaku. Tubuhku melenting dan aku merintih dengan keras!! Aku orgasme lagi!

Kakiku diregangkan terpisah olehnya dan dengan erat Martono memegang kaki ku.. Tetapi aku tidak mengetahui mengapa pinggulku otomatis bergerak turun seirama kocokan penisnya dan aku menjerit secara terus-menerus dengan penuh kenikmatan. Tiba-tiba aku merasakan orgasme yang luar biasa. Punggungku melengkung dan cairan kenikmatanku membanjiri penisnya yang perkasa.

Aku merintih dengan nyaring” Auh….Hmmmm….. aku keluar….ahhh.. lagi.”.

“Tolonglah… lebih cepat lagi… Ohhh.. nikmatnya… lebih keras…” Martono mengocok vaginaku dengan penuh nafsu. Tiba-tiba dia menghentikan gerakannya. Tubuhnya menegang.

“Ahh, Nyonya.. saya mau keluar…. Ohh….”

“ Keluarkan di dalam… goyangkan kontolmu… lebih cepat… lebih cepat lagi.” Aku tak tahan

“Bagaimana kalau nyonya hamil..” Martono kembali mengocokkan penisnya dengan cepat.

“Aku tidak peduli, Kau dan Bejo telah menumpahkan maninya padaku… aku ingin kepuasan… Ohh…. Egghh…” aku semakin meracau tidak karuan.

Martono semakin mneggoyangkan penisnya maju mundur dan memuntahkan cairan panas ke dalam rahimku. Oh! Nikmatnya perasaan hangat dalam vaginaku. Tubuhku bergetar seperti orang yang terserang malaria… aku mendapatkan orgasme terbesar dalam hidupku!

Aku terus mengejang dan mengeluarkan cairan kenikmatan….Aku menjerit dengan pebuh kenikmatan. Kukuku menancap pada punggung Martono.

” Ooooooooooooooo Oooooooohhhhhhh Aaaaaaahhhhhh. Aku keluarr……….”. Lalu kami roboh kelelahan.

“Kamu adalah laki-laki impianku!!..” Aku memuji supirku tanpa malu-malu.

“Apa yang nyonya suka dari saya.”

“Aku menyukai pria jantan sepertimu.”Aku menjawab dengan suatu senyuman malu.

“Kau memperkosaku diranjang suami ku, aku seorang nyonya rumah yang kaya bermain sex dengan seorang supir pribadi. Kaupun menjual diriku pada temanmu seorang supir truk yang seperti seorang perempuan murahan. Kau merubahku sepenuhnya dari seorang isteri setia menjadi seorang wanita haus sex!!!!!!!” Martono tersenyum, dia menciumku dengan penuh nafsu, lalu meraba-raba payudaraku dan mengorek-ngorek liang senggamaku..

Kemudian aku memeluknya dan kami berbaring dengan berpelukan. Kemudian Bejo datang di kamarku. Aku tersenyum padanya dan ia juga tersenyum pada aku.

Bejo berkata “Beberapa jam yang lalu, nyonya adalah seorang istri setia yang, tapi lihatlah sekarang kamu sudah menjadi pelacur murahan karena dua orang pria asing telah memperkosamu. Kamu akan hamil oleh supir pribadimu dan seorang supir truk.”

” Sunguh Martono, nyonyamu adalah seorang wanita yang terseksi.” Bejo melanjutkan.

” Sayang, anda benar-benar menikmati?” Martono bertanya padaku

“Yah, sungguh suatu pengalaman luar biasa. Kalian berdua mempunyai senjata idaman wanita terbaik. Aku betul-betuk sangat menikmati. Sekarang aku kurang suka penis suamiku. Aku benar-benar menyukai kedua penismu yang besar. Kamu sungguh luar biasa, Martono. Mulai hari ini aku ingin kalian melayaniku. Dengan saling bertatap muka Martono dan Bejo tertawa terbahak-bahak. Kemudian supirku menciumku dengan penuh nafsu..

*****

Setelah kejadian itu aku menjadi pelampiasan sex mereka. Kapanpun Martono mendapatkan kesempatan, ia bermain sex denganku. Setiap kali suamiku tidak berada di rumah, Bejo dan Martono bermain sex denganku menggunakan berbagai macam gaya yang belum aku ketahui. Aku benar-benar menikmati kehidupan sex seperti sekarang.

Sekarang aku mempunyai empat orang anak. Yang palin tua adalah anakku dari suamiku dan sisanya dari Martono dan Bejo. Martono dan Bejo lebihmenyukai berhubungan denganku tanpa memakai kondom demi kesenangan yang maksimum. Martono senang melihat aku hamil karena perbuatannya. Sampai sekarang suamiku belum mengetahui skandal ini. Biarpun dia mengetahuinya, aku tidak peduli. Aku menyukai kehidupanku sekarang. Aku mempunyai dua orang suami pengganti yang sangat perkasa dan memuaskanku.

Judul: Dukun Sakti

Author : Hidden , Category: Umum

Siang itu suasana kantor PT. ANGIN RIBUT begitu sepi. Di sebuah ruangan, di lantai dua, sang manajer, Ir Basmir namanya, tengah melamun. Sambil duduk dengan mengangkat kedua kakinya ke atas meja, ia terus saja berpikir. Ya, ia memang sedang kasmaran dengan seorang gadis. Gadis itu tak lain adalah Linda, bawahannya sendiri.

Linda memang cantik dan seksi. Di usianya yang baru mencapai 28 tahun, tubuhnya memang sempurna dan menantang birahi setiap pria yang memandangnya. Terutama dadanya yang terlihat amat membusung indah. Linda ini sudah cukup lama bekerja di kantor itu. Ia kini menjadi Kepala Bagian Pemasaran dan Distribusi yang membawahi 70 orang karyawan. Berkali-kali Basmir mengajak Linda untuk makan malam, tetapi selalu ditolaknya. Berbagai alasan diutarakannya. Capailah, atau alasan lain, mungkin dia sudah punya pacar. Inilah yang membuat Basmir berpikir keras sejak tadi.

“Hmmm… gimana caranya supaya ia bisa takluk di pelukanku..? Nah… aku tahu sekarang… Aku akan menemui orang itu nanti malam…” tiba-tiba Basmir teringat seseorang yang mungkin menjadi satu-satunya harapan untuk mendapatkan Linda.

Dengan penuh semangat, ia mengemudikan mobilnya menuju sebuah hutan terpencil sekitar 15 kilometer dari rumahnya. Rupanya, orang yang ia tuju adalah seorang tua yang tidak lain adalah dukun ilmu hitam. Namanya Mbah Za’in. Orang ini terkenal di seantero kota itu sebagai dukun santet yang amat sakti. Apapun keinginan orang yang datang padanya pasti tercapai. Ia belum pernah gagal. Orang yang datang padanya tinggal memberinya upah, baik uang ataupun barang yang lain. Tidak jarang mereka menghadiahkan wanita untuk ditiduri oleh sang dukun. Tua-tua keladi, makin tua nafsunya makin jadi.

Saat Basmir sampai di rumah tua itu, segera saja ia mengetuk pintu.

“Siapa di situ?” terdengar suara Mbah Za’in dari dalam.

“Permisi, Mbah… boleh saya masuk..?” teriak Basmir.

“Ya, silahkan…” jawab Mbah Za’in sambil membuka pintu kayu yang sudah agak reyot itu.

Setelah disuruh masuk, Basmir langsung duduk di ruangan tengah rumah tua itu yang penuh dengan bau kemenyan. Bulu kuduknya terasa mulai berdiri. Diperhatikannya seluruh isi ruangan itu. Memang menyeramkan suasananya. Ada tengkorak, kepala macan, kain-kain bergelantungan yang berwarna hitam dan merah darah, lalu seperti tempat pedupaan yang berada persis di hadapannya.

“Ada perlu apa, Nak Basmir malam-malam kemari..?” tiba-tiba Sang Dukun bertanya.

Basmir tentu saja kaget tidak kepalang. Ia tidak menyangka Mbah Zain mengetahui namanya. Benar-benar sakti.

“Eh… anu Mbah.., saya butuh pertolongan. .. saya suka dengan seorang gadis… Linda namanya, kebetulan bawahan saya sendiri di kantor… tapi saya selalu ditolaknya bila saya mengajaknya keluar makan malam… Nah ini fotonya…” jawab Basmir dengan terbata-bata sambil mengeluarkan dari kantong kemejanya selembar foto close-up seorang gadis berambut panjang sebahu yang amat cantik.

“Oh begitu…” jawab Mbah Za’in sambil memegang foto itu dan kemudian mengelus-elus jenggot putihnya yang panjang.

“Bisa… bisa… tapi apa upahnya nanti kalo kau berhasil mendapatkan dia, heh..?”

“Jangan kuatir, Mbah… Saya sediakan 100 juta rupiah buat Mbah… dan kalo saya bisa mendapatkan dia malam ini juga, setengahnya saya berikan dalam bentuk cek sekarang juga… Gimana Mbah..?”

“Baiklah…” jawab si dukun, “Kalo begitu buka pakaianmu… kau cukup hanya mengenakan celana dalam saja, lalu duduklah dengan posisi bersila di hadapanku… “

Basmir pun menuruti semua perintah si dukun. Setelah itu, Mbah Za’in kemudian membaca beberapa mantera dan menabur kemenyan di atas pedupaan di depannya. Tidak lama kemudian, terdengar petir menggelegar dan lampu ruangan itu tiba-tiba padam lalu hidup lagi. Basmir pun kemudian memejamkan matanya. Saat itu juga, roh sukma Basmir seperti terlepas dari tubuhnya dan seperti melayang pergi ke luar rumah itu. Roh sukma Basmir yang setengah telanjang itu bergerak menuju rumah Linda yang berjarak sekitar 18 kilometer dari sana.

Di rumahnya, Linda tengah berusaha tidur. Ia mengenakan daster putih yang amat transparan. Di baliknya, ia tidak mengenakan apa-apa lagi. Payudaranya yang berukuran 38 jelas terlihat, demikian juga dengan bulu-bulu kemaluannya yang menghitam. Setiap malam, ia selalu tidur dengan cara begitu. Ia merasa gerah karena panasnya udara yang terus saja menaungi ruangan kamarnya. Tiba-tiba saat ia ingin terlelap, berhembuslah angin yang terasa menusuk sum-sum tubuh. Ia terbangun. Jendela kamarnya tiba-tiba saja terbuka dan angin itu masuk. Dan memang angin aneh itu adalah terpaan roh sukma Basmir kiriman sang dukun. Roh sukma Basmir bisa melihat posisi tubuh Linda tapi Linda tidak melihat apa-apa. Ia hanya merasakan terpaan angin aneh itu.

Sekonyong-konyong seperti ada dua tangan kekar merobek baju daster Linda. Linda yang kaget menjadi ketakutan setengah mati. Ia berusaha melawannya. Tapi ia kalah cepat. Daster itu lebih dulu robek. Ia kini telanjang. Dan roh sukma Basmir dengan sengaja mendorong tubuhnya jatuh telentang ke ranjang. Dengan cepat roh Basmir mencium bibir, wajah, leher dan payudara Linda yang besar itu. Linda berusaha melakukan perlawanan. Tapi ia bingung, sebab ia merasakan ciuman-ciuman itu tapi sosok yang menciumnya tidak terlihat. Beberapa menit kemudian, karena putus asa, ia menyerah. Roh Basmir kemudian membuka celana dalamnya. Lalu penisnya yang sudah membesar diarahkan ke mulut Linda.

Karena sudah merasa terangsang oleh ciuman-ciuman itu, Linda pun mulai mengulum penis besar tegak yang tidak kelihatan tapi terasa wujudnya itu. Ia mengulum, menghisap-hisap, dan menjilat penis itu. Kalau ada orang yang melihat Linda saat itu, pastilah orang itu akan mengira bahwa Linda sedang berpantomim dengan memperagakan gerakan oral seks. Tapi Linda memang merasa ada penis besar tegak sedang dihisap dan dijilat-jilatnya. Tanpa membuang waktu lagi, roh sukma Basmir segera membuka kedua kaki Linda. Tampak sekarang liang kewanitaannya yang sudah basah karena terangsang berat. Roh Basmir pun segera mengarahkan penisnya ke liang kemaluan Linda.

Dengan sekali dorongan, “Blesss… jeb… bless…” masuklah penis besar tegak itu ke lubang senggama Linda.

Linda terlihat merem-melek merasakan senjata aneh itu keluar masuk di liang ajaibnya. Darah segar pun mengalir keluar dari vaginanya. Darah perawan, karena memang selama ini Linda belum pernah berhubungan dengan pria manapun. Karena merasa keenakan, Linda pun mengimbanginya dengan menggerak-gerakkan tubuhnya ke atas, ke bawah dan berputar-putar. Kemudian roh sukma Basmir pun mengangkat tubuh Linda dan menyuruhnya untuk menungging. Ia lantas menusukkan penisnya dari belakang. Dan penis itu pun masuk tanpa halangan lagi. Linda terlihat menikmati tusukan penis itu.

Dan sejam kemudian, roh sukma Basmir pun seperti akan mencapai puncak orgasmenya dan ia pun menumpahkan maninya ke sekujur tubuh Linda yang saat itu telah tergolek tidak berdaya. Setelah puas, roh itu seolah-olah terbang kembali ke tempat asalnya. Linda yang kemudian tersadar, menjadi bingung dan bertanya-tanya apa sebenarnya yang telah terjadi. Tapi kemudian ia sadar bahwa sesosok makhluk tanpa bentuk telah menodainya dan ia tidak tahu siapa sebenarnya makhluk itu. Ia lantas menangis tersedu-sedu. Nasi sudah menjadi bubur. Ya, keperawanannya telah hilang. Entah apa yang akan dikatakannya pada Robert, pacarnya bila akhirnya mereka menikah suatu hari nanti.

Sementara itu di rumah sang dukun, Basmir yang telah berpakaian lengkap kembali, tersenyum puas.

“Terima kasih Mbah… Ini cek senilai 50 juta yang tadi saya janjikan… Saya akan memberikan sisanya bila Mbah mampu membuat Linda menjadi tergila-gila pada saya…” ujarnya dengan senyuman licik di wajahnya.

“Oh… itu gampang…. telan saja telur empedu rusa Kalamujeng ini… dijamin besok pun gadis itu akan kau nikmati lagi kesintalan tubuhnya…” jawab si dukun sambil mengambil sebuah benda mirip telur hijau kecil dari kantong jubah lusuhnya.

Tanpa pikir panjang lagi, Basmir menelan telur itu.

Keesokan harinya, apa yang dikatakan Mbah Za’in benar-benar terjadi. Saat suasana kantor pagi itu belum terlalu ramai, pintu kantor Basmir diketuk seseorang. Ketika Basmir menanyakan siapa yang mengetuk, suatu suara lembut berujar, “Maaf Pak… saya ingin berbicara sebentar dengan Bapak…”

Mendengar suara itu, bukan main girangnya hati Basmir. Ya, itu suara Linda. Inilah kesempatan yang ia tunggu-tunggu. Dengan bergegas ia membuka pintu itu, dan ternyata benar. Linda tampak cantik berdiri di sana dengan mengenakan rok mini. Sebuah senyuman genit tampak di wajahnya. Tanpa membuang waktu lagi, Basmir menarik tangan Linda. Ia lalu membawanya ke sofa besar di pojokan ruang kantornya itu. Dengan cepat ia mencium bibir Linda dan Linda pun membalasnya dengan semangat. Tangan Basmir pun segera menggerayangi tubuh mulusnya. Pertama-tama yang dituju adalah tentu saja buah dada besarnya.

Dibukanya kancing kemeja Linda, lalu disingkapkannya BH-nya, dan segera saja payudara itu diremas-remasnya tanpa ampun. Linda tentu saja menggelinjang hebat. Lalu ia dengan inisiatif sendiri membuka semua pakaiannya. Melihat itu, Basmir tak mau kalah. Penisnya sudah tegang seperti siap untuk berperang. Tanpa disuruh lagi, saat keduanya sudah telanjang total, Linda jongkok dan meraih penis itu untuk dikulum, dihisap-hisap lalu dijilatnya sambil membelai-belai kantong zakar Basmir. Basmir merasakan kenikmatan surga dunia yang tiada taranya. Kepala penisnya dijilat-jilat dengan penuh nafsu oleh Linda. Setelah penis itu benar-benar tegak, kini giliran Basmir yang mencoba membuat Linda terangsang. Diciuminya bulu-bulu kemaluan Linda, lalu lidahnya dengan sengaja dijulurkan ke dalam vagina Linda sambil berusaha menarik-narik keluar klitorisnya.

“Uh… uh… uh… uh… aduh nikmatnya… Terus Bas… terus…” kata Linda dengan tangannya memegang kepala Basmir yang kini sedang bergerilya di pangkal pahanya.

“Masukin sekarang aja, Bas… kumohon, Sayangku…”

Mendengar itu, Basmir segera mengajak Linda bermain di atas meja kantornya yang cukup besar. Basmir rebahan di sana dan Linda langsung naik ke atas pahanya. Posisi mereka berhadapan. Dengan penuh kelembutan, Linda membawa penis Basmir yang sudah tegak dan besar itu ke liang kenikmatannya. Dan ia pun dengan sengaja menurunkan pantatnya

Dan, “Bless… bless… jeb… plouh…” penis itu tak ayal lagi masuk separuhnya ke lubang kemaluan Linda.

Sementara Linda terus saja naik turun di atas pahanya, Basmir segera dengan posisi duduk meraih payudara Linda dan mencium serta menghisapnya seperti seorang bayi yang sedang disusui oleh ibunya. Setengah jam berlalu, tapi permainan birahi mereka belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Kemudian Basmir turun dari meja itu, lalu menyuruh Linda menungging dengan tangan berpegangan pada pinggiran meja itu. Penisnya yang kini telah basah oleh cairan vagina Linda kembali diarahkan ke lubang senggama Linda.

Dengan sekali tancap, penis itu masuk.

“Bless… bless… clop… plak… plak…” terdengar bunyi daging paha keduanya bergesekan dengan keras.

Tiba-tiba saja, kedua mata Basmir terbeliak yang berarti ia sebentar lagi akan ejakulasi.

“Di dalam atau di luar, Lin..?” tanyanya di tengah-tengah puncak nafsunya.

“Di dalam aja deh… biar nikmat, Bas…” jawab Linda seenaknya.

Dan benar saja, “Crot… crot… crot… crot…” sebanyak sembilan kali semprot, mani Basmir keluar di dalam liang senggama milik Linda.

Sisa-sisa mani yang ada pada kepala penis Basmir, kemudian dibersihkan oleh Linda dengan lidah dan mulutnya. Bahkan sebagian di antaranya ada yang ditelan olehnya. Keduanya kemudian saling melemparkan senyum puas.

Sejak itu, Basmir dan Linda menjadi sepasang kekasih. Dimana pun mereka memiliki kesempatan, mereka selalu berhubungan seks. Sampai saat itu, Linda tidak pernah tahu bahwa Basmir lah yang pertama memperawaninya melalui roh sukmanya. Memang hebat ilmu hitam si Mbah Za’in..!

Judul: Selingkuh vs. Selingkuh

Author : Hidden , Category: Pesta Sex

Kisah ini terjadi dua tahun yang lalu yaitu ketika masih umur 22 tahun dan masih kuliah di tahun ke-tiga. Dalam libur Natal selama seminggu, sepupu jauhku (anak dari sepupu mamaku) dari Semarang datang berkunjung ke sini untuk menghadiri undangan pernikahan sekalian mengisi liburan. Namanya Yessica, dia lebih muda dua tahun dariku dan sedang kuliah tahun kedua di sebuah PTS di kotanya. Setelah lama tidak bertemu, hampir tujuh tahunan aku sendiri agak pangling ketika menjemputnya di bandara, soalnya penampilannya sudah jauh berbeda. Dia yang dulunya pemalu dan konservatif kini telah menjadi seorang gadis belia yang modis dan mempesona setiap pria, tubuhnya putih langsing dengan perut rata, rambutnya juga hitam panjang seperti gadis Sunsilk. Dia tiba di sini sekitar pukul tujuh malam, dari bandara aku langsung mengajaknya makan malam di sebuah kafe. Ternyata dia enak juga diajak ngobrol karena kami sama-sama cewek gaul, padahal waktu kecil dulu kami tidak terlalu cocok karena waktu itu dia agak tertutup.

Keesokan harinya aku mengajaknya jalan-jalan menikmati kota Jakarta serta sempat berkenalan dengan Ratna dan cowoknya yang kebetulan bertemu waktu lagi shopping di TA. Royal juga saudaraku yang satu ini, belanjaannya banyak dan semuanya bermerk, aku saja sampai geleng-geleng kepala melihatnya. Malamnya sepulang dari undangan yang diadakan di sebuah restoran mewah di ibukota, aku langsung menjatuhkan diri ke kasur setelah melepaskan gaun pestaku dan menyisakan celana dalam pink saja. Aku rebahan bugil di ranjang merenggangkan otot-ototku sambil menunggu Yessica yang sedang memakai kamar mandi, dia tadi minum alkohol lumayan banyak, kemungkinan dia muntah-muntah di dalam sana kali pikirku.

“Yes, sekalian ambilin kaos gua di gantungan baju di dalam dong,” pintaku ketika dia keluar limabelas menit kemudian, matanya nampak sayu karena pengaruh alkohol dan kelelahan.

Dia memberikan kaos itu padaku lalu memintaku membantu melepaskan kait belakang gaun malamnya. Setelah memakai kaos, aku membuka kait dan menurunkan resleting gaunnya. Yessica pun memeloroti gaunnya sehingga nampaklah dadanya yang montok, ukurannya tidak beda jauh dengan milikku, cuma putingnya lebih kecil sedikit dari punyaku. Hanya dengan bercelana dalam G-string dia berjongkok di depan kopornya mencari pakaian tidur.

“Kenapa Ci? Kok ngeliatin gua terus, jangan-jangan lu..?” katanya nyengir karena merasa kulihat terus tubuhnya sambil membanding-bandingkan dengan tubuhku.

“Yee.. Nggak lah yaw!! Dasar negative thinking aja lo ah!” ujarku sambil tertawa.

Malam itu, sambil berbaring kami ngobrol-ngobrol, pembicaraan kami cukup seru dari masalah fashion, kuliah, cinta dan sex sehingga bukannya tertidur, kami malah larut dalam obrolan dan canda-tawa. Terlebih lagi ketika memasuki topik seks dan aku menceritakan secara gamblang kehidupan seksku yang liar, dia terkagum-kagum akan keliaranku dan kelihatannya dia juga terangsang.

Namun ketika gilirannya bercerita, suasana jadi serius, di sini dia menceritakan dirinya sedang ribut besar dengan pacarnya yang selingkuh dengan cewek lain, aku dengan penuh perhatian mendengarnya curhat padaku. Nampak matanya berkaca-kaca dan setetes air mata menetes dari matanya yang sipit, dia memeluk bantal lalu menangis tersedu-sedu dibaliknya. Sebagai wanita yang sama-sama pernah dikhianati pria, aku juga mengerti perasaannya, maka kurangkul dia dan kuelus-elus punggungnya untuk menenangkannya. Aku berusaha keras menghiburnya agar tidak terlalu larut dalam kesedihan dan memberikan air putih padanya.

Beberapa saat kemudian tangisnya mulai mereda, dengan masih sesegukan dia memanggil namaku.

“Hh-mm.. Apa?”

“Ci, tadi lu bilang lu pernah bikin film bokep pribadi kan ya

“Mm.. Iya, so what?” jawabku sambil mengangguk.

“Boleh gua liat nggak, hitung-hitung penghilang stress.. Boleh ya?”

“Ehh.. Eh.. Gimana ya? Sekarang?” aku bingung karena risih juga kalau film pribadiku dilihat orang lain.

Akhirnya karena didesak terus dan mengingat sama-sama cewek ini, akupun menyerah. Kunyalakan komputer di seberang ranjangku dan mengambil VCD-nya yang kusimpan di lemari. Yessica adalah orang pertama di luar geng-ku yang pernah menonton vcd ini. Gambar di layar komputer memperlihatkan diriku sedang dikerjai para tukang bangunan, serta adegan seks massal dimana Verna juga belakangan ambil bagian didalamnya membuat jantung kami berdebar-debar. Yessica nyengir-nyengir ketika melihatku yang tadinya berontak akhirnya takluk dan menikmati diperkosa oleh empat kuli bangunan itu.

“Hi… hi… hi… Malu-malu mau nih yee!” godanya yang kutanggapi dengan mencubit pahanya.

Aku merasakan vaginaku becek setelah menonton film yang kubintangi sendiri itu, kurasa hal yang sama juga dialami oleh Yessica karena waktu nonton tadi dia sering menggesek-gesekkan pahanya.

“Ci, gua juga mau dong bikin bokep pribadi kaya lu” pintanya yang membuatku kaget.

“Ngaco lu, jangan yang nggak-nggak ah, nanti gua dibilang ngerusak anak orang lagi, nambah-nambah dosa gua aja!” aku menolaknya.

“Aahh.. Ayolah Ci, lagian gua juga sudah nggak perawan ini, sudah basah jadi tanggung sekalian aja mandi”

“Jangan Yes, gua nggak enak ke lu”

“Ayolah, gua cuma mau ngebales aja kok, Napoleon juga membalas berselingkuh waktu tahu istrinya selingkuh, itu baru adil, ya kan” katanya sok sejarah.

“Ya.. illah.. Napoleon aja sampai dibawa-bawa, kalaupun gua mau, bikinnya sama siapa, cowoknya mana?”

“Di villa aja Ci, penjaga villa lu masih kerja di sana kan? Sekali-kali gua mau coba gimana rasanya kontol kampung nih, please”

Karena didesak terus dan dia sendiri yang minta, maka akupun terpaksa menyetujuinya, lagian aku sendiri sudah lama tidak berkunjung ke sana, pasti Pak Joko dan Taryo senang apalagi aku ke sana membawa ‘barang baru’.

Kami tidur sekitar jam duabelas dan bangun jam delapan pagi. Setelah sarapan, kami mengemasi barang bawaan, lalu pamit pada mamaku memberitahukan bahwa kami akan ke villa. Aku memakai baju untuk suasana rileks berupa halter neck merah yang memperlihatkan punggungku dipadu dengan celana pendek jeans yang ketat. Yessica memakai gaun terusan mini yang menggantung sejengkal di atas lutut, rambutnya yang panjang diikat ke belakang dengan jepit rambut Tare Panda. Kami berangkat dari Jakarta sekitar jam sepuluh dan tiba di tujuan jam satu lebih, gara-gara liburan yang menyebabkan jalan agak macet.

“Sudah siap lu Yes? Kalau mau berubah pikiran belum telat sekarang, tapi kalau mereka sudah ngerjain lu, gua nggak bisa apa-apa lagi” tanyaku ketika sudah mau dekat.

“I’m ready for it, lagian gua juga mau tahu rasanya diperkosa itu kaya apa” katanya yakin.

Kamipun sampai ke villaku, Pak Joko membuka pintu garasi beberapa saat setelah kubunyikan klakson.

“Waduh Neng, sudah lama kok nggak ke sini.. Bapak kangen nih!” sapanya menyambut kami.

“Iya Pak.. habis Citra sibuk banget sih di Jakarta, kalau libur baru bisa main,” kataku, “O.. Iya Pak, kenalin itu sepupu Citra, namanya Yessica”

Pak Joko terkagum-kagum memandang Yessica yang baru saja turun dari mobil, Yessica juga mengangguk dan tersenyum padanya. Kusuruh Yessica meletakkan dulu tasnya di kamar sementara kami mengeluarkan barang, setelah dia masuk, Pak Joko berbicara dengan suara pelan padaku.

“Eh.. Neng, Neng Yessica itu boleh dientot apa nggak, habis nge-gemesin banget sih, ayunya itu loh”

“Idih, Bapak jorok ah.. Dateng-dateng langsung mikirnya gitu”

“Duh, maaf-maaf Neng kalau nggak boleh, Bapak khilaf Neng”

“Nggak kok Pak, Bapak nggak salah, justru dia yang ngajak ke sini minta digituin, malah minta disyuting lagi Pak, Bapak mau kan disyuting, tenang aja Pak buat koleksi pribadi kok”

Pria setengah baya itu menunjukkan ekspresi senang mendengar jawabanku, dia langsung bergegas mau menemui Yessica untuk langsung mulai. Tapi buru-buru kutahan dengan menarik lengannya.

“Eh.. Sabar-sabar Pak nanti dulu dong, kita harus cari suasana dulu biar lebih hot, lagian kita lapar nih mau makan siang dulu, Bapak sekalian ikut makan aja yah” kataku sambil menyerahkan sekotak ayam goreng KFC dan menyuruhnya menyiapkan nasi.

“O iya Pak, si Taryo ada nggak? Mau manggil dia juga nih” tanyaku pada Pak Joko yang sedang beres-beres.

“Wah kurang tahu tuh Neng, telepon aja dulu”

Aku pun lalu menelepon vila sebelah, baru kujawab teleponnya setelah beberapa kali di sana bilang ‘halo.. Halo.. Siapa ini?’ untuk mengenali suaranya. Setelah yakin itu suara Taryo aku lalu mengundangnya ke sini dan mengutarakan maksudku. Tentu dia senang sekali ditawari seperti itu, tapi dia cuma bisa menemani hari ini saja karena dia bilang besok siang majikannya mau datang berlibur. Ketika kututup telepon, dibelakangku Yessica baru saja turun dari tangga lantai atas.

“Ngapain aja lu, lama amat beresin barang, yuk makan dulu, lapar nih!” kataku.

“Duh sori tadi sakit perut, kepaksa setor dulu ke WC deh”

Aku memberi usul bagaimana kalau kita makan di taman belakang dekat kolam renang saja, mumpung cuaca juga bagus, juga kusuruh Pak Joko menggelar tikar seperti piknik. Ketika lagi beres-beres bel berbunyi, itu pasti Taryo pikirku. Aku menyuruh Pak Joko meneruskan beres-beres sementara aku ke depan membukakan pintu.

Taryo, si penjaga villa tetangga, muncul di depan pintu dan langsung memelukku begitu pintu kututup. Kami berpelukan dengan bibir saling berpagutan, tangannya mengelusi punggungku turun hingga berhenti di pantat, di sana dia remas bokongku yang montok. Serasa sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu dan saling melepas rindu saja deh, what.. Taryo jadi kekasihku? Nggak lah yaw.. Just as sex partner!

“Mmhh.. Jangan sekarang ah, mau makan dulu, yuk sekalian gua kenalin sama sepupu gua!” aku melepaskan pelukannya sebelum dia bertindak lebih jauh lagi mau memelorotkan celanaku.

“Ehehehe.. habis kangen banget sama neng sih, apalagi neng tambah cantik kalau rambutnya kaya sekarang” katanya sambil mengomentari rambutku yang sudah lebih panjang dari yang dulu (kini sudah menyentuh bahu) dan kembali kuhitamkan.

Aku memberikan piring dan sendok garpu padanya dan mengajaknya ke taman. Disana Pak Joko dan Yessica juga baru menyendok nasi dan fried chicken ke piringnya. Kami mulai makan dalam suasana santai, obrolan nakal mereka meramaikan suasana, malah sekali aku hampir tersedak karena tertawa. Taryo menenangkan dengan menepuk-nepuk punggungku dan dadaku, ujung-ujungnya tetap meremas payudaraku.

“Apa sih pegang-pegang malah tambah kesedak tahu!” omelku sambil menepis tangannya.

Pelan-pelan Yessica mulai terbiasa dengan suasana seperti ini, dengan keudikan kedua orang ini, bahkan dia pun mulai berani jawab waktu ditanya aneh-aneh oleh mereka.

“Tuh, pahanya satu lagi, habisin aja Pak!” tawarku.

“Paha? Mana paha?” celoteh si Taryo pura-pura bego sementara tangannya meraih pahaku.

Langsung kutampik lagi tangannya dan disambut gelak-tawa. Setelah semua selesai makan limabelas menit kemudian kusuruh Pak Joko dan Taryo membersihkan perangkat makan dan mencucinya dahulu sekalian menunggu makanan di perut turun.

“Dah nggak risih lagi kan, habis ini kita action nih, siap nggak?” tanyaku pada Yessica.

“Siapa takut, lagian gua seneng bisa ngebales si brengsek itu, biar dia tahu cewek juga bisa selingkuh, apalagi gua selingkuhnya sama orang yang nggak pernah dia duga” tegasnya.

“Tuh mereka sudah beres Yes, showtime” kataku melihat kedua penjaga villa itu keluar, “Pak Joko, tolong handycamnya masih di meja dalam”

Pak Joko pun masuk lagi dan keluar membawa handycamnya. Kami duduk melingkar di tikar, aku memberi instruksi bak seorang sutradara. Kuperingatkan pada kedua pria itu agar tidak menyentuhku dulu selama aku mensyuting, agar hasilnya maksimal, tidak goyang seperti hasil syuting Verna.

Setelah semua siap, keduanya merapatkan duduk mereka pada Yessica, terlihat dia agak nervous dibuatnya.

“Santai aja Yes, ntar juga enjoy kok” saranku.

Kamera kunyalakan, tanpa disuruh lagi keduanya sudah mulai duluan. Pak Joko meletakkan tangannya di paha Yessica yang duduk bersimpuh, tangan itu merabai pahanya secara perlahan dan menyingkap roknya. Taryo di sebelah kanan meremas payudaranya, sepertinya agak keras karena Yessica meringis dan mendesah lebih panjang. Sementara lidahnya menjilati leher jenjang Yessica, ke atas terus menggelikitik kupingnya dan menyapu wajahnya yang mulus.

Tangan Pak Joko sudah masuk ke dalam rok Yessica yang tersingkap, diremasinya kemaluannya yang masih tertutup celana dalam putih tipis yang memperlihatkan bulu kemaluannya. Pria kurus itu juga membuka resleting celananya hingga penisnya yang sudah tegak menyembul keluar, lalu tangan Yessica digenggamkan padanya dan disuruh mengocoknya. Bibir mungilnya dipagut oleh Taryo, mereka berciuman dengan hot, lidah mereka keluar saling jilat dan belit. Sambil berciuman Taryo menurunkan resleting punggung Yessica lalu memeloroti bajunya lewat bahu, juga disuruhnya Pak Joko memeloroti yang sebelah kiri, setelahnya bra-nya mereka lucuti pula. Kini payudara montok saudaraku yang cantik ini terekspos sudah.

Pak Joko langsung mencaplok susu kirinya dengan liar dan ganas, pipinya sampai kempot menyedot benda itu, aku mendekatkan handycam untuk lebih fokus ke momen itu.

“Gimana Pak? Manis nggak susunya?” tanyaku sambil mensyuting.

“Mantap neng, ini baru pas susunya!” dia melepas sebentar emutannya untuk berkomentar lalu kembali menyusu dan mengorek-ngorek kemaluannya, tangan lainnya mengelusi punggung Yessica.

Taryo masih terus menciuminya, lidahnya terus menyapu rongga mulutnya, begitu pula Yessica juga dengan liar beradu lidah dengannya. Jempol Taryo menggesek-gesek putingnya diselingi pencetan dan pelintiran. Yessica sendiri makin intens mengocoki penis Pak Joko sehingga penjaga villaku ini terpaksa menghentikannya karena tidak mau buru-buru keluar. Kini dia suruh sepupuku merunduk (sehingga posisinya setengah berbaring ke samping) dan mengoral penisnya. Dengan bernafsu, Yessica melayani penis Pak Joko dengan mulut dan lidahnya, mula-mula dia jilati buah pelir dan batangannya dengan pola naik-turun, sampai di kepalanya sengaja dia gelitik dengan lidahnya dan dikulum sejenak. Pemiliknya sampai mengerang-ngerang keenakan sambil meremasi payudaranya yang menggantung.

Taryo menarik gaun itu ke bawah hingga lepas, menyusul celana dalamnya. Setelah menelanjangi Yessica, dia melepaskan bajunya sendiri. Diobok-oboknya vagina Yessica dengan jari-jarinya, liang itu pun semakin becek akibat perbuatannya, cairannya nampak meleleh keluar dan membasahi jarinya.

“Enngghh.. Uuuhh.. Uhh!” desah Yessica disela-sela aktivitas menyepongnya.

Kemudian Pak Joko rebahan di tikar dan dia suruh Yessica naik ke wajahnya, rupanya dia mau menjilati vaginanya. Gantian sekarang Taryo yang dikaraoke, penisnya yang hitam berurat dan lebih besar dari Pak Joko dikocok-kocok oleh Yessica yang sedang mengemut pelirnya. Dia menyentil-nyetilkan lidahnya pada lubang kencingnya sehingga Taryo mengerang nikmat.

“Ayo dong Neng, masukin aja, jangan cuma bikin geli gitu” kata Taryo sambil menekan penis itu masuk ke mulutnya, lalu wajahnya pun dia tekan dalam-dalam saking tidak sabarnya sehingga mata Yessica membelakak karena sesak. Dia meronta ingin melepaskan benda itu dari mulutnya, tapi tangan Taryo yang kokoh menahan kepalanya.

“Sudah dong Tar, jangan sadis gitu ah, bisa mati tercekik dia, kontol lu kan gede” bujukku agar Taryo memberinya sedikit kelegaan.

“Non Yessicanya seneng kok Neng, tuh buktinya!” tangkis Taryo memperlihatkan Yessica yang kini malah memaju-mundurkan kepalanya mengoral penisnya, tapi kepalanya tetap dipegangi sehingga tidak bisa lepas.

Kamera kudekatkan ke wajah Yessica yang tengah asyik mengulum penis Taryo, mulutnya penuh terisi oleh batang besar itu sehingga hanya terdengar desahan tertahan. Kemudian kuarahkan ke bawah mengambil adegan Pak Joko sedang melumat vaginanya, dia menjulurkan lidahnya menyapu bibir vaginanya. Tangan kanannya mengelus-elus pantat dan pahanya yang mulus, tangan kirinya dijulurkan ke atas memijati payudaranya.

Ekspresi keenakan Yessica terlihat dari gerak pinggulnya yang meliuk-liuk. Lidah Pak Joko menjilat lebih dalam lagi, dipakainya dua jari untuk membuka bibir vaginanya dan disapunya daerah itu dengan lidahnya. Kemaluannya jadi tambah basah baik oleh ludah maupun cairan vaginanya sendiri. Walaupun terangsang berat aku masih tetap mensyuting mereka sambil sesekali meremas payudaraku sendiri, kemaluanku juga sudah mulai lembab.

“Emmh.. Emmhh.. Angghh!” Yessica mendesah tertahan dengan mata merem-melek, tangannya meremasi rambut Pak Joko di bawahnya.

Cairan bening meleleh membasahi vaginanya dan mulut Pak Joko. Pak Joko makin mendekatkan wajahnya ke selangkangannya dan menyedot vaginanya selama kurang lebih lima menit, selama itu tubuh Yessica menggelinjang hebat dan sepongannya terhadap penis Taryo makin bersemangat. Puas menikmati vagina, Pak Joko menarik keluar kepalanya dari kolong Yessica. Dia mengambil posisi duduk dan menaikkan Yessica ke pangkuannya. Tangannya yang satu membuka lebar bibir vaginanya sedangkan yang lain membimbing penisnya memasuki liang itu.

Taryo cukup mengerti keadaannya dengan membiarkan Yessica melepas penisnya yang sedang dioral untuk mengatur posisi dulu. Yessica menurunkan tubuhnya menduduki penis Pak Joko hingga penis itu melesak ke dalamnya diiringi erangan panjang. Pak Joko juga melenguh nikmat akibat jepitan vagina Yessica yang kencang itu. Aku mendekatkan kamera ke selangkangan mereka agar bisa meng-close-up adegan itu. Yessica mulai naik-turun di pangkuannya, payudaranya diremasi dari belakang oleh Pak Joko.

Kembali Taryo memasukkan penisnya ke mulut Yessica yang langsung disambut dengan jilatan dan kuluman. Kurang dari lima belas menit, Taryo sudah mengerang tak karuan sambil menekan kepala Yessica.

“Hhmmpphh.. Oohh.. Keluar Neng!” demikian erangnya panjang.

Pipi Yessica sampai kempot mengisapi sperma Taryo, namun hebatnya belum nampak setetespun cairan itu meleleh keluar dari mulutnya, padahal di saat yang sama Pak Joko juga sedang menggenjotnya dari bawah. Hingga erangan Taryo berangsur-angsur mereda, dia pun mulai melepas penis itu dan menjilati sisa-sisa sperma di batangnya. Penis Taryo kelihatan sedikit menyusut setelah menumpahkan isinya.

“Wuihh.. Gile bener sepongan Neng Yessica nggak kalah dari Neng Citra” komentarnya.

Kamera kudekatkan ke wajah Yessica yang sedang menjilati sisa-sisa sperma di penis Taryo dengan rakus. Sambil men-charge penisnya, Taryo bermain-main dengan payudara Yessica, kedua bongkahan kenyal itu dia caplok dengan telapak tangannya dan dihisapi bergantian. Kulit payudara yang putih itu sudah memerah akibat cupangan Taryo. Suara erangan sahut-menyahut memanaskan suasana.

Yessica terus menaik-turunkan tubuhnya dengan bersemangat, semakin lama makin cepat dan mulutnya menceracau tak karuan.

“Oohh.. Aauuhh.. Aahh!” lolongnya dengan kepala mendongak ke langit bersamaan dengan tubuhnya yang mengejang, didekapnya kepala Taryo erat-erat sehingga wajahnya terbenam di belahan payudaranya. Momen indah ini terabadikan melalui handycamku dan terus terang aku sendiri sudah terangsang berat dan ingin segera bergabung, tapi sepertinya belum saatnya, nampaknya mereka berdua sedang getol-getolnya menggarap Yessica sebagai barang baru daripada aku yang sudah sering mereka kerjai.

Yessica ambruk di atas tubuh Pak Joko dengan penis masih tertancap. Pak Joko mendekapnya dan mencumbunya mesra, lidah mereka berpaut dan saling menghisap. Kini Taryo yang senjatanya sudah di reload meminta gilirannya. Pak Joko pun menurunkan Yessica dari tubuhnya dan ke dalam mengambil minum. Kedua pergelangan kaki Yessica dipegangi Taryo lalu dia bentangkan pahanya lebar-lebar. Setelah menaikkan kedua betisnya ke bahu, Taryo menyentuhkan kepala penisnya ke bibir vaginanya.

Walaupun vagina itu sudah basah, tapi karena penis Taryo termasuk besar, lebih besar dari Pak Joko, Yessica meringis dan mengerang kesakitan saat liang senggamanya yang masih rapat diterobos benda hitam itu, tubuhnya tegang sambil meremasi tikar di bawahnya, mungkin dia belum terbiasa dengan penis seperti itu. Taryo sendiri juga mengerang nikmat akibat himpitan dinding vaginanya

“Uuuhh.. Uhh.. Sempit banget sih, asoy!” erangnya ketika melakukan penetrasi.

Aku sebagai juru kamera sudah terlalu menghayati sampai tak sadar kalau tangan kiriku menyelinap lewat bawah bajuku dan memijiti payudaraku sendiri, kuputar-putar putingku yang sudah mengeras dari tadi. Taryo mulai menggerakkan penisnya perlahan yang direspon Yessica dengan rintihannya. Pak Joko kembali dari dalam, dia bersimpuh di samping mereka lalu meletakkan tangan Yessica pada penisnya. Dia menikmati penisnya dipijat Yessica sambil meremas payudaranya.

Taryo menaikkan tempo permainannya, disodoknya Yessica sesekali digoyangnya ke kiri dan kanan untuk variasi, tak ketinggalan tangannya meremasi pantatnya yang montok. Yessica semakin menggeliat keenakan, desahannya pun semakin mengekspresikan rasa nikmat bukan sakit. Pak Joko merundukkan badannya agar bisa menyusu dari payudaranya, diemut-emut dan ditariknya puting itu dengan mulutnya.

Sekitar limabelas menit kemudian mereka berganti posisi karena Pak Joko juga sudah mau mencoblos lagi. Kali ini tanpa melepas penisnya Taryo mengangkat tubuh Yessica, dia sendiri membaringkan diri di tikar sehingga Yessica kini diatasnya. Kemudian Pak Joko menyuruhnya agar mengangkat pinggulnya, Yessica lalu mencondongkan badannya ke depan sehingga pantatnya menungging dan payudaranya tepat di atas wajah Taryo.

“Bapak tusuk di pantat yah Neng, tahan yah kalo agak sakit” kata Pak Joko meminta ijin.

“Jangan terlalu kasar yah Pak, saya takut nggak tahan” kata Yessica dengan suara lemas.

“Engghh.. Pak!” erangnya saat Pak Joko memasukkan telunjuknya ke anusnya, lalu dia masukkan juga jari tengahnya sambil diludahi dan digerak-gerakkan untuk melicinkan jalan bagi penisnya.

Setelah merasa cukup, Pak Joko mulai memasukkan barangnya ke sana, kelihatannya cukup susah sehingga dia harus pakai cara tarik ulur, keluarin satu senti masukkan tiga senti sampai menancap cukup dalam dan setelah setengahnya lebih dengan sedikit tenaga dia hujamkan hingga mentok.

“Akkhh.. Sakit..!!” erangannya berubah jadi jeritan ketika pantatnya dihujam seperti itu.

Kedua penjaga villa ini bagaikan kuda liar menggarap kedua liang senggama sepupuku, kedua tubuh hitam yang menghimpit tubuh putih mulus itu seperti sebuah daging ham diantara dua roti hangus, mereka sudah bermandikan keringat dan nampak sebentar lagi akan mencapai puncak. Aku sejak tadi sibuk berpindah sana-sini untuk mencari sudut yang bagus.

Yessica mulai mengejang dan mengerang panjang menandai klimaksnya. Tapi kedua penjaga villa itu tanpa peduli terus menggenjotnya hingga beberapa menit kemudian. Mereka mencabut penisnya dan menelentangkan Yessica di tikar. Mereka cukup mengerti permintaan Yessica agar tidak membuang di dalam karena sedang masa subur, Pak Joko menumpahkan ke wajah dan mulutnya, sedangkan Taryo ke perut dan dadanya. Meskipun masih lemas, Yessica tetap menggosokkan sperma itu ke badannya. Ketiganya rebahan dan mengatur kembali nafasnya.

“Gimana Yes, puas nggak?” tanyaku.

“Aduh Ci.. Lemes banget, kayak nggak bisa bangun lagi rasanya deh!” jawabnya lemas dengan sisa tenaganya.

“Gimana Bapak-Bapak, masih kuat nggak? Gua belum dapat nih!” kataku pada kedua orang itu.

“Iya ntar Neng, harus isi tenaga dulu nih!” jawab Pak Joko.

“Ya sudah istirahat aja dulu, gua mau minum nih haus!” kataku meninggalkan mereka dan menuju ke dalam.

Aku menuangkan air dingin dari kulkas dan meminumnya. Setelah menutup pintu kulkas dan membalik badan tiba-tiba Taryo sudah di belakangku, kaget aku sampai gelas di tanganku hampir jatuh.

“Duh.. Ngagetin aja lu Tar, dateng nggak kedengeran gitu kaya setan aja!” omelku, “Ngapain? Mo minum?”

Tanpa berkata-kata dia mengambil gelas yang kusodorkan dan meminumnya. Aku melihat tubuhnya yang telanjang, penisnya dalam posisi setengah tegang, pelirnya menggantung di pangkal pahanya seperti kantung air. Setelah berbasa-basi sejenak aku mendekati dan memeluknya, berpelukan mulut kami mulai saling memagut, lidah bertemu lidah, saling jilat dan saling belit, kugenggam penisnya dan kupijati. Elusannya mulai turun dari punggungku ke bongkahan pantatku yang lalu dia remasi.

Kemudian kuajak dia ke ruang tengah lalu kupersilakan dia duduk di sofa. Aku berdiri di hadapannya dan melepas pakaianku satu persatu hingga tak menyisakan apapun di badanku dengan gerakan erotis. Aku berhenti tepat di depannya yang sedang duduk, nampak dia terbengong-bengong menyaksikan keindahan tubuhku, tangannya merabai paha dan pantatku.

“Neng cukur jembut yah, jadi rapih deh hehehe..” komentarnya terhadap bulu kemaluanku yang beberapa hari lalu kurapihkan pinggir-pinggirnya hingga bentuknya memanjang.

Menanggapinya aku hanya tersenyum seraya mendekatkan kemaluanku sejengkal dan sejajar dari wajahnya, seperti yang sudah kuduga, dia langsung melahapnya dengan rakus.

“Eemmhh.. Yess!” desahku begitu lidahnya menyentuh vaginaku.

Kurenggangkan kedua pahaku agar lidahnya bisa menjelajah lebih luas. Sapuan lidahnya begitu mantap menyusuri celah-celah kenikmatan pada kemaluanku. Aku mendesah lebih panjang saat lidahnya bertemu klitorisku yang sensitif. Mulutnya kadang mengisap dan kadang meniupkan angin sehingga menimbulkan sensasi luar biasa. Sementara tangannya terus meremas pantatku dan sesekali mencucuk-cucuk duburku. Aku mengerang sambil meremas rambutnya sebagai respon permainan lidahnya yang liar. Puas menjilati vaginaku, dia menyuruhku duduk menyamping di pangkuannya. Dengan liarnya dia langsung mencaplok payudaraku, putingnya dikulum dan dijilat, tangannya menyusup diantara pahaku mengarah ke vagina. Selangkanganku terasa semakin banjir saja karena jarinya mengorek-ngorek lubang vaginaku.

Selain payudaraku, ketiakku yang bersih pun tak luput dari jilatannya sehingga menimbulkan sensasi geli, terkadang dihirupnya ketiakku yang beraroma parfum bercampur keringatku. Tanganku merambat ke bawah mencari penisnya, benda itu kini telah kembali mengeras seperti batu. Kuelusi sambil menikmati rangsangan-rangsangan yang diberikan padaku. Jari-jarinya berlumuran cairan bening dari vaginaku begitu dia keluarkan. Disodorkannya jarinya ke mulutku yang langsung kujilati dan kukulum, terasa sekali aroma dan rasa cairan yang sudah akrab denganku.

Tubuhku ditelentangkan di meja ruang tamu dari batu granit hitam itu setelah sebelumnya dia singkirkan benda-benda diatasnya. Nafasku makin memburu ketika penis Taryo menyetuh bibir vaginaku.

“Cepet Tar, masukin yang lu dong, nggak tahan lagi nih!” pintaku sambil membuka pahaku lebih lebar seolah menantangnya.

Karena mejanya pendek, Taryo harus menekuk lututnya setengah berjinjit untuk menusukkan penisnya. Aku menjerit kecil merasa perih akibat cara memasukkannya yang sedikit kasar. Selanjutnya kami larut dalam birahi, aku mengerang sejadi-jadinya sambil menggelengkan kepala atau menggigit jariku. Kini dia berdiri tegak memegangi kedua pergelangan kakiku, sehingga pantatku terangkat dari meja. Payudaraku terguncang-guncang mengikuti irama goyangannya yang kasar.

Dalam waktu duapuluh menit saja aku sudah dibuatnya orgasme panjang sementara dia sendiri belum menunjukkan tanda-tanda akan keluar.

Sekarang dia merubah posisi dengan menurunkan setengah tubuhku dari meja, dibuatnya aku nungging dengan kedua lututku bertumpu di lantai, tetapi badan atasku masih di atas meja sehingga kedua payudaraku tertekan di sana. Dia kembali menusukku, tapi kali ini dari belakang, posisi seperti ini membuat sodokannya terasa makin deras saja.

Aku ikut menggoyangkan pantatku sehingga terdengar suara badan kami beradu yaitu bunyi plok.. plok.. tak beraturan yang bercampur baur dengan erangan kami. Tak lama kemudian aku kembali orgasme, tubuhku lemas sekali setelah sebelumnya mengejang hebat, keringatku sudah menetes-netes di meja.

Namun sepertinya Taryo masih belum selesai, nampak dari penisnya yang masih tegang. Aku cuma diangkat dan dibaringkan di sofa, lumayan aku bisa beristirahat sebentar karena dia sendiri katanya kecapekan tapi masih belum keluar. Kami menghimpun kembali tenaga yang tercerai-berai.

“Yessica sama Pak Joko mana Tar? Kok nggak masuk-masuk?” tanyaku pelan.

“Nggak tahu juga Neng, mungkin sudah mulai ngentot lagi di luar, kita lihat aja yuk!”

“Oo… kalo gitu ntar aja deh, masih lemas”

Namun sebagai jawabannya Taryo malah menggendong tubuhku dan membawaku ke kebun. Di sana Yessica maupun Pak Joko sudah tidak ada lagi yang ada hanya baju mereka yang berceceran di atas tikar. Sayup-sayup terdengar suara desahan tak jauh dari sini, tepatnya dari kolam renang.

Dengan menggendongku, Taryo berbelok ke kanan menuju ke kolam. Di sana kami melihat di kolam daerah dangkal Pak Joko sedang asyik menggenjot sepupuku dari belakang dengan doggy style. Yessica mendesah-desah dan sesekali menjerit kecil menerima sodokan Pak Joko, rambut panjangnya kini basah oleh air dan terurai karena ikat rambutnya sudah dilepas.

“Neng, kita nyebur juga yuk, biar seger” ajak Taryo.

Aku menganggukkan kepala menyetujuinya, diapun melangkah turun ke air, di sana tubuhku dia turunkan hingga terendam air. Hmm.. Rasanya dingin dan menyegarkan, sepertinya keletihanku agak terobati oleh air.

“Masih kuat juga Pak Joko, sejak kapan mulai lagi nih?” sapa Taryo.

“Kuat dong, buat neng-neng cantik ini kapan lagi,” sahut Pak Joko di tengah aktivitasnya.

Air kolam merendamku hingga dada ke atas, aku sandaran pada dinding kolam mengendurkan otot-ototku. Taryo kembali menghampiri dan menghimpit tubuhku. Diciumnya aku dibibir sejenak lalu ciumannya merambat ke telinga dan leher sehingga aku menggeliat geli. Penisnya kugenggam lalu kukocok di dalam air. Dia angkat satu kakiku dan mendekatkan penisnya ke vaginaku. Dengan dibantu tanganku dan dorongan badannya, masuklah penis itu ke vaginaku.

Air semakin beriak ketika dia memulai genjotannya yang berangsur-angsur tambah kencang. Kakiku yang satunya dia angkat sehingga tubuhku melayang di air dengan bersandar pada tepi kolam. Aku menengadahkan wajah menatap langit yang sudah mulai senja dan mengeluarkan desahan nikmat dari mulutku. Mulutnya melumat payudaraku dan mengisapnya dengan gemas membuatku semakin tak karuan.

Aku menoleh ke sebelah untuk melihat Yessica yang berada sekitar lima meter dari kami, sekarang mereka sudah berganti posisi, Yessica duduk di atas pangkuan Pak Joko menggoyang-goyangkan tubuhnya di atas penis Pak Joko yang disaat bersamaan sedang mengenyot payudaranya. Tangan kiri Pak Joko bergerilya mengelusi punggung dan pantatnya. Taryo memang sungguh perkasa, padahal kan sebelumnya dia sudah menggarap Yessica sampai orgasme berkali-kali. Aku sendiri sudah mulai kecapekan dan setengah sadar karena sodokan-sodokan brutalnya. Gesekan-gesekan penisnya dengan dinding vaginaku seperti menimbulkan getaran-getaran listrik yang membuatku gila. Mataku mebeliak-beliak keenakan hingga akhirnya aku klimaks lagi bersamaan dengan Taryo. Spermanya yang hangat mengalir mengisi rahimku.

“Neng.. Neng keluar nih saya!” erangnya panjang sambil meringis.

Rasanya sungguh lemas, badan seperti mati rasa, mataku juga makin berat. Mungkin karena kecapaian di perjalanan atau Taryo yang terlalu bersemangat, akupun tak sadarkan diri, padahal jarang sekali aku pingsan setelah bersenggama. Aku masih sempat merasakan diriku digendong Taryo lalu dibaringkan di pinggir kolam, juga menyaksikan Yessica sedang mengoral Pak Joko yang berdiri berkacak pinggang, nampaknya mereka juga sudah mau selesai, tapi entahlah karena aku keburu tidak sadar.

Aku terbangun ketika langit sudah gelap di kamarku, masih telanjang dan terbaring di ranjang. Yessica lah yang membangunkanku dengan mengguncangkan tubuhku. Dia juga masih telanjang, cuma ada kami berdua di kamar ini. Aku mengucek-ngucek mataku sambil menggeliat.

“Jam berapa Yes?” tanyaku dengan pelan.

“Setengah tujuh, mandi yuk, gua juga baru bangun!” ajaknya.

“Entar ah, masih lemes sepuluh menit lagi deh!” jawabku dengan malas dan menarik selimut menutup tubuh bugilku.

“Ci, handycamnya mana? Lihat dong hasilnya, bagus nggak?”

“Mm.. Di ruang tengah kali, terakhir gua taro sana, coba lihat aja”

“O iya, Yes.. Sekalian buatin air hangat yah, tinggal buka krannya aja kok, itu otomatis!” pintaku sebelum dia keluar dari kamar.

Dia kembali tak lama kemudian dengan membawa handycam dan segelas air putih. Kugeser tubuhku duduk bersandar ke ujung ranjang. Dia minta aku menyalakan alat itu karena tidak mengerti. Kami menyaksikan hasil rekamanku tadi melalui layar kecil pada alat itu.

“Hot juga lu Yes mainnya, bakat jadi bintang bokep nih!” godaku melihat keliarannya, “By the way, gimana perasaan lu sesudah ngeliat ini?”

“Lega Ci, gua akhirnya bisa juga ngebales cowok brengsek itu, biar tahu rasa dia ceweknya main sama orang-orang kaya gini, putus ya putus, gua dah nggak peduli lagi kok” katanya berapi-api.

“Sudah dong jangan nafsu gitu Yes, serem ah liatnya!” kataku sambil mengelus-elus punggungnya menenangkan.

“Eh.. Gimana airnya, bisa tumpah nih!” kataku mendadak baru ingat limabelas menit kemudian gara-gara asyik ngobrol sambil menonton rekaman itu.

Kami buru-buru ke kamar mandi dengan berlari kecil dan benar saja airnya sudah meluap tapi sepertinya belum lama karena lantainya belum terlalu banjir. Terpaksa harus kubuang sedikit airnya, lalu kutaburi buble bath dan mengocoknya hingga berbusa. Kusuruh Yessica agar membawa saja handycamnya ke sini agar bisa nonton sambil berendam. Hhmm.. Segarnya berendam di air hangat berbusa itu, sepertinya segala beban seharian hilang sudah oleh kesegarannya.

Di bathtub kami saling menggosok punggung kami sambil menonton handycam yang diletakkan di tepi bak yang agak lebar, aku juga membantu Yessica mengkramas rambutnya yang panjang itu. Setelah dua puluh menitan kamipun menyelesaikan mandi kami, kuguyur badanku dengan air membersihkan busa-busa yang menempel lalu mengelap badan dengan handuk. Yessica ke kamar dahulu karena aku mau buang air kecil dulu. Aku keluar dari kamar mandi sambil mengikat tali pinggang kimonoku, di ruang tengah aku berpapasan dengan Pak Joko yang juga baru masuk dari pintu yang menuju kolam.

“Eh Bapak, Taryo mana Pak, kok nggak keliatan?” sapaku.

“Oo.. Tadi katanya mau pulang dulu ke rumahnya, ndak tahu deh ngapain,” jawabnya, “Tapi nanti katanya mau ke sini lagi sekalian bawain makanan”

Aku lalu meninggalkannya dan masuk ke kamarku, di sana Yessica yang masih memakai gulungan handuk di kepalanya sedang mengoleskan body lotion pada pahanya. Tak lama kemudian terdengar bel berbunyi, Taryo datang membawa empat bungkus nasi uduk, dia bilang tadi dia menengok istri dan orang tuanya dulu di desa tak jauh dari sini. Kami makan di meja makan, tidak terlalu enak sih, tapi lumayan lah buat sekedar ganjal perut.

Di tengah makan, terdengarlah suara dering HP dari kamarku.

“HP lu tuh Yes, sana gih terima dulu!” kataku padanya.

Yessica bergegas ke kamar meninggalkan makannya yang belum habis sementara kami bertiga meneruskan makan. Taryo selesai paling awal, saat itu Yessica masih belum kembali juga, lama juga neleponnya pikirku.

“Saya panggilin Neng Yessi dulu yah!” kata Taryo setelah meminum airnya seraya melangkah ke kamarku.

Pak Joko sudah selesai makan, sedangkan aku tidak habis karena nasinya kebanyakan, tak enak pula jadi sisanya kubuang. Kami berdua membereskan sendok-garpu dan gelas ke bak cucian, serta membuang kertas pembungkus ke tempatnya.

“Yes, ini makannya habisin dulu dong, dingin nanti!” teriakku padanya, “Wah jangan-jangan si Taryo dah mulai lagi tuh, habis belum keluar-keluar sih”

Kami berdua pun segera ke kamarku dan benar juga apa kataku tadi. Taryo sudah telanjang, duduk selonjoran di ranjang dan mendekap Yessica yang duduk membelakanginya bersandar pada tubuhnya. Kimono putih bermotif bunga-bunga kuningnya tersingkap kemana-mana, payudara kirinya yang terbuka dipencet-pencet dan dimainkan putingnya oleh Taryo. Pahanya terbuka lebar dan dipangkalnya tangan Taryo bermain-main diantara kerimbunan bulunya, mengelusi dan mengocok dengan jarinya.

Tak ketinggalan bahu kirinya yang terbuka dicupangi olehnya. Yessica hanya mendesah dengan ekspresi wajah menunjukkan kepasrahan dan rasa nikmat.

Pak Joko yang terangsang sudah mulai grepe-grepe pantatku dan mulai menyingkap bagian bawah kimonoku. Namun kutepis tangannya.

“Ntar dong Pak, baru juga makan, masih penuh nih perutnya, nggak enak”

“Ya sudah nggak apa-apa pemanasan aja dulu neng, boleh ya” jawabnya sambil membuka bajunya sendiri.

Dia menyuruhku jongkok di depan penis hitamnya yang setengah ereksi. Akupun menggenggam penis itu dan mulai memainkan lidahku, kuawali dengan menjilati hingga basah kepala penisnya, lalu menciumi bagian batangnya hingga pelirnya. Kantong bola itu kuemut disertai mengocok batangnya dengan tanganku.

Perlahan tapi pasti benda itu ereksi penuh karena teknik oralku. Desahan Yessica tidak terdengar lagi, kulirikan mataku melihatnya, ternyata, keduanya sedang asyik berfrech-kiss. Posisi mereka tidak berubah, Yessica hanya menengokkan kepalanya ke samping saja agar bisa saling memagut bibir dengan Taryo.

Pak Joko menikmati sekali permainan lidahku, dia terus merem-melek dan mendesah tak henti-hentinya saat penisnya kukulum dan kuhisap-hisap. Lama juga aku mengkaraokenya, sampai mulutku pegal, akhirnya dia suruh aku berhenti agar tidak cepat-cepat keluar. Saat itu Taryo dan Yessica sudah ber-posisi 69 dengan pria di atas. Yessica masih mengenakan kimononya yang sudah terbuka sana-sini memainkan penis Taryo yang menggantung dengan mulutnya. Sedangkan Taryo sibuk melumat vagina Yessica, klitorisnya dijilati sehingga tubuh Yessica menegang kenikmatan. Kulihat paha mulusnya menegang dan menjepit kepala Taryo.

Setelah berdiri Pak Joko memagut bibirku yang kubalas dengan tak kalah hot, aku memainkan lidahku sambil tanganku memijat penisnya. Tangannya meraih tali pinggangku dan menariknya lepas hingga kimonoku terbuka. Sambil terus berciuman tangannya menggeser kain yang menyangga pada kedua bahuku maka melorotlah kimono itu, ditubuhku pun sudah tidak menempel apapun lagi.

Aku melepas ciuman untuk mengajaknya ke ranjang agar lebih nyaman. Di sebelah Yessica dan Taryo yang masih ber-69 kutelungkupkan tubuh telanjangku dan menaruh kepalaku di atas kedua lengan terlipat seperti posisi mau dipijat, dari sini dapat kulihat jelas ekspresi wajah Yessica yang meringis menikmati vaginanya dilumat Taryo, sementara dia memainkan penis yang menggantung di atas wajahnya. Pak Joko menaikiku lalu mencium juga mengelusi punggungku, aku mendesah merasakan rangsangan erotis itu. Ciumannya makin turun sampai ke pantatku, disapukannya lidahnya pada bongkahan yang putih sekal itu, diciumi, bahkan digigit sehingga aku menjerit kecil.

Mulutnya turun ke bawah lagi, menciumi setiap jengkal kulit pahaku. Betis kananku dia tekuk, lalu dia emuti jari-jari kakiku. Beberapa saat kemudian dia menekuk paha kananku ke samping sehingga pahaku lebih terbuka. Aku mulai merasakan jari-jarinya menyentuh vaginaku, dua jari masuk ke liangnya, satu jari menggosok klitorisku. Rambutku dia sibakkan dan aku merasakan hembusan nafasnya terasa dekat wajahku. Leher dan tengukku digelikitik pakai lidahnya, juga telingaku, aku tertawa-tawa kecil sambil mendesah dibuatnya. Aku suka rangsangan dengan sensasi geli seperti ini.

Sementara di sebelah kami semakin seru karena Taryo sudah menindih Yessica dan memacu tubuhnya dengan cepat. Yessica menggelinjang dan mengerang setiap kali Taryo menyentakkan pinggulnya naik-turun, tangannya kadang meremasi sprei dan kadang memeluk erat si Taryo. Pak Joko mengangkat pantatku ke atas, kutahan dengan lututku dan kupakai telapak tangan untuk menyangga tubuh bagian atasku. Sesaat kemudian aku merasakan benda tumpul menyeruak ke vaginaku.

Seperti biasa aku meringis dengan mata terpejam menghayati moment-moment penetrasi itu. Aku tak kuasa menahan desahanku menerima hujaman-hujaman penisnya ke dalam tubuhku. Sensasi yang tak terlukiskan terutama waktu dia memutar-mutar penisnya di vaginaku, rasanya seperti sedang dibor saja, aku tak rela kalau sensasi ini cepat-cepat berlalu, makannya aku selalu mendesah:

“Terus.. Terus.. Jangan pernah stop!”

Yessica dan Taryo berguling ke samping sehingga kini Yessica yang berada di atas dan lebih memegang kendali. Dengan liarnya dia menggoyangkan tubuhnya di atas Taryo, diraihnya tangan Taryo untuk meremas payudaranya. Wow.. Kali ini dia bahkan lebih binal dan agresif dari tadi siang, di tengah erangannya dia memaki-maki pacarnya yang menyakiti hatinya.

“Randy anjing.. Ahh.. Lu kira aku uuhh.. nggak bisa.. Nyeleweng apa! Engghh.. Terus Bang.. Entot gua buat ngebales.. Aahh.. Cowok sialan itu!!”

Kocokan Pak Joko padaku bertambah cepat dan kasar, otomatis eranganku pun tambah tak karuan, sesekali bahkan aku menjerit kalau sodokannya keras. Karena sudah tak bisa bertahan lagi, aku mengalami orgasme dahsyat, sementara Pak Joko dia tak mempedulikan kelelahanku, justru semakin gencar menyodokku. Tanpa melepas penisnya dia baringkan tubuhku menyamping dan menaikkan kaki kiriku ke pundaknya, dengan begini penisnya menancap lebih dalam ke vaginaku. Selangakanku yang sudah basah kuyup menimbulkan bunyi kecipak setiap menerima tusukan.

Dalam posisi ini aku bisa menyaksikan Taryo dan Yessica tanpa menoleh. Payudaranya yang berayun-ayun akibat goyangan badannya mendapat kuluman Taryo, beberapa kali kulumannya lepas karena Yessica menggoyangkan tubuhnya dengan kencang, namun dengan sabar Taryo menangkapnya dengan mulut dan mengulumnya lagi.

“Yahh.. Entot aku Bang.. Sedot susuku sampai puas.. Ahh.. Perlakukan aku sesukamu.. Biar bajingan itu tahu rasa!!” erangnya terengah-engah melampiaskan dendamnya

Sambil terus menggenjot, Pak Joko menyorongkan kepalanya ke payudaraku, putingnya ditangkap dengan mulut kemudian digigit dan ditarik-tarik, aku merintih dan meringis karena nyeri, namun juga merasa nikmat. Sementara situasi di sebelah nampaknya makin seru, kalau tadi siang Yessica didominasi oleh mereka berdua, kini sebaliknya Yessicalah yang lebih mendominasi permainan dan justru Taryo dibuat ngos-ngosan oleh keliarannya. Setelah menggelinjang dan mendesah ketika mencapai klimaks, dia mencabut penis itu dari vaginanya, lalu menggeser dirinya ke bawah dan menjilati serta mengulum penis itu seperti orang kelaparan. Taryo sampai merem-melek dan mendesah-desah dibuatnya.

Dalam jangka waktu lima menitan cairan putih kentalnya sudah menyemprot bagaikan kilang minyak, bercipratan membasahi wajah Yessica, Yessica terus mengocok dengan tangannya, mulutnya dibuka membiarkan cipratan itu masuk ke mulutnya, rambutnya yang panjang itu juga terkena cipratan sperma. Setelah semprotannya reda, dia menjilati sisanya yang masih menetes, kepala penis Taryo yang seperti jamur hitam itu disedot-sedot. Sesudahnya dia mengelap cipratan di wajahnya dengan jarinya, dihisapnya jari-jarinya yang belepotan sperma itu, sisanya dibalurkan merata di wajahnya. Kemudian dia rebahan di atas tubuh Taryo, kepalanya bersandar di dadanya, keduanya berpelukan seperti sepasang kekasih.

Aku merasakan sebentar lagi giliran aku klimaks, dinding vaginaku makin berdenyut.

“Ayoo.. Pak, terus.. Citra sudah mau..!” desahku dengan nafas tersenggal-senggal.

Tak lama kemudian aku merasakan tubuhku makin terbakar, aku menggeliat sambil memeluk guling erat-erat. Desahan panjang menandakan orgasmeku bersamaan dengan mengucurnya cairan cintaku membasahi selangkanganku. Dia melepas penisnya dan menurunkan kakiku, spermanya dikeluarkan di dadaku, setelah itu dia ratakan cairan kental itu ke seluruh payudaraku hingga basah mengkilap.

Belum habis rasa lelahku, dia sudah tempelkan kepala penisnya di bibirku, menyuruh membersihkannya. Dengan sisa-sisa tenaga aku genggam benda itu dan menyapukan lidahku dengan lemas, kujilat bersih dan sisa-sisa spermanya kutelan saja. Akhirnya kami pun terbaring bersebelahan, keringatku bercucuran dengan deras, dadaku naik-turun dengan cepat karena ngos-ngosan.

“Ck.. Ck.. Ck.. What a naughty girl you are, Ci!” terdengar Yessica berkata dari sebelahku.

Aku menoleh ke arahnya yang masih berbaring di tubuh Taryo, dan membalasnya tersenyum. Kami masih sempat ngobrol-ngobrol beberapa menit sebelum satu-persatu tertidur kecapekan.

Pagi jam sembilan aku terbangun dan menemukan diriku telanjang tertutup selimut, tidak ada siapapun di kamar semua sudah pergi. Jendela sudah terbuka sehingga sinar matahari menerangi kamar ini, dari luar terdengar suara kecipak air. Aku turun dari ranjang dan melihat ke luar jendela, di kolam Yessica sedang berenang sendirian, tanpa sehelai benangpun.

“Yes.. Ooii!” sapaku sedikit teriak sambil melambai, “Mana tuh dua orang itu!?”

Dia menoleh ke asal suara dan balas melambai, “Nggak tahu tuh, kalau Pak Joko tadi lagi nyapu di depan, sini Ci, segar loh renang pagi gini!”

Aku keluar dari kamar dan menyusulnya ke kolam. Baru turun dari tangga, aku hampir bertabrakan dengan Pak Joko yang muncul di sebelah dengan memegang sapu, dia baru masuk ke sini setelah selesai membersihkan halaman depan.

“Aduh, Bapak, ngagetin aja.. Hampir deh!” kataku sambil mengelus dada, “O ya, Taryo hari ini nggak bisa ke sini ya katanya?”

“Haduh.. Bapak juga kaget Neng nongolnya mendadak gini.. Taryo ya, tadi pagi dia pulang ke kampungnya lagi, tapi memang dia bilang hari ini nggak bisa ke sini soalnya entar siang majikannya datang!”

Kebetulan dia ingin minta ijin padaku untuk menengok cucunya yang baru sembuh di desa, tapi sesudah makan siang dia berjanji akan kembali. Setelah dia pergi tinggallah kami dua gadis di villa ini.

Hampir sejam lamanya kami berenang dan mengobrol di kolam. Setelah mandi bersih aku memasak dua bungkus mie Korea untuk sarapan. Habis makan aku mengajaknya jalan-jalan mengelilingi kompleks sekalian menikmati suasana pegunungan yang tenang dan sejuk. Sepanjang jalan, hampir semua orang yang kami temui (terutama pria) memperhatikan kami, bahkan beberapa sempat menggoda dengan kata-kata. Tidak heran sih, karena aku memakai pakaian kemarin yang seksi itu, sedangkan Yessica memakai rok mini warna hitam dengan atasan kaos u can see kuning yang ketat sehingga mencetak bentuk badan dan payudaranya yang menantang. Untung hari ini tidak banyak angin, kalau tidak rok yang bahannya lembut itu sudah tertiup angin kemana-mana.

Kami sih berlagak cuek aja dengan tatapan-tatapan nakal mereka. Siapa sangka justru penjaga villa yang biasa kurang dianggap malah lebih beruntung dibanding om-om dan pemuda kaya yang kami temui. Ketika pulang kami melihat di villa sebelah sudah terparkir dua buah mobil dan beberapa anak-anak asyik bermain di balik pagar. Majikan Taryo dan familinya sudah datang, berarti dia tidak bisa menemani kami lagi karena sibuk melayani mereka.

Di rumah, Yessica meminta kalau nanti ML lagi agar kembali disyuting, dia juga menyayangkan kenapa aku tidak mensyutingnya semalam, padahal menurut dia semalam itu sangat hot adegannya. Iya juga sih pikirku, tapi kan waktu itu nafsu sudah diubun-ubun sampai lupa mau mensyuting juga.

Jam tigaan, setelah Pak Joko kembali, Yessica memintaku mensyutingnya lagi. Kali ini settingnya di ruang tengah tempat Taryo menggarapku kemarin. Yessica dan Pak Joko duduk bersebelahan di sofa, begitu kuberi aba-aba, mereka berpelukan, Pak Joko melumat bibir Yessica dan lidah mereka mulai beradu. Sambil berciuman tangan Pak Joko meraba-raba paha mulusnya semakin ke atas menyingkap roknya yang pendek, Yessica pun tidak kalah aktif, dia meremasi selangkangan Pak Joko dari luar celananya. Kemudian Pak Joko menjatuhkan tubuhnya ke depan menindih Yessica. Mereka mulai saling melucuti pakaian pasangannya sampai bugil.

Yessica dua kali orgasme di atas sofa, selanjutnya kami pindah ke kamar mandi, mereka bercinta di bawah siraman shower, Yessica menyandarkan tangannya di tembok menerima sodokan Pak Joko dari belakangnya. Sambil menggenjot, Pak Joko menyuruhku mengambil sabun cair dekat bathtub, dia menuangkannya ke tangannya lalu membalurinya ke tubuh Yessica. Tangannya yang kasar itu menggosok seluruh tubuhnya, paha, pantat, perut, naik ke payudaranya, lama-lama tubuh sabun cair itu semakin berbusa di tubuh Yessica.

Usai menyabuni Yessica, dia membalik tubuhnya menghadapnya. Kaki kanannya diangkat sepinggang, penisnya diarahkan memasuki lubang senggamanya. Dengan gencarnya dia mengocok sepupuku dalam posisi berdiri. Tak lama kemudian Yessica menengadah dan mengerang panjang mengalahkan suara shower.

“Oohh.. Keluar Pak!!” sambil mempererat pelukannya.

Yessica berlutut dan menerima semprotan sperma Pak Joko di wajahnya. Adegan di kamar mandi ini menyudahi persenggamaan siang ini. Malam harinya kami main threesome di kamarku. Pak Joko berbaring sambil menikmati vagina Yessica yang naik ke wajahnya, sementara aku sibuk melayani penisnya dengan mulut dan lidahku. Semakin kukulum semakin keras dan berdenyut benda itu, kulakukan itu sepuluh menit lamanya. Sayang sekali kalau cepat-cepat orgasme sedangkan aku belum mencapai kepuasanku. Akupun naik ke selangakangannya dan memasukkan benda itu ke vaginaku.

“Uuugghh..!” desahku saat benda itu menusuk ke dalam.

Di sela-sela kegiatan menikmati vagina sepupuku, dia juga mendesah merasakan jepitan vaginaku terhadap penisnya. Liarnya goyanganku membuatnya makin liar memperlakukan Yessica, jilatan-jilatannya nampak lebih seru sampai suara menyeruput cairannya pun terdengar. Tangannya dijulurkan ke atas meraih kedua payudaranya, meremasnya sambil terus menyedot vaginanya.

“Ahh.. Ohh.. Pak!” desah Yessica sambil menggeliat-geliat.

Setelah Yessica mencapai orgasme, Pak Joko mengajak ganti posisi. Kali ini aku nungging di atas Yessica dengan gaya 69, kembali Pak Joko menusukku dari belakang, sesekali kurasakan lidah Yessica pada vaginaku, di bawah sana dia sedang menjilati vagina dan penis Pak Joko yang sedang keluar masuk. Sebagai responnya, aku juga menjilati vaginanya yang basah oleh cairan orgasme dan ludah. Aku menjilati bibir vaginanya hingga klitorisnya yang merah itu. Hhmm.. Dia memakai pembersih kewanitaan dengan merek yang sama seperti punyaku, aku sudah hafal dengan aromanya.

Tangan Pak Joko mulai merayap di payudaraku, memilin putingnya dan memijatinya. Aku tidak bisa menahan lebih lama lagi sesuatu yang mau meledak dalam diriku, aku mengerang panjang saat mencapai puncak. Genjotannya masih berlangsung beberapa menit ke depan sehingga memberiku kenikmatan lebih lama. Selesai membawaku ke puncak, kini dia mengincar Yessica. Dia rebahan lalu menyuruh Yessica menaiki penisnya yang masih mengacung tegak, benda itu basah mengkilap berlumuran lendirku. Dia mengisi vaginanya dengan penis itu diiringi desahan, setelah berhasil menancapkannya tanpa buang waktu lagi dia menggoyangkan tubuhnya. Pak Joko sendiri turun menyentak-nyentakkan pinggulnya ke atas merespon goyangan badannya.

Birahiku mulai naik lagi, maka aku menaiki wajah Pak Joko dalam posisi berhadapan dengan Yessica. Tanpa diminta lagi, lidahnya sudah beraksi menyusuri organ kewanitaanku, jilatannya diselingi kocokan jari tangan yang bergerak liar di dalam vaginaku, desahanku pun semakin menjadi-jadi. Kedua telapak tanganku saling genggam dengan Yessica. Rasa nikmatku kulampiaskan dengan memagut bibir sepupuku, lidah bertemu lidah lalu saling jilat. Lidah Pak Joko bukan saja menjilati vaginaku, duburku pun tidak luput darinya.

“Yeeaah, gitu Pak.. Terus.. Yahh.. Jilati aku sepuasmu!” demikian desahku menghayati setiap jilatannya.

Orgasmeku hanya lebih beberapa detik dari Yessica, tubuh kami menggelinjang di atas tubuh Pak Joko diiringi erangan yang sahut-menyahut. Cairan yang meleleh dari vaginaku dilahapnya dengan rakus sekali sampai terdengar suara menyeruputnya. Yessica mencabut penis itu dari vaginanya kemudian rebahan di antara paha Pak Joko mengoral penisnya. Aku juga merundukkan badanku ke depan mendekati penis yang masih tegak itu. Berdua kami melayani Adik kecilnya dengan kocokan, jilatan, dan hisapan selama lima menit hingga isinya muncrat ke wajah kami. Kami masih terus mengocok-ngocoknya hingga tetes terakhir, pemiliknya sampai berkelejotan dan melenguh nikmat akibat perbuatan kami. Maninya sudah tidak sebanyak kemarin sehingga kami sedikit berebutan untuk mendapatkannya.

Kami terkulai lemas, tubuh kami sudah berkeringat, nafas pun sudah putus-putus.

“Hebat juga ya Bapak ini, bisa tahan segitu lama sama dua cewek” pujiku.

“Ahh.. Neng ini, sebenernya sih berkat jamu tadi sore hehehe!” katanya dengan tersipu malu.

“Oo.. Pantes tadi nafasnya bau gitu, tapi hebat juga ya jamunya Pak” sahut Yessica sambil merapat dan menyandarkan kepalanya pada dadanya.

Sungguh seperti kaisar saja Pak Joko malam itu, tidur diapit dua gadis muda dan cantik, suatu hal yang membuat banyak cowok iri tentunya. Dia juga berterima kasih pada kami karena telah membuatnya merasa muda kembali di usianya. Besoknya jam sebelas kami sudah berangkat kembali ke Jakarta. Tidak lupa kami memberi ciuman perpisahan padanya, Yessica pipi kiri dan aku pipi kanan, lalu dibalasnya dengan menepuk pantat kami bersamaan.

Hari itu juga, sore harinya kami membawa rekaman handycam itu ke Verna untuk ditransfer dalam bentuk vcd (komputer Verna memang paling lengkap walau sebenarnya milik adiknya yang sedang kuliah di luar negeri). Cd masternya dibawa Yessica sebagai koleksi pribadinya, copy-nya untuk kami, tentunya hanya untuk kalangan kita-kita saja. Dia mengabariku seminggu setelah kepulangannya bahwa dia telah memutuskan hubungan dengan pacarnya setelah sebelumnya dia mengajak cowoknya menonton bersama rekaman di villa itu sebagai pembalasannya. Kata-kata terakhir pada cowoknya sebelum berpisah adalah…

“Kalau lu bisa main gila, gua juga bisa bikin yang lebih gila!”

Sekarang ini dia sudah mempunyai pacar baru yang lebih muda empat tahun darinya, sifatnya juga lembek, biar lebih gampang dikendalikan katanya. Duh.. Dasar Yessica, jadi woman rule nih ceritanya. O, ya met skripsi juga Yes, good luck and success.

Judul: Siang Guru, Malam Pelacur

Author : Hidden , Category: Pesta Sex

Aneh seorang guru yang mengajarkan norma dan aturan sosial kepada murid-muridnya, bagaimana bisa menjadi seorang pelacur yang jelas-jelas menentang semua norma yang ia ajarkan, apakah karena alasan ekonomi atau masalah kebutuhan akan seks yang menyebabkan ini terjadi mari kita ikuti kisah berikut ini.

Juni Rosa permepuan berumur 31 tahun mempunyai pekerjaan sebagai seorang guru di sekolah swasta ternama di Surabaya. Rosa telah menikah dengan pria bernama Suhendra yang pekerjaannya adalah teknisi di pengeboran minyak lepas pantai milik perusahaan asing yang hanya bisa pulang 5-6 bulan sekali.

Rosa bertekad memulai profesinya sebagai High Class Call Girl saat ia tahu melihat bukti bahwa suaminya main belakang, selama bekerja di lepas pantai Suhendra suka membawa gadis-gadis nakal. Hal ini ia ketahui dari teman suaminya yang mempunyai dendam terhadapa suaminya, teman suaminya itu menunjukan beberapa foto hasil jepretannya sendiri yang berisikan foto suaminya sedang memluk dan mencium mesra gadis-gadis nakal.

Rosa memulai kariernya di bidang pelacuran kelas tinggi dengan memasang sebuah iklan di koran, begini bunyi iklannya “Massage Maria, cantik dan berpengalaman menerima panggilan hub. 0812160700X “, dengan nama samaran Maria maka dimulailah petualangan terlarang Bu guru kita ini.

SMS mulai mengalir ke handphone Rosa yang berisikan panggilan panggilan tapi ada juga SMS yang berisikan kalimat-kalimat porno, Rosa tidak menanggapi semua SMS itu karena hal itu akan membuang waktu saja begitu juga dengan percakapan dengan calon-calon kliennya semua gagal mencapai kata sepakat. Karena harga yang ditetapkan oleh Rosa sangat tinggi yaitu 1,5 juta sekali datang, tentu saja jarang yang berani memboking Rosa.

Sampai suatu saat ada panggilan HP yang masuk saat ia mengajar di kelasnya

“Permisi anak-anak ibu mau terima telpon dulu jangan ramai ya!”kemudian Rosa berjalan keluar kelas dan menerima panggilan itu.

“Hallo Maria? ” terdengar suara berat seorang lelaki0

“Ya dengan siapa Pak? “

“Berapa tarif kamu semalam? “

“1,5 juta bayar di muka, tidak kurang dari itu “

“Ok done deal, kita ketemu di Kafe Bon Ami, Darmo Selatan jam 18.30 nanti malam sampai disana langsung miss call aku ya bye ..tut tut tut”

Dalam hati Rosa merasa berdebar dan aneh karena ini adalah pertama kalinya ia akan mendapatkan panggilan serius dan anehnya orang tersebut tidak menawar harga yang ia ajukan, Rosa termenung memikirkan telepon yang baru saja ia terima sampai seorang muridnya menegur

“Bu, Ibu sakit ya? ” tanya seorang muridnya

“Oh nggak apa-apa kok, ayo masuk lagi” sambil memegang pundak muridnya

Setelah selesai mengajar Rosa segera pulang dan mempersiapkan diri, ia mandi dan berdandan secantik mungkin tapi tidak menor, dengan mengenakan gaun malam warna hitam yang anggun, Rosa berangkat ke Bon Ami menggunakan taksi.

Rasa berdebar semakin menjadi saat ia memasuki kafe dan dengan tangan sedikit gemetar ia memanggil no. HP lelaki yang tadi siang menelponnya segera saja terdengar bunyi handphone di pojok ruangan yang rupanya sengaja di taruh di atas meja oleh pemiliknya.

Mata Rosa memandang ke arah sumber bunyi tersebut dan melihat lelaki berumur 45 tahun keturunan cina dengan pakaian necis dan berkacamata minus yang melambaikan tangan seolah olah sudah mengenal dirinya

“Hi Maria, silahkan duduk disini “

Ujar lelaki itu sambil berdiri menjabat tangan Maria yang tak lain adalah nama samaran Rosa.

“Ok kita makan dulu atau langsung pergi nih? ” tanya lelaki itu.

“Kita bisa langsung pergi setelah pembayaran di lakukan ” ujar Rosa ketus

“Wow santai saja non jangan takut ini aku bayar sekarang “

Sebuah amplop coklat disodorkan dan langsung di buka dan dihitung oleh Rosa

“Ok 1,5 juta kita berangkat, omong omong nama bapak siapa ” tanya Rosa

“Teman-teman memanggil aku A Cun, yuk berangkat “

A Cun menggandeng tangan Rosa dengan mesra seperti istrinya sendiri.

Dengan menggunakan mercy new eyes, A Cun membawa Rosa meninggalkan kafe dengan santai tapi pasti mobil dibawa menuju ke arah daerah perumahan elit di daerah Dharmahusada. Ketika sampai di depan sebuah rumah mewah dengan pagar tinggi A Cun membunyikan klaksonnya, pagar besi itu terbuka secara otomatis meskipun tidak tampak orang di halaman rumah mewah itu, setelah mobil masuk sampai di teras rumah seseorang dengan seragam batik berlari kecil menghampiri mobil.

“Selamat datang Koh A Cun “sambil membukakan pintu mobil.

“Yang lainnya sudah pada kumpul toh, Yok? ” tanya Koh A Cun pada lelaki berseragam itu

“Sudah Pak, silahkan Pak ” kata petugas yang bernama Yoyok ini .

Mobil A Cun segera dibawa untuk di parkir oleh yoyok yang rupanya bertugas sebagai valet service. Acun dan Rosa langsung masuk ke dalam rumah mewah itu

“Ini rumah Koh A Cun ” tanya Rosa kagum melihat ruang tamu yang besar dan dipenuhi barang mewah

“Oh bukan, ini rumah perkumpulan semacam klub bagi kami untuk melepas kepenatan” ucap Koh Acun seraya membuka pintu ruang tengah yang di dalamnya berisi 3 orang lelaki dan 3 perempuan.

Di ruangan itu tersedia 5 kasur king size, 2 meja biliard, 3 set sofa mewah dan sebuah mini bar yang tertata apik serasi dengan ruang yang relatif besar itu, dari suasana ruangan sudah dapat diperkirakan bahwa ruangan ini sering di pakai sebagai ajang maksiat .

“Hoi Cun, lama sekali kamu, dapet barang baru ya?” tanya seorang lelaki cina berumur 56 tahun yang di panggil Koh A Liong.

“Ah nggak enak ah ngomong gitu di depan orang ” elak A Cun

“Koh A Cun, mending kamu kasih Mbak ini buat aku saja, kamu pake saja salah satu SPG yang aku bawa” ucap lelaki berbadan gemuk besar dan berkulit sawo matang yang dipanggil dengan panggilan Pak Angkoro.

A Cun mengamati SPG yang ditawarkan padanya, diantara tiga SPG itu ada satu yang paling menarik hatinya yaitu Lyvia Go. SPG berumur 21 tahun berdarah cina dengan tinggi 168 cm dan berat 48 kg berwajah mirip Ineke, dengan penampilannya yang mengenakan rok super mini dengan atasan kemeja ketat nan tipis membuat A Cun tak mampu menolak tawaran Pak Angkoro

“Ok deh, Pak Angkoro boleh ambil Maria, saya pinjam Lyvia ” sahut acun sambil langsung menarik pinggang Lyvia dan mereka berdua melakukan deep kissing yang sangat panas sampai terdengar lenguhan lenguhan nafas mereka.

Lyvia yang diciumi dengan ganas segera membalas ciuman itu sambil membuka kancing kemejanya yang seakan tak muat menampung payudaranya yang montok. Dengan rakus Koh A Cun memelorotkan BH Lyvia dan menghisap puting berwarna coklat muda itu, sambil bercumbu tangan Koh Acun bergerak melingkar pinggang Lyvia dan melepas kait rok mini dan meloloskan rok itu turun sehingga kini Lyvia Go hanya mengenakan BH yang sudah tidak menutupi payudaranya dan sebuah celana dalam berwana putih berenda tipis yang sangat seksi sekali melekat di tubuhnya yang putih bak mutiara.

Dengan sekali angkat tubuh Lyvia Go dibawa Koh ACun menuju ranjang terdekat, lalu menelentangkannya sambil meloloskan celana dalam seksi itu dari tempatnya sehingga tampaklah kemaluan Lyvia yang sudah dicukur bersih, tanpa membuang waktu A Cun segera menjilat dan menusuk nusukkan lidahnya ke dalam vagina Lyvia yang diikuti dengan erangan nikmat dari Lyvia.

“Ahh, aduh enak Koh, dasyat aargh “

“Enak ya Go? Kamu sudah berapa kali ngeseks selama jadi SPG ” tanya A Cun sambil mengocok vagina Lyvia dengan dua jari sambil terkadang menggosok kelentit mungil itu dengan jempolnya.

“Ini yang ke tu..juh aah hi hi hi aduh geli Koh “

“Yang pertama ama siapa ” selidik A Cun mencari cari daerah g-spot dengan ujung jarinya

“Yang pertamaa, aduh yah yah aauh disitu Koh enak, yang pertama sama Pak Angkoro di WC showroom aah”

Untuk mengakhiri pemanasan ini maka A Cun menempelkan lidahnya di kelentit Lyvia, kemudian menggeleng-gelengkan dan memutar-mutar kepalanya dengan lidah tetap menempel di kelentit. Menerima rangsangan dasyat itu tubuh Lyvia melengkung bagai busur panah yang siap melesatkan anak panahnya.

“Aduh Koh A Cun, aargh masukin sekarang Koh jangan siksa aku lebih lama lagi hm? “.

Melihat Lyvia sudah terangsang berat maka Koh A Cun segera menghentikan permainan oralnya dan melepas bajunya sendiri dengan cepat, Lyvia yang melihat Koh A Cun melepas bajunya kagum melihat badan Koh Acun yang berotot, dadanya yang bidang dan perutnya yang terbagi 8 kotak sangat seksi di mata Lyvia yang biasanya melayani Pak Angkoro yang gendut. Semakin bernafsu untuk segera bersetubuh maka Lyvia Go membantu melepas celana Koh A Cun dan betapa kagetnya Lyvia Go ketika celana itu merosot langsung nongol benda sepanjang 16.5 cm (wah ternyata Koh A Cun tidak pakai celana dalam loh, tapi dengan tidak memakai celana dalam juga sangat baik bagi kesuburan pria kata Pak dokter).

Dengan posisi kaki yang di buka lebar lebar, Lyvia menanti Koh Acun sambil tangan kanannya menggosok gosok klitorisnya sendiri, Koh Acun mengambil posisi di tengah tengah kaki Lyvia yang terbuka lebar dan mengarahkan penisnya di muka pintu gerbang kewanitaan Lyvia

“Aku masukin ya Lyv?”

“Sini kubantu Koh ” Lyvia memegang penis A Cun dan mengarahkannya ke liang senggamanya

“Seret banget ya Lyv, jadi susah masuk nih”

“Koh jangan bercanda melulu ah, kapan masuknya?”

“Ya udah nih rasain Lyv”

“Aauh aah aah pelan dikit Koh “

Akhirnya pelan tapi selamat, penis Koh A Cun amblas ke dalam vagina Lyvia dan permainan kuda kudaan khusus dewasapun dimulai, Koh A Cun memaju mundurkan pantatnya dengan tempo sedang sambil memegang kedua betis Lyvia sebagai tumpuan tangannya .

Beralih ke ibu guru kita yaitu Rosa Maria yang cuma bengong melihat permainan permainan liar di sekelilingnya.

“Wah suasananya panas ya? ” Pak Angkoro menegur Rosa Maria yang bengong

“Ah nggak juga Pak, kan ada AC” balas Rosa risih

“Nggak panas gimana, coba kamu lihat orang orang itu pada telanjang ngapain coba?”

“Eeng eeng gimana ya Pak “

“Eng eng eng apa, ayo lepas bajumu, kamukan sudah di bayar toh? “

Rosa merasa harga dirinya diinjak-injak, di dalam hati Rosa Maria berkata “Aku adalah seorang guru yang dihormati dan disegani oleh anak didik dan rekan sekerjaku kenapa demi dendam pada suami aku harus menjerumuskan diriku ke dalam lembah nista tapi sudah terlambat”, air mata mulai menetes di pipi Rosa.

“Wah, kok malah nangis iki piye? Waduh!!” Pak Angkoro mengelus-elus perutnya yang besar karena bingung.

“Nggak Pak, ayo kita mulai aja permainan ini ” Rosa mengusap air matanya.

“Ya gitu dong, itu baru semangat profesional jangan nangis lagi ya “

Rosa membuka gaun malamnya dengan pedih dan rasa hampa, demikian juga Pak Angkoro beliau membuka seluruh pakaiannya memperlihatkan tubuhnya yang gemuk dan hitam.

“Sini Ros, bapak akan membuat kamu melayang layang ” pangil Pak Angkoro

Rosa yang masih malu dan canggung menutup tubuhnya yang bugil dengan tangannya sedapat mungkin sambil melangkah ke arah Pak Angkoro

“Wah kok malu malu gitu, jangan kuatir Ros bapak nggak akan kasar kasar sama kamu “, Pak Angkoro memandang tubuh Rosa dari atas ke bawah. Jakunnya naik turun memandang tubuh Rosa yang menggiurkan, kulitnya yang kuning langsat bagai kulit putri kraton meskipun tidak seputih Lyvia tapi pancaran erotik dari mata Rosa bagai sinar pancasona pusaka tanah jawa. Dan cara gerak Rosa Maria sungguh membangkitkan gairah, keayuan khas gadis jawa terpancar dari setiap lekuk tubuhnya dan terutama payudaranya yang berwarna kuning gading sungguh mengundang birahi lelaki manapun yang melihatnya.

Dengan lembut Pak Angkoro meletakan kedua telapak tangannya di atas payudara Rosa dan mulai memijat lembut sambil perlahan ia melekatkan bibirnya ke bibir Rosa yang sensual di lumatnya bibir Rosa, semakin lama semakin panas sampai kedua tubuh itu seolah menjadi satu, Pak Angkoro melingkarkan tangannya ke pinggang Rosa dan menariknya sampai lekat pada tubuhnya dan mencumbu Rosa dengan penuh nafsu. Dihisap dan dimasukannya lidahnya kedalam relung relung mulut Rosa sehingga mau tak mau Rosa membalas pagutan-pagutan liar itu.

Hasrat kewanitan Rosa benar-benar dibangkitkan oleh Pak Angkoro yang berlaku seperti kuda jantan dan mendominasi seriap permainan ini. Rosa mulai merasakan hawa panas naik dari dadanya ke ubun-ubun yang membuat Rosa semakin tak berdaya melawan hawa maksiat yang begitu kental dalam ruangan ini sehingga akhirnya Rosapun terlarut dalam hawa maksiat itu.

“Ros aku minta dioral dong ” sambil menyodorkan penis hitamnya yang berdiameter 5 cm dengan panjang 14 cm.

“Nggak ah Pak, jijik saya! ih! “

“Wah kamu kudu profesional Ros, kalau kerja jangan setengah-setengah gitu dong, gini aja kamu tak oral kalau sampai kamu orgasme berarti kamu kudu ngoral aku yah? “

Belum sempat Rosa menjawab Pak Angkoro telah menyelusupkan kepala diselangkangan Rosa dan mulai melancarkan segala jurus simpanannya mulai dari jilat, tusuk sampai jurus blender yang memnyapu rata seluruh dinding permukaan vagina Rosa sehingga dalam waktu 7 menit Rosa sudah di buat kejang-kejang.

“Oooh Pak oouh oh pa..ak” Rosa meregangkan ototnya sampai batas maksimal.

“Tuh kamu udah orgasme, nggak bisa bohong sekarang giliranmu” ucap Pak Angkoro senang

Pak Angkoro menarik kepala Rosa dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya memegang penisnya sendiri sambil mengocok ringan, setelah mulut Rosa dalam jangkauan tembak Pak Angkoro segera menjejalkan penisnya ke dalam mulut Rosa

“Ayo dong Rosa” Pak Angkoro menyuapkan penisnya seperti menyuapkan makanan pada anak kecil, setelah penisnya berada dalam mulut Rosa maka dengan menjambak rambut Rosa Pak Angkoro memaju mundurkan kepala Rosa

“Ehm ehm Pak Angko.. ehm ehm” Rosa berusaha berbicara tapi malah tersenggal senggal

“Udah diam aja deh Ros jangan banyak bicara emut!”

Setelah lima menit berjalan Rosa akhirnya secara mandiri mengulum ujung penis Pak Angkoro, sementara tangannya mengocok dengan kasar pangkal penis Pak Angkoro.

“Yes gitu Ros, wah kamu lebih hebat dari istriku loh, mau gak kamu jadi gundikku?” Pak Angkoro berbicara ngawur karena keenakan dioral Rosa. Merasa jenuh dengan permainan oral akhirnya Rosa meminta untuk bercinta.

“Udahan dong Pak, kita ngesks yang bener aja ya?” tanya Rosa dengan halus

“Ok, kamu yang minta loh”

Pak Angkoro menarik Rosa yang tadinya mengoral dia dalam posisi jongkok menuju meja biliard dan menyuruh Rosa menumpukan kedua tangannya menghadap meja bilirad sementara Pak Angkoro yang berada di belakang Rosa mengatur posisi sodokan perdananya.

“Ros nungging dikit dong, ya gitu sip!” Pak Angkoro mengelus pantat Rosa yang bahenol kemudian mengarahkan senjatanya ke vagina Rosa.

“Aaouh Pak Angkoro, pelan Pak sakit penisnya bapak sih kegedean ” ucap Rosa setengah meledek.

“Wah kamu itu muji apa menghina Ros? mungkin vaginamu yang kekecilan Ros” Pak Angkoro membalas ejekan rosa dengan menarik pinggul Rosa ke belakang secara cepat maka amblaslah seluruh penis Pak Angkoro.

“Auuw gede banget, aauw aah ” Rosa mulai menggoyang pinggulnya berusaha menyeimbangi goyangan Pak Angkoro

Pak Angkoro membenamkan penisnya dalam-dalam dengan menarik pinggul Rosa kebelakang, dengan penis masih tertancap di vagina Rosa kemudian Pak Angkoro memutar pinggulnya membentuk lingkaran sehingga penis yang didalam vagina Rosa menggencet dan menggesek setiap syaraf syaraf nikmat di dinding vagina .

“Aauh, Rosa keluar ahh” Rosa mengalami orgasme yang menyebabkan setiap otot di tubuh Rosa mengencang sehingga tubuhnya kelojotan tidak terkendali.

“Loh Ros, kok sudah KO, belum 10 menit kok udah orgasme wah ini kalau cowok namanya edi, ejakulasi dini kalau kamu berarti menderita odi orgasme dini, ayo terusin sampai aku keluar juga “

Pak Angkoro mengganti posisi bersenggama dengan mengangkat tubuh Rosa dan menidurkannya di meja biliard. Kemudian kaki rosa dibentangkan oleh Pak angkoro lebar-lebar dan dengan kekuatan penuh penis besar itu menerjang mendobrak pintu kewanitaan Rosa, sampai-sampai klitorisnya ikut tertarik masuk, Rosa yang masih dalam keadaan orgasme makin menggila menerima sodokan itu sehingga secara refleks rosa mencakar bahu Pak angkoro.

“Oouchh Rosa kamu ini apa-apaan sih, kok main cakar-cakaran segala?”

“Oouh aash sorry, abis rosa nggak tahan sih ama sodokannya Mas yang begitu perkasa” bujuk rosa agar Pak angkoro tidak marah.

“Jangan cakar lagi ya, kalo tidak rasain ini” Pak Angkoro menggigit puting Rosa dengan lembut tapi sedikit menyakitkan.

“Aauw nakal deh” ucap rosa sambil menggoyangkan pinggulnya sendiri agar penis Pak Angkoro tetap menggesek dinding vaginanya.

Dalam waktu singkat Rosa yang mula-mula seorang guru telah berevolusi menjadi pelacur kelas tinggi yang benar benar profesional baik dari kebinalan maupun ucapannya, semua sudah berubah Rosa kini benar benar seorang pelacur sejati.

Judul: Permohonan Seorang Teman dan Suaminya 2

Author : Hidden , Category: Pesta Sex

Anna berhenti melangkah dan mengajakku, ”Ayo dong Gus, kita di kamar aja, di sini kurang leluasa”

Aku berdiri dan mengikuti mereka.

Kamar tidur mereka cukup luas, kira-kira 5 X 6 meter. Ranjang yang terletak di tepi salah satu sisi ruangan berukuran besar. Hawa sejuk AC menerpa ketika kami bertiga bagaikan anak-anak kecil, bertelanjang badan, beriringan masuk kamar.

Anna langsung merebahkan tubuhnya di tengah ranjang. Suaminya mengikuti sambil melabuhkan ciuman. Aku masih berdiri memandangi mereka, ketika tangan Anna mengisyaratkanku agar mendekati mereka. Aku mengikuti ajakannya dan duduk di sisi lain tubuhnya sambil mengelus-elus lengan dan perutnya. Tangan Anna menarik pergelangan tanganku agar mengelus dan meremas teteknya. Tanganku mulai beroperasi di bagian dadanya dan memainkan pentilnya yang kembali mengeras akibat sentuhan jari-jariku. Kupilin-pilin pentilnya dengan lembut dan kudekatkan mukaku ke dadanya. Lidahku kujulurkan menjilati pentil teteknya. Lama kugelitik pentilnya, setelah itu kumasukkan pentilnya ke dalam mulutku sambil melakukan gerakan menyedot. Saking gemasnya, kusedot juga teteknya yang tidak begitu besar, tetapi masih kenyal karena belum pernah menyusui bayi.

”Ooogghh, ya, yahh, gitu Gus, enak tuch…” desisnya sambil menyambut ciuman suaminya.

Kedua teteknya kuremas sambil terus mengisap, memilin, menyedot pentilnya dengan gerakan bervariasi, kadang-kadang lembut, kadang ganas, hingga Anna menggeliat-geliat dilanda birahi. Kuteruskan penjelajahan bibirku ke arah perutnya dan turun ke rambut-rambut jembutnya yang halus di atas celah pahanya yang putih. Kembali lidahku bermain di itilnya dan celah-celah toroknya yang mulai basah lagi. Ludahku bercampur dengan lendir kawinnya yang harum. Ciumanku semakin buas turun ke celah-celah antara torok dan duburnya. Ketika mendekati duburnya, lidahku kuruncingkan dan kugunakan mengait-ngait celah-celah duburnya.

”Owww, apa yang kau lakukan Gus? Koq enak banget sich?” jeritnya sambil menaikkan pinggulnya akibat perlakuan lidahku pada duburnya.

”Tenang sayang, nikmati saja” kataku sambil menciumi duburnya dengan bibirku dan menggunakan jari telunjuk kananku untuk memasuki duburnya.

”Sssshhh, aaahhhh, terusin Gus! Yahhhh enakkkkk” desahnya.

Dicky sudah menciumi tetek Anna dalam posisi terbalik, di mana dadanya diberikan untuk diraba dan diciumi oleh istrinya juga. Mereka berdua mendesah, tetapi kupastikan yang paling dilanda hasrat menggelora adalah Anna, sebab bagian bawah tubuhnya kuciumi habis-habisan, hingga semakin becek toroknya akibat bibir dan lidahku yang tak berhenti melakukan aksinya.

”Sudah, sudah Gus. Ayo, sekarang giliran kamu!” katanya sambil tangannya menarik rambutku perlahan agar menghentikan aksiku pada torok dan duburnya.

Lalu ia membuka kedua belah pahanya lebar-lebar sehingga menampakkan toroknya yang merona merah jambu dengan sangat indahnya. Rambut-rambut jembut halus di atas itil dan toroknya memberikan nuansa romantis yang tak terlukiskan. Tubuh Anna benar-benar bagaikan pualam. Geliatnya begitu erotis, membuat pria manapun takkan mampu menguasai diri untuk tidak menyetubuhinya dalam keadaan begitu rupa.

”Ayo sayang, jangan ragu-ragu membagikan cintamu padaku” rayu Anna sambil terus menciumi dada suaminya yang ada di atas tubuhnya, sedang dadanya masih berada dalam kuluman Dicky, suaminya.

Aku berlutut di antara kedua pahanya dan kontolku kutaruh pelan-pelan menyentuh itilnya. Ia menggelinjang-gelinjang antara geli dan nikmat.

”Ooouggghh, jangan siksa aku dong, masukkan sayangggg!” erangnya.

Aku tidak mengikuti permintaannya, melainkan terus memainkan kontolku menggesek itilnya hingga kurasakan semakin tegang ditekan oleh kepala kontolku. Dengan tangan kananku, kupegang pangkal kontolku dan kusentuhkan juga ke labia toroknya bergantian, kiri dan kanan, lalu sesekali mengusap celah-celah toroknya dengan kepala kontol dari arah itilnya ke bawah.

”Ssshhh, ooohhhh, enak banget sayang… Ayo dong, aku nggak tahan nichhh… Masukin kontolmu Gussss……” Anna memohon.

Tak tahan mendengar permintaannya, kujejalkan kepala kontol ke celah-celah toroknya, tapi tidak semuanya kumasukkan. Tangan kananku masih kupakai untuk menggerakkan kontolku merangsek masuk dan menjelajahi dinding-dinding toroknya, kanan dan kiri. Ia menaik-turunkan pinggulnya menyambut masuknya kontolku.

”Ohhhh, nikmaatttt…” desisnya.

Suaminya memandang ke arahku sambil tersenyum. Kini ia berlutut di sebelah kanan kepala Anna dan memberikan kontolnya untuk dikulum isterinya.

Dengan lembut kumasukkan kontolku makin dalam, perlahan-lahan hingga kontolku masuk sebatas pangkalnya.

”Aaaahhh……” erang Anna lagi.

Kedua tangan Anna menarik tubuhku menindih badannya. Ia melakukan hal itu sambil tetap mengulum kontol suaminya.

Gerakanku menaik turunkan tubuh di atas Anna berlangsung dengan ritme pelan, tetapi kadang-kadang kuselingi dengan gerakan cepat dan dalam.

Berulang-ulang Anna merintih, ”Gila Gus, enak banget kontolmu! Oooouugghhhh… yahh… aaahhh… sedappppp!”

Pinggulnya sesekali naik menyambut masuknya kontolku. Semakin lama gerakan pinggulnya makin tak menentu.

Gerakanku makin cepat dan kuat. Desahannya makin kuat mengarah pada jeritan. Dengan beberapa kali hentakan, kubuat Anna bergetar semakin tinggi menggapai puncak kenikmatan.

”Gusss, terusin… Aaaahhhh, aku dapet lagi, oooouuggghhh!” ia menggeram sambil mengangkat pinggulnya menyambut tekanan kontolku yang kuhunjamkan dalam-dalam ke memeknya.

Jari-jari tangannya memeluk punggungku dengan erat, bahkan cengkeraman kukunya begitu kuat, terasa sakit menghunjam kulitku, tetapi perasaan itu bercampur dengan kenikmatan luar biasa. Kurasakan guyuran cairan kawinnya membasahi kontolku sedemikian rupa dan dinding toroknya berkejat-kejat memijat batang kontolku, hingga tak kuasa kubendung luapan pejuku memasuki rongga toroknya.

”Anna!!!! Ogggghhh, enak banget, sayang!” desahku sambil memeluk erat-erat tubuhnya dan menciumi bibirnya rapat-rapat.

Anna menyambut ciumanku. Kurasakan bibir kami berdua agak dingin, sebab aliran darah kami seakan-akan terdesak ke bagian bawah. Kedua belah pahanya menjepit kedua pahaku dengan kuatnya dan jepitan memeknya seolah-olah ingin mematahkan batang kontolku. Dinding toroknya masih berdenyut-denyut memilin kontolku. Tak terkatakan nikmatnya.

Suaminya tahu diri dan menarik tubuh menyaksikan permainan kami berdua. Lama kami berpelukan dalam posisi berdekapan. Ia tidak mau melepaskan tubuhku. Denyutan toroknya masih terus terasa memijat-mijat batang kontolku, hingga perasaanku begitu nyaman dan damai dalam pelukannya. Beberapa kali ingin kutarik tubuhku, tapi ia tidak mengijinkan tubuhku meninggalkan tubuhnya. Ia hanya membolehkan tubuhku miring ke kanan, hingga ia pun miring ke kiri. Dengan masih berpelukan dalam keadaan miring, mulutnya masih terus menciumi mulutku. Bibir kami berpagutan dan lidahnya masuk rongga mulutku menggapai langit-langit mulutku. Kulakukan hal yang sama bergantian dengannya. Beberapa saat kemudian kurasakan cairan kenikmatan kami mengalir di sela-sela pahaku, juga kuperhatikan menetesi pahanya.

kontolku mengecil setelah melakukan tugasku untuk ‘mengawininya’ dengan baik. Aku melepaskan diri dari pelukannya dan berbaring di sebelah sebelah kiri tubuhnya. Suaminya menempatkan diri berbaring di sebelah kanannya. Anna kini diapit oleh dua pria. Aku menatap langit-langit kamar mereka sambil merenung, betapa gilanya kami bertiga melakukan ini. Aku tak tahu apa yang ada di benak mereka berdua. Elusan jari-jari Anna di tubuhku membuatku tak habis pikir, betapa dahsyat permainan seks perempuan ini. Ia memiliki kekuatan melawan dua pria sekaligus.

Ia mencium bibir suaminya sambil berbisik, ”Mas Dicky, makasih ya atas hadiah ulang tahunnya!”

Lalu ia juga mencium bibirku, menatap dengan mata berkaca-kaca dan berkata, ”Gus, trims buat kadomu. Kami benar-benar berterima kasih padamu.”

Aku tak menjawab, merasa bodoh, tetapi haru menyambut ciumannya disertai tetesan air yang turun ke pipinya. Aku mengusap air matanya sambil memagut bibirnya lembut. Lama kami melakukan hal itu dan kembali berbaring. Anna bangun dan mengambil handuk kecil untuk melap toroknya yang basah oleh cairan kawin kami berdua. Lalu ia kembali berbaring di antara suaminya dan aku.

Suaminya membelai-belai tetek Anna dan memberi tanda agar Anna menaiki tubuhnya. Rupanya suaminya minta dilayani lagi. Anna lalu menempatkan diri di atas tubuh suaminya. Mula-mula ia berjongkok di atas pinggang suaminya dan memasukkan kontol suaminya dengan dibantu oleh tangan kanannya. Setelah kontol tersebut masuk, perlahan-lahan ia menaik-turunkan tubuhnya di atas tubuh suaminya. Suaminya menyambut gerakan Anna sambil meremas-remas teteknya.

Beberapa saat kemudian Anna merebahkan tubuhnya di atas tubuh suaminya. Gerakan mereka makin kuat. Sesekali pantat suaminya terangkat ke atas, sedang Anna menurunkan tubuhnya dan menekan kuat-kuat hingga kontol suaminya menancap dalam-dalam. Aku beringsut menuju bagian bawah tubuh mereka dan memperhatikan bagaimana kontol suaminya masuk keluar torok Anna.

Kudengar suara suaminya, ”Ann, duburmu kan nganggur tuch. Gimana kalau dimasuki kontol Agus seperti yang pernah kulakukan?”

Kudengar suara Anna, ”Ya Mas, aku baru mau usul begitu. Tahu nich, kalian berdua begitu pandai memuaskan aku. Ayo Gus, tusuk duburku dong!” pintanya memohon.

Aku heran juga atas kelakuan suami istri ini, tetapi kupikir mungkin karena Anna pernah di luar negeri, hal-hal begini tidak aneh lagi buatnya. Bagiku memang pengalaman baru. Main dengan perempuan beberapa kali pernah kulakukan, tapi main bertiga begini apalagi mengeroyok torok dan dubur sekaligus, ini benar-benar pengalaman luar biasa bagiku.

Kuamati kemaluan kedua suami istri itu. Perlahan-lahan kuelus-elus torok Anna yang basah oleh lendir birahinya. Jari-jariku kemudian mengarah ke duburnya. Dengan lendir kawinnya kubasahi lubang duburnya. Telunjuk jari kananku kumasukkan pelan-pelan ke dalam duburnya.

”Yaaah gitu Gus, enak tuch… Lebih dalam lagi!!! Ayoooo!!!!” desahnya dengan suara yang serak-serak basah karena dilanda nafsu.

Jariku masuk makin dalam ke duburnya membuat gerakan tubuhnya semakin tak menentu. Dengan toroknya dirojok kontol suaminya dan jariku memasuki duburnya, Anna berkayuh menuju pulau kenikmatan.

”Gusss, jangan cuman jarimu dong, sayang! Sekarang masukin kontolmu… Ayooo dong!!!” pintanya.

Kedua paha Anna berada di bagian luar paha suaminya, membuka lebar-lebar celah toroknya bagi masuknya kontol suaminya. Kutempatkan kedua pahaku menjepit paha Anna. Kepala kontol kubalur dengan air ludahku dan kumasukkan perlahan-lahan ke dalam dubur Anna. Mula-mula agak susah, sebab sempit, tetapi mungkin karena mereka sudah pernah melakukan hal itu, tak terlalu masalah bagi kontolku untuk melakukan eksplorasi ke dalam duburnya.

”Sssshhhh, ohhhh enak banget Gusssss! Terusin yang lebih dalam sayang!” rintihnya.

Aku bergerak makin leluasa memasuk-keluarkan kontolku ke dalam duburnya. Sedang dari bawah, kontol suaminya masuk keluar toroknya. Anna berada di antara tubuh suaminya dan aku, melayani kami berdua sekaligus mengayuh biduk kenikmatan tak terperikan. Gerakan suaminya makin kuat, mungkin tak lama lagi ia akan orgasme. Anna pun semakin liar menggerakkan pinggul dan pinggangnya, apalagi dari bawah, suaminya menetek pada teteknya secara bergantian. Jeritan Anna yang begitu kuat seperti tadi kembali memenuhi ruangan kamar itu. Namun agaknya tak masalah bagi mereka, sebab rumah mereka begitu besar dan dengan konstruksi yang begitu bagus, suara rintihan dan jeritan kami dari dalam kamar tersebut takkan terdengar keluar.

Kedua tangan Anna memeluk tubuh suaminya erat-erat sambil menekan tubuhnya kuat-kuat hingga kupastikan kontol suaminya telah masuk sampai pangkalnya, sedangkan kontolku kugerakkan berirama ke dalam duburnya.

”Gus, lagi Gus, yang kuat!!” pinta Anna.

Kedua pundak Anna kupegang kuat sambil menghentakkan kontol sedalam-dalamnya ke dalam duburnya. Aneh, kupikir ia akan kesakitan diserang demikian rupa pada duburnya, ternyata sebaliknya, ia malah merasakan kenikmatan luar biasa menyertai kenikmatan hunjaman kontol suaminya.

Kami bertiga secara cepat melakukan gerakan menekan. Suaminya dari bawah, Anna di atasnya menekan ke bawah, aku dari atas tubuh Anna menekan dalam-dalam kontolku ke dalam dubur Anna.

”Massss, oooouggghhhh Gussss… aku dapet lagi! Ouuuggghhhhhhhhhhhh…….. sssshhhhhh…… akkkkhhhhh” jerit Anna.

Kurasakan betapa jepitan duburnya begitu kuat, sama seperti toroknya tadi, menjepit kontolku. Denyut kenikmatan kurasakan begitu hebat.

Tak berapa lama, Anna memintaku melepaskan diri dari suaminya. Ia lalu berlutut tepat di depanku. Semula aku tak mengerti maksudnya. Kuelus-elus punggung, pinggul dan teteknya dari belakang tubuhnya. Tangan kanannya ia mencari kontolku dan mengarahkan kontolku ke duburnya lagi.

”Wah, masih mau lagi dia?” kataku dalam hati.

kontolku kembali memasuki duburnya dalam posisi kami berdua berlutut. Lalu ia mengisyaratkan aku merebahkan tubuh ke belakang. Aku turuti permintaannya dan dengan kontol tetap berada di dalam duburnya, aku berbaring terlentang sedang Anna kini ada di atasku dalam posisi sama-sama terlentang. Ia mengambil inisiatif bergerak menaik turunkan tubuhnya hingga kontolku masuk keluar dengan bebasnya ke dalam duburnya. Dari atas sana kuamati suaminya bangkit mendekati kami berdua dan kembali mengarahkan kontolnya ke torok Anna. Kini gantian aku yang berada di bawah, Anna di tengah, dan suaminya di atas Anna.

Desahan, rintihan dan jeritan kami silih-berganti dan kadang-kadang bersamaan keluar dari bibir kami bertiga. Tanganku kumainkan meremas-remas tetek Anna dari bawah.

Beberapa saat kemudian, di bawah sana, suaminya berteriak, ”Ayo sayang, aku mau keluar nih!!!!”

”Tunggu sayang” kata Anna.

Dan tiba-tiba ia bangkit hingga kontolku terlepas dari duburnya. Dengan cepat ia tolakkan tubuh suaminya, hingga jatuh terbaring, lalu ia berlutut di antara paha suaminya dan menggenggam kontol suaminya sambil memasuk-keluarkan kontol itu ke dalam mulutnya. Cairan peju suaminya muncrat mengenai wajah dan mulut Anna, tetapi ia tidak jijik menjilati cairan kenikmatan yang keluar itu. Kuperhatikan ulah Anna terhadap kontol suaminya. kontolku masih tegang menanti giliran berikut.

Anna menoleh ke arahku sambil berkata, ”Gus, masih mau lagi, kan? Ayo, sayang!”

Ia kemudian menungging di depan tubuhku sambil terus menjilati kontol suaminya yang semakin lemas. Kutempatkan tubuh di belakang Anna lalu kumasukkan kembali kontol ke dalam duburnya.

”Gus, ganti-gantian dong masukin kontolmu, jangan hanya duburku. Bergantian torokku juga sayang!” katanya.

”Wah, hebat benar Anna, masih juga ada permintaannya yang begini rupa?” pikirku.

Kucabut kontolku dari duburnya dan kumasukkan ke dalam toroknya yang merah merekah. Lendir kawinnya masih banyak tapi kontolku tetap dijepit kuat sewaktu memasuki toroknya. Usai memasukkan kontol ke toroknya dalam 2-3 kali hunjaman, kucabut lagi dan ganti duburnya kutusuk 2-3 kali. Begitu seterusnya, hingga kudengar kembali ia menjerit pertanda akan orgasme lagi.

”Aaaaggghhh, nikmatnyaaahhhhh…… Gussss!!!! Ooooogggghhhh……” jeritnya kuat sekali.

Jepitan toroknya begitu luar biasa saat jeritannya terdengar, hingga tak bisa lagi kutahan aliran pejuku kembali memasuki kepala kontolku dan keluar tanpa tedeng aling-aling.

”Aaaahhh, Annn… nikmat sekali sayang!” erangku sambil memeluk tubuhnya dari belakang dan meremas-remas kedua teteknya.

Tubuhku masih menghimpit tubuhnya dari belakang, sedangkan Anna masih terus menciumi dan menjilati kontol suaminya. Tak bosan-bosannya ia melakukan itu. Benar-benar pemain seks yang hebat!

Kami bertiga berbaring lunglai dalam keadaan telanjang bulat di ranjang berukuran king size itu. Sprey ranjang sudah kusut dan di sana-sini lelehan cairan kenikmatan kami bertiga bertebaran. Aku benar-benar lelah dan ngantuk hingga tertidur.

Lewat tengah malam, kurasakan jilatan lidah pada kontolku. Dengan mata berat, kutoleh ke bawah, kulihat Anna sudah menciumi dan menjilati kontolku kembali. Di sebelahku suaminya tertidur nyenyak. kontolku yang lemas, kembali tegang karena perlakuan lidah dan mulut Anna. Melihat keadaan itu, Anna senang dan mengajakku main lagi.

Anna menempatkan pinggulnya di tepi ranjang, kedua kakinya berjuntai ke bawah hingga terpampanglah belahan toroknya yang merekah. Entah sudah berapa kali tusukan suaminya dan aku telah dialami torok ini, tetapi seakan tak kenal lelah dan memiki kemampuan ‘tempur’ yang dahsyat. Sambil menempatkan diri di depannya, kontolku kuarahkan kembali memasuki toroknya. Anna yang berbaring kembali merintih saat kontol kumainkan di itil dan toroknya. Geliat pinggulnya begitu erotis menyambut hunjaman kontolku. Gerakan kami berdua semakin cepat, hingga akhirnya tubuhku ia tarik kuat-kuat menjatuhi tubuhnya. kontolku masuk sedalam-dalamnya menikmati remasan dinding toroknya. Aku belum dapat lagi, sehingga kontolku masih tetap tegang. Kami berdua masih berpelukan dalam posisi tersebut.

Anna berbisik di telingaku, ”Gus, lihat nggak tadi. Suamiku bisa main beberapa ronde, padahal biasanya satu ronde saja ia sudah menyerah. Mungkin karena ada teman mainnya, jadi semangat dia.”

Aku tidak menjawab.

Ia melanjutkan, ”Ngomong-ngomong kontolmu koq kuat banget sih, main beberapa ronde, koq kuat betul? Kau suka minum obat kuat ya? Atau kau sudah pengalaman main sama perempuan nich?” desaknya.

”Ah, aku bisa kuat gini kan karena Anna. Abis kamu dulu tolak cintaku sih” jawabku.

”Tapi sekarang kamu bisa menikmati tubuhku juga walau aku sudah bersuami, kan?” rajuknya.

”Iya, tapi bagaimanapun Dicky masih suami kamu? Kamu bukan nyonya Agus, kan?” balasku.

”Sudahlah, yang penting hatiku dan tubuhku bisa kau miliki juga di samping suamiku” katanya menutup pembicaraan kami, sambil menciumi bibirku lagi.

Aku terdiam dan bangkit berdiri.

”Mau ke mana, Gus?” tanyanya melihatku berjalan keluar kamar.

”Aku mau duduk di luar dulu” kataku sambil melangkah keluar.

Aku memungut celana dalamku dan duduk di ruang tempat kami nonton video tadi. Beberapa saat kemudian kulihat Anna menyusulku, masih dalam keadaan telanjang bulat. Ia duduk di sebelahku.

”Ada apa, Gus? Kamu tersinggung atas kata-kataku tadi?” tanyanya.

”Nggak An. Aku cuma tak habis pikir, koq bisa-bisanya aku melakukan hal ini pada kamu yang sudah bersuami dan suamimu mengijinkan” kataku sambil menatap wajahnya.

”Gus, hidup ini memang penuh misteri” katanya berfilsafat.

”Yang penting, kita menjalaninya dengan tenang dan damai. Bahkan kamu dapat pahala dengan memberikan kebahagiaan buatku dan suamiku. Atau kamu nyesel atas kejadian ini” desaknya sambil membelai wajahku.

”Tidak sayang, aku tidak menyesal. Yang kupikirkan bagaimana jika aku tak mampu melepaskan diri darimu sebab dulu pernah mencintaimu” kataku sambil menciumi rambutnya.

Anna merebahkan kepalanya di pangkuanku dan jari-jarinya bermain lembut di pahaku, bisiknya, ”Aku hanya menjalani hidup ini Gus. Suamiku tahu kalau aku benar-benar ingin punya anak, tapi ia tidak bisa menghamiliku. Kami sudah lama membicarakan dirimu dan menimbang segalanya. Aku, kelak kau menikah dengan gadis baik, yang bisa memberikanmu kebahagiaan seutuhnya.”

Jari-jarinya terus menelusuri setiap inci pahaku hingga kurasakan kontolku kembali menegang.

”An, aku mau tanya satu hal. Kuharap kau tidak tersinggung” kataku.

”Koq kau begitu ahli main, sampai main anal segala?” tanyaku.

”Oh itu. Kamu tidak usah curiga. Jenuh menunggu anak tidak kunjung ada, kami berdua suka mencoba-coba berbagai posisi. Tadinya sih atas anjuran dokter, mana tahu bisa jadi. Lama-lama setelah suamiku mau periksa ke dokter, baru ketahuan kalau bibitnya lemah, sehingga tak bisa membuahi rahimku. Tapi kami sudah telanjur suka posisi macem-macem. Begitulah ceritanya Gus!” katanya.

Aku tidak menanggapi kalimatnya dengan kata-kata, tetapi mengangkat dagunya dan mencium bibirnya. Ciuman membara yang kembali terjadi di antara kami membuat kami berdua kembali hanyut dalam gelora asmara. Jari-jarinya bermain di dadaku sedangkan jari-jariku membelai tubuhnya. Ia berlutut ia antara pahaku dan kembali mencium dan menjilati kontolku sehingga mencapai ketegangan puncak.

”Gimana Gus, kamu mau main lagi kan?” tanyanya sambil memandang wajahku.

”Ya sayang, tapi kamu tidak capek?” tanyaku kembali.

”Nggak Gus, demi kamu, aku mau lagi” jawabnya.

Anna berbaring di sofa panjang dan ketika aku akan menindihnya dari atas ia melarangku.

”Kenapa, An?” tanyaku tak mengerti.

”Ntar dulu, kita coba posisi ini. Kau pasti suka deh!” katanya.

Ia turun dari sofa ke karpet di bawah, lalu ia tarik kedua kakinya ke arah kepalanya, kedua tangannya menahan belakang lututnya hingga kembali toroknya terpampang lebar-lebar menantikan kedatangan kontolku. Aku memasukkan kontol ke dalam toroknya sambil menikmati posisi tersebut. Sambil memasuk-keluarkan kontolku ke dalam toroknya, kuamati Anna semakin menarik bagian bawah tubuhnya ke atas sedemikian rupa hingga pinggulnya agak terangkat. Aku mulai paham maksudnya. Dengan posisi berlutut, aku memasukkan kontolku ke toroknya. Hunjaman kontol agak berat kurasa dengan posisi itu, tetapi nikmatnya tak terkatakan.

Beberapa saat kami mempertahankan posisi itu, lalu ia berkata, ”Gus, pegang tanganku.”

Kutarik kedua tangannya dan tubuhnya melekat erat di tubuhku hingga teteknya begitu terasa kenyal menghimpit dadaku.

”Gus, kamu kuat nggak jika berdiri sekarang?” bisiknya pelan di telingaku.

Aku tidak menjawab, tapi berusaha berdiri sambil menapakkan kedua tanganku di belakang tubuh. Akhirnya kami berdua berdiri dengan posisi saling menempel. Tiba-tiba kedua kakinya ia angkat tinggi dan memeluk kedua pahaku. Untungnya tubuh Anna langsing, sehingga aku kuat dibebani oleh tubuhnya dengan cara demikian. Sambil memeluk leherku erat-erat, ia menaik-turunkan tubuhnya hingga torokanya turun naik di atas kontolku. Kupegang erat kedua bongkah pantatnya sambil menghunjamkan kontol ke dalam toroknya.

”Gus, jalan yuk” bisiknya lagi.

Aku menurut saja kata-katanya. Kulangkahkan kaki selangkah demi selangkah mengitari ruangan itu sambil menikmati naik-turunnya tubuh Anna menghunjam kontolku. Baru kuingat, inilah yang disebut dalam kamasutra sebagai posisi monyet menggendong anaknya.

Kami melakukan hal itu agak lama dan kemudian ia berkata, ”Gus, aku udah mau dapet lagi. Turunkan aku dong!”

Kuturunkan tubuhnya dan ia mengambil posisi berlutut menghadap sofa sambil memintaku memasuki tubuhnya dari belakang. Kuarahkan kontol ke toroknya lalu memaju-mundurkan tubuhku sambil meremas-remas kedua teteknya dari belakang. Erangan Anna semakin kuat ketika hunjaman kontolku semakin cepat masuk-keluar toroknya. Aku tidak ingat sudah berapa lama kami melakukan itu, ketika tiba-tiba kurasakan dinding toroknya kembali berdenyut-denyut tanda akan orgasme lagi.

”Guuuussss… Aaaauuuukhhhhhh nikmatnya sayanggggg!!!” jeritnya sambil menghempaskan pantatnya kuat-kuat ke arah pahaku.

Cairan toroknya begitu banyak kurasakan.

”Ann, koq banyak banget cairanmu?” tanyaku heran.

Masih dengan napas tersengal-sengal, ia menjawab, ”Gus, akh, eeeh… aku kadang-kadang bisa orgasme sambil keluar pipis. Kalau benar-benar birahi, itu yang kualami. Dengan Dicky kejadian begini amat jarang, tapi denganmu koq bisa begitu mudah kurasakan? Maaf ya Gus, jadi becek gini” katanya.

”Kamu jadi nggak bisa orgasme dengan beceknya torokku. Pake duburku lagi dech” lanjutnya.

Kutempatkan tubuhnya di sofa dan kuangkat kedua kakinya ke atas sambil mengarahkan kontol ke duburnya yang basah akibat tetesan cairannya. Kepala kontolku masuk sedikit demi sedikit. Kumasukkan hingga leher kontolku. Pada tahap itu, kukeluarkan lagi kontolku. Demikian seterusnya masuk keluar.

Ia merengek, ”Gus, masukkan lebih dalam dong! Jangan siksa aku, aku jadi mau dapat lagi nih karena kepandaian kamu main!”

Kutekan kontolku masuk keluar makin dalam ke duburnya, sementara kedua tanganku menahan kedua kakinya yang terpentang lebar-lebar. Jari-jari tangan kanannya menampar-nampar labia toroknya dan sesekali memilin-milin itilnya, sedangkan tangan kirinya meremas-remas kedua teteknya bergantian.

”Kasihan juga perempuan ini, andaikan suaminya bangun, ia sudah bisa membantu meremas tetek dan menyentuh toroknya” pikirku.

Kami berdua semakin cepat melakukan gerakan, geliat pinggulnya begitu seksi ketika hunjaman kontolku semakin cepat ke dalam duburnya. Dengan suatu sentakan kuat, kumasuki liang duburnya sedalam-dalamnya dan kunikmati denyutan duburnya yang begitu kuat hingga kurasakan seakan-akan pejuku tertahan akibat jepitan hebatnya.

Aku merasa tersiksa atas keadaan itu, dan dengan cepat kucabut kontolku tanpa menghiraukan protesnya, ”Ada apa, Gus? Keluarin aja di situ!”

Cairan pejuku hampir saja muncrat di luar tubuhnya, karena aku sudah mencapai puncak kenikmatan. Kulihat toroknya masih membuka lebar, kupentang kedua pahanya dan kembali kontol kubenamkan dalam-dalam memasuki rongga toroknya. Denyutan toroknya masih terasa begitu kencang tetapi karena begitu banyak cairannya, jepitannya tak sekencang duburnya. Sambil mengerang kuhunjamkan kontolku sedalam-dalamnya.

”Guuusss, gila kamuuuuu… enak banget sihhhhhh?” jeritnya sambil memeluk pinggangku kuat-kuat dan merasakan kukunya lagi-lagi menancap di bagian belakang tubuhku.

Tak terasa kami berdua main dua ronde lagi di ruang keluarga itu. Dan tertidur dalam keadaan berpelukan dengan bertelanjang bulat di karpet. Kami baru terbangun ketika merasakan silau cahaya matahari memasuki celah-celah gordyn ruangan itu. Anna terbangun, hingga membuatku juga ikut terbangun. Kami berdua berdiri sambil berciuman lagi. Sambil menggandeng tanganku, Anna mengajakku menuju kamar tidur mereka dan kami menyaksikan suaminya masih tidur nyenyak. Anna mengajakku mandi berdua di kamar mandi di kamar mereka. Kami berdua mandi di bathtub saling menyabuni tubuh dan kembali bersenggama satu ronde di dalam air. Luar biasa. Entah sudah berapa kali orgasme yang Anna nikmati. Ketika kami keluar dari kamar mandi, suaminya masih tidur, sampai Anna membangunkannya dengan ciuman lembut. Setelah suaminya mandi, kami sarapan bertiga.

Suaminya minta maaf karena begitu nyenyak tidur. Anna menukas, ”Nggak apa-apa koq Mas. Agus maklum dan ia bisa melayani permintaanku main lagi di ruang keluarga dan di kamar mandi.”

”Luar biasa. Kalian berdua benar-benar hebat” puji suaminya tanpa rasa cemburu sedikit pun.

”Gus, aku sangat berterima kasih atas kedatanganmu. Belum pernah kulihat Anna segembira ini” lanjutnya.

”Kuharap ini bukan yang terakhir kali kita bertiga, walaupun tadinya aku merasa aneh dengan ide gilanya Anna mengajak kamu main dengan kami. Setelah kualami sendiri, ternyata amat nikmat. Aku sendiri merasa seakan-akan menjadi pengantin baru kayak dulu lagi” katanya lagi.

Aku hanya tersenyum menanggapi percakapan itu.

Itulah pengalamanku pertama kali bertiga dengan Anna dan suaminya. Beberapa kali kami masih melakukan hal serupa. Kadang-kadang Anna memintaku tidur di rumahnya ketika suaminya tugas selama tiga minggu di luar negeri. Tiada hari tanpa persetubuhan yang kami lakukan berdua. Uniknya lagi, saat suaminya menelepon dari luar negeri, Anna sengaja mengaktifkan headphone agar suaminya dapat mendengar desahan dan rintihan kami. Entah apa yang dilakukan suaminya di ujung sana, tapi ia berterima kasih kepadaku yang mau membantu mereka. Hal itu kami lakukan cukup lama.

Pernah Anna mengajak aku dan suaminya main bersama seorang teman perempuannya waktu kuliah di Australia. Henny namanya, orang Sunda. Orangnya tidak secantik Anna, tetapi manis. Sudah menikah tetapi juga sama dengan Anna, belum punya anak. Akhirnya aku mengerti bahwa baik Anna maupun Henny adalah biseks. Mereka bulan lesbian murni, tetap menginginkan lelaki, tetapi tak bisa melupakan teman intimnya dulu. Kisah ini akan kuceritakan di saat berikut.

Suami Anna sangat berterima kasih, ketika setahun kemudian meneleponku memberitahukan bahwa Anna sedang hamil dua bulan. Ia memintaku datang ke rumah mereka, tetapi aku mengelak dengan alasan sedang ada kerjaan kantor yang tak dapat ditinggalkan. Padahal, aku tak kuasa menahan gejolak di hati, bahwa benih yang dikandung Anna adalah anakku. Aku hanya dapat berharap mereka bahagia dengan kehadiran anak itu.

Tiga tahun kemudian aku menikah dengan seorang gadis Jawa. Ia tidak secantik Anna, tidak juga semanis Henny, tetapi ia mencintaiku dengan tulus dan mau menerima diriku apa adanya. Pernah Anna meneleponku karena rindu lama tak bertemu denganku dan bertanya apakah aku tidak ingin melihat anakku yang pernah ia kandung. Aku katakan rindu, tetapi tak kuasa bertemu mereka. Hanya berharap mereka bahagia dan rukun selalu. Mendengar kata-kataku, Anna terisak di telepon dan berharap, jika suatu ketika aku mau bertemu dengannya, Dicky tak pernah cemburu, bahkan jika aku memintanya, ia akan melayaniku lagi.

Judul: Ibu Rani Dosenku

Author : Hidden , Category: Umum

Aku mahasiswa arsitektur tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung, dan sudah saatnya melaksanakan tugas akhir sebagai prasyarat kelulusan. Beruntung, aku kebagian seorang dosen yang asyik dan kebetulan adalah seorang ibu. Rani namanya, di awal umur tigapuluh, luar biasa cantik dan cerdas. Cukup sulit untuk menggambarkan kejelitaan sang ibu. Bersuami seorang dosen pula yang kebetulan adalah favorit anak-anak karena moderat dan sangat akomodatif. Singkat kata banyak teman-temanku yang sedikit iri mengetahui aku kebagian pembimbing Ibu Rani.

“Dasar lu… enak amat kebagian ibu yang cantik jelita…” Kalau sudah begitu aku hanya tersenyum kecil, toh bisa apa sih pikirku.

Proses asistensi dengan Ibu Rani sangat mengasyikan, sebab selain beliau berwawasan luas, aku juga disuguhkan kemolekan tubuh dan wajah beliau yang diam-diam kukagumi. Makanya dibanding teman-temanku termasuk rajin berasistensi dan progres gambarku lumayan pesat. Setiap asistensi membawa kami berdua semakin akrab satu sama lain. Bahkan suatu saat, aku membawakan beberapa kuntum bunga aster yang kutahu sangat disukainya. Sambil tersenyum dia berucap,

“Kamu mencoba merayu Ibu, Rez?”

Aku ingat wajahku waktu itu langsung bersemu merah dan untuk menghilangkan grogiku, aku langsung menggelar gambar dan bertanya sana-sini. Tapi tak urung kuperhatikan ada binar bahagia di mata beliau. Setelah kejadian itu setiap kali asitensi aku sering mendapati beliau sedang menatapku dengan pandangan yang entah apa artinya, beliau makin sering curhat tentang berbagai hal. Asistensi jadi ngelantur ke bermacam subyek, dari masalah di kantor dosen hingga anak tunggalnya yang baru saja mengeluarkan kata pertamanya. Sesungguhnya aku menyukai perkembangan ini namun tak ada satu pun pikiran aneh di benakku karena hormat kepada beliau.

Hingga… pada saat kejadian. Suatu malam aku asistensi sedikit larut malam dan beliau memang masih ada di kantor pukul 8 malam itu. Yang pertama terlihat adalah mata beliau yang indah itu sedikit merah dan sembab.

“Wah, saat yang buruk nih”, pikirku.

Tapi dia menunjuk ke kursi dan sedikit tersenyum jadi kupikir tak apa-apa bila kulanjutkan. Setelah segala proses asistensi berakhir aku memberanikan diri bertanya,

“Ada apa Bu? Kok kelihatan agak sedih?”

Kelam menyelimuti lagi wajahnya meski berusaha disembunyikannya dengan senyum manisnya.

“Ah biasalah Rez, masalah.”

Ya sudah kalau begitu aku segera beranjak dan membereskan segala kertasku. Dia terdiam lama dan saat aku telah mencapai pintu, barulah…

“Kaum Pria memang selalu egois ya Reza?”

Aku berbalik dan setelah berpikir cepat kututup kembali pintu dan kembali duduk dan bertanya hati-hati.

“Kalau boleh saya tahu, kenapa Ibu berkata begitu? Sebab setahu saya perempuan memang selalu berkata begitu, tapi saya tidak sependapat karena certain individual punya ego-nya sendiri-sendiri, dan tidak bisa digolongkan dalam suatu stereotype tertentu.”

Matanya mulai hidup dan kami beradu argumen panjang tentang subyek tersebut dan ujung-ujungnya terbukalah rahasia perkimpoiannya yang selama ini mereka sembunyikan. Iya, bahwa pasangan tersebut kelihatan harmonis oleh kami mahasiswa, mereka kaya raya, keduanya berparas good looking, dan berbagai hal lain yang bisa membuat pasangan lain iri melihat keserasian mereka. Namun semua itu menutupi sebuah masalah mendasar bahwa tidak ada cinta diantara mereka. Mereka berdua dijodohkan oleh orang tua mereka yang konservatif dan selama ini keduanya hidup dalam kepalsuan. Hal ini diperburuk oleh kasarnya perlakuan Pak Indra (suami beliau) di rumah terhadap Bu Rani (fakta yang sedikit membuatku terhenyak, ugh betapa palsunya manusia sebab selama ini di depan kami beliau terlihat sebagai sosok yang care dan gentle).

Singkat kata beliau sambil terisak menumpahkan isi hatinya malam itu dan itu semua membuat dia sedikit lega, serta membawa perasaan aneh bagiku, membuat aku merasa penting dan dekat dengan beliau. Kami memutuskan untuk jalan malam itu, ke Lembang dan beliau memberi kehormatan bagiku dengan ikut ke sedan milikku. Sedikit gugup kubukakan pintu untuknya dan tergesa masuk lalu mengendarai mobil dengan ekstra hati-hati. Dalam perjalanan kami lebih banyak diam sambil menikmati gubahan karya Chopin yang mengalun lembut lewat stereo. Kucoba sedikit bercanda dan menghangatkan suasana dan nampaknya lumayan berhasil karena beliau bahkan sudah bisa tertawa terbahak-bahak sekarang.

“Kamu pasti sudah punya pacar ya Reza?”

“Eh eh eh”, aku gelagapan.

Iya sih emang, bahkan ada beberapa, namun tentu saja aku tak akan mengakui hal tersebut di depannya.

“Nggak kok Bu… belum ada… mana laku aku, Bu…” balasku sambil tersenyum lebar.

“Huuu, bohong!” teriaknya sambil dicubitnya lengan kiriku.

“Cowok kayak kamu pasti playboy deh… ngaku aja!”

Aku tidak bisa menjawab, kepalaku masih dipenuhi fakta bahwa beliau baru saja mencubit lenganku. Ugh, alangkah berdebar dadaku dibuatnya. Beda bila teman wanitaku yang lain yang mencubit.

Larut malam telah tiba dan sudah waktunya beliau kuantar pulang setelah menikmati jagung bakar dan bandrek berdua di Lembang. Daerah Dago Pakar tujuannya dan saat itu sudah jam satu malam ketika kami berdua mencapai gerbang rumah beliau yang eksotik.

“Mau nggak kamu mampir ke rumahku dulu, Rez?” ajaknya.

“Loh apa kata Bapak entar Bu?” tanyaku.

“Ah Bapak lagi ke Kupang kok, penelitian.”

Hm… benakku ragu namun senyum manis yang menghiasi bibir beliau membuat bibirku berucap mengiyakan. Aku mendapati diriku ditarik-tarik manja oleh beliau ke arah ruang tamu di rumah tersebut akan tetapi benakku tak habis berpikir, “Duh ada apa ini?”

Sesampainya di dalam, “Sst… pelan-pelan ya… Detty pasti lagi lelap.” Kami beringsut masuk ke dalam kamar anaknya dan aku hanya melihat ketika beliau mengecup kening putrinya yang manis itu pelan. Kami berdua bergandengan memasuki ruang keluarga dan duduk bersantai lalu mengobrol lama di sana. Beliau menawarkan segelas orange juice. “Aduh, apa yang harus aku lakukan”, pikirku.

Entah setan mana yang merasuk diriku ketika beliau hendak duduk kembali di karpet yang tebal itu, aku merengkuh tubuhnya dalam sekali gerakan dan merangkulnya dalam pangkuanku.

Beliau hanya terdiam sejenak dan berucap, “Kita berdua telah sama-sama dewasa dan tahu kemana ini menuju bukan?” A

ku tak menjawab hanya mulai membetulkan uraian rambut beliau yang jatuh tergerai dan membawa tubuh moleknya semakin erat ke dalam pelukanku, dan kubisikkan di telinganya, “Reza sangat sayang dan hormat pada Ibu, oleh karenanya Reza tak akan berbuat macam-macam.”

Ironisnya saat itu sesuatu mendesakku untuk mengecup lembut cuping telinga dan mengendus leher hingga ke belakang kupingnya. Kulihat sepintas beliau menutup kelopak matanya dan mendesah lembut.

“Kau tahu aku telah lama tidak merasa seperti ini Rez…” Kebandelanku meruyak dan aku mulai menelusuri wajah beliau dengan bibir dan lidahku dengan sangat lembut dan perlahan. Setiap sentuhannya membuat sang ibu merintih makin dalam dan beliau merangkul punggungku semakin erat. Kedua tanganku mulai nakal merambah ke berbagai tempat di tubuh beliau yang mulus wangi dan terawat.

Aku bukanlah pecinta ulung, infact saat itu aku masih perjaka namun cakupan wawasanku tentang seks sangat luas.

“Tunggu ya Rez… ibu akan bebersih dulu.” Ugh apa yang terjadi, aku tersadar dan saat beliau masuk ke dalam, tanpa pikir panjang aku beranjak keluar dan segara berlari ke mobil dan memacunya menjauh dari rumah Ibu Ir. Rani dosenku, sebelum segalanya telanjur terjadi. Aku terlalu menghormatinya dan… ah pokoknya berat bagiku untuk mengkhianati kepercayaan yang telah beliau berikan juga suaminya. Sekilas kulihat wajah ayu beliau mengintip lewat tirai jendela namun kutegaskan hatiku untuk memacu mobil dan melesat ke rumah Tina.

Sepanjang perjalanan hasrat yang telah terbangun dalam diriku memperlihatkan pengaruhnya. Aku tak bisa konsentrasi, segala rambu kuterjang dan hanya dewi fortuna yang bisa menyebabkan aku sampai dengan selamat ke pavilyun Tina. Tina adalah seorang gadis yang aduhai seksi dan menggairahkan, pacar temanku. Namun sejak dulu dia telah mengakui kalau Tina menyukaiku. Bahkan dia telah beberapa kali berhasil memaksa untuk bercumbu denganku. Hal yang kupikir tak ada salahnya sebagai suatu pelatihan buatku.

Aku mengetuk pintu kamar paviliunnya tanpa jawaban, kubuka segera dan Tina sedang berjalan ke arahku, “Sendirian?” tanyaku.

Tina hanya mengangguk dan tanpa banyak ba bi bu, aku merangsek ke depan dan kupagut bibirnya yang merah menggemaskan. Kami berciuman dalam dan bernafsu.

“Kenapa Rez?” di sela-sela ciuman kami, Tina bertanya, aku tak menjawab dan kuciumi dengan buas leher Tina, hingga dia gelagapan dan menjerit lirih. Tangan kananku membanting pintu sementara tangan kiriku dengan cekatan mendekap Tina makin erat dalam pelukanku.

“Brak!” kurengkuh Tina, kuangkat dan kugendong ke arah kasur. “Ugh buas sekali kamu Rez…” Sebuah senyum aneh menghiasi wajah Tina yang jelita.

Kurebahkan Tina dan kembali kami berpagutan dalam adegan erotis yang liar dan mendebarkan. Aku bergeser ke bawah dan kutelusuri kaki Tina yang jenjang dengan bibirku dan kufokuskan pada bagian paha dalamnya. Kukecup mesra betis kanannya. Tina hanya mengerang keenakan sambil cekikikan lirih karena geli. Kugigit-gigit kecil paha yang putih dan mulus memikat itu sambil tanganku tak henti membelai dan merangsang Tina dengan gerakan-gerakan tangan dan jari yang memutar-mutar pada payudaranya yang seksi dan ranum. Dengan sekali tarik, piyama yang dikenakannya terlepas dan kulemparkan ke lantai, sementara aku bergerak menindih Tina.

Kami saling melucuti hingga tak ada sehelai benang pun yang menjadi pembatas tarian kami yang makin lama makin liar.

“Reza ahhh… Reza… Reza…” Tina terus berbisik lirih ketika kukuakkan kedua kakinya dan aku menuju kewanitaannya yang membukit menantang.

Kusibakkan rambut pubic-nya yang lebat namun rapih dan serta merta aromanya yang khas menyeruak ke hidungku. Bentuknya begitu menantang sehingga entah kenapa aku langsung menyukainya. Kuhirup kewanitaan Tina dengan keras dan lidahku mulai menelusuri pinggiran labia minora-nya yang telah basah oleh cairan putih bening dengan wangi pheromone menggairahkan. Kubuka kedua labia-nya dengan jemariku dan kususupkan lidahku pelan diantaranya menyentuh klitorisnya yang telah membesar dan kemerahan.

“Aaagh…” Tina menjerit tertahan, sensasi yang dirasakannya begitu menggelora dan semakin membangkitkan semangatku. Detik itu juga aku memutuskan untuk melepas status keperjakaanku yang entah apalah artinya. Sejenak pikiranku melambung pada Ibu Rani, ah apa yang terjadi besok? Kubuang jauh-jauh perasaan itu dan kupusatkan perhatianku pada gadis cantik molek yang terbaring pasrah dan menantang di hadapanku ini. Tina pun okelah. Malam ini aku akan bercinta dengannya. Dengan ujungnya yang kuruncingkan aku menotol-notolkan lidahku ke dalam kewanitaan Tina hingga ia melenguh keras panjang dan pendek.

Lama, aku bermain dengan berbagai teknik yang kupelajari dari buku. Benar kata orang tua, membaca itu baik untuk menambah pengetahuan. Kuhirup semua cairan yang keluar darinya dan semakin dalam aku menyusupkan lidahku menjelajahi permukaan yang lembut itu semakin keras lenguhan yang terdengar dari bibir Tina. Aku naik perlahan dan kuciumi pusar, perut dan bagian bawah payudaranya yang membulat tegak menantang. Harus kuakui tubuh molek Tina, pacar temanku ini sungguh indah. Lidahku menjelajahi permukaan beledu itu dengan penuh perasaan hingga sampai ke puting payudaranya yang kecoklatan.

Aku berhenti, kupandangi lama hingga Tina berteriak penasaran, “Ayo Rez… tunggu apa lagi sayang.”

Aku berpaling ke atas, di hadapanku kini wajah putih jelitanya yang kemerahan sambil menggigit bibir bawahnya karena tak dapat menahan gejolak di dadanya. Hmm… pemandangan yang jarang-jarang kudapat pikirku. Tanganku meraih ke samping, kusentuh pelan putingnya yang berdiri menjulang sangat menggairahkan dengan telunjukku.

“Aaah Rez… jangan bikin aku gila, please Rez…”

Dengan gerakan mendadak, aku melahap puting tersebut mengunyah, mempermainkan, serta memilinnya dengan lidahku yang cukup mahir. (Aku tahu Tina sangat sensitif dengan miliknya yang satu itu, bahkan hanya dengan itupun Tina dapat orgasme saat kami sering bercumbu dulu). Tina menjerit-jerit kesenangan. Kebahagian melandanya hingga ia maju dan hendak merengkuh badanku.

“Eit, tunggu dulu Non… jangan terlalu cepat sayang”, aku menjauh dan menyiksanya, biar nanti juga tahu rasanya multi orgasme.

Nafas Tina yang memburu dan keringat mengucur deras dari pori-porinya cukup kurasa. Aku bangkit dan pergi ke dapur kecil minum segelas air dingin.

“Jaaahat Reza… jahaat…” kudengar seruannya.

Saat aku balik, tubuhnya menggigil dan tangannya tak henti merangsang kewanitaanya. Aku benci hal itu, dan kutepis tangannya,

“Sini… biar aku…”

Aku kembali ke arah wajahnya dan kupagut bibirnya yang merah itu dan kami bersilat lidah dengan semangat menggebu-gebu. Kuraih tubuh mungilnya dalam pelukanku dan kutindih pinggulnya dengan badanku.

“Uugh…” dia merintih di balik ciuman kami. Kedua bibir kami saling melumat dan menggigit dengan lincahnya, seolah saling berlomba.

Birahi dan berbagai gejolak perasaan mendesak sangat dahsyat. Sangat intensif menggedor-gedor seluruh syaraf kami untuk saling merangsang dan memuaskan sang lawan. Kejantananku minta perhatian dan mendesak-desak hingga permukaannya penuh dengan guratan urat yang sangat sensitif. Duh… saatnya kah? aku bimbang sejenak namun kubulatkan tekadku dan dengan segera aku menjauh dari Tina. Tanpa disuruh lagi Tina meregangkan kedua pahanya dan menyambut kesediaanku dengan segenap hati. Punggungnya membusur dan bersiap.

Sementara aku menyiapkan batang kemaluanku dan membimbingnya menuju ke pasangannya yang telah lumer licin oleh cairan kewanitaannya. Oh my God… sensasi yang saat itu kurasakan sangat mendebarkan, saat-saat pertamaku. Gigitan bibir bawah Tina menunjukkan ketidaksabarannya dan dengan kedua betisnya dia mendesak pinggulku untuk bergerak maju ke depan. Akhirnya keduanya menempel. Kubelai-belaikan permukaan kepala kejantananku ke klitorisnya dan Tina meraung, masa sih begitu sensasional? Biasa sajalah. Kudesak ke depan perlahan (aku tahu ini merupakan hal pertama bagi dia juga) sial… mana muat? Ah pasti muat. Kusibakkan dengan kedua jemariku sambil pinggulku mendesak lagi dengan lembut namun mantap. Membelalak Tina ketika batang kemaluanku telah menyeruak di antara celah kewanitaannya.

Sambil matanya mendelik, menahan nafas dan menggigit-gigit bibir bawahnya, Tina membimbing dengan memegang batang kemaluanku,

“Hmm… Rez? jangan ragu sayang…” Dengan mantap aku menghentakkan pinggulku ke depan agar Tina menjerit.

Loh sepertiganya telah amblas ke dalam. Hangat, basah, ketat sangat sensasional. Pinggang kugerakkan ke kiri dan ke kanan. Sementara Tina kepedasan dan air matanya sedikit mengintip dari ujung matanya yang berbinar indah itu.

“Kenapa sayang?” tanyaku.

“Nggak pa-pa Rez… terusin aja sayang… Aku adalah milikmu, semuanya milikmu…”

“Sungguh…”

Aku tahu pastilah mengharukan bagi gadis manapun meski sebandel Tina, apabila kehilangan keperawanannya. Maka untuk menenangkannya aku merengkuh tubuhnya dan kuangkat dalam pelukan, proses itu membuat kemaluanku semakin dalam merasuk ke dalam Tina. Dia mendelik keenakan, matanya yang indah merem melek dan bibirnya tak henti mendesah,

“Rez sayaaang… ugh nikmatnya.”

Saat itu aku sedang memikirkan Ibu Rani. Aneh, mili demi mili batang kemaluanku menghujam deras ke dalam diri Tina dan semakin dalam serta setiap kali aku menggerakkan pinggulku ke kiri dan ke kanan sekujur tubuh Tina bergetar, bergidik menggelinjang keras, lalu kudesak ke dalam sambil sesekali kutarik dan ulur. Tina menjerit keras sekali dan kubungkam dengan ciumanku, glek… kalau ketahuan ibu kost-nya mampus kami.

Aku tak menyangka sedemikian ketatnya kewanitaan Tina, hingga kemaluanku serasa digenggam oleh sebuah mesin pemijat yang meski rapat namun memberikan rasa nyaman dan nikmat yang tak terkira. Pelumasan yang kulakukan telah cukup sehingga kulit permukaannya kuyakin tidak lecet sementara perjalanan batang kemaluanku menuju ke akhirnya semakin dekat. Hangat luar biasa, hangat dan basah menggairahkan, tulang-tulangku seakan hendak copot oleh rasa ngilu yang sangat bombastis.

Perasaan ini rupanya yang sangat diimpikan berjuta pria.

“Eh… Tina sayang… kasihan kau, kelihatan sangat menderita, meski aku tahu dia sangat menikmatinya”. Wajahnya bergantian mengerenyit dan membelalak hingga akhirnya telah cukup dalam, kusibakkan liang kemaluan Tina-ku tersayang dengan batang kemaluanku hingga bersisa sedikit sekali di luarnya. Tina merintih dan membisikkan kata-kata sayang yang terdengar bagai musik di telingaku. Aku mendenyutkan kemaluanku dan menggerakkannya ke kiri dan ke kanan bersentuhan dengan hampir seluruh permukaan dalam rahimnya, mentokkah? Berbagai tonjolan yang ada di dalam lubang kemaluannya kutekan dengan kemaluanku, hingga Tina akan menjerit lagi, namun segera kubungkam lagi dengan ciuman yang ganas pada bibirnya.

Kutindih dia, kutekan badannya hingga melesak ke dalam kasur yang empuk dan kusetubuhi dirinya dengan nafsu yang menggelegak. Dengan mantap dan terkendali aku menaikkan pinggulku hingga kepala kemaluanku nyaris tersembul keluar. Ugh, sensasinya dan segera kutekan lagi, oooh pergesekan itu luar biasa indah dan nikmat. Gadis seksi yang ranum itu merem melek keenakan dan ritual ini kami lakukan dengan tenang dan santai, berirama namun dinamis. Pinggulnya yang montok itu kuraih dan kukendalikan jalannya pertempuran hingga segalanya makin intens ketika sesuatu yang hangat mengikuti kontraksi hebat pada otot-otot kewanitaannya meremas-remas batang kemaluanku, serta ditingkahi bulu mata Tina yang bergetar cepat mendahului aroma orgasme yang sedang menjelangnya. Aku pernah membaca hal ini.

“Shhs sayang Tina… jangan dulu ya sayang ya…”

“Shhh… Reza… nggak tahan aku… Reeez… shhhh…”

“Cup cup… kalem sayang…” kukecup lembut matanya, bibirnya, hidungnya, dan keningnya.

Tina mereda, aku berhenti.

“Reza… kamu tega ih…” Tina cemberut sambil menarik-narik bulu dadaku.

“Sshhh sayangku… biar aja, entar kalo udah meledak pasti nikmat deh… minum dulu yuk sayang…”

Aku menarik keluar batang kemaluanku, aku tak mau Tina tumpah, meski demikian saat aku menarik kemaluanku, ia memelukku dengan kencang hingga terasa sakit menahan sensasi luar biasa yang barusan dia rasakan. Kalian para pembaca wanita yang pernah bercinta pasti pernah merasakan hal itu. Sembari minum aku menarik nafas panjang dan meredakan pula gejolak nafsuku, aku mau yang pertama ini jadi indah untuk kami berdua. Sial, ingatanku kembali melayang ke Ibu Rani. Apa yang sekarang dia lakukan? Bagaimana keadaan dia? Ah urusan besok sajalah. Dengan melompat aku merambat naik lagi ke tubuh Tina yang sedang tersenyum nakal.

“Minum sayang…” dia memberengut dan minum dengan cepat.

“Ayo Reza… jangan jahat dong…”

Dengan satu gerakan cepat aku menyelipkan diri di antara kedua kakinya seraya membelainya cepat dan meletakkan kemaluanku ke perbukitan yang ranum itu. Cairan putih yang kental terlihat meleleh keluar.

Kusibakkan kewanitaannya, dan dengan cepat kutelusupkan batang kemaluanku ke dalamnya. Ugh, berdenyut keduanya masuklah ia, dengan mantap kudorong pinggulku mengayuh ke depan. Tina pun menyambutnya dengan suka cita. Walhasil dengan segera dia telah masuk melewati liang yang licin basah dan hangat itu ke dalam diri Tina dan bersarang dengan nyamannya. Maka dimulailah tarian Tango itu.

Menyusuri kelembutan beledu dan bagai mendaki puncak perbukitan yang luar biasa indah, kami berdua bergerak secara erotis dan ritmis, bersama-sama menggapai-gapai ke what so called kenikmatan tiada tara. Gerakan batang kejantananku dan pergesekannya dengan ‘diri’ Tina sungguh sulit digambarkan dengan kata-kata. Kontraksi yang tadi telah reda mulai lagi mendera dan menambah nikmatnya pijatan yang dihasilkan pada batang kemaluanku. Tanganku menghentak menutup mulutnya saat Tina menjerit keras dan melenguh keenakan. Lama kutahan dengan mencoba mengalihkan perhatian kepada berbagai subyek non erotis.

Aku tiba-tiba jadi buntu, Yap… Darwin, eksistensialist, le corbusier, pilotis, doppler, dan Thalia. Hah, Thalia yang seksi itu loh. Duh… kembali deh ingatanku pada persetubuhan kami yang mendebarkan ini. Ah, nikmati saja, keringat kami yang berbaur seiring dengan pertautan tubuh kami yang seolah tak mau terpisahkan, gerakan pinggulnya yang aduhai, aroma persetubuhan yang kental di udara, jeritan-jeritan lirih tanpa arti yang hanya dapat dipahami oleh dua makhluk yang sedang memadu cinta, perjalanan yang panjang dan tak berujung.

Hingga desakan itu tak tertahankan lagi seperti bendungan yang bobol, kami berdua menjerit-jerit tertahan dan mendelik dalam nikmat yang berusaha kami batasi dalam suatu luapan ekspresi jiwa. Tina jebol, berulang-ulang, berantai, menjerit-jerit, deras keluar memancarkan cairan yang membasahi dan menambah kehangatan bagi batang kemaluanku yang juga tengah meregang-regang dan bergetar hendak menumpahkan setampuk benih. Kontraksi otot-otot panggulnya dan perubahan cepat pada denyutan liang kemaluannya yang hangat dan ketat menjepit batang kemaluanku. Akh, aku tak tahan lagi.

Di detik-detik yang dahsyat itu aku mengingat Tuhan, dosa, dan Ibu Rani yang telah aku kecewakan, tapi hanya sesaat ketika pancaran itu mulai menjebol tak ada yang dibenakku kecuali… kenikmatan, lega yang mengawang dan kebahagiaan yang meluap. Aku melenguh keras dan meremas bahu dan pantat sekal Tina yang juga tengah mendelik dan meneriakkan luapan perasaannya dengan rintihan birahi.

Berulang-ulang muncrat dan menyembur keluar tumpah ke dalam liang senggama sang gadis manis dan seksi itu. Geez… nikmat luar biasa. Lemas yang menyusul secara tiba-tiba mendera sekujur tubuhku hingga aku jatuh dan menimpa Tina yang segera merangkulku dan membisikkan kata-kata sayang. “Enak sekali Reza, duh Gusti…” Aku menjilati lehernya dan membiarkan batang kemaluanku tetap berbaring dan melemas di dalam kehangatan liang kewanitaannya (ya ampun sekarang pun aku mengingat kemaluan Tina dan aku bergidik ingin mengulang lagi).

Denyut-denyut itu masih terasa, membelai kemaluanku dan menidurkannya dalam kelemasan dan ketentraman yang damai. Kugigit dan kupagut puting payudara Tina dengan gemas. Tina membalas menjewer kupingku, meski masih dalam tindihan tubuhku.

“Reza sayang… kamu bandel banget deh… gimana kalo Rian tahu nanti Rez…”

“Iya… dan gimana Vina-ku ya?” dalam hatiku.

Ironisnya lagi, kami selalu melakukannya berulang-ulang setiap ada kesempatan. Bagai tak ada esok, dengan berbagai gaya dan cara tak puas-puasnya. Di lantai, di dapur, di kasur, di bath tub, bahkan di kedinginan malam teras belakang paviliun sambil tertawa cekikikan. Rasa khawatir ketahuan yang diiringi kenikmatan tertentu memacu adrenalin semakin deras, yang segalanya membuat gairah.

Tak kusangka kami terkuras habis, lelah tak tertahan namun pagi telah menjelang dan aku harus bertemu dengan Ibu Rani. Aku bergerak melangkah menjauhi tempat tidur meskipun dengan lutut lemas seperti karet dan tubuhku limbung. Kamar mandi tujuanku. Segera saja aku masuk ke dalam bath tub dan mengguyur sekujur tubuh telanjangku dengan air dingin. Brrr… lemas yang mendera perlahan terangkat seiring dengan bangkitnya kesadaranku. Sambil berendam aku mengingat kembali kilatan peristiwa yang beberapa hari ini terjadi.

Semenjak saat itu asistensiku dengan Ibu Rani berlangsung beku, dan dia terlihat dingin sekali, sangat profesional di hadapanku. Beliau kembali memangilku dengan anda, bukan panggilan manja Reza lagi seperti dulu. Aku serba salah, tidak sadarkah dia kalau aku pulang malam itu karena menghormati dan menyayanginya? Hingga dua hari menjelang sidang akhir, dan keadaan belum membaik, gambarku selesai namun belum mendapat persetujuan dari Bu Rani. Kuputuskan untuk berkunjung ke rumahnya, meski aku tak pasti apakah Pak Indra ada di sana atau tidak.

Hari itu mobilku dipinjam oleh teman dekatku, sementara siangnya hujan rintik turun perlahan. Ugh, memang aku ditakdirkan untuk gagal sidang kali ini. Bergegas kucegat angkot dan dengan semakin dekatnya kawasan tempat tinggal beliau, semakin deg-degan debar jantungku. Kucoba mengingat seluruh kejadian semalam saat aku dan Tina bercinta untuk kesekian kalinya, untuk mengurangi keresahanku. Aku turun dari angkot dalam derasnya hujan dan dengan sedikit berlari aku membuka gerbang dan menerobos ke dalam pekarangan.

Basah sudah bajuku, kuyup dan bunga Aster yang kubawakan telah tak berbentuk lagi. Kubunyikan bel dan menanti. Bagaimana kalau beliau keluar? bagaimana kalau Pak Indra ada di rumah? dan beratus what if berkecamuk sampai aku tak menyadari kalau wajah jelita dan tubuh molek Ibu Rani telah berdiri beberapa meter di depanku. Saat aku sadar senyumnya masih dingin, tapi ada rasa kasihan terbesit tampak dari wajah keratonnya yang selama ini selalu menghiasi mimpi-mimpiku. Aku hanya bisa menyodorkan bunga yang telah rusak itu dan berkata, “Maafkan saya…”

Tubuhku yang menggigil kedinginan dan kuyup itu sepertinya menggugah rasa iba di hati beliau dan aku mendapati beliau tersenyum dan berkata,

“Sudah Reza, cepat masuk, ganti baju sana… dua hari lagi kamu sidang loh… entar kalo sakit kan Ibu juga yang repot.”

Uuugh, leganya beban ini telah terangkat dari dadaku, dan aku menghambur masuk. “Maaf Bu, saya basah kuyup.”

Beliau masuk ke dalam dan segera membawakan handuk untukku.

“Sana ke kamar dan ganti baju gih, pake aja kaus-kaus Bapak.”

Kuberanikan diri, mendoyongkan tubuh dan mengecup keningnya, “Terima kasih banyak Bu…”

Sang ibu sedikit terperangah dan kemudian menepis wajahku. “Sudah sana, masuk… ganti baju kamu.”

Dengan sedikit cengengesan aku masuk ke dalam dan mengeringkan tubuhku, dan mengganti baju dengan kaus yang sungguh pas di badanku.

Segera aku keluar dan mencari Ibu Rani. Beliau sedang berada di dapur mencoba membuatkan secangkir teh panas untukku. Aduuh, aku sedikit terharu. Dengan beringsut aku mendekatinya dan merangkul beliau dari belakang. Dengan ketus beliau menepis tubuhku dan menjauh.

“Reza… kamu pikir kamu bisa seenaknya saja begitu.” Aku terdiam.

“Saya minta maaf Bu, waktu itu saya pergi karena Reza tak sanggup Bu… Ibu, orang yang paling saya hormati dan sayangi, mungkin Reza butuh waktu, Bu…” sambil berkata demikian aku mendekatinya dan memegang pundak kanan beliau dan memberi sedikit pijatan lembut. Beliau tergetar dan tampak sedikit melunak.

Aku mendekat lagi, “Ibu mau maafin Reza?” sambil kutatap tajam matanya, kemudian perlahan aku mendekatkan wajahku ke wajah ayu sang ibu.

“Tapi Rez…”

Beliau kelihatan bingung, namun kecupan lembutku telah bersarang lembut pada keningnya. Kurengkuh Rani yang ranum itu dalam pelukanku dan kuusap-usapkan kelopak bibirku pada bibirnya dan kukecup dan kugigit-gigit bibir bawahnya yang merah merekah itu. Nafas Rani sedikit memburu dan bibirnya merekah terbuka.

Semula sedikit pasif ciuman yang kuterima, kemudian lidahku menelusup ke dalam dan menyentuh giginya yang putih, mencari lidahnya. Getar-getar yang dirasakannya memaksa Rani untuk memerima lidahku dan saling bertautlah lidah kami berdua, menari-nari dalam kerinduan dan rasa sayang yang sulit dimengerti. Bayangkan beliau adalah dosenku yang kuhormati, yang meskipun cantik jelita, putih dan mempesona menggairahkan, namun tetap saja adalah orang yang seharusnya kujunjung tinggi.

“Jangan di sini Rez, Tuti bisa datang kapan saja.”

Kutebak Tuti adalah nama pembantu mereka.

“Bapak?”

“Ah biarkan saja dia”, kata dosen pujaanku itu.

Ditariknya tanganku ke arah kamarnya yang mereka rancang berdua.

“Buu… Bapak di mana?”

Wanita matang yang luar biasa cantik itu berbalik bertanya, “Kenapa, kamu takut? Pulang sana, kalau kamu takut.”

Ah, kutenangkan hatiku dan yakin dia pasti juga tidak akan membiarkan ada konfrontasi di rumah mereka. Jadi aku medahului Rani (sekarang aku hanya memanggil beliau dengan nama Rani atas permintaannya. Di samping itu, Rani pun tak berbeda jauh umur denganku) dan dalam satu gerakan tangan, Rani telah ada dalam pondonganku, kemudian kuciumi wajahnya dengan mesra, lehernya, dan sedikit belahan di dadanya. Menjelang dekat dengan tempat peraduan, Rani kuturunkan dan aku mundur memandanginya seperti aku memandanginya saat pertama kali. Semula Rani sedikit kikuk.

“Kenapa? Aku cantik kan?”

Rani bergerak gemulai seolah sedang menari, duh Gusti… cantik sekali. Ia mengenakan daster panjang berwarna light cobalt yang menerawang.

Kupastikan Rani tidak mengenakan apa-apa lagi di baliknya. Payudaranya bulat dan penuh terawat, pinggulnya selalu membuat para mahasiswi iri bergosip dan mahasiswa berdecak kagum. Aku sekonyong-konyong melangkah maju dan dengan lembut kutarik ikatan di belakang punggungnya, hingga bagaikan adegan slow motion daster tersebut perlahan jatuh ke lantai dan menampilkan sebuah pemandangan menakjubkan, luar biasa indah. Tubuh telanjang Ir. Rani yang menggairahkan. Tanpa tunggu lebih lama aku kembali melangkah ke depan dan kami berpagutan mesra, lembut dan menuntut.

Mendesak-desak kami saling mencumbu. Ciuman terdahsyat yang pernah kualami, sensasinya begitu memukau. Lidahnya menerobos bibirku dan dengan penuh nafsu menyusuri permukaan dalam mulutku. Bibirnya yang mungil dan merah merekah indah kulumat dengan lembut namun pasti. Impian yang luar biasa ini, saat itu aku bahkan hendak mencubit lengan kiriku untuk meyakinkan bahwa ini bukanlah mimpi. Rani melucuti pakaianku dan meloloskan kaosku, sambil sesekali berhenti mengagumi gumpalan-gumpalan otot pada dadaku yang cukup bidang dan perutku yang rata karena sering didera push-up.

Kami berdua sekarang telanjang bagai bayi. Ada sedikit ironi pada saat itu, dan kami berdua menyadarinya dan tersenyum kecil dan saling menatap mesra. Aku menggenggam kedua tangannya dan mengajaknya berdansa kecil, eh norak tapi romantis. Rani tergelak dan menyandarkan kepalanya ke dadaku dan kami ber-slow dance di sana, di kamar itu, aku dan Rani, tanpa pakaian. Batang kemaluanku tanpa malu-malu berdiri dengan tegaknya, dan sesekali disentil oleh tangan lentik Rani. Dengan perutnya ia mendesak batang kemaluanku ke atas dan menempel mengarah ke atas, duh ngilu namun sensasional.

Saat itu cukup remang karena hujan deras dan cuaca dingin, namun rambut Rani yang indah tergerai wangi tampak jelas bagiku. Kucium dan kubelai rambutnya sambil kubisikkan kata-kata sayang dan cinta yang selalu dibalasnya dengan… gombal, bohong dan cekikikan yang menggemaskan. Aku semakin sayang padanya.

Ah, aku tak tahan lagi. Kudesak tubuh Rani ke arah pinggiran peraduan, kubaringkan punggungnya sementara kakinya tergolek menjuntai ke arah lantai. Aku berlulut di lantai dan mengelus-elus kaki jenjangnya yang mulus. Dan mulai mencumbunya. Kuangkat tungkai kanannya sambil kupegang dengan lembut, kutelusuri permukaan dalamnya dengan lidahku, perlahan dari bawah hingga ke arah pahanya. Pada pahanya yang putih mulus aku melakukan gerakan berputar dengan lidahku. Rani merintih kegelian.

“Rez, it feel so good, aku pengen menjerit jadinya…” Saat menuju ke kewanitaannya yang berbulu rapi dan wangi, aku menggunakan kedua tanganku untuk membelai-belai bagian tersebut hingga Rani melenguh lemah. Lalu sambil menyibakkan kedua labianya, aku menggigit-gigit dan menjepit klitorisnya yang tengah mendongak, dengan lembut sekali.

“Aduuuh Rez, aku sampai sayang…” Sejumlah besar cairan kental putih meluncur deras keluar dari dalam liang kewanitaaannya dan dengan segera aroma menyengat merasuk hidungku. Dengan hidungku aku mendesak-desak ke dalam permukaan kewanitaannya. Rani menjerit-jerit tertahan.

“Rezaaa… nggghh… Rez… aduhh…” Rani sontak bangkit meraih dan meremas rambutku kemudian semakin menekannya ke dalam belahan dirinya yang sedang menggelegak. Kuhirup semua cairan yang keluar dari-nya, sungguh seksi rasanya. Aku mengenali wangi pheromone ini sangat khas dan menggairahkan. Rani-ku tersayang juga menyukainya, sampai menitikkan sedikit air mata. Aku naik ke atas dan menenangkan kekasih dan dosenku itu. Dengan wajah penuh peluh Rani tetaplah mempesona.

“Aduh Rez, Rani udah lama nggak banjir kayak gitu… mungkin perasaan Rani terlalu meluap ya sayang ya…” Dengan manja ibu yang sehari-harinya tampil anggun itu melumat bibirku dan menciumi seluruh permukaan wajahku sambil cekikikan. Aduuuh, aku sayang sekali sama dosenku yang satu ini. Kudekap Rani dalam pelukanku erat demikian juga dibalasnya dengan tak kalah gemasnya, sehingga seolah-olah kami satu.

Aku ingin begini terus selamanya, mendekap wanita yang kusayangi ini sepanjang hayatku kalau bisa, tapi nuraniku berbisik bahwa aku tidak dapat melakukannya. Akhirnya kuliahku telah usai dan nilai yang memuaskan telah kuraih, wisuda telah lama lewat, dan sekarang aku telah menjadi entrepeneur muda.

Judul: Aku Dipakai Anak Kost

Author : Hidden , Category: Pesta Sex

Namaku Evita dan Suamiku Edo. Kami baru satu tahun melangsungkan perkawinan, tapi belum ada pertanda aku hamil. Sudah kucoba berdua periksa siapa yang mandul, tapi kata dokter semuanya subur dan baik-baik saja. Mungkin karena selama pacaran dulu kami sering ke Discotik, merokok dan sedikit mabuk. Itu kita lakukan setiap malam minggu selama tiga tahun, selama masa pacaran berlangsung.

Suamiku seorang sales yang hampir dua hari sekali pasti ke luar kota, bahkan kadang satu minggu di luar kota, karena rasa kasihannya terhadapku, maka dia berniat untuk menyekat rumahku untuk membuka tempat kost agar aku tidak merasa sendirian di rumah.

Mula-mula empat kamar tersebut kami kost-kan untuk cewek-cewek, ada yang mahasiswa ada pula yang karyawati. Aku sangat senang ada teman untuk ngobrol-ngobrol. Setiap suamiku pulang dari luar kota, pasti dibawakan oleh-oleh agar mereka tetap senang tinggal di rumah kami. Tetapi lama-kelamaan aku merasa makin tambah bising, setiap hari ada yang apel sampai larut malam, apalagi malam minggu, aduh bising sekali bahkan aku semakin iri pada mereka untuk kumpul bersama-sama satu keluarga. Begitu suamiku datang dari luar kota, aku menceritakan hal-hal yang tiap hari kualami, akhirnya kita putuskan untuk membubarkan tempat kost tersebut dengan alasan rumah mau kita jual. Akhirnya mereka pun pada pamitan pindah kost.

Bulan berikutnya kita sepakat untuk ganti warna dengan cara kontrak satu kamar langsung satu tahun khusus karyawan-karyawan dengan syarat satu kamar untuk satu orang jadi tidak terlalu pusing untuk memikirkan ramai atau pun pulang malam. Apalagi lokasi rumah kami di pinggir jalan jadi tetangga-tetangga pada cuek. Satu kamar diisi seorang bule berbadan gede, putih dan cakep. Untuk ukuran harga kamar kami langsung dikontan dua tahun dan ditambah biaya perawatan karena dia juga sering pulang malam.

Suatu hari suamiku datang dari luar kota, dia pulang membawa sebotol minuman impor dan obat penambah rangsangan untuk suami istri.

Suamiku bertanya, “Lho kok sepi-sepi aja, pada ke mana.”

“Semua pada pulang karena liburan nasional, tapi yang bule nggak, karena perusahaannya ada sedikit lembur untuk mengejar target”, balasku mesra.

Kemudian suamiku mengambil minumannya dan cerita-cerita santai di ruang tamu, “Nich sekali-kali kita reuni seperti di diskotik”, kata suamiku, “Aku juga membawa obat kuat dan perangsang untuk pasangan suami istri, ntar kita coba ya..”

Sambil sedikit senyum, kujawab, “Kangen ya.. emang cuman kamu yang kangen..”

Lalu kamipun bercanda sambil nonton film porno.

“Nich minum dulu obatnya biar nanti seru..” kata suamiku.

Lalu kuminum dua butir, suamiku minum empat butir.

“Lho kok empat sih.. nanti over lho”, kataku manja.

“Ach.. biar cepat reaksinya”, balas suamiku sambil tertawa kecil.

Satu jam berlangsung ngobrol-ngobrol santai di ruang tamu sambil nonton film porno, kurasakan obat tadi langsung bereaksi. Aku cuma mengenakan baju putih tanpa BH dan CD. Kita berdua duduk di sofa sambil kaki kita diletakkan di atas meja. Kulihat suamiku mulai terangsang, dia mulai memegang lututku lalu meraba naik ke pahaku yang mulus, putih dan seksi. Buah dadaku yang masih montok dengan putingnya yang masih kecil dan merah diraihnya dan diremasnya dengan mesra, sambil menciumiku dengan lembut, perlahan-lahan suamiku membuka kancing bajuku satu persatu dan beberapa detik kemudian terbukalah semua pelapis tubuhku.

“Auh..” erangku, kuraba batang kemaluan suamiku lalu kumainkan dengan lidah, kukulum semuanya, semakin tegang dan besar. Dia pun lalu menjilat klitorisku dengan gemas, menggigit-gigit kecil hingga aku tambah terangsang dan penuh gairah, mungkin reaksi obat yang kuminum tadi. Liang kewanitaanku mulai basah, dan sudah tidak kuat aku menahannya. “Ach.. Mas masukin yuk.. cepat Mas.. udah pingin nich..” sambil mencari posisi yang tepat aku memasukkan batang kemaluannya pelan-pelan dan, “Blesss..”, batang kemaluan suamiku masuk seakan membongkar liang surgaku. “Ach.. terus Mas.. aku kangen sekali..”, dengan penuh gairah entah kenapa tiba-tiba aku seperti orang kesurupan, seperti kuda liar, mutar sana mutar sini. Begitu pula suamiku semakin cepat gesekannya. Kakiku diangkatnya ke atas dan dikangkangkan lebar-lebar.

Perasaanku aneh sekali, aku seakan-akan ingin sekali diperkosa beberapa orang, seakan-akan semua lubang yang aku punya ingin sekali dimasuki batang kemaluan orang lain. Seperti orang gila, goyang sana, goyang sini sambil membayangkan macam-macam. Ini berlangsung lama sekali dan kita bertahan seakan-akan tidak bisa keluar air mani. Sampai perih tapi asik sekali. Sampai akhirnya aku keluar terlebih dahulu, “Ach.. Mas aku keluar ya… udah nggak tahan nich.. aduh.. aduh.. adu..h.. keluar tiga kali Mas”,, desahku mesra. “Aku juga ya.. ntar kamu agak pelan goyangnya.. ach.. aduh.. keluar nich..” Mani kental yang hangat banyak sekali masuk ke dalam liang kenikmatanku. Dan kini kita berada dalam posisi terbalik, aku yang di atas tapi masih bersatu dalam dekapan.

Kucabut liang kewanitaanku dari batang kemaluan suamiku terus kuoles-oleskan di mulut suamiku, dan suamiku menyedot semua mani yang ada di liang kewanitaanku sampai tetes terakhir. Kemudian kita saling berpelukan dan lemas, tanpa disadari suamiku tidur tengkurap di karpet ruang tamu tanpa busana apapun, aku pun juga terlelap di atas sofa panjang dengan kaki telentang, bahkan film porno pun lupa dimatikan tapi semuanya terkunci sepertinya aman.

Ketika subuh aku terbangun dan kaget, posisiku bugil tanpa sehelai benang pun tetapi aku telah pindah di kamar dalam, tetapi suamiku masih di ruang tamu. Akhirnya perlahan-lahan kupakai celana pendek dan kubangunkan suamiku. Akhirnya kami mandi berdua di kamar mandi dalam. Jam delapan pagi saya buatkan sarapan dan makan pagi bersama, ngobrol sebentar tentang permainan seks yang telah kami lakukan tadi malam. Tapi aku tidak bertanya tentang kepindahan posisi tidurku di dalam kamar, tapi aku masih bertanya-tanya kenapa kok aku bisa pindah ke dalam sendirian.

Sesudah itu suamiku mengajakku mengulangi permaina seks seperti semalam, mungkin pengaruh obatnya belum juga hilang. Aku pun disuruhnya minum lagi tapi aku cuma mau minum satu kapsul saja. Belum juga terasa obat yang kuminum, tiba-tiba teman suamiku datang menghampiri karena ada tugas mendadak ke luar kota yang tidak bisa ditunda. Yah.. dengan terpaksa suamiku pergi lagi dengan sebuah pesan kalau obatnya sudah bereaksi kamu harus tidur, dan aku pun menjawabnya dengan ramah dan dengan perasaan sayang. Maka pergilah suamiku dengan perasaan puas setelah bercinta semalaman.

Dengan daster putih aku kembali membenahi ruang makan, dapur dan kamar-kamar kost aku bersihkan. Tapi kaget sekali waktu membersihkan kamar terakhir kost-ku yang bersebelahan dengan kamar tidurku, ternyata si bule itu tidur pulas tanpa busana sedikit pun sehingga kelihatan sekali batang kemaluan si bule yang sebesar tanganku. Tapi aku harus mengambil sprei dan sarung bantal yang tergeletak kotor yang akan kucuci.

Dengan sangat perlahan aku mengambil cucian di dekat si bule sambil melihat batang kemaluan yang belum pernah kulihat secara dekat. Ternyata benar seperti di film-film porno bahwa batang kemaluan bule memang besar dan panjang. Sambil menelan ludah karena sangatlah keheranan, aku mengambil cucian itu.

Tiba-tiba si bule itu bangun dan terkejut seketika ketika melihat aku ada di kamarnya. Langsung aku seakan-akan tidak tahu harus berkata apa.

“Maaf tuan saya mau mengambil cucian yang kotor”, kataku dengan sedikit gugup.

“Suamimu sudah berangkat lagi?” jawabnya dengan pelan dan pasti. Dengan pertanyaan seperti itu aku sangat kaget. Dan kujawab, “Kenapa?”.

Sambil mengambil bantal yang ditutupkan di bagian vitalnya, si bule itu berkata, “Sebelumnya aku minta maaf karena tadi malam aku sangat lancang. Aku datang jam dua malam, aku lihat suamimu tidur telanjang di karpet ruang tamu, dan kamu pun tidur telanjang di sofa ruang tamu, dengan sangat penuh nafsu aku telah melihat liang kewanitaanmu yang kecil dan merah muda, maka aku langsung memindahkan kamu ke kamar, tapi tiba-tiba timbul gairahku untuk mencoba kamu. Mula-mula aku hanya menjilati liang kewanitaanmu yang penuh sperma kering dengan bau khas sperma lelaki. Akhirnya batang kemaluanku terasa tegang sekali dan nafsuku memuncak, maka dengan beraninya aku meniduri kamu.”

Dengan rasa kaget aku mau marah tapi memang posisi yang salah memang diriku sendiri, dan kini terjawablah sudah pertanyaan dalam benakku kenapa aku bisa pindah ke ruang kamar tidurku dan kenapa liang kewanitaanku terasa agak sakit

“Trus saya.. kamu apain”, tanyaku dengan sedikit penasaran

“Kutidurin kamu dengan penuh nafsu, sampai mani yang keluar pertama kutumpahkan di perut kamu, dan kutancapkan lagi batanganku ke liang kewanitaanmu sampai kira-kira setengah jam keluar lagi dan kukeluarkan di dalam liang kewanitaanmu”, jawab si bule.

“Oic.. bahaya nich, ntar kalo hamil gimana nich”, tanyaku cemas.

“Ya.. nggak pa-pa dong”, jawab si bule sambil menggandengku, mendekapku dan menciumku.

Kemudian dipeluknya tubuhku dalam pangkuannya sehingga sangat terasa batang kemaluannya yang besar menempel di liang kewanitaanku. “Ach.. jangan dong.. aku masih capek semalaman”, kataku tapi tetap saja dia meneruskan niatnya, aku ditidurkan di pinggir kasurnya dan diangkat kakiku hingga terlihat liang kewanitaanku yang mungil, dan dia pun mulai manjilati liang kewanitaanku dengan penuh gairah. Aku pun sudah mulai bernafsu karena pengaruh obat yang telah aku minum sewaktu ada suamiku.

“Auh.. Jhon.. good.. teruskan Jhon.. auh”. Satu buah jari terasa dimasukkan dan diputar-putar, keluar masuk, goyang kanan goyang kiri, terus jadi dua jari yang masuk, ditarik, didorong di liang kewanitaanku. Akhirnya basah juga aku, karena masih penasaran Jhon memasukkan tiga jari ke liang kewanitaanku sedangkan jari-jari tangan kirinya membantu membuka bibir surgaku. Dengan nafsunya jari ke empatnya dimasukkan pula, aku mengeliat enak. Diputar-putar hingga bibir kewanitaanku menjadi lebar dan licin. Nafsuku memuncak sewaktu jari terakhir dimasukkan pula.

“Aduh.. sakit Jhon.. jangan Jhon.. ntar sobek.. Jhon.. jangan Jhon”, desahku sambil mengeliat dan menolak perbuatannya, aku berusaha berdiri tapi tidak bisa karena tangan kirinya memegangi kaki kiriku. Dan akhirnya, “Blesss..” masuk semua satu telapak tangan kanan Jhon ke dalam liang kewanitaanku, aku menjerit keras tapi Jhon tidak memperdulikan jeritanku, tangan kirinya meremas payudaraku yang montok hingga rasa sakitnya hilang. Akhirnya si bule itu tambah menggila, didorong, tarik, digoyang kanan kiri dengan jari-jarinya menggelitik daging-daging di dalamnya, dia memutar posisi jadi enam sembilan, dia menyumbat mulutku dengan batang kemaluannya hingga aku mendapatkan kenikmatan yang selama ini sangat kuharapkan.

“Auch.. Jhon punyamu terlalu panjang hingga masuk di tenggorokanku.. pelan-pelan aja”, ucapku tapi dia masih bernafsu. Tangannya masih memainkan liang kewanitaanku, jari-jarinya mengelitik di dalamnya hingga rasanya geli, enak dan agak sakit karena bulu-bulu tangannya menggesek-gesek bibir kewanitaanku yang lembut. Ini berlangsung lama sampai akhirnya aku keluar.

“Jhon.. aku nggak tahan.. auch.. aouh.. aku keluar Jhon auch, aug.. keluar lagi Jhon..” desahku nikmat menahan orgasme yang kurasakan.

“Aku juga mau keluar.. auh..” balasnya sambil mendesah.

Kemudian tangannya ditarik dari dalam liang kewanitaanku dan dia memutar berdiri di tepi kasur dan menarik kepalaku untuk mengulum kemaluannya yang besar. Dengan sangat kaget dan merasa takut, kulihat di depan pintu kamar ternyata suamiku datang lagi, sepertinya suamiku tidak jadi pergi dan melihat peristiwa itu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, kupikir sudah ketahuan, telanjur basah, aku takut kalau aku berhenti lalu si bule tahu dan akhirnya bertengkar, tapi aku pura-pura tidak ada sesuatu hal pun, si bule tetap kukulum sambil melirik suamiku, takut kalau dia marah.

Tapi ternyata malah suamiku melepas celana dan mendekati kami berdua yang sudah tengang sekali, mungkin sudah menyaksikan kejadian ini sejak tadi. Dan akhirnya si bule kaget sekali, wajahnya pucat dan kelihatan grogi, lalu melepas alat vitalnya dari mulutku dan agak mudur sedikit. Tapi suamiku berkata, “Terusin aja nggak pa-pa kok, aku sayang sama istriku.. kalau istriku suka begini.. ya terpaksa aku juga suka.. ayo kita main bareng”. Akhirnya semua pada tersenyum merdeka, dan tanpa rasa takut sedikit pun akhirnya si bule disuruh tidur telentang, aku tidur di atas tubuh si bule, dan suamiku memasukkan alat vitalnya di anusku, yang sama sekali belum pernah kulakukan. Dengan penuh nafsu suamiku langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam anusku. Karena kesulitan akhirnya dia menarik sedikit tubuhku hingga batang kemaluan si bule yang sudah masuk ke liang kewanitaanku terlepas, suamiku buru-buru memasukkan batang kemaluannya ke liang kewanitaanku yang sudah basah, di goyang beberapa kali akhirnya ikut basah, dan dicopot lagi dan dimasukkan ke anusku dan.. “Blesss..”, batang kemaluan suamiku menembus mulus anusku. “Aduh.. pelan-palan Mas..”, seruku.

Kira-kira hampir setengah jam posisi seperti ini berlangsung dan akhirnya suamiku keluar duluan, duburku terasa hangat kena cairan mani suamiku, dia menggerang keenakan sambil tergeletak melihatku masih menempel ketat di atas tubuh si bule. Akhirnya si bule pun pindah atas dan memompaku lebih cepat dan aku pun mengerang keenakan dan sedikit sakit karena mentok, kupegang batang kemaluan si bule yang keluar masuk liang kewanitaanku, ternyata masih ada sisa sedikit yang tidak dapat masuk ke liang senggamaku. Suamiku pun ikut tercengang melihat batang kemaluan si bule yang besar, merah dan panjang. Aku pun terus mengerang keasyikan, “Auh.. auh.. terus Jhon.. auh, keluarin ya Jhon..”

Akhirnya si bule pun keluar, “Auch.. keluar nich..” ucapnya sambil menarik batang kemaluannya dari liang kewanitaanku dan dimasukkan ke mulutku dan menyembur juga lahar kental yang panas, kutelan sedikit demi sedikit mani asin orang bule. Suamiku pun ikut menciumku dengan sedikit menjilat mani orang asing itu. Kedua lelaki itu akhirnya tersenyum kecil lalu pergi mandi dan tidur siang dengan puas. Sesudah itu aku menceritakan peristiwa awalnya dan minta maaf, sekaligus minta ijin bila suatu saat aku ingin sekali bersetubuh dengan si bule boleh atau tidak. “Kalau kamu mau dan senang, ya nggak apa-apa asal kamu jangan sampai disakiti olehnya”. Sejak saat itupun bila aku ditinggal suamiku, aku tidak pernah merasa kesepian. Dan selalu dikerjain oleh si bule.

Judul: Asmirandah : The Lost of Innocence

Author : Hidden , Category: Artis

Malam itu, Asmirandah baru saja hendak beristirahat sepulang sekolah ketika ada ketukan dipintu rumahnya. Ia pun bergegas membukakan pintu. Ternyata bang Tagor yang ada didepan pintu.

“Eh bang Tagor, ada apa bang?”

“Gini Dah, pak Mardi minta non segera ke tempat syuting, katanya shoot kemarin ada beberapa adegan yang harus diulang” kata bang Tagor

“Tapi sekarang kan Andah libur bang, Andah mau istirahat” jawabnya sedikit kesal.

“Tapi mau gimana lagi, sinetron ini kan kejar tayang, jadi harus dibereskan secepatnya, lagian adegannya gak banyak kok” kata bang Tagor

“Ya udah, kalo gitu Andah mau panggil mama dulu buat nganter ke tempat syuting”

“Gak usah non, biar bang Tagor yang nganter, nanti aja mama non Andah suruh jemput kalo syutingnya sudah selesai”

“Ya udah, tunggu yah, mau siap-siap dulu” kata Andah sambil bergegas

Setelah bersiap-siap dan berpamitan pada mamanya, Asmirandah pun berangkat ke tempat syuting diantar bang Tagor, yang memang sudah dipercaya baik olehnya maupun mamanya.

Tetapi ketika sampai ke tempat syuting, Asmirandah merasa aneh karena kru yang terlihat amat sedikit, hanya 4 orang ditambah pak Mardi sang sutradara. Apalagi tak ada satupun cast sineton itu yang terlihat di lokasi.

“kok cuman sedikit orangnya pak?” tanyanya

“Yah kan syutingnya cuman sebentar jadi gak perlu banyak orang, udah deh kamu siap-siap, tapi make up sendiri aja yah, soalnya Mince telat nih” jawab pak Mardi.

Asmirandah pun lalu memasuki rumah besar yang dijadikan tempat syuting itu. Didalam kamar yang dijadikan ruang ganti pakaian, dia pun lalu berganti pakaian dengan baju yang telah disiapkan, ternyata baju yang disiapkan adalah baju seragam sekolah yang amat minim, iapun lalu memakai seragam itu dan berjalan keluar. Belum sampai keluar rumah, diruang tamu telah menunggu Bang Tagor.

“Ayo Dah syutingnya di kamar tidur utama”, kata bang Tagor

Dea pun mengikuti ke arah kamar tidur utama yang sangat luas, didalamnya tampak kamera, lighting, dan peralatan tata suara telah diset.

“Tapi ini adegan yang mana? Terus mana pemain yang lain” tanya Asmirandah

“Pokoknya kamu duduk dulu diatas ranjang, terus memandang ke kamera” jawab pak Mardi, sementara keempat orang kru, pak Mardi dan bang Tagor semua menatap sebagian paha Asmirandah yang terpampang mulus dengan tatapan yang membuatnya risih.

Ia pun mendapat firasat yang kurang enak, namun dia akhirnya menuruti perkataan sang sutradara. Namun baru saja pantatnya menyentuh ujung tempat tidur, tampak dua orang kru yaitu Heri dan Pardi menghampiri Andah, tampak banyak bicara, mereka mengerubuti dan memegangi kedua tangannya.

“Ada apa ini, lepasin!” teriak Andah sekuat tenaga

Namun bukannya menjawab, mereka malah mengikat kedua tangan dan kaki Asmirandah Dengan tali keujung ranjang besi tersebut, sehingga kedua tangan dan kakinya terpentang lebar membentuk huruf X. Ikatan itu sungguh ketat, sehingga jangankan melepasan diri, untuk bergerak saja sudah sulit.

“Pak Mardi ada apa ini?” tanya Andah yang mulai ketakutan.

“Tenang aja Dah, kami-kami ini sudah lama punya niat untuk membuat film spesial buat kamu, daripada kamu main sinetron remaja terus, mendingan kamu bikin film bokep aja, nama kamu pasti bakal makin terkenal” jawab pak Mardi sambil terkekeh.

Pucatlah muka Andah mendengar jawaban ini, ia tahu petaka apa yang bakal menimpanya.

“Tolong pak jangan, saya belum pernah gituan” ibanya

Tetapi bukannya menjawab, para kru justru malah menjalankan kamera dan lampu dan mulai menshoot adegan didepannya. Asmirandah melihat Heri dan Pardi yang telah telanjang bulat mulai menaiki kasur ukuran besar tersebut.

Dia merasa ngeri, baru kali ini ia melihat tubuh pria dewasa yang telanjang. Heri dan Pardi pun memulai operasinya. Tangan Heri mulai membuka kancing seragamnya satu persatu, dan begitu tebuka, iapun menggunting kaos dalam dan BH yang dikenakan Andah dan melepasnya dengan paksa, hingga yang menutupi tubuh bagian atasnya hanyalah seragam yang telah tersingkap lebar. Sementara Pardi menyingkap rok seragam Asmirandah hingga ke perut, dan membelai-belai vagina Andah dari luar celana dalam warna biru yang ia pakai. Kemudian jari-jari tanganya bagaikan ular menyelusup dari samping celana dalamnya dan mengelus-elus bibir vagina Andah.

“waah, toketnya montok banget, kenceng banget lagi, padahal masih cilik”, komentar Heri yang tepat berada di depan payudara kanan Andah.

“Iya nih, udah cantik, toketnya sekel banget, udah gitu putih banget “, tambah si Pardi.

Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Heri langsung menghisap payudara kanan, sedangkan Pardi menghisap payudara kiri Asmirandah. Asmirandah terus meonta-ronta berusaha melepaskan diri, iapun berusaha berteriak, namun Heri segera membenamkan sapu tangan kedalam mulutnya dan membekapnya. Andi, salah seorang kru mendekat, ia meraih gunting yang tadi digunakan Heri, dan mulai menggunting celana dalam Andah yang masih ia kenakan. Karena kedua kaki Andah terentang lebar, begitu ia selesai menggunting celananya, terpampanglah vagina yang merekah berwarna merah muda. Vagina itu tampak begitu menggoda, dan ditumbuhi bulu-bulu halus yang masih jarang, sehingga semua orang yang ada di ruangan itu menelah ludah memandangnya. Pak Mardi pun menshoot close up kearah vagina Asmirandah, sehingga di monitor di samping kamera yang sengaja diletakkan menghadap ke arah ranjang, Andah bisa melihat bagaimana vaginanya di close up dan di rekam oleh pak Mardi.’

“Denger yah, kalo kamu macem- macem rekaman ini bakal saya sebarin di internet, jadi mendingan kamu turuti saja semua perintah kami” bentak Tagor dari belakang lampu.

Asmirandah pun mulai menangis, jika rekaman ini sampai tersebar, bukan hanya karirnya yang akan hancur, tetapi juga nama baiknya dan keluarganya akan hancur berantakan, mau ditaruh dimana muka ini. Sehingga dia pun lalu mengangguk menurutinya.

Melihat korbannya pasrah, Heri dan Pardi lalu membuka semua ikatan pada tangan dan kaki Andah, dan mengambil saputangan dari mulutnya, merekapun lalu membuka semua sisa pakaiannya, hingga ia telanjang bulat diatas kasur. Heri dan Pardi lalu melanjutkan kegiatannya, sementara Andi yang juga sudah telanjang bulat, mendekati vagina Andah, Kedua tangganya lalu membuka kedua kaki Andah lebar-lebar, dan menguak bibir vaginanya hingga bagian dalam vaginanya merekah dan terlihat. Pak Mardi tak menyia-yiakankan dan terus menshoot vaginanya.

“Gila bagus banget nih memek, baru kali ini gue ngeliat memek sebagus ini” kata Andi yang mulai menggosok-gosok bibir vagina Andah, hingga artis cantik yang merasakan serasangan dari berbagai arah ini mulai mendesah tak terkontrol.

Andi pun mulai sedikit memasukan jarinya kedalam vagina Asmirandah hingga membuatnya mendesah dan mengangkat selangkangannya kearah tangan Andi.

“Wuih liat men, dia kayaknya demen nih” ejek Andi.

Merah kuping Andah mendengar ejekan ini, namun tiba-tiba mulut Pardi langsung mencium mulutnya dan lidahnya menyeruak masuk kedalam mulutnya, sementara remasan tangannya pada payudara Andah makin mengeras, sedotan Heri pun makin kencang. Andi pun yang sudah tidak tahan langsung menjilati vagina Asmirandah dengan semangat. Belum pernah ia merasakan ciuman seperti ini sebelumnya, apalagi diserang oleh berbagai rangangan ini, membuatnya mau tak mau harus mengakui bahwa ia menikmati semua perlakuan ini.

Tak lama Pardi bangkit dan menyodorkan penisnya kemulut sang artis.

“Isep Dah” perintah Pardi

Sejenak ia hanya menatap ngeri melihat penis Pardi yang berdenyut-denyut, belum pernah Ia melihat penis orang dewasa sebelumnya, karena ragu-ragu, Pardi yang sudah tidak sabar langsung menghujamkan penisnya yang gemuk kedalam mulut Andah. Artis muda cantik yang telah terangsang berat karena jilatan-jilatan lidah Andi pada vaginanya mulai menghisap penis Pardi seperti menghisap eskrim, sehingga Pardi pun merem melek keenakan dan memaju-mundurkan pantatnya, seperti orang yang sedang mengentot. Asmirandah merasakan kepalanya mulai terasa ringan, apalagi ketika lidah andi menerobos masuk kedalam vaginanya dan mengobok-oboknya. Sehingga ia merasakan sensasi yang tak pernah dirasakan sebelumnya, dan cairanpun membanjir dari vaginanya, ternyata ia telah merasakan orgasme untuk pertama kalinya, tubuhnya terasa enak luar biasa. Tapi ia terus melanjutkan hisapannya pada penis Pardi, bahkan menyelinginya dengan jilatan-jilatan.

“Gila men, isapannya, ternyata dia ahli ngisep kontol” ejek Pardi

Andah tak mempedulikan ejekan itu dan terus menghisap, hingga akhirnya ia merasakan tubuh Pardi bergetar dan tak lama kemudian ia merasakan semburan cairan dalam mulutnya. Cairan itu tersa aneh, asin, gurih dan hangat, Andah pun menelannya dan ternyata ia menyukai rasanya, sehingga ia pun terus menyedot penis Pardi untuk menghisap cairan yang mungkin masih tersisa, hal ini membuat Pardi makin kelojotan.

Pak Mardi yang tidak tahan melihat semua ini segera membuka semua pakaiannya dan naik keatas kasur dan memposisikan dirinya diantara kedua kaki sang artis yang mengangkang.

“Awas, gue duluan yang memerawaninya, kan gua sutradaranya!” teriak pak Mardi

Iapun lalu menyangkutkan kedua betis Andah ke bahunya yang lebar sambil mengarahkan penisnya ke vagina artis cantik yang baru berusia berusia 18 tahun itu.

“Pak, tolong jangan, jangan dimasukkin pak” pintanya.

Memang meskipun pernah beberapa kali pacaran, ia belum pernah sampai berhubungan seks, apalagi sekarang ini, Andah lebih berkonsentrasi untuk membangun karirnya, daripada pacaran.

“Tenang aja Dah, yang penting enak kan” jawab Pak Mardi yang disambut tawa mereka.

Perlahan-lahan sutradara itu mulai menancapkan penisnya pada vagina Andah, namun sulit karena vagina yang masih perawan, terlalu sempit untuk menerima penis sebesar itu. Sementara Heri dan Pardi melotot menyaksikan bagaimana si sutradara gendut separuh baya itu memerawani sang artis cantik yang masih amat muda. Akhirnya Asmirandah merasakan sesuatu yang besar menyeruak kedalam vaginanya. Iapun hampir menjerit karena pedih dan sakit, namun pagutan Heri membungkamnya. Dia merasakan penis itu berdenyut-denyut dalam memeknya, yang dipaksa untuk membuka selebar-lebarnya,selangkangannya seakan terbelah dua.

“Tenang yah non, sakitnya cuman sebentar kok” kata pak Mardi.

Asmirandah mengeluarkan jeritan yang keras sekali, ketika perlahan batang penis Pak Mardi membuka bibir kemaluan, dan masuk senti demi senti tanpa berhenti. Kadang ia menarik sedikit batang kemaluannya untuk kemudian didorongnya lebih dalam lagi ke dalam vaginanya

.

Setelah terasa terbiasa, ia mulai memaju mundurkan penisnya dengan perlahan. Dengan menahan rasa sakit, Andah menatap penis pak Mardi yang keluar masuk vaginanyanya, disertai sedikit darah perawan. Tak lama kemudian, pak Mardi mempercepat genjotannya, Andah pun merasakan sedikit nikmat, namun rasa perih masih menguasai, hingga pun menjerit -jerit dan menitikkan air mata. Sementara itu, Heri naik dan mendekati wajah Andah sambil mengelus-elus wajahnya dengan batang kemaluannya. Mulai dari dahi, pipi kemudian turun ke bibir. Andah menggeleng-gelengkan kepalanya agar tidak bersentuhan dengan batang kemaluan Heri yang hitam.

“Ayo dong manis, buka mulut kamu”, kata Heri sambil meletakkan batang kemaluannya di bibir Andah.

“Kamu belum pernah ngerasain punya gue kan?Buka mulut kamu, brengsek!” bentaknya ketika melihat Asmirandah tak bereaksi.

Perlahan mulut Asmirandah terbuka sedikit, dan Heri pun langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut yang indah tersebut. Mulut Asmirandah terbuka agar semua batang penis itu masuk ke dalam mulutnya. Batang kemaluan itupun mulai bergerak keluar masuk di mulutnya,.

“Sedot…iyah gitu…ohhh !” lenguhnya sambil meremas rambut gadis itu.

Ketika Pak Mardi masih terus menggenjotnya, Pardi dan Andi ikut menikmati tubuh Andah dengan mencubit, meremas, meraba, mengisap, mengigit, menjilat dan menciumi seluruh tubuh indah Asmirandah. Mereka mulai dengan memainkan buah dada dan mengisapi puting susunya, tangan-tangan mereka juga menarik-narik puting susunya. Mau tak mau, Andah mulai merasakan nikmat, sehingga jeritannya berubah mennjadi erangan tak jelas.

Lima menit kemudian penis Heri menumpahkan lahar panas di dalam mulut Andah.

“Uuggghh…asyiknya!,” lenguh Heri sambil menekan dalam-dalam penisnya yang menyemburkan sperma.

“Anjing, sip banget nyepongnya, sampai gak tahan lama gue” katanya lagi.

Ketika Heri menarik batang kemaluannya terlihat ada cairan yang keluar dari batang kemaluannya.

“Julurin lidah kamu!” perintahnya

Asmirandah yang sudah setengah sadar kerana merasakan kenikmatan yang amat sangat, membuka mulutnya dan mengeluarkan lidahnya. Heri kemudian memegang batang kemaluannya dan mengusapkan kepala batang kemaluannya ke lidah Andah, membuat cairan kental yang keluar tadi menempel ke lidah Andah. Saat itu, tiba-tiba Pak Mardi yang sedang menggenjot vagina Andah berteriak

“Ngentot!! Keluuarrhh nih…Aaahhh!” Ia tidak menarik batang kemaluannya keluar dari vagina Andah, batang kemaluannya tampak bergetar berejakulasi, menyemprotkan sperma masuk ke dalam rahim sang artis remaja. Andah berontak ketika menyadari sperma Pak Mardi mengalir masuk ke rahimnya.

“Pak Jangan keluarin didalam! Nanti saya hamil” Ibanya bercucuran air mata

“Ya udah, lain kali kita keluarin dalam mulut lu aja” timpal Andi sambil tertawa-tawa

Andi sekarang ada di antara kaki Andah dan mulai mendorong batang kemaluannya masuk ke liang vagina yang merekah indah itu. Terlihat sekali dengan susah payah batang kemaluan Andi yang besar itu membuka bibir kemaluan Andah yang masih sempit.

Setelah seluruh penisnya masuk dengan sempurna, ia kemudian memegang pinggul Andah dan berguling kesamping, sehingga tubuh Andah menindih tubuhnya. Sementara bang Tagor yang dari tadi hanya menonton sambil mengoperasikan kamera, mulai bergabung. Ia mengacungkan batang kemaluannya ke mulut Andah.

“Dah tau kan non mesti gimana.” dengan kasar ia mendorong batang kemaluannya masuk ke mulut Andah, sampai akhirnya batang kemaluan itu masuk seluruhnya hingga sekarang testisnya berada di wajah Asmirandah.

Tiba-tiba, ia merasakan ada jari yang mengorek-orek anusnya, ketika ia menoleh, ia melihat Pardi yang meludahi lubang anusnya. Asmirandah tersadar apa yang akan dilakukan Pardi pada dirinya, ketika dirasanya batang penis Pardi mulai menempel di lubang anusnya.

“Jangan Bang, jangan! Ampun Bang, ampun, jangan…”

Asmirandah menjerit-jerit ketika kepala batang penis itu berhasil memaksa masuk ke liang anusnya. Wajahnya pucat merasakan sakit yang amat sangat ketika batang kemaluan itu mendorong masuk ke liang anusnya yang kecil. Pardi hanya mendengus-dengus berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anus Andah tanpa peduli jerit kesakitan gadis itu. Perlahan, senti demi senti batang kemaluan itu tenggelam masuk ke anus Andah. Hingga akhirnya seluruh batang penis itu masuk, Andah hanya bisa merintih dan mengerang kesakitan merasakan benda besar yang sekarang masuk ke dalam anusnya.

Pardi beristirahat sejenak, beradaptasi sebelum mulai bergerak keluar masuk. Kembali Andah menjerit-jerit, bahkan kenikmatan yang ia rasakan dari genjotan Andi pada liang vaginanya, tidak bisa meredam rasa sakit yang ia rasakan pada anusnya.. Pardi terus bergerak tanpa belas kasihan. Batang kemaluannya bergerak keluar masuk dengan cepat, membuat testisnya menampar-nampar pantat sang artis. Jadilah tubuh seksi dan putih itu digarap dari tiga arah, oleh Andi, Bang Tagor, dan Pardi. Setelah beberapa menit, Andah sudah mulai dapat merasakan kenikmatan dari penis-penis itu dan secara tidak sadar mulai menggoyangkan pinggulnya.

Mulanya Andah digenjot secara perlahan-lahan, akan tetapi kecepatannya terus ditingkatkan sehingga sampai suatu titik tertentu yang dapat membuat perasaannya terbang ke langit karena nikmatnya. Hal ini berlangsung selama 15 menit, hingga akhirnya Pardi mencapai orgasme ia menarik batang kemaluannya dan sperma menyemprot keluar menyembur ke punggung Andah, kemudian menyembur ke pantat dan mengalir turun ke pahanya. Setelah beberapa lama, Andah merasakan tubuh Andi mengejang dan erangan nikmat keluar dari mulutnya. Sperma laki-laki itu menyembur masuk sebanyak-banyaknya ke dalam lubang vaginanya. Sambil terengah-engah ia menarik batang kemaluannya yang berlumur sperma dan darah perawan keluar dari tubuh Andah.

Sebelum artis muda itu sempat menarik nafas, Heri mengambil giliran selanjutnya dan dengan kasar ia juga mendorong batang kemaluannya masuk ke liang anus Andah yang masih meneteskan sperma. Heri kemudian menarik tubuhnya hingga Asmirandah terbaring telentang menindih tubuh Heri. Rasa sakit itu sekarang sudah berkurang tapi tetap menyakitkan sementara Heri tanpa peduli terus mendorong dan menarik batang kemaluannya. Andah memejamkan matanya berharap ia dapat mengurangi rasa sakit dan ngilu yang menyerang seluruh tubuhnya.

Sementara Bang Tagor yang masih belum orgasme, berjongkok di hadapan Andah, batang kemaluannya sudah tegang dan keras ketika ia tersenyum menyeringai pada si artis, ia lalu mengarahkan batang penisnya ke belahan vagina yang terpampang indah didepannya. Dengan satu dorongan keras batang kemaluan itu merobek masuk ke lubang vagina. Tubuh Andah terasa tersobek-sobek menerima sodokan dari dua arah itu. Terutama ketika batang kejantanan itu masuk ke dalam lubang anusnya yang kering dan sempit. Penis yang bergerak keluar masuk itu terasa seperti besi panas yang membuat nafasnya terputus-putus. Hal ini membuatnya menjerit kecil karena merasa sakit dan nikmat sekaligus. Asmirandah pun mulai meracau, “Ahh…, ahh…, oh…, oh…,” Inginnya ia menjerit nikmat, tapi mana mungkin ia mengaku bahwa ia mulai menikmati perkosaan itu.

Mulutnya tidak berhenti-henti mengeluarkan suara erangan nikmat dan juga kata-kata yang menggambarkan kenikmatan yang tiada tara. Melihat si artis cantik yang sudah seperti orang yang kerasukan setan nikmat itu, semua orang yang ada di ruangan itu tertawa terbahak-bahak.

“Gila, keenakan dia”

“Tau nih, tadinya pura-pura gak mau,sekarang malah ketagihan”

“Gue yakin abis ini dia malah bakal minta kita buat ngentotin dia!”

“Dasar artis, di depan aja sok alim, sok imut, padahal kalau udah gini sama aja sama perek!”

Kata kata yang entah diucapkan oleh siapa itu membuat kuping Andah terasa panas. Tapi mau bagaimana lagi, memang itu yang terjadi kok. Andah bahkan mulai melingkarkan tangannya ke leher Bang Tagor yang ada di atas tubuhnya dan menariknya mendekat, lalu menciumi bibir laki-laki itu tanpa canggung. Ia juga melingkarkan kakinya ke tubuh laki-laki itu. Selain itu, Andah juga melingkarkan dan mengunci kakinya ke pantat dan menariknya hingga penis Bang Tagor itu masuk lebih dalam ke dalam vaginanya, dibarengi olehnya dengan mengangkat pinggulnya. Sebelah tangan Andah mengusapi rambut Bang Tagor itu sementara yang lainnya merabai pundak dan punggungnya. Ia menciumi dan mengulum lidah laki-laki itu sembari mengeluarkan erangan, ia benar -benar telah menikmati semuanya, naluri seks dalam dirinya telah bekerja sedemikian hebat membuatnya lupa akan rasa malu dan harga dirinya. Beberapa menit kemudian jeritan Andah hanya tinggal erangan dan rintihan tapi genjotan bang Tagor bukannya berhenti tapi justru bergerak makin cepat. Tak lama kemudian, Bang Tagor menarik penisnya hingga hampir terlepas dari jepitan vagina Andah, ia mengerang dan maju mendorong ke depan sekuat tenaga.

Kepala Asmirandah terdongak dan lenguhan keras terdengar panjang keluar dari mulutnya. Bang Tagor mengejang beberapa saat dan bergerak beberapa kali, dan penisnya menyemburkan sperma ke dalam vagina si artis cantik.

“Uuggghh…asyiknya!” lenguh Bang tagor sambil menekan dalam-dalam penisnya yang menyemburkan sperma.

Heri pun akhirnya tak tahan juga, penisnya serasa diremas kuat oleh dinding anus yang bergerinjal-gerinjal dan sempit itu. Penisnya memuntahkan sperma hangat ke dalam pantat artis muda itu, ia menekan dalam-dalam penis itu selama mengeluarkan isinya hingga akhirnya penisnya menyusut lalu ditariknya lepas. Asmirandah sekarang tergeletak tak bergerak di atas ranjang dengan sperma mengalir keluar dari vagina dan anusnya. Tubuhnya kesakitan seperti baru saja dipukuli. Ia mengerang lirih ketika dua orang menarik tangannya dan melemparkan bajunya.

“Wuih makasih banget yang Dah, udah mau ngelayanin kita semua. Tenang aja, nih rekaman gak bakal kemana-mana kok, asal kamu juga mau tutup mulut soal semua ini.” kata Pak Mardi sambil tersenyum.

Tanpa menjawab, Asmirandah memakai kembali semua pakaian, yang ia pakai ke tempat syuting. Minus BH dan celana dalamnya yang telah digunting oleh para pemerkosanya. Sambil menahan isak tangis, ia berjalan keluar dari rumah tersebut, diiringi senyuman para kru sinetron bejat yang baru saja menggarap tubuhnya habis-habisan.

Diluar, masih ada seorang kru yang tidak ikut memperkosanya, namanya Fandi.

“Non Andah, maafin saya yah, gak bisa bantu. Saya udah coba mencegahnya, tapi saya diancam akan dipecat dan dibunuh kalo saya coba melapor” katanya sedih sambil membantu Asmirandah berjalan kearah mobil dinas PH tersebut.

“Sini non, saya anter pulang ke rumah” kata Fandi sambil membuka pintu belakang mobil tersebut

Asmirandah pun naik kedalam mobil berlogo tersebut, ia tidak bicara apa-apa karena pikirannya masih berkecamuk, antara sedih, marah, dendam, tapi anehnya ketika mengingat semua peristiwa yang baru saja terjadi itu, tanpa sadar sebuah senyum terpampang diwajahnya. Ia menyeka vaginanya yang hanya ditutupi oleh rok pendeknya sambil mencoba merasakan kenikmatan yang baru saja ia alami di sekujur tubuhnya.

Terasa benar ada cairan kental yang hangat dan sedikit gatal menggelitik memenuhi vaginanya. Ia menggerakkan tangan untuk menyeka bibir vagina itu dan tangannya pun langsung dipenuhi dengan cairan kental berwarna putih susu yang berlepotan di sana. Tanpa sadar ia kemudian memasukkan jemarinya tersebut kedalam mulutnya, dan merasakan sperma dari beberapa lelaki yang barus saja menggarapnya itu.

“ehhm, enakk…” desahnya dalam hati.

Sepertinya lain kali, ia tidak perlu dipaksa untuk melakukan gangbang lagi. Bahkan dengan senang hati akan melakukannya. Mobil itupun terus berjalan menembus malam, menuju rumah sang artis Asmirandah. Sejak itulah Asmirandah mulai menjadi budak seks Pak Mardi, Bang Tagor dan kru-kru lainnya. Pak Mardi bahkan bertindak sebagai germo yang menjualnya dengan harga tinggi ke para eksekutif dan pejabat-pejabat tinggi. Namun di depan publik, Andah tetaplah Andah yang memiliki imej sebagai cewek imut, alim, dan innocent, karirnya pun makin melesat dan mulai merambah layar lebar.

Judul: Saya Seorang Istri yang Dirayu

Author : Hidden , Category: Pesta Sex

Nama saya Diana. Saya sedang bingung sekali saat ini. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Karenanya saya akan mencoba menceritakan sedikit pengalaman hidup saya yang baru saya hadapi baru-baru ini.

Saya berumur 27 tahun. Saya sudah berkeluarga dan sudah mempunyai anak satu. Saya menikah dengan seorang pria bernama Niko. Niko adalah suami yang baik. Kami hidup berkecukupan. Niko adalah seorang pengusaha yang sedang meniti karir.

Karena kesibukannya, dia sering pergi keluar kota. Dia kasihan kepada saya yang tinggal sendiri dirumah bersama anak saya yang berusia 2 tahun. Karenanya ia lantas mengajak adiknya yang termuda bernama Roy yang berusia 23 tahun untuk tinggal bersama kami. Roy adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di sebuah PTS. Kehidupan rumah tangga saya bahagia, hingga peristiwa terakhir yang saya alami.

Selama kami menikah kehidupan seks kami menurut saya normal saja. Saya tidak tahu apa yang dimaksud dengan orgasme. Tahulah, saya dari keluarga yang kolot. Memang di SMA saya mendapat pelajaran seks, tetapi itu hanya sebatas teori saja. Saya tidak tahu apa yang dinamakan orgasme.

Saya memang menikmati seks. Saat kami melakukannya saya merasakan nikmat. Tetapi tidak berlangsung lama. Suami saya mengeluarkan spermanya hanya dalam 5 menit. Kemudian kami berbaring saja. Selama ini saya sangka itulah seks. Bahkan sampai anak kami lahir dan kini usianya sudah mencapai dua tahun. Dia seorang anak laki-laki yang lucu.

Di rumah kami tidak mempunyai pembantu. Karenanya saya yang membersihkan semua rumah dibantu oleh Roy. Roy adalah pria yang rajin. Secara fisik dia lebih ganteng dari suami saya. Suatu ketika saat saya membersihkan kamar Roy, tidak sengaja saya melihat buku Penthouse miliknya. Saya terkejut mengetahui bahwa Roy yang saya kira alim ternyata menyenangi membaca majalah ‘begituan’.

Lebih terkejut lagi ketika saya membaca isinya. Di Penthouse ada bagian bernama Penthouse Letter yang isinya adalah cerita tentang fantasi ataupun pengalaman seks seseorang. Saya seorang tamatan perguruan tinggi juga yang memiliki kemampuan bahasa Inggris yang cukup baik.

Saya tidak menyangka bahwa ada yang namanya oral seks. Dimana pria me’makan’ bagian yang paling intim dari seorang wanita. Dan wanita melakukan hal yang sama pada mereka. Sejak saat itu, saya sering secara diam-diam masuk ke kamar Roy untuk mencuri-curi baca cerita yang ada pada majalah tersebut.

Suatu ketika saat saya sibuk membaca majalah itu, tidak saya sadari Roy datang ke kamar. Ia kemudian menyapa saya. Saya malu setengah mati. Saya salting dibuatnya. Tapi Roy tampak tenang saja. Ketika saya keluar dari kamar ia mengikuti saya.

Saya duduk di sofa di ruang TV. Ia mengambil minum dua gelas, kemudian duduk disamping saya. Ia memberikan satu gelas kepada saya. Saya heran, saya tidak menyadari bahwa saya sangat haus saat itu. Kemudian ia mengajak saya berbicara tentang seks. Saya malu-malu meladeninya. Tapi ia sangat pengertian. Dengan sabar ia menjelaskan bila ada yang masih belum saya ketahui.

Tanpa disadari ia telah membuat saya merasa aneh. Excited saya rasa. Kini tangannya menjalari seluruh tubuh saya. Saya berusaha menolak. Saya berkata bahwa saya adalah istri yang setia. Ia kemudian memberikan argumentasi bahwa seseorang baru dianggap tidak setia bila melakukan coitus. Yaitu dimana sang pria dan wanita melakukan hubungan seks dengan penis pada liang kewanitaan.

Ia kemudian mencium bagian kemaluan saya. Saya mendorong kepalanya. Tangannya lalu menyingkap daster saya, sementara tangan yang lain menarik lepas celana dalam saya. Ia lalu melakukan oral seks pada saya. Saya masih mencoba untuk mendorong kepalanya dengan tangan saya. Tetapi kedua tangannya memegang kedua belah tangan saya. Saya hanya bisa diam. Saya ingin meronta, tapi saya merasakan hal yang sangat lain.

Tidak lama saya merasakan sesuatu yang belum pernah saya alami seumur hidup saya. Saya mengerang pelan. Kemudian dengan lembut menyuruhnya untuk berhenti. Ia masih belum mau melepaskan saya. Tetapi kemudian anak saya menangis, saya meronta dan memaksa ingin melihat keadaan anak saya. Barulah ia melepaskan pegangannya. Saya berlari menemui anak saya dengan beragam perasaan bercampur menjadi satu.

Ketika saya kembali dia hanya tersenyum. Saya tidak tahu harus bagaimana. Ingin saya menamparnya kalau mengingat bahwa sebenarnya ia memaksa saya pada awalnya. Tetapi niat itu saya urungkan. Toh ia tidak memperkosa saya. Saya lalu duduk di sofa kali ini berusaha menjaga jarak. Lama saya berdiam diri.

Ia yang kemudian memulai pembicaraan. Katanya bahwa saya adalah seorang wanita baru. Ya, saya memang merasakan bahwa saya seakan-akan wanita baru saat itu. Perasaan saya bahagia bila tidak mengingat suami saya. Ia katakan bahwa perasaan yang saya alami adalah orgasme. Saya baru menyadari betapa saya telah sangat kehilangan momen terindah disetiap kesempatan bersama suami saya.

Hari kemudian berlalu seperti biasa. Hingga suatu saat suami saya pergi keluar kota lagi dan anak saya sedang tidur. Saya akui saya mulai merasa bersalah karena sekarang saya sangat ingin peristiwa itu terulang kembali. Toh, ia tidak berbuat hal yang lain.

Saya duduk di sofa dan menunggu dia keluar kamar. Tapi tampaknya dia sibuk belajar di kamar. Mungkin dia akan menghadapi mid-test atau semacamnya. Saya lalu mencari akal supaya dapat berbicara dengannya. Saya kemudian memutuskan untuk mengantarkan minuman kedalam kamar.

Disana ia duduk di tempat tidur membaca buku kuliahnya. Saya katakan supaya dia jangan lupa istirahat sambil meletakkan minuman diatas meja belajarnya. Ketika saya permisi hendak keluar, ia berkata bahwa ia sudah selesai belajar dan memang hendak istirahat sejenak. Ia lalu mengajak saya ngobrol. Saya duduk ditempat tidur lalu mulai berbicara dengannya.

Tidak saya sadari mungkin karena saya lelah seharian, saya sambil berbicara lantas merebahkan diri diatas tempat tidurnya. Ia meneruskan bicaranya. Terkadang tangannya memegang tangan saya sambil bicara. Saat itu pikiran saya mulai melayang teringat kejadian beberapa hari yang lalu.

Melihat saya terdiam dia mulai menciumi tangan saya. Saat saya sadar, tangannya telah berada pada kedua belah paha saya, sementara kepalanya tenggelam diantara selangkangan saya. Oh, betapa nikmatnya. Kali ini saya tidak melawan sama sekali. Saya menutup mata dan menikmati momen tersebut.

Nafas saya semakin memburu saat saya merasakan bahwa saya mendekati klimaks. Tiba-tiba saya merasakan kepalanya terangkat. Saya membuka mata bingung atas maksud tujuannya berhenti. Mata saya terbelalak saat memandang ia sudah tidak mengenakan bajunya. Mungkin ia melepasnya diam-diam saat saya menutup mata tadi.

Tidak tahu apa yang harus dilakukan saya hanya menganga saja seperti orang bodoh. Saya lihat ia sudah tegang. Oh, betapa saya ingin semua berakhir nikmat seperti minggu lalu. Tangan kirinya kembali bermain diselangkangan saya sementara tubuhnya perlahan-lahan turun menutupi tubuh saya.

Perasaan nikmat kembali bangkit. Tangan kanannya lalu melolosi daster saya. Saya telanjang bulat kini kecuali bra saya. Tangan kirinya meremasi buah dada saya. Saya mengerang sakit. Tangan saya mendorong tangannya, saya katakan apa sih maunya. Dia hanya tersenyum.

Saya mendorongnya pelan dan berusaha untuk bangun. Mungkin karena intuisinya mengatakan bahwa saya tidak akan melawan lagi, ia meminggirkan badannya. Dengan cepat saya membuka kutang saya, lalu rebah kembali. Ia tersenyum setengah tertawa. Dengan sigap ia sudah berada diatas tubuh saya kembali dan mulai mengisapi puting susu saya sementara tangan kanannya kembali memberi kehidupan diantara selangkangan saya dan tangan kirinya mengusapi seluruh badan saya.

Selama kehidupan perkawinan saya dengan Niko, ia tidak pernah melakukan hal-hal seperti ini saat kami melakukan hubungan seks. Seakan-akan seks itu adalah buka, mulai, keluar, selesai. Saya merasakan diri saya bagaikan mutiara dihadapan Roy.

Kemudian Roy mulai mencium bibir saya. Saya balas dengan penuh gairah. Sekujur tubuh saya terasa panas sekarang. Kemudian saya rasakan alatnya mulai mencari-cari jalan masuk. Dengan tangan kanan saya, saya bantu ia menemukannya. Ketika semua sudah pada tempatnya, ia mulai mengayuh perahu cinta kami dengan bersemangat.

Kedua tangannya tidak henti-hentinya mengusapi tubuh dan dada saya. Saya hanya bisa memejamkan mata saya. Aduh, nikmatnya bukan kepalang. Tangannya lalu mengalungkan kedua tangan saya pada lehernya. Saya membuka mata saya. Ia menatap mata saya dengan sejuta arti. Kali ini saya tersenyum. Ia balas tersenyum. Mungkin karena gemas melihat saya, bibirnya lantas kembali memagut.

Oh, saya merasakan waktunya telah tiba. Kedua tangan saya menarik tubuhnya agar lebih merapat. Dia tampaknya mengerti kondisi saya saat itu. Ini dibuktikannya dengan mempercepat laju permainan. Ahh, saya mengerang pelan. Kemudian saya mendengar nafasnya menjadi berat dan disertai erangan saya merasakan kemaluan saya dipenuhi cairan hangat.

Sejak saat itu, saya dan dia selalu menunggu kesempatan dimana suami saya pergi keluar kota untuk dapat mengulangi perbuatan terkutuk itu. Betapa nafsu telah mengalahkan segalanya. Setiap kali akan bercinta, saya selalu memaksanya untuk melakukan oral seks kepada saya. Tanpa itu, saya tidak dapat hidup lagi. Saya benar-benar memerlukannya.

Dia juga sangat pengertian. Walaupun dia sedang malas melakukan hubungan seks, dia tetap bersedia melakukan oral seks kepada saya. Saya benar-benar merasa sangat dihargai olehnya.

Ceritanya dulu suami saya Niko punya komputer. Kemudian oleh Roy disarankan agar berlangganan internet. Menurutnya juga dapat dipakai untuk berbisnis. Suami saya setuju saja. Pernah Roy melihat saya memandangi Niko saat dia menggunakan internet, kemudian dia tanya kepada saya, apa saya kepingin tahu.

Niko yang mendengar lalu menyuruh Roy untuk mengajari saya menggunakan komputer dan internet. Pertama-tama saya suka karena banyak yang menarik. Hanya tinggal tekan tombol saja. Bagus sekali. Tetapi saya mulai bosan karena saya kurang mengerti mau ngapain lagi.

Saat itulah Roy lalu menunjukkan ada yang namanya Newsgroup di internet. Saat pertama kali baca saya terkejut sekali. Banyak berita dan pendapat yang menarik. Tetapi waktu saya tidak terlalu banyak. Saya harus mengurus anak saya. Dia baru dua tahun. Saya sayang sekali kepadanya. Kalau sudah tersenyum dapat menghibur saya walaupun dalam keadaan sedih.

Saya tidak mengerti program ini. Hanya Roy ajarkan kalau mau menulis tekan tombol ini. Terus begini, terus begini, dan seterusnya. Tetapi saya tidak cerita-cerita sama dia kalau kemarin saya sudah kirim berita ke Newsgroup. Takut dia marah sama saya. Saya hanya bingung mau cerita sama siapa. Masalahnya saya benar-benar sudah terjerumus. Saya tidak tahu bagaimana harus menghentikannya.

Kini saya bagaikan memiliki dua suami. Saya diperlakukan dengan baik oleh keduanya. Saya tahu suami saya sangat mencintai saya. Saya juga sangat mencintai suami saya. Tetapi saya tidak bisa melupakan kenikmatan yang telah diperkenalkan oleh Roy kepada saya.

Suami saya tidak pernah curiga sebab Roy tidak berubah saat suami saya ada di rumah. Tetapi bila Niko sudah pergi keluar kota, dia memperlakukan saya sebagaimana istrinya. Dia bahkan pernah memaksa untuk melakukannya di kamar kami. Saya menolak dengan keras. Biar bagaimana saya akan merasa sangat bersalah bila melakukannya ditempat tidur dimana saya dan Niko menjalin hubungan yang berdasarkan cinta.

Saya katakan dengan tegas kepada Roy bahwa dia harus menuruti saya. Dia hanya mengangguk saja. Saya merasa aman sebab dia tunduk kepada seluruh perintah saya. Saya tidak pernah menyadari bahwa saya salah. Benar-benar salah.

Suatu kali saya disuruh untuk melakukan oral seks kepadanya. Saya benar benar terkejut. Saya tidak dapat membayangkan apa yang harus saya lakukan atas ‘alat’nya. Saya menolak, tetapi dia terus memaksa saya. Karena saya tetap tidak mau menuruti kemauannya, maka akhirnya ia menyerah.

Kejadian ini berlangsung beberapa kali, dengan akhir dia mengalah. Hingga terjadi pada suatu hari dimana saat saya menolak kembali dia mengancam untuk tidak melakukan oral seks kepada saya. Saya bisa menikmati hubungan seks kami bila dia telah melakukan oral seks kepada saya terlebih dahulu.

Saya tolak, karena saya pikir dia tidak serius. Saya berpikir bahwa dia masih menginginkan seks sebagaimana saya menginginkannya. Ternyata dia benar-benar melakukan ancamannya. Dia bahkan tidak mau melakukan hubungan seks lagi dengan saya. Saya bingung sekali. Saya membutuhkan cara untuk melepaskan diri dari kerumitan sehari-hari. Bagi saya, seks merupakan alat yang dapat membantu saya menghilangkan beban pikiran.

Selama beberapa hari saya merasa seperti dikucilkan. Dia tetap berbicara dengan baik kepada saya. Tetapi setiap kali saya berusaha mengajaknya untuk melakukan hubungan seks dia menolak. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya berusaha semampu saya untuk merayunya, tetapi dia tetap menolak.

Saya bingung, apa saya tidak cukup menarik. Wajah saya menurut saya cukup cantik. Pada masa-masa kuliah, banyak sekali teman pria saya yang berusaha mencuri perhatian saya. Teman wanita saya bilang bibir saya sensual sekali. Saya tidak mengerti bibir sensual itu bagaimana. Yang saya tahu saya tidak ambil pusing untuk hal-hal seperti itu.

Saya tidak diijinkan terlalu banyak keluar rumah oleh orang tua saya kecuali untuk keperluan les ataupun kursus. Saya orangnya supel dan tidak pilih-pilih dalam berteman. Mungkin hal ini yang (menurut saya pribadi)menyebabkan banyak teman pria yang mendekati saya.

Sesudah melahirkan, saya tetap melanjutkan aktivitas senam saya. Dari sejak masa kuliah saya senang senam. Saya tahu saya memiliki tubuh yang menarik, tidak kalah dengan yang masih muda dan belum menikah. Kulit saya putih bersih, sebab ibu saya mengajarkan bagaimana cara merawat diri.

Bila saya berjalan dengan suami saya, selalu saja pria melirik kearah saya. Suami saya pernah mengatakan bahwa dia merasa sangat beruntung memiliki saya. Saya juga merasa sangat beruntung memiliki suami seperti dia. Niko orangnya jujur dan sangat bertanggung jawab. Itu yang sangat saya sukai darinya. Saya tidak hanya melihat dari fisik seseorang, tetapi lebih dari pribadinya.

Tetapi Roy sendiri menurut saya sangatlah ganteng. Mungkin itu pula sebabnya, banyak teman wanitanya yang datang kerumah. Katanya untuk belajar. Mereka biasa belajar di teras depan rumah kami. Roy selain ganteng juga pintar menurut saya. Tidaklah sulit baginya untuk mencari wanita cantik yang mau dengannya.

Saya merasa saya ditinggalkan. Roy tidak pernah mengajak saya untuk melakukan hubungan seks lagi. Dia sekarang bila tidak belajar dikamar, lebih banyak menghabiskan waktunya dengan teman-teman wanitanya. Saya kesepian sekali dirumah. Untung masih ada anak saya yang paling kecil yang dapat menghibur.

Hingga suatu saat saya tidak dapat menahan diri lagi. Malam itu, saat Roy masuk ke kamarnya setelah menonton film, saya mengikutinya dari belakang. Saya katakan ada yang perlu saya bicarakan. Anak saya sudah tidur saat itu. Dia duduk di tempat tidurnya. Saya bilang saya bersedia melakukannya hanya saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat.

Dengan gesit dia membuka seluruh celananya dan kemudian berbaring. Dia katakan bahwa saya harus menjilati penisnya dari atas hingga bawah. Walaupun masih ragu-ragu, saya lakukan seperti yang disuruh olehnya. Penisnya mendadak ‘hidup’ begitu lidah saya menyentuhnya. Kemudian saya disuruh membasahi seluruh permukaan penisnya dengan menggunakan lidah saya.

Dengan bantuan tangan saya, saya jilati semua bagian dari penisnya sebagaimana seorang anak kecil menjilati es-krim. Tidak lama kemudian, saya disuruh memasukkan penisnya kedalam mulut saya. Saya melonjak kaget. Saya bilang, dia sendiri tidak memasukkan apa apa kedalam mulutnya saat melakukan oral seks kepada saya, kenapa saya harus dituntut melakukan hal yang lebih.

Dia berkata bahwa itu disebabkan karena memang bentuk genital dari pria dan wanita berbeda. Jadi bukan masalah apa-apa. Dia bilang bahwa memang oral seks yang dilakukan wanita terhadap pria menuntut wanita memasukkan penis pria kedalam mulutnya. Sebenarnya saya juga sudah pernah baca dari majalah-majalah Penthouse miliknya, saya hanya berusaha menghindar sebab saya merasa hal ini sangatlah tidak higienis.

Karena khawatir saya tidak memperoleh apa yang saya inginkan, saya menuruti kemauannya. Kemudian saya disuruh melakukan gerakan naik dan turun sebagaimana bila sedang bercinta, hanya bedanya kali ini, penisnya berada di dalam mulut saya, bukan pada liang senggama saya.

Selama beberapa menit saya melakukan hal itu. Saya perlahan-lahan menyadari, bahwa oral seks tidaklah menjijikkan seperti yang saya bayangkan. Dulu saya membayangkan akan mencium atau merasakan hal-hal yang tidak enak. Sebenarnya hampir tidak terasa apa-apa. Hanya cairan yang keluar dari penisnya terasa sedikit asin. Masalah bau, seperti bau yang umumnya keluar saat pria dan wanita berhubungan seks.

Tangannya mendorong kepala saya untuk naik turun semakin cepat. Saya dengar nafasnya semakin cepat, dan gerakan tangannya menyebabkan saya bergerak semakin cepat juga. Kemudian menggeram pelan, saya tahu bahwa dia akan klimaks, saya berusaha mengeluarkan alatnya dari mulut saya, tetapi tangannya menekan dengan keras. Saya panik. Tidak lama mulut saya merasakan adanya cairan hangat, karena takut muntah, saya telan saja dengan cepat semuanya, jadi tidak terasa apa-apa.

Saat dia sudah tenang, dia kemudian melepaskan tangannya dari kepala saya. Saya sebenarnya kesal karena saya merasa dipaksa. Tetapi saya diam saja. Saya takut kalau dia marah, semua usaha saya menjadi sia-sia saja. Saya bangkit dari tempat tidur untuk pergi berkumur. Dia bilang bahwa saya memang berbakat. Berbakat neneknya, kalau dia main paksa lagi saya harus hajar dia.

Sesudah nafasnya menjadi tenang, dia melakukan apa yang sudah sangat saya tunggu-tunggu. Dia melakukan oral seks kepada saya hampir 45 menit lebih. Aduh nikmat sekali. Saya orgasme berulang-ulang. Kemudian kami mengakhirinya dengan bercinta secara ganas.

Sejak saat itu, oral seks merupakan hal yang harus saya lakukan kepadanya terlebih dahulu sebelum dia melakukan apa-apa terhadap saya. Saya mulai khawatir apakah menelan sperma tidak memberi efek samping apa-apa kepada saya. Dia bilang tidak, malah menyehatkan. Karena sperma pada dasarnya protein. Saya percaya bahwa tidak ada efek samping, tetapi saya tidak percaya bagian yang ‘menyehatkan’. Hanya saya jadi tidak ambil pusing lagi.

Tidak lama berselang, sekali waktu dia pulang kerumah dengan membawa kado. Katanya untuk saya. Saya tanya apa isinya. Baju katanya. Saya gembira bercampur heran bahwa perhatiannya menjadi begitu besar kepada saya. Saat saya buka, saya terkejut melihat bahwa ini seperti pakaian dalam yang sering digunakan oleh wanita bila dipotret di majalah Penthouse. Saya tidak tahu apa namanya, tapi saya tidak bisa membayangkan untuk memakainya.

Dia tertawa melihat saya kebingungan. Saya tanyakan langsung kepadanya sebenarnya apa sih maunya. Dia bilang bahwa saya akan terlihat sangat cantik dengan itu. Saya bilang “No way”. Saya tidak mau dilihat siapapun menggunakan itu. Dia bilang bahwa itu sekarang menjadi ‘seragam’ saya setiap saya akan bercinta dengannya.

Karena saya pikir toh hanya dia yang melihat, saya mengalah. Memang benar, saat saya memakainya, saya terlihat sangat seksi. Saya bahkan juga merasa sangat seksi. Saya menggunakannya di dalam, dimana ada stockingnya, sehingga saya menggunakan pakaian jeans di luar selama saya melakukan aktivitas dirumah seperti biasa. Efeknya sungguh di luar dugaan saya. Saya menjadi, apa itu istilahnya, horny sekali.

Saya sudah tidak tahan menunggu waktunya tiba. Dirinya juga demikian tampaknya. Malam itu saat saya melucuti pakaian saya satu persatu, dia memandangi seluruh tubuh saya dengan sorot mata yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Kami bercinta bagaikan tidak ada lagi hari esok.

Sejak saat itu, saya lebih sering lagi dibelikan pakaian dalam yang seksi olehnya. Saya tidak tahu dia mendapatkan uang darimana, yang saya tahu semua pakaian ini bukanlah barang yang murah. Lama-kelamaan saya mulai khawatir untuk menyimpan pakaian ini dilemari kami berdua (saya dan Niko) sebab jumlahnya sudah termasuk banyak. Karenanya, pakaian ini saya taruh di dalam lemari Roy.

Dia tidak keberatan selama saya bukan membuangnya. Katanya, dengan pakaian itu kecantikan saya bagai bidadari turun dari langit. Pakaian itu ada yang berwarna hitam, putih maupun merah muda. Tetapi yang paling digemari olehnya adalah yang berwarna hitam. Katanya sangat kontras warnanya dengan warna kulit saya sehingga lebih membangkitkan selera.

Saya mulai menikmati hal-hal yang diajarkan oleh Roy kepada saya. Saya merasakan semua bagaikan pelajaran seks yang sangat berharga. Ingin saya menunjukkan apa yang telah saya ketahui kepada suami saya. Sebab pada dasarnya, dialah pria yang saya cintai. Tetapi saya takut bila dia beranggapan lain dan kemudian mencium perbuatan saya dan Roy.

Saya tidak ingin rumah tangga kami hancur. Tetapi sebaliknya, saya sudah tidak dapat lagi meninggalkan tingkat pengetahuan seks yang sudah saya capai sekarang ini.

Suatu ketika, Roy pulang dengan membawa teman prianya. Temannya ini tidak seganteng dirinya, tetapi sangat macho. Pada mukanya masih tersisa bulu-bulu bekas cukuran sehingga wajahnya sedikit terlihat keras dan urakan. Roy memperkenalkan temannya kepada saya yang ternyata bernama Bari.

Kami ngobrol panjang lebar. Bari sangat luas pengetahuannya. Saya diajak bicara tentang politik hingga musik. Menurut penuturannya Bari memiliki band yang sering main dipub. Ini dilakukannya sebagai hobby serta untuk menambah uang saku. Saya mulai menganggap Bari sebagai teman.

Bari semakin sering datang kerumah. Anehnya, kedatangan Bari selalu bertepatan dengan saat dimana Niko sedang tidak ada dirumah. Suatu ketika saya menemukan mereka duduk diruang tamu sambil meminum minuman yang tampaknya adalah minuman keras. Saya menghampiri mereka hendak menghardik agar menjaga kelakuannya.

Ketika saya dekati ternyata mereka hanya minum anggur. Mereka lantas menawarkan saya untuk mencicipinya. Sebenarnya saya menolak. Tetapi mereka memaksa karena anggur ini lain dari yang lain. Akhirnya saya coba walaupun sedikit. Benar, saya hanya minum sedikit. Tetapi tidak lama saya mulai merasa mengantuk. Selain rasa kantuk, saya merasa sangat seksi.

Karena saya mulai tidak kuat untuk membuka mata, Roy lantas menyarankan agar saya pergi tidur saja. Saya menurut. Roy lalu menggendong saya ke kamar tidur. Saya heran kenapa saya tidak merasa malu digendong oleh Roy dihadapan Bari. Padahal Bari sudah tahu bahwa saya sudah bersuami. Saya tampaknya tidak dapat berpikir dengan benar lagi.

Kata Roy, kamar saya terlalu jauh, padahal saya berat, jadi dia membawa saya ke kamarnya. Saya menolak, tetapi dia tetap membawa saya ke kamarnya. Saya ingin melawan tetapi badan rasanya lemas semua. Sesampainya dikamar, Roy mulai melucuti pakaian saya satu persatu. Saya mencoba menahan, karena saya tidak mengerti apa tujuannya. Karena saya tidak dalam kondisi sadar sepenuhnya, perlawanan saya tidak membawa hasil apa apa.

Kini saya berada diatas tempat tidur dengan keadaan telanjang. Roy mulai membuka pakaiannya. Saya mulai merasa bergairah. Begitu dirinya telanjang, lidahnya mulai bermain-main didaerah selangkangan saya. Saya memang tidak dapat bertahan lama bila dia melakukan oral seks terhadap saya. Saya keluar hanya dalam beberapa saat. Tetapi lidahnya tidak kunjung berhenti. Tangannya mengusapi payudara saya. Kemudian mulutnya beranjak menikmati payudara saya.

Kini kami melakukannya dalam ‘missionary position’. Begitulah istilahnya kalau saya tidak salah ingat pernah tertulis dimajalah-majalah itu. Ah, nikmat sekali. Saya hampir keluar kembali. Tetapi ia malah menghentikan permainan. Sebelum saya sempat mengeluarkan sepatah katapun, tubuh saya sudah dibalik olehnya. Tubuh saya diangkat sedemikian rupa sehingga kini saya bertumpu pada keempat kaki dan tangan dalam posisi seakan hendak merangkak.

Sebenarnya saya ingin tiduran saja, saya merasa tidak kuat untuk menopang seluruh badan saya. Tetapi setiap kali saya hendak merebahkan diri, ia selalu mengangkat tubuh saya. Akhirnya walaupun dengan susah payah, saya berusaha mengikuti kemauannya untuk tetap bangkit. Kemudian dia memasukkan penisnya ke dalam liang kewanitaan saya. Tangannya memegang erat pinggang saya, lalu kemudian mulai menggoyangkan pinggangnya. Mm, permainan dimulai kembali rupanya.

Kembali kenikmatan membuai diri saya. Tanpa saya sadari, kali ini, setiap kali dia menekan tubuhnya kedepan, saya mendorong tubuh saya kebelakang. Penisnya terasa menghunjam-hunjam kedalam tubuh saya tanpa ampun yang mana semakin menyebabkan saya lupa diri.

Saya keluar untuk pertama kalinya, dan rasanya tidak terkira. Tetapi saya tidak memiliki maksud sedikitpun untuk menghentikan permainan. Saya masih ingin menggali kenikmatan demi kenikmatan yang dapat diberikan olehnya kepada saya. Roy juga mengerti akan hal itu. Dia mengatur irama permainan agar bisa berlangsung lama tampaknya.

Sesekali tubuhnya dibungkukkannya kedepan sehingga tangannya dapat meraih payudara saya dari belakang. Salah satu tangannya melingkar pada perut saya, sementara tangan yang lain meremasi payudara saya. Saat saya menoleh kebelakang, bibirnya sudah siap menunggu. Tanpa basa-basi bibir saya dilumat oleh dirinya.

Saya hampir mencapai orgasme saya yang kedua saat dia menghentikan permainan. Saya bilang ada apa, tetapi dia langsung menuju ke kamar mandi. Saya merasa sedikit kecewa lalu merebahkan diri saya ditempat tidur. Jari tangan saya saya selipkan dibawah tubuh saya dan melakukan tugasnya dengan baik diantara selangkangan saya. Saya tidak ingin’mesin’ saya keburu dingin karena kelamaan menunggu Roy.

Tiba-tiba tubuh saya diangkat kembali. Tangannya dengan kasar menepis tangan saya. Iapun dengan langsung menghunjamkan penisnya kedalam tubuh saya. Ah, kenapa jadi kasar begini. Belum sempat saya menoleh kebelakang, ia sudah menarik rambut saya sehingga tubuh saya terangkat kebelakang sehingga kini saya berdiri pada lutut saya diatas tempat tidur.

Rambut saya dijambak kebelakang sementara pundaknya menahan punggung saya sehingga kepala saya menengadah keatas. Kepalanya disorongkan kedepan untuk mulai menikmati payudara saya. Dari mulut saya keluar erangan pelan memintanya untuk melepaskan rambut saya. Tampaknya saya tidak dapat melakukan apa-apa walaupun saya memaksa. Malahan saya mulai merasa sangat seksi dengan posisi seperti ini.

Semua ini dilakukannya tanpa berhenti menghunjamkan dirinya kedalam tubuh saya. Saya merasakan bahwa penisnya lebih besar sekarang. Apakah ia meminum semacam obat saat dikamar mandi? Ah, saya tidak peduli, sebab saya merasakan kenikmatan yang teramat sangat.

Yang membuat saya terkejut ketika tiba-tiba dua buah tangan memegangi tangan saya dari depan. Apa apaan ini? Saya mulai mencoba meronta dengan sisa tenaga yang ada pada tubuh saya. Kemudian tangan yang menjambak saya melepaskan pegangannya. Kini saya dapat melihat bahwa Roy berdiri diatas kedua lututnya diatas tempat tidur dihadapan saya.

Jadi, yang saat ini menikmati saya adalah… Saya menoleh kebelakang. Bari! Bari tanpa membuang kesempatan melumat bibir saya. Saya membuang muka, saya marah sekali, saya merasa dibodohi. Saya melawan dengan sungguh-sungguh kali ini. Saya mencoba bangun dari tempat tidur. Tetapi

Bari menahan saya. Tangannya mencengkeram pinggang saya dan menahan saya untuk berdiri. Sementara itu Roy memegangi kedua belah tangan saya. Saya sudah ingin menangis saja.

Saya merasa diperalat. Ya, saya hanya menjadi alat bagi mereka untuk memuaskan nafsu saja. Sekilas teringat dibenak saya wajah suami dan anak saya. Tetapi kini semua sudah terlambat. Saya sudah semakin terjerumus.

Roy bergerak mendekat hingga tubuhnya menekan saya dari depan sementara Bari menekan saya dari belakang. Dia mulai melumat bibir saya. Saya tidak membalas ciumannya. Tetapi ini tidak membuatnya berhenti menikmati bibir saya. Lidahnya memaksa masuk kedalam mulut saya. Tangan saya dilingkarkannya pada pinggangnya, sementara Bari memeluk kami bertiga.

Saya mulai merasakan sesak napas terhimpit tubuh mereka. Tampaknya ini yang diinginkan mereka, saya bagaikan seekor pelanduk di antara dua gajah. Perlahan-lahan kenikmatan yang tidak terlukiskan menjalar disekujur tubuh saya. Perasaan tidak berdaya saat bermain seks ternyata mengakibatkan saya melambung di luar batas imajinasi saya sebelumnya. Saya keluar dengan deras dan tanpa henti. Orgasme saya datang dengan beruntun.

Tetapi Roy tidak puas dengan posisi ini. Tidak lama saya kembali pada ‘dog style position’. Roy menyorongkan penisnya kebibir saya. Saya tidak mau membuka mulut. Tetapi Bari menarik rambut saya dari belakang dengan keras. Mulut saya terbuka mengaduh. Roy memanfaatkan kesempatan ini untuk memaksa saya mengulum penisnya.

Kemudian mereka mulai menyerang tubuh saya dari dua arah. Dorongan dari arah yang satu akan menyebabkan penis pada tubuh mereka yang berada diarah lainnya semakin menghunjam. Saya hampir tersedak. Roy yang tampaknya mengerti kesulitan saya mengalah dan hanya diam saja. Bari yang mengatur segala gerakan.

Tidak lama kemudian mereka keluar. Sesudah itu mereka berganti tempat. Permainan dilanjutkan. Saya sendiri sudah tidak dapat menghitung berapa banyak mengalami orgasme. Ketika mereka berhenti, saya merasa sangat lelah. Walupun dengan terhuyung-huyung, saya bangkit dari tempat tidur, mengenakan pakaian saya seadanya dan pergi ke kamar saya.

Di kamar saya masuk ke dalam kamar mandi saya. Di sana saya mandi air panas sambil mengangis. Saya tidak tahu saya sudah terjerumus kedalam apa kini. Yang membuat saya benci kepada diri saya, walaupun saya merasa sedih, kesal, marah bercampur menjadi satu, namun setiap saya teringat kejadian itu, saya merasa basah pada selangkangan saya.

Malam itu, saat saya menyiapkan makan malam, Roy tidak berbicara sepatah katapun. Bari sudah pulang. Saya juga tidak mau membicarakannya. Kami makan sambil berdiam diri.

Sejak saat itu, Bari tidak pernah datang lagi. Saya sebenarnya malas bicara kepada Roy. Saya ingin menunjukkan kepadanya bahwa saya tidak suka dengan caranya menjebak saya. Tetapi bila ada suami saya saya memaksakan diri bertindak biasa. Saya takut suami saya curiga dan bertanya ada apa antara saya dan Roy.

Hingga pada suatu kesempatan, Roy berbicara bahwa dia minta maaf dan sangat menyesali perbuatannya. Dikatakannya bahwa ‘threesome’ adalah salah satu imajinasinya selama ini. Saya mengatakan kenapa dia tidak melakukannya dengan pelacur. Kenapa harus menjebak saya. Dia bilang bahwa dia ingin melakukannya dengan ‘someone special’.

Saya tidak tahu harus ngomong apa. Hampir dua bulan saya melakukan mogok seks. Saya tidak peduli kepadanya. Saya membalas perbuatannya seperti saat saya pertama kali dipaksa untuk melakukan oral seks kepadanya.

Selama dua bulan, ada saja yang diperbuatnya untuk menyenangkan saya. Hingga suatu waktu dia membawa makanan untuk makan malam. Saya tidak tahu apa yang ada dipikirannya. Hanya pada saat saya keluar, diatas meja sudah ada lilin. Saat saya duduk, dia mematikan sebahagian lampu sehingga ruangan menjadi setengah gelap.

Itu adalah ‘candle light dinner’ saya yang pertama seumur hidup. Suami saya tidak pernah cukup romantis untuk melakukan ini dengan saya. Malam itu dia kembali minta maaf dan benar-benar mengajak saya berbicara dengan sungguh-sungguh. Saya tidak tahu harus bagaimana.

Saya merasa saya tidak akan pernah memaafkannya atas penipuannya kepada saya. Hanya saja malam itu begitu indah sehingga saya pasrah ketika dia mengangkat saya ke kamar tidurnya.

Judul: Anak Juraganku Dan Temannya

Author : Hidden , Category: Pesta Sex

Aku bekerja sebagai seorang sopir di Malang. Namaku Sony, umurku 24 tahun, dan berasal dari JemBut. Aku sudah bekerja selama 2 tahun pada juraganku ini, dan aku sedang menabung untuk melanjutkan kuliahku yang terpaksa berhenti karena kurang biaya. Wajahku sih kata orang ganteng, ditambah dengan tubuh lumayan atletis. Banyak teman SMA-ku yang dulu bilang, seandainya aku anak orang kaya, pasti sudah jadi playboy kelas super berat. Memang ada beberapa teman cewekku yang dulu naksir padaku, tetapi tidak aku tanggapi.

Mereka bukan tipeku.

Juraganku punya seorang anak tunggal, gadis berumur 18 tahun, kelas 3 SMA favorit di Malang. Namanya Juliet. Tiap hari aku mengantarnya ke sekolah. Aku kadang hampir tidak tahan melihat tubuh Juliet yang seksi sekali. Tingginya kira-kira 168 cm, dan payudaranya besar dan kelihatannya kencang sekali. Ukurannya kira-kira 36C. Ditambah dengan penampilannya dengan rok mini dan baju seragamnya yang tipis, membuatku ingin sekali menyetubuhinya.

Setiap kali mengantarnya ke sekolah, ia duduk di bangku depan di sampingku, dan kadang-kadang aku melirik melihat pahanya yang putih mulus dengan bulu-bulu halus atau pada belahan payudaranya yang terlihat dari balik seragam tipisnya itu. Tapi aku selalu ingat, bahwa dia adalah anak juraganku. Bila aku macam-macam bisa dipecatnya aku nanti, dan angan-anganku untuk melanjutkan kuliah bisa berantakan. Siang itu seperti biasa aku jemput dia di sekolahnya. Mobil BMW biru metalik aku parkir di dekat kantin, dan seperti biasa aku menunggu Non-ku di gerbang sekolahnya.

Tak lama dia muncul bersama teman-temannya.

“Siang, Non.., mari saya bawakan tasnya”.

“Eh.., Mas, udah lama nunggu?”, katanya sambil mengulurkan tasnya padaku.

“Barusan kok Non..”, jawabku.

“Jul.., ini toh supirmu yang kamu bicarain itu. Lumayan ganteng juga sih.., ha.., ha..”, salah satu temannya berkomentar. Aku jadi rikuh dibuatnya.

“Hus..”, sahut Non-ku sambil tersenyum. “Jadi malu dia nanti..”.

Segera aku bukakan pintu mobil bagi Non-ku, dan temannya ternyata juga ikut dan duduk di kursi belakang.

“Kenalin nih mas, temanku”, Non-ku berkata sambil tersenyum. Aku segera mengulurkan tangan dan berkenalan.

“Sony”, kataku sambil merasakan tangan temannya yang lembut.

“Niken”, balasnya sambil menatap dadaku yang bidang dan berbulu.

“Mas, antar kita dulu ke rumah Niken di Tidar”, instruksi Non Juliet sambil menyilangkan kakinya sehingga rok mininya tersingkap ke atas memperlihatkan pahanya yang putih mulus.

“Baik Non”, jawabku. Tak terasa penisku sudah mengeras menyaksikan pemandangan itu. Ingin rasanya aku menjilati paha itu, dan kemudian mengulum payudaranya yang padat berisi, kemudian menyetubuhinya sampai dia meronta-ronta.., ahh.

Tak lama kitapun sampai di rumah Niken yang sepi. Rupanya orang tuanya sedangke luar kota, dan merekapun segera masuk ke dalam. Tak lama Non Juliet ke luar dan menyuruhku ikut masuk.

“Saya di luar saja Non”.

“Masuk saja mas.., sambil minum dulu.., baru kita pulang”.

Akupun mengikuti perintah Non-ku dan masuk ke dalam rumah. Ternyata mereka berdua sedang menonton VCD di ruang keluarga.

“Duduk di sini aja mas”, kata Niken menunjuk tempat duduk di sofa di sebelahnya.

“Ayo jangan ragu-ragu..”, perintah Non Juliet melihat aku agak ragu.

“Mulai disetel aja Nik..”, Non Juliet kemudian mengambil tempat duduk di sebelahku.

Tak lama kemudian.., film pun dimulai.., Wowww.., ternyata film porno. Di layar tampak seorang pria negro (Senegal) sedang menyetubuhi dua perempuan bule (Prancis & Spanyol) secara bergantian. Napas Non Juliet di sampingku terdengar memberat, kemudian tangannya meremas tanganku. Akupun sudah tidak tahan lagi dengan segala macam cobaan ini. Aku meremas tangannya dan kemudian membelai pahanya. Tak berapa lama kemudian kamipun berciuman. Aku tarik rambutnya, dan kemudian dengan gemas aku cium bibirnya yang mungil itu.

“Hmm.. Eh”, Suara itu yang terdengar dari mulutnya, dan tangankupun tak mau diam beralih meremas-remas payudaranya.

Kubuka kancing seragamnya satu persatu sehingga tampak bongkahan daging kenyal yang putih mulus punya Non-ku itu. Aku singkap BH-nya ke bawah sehingga tampaklah putingnya yang merah muda dan kelihatan sudah menegang.

“Ayo.., hisap dong mas.., ahh”. Tak perlu dikomando lagi, langsung aku jilat putingnya, sambil tanganku meremas-remas payudaranya yang sebelah kiri. Aku tidak memperhatikan apa yang dilakukan temannya di sebelah, karena aku sedang berkonsentrasi untuk memuaskan nafsu birahi Non Juliet. Setelah puas menikmati payudaranya, akupun berpindah posisi sehingga aku jongkok tepat di depan selangkangannya. Langsung aku singkap rok seragam SMA-nya, dan aku jilat CD-nya yang berwarna pink. Tampak bulu vaginanya yang masih jarang menerawang di balik CD-nya itu.

“Ayo, jilatin memekku mas”, Non Juliet mendesah sambil mendorong kepalaku. Langsung aku sibak CD-nya yang berenda itu, dan kujilati kemaluannya.

“Ohh.., nikmat sekali..”, erangan demi erangan terdengardari mulut Non-ku yang sedang aku kerjai. Benar-benar beruntung aku bisa menjilati kemaluan seorang gadis kecil anak konglomerat. Tanganku tak henti mengelus, meremas payudaranya yang besar dan kenyal itu.

“Aduh, cepetan dong, yang keras.., aku mau keluar.., ehhmm ohh..”. Tangan Non Juliet meremas rambutku sambil badannya menegang. Bersamaan dengan itu keluarlah cairan dari lubang vaginanya yang langsung aku jilat habis. Akupun berdiri dan membuka ritsluiting celanaku. Tapi sebelum sempat aku buka celanaku, Non Juliet telah ambil alih.

“Biar saya yang buka mas”, katanya.

Tangannya yang mungil melepas kancing celana jeansku, dan membantuku membukanya. Kemudian tangannya meremas-remas penisku dari luar CD-ku. Dijilatinya CD-ku sambil tangannya meremas-remas pantatku. Akupun sudah tak tahan lagi, langsung aku buka CD-ku sehingga penisku yang sudah tegak, bergelantung ke luar.

“Ih, wowww..!!”, desis Non Juliet, sambil tangannya mengelus-elus penisku. Tak lama kemudian dijilatinya buah pelirku terus menyusuri batang kemaluanku. Dijilatinya pula kepala penisku sebelum dimasukkannya ke dalam mulutnya. Aku remas rambutnya yang berbando itu, dan aku gerakkan pantatku maju mundur, sehingga aku seperti menyetubuhi mulut anak juraganku ini. Rasanya luar biasa.., bayangkan.., penisku berwarna hitam sedang dikulum oleh mulut seorang gadis manis. Pipinya yang putih tampak menggelembung terkena batang kemaluanku.

“Punyamu besar sekali Mas Son.., Jul suka.., ehmm..”, katanya sambil kemudian kembali mengulum kemaluanku.

Setelah kurang lebih 15 menit Non Juliet menikmati penisku, dia suruh aku duduk di sofa. Kemudian dia menghampiriku sambil membuka seluruh pakaiannya sehingga dia tampak telanjang bulat. Dinaikinya pahaku, dan diarahkannya penisku ke liang vaginanya.

“Ayo.., masukkin dong mas.. Jul udah nggak tahan nih..”, katanya memberi instruksi, aku tahu dia ingin merasakan nikmatnya penisku. Diturunkannya pantatnya, dan peniskupun masuk perlahan ke dalam liang vaginanya.

Kemaluannya masih sempit sekali sehingga masih agak sulit bagi penisku untuk menembusnya. Tapi tak lama masuk juga separuh dari penisku ke dalam lubang kemaluan anak juraganku ini.

“Ahh.., yeah.., sekarang masukin deh penis Mas yang besar itu di memekku”, katanya sambil naik turun di atas pahaku. Tangannya meremas dadanya sendiri, dan kemudian disodorkannya putingnya untukku.

“Yah, begitu dong mas”, Tak perlu aku tunggu lebih lama lagi langsung aku lahap payudaranya yang montok itu. Sementara itu Non Juliet masih terus naik turun sambil kadang-kadang memutar-mutar pantatnya, menikmati penis besar sopirnya ini.

“Sekarang setubuhi Jul dalam posisi nungging.. ya Mas Son..?”, instruksinya. Diapun turun dan menungging menghadap ke sofa.

“Ayo dong mas.., masukkin dari belakang”, Non Juliet menjelaskan maksudnya padaku. Akupun segera berdiri di belakangnya, dan mengelus-elus pantatnya yang padat.

Kemudian kuarahkan penisku ke lubang vaginanya, tetapi agak sulit masuknya. Tiba-tiba tak kusangka ada tangan lembut yang mengelus penisku dan membantu memasukkannya ke liang vagina Non Juliet. Aku lihat ke samping, ternyata Niken, yang membantuku menyetubuhi temannya. Dia tersenyum sambil mengelus-elus pantat dan pahaku.

Aku langsung menyetubuhi Non Juliet dari belakang. Kugerakkan pantatku maju mundur, sambil memegang pinggul Nonku.

“Ahh.., Mas.., Mas.., Terus dong.., nikmat sekali”, Non Juliet mengerang nikmat. Tubuhnya tampak berayun-ayun, dan segera kuremas dari belakang. Kupilin-pilin puting susunya, dan erangan Non Juliet makin hebat.

Niken sekarang telah berdiri di sampingku dan tangannya sibuk menelusuri tubuhku. Ditariknya rambutku dan diciumnya bibirku dengan penuh nafsu. Lidahnya menerobos masuk ke dalam mulutku. Sambil berciuman dibukanya kancing baju seragamnya sehingga tampak buah dadanya yang tidak terlalu besar, tetapi tampak padat.

“Ohh.., terus dong mas.. yang cepat dong ahh.. Jul keluar mas.. ohh..”, Non Juliet mengerang makin hebat. Tak berapa lama terasa cairan hangat membasahi penisku.

“Non.., saya juga hampir keluar..”, kataku.

“Tahan sebentar mas.., keluarin dimulutku..”, kata Non Juliet.

Non Juliet dan Niken berlutut di depanku, dan Niken yang sejak tadi tampak tak tahan melihat kami bersetubuh di depannya, langsung mengulum penisku di mulutnya. Sementara itu Non Juliet menjilat-jilat buah pelirku. Mereka berdua bergantian mengulum dan menjilat penisku dengan penuh nafsu. Akupun sibuk membelai rambut kedua remaja ini, yang sedang memuaskan nafsu birahi mereka.

“Ayo, goyang yang keras dong mas..”, Non Juliet memberiku instruksi sambil menelentangkan tubuhnya di atas karpet ruang keluarga.

“Ayo penisnya taruh di sini mas..”, kata Non Juliet lagi. Akupun segera menaruh berlutut di atas dada Non-ku dan menjepit penisku di antara dua bukit kembarnya. Segera aku maju mundurkan pantatku, sambil tanganku mengapitkan buah dadanya.

“Oh, nikmat sekali..”.

Sementara Niken sibuk mengelap tubuhku yang basah karena keringat. Tak berapa lama kemudian, akupun tak tahan lagi. Kuarahkan penisku ke dalam mulut Non Juliet, dan dikulumnya sambil meremas-remas buah pelirku.

“Ahh.., Non.., ahh”, jeritku dan air manikupun menyembur ke dalam mulut mungil Non Juliet. Akupun tidur menggelepar kecapaian di atas karpet, sementara Non Juliet dan Niken sibuk menjilati bersih batang kemaluanku.

Setelah itu kamipun sibuk berpakaian, karena jam sudah menunjukkan pukul 15.00. Orang tua Juliet termasuk orang tua yang strict pada anaknya, sehingga bila dia pulang telat pasti kena marah. Di mobil dalam perjalanan pulang, Juliet memberiku uang Rp 1.000.000,-.

“Ambil mas, buat uang lelah, Tapi janji jangan bilang siapa-siapa tentang yang tadi ya”, katanya sambil tersenyum. Akupun mengangguk senang.

“Besok kita ulangi lagi ya mas.., soalnya Niken minta bagian”.

Demikian kejadian ini terus berlanjut. Hampir setiap pulang sekolah, Non Juliet akan pura-pura belajar bersama temannya. Tetapi yang terjadi adalah dia menyuruhku untuk memuaskan nafsu birahinya dan juga teman-temannya, Niken, Linda, Nina, Mimi, Etik, dll.

Tapi akupun senang karena selain mendapat penghasilan tambahan dari Non Juliet, akupun dapat menikmati tubuh remaja mereka yang putih mulus.

Judul: Perselingkuan Dengan Seorang Dokter

Author : Hidden , Category: Setengah Baya

Dalam sebuah seminar sehari di hall Hotel Hilton International di Jakarta, tampak seorang wanita paruh baya berwajah manis sedang membacakan sebuah makalah tentang peranan wanita modern dalam kehidupan rumah tangga keluarga bekerja. Dengan tenang ia membaca makalah itu sambil sesekali membuat lelucon yang tak ayal membuat para peserta seminar itu tersenyum riuh. Permasalahan yang sedang dibahas dalam seminar itu menyangkut perihal mengatasi problem perselingkuhan para suami yang selama ini memang menjadi topik hangat baik di forum resmi ataupun tidak resmi. Beberapa peserta seminar yang terdiri dari wanita karir, ibu-ibu rumah tangga dan para pelajar wanita itu tampak serius mengikuti jalannya seminar yang diwarnai oleh perdebatan antara pakar sosiologi keluarga yang sengaja diundang untuk menjadi pembicara. Hadir juga beberapa orang wartawan yang meliput jalannya seminar sambil ikut sesekali mengajukan pertanyaan ke arah peserta dan pembicara. Suasana riuh saat wanita pembicara itu bercerita tentang seorang temannya yang bersuamikan seorang pria mata keranjang doyan main perempuan. Berbagai pendapat keluar dalam perdebatan yang diarahkan oleh moderator.

Diakhir sesi pertama saat para peserta mengambil waktu istirahat selama tiga puluh menit, tampak wanita pembicara itu keluar ruangan dengan langkah cepat seperti menahan sesuatu. Ia berjalan dengan cepat menuju toilet di samping hall tempat seminar. Namun saat melewati lorong menuju tempat itu ia tak sadar menabrak seseorang, akibatnya ia langsung terhenyak.

“Oh.., maaf, saya tidak melihat anda.., maaf ya?”, seru wanita itu pada orang yang ditabraknya, namun orang itu seperti tak mengacuhkan.

“Oke..”, sahut pria muda berdasi itu lembut dan berlalu masuk ke dalam toilet pria.

Wanita itupun bergegas ke arah toilet wanita yang pintunya berdampingan dengan pintu toilet pria. Beberapa saat lamanya wanita itu di sana lalu tampak lelaki itu keluar dari toilet dan langsung menuju ke depan cermin besar dan mencuci tangannya. Kemudian wanita tadi muncul dan menuju ke tempat yang sama, keduanya sesaat saling melirik. “Hai”, tegur pria itu kini mendahului.

“Halo.., anda peserta seminar?”, tanya si wanita.

“Oh, bukan. Saya bekerja di sini, maksud saya di hotel ini”, jawab pria itu.

“Oh.., kalau begitu kebetulan, saya rasa setelah seminar ini saya akan kontak lagi dengan manajemen hotel ini untuk mengundang sejumlah pakar dari Amerika untuk seminar masalah kesehatan ibu dan anak. Ini kartu namaku”, kata wanita itu sambil mengulurkan tangannya pada pria itu. Lelaki itu mengambil secarik kartu dari dompetnya dan menyerahkannya pada wanita itu.

“Dokter Miranti Pujiastuti, oh ternyata Ibu ini pakar ilmu kedokteran ibu dan anak yang terkenal itu, maaf saya baru pertama kali melihat Ibu. Sebenarnya saya banyak membaca tulisan-tulisan Ibu yang kontroversial itu, saya sangat mengagumi Ibu”, mendadak pria itu menjadi sangat hormat.

“Ah kamu, jangan terlalu berlebihan memuji aku, dan kamu.., hmm.., Edo Prasetya, wakil General Manager Hilton International Jakarta. Kamu juga hebat, manajer muda”, seru wanita itu sambil menjabat tangan pemuda bernama Edo itu kemudian.

“Kalau begitu saya akan kontak anda mengenai masalah akomodasi dan acara seminar yang akan datang, senang bertemu anda, Edo”, seru wanita itu sambil kemudian berlalu.

“Baik, Bu dokter”, jawab sahut pria itu dan membiarkan wanita paruh baya itu berlalu dari ruangan di mana mereka berbicara.

Sejenak kemudian pemuda itu masih tampak memandangi kartu nama dokter wanita itu, ia seperti sedang mengamati sesuatu yang aneh.

“Bukankah dokter itu cantik sekali?”, ia berkata dalam hati.

“Oh aku benar-benar tak tahu kalau ia dokter yang sering menjadi perhatian publik, begitu tampak cantik di mataku, meski sudah separuh baya, ia masih tampak cantik”, benaknya berbicara sendiri.

“Ah kenapa itu yang aku pikirkan?”, serunya kemudian sambil berlalu dari ruangan itu.

Sementara itu di sebuah rumah kawasan elit Menteng Jakarta pusat tampak sebuah mobil memasuki halaman luas rumah itu. Wanita paruh baya bernama dokter Miranti itu turun dari sedan Mercy hitam dan langsung memasuki rumahnya. Wajah manis wanita paruh baya itu tampaknya menyimpan sebuah rasa kesal dalam hati. Sudah seminggu lamanya suami wanita itu belum pulang dari perjalanan bisnis keluar negeri. Sudah seminggu pula ia didera isu dari rekan sejawat suaminya tentang tingkah laku para pejabat dan pengusaha kalangan atas yang selalu memanfaatkan alasan perjalanan bisnis untuk mencari kepuasan seksual di luar rumah alias perselingkuhan.

Wanita itu menghempaskan badannya ke tempat tidur empuk dalam ruangan luas itu. Ditekannya remote TV dan melihat program berita malam yang sedang dibacakan penyiar. Namun tak berselang lama setelah itu dilihatnya di TV itu seorang lelaki botak yang tak lain adalah suaminya sedang berada dalam sebuah pertemuan resmi antar pengusaha di Singapura. Namun yang membuat hati wanita itu panas adalah saat melihat suaminya merangkul seorang delegasi dagang Singapura yang masih muda dan cantik. Sejenak ia memandang tajam ke arah televisi besar itu lalu dengan gemas ia membanting remote TV itu ke lantai setelah mematikan TV-nya.

“Ternyata apa yang digosipkan orang tentang suamiku benar terjadi, huh”, seru wanita itu dengan hati dongkol.

“Bangsaat..!”, Teriaknya kemudian sambil meraih sebuah bantal guling dan menutupi mukanya.

Tak seorangpun mendengar teriakan itu karena rumah besar itu dilengkapi peredam suara pada dindingnya, sehingga empat orang pembantu di rumah itu sama sekali tidak mengetahui kalau sang nyonya mereka sedang marah dan kesal. Ia menangis sejadi-jadinya, bayang-bayang suaminya yang berkencan dengan wanita muda dan cantik itu terus menghantui pikirannya. Hatinya semakin panas sampai ia tak sanggup menahan air matanya yang kini menetes di pipi.

Tiga puluh menit ia menangis sejadi-jadinya, dipeluknya bantal guling itu dengan penuh rasa kesal sampai kemudian ia jatuh tertidur akibat kelelahan. Namun tak seberapa lama ia terkulai tiba-tiba ia terhenyak dan kembali menangis. Rupanya bayangan itu benar-benar merasuki pikirannya hingga dalam tidurnyapun ia masih membayangkan hal itu. Sejenak ia kemudian berdiri dan melangkah keluar kamar tidur itu menuju sebuah ruangan kecil di samping kamar tidurnya, ia menyalakan lampu dan langsung menuju tumpukan obat yang memenuhi sebagian ruangan yang mirip apotik keluarga. Disambarnya tas dokter yang ada di situ lalu membuka sebuah bungkusan pil penenang yang biasa diberikannya pada pasien yang panik. Ditelannya pil itu lalu meminum segelas air.

Beberapa saat kemudian ia menjadi tenang kemudian ia menuju ke ruangan kerjanya yang tampak begitu lengkap. Di sana ia membuka beberapa buku, namun bebarapa lamanya kemudian wanita itu kembali beranjak menuju kamar tidurnya. Wajahnya kini kembali cerah, seberkas senyuman terlihat dari bibirnya yang sensual. Ia duduk di depan meja rias dengan cermin besar, hatinya terus berbicara.

“Masa sih aku harus mengalah terus, kalau bangsat itu bisa berselingkuh kenapa aku tidak”, benaknya sambil menatap dirinya sendiri di cermin itu. Satu-persatu di lepasnya kancing baju kerja yang sedari tadi belum dilepasnya itu, ia tersenyum melihat keindahan tubuhnya sendiri. Bagian atas tubuhnya yang dilapisi baju dalam putih berenda itu memang tampak sangat mempesona. Meski umurnya kini sudah mencapai empat puluh tahun, namun tubuh itu jelas akan membuat lelaki tergiur untuk menyentuhnya.

Kini ia mulai melepaskan baju dalam itu hingga bagian atas tubuhnya kini terbuka dan hanya dilapisi BH. Perlahan ia berdiri dan memutar seperti memamerkan tubuhnya yang bahenol itu. Buah dadanya yang besar dan tampak menantang itu diremasnya sendiri sambil mendongak membayangkan dirinya sedang bercinta dengan seorang lelaki. Kulitnya yang putih mulus dan bersih itu tampak tak kalah mempesonakan.

“Kalau bangsat itu bisa mendapat wanita muda belia, kurasa tubuh dan wajahku lebih dari cukup untuk memikat lelaki muda”, gumamnya lagi.

“Akan kumulai sekarang juga, tapi..”, tiba-tiba pikirannya terhenti.

“Selama ini aku tak pernah mengenal dunia itu, siapakah yang akan kucari? hmm..”.

Tangannya meraih tas kerja di atas mejanyanya, dibongkarnya isi tas itu dan menemukan beberapa kartu nama, sejenak ia memperhatikannya.

“Dokter Felix, lelaki ini doyan nyeleweng tapi apa aku bisa meraih kepuasan darinya? Lelaki itu lebih tua dariku”, katanya dalam hati sambil menyisihkan kartu nama rekan dokternya itu.

“Basuki Hermawan, ah.., pejabat pajak yang korup, aku jijik pada orang seperti ini”, ia merobek kartu nama itu.

“Oh ya.., pemuda itu, yah.., pemuda itu, siapakah namanya, Dodi?, oh bukan. Doni?, oh bukan juga, ah di mana sih aku taruh kartu namanya..”, ia sibuk mencari, sampai-sampai semua isi tak kerja itu dikeluarkannya namun belum juga ia temukan.

“bangsat! Aku lupa di mana menaruhnya”, sejenak ia berhenti mencari dan berpikir keras untuk mencoba mengingat di mana kartu nama pemuda gagah berumur dua puluh limaan itu. Ia begitu menyukai wajah pemuda yang tampak polos dan cerdas itu. Ia sudah terbayang betapa bahagianya jika pemuda itu mau diajak berselingkuh.

“Ahaa! Ketemu juga kau!”, katanya setengah berteriak saat melihat kartu nama dengan logo Hilton International. Ia beranjak berdiri dan meraih hand phone, sejenak kemudian ia sudah tampak berbicara.

“Halo, dengan Edo.., maaf Bapak Edo?”.

“Ya benar, saya Edo tapi bukan Bapak Edo, anda siapa”, terdengar suara ramah di seberang.

“Ah maaf.., Edo, saya Dokter Miranti, kamu masih ingat? Kita ketemu di Rest Room hotel Hilton International tadi siang”.

“Oooh, Bu dokter, tentu dong saya ingat. Masa sih saya lupa sama Bu dokter idola saya yang cantik”.

“Eh kamu bisa saja, Do”.

“Gimana Bu, ada yang bisa saya bantu?”, tanya Edo beberapa saat setelah itu.

“Aku ingin membicarakan tentang seminar minggu depan untuk mempersiapkan akomodasinya, untuk itu sepertinya kita perlu berbicara”.

“No problem, Bu. Kapan ibu ada waktu”.

“Lho kok jadi nanya aku, ya kapan kamu luang aja dong”.

“Nggak apa-apa Bu, untuk orang seperti ibu saya selalu siap, gimana kalau besok kita makan siang bersama”.

“Hmm.., rasanya aku besok ada operasi di rumah sakit. Gimana kalau sekarang saja, kita makan malam”.

“Wah kebetulan Bu, saya memang lagi lapar. baiklah kalau begitu, saya jemput ibu”.

“Oohh nggak usah, biar ibu saja yang jemput kamu, kamu di mana?”.

“wah jadi ngerepotin dong, tapi oke-lah. Saya tunggu saja di Resto Hilton, okay?”.

“Baik kalau begitu dalam sepuluh menit saya datang”, kata wanita itu mengakhiri percakapannya.

Lalu dengan tergesa-gesa ia mengganti pakaian yang dikenakannya dengan gaun terusan dengan belahan di tengah dada. Dengan gesit ia merias wajah dan tubuh yang masih tampak menawan itu hingga tak seberapa lama kemudian ia sudah tampak anggun.

“Mbok..!”, ia berteriak memanggil pembantu.

“Dalem.., Nyaah!”, sahut seorang yang tiba-tiba muncul dari arah dapur.

“Malam ini ibu ndak makan di rumah, nanti kalau tuan nelpon bilang saja ibu ada operasi di rumah sakit”.

“Baik, Nyah..”, sahut pembantunya mengangguk.

Sang dokter itupun berlalu meninggalkan rumahnya tanpa diantar oleh sopir.

Kini sang dokter telah tampak menyantap hidangan makan malam itu bersama pemuda tampan bernama Edo yang berumur jauh di bawahnya. Maksud wanita itu untuk mengencani Edo tidak dikatakannya langsung. Mereka mula-mula hanya membicarakan perihal kontrak kerja antara kantor sang dokter dan hotel tempat Edo bekerja. Namun hal itu tidak berlangsung lama, dua puluh menit kemudian mereka telah mengalihkan pembicaraan ke arah pribadi.

“Maaf lho, Do. Kamu sudah punya pacar?”, tanya sang dokter.

“Dulu pernah punya tapi..”, Edo tak melanjutkan kalimatnya.

“Tapi kenapa, Do?”, sergah wanita itu.

“Dia kawin duluan, ah.., Emang bukan nasib saya deh, dia kawin sama seorang om-om senang yang cuma menyenangi tubuhnya. Namanya Rani..”.

“Maaf kalau ibu sampai membuat kamu ingat sama masa lalu”.

“Nggak apa-apa kok, Bu. Toh saya sudah lupa sama dia, buat apa cari pacar atau istri yang mata duitan”.

“Sukurlah kalau begitu, trus sekarang gimana perasaan kamu”.

“Maksud ibu?”.

“Perasaan kamu yang dikhianati, apa kamu masih dendam?”, tanya sang dokter seperti merasa ingin tahu.

“Sama si Rani sih nggak marah lagi, tapi sampai sekarang saya masih dendam kesumat sama om-om atau pejabat pemerintah yang seperti itu”, jelas Edo pada wanita itu sembari menatapnya.

Sejenak keduanya bertemu pandang, Edo merasakan sebuah perasaan aneh mendesir dadanya. Hanya beberapa detik saja keduanya saling memandang sampai Edo tersadar siapa yang sedang dihadapinya.

“Ah, ma.., ma.., maaf, Bu. Bicara saya jadi ngawur”, kata pemuda itu terpatah-patah.”Oh nggak.., nggak apa-apa kok, Do. Aku juga punya problem yang serupa dengan kamu”, jawab wanita itu sambil kemudian mulai menceritakan masalah pribadi dalam keluarganya. Ia yang kini sudah memiliki dua anak yang bersekolah di Amerika itu sedang mengalami masalah yang cukup berat dalam rumah tangganya. Dengan penuh emosi ia menceritakan masalahnya dengan suaminya yang seorang pejabat pemerintah sekaligus pengusaha terkenal itu.

“Berkali-kali aku mendengar cerita tentang kebejatan moralnya, ia pernah menghamili sekertarisnya di kantor, lalu wanita itu ia pecat begitu saja dan membayar seorang satpam untuk mengawini gadis itu guna menutupi aibnya. Dasar lelaki bangsat”, ceritanya pada Edo.

“Sekarang dia sudah berhubungan lagi dengan seorang wanita pengusaha di luar negeri. Baru tadi aku melihatnya bersama dalam sebuah berita di TV”, lanjut wanita itu dengan raut muka yang sedih.

“Sabar, Bu. Mungkin suatu saat dia akan sadar. Masa sih dia nggak sadar kalau memiliki istri secantik ibu”, ujar Edo mencoba menghiburnya.

“Aku sudah bosan bersabar terus, hatiku hancur, Do. Kamu sudah tahu kan gimana rasanya dikhianati? Dibohongi?”, sengitnya sambil menatap pemuda itu dengan tatapan aneh. Wanita itu seperti ingin mengatakan sesuatu pada Edo.

Beberapa menit keadaan menjadi vacum. Mereka saling menatap penuh misteri. Dada Edo mendesir mendapat tatapan seperti itu, pikirannya bertanya-tanya.

“Ada apa ini?”, gumamnya dalam hati. Namun belum sempat ia menerka apa arti tatapan itu, tangannya tiba-tiba merasakan sesuatu yang lembut menyentuh, ia terhenyak dalam hati. Desiran dadanya kini berubah menjadi getaran keras di jantungnya. Namun belum sempat ia bereaksi atas semua itu tangan sang dokter itu telah meremas telapak tangan Edo dengan mesra. Kini ia menatap wanita itu, dokter Miranti memberinya senyuman, masih misteri.

“Edo.., kamu dan aku memiliki masalah yang saling berkaitan”, katanya perlahan.

“Ma.., maksud ibu?”, Edo tergagap.

“Kehidupan cinta kamu dirusakkan oleh generasi seumurku, dan rumah tanggaku rusak oleh kehidupan bejat suamiku. Kita sama-sama memiliki beban ingatan yang menyakitkan dengan musuh yang sama”.

“lalu?”.

“Kenapa tak kamu lampiaskan dendam itu padaku?”.

“Maksud ibu?”, Edo semakin tak mengerti.

“Aku dendam pada suamiku dan kaum mereka, dan kau punya dendam pada para pejabat yang telah mengecewakanmu. Kini kau menemukan aku, lampiaskan itu. Kalau mereka bisa menggauli generasimu mengapa kamu nggak menggauli kaum mereka? Aku istri pejabat, dan aku juga dikecewakan oleh mereka”.

“Saya masih belum mengerti, Bu”.

“Maksudku, hmm.., kenapa kita tidak menjalin hubungan yang lebih dekat lagi”, jelas wanita itu.

Edo semakin penasaran, ia memberanikan dirinya bertanya, “Maksud ibu.., mm.., ki.., ki.., kita berselingkuh?”, ia berkata sambil memberanikan dirinya menatap wanita paruh baya itu.

“Yah.., kita menjalin hubungan cinta”, jawab dokter Miranti enteng.

“Tapi ibu wanita bersuami, ibu punya keluarga”.

“Ya.., tapi sudah hancur, tak ada harapan lagi. Kalau suamiku bisa mencicipi gadis muda, kenapa aku tidak bisa?”, lanjutnya semakin berani, ia bahkan merangkul pundak pemuda itu. Edo hanya terpaku.

“Ta.., tapi, Bu..”.

“Seumur perkawinanku, aku hanya merasakan derita, Do. Aku ingin kejantanan sejati dari seorang pria. Dan pria itu adalah kamu, Do”, lalu ia beranjak dari tempat duduknya mendekati Edo. Dengan mesra diberinya pemuda itu sebuah kecupan. Edo masih tak bereaksi, ia seperti tak mempercayai kejadian itu.

“Apakah saya mimpi?”, katanya konyol.

“Tidak, Do. Kamu nggak mimpi, ini aku, Dokter Miranti yang kamu kagumi”.

“Tapi, Bu.., ibu sudah bersuami”.

“Tolong jangan katakan itu lagi Edo”.

Kemudian keduanya terpaku lama, sesekali saling menatap. Pikiran Edo berkecamuk keras, ia tak tahu harus berkata apa lagi. Sebenarnya ia begitu gembira, tak pernah ia bermimpi apapun. Namun ia masih merasa ragu.

“Apakah segampang ini?”, gumamnya dalam hati.

“Cantik sekali dokter ini, biarpun umurnya jauh lebih tua dariku tapi oh tubuh dan wajahnya begitu menggiurkan, sudah lama aku memimpikan bercinta dengan wanita istri pejabat seperti dia. Tapi..”, hatinya bertanya-tanya. Sementara suasana vacum itu berlangsung begitu lama. Kini mereka duduk dalam posisi saling bersentuhan. Baru sekitar tiga puluh menit kemudian dokter Miranti tiba-tiba berdiri.

“Do, saya ingin ngobrol lebih banyak lagi, tapi nggak di sini, kamu temui saya di Hotel Hyatt. Saya akan memesan kamar di situ. Selamat malam”, serunya kemudian berlalu meninggalkan Edo yang masih terpaku.

Pemuda itu masih terlihat melamun sampai seorang pelayan restoran datang menyapanya.

“Pak Edo, bapak mau pesan lagi?”.

“Eh.., oh nggak.., nggak, aduh saya kok ngelamun”, jawabnya tergagap mengetahui dirinya hanya terduduk sendiri.

“Teman Bapak sudah tiga puluh menit yang lalu pergi dari sini”, kata pelayan itu.

“Oh ya?”, sahut Edo seperti orang bodoh. Pelayan itu mengangkat bahunya sambil berlalu.

“Eh.., billnya!”, panggil Edo.

“Sudah dibayar oleh teman Bapak”, jawab pelayan itu singkat.

Kini Edo semakin bingung, ia masih merasakan getaran di dadanya. Antara percaya dan tidak. Ia kemudian melangkah ke lift dan turun ke tempat parkir. Hanya satu kalimat dokter Miranti yang kini masih terngiang di telinganya. Hotel Grand Hyatt!

Dengan tergesa-gesa ia menuju ke arah mobilnya. Perjalanan ke hotel yang dimaksud wanita itu tak terasa olehnya, kini ia sudah sampai di depan pintu kamar yang ditanyakannya pada receptionis. Dengan gemetar ia menekan bel di pintu kamar itu, pikirannya masih berkecamuk bingung.

“Masuk, Do”, sambut dokter Miranti membuka pintu kamarnya. Edo masuk dan langsung menatap dokter Miranti yang kini telah mengenakan gaun tidur sutra yang tipis dan transparan. Ia masih tampak terpaku.

“Do, ini memang hari pertemuan kita yang pertama tapi apakah salahnya kalau kita sama-sama saling membutuhkan”, kata dokter Miranti membuka pembicaraan.

“Cobalah realistis, Do. Kamu juga menginginkan ini kan?”, lanjut wanita itu kemudian mendudukkan Edo di pinggir tempat tidur luas itu.

Edo masih tampak bingung sampai sang dokter memberinya kecupan di bibirnya, ia merasakan seperti ada dorongan untuk membalasnya.

“Oh.., Bu”, desahnya sambil kemudian merangkul tubuh bongsor dokter Miranti. Dadanya masih bergetar saat merasakan kemesraan wanita itu. Dokter Miranti kemudian memegang pundaknya dan melucuti pakaian pemuda itu. Dengan perlahan Edo juga memberanikan diri melepas ikatan tali gaun tidur sutra yang dikenakan sang dokter. Begitu tampak buah dada dokter Miranti yang besar dan ranum itu, Edo terhenyak.

“Oh.., indahnya susu wanita ini”, gumamnya dalam hati sambil lalu meraba payudara besar yang masih dilapisi BH itu. Tangan kirinya berusaha melepaskan kancing BH di punggung dokter Miranti. Ia semakin terbelalak saat melihat bentuk buah dada yang kini telah tak berlapis lagi. Tanpa menunggu lagi nafsu pemuda itu bangkit dan ia segera meraih buah dada itu dan langsung mengecupnya. Dirasakannya kelembutan susu wanita cantik paruh baya itu dengan penuh perasaan, ia kini mulai menyedot puting susu itu bergiliran.

“Ooohh.., Edo.., nikmat sayang.., mm sedot terus sayang oohh, ibu sayang kamu, Do.., oohh”, desah dokter Miranti yang kini mendongak merasakan sentuhan lidah dan mulut Edo yang menggilir kedua puting susunya. Tangan wanita itupun mulai meraih batang kemaluan Edo yang sudah tegang sedari tadi, ia terhenyak merasakan besar dan panjangnya penis pemuda itu.

“Ohh.., besarnya punya kamu, Do. Tangan ibu sampai nggak cukup menggenggamnya”, seru dokter Miranti kegirangan. Ia kemudian mengocok-ngocokkan penis itu dengan tangannya sambil menikmati belaian lidah Edo di sekitar payudara dan lehernya.

Kemaluan Edo yang besar dan panjang itu kini tegak berdiri bagai roket yang siap meluncur ke angkasa. Pemuda yang sebelumnya belum pernah melakukan hubungan seks itu semakin terhenyak mendapat sentuhan lembut pada penisnya yang kini tegang. Ia asyik sekali mengecupi sekujur tubuh wanita itu, Edo merasakan sesuatu yang sangat ia dambakan selama ini. Ia tak pernah membayangkan akan dapat menikmati hubungan seks dengan wanita yang sangat ia kagumi ini, ia yang sebelumnya bahkan hanya menonton film biru itu kini mempraktekkan semua yang ia lihat di dalamnya. Hatinya begitu gembira, sentuhan-sentuhan lembut dari tangan halus dokter Miranti membuatnya semakin terlena.

Dengan mesra sekali wanita itu menuntun Edo untuk menikmati sekujur tubuhnya yang putih mulus itu. Dituntunnya tangan pemuda itu untuk membelai lembut buah dadanya, lalu bergerak ke bawah menuju perutnya dan berakhir di permukaan kemaluan wanita itu. Edo merasakan sesuatu yang lembut dan berbulu halus dengan belahan di tengahnya. Pemuda itu membelainya lembut sampai kemudian ia merasakan cairan licin membasahi permukaan kemaluan dokter Miranti. Ia menghentikan gerakannya sejenak, lalu dengan perlahan sang dokter membaringkan tubuhnya dan membuka pahanya lebar hingga daerah kemaluan yang basah itu terlihat seperti menantang Edo. Pemuda itu terbelalak sejenak sebelum kemudian bergerak menciumi daerah itu, jari tangan dokter Miranti kemudian menarik bibir kemaluannya menjadi semakin terbuka hingga menampakkan semua isi dalam dinding vaginanya. Edo semakin terangsang, dijilatinya semua yang dilihat di situ, sebuah benda sebesar biji kacang di antara dinding vagina itu ia sedot masuk ke dalam mulutnya. Hal itu membuat dokter Miranti menarik nafas panjang merasakan nikmat yang begitu hebat.

“Ohh.., hmm.., Edo, sayang, oohh”, desahnya mengiringi bunyi ciplakan bibir Edo yang bermain di permukaan vaginanya.

Dengan gemas Edo menjilati kemaluan itu, sementara dokter Miranti hanya bisa menjerit kecil menahan nikmat belaian lidah Edo. Ia hanya bisa meremas-remas sendiri payudaranya yang besar itu sambil sesekali menarik kecil rambut Edo.

“Aduuh sayang, oohh nikmaat.., sayang.., ooh Edo.., oohh pintarnya kamu sayang.., oohh nikmatnya.., oohh sedoot teruuss.., oohh enaakk.., hmm.., oohh”, jeritnya terpatah-patah.

Puas menikmati vagina itu, Edo kembali ke atas mengarahkan bibirnya kembali ke puting susu dokter Miranti. Sang dokterpun pasrah saja, ia membiarkan dirinya menikmati permainan Edo yang semakin buas saja. Daerah sekitar puting susunya tampak sudah kemerahan akibat sedotan mulut Edo.

“oohh, Edo sayang. Berikan penis kamu sama ibu sayang, ibu ingin mencicipinya”, pinta wanita itu sambil beranjak bangun dan menggenggam kemaluan Edo. Tangannya tampak bahkan tak cukup untuk menggenggamnya, ukurannya yang super besar dan panjang membuat dokter Miranti seperti tak percaya pada apa yang dilihatnya. Wanita itu mulai mengulum penis Edo, mulutnya penuh sesak oleh kepala penis yang besar itu, hanya sebagian kecil saja kemaluan Edo yang bisa masuk ke mulutnya sementara sisanya ia kocok-kocokkan dengan telapak tangan yang ia lumuri air liurnya. Edo kini menikmati permainan itu.

“Auuhh.., Bu, oohh.., enaakk aahh Bu dokter.., ooh nikmat sekali.., mm.., ooh enaknya.., oohh.., sstt.., aahh”, desah pemuda itu mulai menikmatinya.

Sesaat kemudian, Dokter Miranti melepaskan kemaluan yang besar itu lalu membaringkan dirinya kembali di pinggiran tempat tidur. Edo meraih kedua kaki wanita itu dan langsung menempatkan dirinya tepat di depan selangkangan dokter Miranti yang terbuka lebar. Dengan sangat perlahan Edo mengarahkan kemaluannya menuju liang vagina yang menganga itu dan, “Sreett.., bleess”.

“Aduuhh.., aauu Edoo.., sa.., sa.., sakiitt.., vaginaku robeek aahh.., sakiit”, teriak dokter Miranti merasakan vaginanya yang ternyata terlalu kecil untuk penis Edo yang super besar, ia merasakan vaginanya robek oleh terobosan penis Edo. Lebih dahsyat dari saat ia mengalami malam pertamanya.

“Edo sayang, punya kamu besar sekali. Vaginaku rasanya robek do, main yang pelan aja ya, sayang?”, pintanya lalu pada Edo.

“Ouuhh.., ba.., ba.., baik, Bu”, jawab Edo yang tampak sudah merasa begitu nikmat dengan masuknya penis ke dalam vagina dokter Miranti.

Kini dibelainya rambut sang dokter sambil menciumi pipinya yang halus dengan mesra. Pemuda itu mulai menggerakkan penisnya keluar masuk vagina dokter Miranti dengan perlahan sekali sampai beberapa menit kemudian rasa sakit yang ada dalam vagina wanita itu berubah menjadi nikmat, barulah Edo mulai bergerak menggenjot tubuh wanita itu dengan agak cepat. Gerakan tubuh mereka saling membentur mempertemukan kedua kemaluan mereka. Nafsu birahi mereka tampak begitu membara dari gerakan yang semakin lama semakin menggairahkan, teriakan kecil kini telah berubah menjadi desah keras menahan nikmatnya hubungan seks itu.

Keduanya tampak semakin bersemangat, saling menindih bergilir menggenjot untuk meraih tahap demi tahap kenikmatan seks itu. Edo yang baru pertama kali merasakan nikmatnya hubungan seks itu benar-benar menikmati keluar masuknya penis besar itu ke dalam liang vagina sang dokter yang semakin lama menjadi semakin licin akibat cairan kelamin yang muali melumasi dindingnya. Demikian pula halnya dengan dokter Miranti. Ia begitu tampak kian menikmati goyangan tubuh mereka, ukuran penis Edo yang super besar dan terasa merobek liang vaginanya itu kini menjadi sangat nikmat menggesek di dalamnya. Ia berteriak sejadi-jadinya, namun bukan lagi karena merasa sakit tapi untuk mengimbangi dahsyatnya kenikmatan dari penis pemuda itu. Tak pernah ia bayangkan akan dapat menemukan penis sebesar dan sepanjang milik Edo, penis suaminya yang bahkan ia tahu sering meminum obat untuk pembesar alat kelamin tak dapat dibandingkan dengan ukuran penis Edo. Baru pertama kali ini ia melihat ada kemaluan sebesar itu, panjang dan keras sekali.

Bunyi teriakan nyaring bercampur decakan becek dari kedua alat kelamin mereka memenuhi ruangan luas di kamar suite hotel itu. Desahan mereka menahan kenikmatan itu semakin memacu gerakan mereka menjadi kian liar.

“Ooohh.., oohh.., oohh.., enaak.., ooh.., enaknya bu.., oohh nikmat sekali oohh”, desah Edo.

“mm.., aahh.., goyang terus, Do.., ibu suka sama punya kamu, oohh.., enaknya, sayang oohh.., ibu sayang kamu Edo.., oohh”, balas dokter Miranti sambil terus mengimbangi genjotan tubuh pemuda itu dengan menggoyang pinggulnya.

Lima belas menit lebih mereka melakukannya dengan posisi itu dimana Edo menindih tubuh sang dokter yang mengapit dengan pahanya. Kini saatnya mereka ingin mengganti gaya.

“Ouuhh Edo sayang, ganti gaya yuuk?”, ajak sang dokter sambil menghentikan gerakannya.

“Baik, Bu”, jawab pemuda itu mengiyakan.

“Kamu di bawah ya sayang? Ibu pingin goyang di atas tubuh kamu”, katanya sambil menghentikan gerakan tubuh Edo, pemuda itu mengangguk sambil perlahan melepaskan penisnya dari jepitan vagina dokter Miranti. Kemudian ia duduk sejenak mengambil nafas sambil memandangi tubuh wanita itu.

“uuh, cantiknya wanita ini”, ia bergumam dalam hati lalu berbaring menunggu dokter Miranti yang sudah siap menungganginya.

Kini wanita itu berjongkok tepat di atas pinggang Edo, ia sejenak menggenggam kemaluan pemuda itu sebelum kemudian memasukkannya kembali ke dalam liang vaginanya dengan perlahan dan santai. Kembali ia mendesah merasakan penis itu masuk menembus dinding kemaluannya dan menerobos masuk sampai dasar liang vagina yang terasa sempit oleh Edo.

“Ooouuhh..”, desahnya memulai gerakan menurun-naikkan pinggangnya di atas tubuh pemuda itu.

Edo meraih payudara montok yang bergantungan di dada sang dokter, sesekali ia meraih puting susu itu dengan mulutnya dan menyedot-nyedot nikmat.

Keduanya kembali terlibat adegan yang lebih seru lagi, dengan liar dokter Miranti menggoyang tubuh sesuka hati, ia tampak seperti kuda betina yang benar-benar haus seks. Ia yang baru kali ini menikmati hubungan seks dengan lelaki selain suaminya itu benar-benar tampak bergairah, ditambah dengan ukuran kemaluan Edo yang super besar dan panjang membuatnya menjadi begitu senang. Dengan sepenuh hati ia raih kenikmatan itu detik demi detik. Tak semili meterpun ia lewatkan kenikmatan penis Edo yang menggesek dinding dalam kemaluannya. Ia semakin berteriak sejadi-jadinya.

“Aahh.., oohh.., aahh.., oohh.., oohh.., enaak.., oohh.., nikmaatt.., sekali.., Edo sayaanngg.., oohh Edo.., Do.., enaak sayang oohh”, teriaknya tak karuan dengan gerakan liar di atas tubuh pemuda itu sembari menyebut nama Edo. Ia begitu menyukai pemuda itu.

“Ooohh Bu dokter.., oohh.., ibu juga pintar mainnya.., oohh, Bu dokter cantik sekali”, balas Edo.

“Remas susu ibu, Do. oohh.., sedot putingnya sayang.., oohh pintarnya kamu, ooh.., ibu senang sama punya kamu, oohh.., nikmatnya sayang, oohh.., panjang sekali, oohh.., enaak”, lanjut sang dokter dengan gerakan yang semakin liar. Edo mengimbangi gerakan itu dengan mengangkat-angkat pantatnya ke arah pangkal paha dokter Miranti yang mengapitnya itu. Ia terus menghujani daerah dada sang dokter yang tampak begitu disenanginya, puting susu itupun menjadi kemerahan akibat sedotan mulut Edo yang bertubi-tubi.

Namun beberapa saat kemudian sang dokter tampak tak dapat lagi menahan rasa nikmat dari penis pemuda itu. Ia yang selama dua puluh menit menikmati permainan itu dengan garang, kini mengalami ejakulasi yang begitu hebat. Gerakannya berubah semakin cepat dan liar, diremasnya sendiri buah dada montoknya sambil lebih keras lagi menghempaskan pangkal selangkangannya pada penis Edo hingga sekitar dua menit berlalu ia berteriak panjang sebelum kemudian menghentikan gerakannya dan memeluk tubuh pemuda itu.

“Ooohh.., oohh.., aauu, aku keluarr.., Edo.., aahh.., aah.., aku, nggak kuat lagi aku.., Do.., oohh.., enaaknya.., sayang, oohh.., Edo sayang.., hhuuh.., ibu nggak tahan lagi”, jeritnya panjang sambil memeluk erat tubuh Edo, cairan kelamin dalam rahimnya muncrat memenuhi liang vagina di mana penis Edo masih tegang dan keras.

“Ooohh nikmat bu.., oohh punya ibu tambah licin dan nikmat.., oohh.., nikmat Bu dokter, oohh.., semakin nikmat sekali Bu dokter, oohh.., enaak, mm.., oohh.., uuhh.., oohh.., oohh, nikmat sekali.., uuhh.., Bu dokter cantik.., aauuhh.., sshh nikmat bu”, desah Edo merasakan kenikmatan dalam liang vagina sang dokter yang tengah mengalami ejakulasi, vagina itu terasa makin menjepit penisnya yang terus saja menggesek dinding vagina itu. Kepala penisnya yang berada jauh di dalam liang vagina wanita itu merasakan cairan hangat menyembur dan membuat liang vagina sang dokter terasa semakin nikmat dan licin.

Pemuda itu membalas pelukan dokter Miranti yang tampak sudah tak sanggup lagi menggoyang tubuhnya di atas tubuh Edo. Sejenak gerakan mereka terhenti meski Edo sedikit kecewa karena saat itu ia rasakan vagina sang dokter sangat nikmat. Ia berusaha menahan birahinya yang masih saja membara dengan memberi ciuman mesra pada wanita cantik itu.

“Oh Edo sayang, kamu kuat sekali mainnya sayang, aku puas sekali, ibu betul-betul merasa seperti berada di tempat yang paling indah dengan sejuta kenikmatan cinta. Kamu betul-betul jago”, katanya pada Edo sambil memandang wajah pemuda itu tepat di depan matanya, dipeluknya erat pinggang Edo untuk menahan goyangan penis di selangkangannya.

Sejenak Dokter Miranti beristirahat di pelukan pemuda itu, ia terus memuji kekuatan dan kejantanan Edo yang sebelumnya belum pernah ia dapatkan sekalipun dari suaminya. Matanya melirik ke arah jam dinding di kamar itu.

“Edo..”, sapanya memecah keheningan sesaat itu.

“Ya, bu?”, jawab Edo sambil terus memberi kecupan pada pipi dan muka sang dokter yang begitu ia senangi.

“Sudah satu jam lamanya kita bermain, kamu hebat sekali, Do”, lanjutnya terheran-heran.

“Saya baru sekali ini melakukannya, Bu”, jawab Edo.

“Ah masa sih, bohong kamu, Do”, sergah dokter Miranti sambil membalas ciuman Edo di bibirnya.

“Benar kok, Bu. Sumpah saya baru kali ini yang pertama kalinya”, Edo bersikeras.

“Tapi kamu mainnya kok hebat banget? Dari mana kamu tahu gaya-gaya yang tadi kita lakukan”, lanjut sang dokter tak percaya.

“Saya hanya menonton film, Bu”, jawab pemuda itu.

Beberapa menit mereka ngobrol diselingi canda dan cumbuan mesra yang membuat birahi sang dokter bangkit untuk mengulangi permainannya. Dirasakannya dinding vagina yang tadinya merasa geli saat mengalami ejakulasi itu mulai terangsang lagi. Edopun merasakan gejala itu dari denyutan vagina sang dokter. Edo melepaskan pelukannya, lalu menempatkan diri tepat di belakang punggung sang dokter, tangannya nenuntun penis besar itu ke arah permukaan lubang kemaluan dokter Miranti yang hanya pasrah membiarkannya mengatur gaya sesuka hati. Pemuda itu kini berada tepat di belakang menempel di punggung sang dokter, lalu perlahan sekali ia memasukkan penis besarnya ke dalam liang sang dokter dari arah belakang pantatnya.

“Ooohh, pintarnya kamu Edo.., ooh ibu suka gaya ini, mm.., goyang teruuss.., aahh, nikmat do, oohh.., sampai pangkalnya teruss, oohh.., enaak..tarik lagi sayang oohh, masukin lagii oohh, sampai pangkal nya Edo.., oohh, sayang nikmat sekali, oohh.., oohh Edo.., oohh.., mm.., Edo.., sayang”, desah sang dokter begitu merasakannya, atas bawah tubuhnya merasakan kenikmatan itu dengan sangat sempurna. Tangan Edo meremas susunya sementara penis pemuda itu tampak jelas keluar masuk liang vaginanya. Keduanya kembali terlihat bergoyang mesra meraih detik demi detik kenikmatan dari setiap gerakan yang mereka lakukan. Demikian juga dengan Edo yang menggoyang dari arah belakang itu, ia terus meremas payudara montok sang dokter sambil memandang wajah cantik yang membuatnya semakin bergairah. Kecantikan Dokter Miranti yang sangat menawan itu benar-benar membuat gairah bercinta Edo semakin membara. Dengan sepenuh hati digoyangnya tubuh bahenol dan putih mulus itu sampai-sampai suara decakan pertemuan antara pangkal pahanya dan pantat besar sang dokter terdengar keras mengiringi desahan mulut mereka yang terus mengoceh tak karuan menikmati hebatnya rasa dari permainan itu.

Sekitar dua puluh menit berlalu tampak kedua insan itu sudah tak dapat menahan lagi rasa nikmat dari permainan mereka hingga kini keduanya semakin berteriak keras sejadi-jadinya. Tampaknya mereka ingin segera menyelesaikan permainannya secara bersamaan.

“Huuh.., oohh.., oohh.., aahh.., oohh.., nikmat sekali Do, goyang lagi sayang, oohh.., ibu mau keluar sebentar lagi sayang, oohh.., goyang yang keras lagi sayang, oohh.., enaknya penis kamu, oohh.., ibu nggak kuat lagi ooh”, jerit dokter Miranti.

“Uuuhh.., aahh.., oohh, mm.., aah.., saya juga mau keluar Bu, oohh.., dokter Miranti sayaang, oohh.., mm.., enaakk sekali, oohh.., oohh, dokter sayang, oohh.., dokter cantik, oohh.., enaakk.., dokter dokter sayang, oohh.., vagina dokter juga nikmat sekali, ooh”, teriak Edo juga.

“Ooohh enaknya sayang, oohh.., pintar kamu sanyang, oohh.., kocok terus, ooh.., genjot yang keraass, oohh”.

“Ooohh dokter, susunya.., oohh.., saya mau sedot, oohh”, Edo meraih susu sang dokter lalu menyedotnya dari arah samping.

“Oooh Edo pintarnya kamu sayang, oohh.., nikmatnya, oohh.., ibu sebentar lagi keluar sayang, oohh.., keluarin samaan yah, oohh”, ajak sang dokter.

“Saya juga mau keluar Bu, yah kita samaan Bu dokter, oohh.., vagina ibu nikmat sekali, oohh.., mm.., enaknya, oohh”, teriak Edo sambil mempercepat lagi gerakannya.

Namun beberapa saat kemudian dokter Miranti berteriak panjang mengakhiri permainannya.

“Aauuwww.., oohh.., Edoo, ibu nggak tahan lagii.., keluaar.., aauhh nikmatnya sayang, oohh”, jeritnya panjang sambil membiarkan cairan kelaminnya kembali menyembur ke arah penis Edo yang masih menggenjot dalam liang kemaluannya. Edo merasakan gejala itu lalu berusaha sekuat tenaga untuk membuat dirinya keluar juga, beberapa saat ia merasakan vagina sang dokter menjepit kemaluannya keras diiringi semburan cairan mani yang deras ke arah penisnya. Dan beberapa saat kemudian ia akhirnya berteriak panjang meraih klimaks permainan.

“Ooohh.., aahh.., oowww.., aahh, dokter.., Miranti.., sayyaang.., ooh.., enaak sekalii.., oohh saya juga keluaarr, oohh”, jeritnya panjang sesaat setelah sang dokter mengakhiri teriakannya.

“Edo sayang, oohh.., jangan di dalam sayang, oohh.., ibu nggak pakai alat kontrasepsi, oohh.., sini keluarin di luar Edo, sayang berikan pada ibu, ooh.., enaknya, cabut sayang. Semprotkan ke Ibu, oohh”, pintanya sembari merasakan nikmatnya denyutan penis Edo. Ia baru sadar dirinya tak memakai alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. Didorongnya tubuh Edo sambil meraih batang penis yang sedang meraih puncak kenikmatan itu.

Kemudian pemuda itu mencabut penisnya dengan tergesa-gesa dari liang kemaluan sang dokter dan, “Cropp bress.., croott.., croott.., creess”, cairan kelamin Edo menyembur ke arah wajah sang dokter. Edo berdiri mengangkang di atas tubuhnya dan menyemburkan air maninya yang sangat deras dan banyak ke arah badan dan muka sang dokter. Sebagian cairan itu bahkan masuk ke mulut sang dokter.

“Ohh.., sayang, terus oohh.., berikan pada ibu, oohh.., hmm.., nyam.., enaknya, oohh.., semprotkan pada ibu, oohh.., ibu ingin meminumnya Edo, oohh.., enaakknya sayang, ooh.., lezat sekali”, jerit wanita itu kegirangan sambil menelan habis cairan mani pemuda itu ke dalam mulutnya, bahkan belum puas dengan itu ia kembali meraih batang penis Edo dan menyedot keras batang kemaluannya dan menelan habis sisa-sisa cairan itu hingga Edo merasakan semua cairannya habis.

“Ooohh Bu dokter, oohh dokter, saya puas sekali bu”, kata Edo sembari merangkul tubuh sang dokter dan kembali berbaring di tempat tidur.

“Kamu kuat sekali Edo, sanggup membuat ibu keluar sampai dua kali, kamu benar-benar hebat dan pintar mainnya, ibu suka sekali sama kamu. Nggak pernah sebelumnya ibu merasakan kenikmatan seperti ini dengan suami ibu. Dia bahkan tak ada apa-apanya dibanding kamu”, seru sang dokter pada Edo sambil mencium dada pemuda itu.

“Saya juga benar-benar puas sekali, Bu. Ibu memberikan kenikmatan yang nggak pernah saya rasakan sebelumnya. Sekarang saya tahu bagaimana nikmatnya bercinta”, jawab Edo sekenanya sambil membalas ciuman dokter Miranti. Tangannya membelai halus permukaan buah dada sang dokter dan memilin-milin putingnya yang lembut.

“Tapi apakah ibu tidak merasa berdosa pada suami Ibu, kita sedang berselingkuh dan ibu punya keluarga”, sergah Edo sambil menatap wajah manis dokter Miranti.

“Apakah aku harus setia sampai mati sementara dia sekarang mungkin sedang asyik menikmati tubuh wanita-wanita lain?”.

“Benarkah?”.

“Aku pernah melihatnya sendiri, Do. Waktu itu kami sedang berlibur di Singapura bersama kedua anakku”, lanjut sang dokter memulai ceritanya pada Edo.

Edo hanya terdiam mendengar cerita dokter Miranti. Ia menceritakan bagaimana suaminya memperkosa seorang pelayan hotel tempat mereka menginap waktu ia dan anak-anaknya sedang berenang di kolam hotel itu. Betapa terkejutnya ia saat menemukan sang pelayan keluar dari kamarnya sambil menangis histeris dan terisak menceritakan semuanya pada manajer hotel itu dan dirinya sendiri.

“Kamu bisa bayangkan, Do. Betapa malunya ibu, sudah bertahan-tahun kami hidup bersama, dengan dua orang anak, masih saja dia berbuat seperti itu, dasar lelaki kurang ajar, bangsat dia itu..”, ceritanya pada Edo dengan muka sedih.

“Maaf kalau saya mengungkap sisi buruk kehidupan ibu dan membuat ibu bersedih”.

“Tak apa, Do. Ini kenyataan kok”.

Dilihatnya sang dokter meneteskan air mata, “Saya tidak bermaksud menyinggung ibu, oh..”, Edo berusaha menenangkan perasaannya, ia memeluk tubuh sang dokter dan memberinya beberapa belaian mesra. Tak disangkanya dibalik kecantikan wajah dan ketenaran sang dokter ternyata wanita itu memiliki masalah keluarga yang begitu rumit.

“Tapi saya yakin dengan tubuh dan wajah ibu yang cantik ini ibu bisa dapatkan semua yang ibu inginkan, apalagi dengan permaian ibu yang begitu nikmat seperti yang baru saja saya rasakan, bu”, Kata Edo menghibur sang dokter.

“Ah kamu bisa aja, Do. Ibu kan sudah nggak muda lagi, umur ibu sekarang sudah empat puluh tiga tahun, lho?”.

“Tapi, Bu terus terang saja saya lebih senang bercinta dengan wanita dewasa seperti ibu. Saya suka sekali bentuk tubuh ibu yang bongsor ini”, lanjut pemuda itu sambil memberikan ciuman di pipi sang dokter, ia mempererat pelukannya.

“Kamu mau pacaran sama ibu?”.

“Kenurut ibu apa yang kita lakukan sekarang ini bukannya selingkuh?”, tanya Edo.

“Kamu benar suka sama ibu?”.

“Benar, Bu. Sumpah saya suka sama Ibu”, Edo mengecup bibir wanita itu.

“Oh Edo sayang, ibu juga suka sekali sama kamu. Jangan bosan yah, sayang?”.

“Nggak akan, bu. Ibu begitu cantik dan molek, masa sih saya mau bosan. Saya sama sekali tidak tertarik pada gadis remaja atau yang seumur. Ibu benar-benar sesuai seperti yang saya idam-idamkan selama ini. Saya selalu ingin bermain cinta dengan ibu-ibu istri pejabat. Tubuh dan goyang Bu dokter sudah membuat saya benar-benar puas”.

“Mulai sekarang kamu boleh minta ini kapan saja kamu mau, Do. Ibu akan berikan padamu”, jawab sang dokter sambil meraba kemaluan Edo yang sudah tampak tertidur.

“Terima kasih, Bu. Ibu juga boleh pakai saya kapan saja ibu suka”.

“Ibu sayang kamu, Do”.

“Saya juga, Bu. ooh dokter Miranti..”, desah pemuda itu kemudian merasakan penisnya teremas tangan sang dokter.

“Oooh Edo, sayang..”, balas dokter Miranti menyebut namanya mesra.

Kembali mereka saling berangkulan mesra, tangan mereka meraih kemaluan masing-masing dan berusaha membangkitkan nafsu untuk kembali bercinta. Edo meraih pantat sang dokter dengan tangan kirinya, mulutnya menyedot bibir merah sang dokter. “Oooh dokter Miranti, sayang.., oohh”, desah Edo merasakan penisnya yang mulai bangkit lagi merasakan remasan dan belaian lembut tangan sang dokter. Sementara tangan pemuda itu sendiri kini meraba permukaan kemaluan dokter Miranti yang mulai terasa basah lagi.

“oohh.., uuhh Edo sayang.., nikmat.sayang, oohh Edo.., Ibu pingin lagi, Do, oohh.., kita main lagi sayang, oohh”, desah manja dan menggairahkan terdengar dari mulut dokter Miranti.

“Uuuhh.., saya juga kepingin lagi Bu dokter, oohh.., Ibu cantik sekali, ooh.., dokter Miranti sayang, oohh.., remas terus penis saya Bu, oohh”.

“Ibu suka penis kamu Do, bentuknya panjang dan besar sekali. oouuhh.., baru pertama ini ibu merasakan penis seperti ini”, suara desah dokter miranti memuji kemaluan Edo.

Begitu mereka tampak tak tahan lagi setelah melakukan pemanasan selama lima belas menit, lalu kembali keduanya terlibat permainan seks yang hebat sampai kira-kira pukul empat dini hari. Tak terasa oleh mereka waktu berlalu begitu cepat hingga membuat tenaga mereka terkuras habis. Dokter Miranti berhasil meraih kepuasan sebanyak empat kali sebelum kemudian Edo mengakhiri permainannya yang selalu lama dan membuat sang dokter kewalahan menghadapinya. Kejantanan pemuda itu memang tiada duanya. Ia mampu bertahan selama itu, tubuh sang dokter yang begitu membuatnya bernafsu itu digoyangnya dengan segala macam gaya yang ia pernah lihat dalam film porno. Semua di praktikkan Edo, dari ‘doggie style’ sampai 69 ia lakukan dengan penuh nafsu. Mereka benar-benar mengumbar nafsu birahi itu dengan bebas. Tak satupun tempat di ruangan itu yang terlewat, dari tempat tidur, kamar mandi, bathtub, meja kerja, toilet sampai meja makan dan sofa di ruangan itu menjadi tempat pelampiasan nafsu seks mereka yang membara.

Akhirnya setelah melewati ronde demi ronde permainan itu mereka terkulai lemas saling mendekap setelah Edo mengalami ejakulasi bersamaan dengan orgasme dokter Miranti yang sudah empat kali itu. Dengan saling berpelukan mesra dan kemaluan Edo yang masih berada dalam liang vagina sang dokter, mereka tertidur pulas.

Malam itu benar-benar menjadi malam yang sangat indah bagi keduanya. Edo yang baru pertama kali merasakan kehangatan tubuh wanita itu benar-benar merasa puas. Dokter Miranti telah memberinya sebuah kenikmatan yang selama ini sangat ia dambakan. Bertahun-tahun lamanya ia bermimpi untuk dapat meniduri istri pejabat seperti wanita ini, kini dokter Miranti datang dengan sejuta kenikmatan yang ia berikan. Semalam suntuk penuh ia lampiaskan nafsu birahinya yang telah terpendam sedemikian lama itu di tubuh sang dokter, ia lupa segalanya. Edo tak dapat mengingat sudah berapa kali ia buat sang dokter meronta merasakan klimaks dari hubungan seks itu. Cairan maninya terasa habis ia tumpahkan, sebagian di mulut sang dokter dan sebagian lagi disiramkan di sekujur tubuh wanita itu.

Begitupun dengan dokter Miranti, baginya malam yang indah itu adalah malam pertama ia merasakan kenikmatan seksual yang sesungguhnya. Ia yang tak pernah sekalipun mengalami orgasme saat bermain dengan suaminya, kini merasakan sesuatu yang sangat hebat dan nikmat. Kemaluan Edo dengan ukuran super besar itu telah memberinya kenikmatan maha dahsyat yang takkan pernah ia lupakan. Belasan kali sudah Edo membuatnya meraih puncak kenikmatan senggama, tubuhnya seperti rontok menghadapi keperkasaan anak muda itu. Umur Edo yang separuh umurnya itu membuat suasana hatinya sangat bergairah. Bagaimana tidak, seorang pemuda tampan dan perkasa yang berumur jauh di bawahnya memberinya kenikmatan seks bagai seorang ksatria gagah perkasa. Ia sungguh-sungguh puas lahir batin sampai-sampai ia rasakan tubuhnya terkapar lemas dan tak mampu bergerak lagi, cairan kelaminnya yang terus mengucur tiada henti saat permainan cinta itu berlangsung membuat vaginanya terasa kering. Namun sekali lagi, ia merasa puas, sepuas-puasnya.

Sejak saat itu, dokter Miranti menjalin hubungan gelap dengan dengan Edo. Kehidupan mereka kini penuh dengan kebahagiaan cinta yang mereka raih dari kencan-kencan rahasia yang selalu dilakukan kedua orang itu saat suami dokter Miranti tidak di rumah. Di hotel, di apartement Edo atau bahkan di rumah sang dokter mereka lakukan perselingkuhan yang selalu diwarnai oleh hubungan seks yang seru tak pernah mereka lewatkan.

Terlampiaskan sudah nafsu seks dan dendam pada diri mereka masing-masing. Dokter Miranti tak lagi mempermasalahkan suaminya yang doyan perempuan itu. Ia bahkan tak pernah lagi mau melayani nafsu birahi suaminya dengan serius. Setiap kali lelaki itu memintanya untuk bercinta ia hanya melayaninya setengah hati. Tak ia hiraukan lagi apakah suaminya puas dengan permainan itu, ia hanya memberikan pelayanan sekedarnya sampai lelaki botak dan berperut besar itu mengeluarkan cairan kelaminnya dalam waktu singkat kurang dari tiga menit. Ingin rasanya dokter Miranti meludahi muka suaminya, lelaki tak tahu malu yang hanya mengandalkan uang dan kekuasaan. Yang dengan sewenang-wenang membeli kewanitaan orang dengan uangnya. Lelaki itu tak pernah menyangka bahwa istrinya telah jatuh ke tangan seorang pemuda perkasa yang jauh melebihi dirinya. Ia benar-benar tertipu.

Judul: Memperkosa Istri Setia

Author : Hidden , Category: Pemerkosaan

Awalnya aku tak terlalu tertarik dengan pasangan suami-istri muda yang baru tinggal di samping rumahku itu. Suaminya yang bernama Bram, berusia sekitar 32 tahun, merupakan seorang pria dengan wajah tirus dan dingin. Sangat mahal senyum. Sedang istrinya, seorang wanita 23 tahun, bertubuh sintal yang memiliki sepasang mata membola cantik, raut wajah khas wanita Jawa. Tak beda jauh dengan suaminya, dia juga terlihat kaku dan tertutup. Tapi watak itu, agaknya lebih disebabkan oleh sikap pendiam dan pemalunya.

Sehari-harinya, dia selalu mengenakan pakaian kebaya. Latar belakang kehidupan pedesaan wanita berambut ikal panjang ini, terlihat masih cukup kental, Jakarta tak membuatnya berubah. Aku hanya sempat bicara dan bertemu lebih dekat dengan pasangan ini, dihari pertama mereka pindah. Saat mengangkat barang-barangnya, aku kebetulan baru pulang dari jogging dan lewat di depan pintu pagar halaman rumah yang mereka kontrak. Setelah itu, aku tak pernah lagi kontak dengan keduanya. Aku juga tak merasa perlu untuk mengurusi mereka.

Perasaan dan pikiranku mulai berubah, khususnya terhadap si Istri yang bernama Maryati, ketika suatu pagi bangun dari tidur aku duduk di balik jendela. Dari arah sana, secara kebetulan, juga melalui jendela kamarnya, aku menyaksikan si Istri sedang melayani suaminya dengan sangat telaten dan penuh kasih. Mulai menemani makan, mengenakan pakaian, memasang kaos kaki, sepatu, membetulkan letak baju, sampai ketika mencium suaminya yang sedang bersiap-siap untuk turun kerja, semua itu kusaksikan dengan jelas. Aku punya kesimpulan wanita lumayan cantik itu sangat mencintai pasangan

hidupnya yang berwajah dingin tersebut.

Entah mengapa, tiba-tiba saja muncul pertanyaan nakal di otakku. Apakah Istri seperti itu memang memiliki kesetiaan yang benar-benar tulus dan jauh dari pikiran macam-macam terhadap suaminya? Sebutlah misalnya berhayal pada suatu ketika bisa melakukan petualangan seksual dengan lelaki lain?

Apakah seorang istri seperti itu mampu bertahan dari godaan seks yang kuat, jika pada suatu ketika, dia terposisikan secara paksa kepada suatu kondisi yang memungkinkannya bermain seks dengan pria lain? Apakah dalam situasi seperti itu, dia akan melawan, menolak secara total meski keselamatannya terancam? Atau apakah dia justru melihatnya sebagai peluang untuk dimanfaatkan, dengan dalih ketidakberdayaan karena berada dibawah ancaman? Pertanyaan-pertanyaan itu, secara kuat menyelimuti otak dudaku yang memang kotor dan suka berhayal tentang penyimpangan seksual.

Sekaligus juga akhirnya melahirkan sebuah rencana biadab, yang jelas sarat dengan resiko dosa dan hukum yang berat. Aku ingin memperkosa Maryati! Wuah! Tapi itulah memang tekad yang terbangun kuat di otak binatangku. Sesuatu yang membuatmu mulai hari itu, secara diam-diam melakukan pengamatan dan penelitian intensif terhadap pasangan suami istri muda tersebut. Kuamati, kapan keduanya mulai bangun, mulai tidur, makan dan bercengkrama. Kapan saja si Suami bepergian ke luar kota lebih dari satu malam, karena tugas perusahaannya sebuah distributor peralatan elektronik yang cukup besar. Dengan kata lain, kapan Maryati, wanita dengan sepasang buah dada dan pinggul yang montok sintal itu tidur sendirian di rumahnya.

Untuk diketahui, pasangan ini tidak punya pembantu. Saat itulah yang bakal kupilih untuk momentum memperkosanya. Menikmati bangun dan lekuk-lekuk tubuhnya yang memancing gairah, sambil menguji daya tahan kesetiaannya sebagai istri yang bisa kukategorikan lumayan setia. Sebab setiap suaminya bepergian atau sedang keluar, wanita ini hanya mengunci diri di dalam rumahnya. Selama ini bahkan dia tak pernah kulihat meski hanya untuk duduk-duduk di terasnya yang besar. Itu ciri Ibu Rumah Tangga yang konservatif dan kukuh memegang tradisi sopan-santun budaya wanita timur yang sangat menghormati suami.

Meski mungkin mereka sadar, seorang suami, yang terkesan sesetia apapun, jika punya peluang dan kesempatan untuk bermain gila, mudah terjebak ke sana. Aku tahu suaminya, si Bram selalu bepergian keluar kota satu atau dua malam, setiap hari Rabu. Apakah benar-benar untuk keperluan kantornya, atau bisa jadi menyambangi wanita simpanannya yang lain. Dan itu bukan urusanku. Yang penting, pada Rabu malam itulah aku akan melaksanakan aksi biadabku yang mendebarkan. Semua tahapan tindakan yang akan kulakukan terhadap wanita yang di mataku semakin menggairahkan itu, kususun dengan cermat.

Aku akan menyelinap ke rumahnya hanya dengan mengenakan celana training minus celana dalam, serta baju kaos ketat yang mengukir bentuk tubuh bidangku. Buat Anda ketahui, aku pria macho dengan penampilan menarik yang gampang memaksa wanita yang berpapasan denganku biasanya melirik. Momen yang kupilih, adalah pada saat Maryati akan tidur. Karena berdasarka hasil pengamatanku, hanya pada saat itu, dia tidak berkebaya, cuma mengenakan daster tipis yang (mungkin) tanpa kutang. Aku tak terlalu pasti soal ini, karena cuma bisa menyaksikannya sekelebat saja lewat cara mengintip dari balik kaca jendelanya dua hari lalu. Kalau Maryati cuma berdaster, berarti aku tak perlu disibukkan untuk melepaskan stagen, baju, kutang serta kain yang membalut tubuhnya kalau lagi berkebaya. Sedang mengapa aku cuma mengenakan training spack tanpa celana dalam, tahu sendirilah.

Aku menyelinap masuk ke dalam rumahnya lewat pintu dapur yang terbuka petang itu. Saat Maryati pergi mengambil jemuran di kebun belakangnya, aku cepat bersembunyi di balik tumpukan karton kemasan barang-barag elektronik yang terdapat di sudut ruangan dapurnya. Dari sana, dengan sabar dan terus berusaha untuk mengendalikan diri, wanita itu kuamati sebelum dia masuk ke kamar tidurnya. Dengan mengenakan daster tipis dan ternyata benar tanpa kutang kecuali celana dalam di baliknya.

Si Istri Setia itu memeriksa kunci-kunci jendela dan pintu rumahnya. Dari dalam kamarnya terdengar suara acara televisi cukup nyaring. Nah, pada saat dia akan masuk ke kamar tidurnya itulah, aku segera memasuki tahapan berikut dari strategi memperkosa wanita bertubuh sintal ini. Dia kusergap dari belakang, sebelah tanganku menutup mulutnya, sedang tangan yang lain secara kuat mengunci kedua tangannya. Maryati terlihat tersentak dengan mata terbeliak lebar karena terkejut sekaligus panik dan ketakutan. Dia berusaha meronta dengan keras. Tapi seperti adegan biasa di film-film yang memperagakan ulah para bajingan, aku cepat mengingatkannya untuk tetap diam dan tidak bertindak bodoh melakukan perlawanan. Hanya bedanya, aku juga mengutarakan permintaan maaf.

“Maafkan saya Mbak. Saya tidak tahan untuk tidak memeluk Mbak. Percayalah, saya tidak akan menyakiti Mbak. Dan saya bersumpah hanya melakukan ini sekali. Sekali saja,” bisikku membujuk dengan nafas memburu akibat nafsu dan rasa tegang luar biasa.

Maryati tetap tidak peduli. Dia berusaha mengamuk, menendang-nendang saat kakiku menutup pintu kamarnya dan tubuhnya kepepetkan ke dinding.

“Kalau Mbak ribut, akan ketahuaan orang. Kita berdua bisa hancur karena malu dan aib. Semua ini tidak akan diketahui orang lain. Saya bersumpah merahasiakannya sampai mati, karena saya tidak mau diketahui orang lain sebagai pemerkosa,” bisikku lagi dengan tetap mengunci seluruh gerakan tubuhnya.

Tahapan selanjutnya, adalah menciumi bagian leher belakang dan telinga wanita beraroma tubuh harum merangsang itu. Sedang senjataku yang keras, tegang, perkasa dan penuh urat-urat besar, kutekankan secara keras ke belahan pantatnya dengan gerakan memutar, membuat Maryati semakin terjepit di dinding. Dia mencoba semakin kalap melawan dan meronta, namun apalah artinya tenaga seorang wanita, di hadapan pria kekar yang sedang dikuasai nafsu binatang seperti diriku.

Aksi menciumi dan menekan pantat Maryati terus kulakukan sampai lebih kurang sepuluh menit. Setelah melihat ada peluang lebih baik, dengan gerakan secepat kilat, dasternya kusingkapkan. Celana dalamnya segera kutarik sampai sobek ke bawah, dan sebelum wanita ini tahu apa yang akan kulakukan, belahan pantatnya segera kubuka dan lubang anusnya kujilati secara buas. Maryati terpekik. Sebelah tanganku dengan gesit kemudian menyelinap masuk diantara selangkangannya dari belakang dan meraba serta meremas bagian luar kemaluannya, tapi membiarkan bagian dalamnya tak terjamah.

Strategiku mengingatkan belum waktunya sampai ke sana. Aksi menjilat dan meremas serta mengusap-usap ini kulakukan selama beberapa menit. Maryati terus berusaha melepaskan diri sambil memintaku menghentikan tindakan yang disebutnya jahanam itu. Dia berulang-ulang menyebutku binatang dan bajingan. Tak soal. Aku memang sudah jadi binatang bajingan. Dan sekarang sang bajingan sudah tanpa celana, telanjang sebagian.

“Akan kulaporkan ke suamiku,” ancamnya kemudian dengan nafas terengah-engah.

Aku tak menyahut sambil bangkit berdiri serta menciumi pundaknya. Lalu menempelkan batang perkasaku yang besar, tegang dan panas diantara belahan pantatnya. Menekan dan memutar-mutarnya dengan kuat di sana. Sedang kedua tanganku menyusup ke depan, meraba, meremas dan memainkan puting buah dada besar serta montok wanita yang terus berjuang untuk meloloskan diri dari bencana itu.

“Tolong Mas Dartam, lepaskan aku. Kasihani aku,” ratapnya.

Aku segera menciumi leher dan belakang telinganya sambil berbisik untuk membujuk, sekaligus memprovokasi.

“Kita akan sama-sama mendapat kepuasan Mbak. Tidak ada yang rugi, karena juga tidak akan ada yang tahu. Suamimu sedang keluar kota. Mungkin juga dia sedang bergulat dengan wanita lain. Apakah kau percaya dia setia seperti dirimu,” bujukku mesra.

“Kau bajingan terkutuk,” pekiknya dengan marah.

Sebagai jawabannya, tubuh putih yang montok dan harum itu (ciri yang sangat kusenangi) kali ini kupeluk kuat-kuat, lalu kuseret ke atas ranjang dan menjatuhnya di sana. Kemudian kubalik, kedua tangannya kurentangkan ke atas. Selanjutnya, ketiak yang berbulu halus dan basah oleh keringat milik wanita itu, mulai kuciumi. Dari sana, ciumanku meluncur ke sepasang buah dadanya. Menjilat, menggigit-gigit kecil, serta menyedot putingnya yang terasa mengeras tegang.

“Jangan Mas Darta. Jangan.. Tolong lepaskan aku.”

Wanita itu menggeliat-geliat keras. Masih tetap berusaha untuk melepaskan diri. Tetapi aku terus bertindak semakin jauh. Kali ini yang menjadi sasaranku adalah perutnya. Kujilat habis, sebelum pelan-pelan merosot turun lebih ke bawah lalu berputar-putar di bukit kemaluannya yang ternyata menggunung tinggi, mirip roti. Sementara tanganku meremas dan mempermainkan buah dadanya, kedua batang paha putih dan mulusnya yang menjepit rapat, berusaha kubuka.

Maryati dengan kalap berusaha bangun dan mendorong kepalaku. Kakinya menendang-nendang kasar. Aku cepat menjinakkannya, sebelum kaki dan dengkul yang liar itu secara telak membentur dua biji kejantannanku. Bisa celaka jika itu terjadi. Kalau aku semaput, wanita ini pasti lolos. Setelah berjuang cukup keras, kedua paha Maryati akhirnya berhasil kukuakkan. Kemudian dengan keahlian melakukan cunnilingus yang kumiliki dari hasil belajar, berteori dan berpraktek selama ini, lubang dan bibir kelamin wanita itu mulai menjadi sasaran lidah dan bibirku.

Tanpa sadar Maryati terpekik, saat kecupan dan permainan ujung lidahku menempel kuat di klitorisnya yang mengeras tegang. Kulakukan berbagai sapuan dan dorongan lidah ke bagian-bagian sangat sensitif di dalam liang senggamanya, sambil tanganku terus mengusap, meremas dan memijit-mijit kedua buah dadanya. Maryati menggeliat, terguncang dan tergetar, kadang menggigil, menahan dampak dari semua aksi itu. Kepalanya digeleng-gelengkan secara keras. Entah pernyataan menolak, atau apa.

Sambil melakukan hal itu, mataku berusaha memperhatikan permukaan perut si Istri Setia ini. Dari sana aku bisa mempelajari reaksi otot-otot tubuhnya, terhadap gerakan lidahku yang terus menyeruak masuk dalam ke dalam liang senggamanya. Dengan sentakan-sentakan dan gelombang di bagian atas perut itu, aku akan tahu, di titik dan bagian mana Maryati akan merasa lebih terangsang dan nikmat.

Gelombang rangsangan yang kuat itu kusadari mulai melanda Maryati secara fisik dan emosi, ketika perlawanannya melemah dan kaki serta kepalanya bergerak semakin resah. Tak ada suara yang keluar, karena wanita ini menutup bahkan menggigit bibirnya. Geliat tubuhnya bukan lagi refleksi dari penolakan, tetapi (mungkin) gambaran dari seseorang yang mati-matian sedang menahan kenikmatan. Berulang kali kurasakan kedua pahanya bergetar. Kemaluannya banjir membasah.

Ternyata benar analisa otak kotorku beberapa pekan lalu. Bahwa sesetia apapun seorang Istri, ada saat di mana benteng kesetiaan itu ambruk, oleh rangsangan seksual yang dilakukan dalam tempo relatif lama secara paksa, langsung, intensif serta tersembunyi oleh seorang pria ganteng yang ahli dalam masalah seks. Maryati telah menjadi contoh dari hal itu. Mungkin juga ketidakberdayaan yang telah membuatnya memilih untuk pasrah. Tetapi rasanya aku yakin lebih oleh gelora nafsu yang bangkit ingin mencari pelampiasan akibat rangsangan yang kulakukan secara intensif dan ahli di seluruh bagian sensitif tubuhnya.

Aksiku selanjutnya adalah dengan memutar tubuh, berada di atas Maryati, memposisikan batang kejantananku tepat di atas wajah wanita yang sudah mulai membara dibakar nafsu birahi itu. Aku ingin mengetahui, apa reaksinya jika terus kurangsang dengan batang perkasaku yang besar dan hangat tepat berada di depan mulutnya. Wajahku sendiri, masih berada diantara selangkangannyadengan lidah dan bibir terus menjilat serta menghisap klitoris dan liang kewanitaannya.

Paha Maryati sendiri, entah secara sadar atau tidak, semakin membuka lebar, sehingga memberikan kemudahan bagiku untuk menikmati kelaminnya yang sudah membanjir basah. Mulutnya berulangkali melontarkan jeritan kecil tertahan yang bercampur dengan desisan. Aksi itu kulakukan dengan intensif dan penuh nafsu, sehingga berulang kali kurasakan paha serta tubuh wanita cantik itu bergetar dan berkelojotan.

Beberapa menit kemudian mendadak kurasa sebuah benda basah yang panas menyapu batang kejantananku, membuatku jadi agak tersentak. Aha, apalagi itu kalau bukan lidah si Istri Setia ini. Berarti, selesailah sudah seluruh perlawanan yang dibangunnya demikian gigih dan habis-habisan tadi. Wanita ini telah menyerah. Namun sayang, jilatan yang dilakukannya tadi tidak diulanginya, meski batang kejantananku sudah kurendahkan sedemikian rupa, sehingga memungkinkan mulutnya untuk menelan bagian kepalanya yang sudah sangat keras, besar dan panas itu.

Boleh jadi wanita ini merasa dia telah menghianati suaminya jika melakukan hal itu, menghisap batang kejantanan pria yang memperkosanya! Tak apa. Yang penting sekarang, aku tahu dia sudah menyerah. Aku cepat kembali membalikkan tubuh. memposisikan batang kejantananku tepat di depan bukit kewanitaannya yang sudah merekah dan basah oleh cairan dan air ludahku. Aku mulai menciumi pipinya yang basah oleh air mata dan lehernya. Kemudian kedua belah ketiaknya. Maryati menggelinjang liar sambil membuang wajahnya ke samping. Tak ingin bertatapan denganku.

Buah dadanya kujilati dengan buas, kemudian berusaha kumasukan sedalam-dalamnya ke dalam mulutku. Tubuh Maryati mengejang menahan nikmat. Tindakan itu kupertahankan selama beberapa menit. kemudian batang kejantananku semakin kudekatkan ke bibir kemaluannya. Ah.., wanita ini agaknya sudah mulai tidak sabar menerima batang panas yang besar dan akan memenuhi seluruh liang sanggamanya itu. Karena kurasa pahanya membentang semakin lebar, sementara pinggulnya agak diangkat membuat lubang sanggamanya semakin menganga merah.

“Mbak Mar sangat cantik dan merangsang sekali. Hanya lelaki yang beruntung dapat menikmati tubuhmu yang luar biasa ini,” gombalku sambil menciumi pipi dan lehernya.

“Sekarang punyaku akan memasuki punya Mbak. Aku akan memberikan kenikmatan yang luar biasa pada Mbak. Sekarang nikmatilah dan kenanglah peristiwa ini sepanjang hidup Mbak.”

Setelah mengatakan hal itu, sambil menarik otot di sekitar anus dan pahaku agar ketegangan kelaminku semakin meningkat tinggi, liang kenikmatanwanita desa yang bermata bulat jelita itu, mulai kuterobos. Maryati terpekik, tubuhnya menggeliat, tapi kutahan. Batang kejantananku terus merasuk semakin dalam dan dalam, sampai akhirnya tenggelam penuh di atas bukit kelamin yang montok berbulu itu.

Untuk sesaat, tubuhku juga ikut bergetar menahan kenikmatan luar biasa pada saat liang kewanitaan wanita ini berdenyut-deyut menjepitnya. Tubuhku kudorongkan ke depan, dengan pantat semakin ditekan ke bawah, membuat pangkal atas batang kejantananku menempel dengan kuat di klitorisnya. Maryati melenguh gelisah. Tangannya tanpa sadar memeluk tubuhku dengan punggung melengkung. Kudiamkan dia sampai agak lebih tenang, kemudian mulailah gerakan alamiah untuk coitus yang membara itu kulakukan.

Maryati kembali terpekik sambil meronta dengan mulut mendesis dan melengguh. Tembakan batang kejantananku kulakukan semakin cepat, dengan gerakan berubah-ubah baik dalam hal sudut tembakannya, maupun bentuknya dalam melakukan penetrasi. Kadang lurus, miring, juga memutar, membuat Maryati benar-benar seperti orang kesurupan. Wanita ini kelihatanya sudah total lupa diri. Tangannya mencengkram pundakku, lalu mendadak kepalanya terangkat ke atas, matanyaterbeliak, giginya dengan kuat menggigit pundakku.

Dia orgasme! Gerakan keluar-masuk batang kejantananku kutahan dan hanya memutar-mutarnya, mengaduk seluruh liang sanggama Maryati, agar bisa menyentuh dan menggilas bagian-bagian sensitif di sana. Wanita berpinggul besar ini meregang dan berkelonjotan berulang kali, dalam tempo waktu sekitar dua puluh detik. Semuanya kemudian berakhir. Mata dan hidungnya segera kuciumi. Pipinya yang basah oleh air mata, kusapu dengan hidungku.

Tubuhnya kupeluk semakin erat, sambil mengatakan permintaan maaf atas kebiadabanku. Maryati cuma membisu. Kami berdua saling berdiaman. Kemudian aku mulai beraksi kembali dengan terlebih dahulu mencium dan menjilati leher, telinga, pundak, ketiak serta buah dadanya. Kocokan kejantananku kumulai secara perlahan. Kepalanya kuarahkan ke bagian-bagian yang sensitif atau G-Spot wanita ini. Hanya beberapa detik kemudian, Maryati kembali gelisah.

Kali ini aku bangkit, mengangkat kedua pahanya ke atas dan membentangkannya dengan lebar, lalu menghujamkan batang perkasaku sedalam-dalamnya. Maryati terpekik dengan mata terbeliak, menyaksikan batang kejantananku yang mungkin jauh lebih besar dari milik suaminya itu, berulang-ulang keluar masuk diantara lubang berbulu basah miliknya. Matanya tak mau lepas dari sana. Kupikir, wanita ini terbiasa untuk berlaku seperti itu, jika bersetubuh. Wajahnya kemudian menatap wajahku.

“Mas…” bisiknya.

Aku mengangguk dengan perasaan lebih terangsang oleh panggilan itu, kocokanbatang kejantananku kutingkatkan semakin cepat dan cepat, sehingga tubuh Maryati terguncang-guncang dahsyat. Pada puncaknya kemudian, wanita ini menjatuhkan tubuhnya di tilam, lalu menggeliat, meregang sambil meremas sprei. Aku tahu dia akan kembali memasuki saat orgasme keduanya.

Dan itu terjadi saat mulutnya melontarkan pekikan nyaring, mengatasi suara Krisdayanti yang sedang menyanyi di pesawat televisi di samping ranjang. Pertarungan seru itu kembali usai. Aku terengah dengan tubuh bermandi keringat, di atas tubuh Maryati yang juga basah kuyup. Matanya kuciumi dan hidungnya kukecup dengan lembut. Detak jantungku terasa memacu demikian kuat. Kurasakan batang kejantananku berdenyut-denyut semakin kuat. Aku tahu, ini saat yang baik untuk mempersiapkan orgasmeku sendiri.

Tubuh Maryati kemudian kubalikkan, lalu punggungnya mulai kujilati. Dia mengeluh. Setelah itu, pantatnya kubuka dan kunaikkan ke atas, sehingga lubang anusnya ikut terbuka. Jilatan intensifku segera kuarahkan ke sana, sementara jariku memilin dan mengusap-usap klitorisnya dari belakang.

Maryati berulang kali menyentakkan badannya, menahan rasa ngilu itu. Namun beberapa menit kemudian, keinginan bersetubuhnya bangkit kembali. tubuhnya segera kuangkat dan kuletakkan di depan toilet tepat menghadap cermin besar yang ada di depannya. Dia kuminta jongkok di sana, dengan membuka kakinya agak lebar.

Setelah itu dengan agak tidak sabar, batang kejantananku yang terus membesar keras, kuarahkan ke kelaminnya, lalu kusorong masuk sampai ke pangkalnya. Maryati kembali terpekik. Dan pekik itu semakin kerap terdengar ketika batang kejantananku keluar masuk dengan cepat di liang sanggamanya. Bahkan wanita itu benar-benar menjerit berulangkali dengan mata terbeliak, sehingga aku khawatir suaranya bisa didengar orang di luar.

Wanita ini kelihatannya sangat terangsang dengan style bersetubuh seperti itu. Selain batang kejantananku terasa lebih dahsyat menerobos dan menggesek bagian-bagian sensitifnya, dia juga bisa menyaksikan wajahku yang tegang dalam memompanya dari belakang. Dan tidak seperti sebelumnya, Maryati kali ini dengan suara gemetar mengatakan dia akan keluar.

Aku cepat mengangkat tubuhnya kembali ke ranjang. menelentangkannya di sana, kemudian menyetubuhinya habis-habisan, karena aku juga sedang mempersiapkan saat orgasmeku. Aku akan melepas bendungansperma di kepala kejantananku, pada saat wanita ini memasuki orgasmenya. Dan itu terjadi, sekitar lima menit kemudian. Maryati meregang keras dengan tubuh bergetar. Matanya yang cantik terbeliak.

Maka orgasmeku segera kulepas dengan hujaman batang kejantanan yang lebih lambat namun lebih kuat serta merasuk sedalam-dalamnya ke liang kewanitaan Maryati. Kedua mata wanita itu kulihat terbalik, Maryati meneriakkan namaku saat spermaku menyembur berulang kali dalam tenggang waktu sekitar delapan detik ke dalam liang sanggamanya. Tangannya dengan kuat merangkul tubuhku dan tangisnya segera muncul. Kenikmatan luar biasa itu telah memaksa wanita ini menangis.

Aku memejamkan mata sambil memeluknya dengan kuat, merasakan nikmatnya orgasme yang bergelombang itu. Ini adalah orgasmeku yang pertama dan penghabisanku dengan wanita ini. Aku segera berpikir untuk berangkat besok ke Kalimantan, ke tempat pamanku. Mungkin seminggu, sebulan atau lebih menginap di sana. Aku tidak boleh lagi mengulangi perbuatan ini. Tidak boleh, meski misalnya Maryati memintanya.

Judul: Manfaat Dari Pemerkosaan

Author : Hidden , Category: Pemerkosaan

Saya merupakan karyawan swasta yang bergerak di bidang hiburan, kata tepatnya internet gaming centre di kawasan elite perumahan Kelapa Gading. Nama saya Alex, usia saya bulan depan 24 tahun dengan tinggi badan 175 cm. Postur badan saya standar sama seperti laki-laki Indonesia, mungkin karena saya suka kebugaran yang biasa saya lakukan kalo ada waktu senggang sehingga otot-otot di tubuh saya terlihat menonjol meskipun tidak sebesar Ade Ray, tapi cukuplah membuat seorang wanita untuk memperhatikannya ditambah lagi wajah saya yang terbilang lumayan mengoda wanita-wanita.

Pemilik usaha ini adalah seorang wanita yang kira-kira berusia 29 tahun dan belum menikah, namanya Sonia. Kriterianya tinggi badan 168 cm, ukuran buah dada 32A cukup mengiurkan untuk setiap laki-laki normal yang meliriknya. Struktur tubuh yang sangat mengairahkan dengan perpaduan bongkahan pantatnya yang sangat menantang, mungkin karena Bu Sonia rajin ikut senam aerobik yang membuat lekuk tubuhnya sungguh bagus dipandang mata.

Kepadatan buah dadanya yang membusung dan bongkahan pantatnya yang bulat sempurna terkadang membius laki-laki yang menatap caranya berjalan. Rambutnya yang lurus turun sebahu dengan rambut halus yang menjalar di lehernya yang jenjang, bibir sensualnya yang selalu dibalut lipstik pink membuat imajinasi setiap laki-laki ingin merasakan penis mereka dihisap oleh bibir manis milik Bu Sonia.

Saya berkerja sama Bu Sonia sebagai orang yang menyediakan laporan keuangan tentang perkembangan usahanya ini. Hampir setiap hari saya selalu pulang terakhir dan Bu Sonia selalu menunggu saya hingga ia dapat hasil dari usahanya perhari. Kekesalan saya terhadap Bu Sonia adalah karena dia orangnya terlalu kikir terhadap karyawannya, tidak memperdulikan kesejahteraan hidup karyawannya, dan masih banyak hal yang ia lakukan terhadap karyawan-karyawan yang lain.

Memang sudah lama saya menunggu satu kesempatan yang selama ini telah saya rencanain, tapi selalu saja gagal karena setiap ingin saya jalankan rencana ini selalu saja ada gangguan dari kakaknya yang telah berkeluarga.

Hingga suatu hari tepatnya hari Senin malam setelah sekitar jam 12 malam, waktu itu saya dan Bu Sonia sedang berada di ruangan kerja saya dan sedang menyelesaikan tugas saya. Sampai akhirnya terlintas pikiran jahat saya ingin berbuat sesuatu terhadap Bu Sonia atas segala kelakuannya dan atas kesombongannya yang beranggapan bahwa segalanya dapat dibeli dengan sejumlah uang yang ia miliki.

Malam ini Bu Sonia memakai baju kemeja putih yang terbuat dari bahan yang lumayan tipis hingga terlihat dengan jelas dua katup penyangga susunya yang berukuran 32A, sedangkan bawahannya Bu Sonia mengenakan celana putih ketat. Pokoknya penampilan Bu Sonia sungguh mengiurkan dengan tonjolan susunya yang menyembul menantang serta bongkahan pantatnya yang padat memperlihatkan setiap lekukan-lekukan yang terlihat setiap Bu Sonia berjalan. Kesempurnahan tubuhnya ia dapatkan karena Bu Sonia adalah salah satu membership di salah satu pusat kebugaran yang berada kawasan Kuningan, Jakarta.

”Lex… tumben kenapa sih kamu lama banget sih selesaiin pembukuan harian kamu ini… Gak becus banget sih kerjanya… huu…” omel Bu Sonia dengan nada yang tinggi tepat di hadapan meja kerjaku.

”Sabar dong Bu… saya juga mau buru-buru selesai… tapi inikan masalah keuangan tidak bisa cepat-cepat mengerjakannya…” jawabku sambil menatap matanya dan berkata dalam hati bahwa nanti sebentar lagi dia gak bakal bisa berlagak sombong dihadapanku, malah mungkin dia yang akan menjadi budak nafsuku dan menuruti segala apa yang aku perintahkan.

”Kamu kok memandang saya dengan tatapan seperti itu Lex, seperti orang yang hendak memperkosa saya saja…” kata Bu Sonia dengan nada yang masih meninggi dengan memperlihatkan kekuasaaannya sebagai seorang owner.

”Trus memangnya kenapa Bu Sonia… kalaupun saya memperkosa anda sekarang!!! Saya rasa tak akan ada satu orangpun mengetahui bahwa Bu Sonia dan saya masih berada disini” jawabku dengan nada yang meninggi pula sambil menghampiri Bu Sonia yang mulai melangkah mundur karena merasa dirinya mulai terancam atas perkataan yang aku lontarkan.

”Alex… kamu jangan coba macam-macam yah sama saya. Saya akan berteriak, kalau kamu coba-coba berbuat sesuatu sama saya” kata Bu Sonia sambil melangkah mundur hingga tubuhnya menabrak tembok yang tepat dibelakangnya.

”Silakan, kalau Bu Sonia hendak berteriak, apa Bu Sonia lupa sekarang kita berada dimana, mungkinkah orang-orang akan mendengar suara teriakan Bu Sonia” kataku sambil berjalan mendekatinya.

”Semua yang Bu Sonia lakukan hanyalah membuang-buang tenaga Bu Sonia saja, lebih baik nikmati apa yang akan Bu Sonia terima dari saya, hahahahaha….” sambungku sambil tertawa merasa suspectku ketakutan.

Saat itu aku bersama Bu Sonia berada di lantai 3 ruko tempat usahanya. Bagaimana kerasnya teriakan Bu Sonia tetap saja orang yang berada di luar takkan dapat mendengarnya, karena selain aku dan Bu Sonia ada di lantai 3, juga ruko ini di bangun dengan fasilitas kedap suara.

Aku bisa liat dari mata Bu Sonia yang semakin lama semakin ketakutan. Ketakutan yang semakin menjalar di dalam sekujur tubuhnya, tatapan mata yang seakan memohon sebuah pengampunan, langkah kaki yang mulai tertatih karena ketakutan yang dirasakan oleh wanita cantik itu.

”Lex… tolong kamu pikir-pikir kembali segala tindakan yang akan kamu perbuat. Saya tidak akan melaporkan ke polisi bila kamu mau melepaskan saya, dan saya akan memberikan uang berapapun yang kamu minta” kata Bu Sonia yang masih saja tetap menyombong, karena ia mengira segalanya dapat ia beli dengan uang yang ia miliki.

”Hahahahaha… apakah Bu Sonia pikir saya akan mempercayai segala apa yang ibu katakan, setelah apa yang saya liat tentang kelakuan ibu terhadap orang-orang kecil yang rendahkann” jawabku sambil mengeluarkan sebilah belati yang udah aku siapkan sedari tadi.

Aku berjalan menghampiri Bu Sonia dan kemudian menempelkan belati tersebut pada lehernya dan mengancam akan berbuat hal yang nekad terhadapnya.

”Ibu Sonia sebaiknya menuruti apa yang saya minta… bila Bu Sonia tidak berkerjasama atau tidak menuruti apa keinginan saya, maka jangan salahkan saya bila saya berbuat nekad bahkan melebihi apa yang terlintas di benak Bu Sonia…”ancamku agar Bu Sonia menuruti segala keinginanku.

”Memangnya kamu mau apa… dan apa yang kamu inginkan dari saya…” tanya Bu Sonia dengan nada yang tinggi seakan-akan dia merasa bahwa dia masih bisa mengendalikan aku.

”Hai… kamu jangan merasa sok berkuasa sekarang di depanku…” bentakku yang gak mau kalah suara dengan Bu Sonia, karena aku tahu sekarang dia sedang ketakutan setelah aku melontarkan ancaman demi ancaman.

”Sekarang… kamu mau tidak menuruti kemauanku” tanyaku sekali lagi dengan nada yang membesar dari yang sebelumnya.

”Ookkee… saya ikutin apapun yang kamu perintahin Lex, asalkan saya di bebaskan…” akhirnya Bu Sonia memelankan nada suaranya, setelah merasa tindakan yang ia ambil akan mengakibatkan hal yang lebih fatal terhadap dirinya.

”Sekarang… kalau Bu Sonia sudah menyadari atas posisi Bu Sonia… baguslah dan saya juga tidak akan bertindak secara kasar terhadap ibu… asalkan Bu Sonia pun mau menjadi budak nafsu saya malam ini” sahutku sambil menghampiri posisi Bu Sonia yang berdiri mematung dihadapanku dan mengelilinginya.

”Apaaa… kamu bilang… jangan bermimpi saya mau tidur dengan kamu… apalagi menjadi budak nafsu kamu malam ini…” katanya dengan nada yang tinggi lagi.

”Heeyyy…. gak usah kamu sok galak lagi dihadapanku, simpan tenaga kamu baik-baik, kalau kamu tidak mau aku jamin kamu tidak bakal bisa lihat matahari terbit besok, mau kamu… sekarang aku tanya sekali lagi dan aku gak bakal tanya untuk kedua kalinya” bentakku tepat dihadapan muka Bu Sonia, sehingga bisa kulihat sekujur tubuhnya gemetaran karena seumur hidup belum pernah dirinya di maki-maki sama orang lain.

Namun Bu Sonia tidak menjawab pertanyaan yang aku lontarkan kepadanya melainkan hanya mengangguk pelan yang menandakan bahwa ia menyetujui segala yang aku ingini.

”Sekarang kamu buka baju kamu satu persatu hingga sisain BH dan celana dalam kamu saja” kataku mulai memberi perintah.

”Buka sekarang” bentakku saat dia hanya diam mematung saja dihadapanku.

Satu demi satu perlahan-lahan Bu Sonia mulai melepaskan baju dan celana yang dia pakai. Dengan liang air mata Bu Sonia masih mengharap belas kasih dariku, tapi semua itu sudah percuma sekarang di otakku cuman ingin ngentotin memek Bu Sonia yang membuatku penasaran walaupun masih terbungkus rapat dibalik celana dalam berendanya yang berwarna putih. Gumpalan memeknya begitu mengoda hingga terasa kontolku sudah mengeras dan melejit dari celah pinggir celana dalamku. Tanpa ingin membuang waktu lebih lama lagi, kubuka celana panjang dan kemeja kerjaku dan hanya tinggal celana dalam yang belum aku buka.

”Sekarang kamu merangkak kesini…” perintahku pada atasanku yang cantik itu.

”Saya mohon Lex… ampuni segala kesalahan yang pernah saya lakuin… saya mohon…. saya akan berikan berapapun uang yang kamu inginkan… asal kamu mau lepasin saya…” iba Bu Sonia di hadapanku sambil menangis memohon.

Tanpa menjawab segala pertanyaannya, aku melayangkan tangan sebelah tangan kananku dan mendarat di pipi kirinya dan..

”Plaak…”

Pipi yang putih mulus tanpa cacat itu memerah dalam sekejap.

”Sekali lagi kamu… membanggakan soal kekayaan yang kamu miliki maka aku gak segan-segan menamparmu atau bahkan memukulmu, cepat lakukan apa yang tadi aku minta dan jangan sampai pipi sebelah kananmu juga merasakan tamparan tanganku, cepat….” ancamku dengan nada tinggi.

Perlahan-lahan Bu Sonia mulai berjalan merangkak dihadapanku, dan menatap ke arahku untuk menunggu sebuah perintah selanjutnya. Layaknya seekor anjing yang menunggu perintah dari majikannya.

”Buka celana dalamku, pakai mulutmu jangan pakai tangan tahu” perintahku setelah muka Bu Sonia tepat berada di depan celana dalamku.

Tangan kiriku kini mendarat di pipi kanannya saat dia membuka celana dalamku memakai tangannya.

”Plaak…”

”Gobloook… kamu tuli yah, aku bilang buka pakai mulut kamu, bukannya pakai tangan kamu… tolol…” maki-makiku terhadapnya sambil kulepaskan pengait BH berenda berwarna putih yang dikenakannya dan kemudian kulepaskan dari tubuh wanita yang sangat putih mulus itu. Kupakai BH itu untuk mengikat kedua tangannya ke belakang layaknya seorang tahanan perang.

Akhirnya Bu Sonia tidak berani lagi membantah segala yang aku perintahkan dan melakukan segala yang aku suruhkan kepadanya. Dengan bibirnya yang mungil dan tipis ia berusaha menurunkan celana dalamku. Ketika celana dalam itu ditariknya dengan mulutnya ke bawah, tepat di depan mukanya kontolku yang sudah keras itu keluar dengan paksa dan menampar tepat di keningnya.

”Masukkan kontol ini ke dalam mulut kamu dan kamu sepong kontol ini, aku yakin kamu nanti juga menikmati kontol laki-laki, karena kamu adalah perawan tua” perintahku sambil memegang kepalanya dengan tangan kiriku dan tangan sebelah kananku menutup lubang hidungnya karena Bu Sonia berusaha merapatkan mulutnya.

Ketika tiba-tiba Bu Sonia membuka mulutnya karena tidak kuat menahan nafas, langsung dengan cepat kusodokkan kontol itu ke dalam mulut mungilnya hingga kurasakan kepala kontolku mentok di tenggorokannya.

”Aaarkh…” suara Bu Sonia saat kusodokkan kontol itu ke dalam mulutnya yang mungil.

”Sekarang emut kontol ini kalo tidak kamu tahu sendiri akibatnya” ancamku ke Bu Sonia.

”Baaiikk… saya akan menuruti segala keinginnan kamu… asal jangan kamu ambil keperawanan saya. Kamu boleh pakai mulut saya untuk memuaskan nafsu kamu…” pinta Bu Sonia memohon untuk tidak merusak ‘segel’ perawannya.

”Oke aku tidak bakal ngentotin memek kamu yang perawan, asalkan kamu mau puasin aku hingga aku benar-benar puas sama kamu” seruku menyetujui permintaan wanita itu.

Karena kulihat Bu Sonia mau melakukan oral sex dengan memakai mulutnya, maka aku bukakan ikatan tali BHnya pada kedua tangannya, lalu dengan sigap dia menggenggam batang kontolku dan mulai mengocok-ngocok pelan kontol itu kemudian tak berapa lama mulai dijilati lalu dihisap-hisapnya. Terkadang terasa ngilu di atas kepala kontolku kalau lubang kencingnya dihisap oleh Bu Sonia.

Gerakan Bu Sonia semakin lama semakin mahir dalam menyetubuhi kontolku dengan mulutnya. Mulut wanita itu yang terbilang mungil tampak terisi penuh oleh kontolku yang lumayan besar serta berurat di batangannya. kontol itu terkadang diselipin di sela gusi sebelah kanan lalu berganti tempat, demikian seterusnya.

Cukup lama adegan terlarang ini aku lakukan dengan Bu Sonia yang telah mulai terlihat bernafsu, deru nafasnya semakin tidak beraturan kala tanganku meremas susunya yang kencang dan kuyakin belum pernah terjamah oleh laki-laki manapun di dunia ini. Pentil-pentilnya terasa begitu mengeras dan tampak berwarna merah jambu. Merasa dalam posisi ini aku hanya fakum tak banyak bergerak, maka kemudian kusuruh Bu Sonia untuk merubah posisi menggantinya dengan gaya 69 yang paling aku gemarin. Tanpa banyak membantah Bu Sonia langsung merubah posisinya yang tadi dan sekarang mengangkangi mukaku. Namun tanpa diperintahkan kini Bu Sonia kembali memasukkan kontolku ke dalam mulutnya melanjutkan ‘PR’nya yang belum selesai tadi. Sekarang aku bisa menatap dengan jelas daging cembung yang membelah namun masih tertutup rapat oleh celana dalam yang dikenakannya, lalu mulai kujilati memek itu meski masih dari luar celana dalamnya.

Tercium olehku bau yang sangat khas sekali dan sangat merangsang begitu hidungku mendekati celana dalam wanita itu. Setelah beberapa saat menciumi, menjilati, dan menggelitiki memek perawan itu dari luar celana dalamnya, aku perlahan mulai menurunkan dan akhirnya menarik lepas penutup ‘gua’ terlarang wanita itu. Tampak olehku cairan lendir bening tertarik memanjang menempel pada celana dalam Bu Sonia ketika kutarik turun. Kujulurkan lidahku memotong cairan memanjang itu dan kurasakan rasa asin pada lidahku yang enak sekali. Wanita itu tampak sudah sangat terangsang oleh permainan yang baru pertama kali ini dilakukan sepanjang hidupnya itu.

Kini dengan sangat jelasnya tampak olehku ‘gua’ terlarang wanita itu yang dirambati oleh ‘tanaman rambat’ berwarna hitam pekat dan tumbuh dengan sangat suburnya menutupi lubang ‘gua’ yang masih perawan dan belum pernah dimasuki oleh siapapun itu. Perlahan dengan kedua tanganku mulai kubuka celah sempit itu setelah sebelumnya kusibakkan terlebih dahulu bulu-bulu jembutnya yang panjang-panjang dan sangat lebat itu. Kujilati dengan penuh nafsu yang menggebu sampai akhirnya lidahku menyentuh ke itilnya. Sementara itu Bu Sonia tampak begitu menikmati kontolku yang terus keluar masuk mulutnya. Jilatan demi jilatan terus kulancarkan ke memeknya hingga beberapa saat kemudian Bu Sonia mulai mendesah mengeluarkan suara yang tertahan karena malu, karena sekarang ia dalam keadaan diperkosa yang walaupun akhirnya ia tak dapat pungkiri kenikmatan birahi yang ia dapatkan dari karyawannya sendiri.

Akhirnya desahan yang bersamaan dengan hawa nafsunya itu pun tak tertahankan lagi, desahannya kini tanpa malu malu lagi ia keluarkan.

Setiap sudut memeknya kujilat tanpa satu sisipun yang tertinggal. Memek Bu Sonia sekarang benar-benar sudah banjir karena lendir kawinnya mengalir tiada hentinya dari liang kemaluannya. Kedua kakinya pun ia buka selebar mungkin agar dapat kujilati seluruh isi memeknya yang tadi ia pertahankan tak ingin disentuh oleh laki-laki lain kecuali suaminya kelak nanti.

Kenyataannya sekarang adalah berbeda, sekarang nafsu birahi disekujur tubuhnya memaksanya menikmati pemerkosaan ini, meskipun di dalam batinnya menolak namun nafsunya lebih besar hingga ia pun kini kalah dengan nafsunya sendiri.

Kulihat Bu Sonia sudah dikuasai penuh oleh hawa nafsunya dan kini dia juga sudah tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Setelah aku merasa bahwa wanita dihadapanku ini sudah siap untuk disetubuhi lalu kuminta Bu Sonia untuk merubah kembali posisi 69 menjadi posisi normal dimana Bu Sonia tidur telentang dengan posisi kedua pahanya membuka lebar.

Perlahan kuarahkan kontolku ke arah selangkangannya. Wanita itu sadar akan situasi yang tidak ia inginkan, Bu Sonia menahanku dengan kedua belah kakinya. Namun akhirnya dapat kukuasai dan malahan mempermudahku untuk menyerang selangkangannya hingga terbuka lebar tanpa dapat terlindungi lagi dari hujaman kepala kontol yang botak itu yang mulai menerobos masuk. Meskipun susah namun berkat cairan kawinnya yang membuat licin memeknya membantu kontolku untuk menyibak belahan memek perawannya yang tadi tertutup rapat.

”Jangan Lex… tadi kamu sudah janji tidak akan melakukannya terhadap keperawanan saya ini… tolong Lex… saya mohon belas kasihan darimu…” katanya memelas.

”Saya tahu… tapi saya merasa iba terhadap Bu Sonia yang sungguh-sungguh mendambahkan sentuhan langsung laki-laki… sekarang saya ingin membagi kenikmatan kontol saya buat Bu Sonia” kataku santai.

”Aaaarrkkhh…. Lex… jjjaaanganan sssaaakiiitt….” erang Bu Sonia pada saat kontolku mulai masuk ke dalam memeknya.

Namun aku tidak langsung dengan cepat menarik kembali karena Bu Sonia baru pertama kali, maka aku diamkan sebentar di dalam agar kontolku juga bisa merasakan pijitan-pijitan kecil yang terjadi di dalam liang keperawanan Bu Sonia.

Selama 3 menitan aku diamkan kontolku di dalam memeknya sambil kujilati lehernya yang putih jenjang, wangi parfumnya yang sudah bercampur dengan keringatnya membuatku makin terangsang dan membuatku semakin bergairah menjilati lehernya. Tak puas menciumi dan menjilati lehernya, kuangkat kedua tangannya ke atas lalu dengan sangat bernafsunya kuciumi dan kujilati ketiaknya yang mulus dengan bulu-bulu ketiaknya yang sudah dicukur bersih itu. Kurasakan oleh hidungku aroma ketiak wanita dewasa yang sangat khas dan itu semakin mempertinggi nafsuku. Meskipun dari sisi matanya berlinang air mata karena kehilangan mahkotanya, namun Bu Sonia akhirnya dapat menahannya dan mulai merasa suatu sensasi kenikmatan yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya.

”Gimana Bu… masih sakit memeknya…” kataku yang sedari tadi mengeluarkan kata-kata jorok yang kuyakini terkadang dapat memancing birahi Bu Sonia.

”Ssssstt… sssstt…” bukanlah jawaban yang kudengar namun desahan nikmat yang dikeluarkan oleh Bu Sonia.

Tanpa mau membuat Bu Sonia menunggu lama-lama lalu aku tarik perlahan kontolku dan kemudian kudorong kembali ke dalam memeknya, demikian berulang ulang hingga menimbulkan suara-suara khas dimana cairan kewanitaan bertemu dengan cairan laki-laki. Setiap kali kudorong kembali kontolku ke dalam memeknya, maka desahan Bu Sonia pun semakin kencang bersamaan dengan genggaman tangannya yang memegang pantatku, seperti hendak membantu menekan lebih kencang lagi.

”Gimana Bu Sonia… enakkan kontol saya ini… jawab…” tanyaku sambil semakin gencar menyerang lubang kawinnya dengan kontolku hingga susunya bergerak-gerak seakan kegirangan seiringan dengan sodokan kontolku.

”Ehhhmmmm… nnnaak… ennnakk…” jawabnya bersamaan dengan desahan nikmatnya.

”Sekarang bilang kalau Bu Sonia suka banget dientot sama kontol saya…” kataku.

”Aaaahh… please… please… fuck me more… setubuhi saya lebih keras Lex… saya ssukka banget kontol kamu oooohh…” racaunya keenakan.

Karena tak tahan merasakan kenikmatan persetubuhan yang dialaminya, tanpa sadar Bu Sonia mengucek-ucek itilnya sendiri dengan nafsu yang sangat menggebu.

”Wwwwwwuuuuhhhh….. itiiiiilkkuuuu… Aleeeex itilkuu….ooohh Alexxx akuuuu tak taaaaahhaaaaan akkkkuuuu mauuuuuu keluaaaarrr….” jeritnya keras.

Hingga akhirnya kudapati sekujur tubuh Bu Sonia mulai mengejang dan kedua lengan tangannya memeluk erat pada leherku.

”Oooooooohhhhh… Aleeeeeeeeexx… akkkuuuuuuu keluaaaaarrrrr…” rintih keras Bu Sonia menggema di ruangan ketika mencapai orgasme pertamanya dalam hidupnya dengan sangat hebatnya.

Tubuhnya mengejang kedua kakinya terbujur kaku dan sesaat memejamkan matanya dan mulut mungilnya yang dihiasi lipstik merah muda itu terbuka sedikit. Terasa begitu nikmat sekali kontolku tersembur cairan kawin wanita yang masih perawan, hangatnya cairan tersebut membuatku mempercepat tempo persenggamaan ini tanpa memperdulikan tubuh Bu Sonia yang mulai kehilangan tenaga setelah dilanda kenikmatan seks yang ia terima barusan.

Denyutan kecil mulai terasa di kelenjar kantung kelaminku dan aku buru buru mencabut kontolku dari dalam memek Bu Sonia, namun tiba tiba ada tangan yang menahan pantat gue dan memaksa kontolku tetap di dalam. Ternyata Bu Sonia yang menahan dan menekan kontolku ke dalam memeknya kembali. Dan..

”Croooot… crooot….”

Hingga tetesan terakhir tak tersisa kumuncratkan pejuku dengan derasnya di dalam memeknya, lalu aku merebahkan badanku tepat di samping tubuh Bu Sonia sambil tetap susunya.

Seperti manusia yang sudah kemasukan setan Bu Sonia kembali bangkit dan meraih batang kontolku, kembali berusaha membangkitkan kembali libidoku yang baru saja padam. Di kocok-kocoknya batang kontol berulang-ulang, dijilatinya kepala kontolku yang masih terasa ngilu. Dari kepala kontol hingga anusku dijilati oleh Bu Sonia dengan penuh birahi sehingga peju yang tersisa bersih dia telan.

Kembali lagi kontol dikulum dan sekarang mungkin lebih gencar dari sebelumnya. Aku hanya tidur telentang sambil mengumpulkan tenagaku dulu, kupegang kepalanya dengan kedua tanganku dan kutekan kontolku hingga terasa masuk ke dalam tenggorokannya, namun wanita itu malah menikmatinya meski terkadang Bu Sonia merasa kesusahan bernafas.

Hampir 10 menit Bu Sonia menggarap kontolku dengan sangat buas. Layaknya binatang yang dikurung bertahun-tahun dan melahap apapun demi memuaskan rasa laparnya yang terbenam selama ini.

”Aaaaahhh… saya mau keluar Bu… oooohh…..” erangku hingga mungkin sama dengan teriakan.

Namun Bu Sonia bukan memperlambat kemutannya tapi mempercepatkan gerakkannya sambil menghisap lubang kencingku. Pejuku keluar dan memuncrat tepat di dalam mulutnya. Sungguh-sungguh Bu Sonia menikmati sensasi seks ini meskipun kejadiaan ini bukan keinginannya namun sesungguhnya telah lama Bu Sonia mendambakan kenikmatan seks dengan laki-laki dan bukan hanya berimajinasi saja.

Aku kembali merebahkan tubuhku setelah tenagaku terkuras kembali. Sayup-sayup kudengar suara shower kamar mandi menyala, mungkin Bu Sonia ingin menyegarkan badannya dulu setelah pertempuran yang sangat dahsyat ini. Lalu aku mencoba tidur sebentar untuk memejamkan mataku.

Sekitar 30 menit kemudian aku merasa perutku lapar dan aku mencoba memakai baju dan turun ke lantai dasar menuju dapur ruko tempat kerjaku. Ketika sampai di dapur, kuliat Bu Sonia dengan masih bertelanjang bulat membuatkan makanan buatku. Kemudian nafsuku kembali membara lagi setelah melihat sosok wanita yang bertubuh sintal berisi tanpa sehelai benangpun berdiri dihadapanku. Langsung kembali kusetubuhi Bu Sonia di dalam dapur, tidak perduli tempat langsung kembali kugaruk memeknya.

Sekarang hubunganku dan Bu Sonia bukanlah antara boss dan karyawan namun sekarang aku menjalin hubungan dengan dia. Segala kebutuhan ditanggung oleh Bu Sonia semua termasuk dalam hal seks. Kapan saja kalau aku mau Bu Sonia selalu tidak pernah menolak untuk kusetubuhi, malah terkadang disaat aku lagi sibuk menghitung pendapatan perhari, Bu Sonia tanpa menanyakan kepadaku dia langsung mengambil posisi jongkok di bawah meja kerjaku dan mulai melakukan aktivitasnya menyetubuhi kontolku hingga keluar.

Judul: Petualangan Isteri Di Pesta Pernikahan

“Sayang cepatlah sedikit, pernikahannya setengah jam lagi,” teriak Frank Hutapea sambil menggedor pintu kamar mandi. “Aku tak tahu bagaimana penuhnya parkiran di gereja nanti, aku mau sampai disana secepatnya biar dapat tempat,” tambahnya sambil melirik pada jam tangannya.

“Lima menit lagi aku sudah selesai sayang. Kamu tunggu saja dibawah,” jawab suara dari dalam kamar mandi.

“Ok tapi jangan terlalu lama,” jawab Frank sambil pergi meninggalkan kamar mandi dan turun ke lantai bawah.

Annie Hutapea selesai menyisir rambut sebahunya dan mengoleskan lipstick ke bibirnya, kemudian dia mundur kebelakang untuk mengamati dandanannya dalam bayangan cermin. Mantan juara renang saat duduk di bangku kuliah yang sekarang berusia 33 tahun ini tetap memiliki bentuk tubuh yang terjaga berkat 25 lap yang dia lalap setiap harinya di club renang terdekat dan berkat pekerjaannya sebagai pelatih renang pribadi. You still have it girl, pujinya pada dirinya sendiri saat dia memandangi paha jenjangnya, pantantya yang masih kencang dan pinggulnya yang menggoda. Suasana hatinya sangat riang hari ini dan dia putuskan untuk memakai thong-nya yang berwarna hitam dan tercetak tepat pada bongkahan pantat bulatnya, beserta setelan bra-nya yang seakan tak mampu menampung kekenyalan buah dadanya.

Dia dan Frank bertemu dibangku kuliah dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Frank termasuk dalam team basket sedangkan dia adalah perenang paling dominan dalam team renang. Hingga suatu ketika keduanya berada dalam pesta liar bersama teman-temannya pada suatu malam dan pesta tersebut diekspos dalam koran kampus keesokan harinya. Pihak kampus yang merasa kejadian tersebut berdampak sangat buruk bagi nama baik mereka akhirnya memutuskan untuk menskors sementara nama-nama yang berada dalam pesta tersebut. Annie merasa sangat terpukul tapi kejadian tersebut membuat dia dan Frank semakin bertambah dekat, hingga akhirnya saat wisuda Frank melamar Annie untuk menjadi isterinya.

Annie menerimanya dengan sukacita dan 5 tahun berselang tanpa pernah ada rasa penyesalan dalam dirinya. Dengan jabatan Frank sebagai salah satu top direksi pada sebuah Bank terkemuka membuat hidup keduanya berada dalam bagian kota yang sangat nyaman. Bagian kota dimana setiap halamannya nampak hijau asri dan pada setiap garasi rumahnya terparkir mobil mewah.

Pesta pernikahan yang akan mereka hadiri kali ini adalah pernikahan salah satu sahabat Frank dimasa kuliah dulu dan Annie tahu apa yang akan menantinya dipesta nanti. Suaminya akan menghabiskan seluruh malam bercerita tentang team basket mereka dan dia akan duduk dan mendengarkan para isteri saling memperbandingkan tentang prestasi anak dan suami mereka. Hari ini akan lain ceritanya, dia yakinkan pada dirinya sendiri dan memutuskan untuk berpakaian seperti ini agar mendapat seluruh perhatian dari suaminya.

Dia berjalan menuju closet dan mengambil gaunnya lalu sekali lagi mengamati bayangan dirinya dalam cermin. Gaun merahnya menempel ditubuhnya seakan kulit kedua. Dengan belahan dada yang rendah membuat belahan dadanya yang membusung nampak sangat menggoda, sedangkan bagian bawah gaunnya yang hanya sampai diatas lututnya memperlihatkan keindahan lekuk pantatnya. Setelah merasa puas dengan dandanannya dia berjalan menuju ke lantai bawah untuk menyusul suaminya.

“Wow Annie you look beautiful. Kamu tahu kalau melihatmu memakai gaun ini selalu membuatku gila,” puji Frank seraya tangannya meremas pantat isterinya dengan lembut.

“Yes I know lover, itu pointnya. Membuat semua pria merasa jealous karena tak dapat memilikiku,” jawab Annie sambil tangannya mengelus selangkangan Frank.

Frank mulai merasa terangsang tapi sang waktu telah mendesak dan dia berbisik ditelinga isterinya “Akan kuurus kamu nanti.”

Annie menggandeng lengan Frank saat keduanya berjalan keluar menuju mobil dan menjawab “Kupegang janjimu sayang.”

Upacara pernikahannya digelar di gereja dipinggiran kota dan dihadiri tak kurang dari 200 orang pikir Annie saat dia duduk disamping suaminya. Gaun yang dia kenakan nampak berefek pada Frank dan setiap pria dalam pernikahan tersebut karena nampak mereka melirik kearahnya saat dia menaruh pantatnya di atas bangku gereja.

Upacara pernikahannya berlangsung kurang lebih selama 1 jam dan hampir diakhir acara AC dalam ruangan tersebut mengalami kerusakan. Membuat suhu di dalam ruangan memanas. Butiran keringat nampak mulai menetes didahi orang-orang dan booklet pernikahan sudah beralih fungsi menjadi kipas tangan. Siksaan tersebut akhirnya usai setelah rangkain upacara pernikahan tersebut rampung dan orang-orang berjalan keluar menuju ke mobil masing-masing untuk pergi ke gedung resepsi. Efek dari kondisi lembab pada gaun Annie membuatnya semakin melekat erat pada lekuk tubuhnya yang mana memancing rasa tak suka dari para wanita yang hadir. Membuat kebanyakan mereka menilai bahwa gaun yang dia kenakan terlihat murahan.

Pesta resespsinya digelar digedung yang terletak tak jauh dari gereja tadi dan saat Annie mulai memasuki ruangan tersebut, perhatian yang dia peroleh dari para pria sangatlah tergambar jelas. Para pria saling berlomba untuk memperkenalkan diri pada keduanya, beberapa teman Frank yang telah tak berjumpa selam 5 tahun lebih mendekati mereka dan bertingkah seakan sangatlah akrab pada mereka.

“Lihatlah sayang, mereka semua pikir kalau aku adalah wanita simpananmu. Setiap pria disini ingin naik ke ranjang denganku,” bisik Annie ditelinga suaminya saat keduanya berjalan menuju meja.

Setelah acara minum berselang, tibalah kini saatnya sang pengantin memasuki ruangan dan orang-orang mulai berdansa. Annie telah minum beberapa gelas tadi dan sekarang tubuhnya merasa sangat hangat dan mellow kala dia berdansa dengan suaminya. Lagu yang diputar adalah up tempo dan dia mulai menggoyangkan pinggulnya dan manari dengan sangat menggoda, tubuhnya meliuk naik turun bergesekan dengan tubuh Frank.

Hingga tibalah saat dinner dan semua orang kembali ke mejanya masing-masing. Acara dinner tersebut berlangsung kurang lebih sekitar 1 jam dan selama rentang waktu tersebut Annie sudah pergi ke bar lebih dari 3 kali dan saat nampan-nampan tiba gilirannya dibersihkan, kondisinya sudah lebih dari agak mabuk. Beberapa teman suaminya menghampiri mereka dan saat mereka saling asik bercerita tentang masa kuliahnya, Annie mendapati dirinya berada diluar percakapan. Suara musik berkumandang kembali dan Annie mencoba mengajak suaminya untuk berdansa lagi.

Setelah beberapa lagu berganti dan suaminya hanya mau menemaninya dansa sebentar saja, Annie mulai merasa sangat bosan, seorang pria muda mendekatinya dan menyapa “Boleh mengajak anda dansa Nyonya?”

Annie menatapnya dan menjawab “Kamu adik si pengantin pria. Billy?”

Dia tersenyum dan menjawab “Bukan, Bobby. Tapi anda hampir benar.”

“Sorry Bobby, tapi aku dengan suamiku,” jawabnya ramah.

Bobby menoleh ke arah suami Annie dan melihat kalau sang suami nampak sedang begitu asik dengan obrolan tentang kisah yang mungkin sudah terjadi 20 tahun lalu.

“Wow anda akan sangat membuatku kecewa dipesta pernikahan kakakku. Itu akan membuatku sedih,” jawabnya seraya menyuguhkan mimik muka menghiba.

Annie menatap pria muda ini dan dengan cepat menjawab “Oh aku tak bermaksud begitu Bobby. I’m sorry, aku hanya bermaksud kalau aku sudah menikah. That’s all.”

Bobby membalas tatapan mata Annie dan tersenyum manis dan untuk beberap kejap Annie merasa tenggelam dalam tatapan matanya itu. Dalam hatinya berkata pria ini begitu muda.

“Aku cuma bercanda, tapi bolehkah aku berdansa dengan nyonya sekali saja? Nyonya boleh meminta ijin pada suami dan kalau dia tidak mengijinkan, lupakan saja.”

Annie tertawa dan menjawab “Baiklah anak muda, tunggu disini.”

Saat Annie meminta ijin pada suaminya, responnya hanya “Tentu saja boleh sayang, bersenang-senanglah.”

Lalu keduanya berjalan ke lantai dansa dan setelah lagu pertama berlalu, lagu kedua berganti dengan irama yang slow.

Saat mereka berdansa Annie melempar pertanyaan pada Bobby “So Bobby, ceritakan padaku tentang dirimu dan jangan panggil aku nyonya atau ber-anda – saya denganku, itu membuatku merasa sangat tua. Panggil aku Annie saja.”

Bobby membimbing Annie di atas lantai dansa dan menjawab “Ok Annie, umurku 18 tahun, disekolah aku ikut team basket, sepak bola dan sesekali ikut renang juga.”

Hal terakhir tersebut menarik perhatian Annie dan dia menanyakan dalam gaya apa Bobby berenang seraya mereka terus berdansa.

“Oh 50, 100, and 400 freestyle and the 100 butterfly,” jawab Bobby.

Mata Annie membesar dan dia mulai penasaran “Aku berenang di 400 freestyle dan 100 butterfly saat kuliah dulu. Record waktumu berapa?”

“Oh mungkin tak sebagus waktumu. Aku tak begitu bagus,” jawabnya.

“Oh well kamu masih SMU. Kamu masih punya kesempatan untuk bertambah kuat dan memperbaiki waktumu,” jawab Annie seraya meremas bahu Bobby dan dia sadari kalau bahu pria muda ini lumayan kekar.

Alunan lagunya usai dan berganti dengan lagu berirama cepat, Annie melangkah kembali ke mejanya, tapi Bobby berkata “Kamu sudah kecapaian, aku pikir kamu tadi bilang kalau kamu seorang perenang?”

Mendengar itu Annie berbalik arah dan mulai berdansa kembali dengan Bobby dan mulai berdansa dengan gerakan yang lebih dan lebih menggoda. Seorang pramusaji mendekat dengan membawa minuman dan Bobby mengambilkan minuman untuk Annie yang terus bergerak mengikuti irama lagu.

Dengan cepat Annie meneguk minuman yang disodorkan Bobby dan berkata “Ayo Bobby coba kalahkan aku.”

Bobby meneguk minumannya dan mengambil dua gelas lagi untuk mereka dan keduanya menenggaknya dengan cepat pula.

“Hey kamu belum cukup umur,” kata Annie saat mereka kembali berdansa. Lalu dia mendekatkan tubuhnya kea rah Bobby dan berbisik ditelinganya “Jangan takut Bobby. Aku tak akan bilang-bilang,” bisik Annie sambil menggodanya dengan memberikan sebuah remasan ringan pada pantat Bobby.

Penis Bobby terlonjak tiba-tiba saat Annie melakukan hal tersebut dan semakin bertambah membesar saat dia melihat buah dada Annie terayun mengikuti lenggokan tubuhnya yang meliuk dengan sangat menggoda diatas lantai dansa. Gaunnya kini benar benar basah oleh peluhnya saat dia terus meliukkan tubuhnya dan mulai memegangi buah dadanya lalu menggesekkannya ke tubuh Bobby. Setelah lagu usai Annie merasa kelelahan lalu dia melangkah kembali ke mejanya, namun suaminya masih tersangkut dalam percakapan dengan para sahabatnya. Annie merasa sangat sangat bosan dan saat satu lagu baru berkumandang kembali dan Bobby mengajaknya untuk kembali berdansa dengannya, dia menerimanya.

Kali ini lagunya berirama slow dan kala mereka mulai berdansa Annie merebahkan kepalanya didada Bobby dan begitu Bobby menghirup parfum yang dikenakanAnnie serta sentuhan tubuhnya, batang penisnya kembali mulai membesar. Annie menyandarkan tubuhnya pada Bobby dan dia hirup aroma lelaki dari aftershave-nya, merasakan kekarnya lengan Bobby yang memeluk tubuhnya, dan dia mulai merasa bergairah. Sebuah lagu slow baru mengalun dan keduanya tetap berpelukan. Batang penisnya semakin bertambah membesar dan mulai menusuk tubuh Annie. Annie meresponnya dengan sebuah desahan pelan dan mulai menggesekkan rubuhnya ke tubuh Bobby, sambil tanganny mengelus punggung pria muda ini dengan lembut. Saat batang penisnya terus membesar, tangan Bobby bergerak turun ke pantat Annie dan mulai memberikan remasan pada daging kencang milik Annie tersebut.

Bobby mulai kehilangan kontrol sekarang. Batang penisnya terasa begitu tegang hingga dia merasakan seakan hendak menyembul keluar merobek celananya kala Annie terus menggesekkan tubuh bawahnya pada tubuhnya.

Akhirnya lagu tersebut usai dan Annie berkata “I’m sorry aku harus pergi, but thanks for the dance.” Dia berjalan menuju mejanya kembali dan berkata pada suaminya kalau dia harus pergi ke kamar kecil, tapi dia tak tahu dimana tempatnya.

“Akan kutunjukkan padamu,” kata Bobby.

“Oh baguslah, thanks kid,” jawab suaminya saat keduanya berlalu bersama.

Antrian didepan kamar kecil wanita sangat panjang, lalu setelah memastikan kalau tak ada yang berada di dalam dan berjanji untuk menjaga situasi, Bobby mengajak Annie masuk ke dalam kamar kecil pria. Kamar kecil tersebut berukuran lumayan luas dan terlihat bersih dengan meja washtafel berukuran besar dengan cermin besar di atasnya, beberapa tempat kencing berdiri dan beberap bilik dengan pintu penuh di salah satu bagian dindingnya.

Annie bergegas memasuki salah satu bilik dan Bobby memakai tempat kencing yang berdiri. Setelah selesai melepas hajatnya Annie lalu keluar dari dalam bilik dan membasuh tangannya pada washtafel, dia melirik ke arah cermin dihadapannya untuk melihat bayangan Bobby yang terpantul didalamnya. Hanya punggung Bobby yang nampak di cermin namun benak Annie membayangkan seperti apakah bentuk dari batang penis milik pria muda ini, dan kenyataan saat ini bahwa dia berada dalam ruang ini hanya berdua dengan Bobby dan dia berada tak jauh darinya menjadikan thong yang dipakaianya yang telah agak basah itu semakin bertambah basah saja. Bobby membalikkan tubuhnya dan kemudian melangkah mendekati Annie untuk membasuh tangannya juga.

Annie melirik ke arah Bobby dan berkata “Bobby aku minta maaf soal kejadian dilantai dansa tadi. Aku sudah agak kelewatan.”

Bobby menatap Annie dan tersenyum “Hey it’s ok, tapi kita masih bisa mendengar suara musiknya dari sini, jadi bisakah kita menyelesaikan dansa tadi?”

Annie tertawa dan menjawab “Tentu saja.”

Lalu keduanya kembali berdansa diiringi alunan musik yang terdengar, pelukan Annie kali ini begitu erat hingga Bobby bisa merasakan putting Annie yang mengeras dibalik pakaiannya. Hal ini ber-efek pada batang penis Bobby yang segera mengembang besar, namun kali ini sensasi yang dia rasakan berbeda dengan yang tadi. Annie bisa merasakannya mendesak pada tubuhnya dan kembali dia mulai mendesah pelan dan menggesekkan tubuh bagian bawahnya ke tubuh Bobby seperti sebelumnya, namun dia rasakan desakan batang penis Bobby kali ini lebih intens. Terasa lebih focus pada satu area dan semakin dia gesekkan tubuh bawahnya maka tersa semakin menjadi keraslah itu terasa. Annie melirik ke bawah dan dia menjadi terkejut dengan pemandangan batang penis Bobby yang menyeruak keluar dari resleitingnya yang terbuka.

“Masukkan lagi Bobby,” kata Annie dengan tegas, namun Bobby tak bergeming hingga Annie kembali mengulang perintahnya namun tetap saja pria muda ini tak mengacuhkannya.

Mau tak mau Annie melayangkan pandangannya ke bawah dan memandang dengan takjub menyadari pria muda berumur 18 tahun ini memiliki batang penis yang sedemikan besar . Yang membuatnya tercekat adalah kenyataan bahwa meskipun batang penis ini terlihat belum ereksi sepenuhnya namun masih tetap terlihat lebih besar dibandingkan dengan milik suaminya saat ereksi penuh. Suamiku!!!!!

Saat hal itu melintasi benaknya Annie segera berkata “Bobby hentikan ini sekarang. Masukkan punyamu ke dalam celana.”

Kembali Bobby tak menjawab ataupun memberi respon. Dia hanya memandang Annie dengan tajam. Merasa frustrasi dan mencoba untuk mengontrol gairahnya sendiri, akhirnya Annie memegang batang penisnya dan mencoba untuk memaksanya masuk kedalam celananya lagi. Erangan Bobby langsung terdengar saat Annie mencoba meskipun sia-sia memasukkan batang penis Bobby kembali ke dalam celananya, dan pinggang Bobby bergerak kegelian saat Annie terus mencoba usahanya.

Annie merasa kagum selama usahanya untuk memasukkan batang penis Bobby kedalam celanana, batang tersebut terasa semakin bertambah membesar. Api diselangkangannya mulai berkobar saat dia sadari kalau dia ingin melihat seberapa besar lagi batang penis ini bisa berkembang. Akhirnya Annie hentikan usahanya untuk memasukkan batang tersebut dan gerakannya beralir sebuah kocokan pelan mengimbangi gerakan pinggang Bobby.

Cengkeraman tangan Annie sekarang berubah kencang dan kocokannya semakin cepat saat Bobby yang kini menyandarkan tubuhnya ke meja washtafel dan mulutnya semakin meracau “Oh G*d… Oh baby… Oh G*d Annie… yes!”

Annie semakin bertambah takjub mendapati betapa besarnya batang penis pria muda ini sekarang dan kocokannya semakin bertambah cepat dan cepat. Jauh lebih besar dari milik Frank, pikir Annie. Dahulu dia pernah mempunyai beberapa kekasih sebelum suaminya namun kesemua mereka tak memiliki batang sebesar yang dimiliki pria muda ini.

Tiba-tiba punggung Bobby meregang ke belakang “Oh G*d Annie… Oh YeSSSSSSSS,” dia ejakulasi dengan semburan sperma yang terlontar keras berulang-ulang ke udara dan jatuh ke atas lantai.

Annie hanya mampu memandanginya dan merasa belum pernah melihat seorang pria yang berejakulasi sebanyak dan sedahsyat ini sebelumnya dan dia beri sebuah remasan sekali lagi untuk memastikan bahwa tak ada lagi yang tersisa. Bobby kemudian merengkuh tubuh Annie dan menciumi belahan dadanya, menjilati setiap tetes keringat yang berbaur dengan wangi parfumnya. Dia cengkeram bagian atas gaun yang dikenakan Annie dan menyentakkannya turun hingga sebatas pinggang, membuat buah dada terbungkus bra hitam milik Annie kini terekspos dihadapannya. Bobby meraba-raba dengan gusar kaitan bra dipunggung Annie hingga Annie menghentikan perbuatannya dan melepaskan sendiri kaitan bra yang dipakainya dari depan. Buah dada kencang nan kenyal tersebut segera melompat keluar begitu penutupnya terlepas dan Bobby langsung memasukkan salah satu putingnya yang sudah sedemikin mencuat keras ke dalam mulutnya lalu tangannya segera memberikan remasan pada buah dada yang satunya lagi.

“Oh Bobby… kamu sangat nakal anak muda… oh Bobby yeah baby… ya… disitu oh… pintar anak manis,” Annie mengerang dan memjamkan matanya rapat sedangkan punggungnya meregang kencang ke belakang membuat buah dadanya semakin mencuat untuk dinikmati Bobby.

Bobby terus menghisap, melumat dan terkadang menggigit pelan putting Annie yang membuat isteri Frank ini menggelinjang tak karuan. Gemuruh ombak kenikmatan meletus dalam tubuh Annie dan dia memeluk tubuh Bobby dengan kencang dan menariknya semakin merapat ke tubuhnya. Hingga setelah ledakan kenikmatan tersebut mereda, Annie melepaskan tubuh Bobby dan bersandar tubuhnya pada meja washtafel, matanya nampak berbinar dengan gairah dan buah dadanya terlihat basah oleh keringatnya yang bercampur dengan air liur Bobby, bergerak naik turun seirama deru nafasnya yang memburu.

Kemudian Bobby mendudukkannya ke atas meja washtafel tersebut, tangannya bergerak keatas paha Annie dan menarik turun thong yang menutupi selangkangan Annie. Annie hanya memandangi apa yang dilakukan pria muda dihadapannya tersebut dan sedikit mengangkat pantatnya untuk mempermudah usaha Bobby. Mata Annie terus memperhatikan apa yang dilakukan Bobby selanjutnya, dia genggam thong tersebut dan mulai mendekatkannya pada wajahnya lalu mulai menjilatinya dihadapan Annie. Lalu Bobby berlutut didepan selangkangan Annie dan membenamkan wajahnya ke vagina isteri Frank ini.

“OH YESSSS…” Annie memekik nikmat kala Bobby mulai menggerakkan lidahnya keluar masuk dengan cepat, dia julurkan lidahnya sepanjang yang dia mampu tak menyisakan satupun area untuk dia eksploitasi, semakin dalam dan bertambah dalam dia membelah ke dalam vagina Annie.

“Oh Bobby… baby… terus Bobby… auww,” dia memekik pelan, mendesis tak terkontrol kala Bobby melanjutkan serangannya. Kini dia bergerak ke atas untuk mencari kelentitnya dan begitu dia temukan langsung dia hisap dengan lembut pada awalnya namun segera berubah keras dan kasar.

“Aaarghh… Bobby… oh Bobby… oh jangan berhenti… lebih cepat… lebih cepat… Oh BOBBBBBBBBBY,” teriakan Annie terlepas kala dia mencapai orgasme keduanya hari ini. Bobby menjilat habis seluruh cairan yang dikeluarkan Annie lalu dia bangkit dan menatap lekat ekspresi wajah Annie seusai mendapatkan kepuasannya.

Saat dunia terasa kembali kehadapan mereka berdua, tiba-tiba saja telinga mereka menangkap suara dan langkah kaki yang melangkah mendekat diantara suara musik yang terdengar. Keduanya tercekat dan mulai panik. Dengan tergesa keduanya menata diri dan bergegas masuk ke dalam salah satu bilik terdekat. Berbarengan dengan Bobby menutup pintu bilik dibelakangnya, pintu kamar kecil tersebut terbuka dan kakak Bobby bersama seorang temannya masuk. Kedua lelaki tersebut melangkah menuju washtafel, mencuci tangannya lalu membasuh muka dan terus asik mengobrol tak menyadari kehadiran dua orang lainnya di dalam salah satu bilik tersebut.

Bobby diam tak bergerak dengan celana yang melorot hingga lutut membuat batang penisnya yang mendongak dengan ereksi penuh nampak terayun seiring degup jantungnya yang berdetak kencang. Annie duduk di atas closet, suasana tegang tersebut tak menghalangi pemandangan batang penis Bobby yang tepat dihadapan matanya, seakan mengejek dan terus menggoda. Dia ambil thong-nya yang masih dalam genggaman tangan Bobby, lalu menaruhnya diselangkangannya dan menekannya rapat-rapat pada vaginanya untuk memastikan lebih banyak lagi cairan birahinya terserap dikaian thong tersebut.

Lalu dia menarik thong yang semakin bertambah basah tersebut dan memberi isyarat pada Bobby untuk duduk di atas closet duduk tersebut dan dia berbisik pelan ditelinga Bobby “Kita harus sangat tak bersuara. Aku ingin menghisap penismu Bobby. Buka mulutmu.”

Bobby melakukan apa yang diperintahkan Annie dan kemudian Annie menyumpalkan thong basah tersebut ke mulut bobby, menarik pantat Bobby untuk semakin mendekatinya dan segera melahap batang penis Bobby yang terus menggoda birahinya tersebut.

Suara erangan Bobby tertahan oleh sumpalan thong milik Annie dimulutnya saat Annie mulai menggerakkan mulutnya maju mundur menghisap batang penisnya dengan cepat. Sedangkan kakak Bobby dan temannya tetap asik mengobrol sambil merapikan diri dihadapan cermin diluar bilik tempat Annie mengulum batang penis adiknya dengan rakus.

Tiba-tiba Annie menghentikan gerakannya dan menarik kepala Bobby turun mendekat dan berkata “Keluarkan dalam mulutku… biarkan aku merasakan spermamu Bobby,” lalu kembali memasukkan batang penis Bobby ke dalam mulutnya, menekannya sejauh mungkin hingga sedalam tenggorokannya mampu mengakomodirnya.

Annie mulai memberikan deep throat pada Bobby dan mendengar suara erangan Bobby yang tertahan sumpalan thong dimulutnya, serta kehadiran kakak Bobby tepat diluar bilik tempat mereka berada begitu membuatnya merasa takut terpergok namun juga semakin membakar birahinya. Hingga akhirnya Bobby mencengkeram kepala Annie dan menekannya ke selangkangannya seerat mungkin kala semburan demi semburan spermanya tumpah ke dalam tenggorokan isteri Frank tersebut.

Setelah merasa tak ada lagi sperma Bobby yang bisa direguknya, Annie menarik kepalanya ke belakang dan bangkit, dia berbalik dan mendekat kepintu bilik untuk mendengarkan apakah kakak Bobby masih berada di sana atau tidak. Kak Bobby dan temannya telah keluar tepat sesaat sebelum Bobby menumpahkan seramnya dalam mulut Annie tadi yang tentu saja tak terdengar oleh keduanya yang sedang asik berada di dunia lain.

Kala tubuh Annie berbalik untuk mendekati pintu bilik, pantatnya yang tersuguh dihadapan wajah Bobby tak ayal membuat batang penis Bobby langsung mengeras kembali. Dia raih tubuh Annie dan menariknya ke atas pangkuannya. Tangannya segera bergerak menelusup ke bagian depan untuk mencengkeram kekenyalan buah dada dari isteri Frank, dan jemarinya langsung memilin putting kerasnya.

Annie tersenyum mendapati tingkah laku Bobby tersebut dan senyumnya semakin bertambah lebar sewaktu merasakan kerasnya batang penis Bobby yang menusuk pantatnya. Ah, stamina anak muda… pikirnya. Dia merespon dengan merebahkan tubuhnya ke belakang bersandar pada Bobby dan berbisik manja “Aku ingin kamu masukkan penismu ke dalam vaginaku sekarang Bobby. Tunjukkan padaku seberapa hebatnya staminamu anak muda.”

Annie mengangkat pantatnya sedikit untuk mengatur posisinya, dia raih batang penis bobby dan menempatkannya tepat didepan pintu masuk vaginanya. Lalu dia turunkan tubuhnya dengan sangat pelan, menikmati setiap bagian dari batang penis bobby yang membelah vaginanya. Dia resapi setiap sensasi yang diberikan oleh Bobby yang membelah dan menyeruak dibagian yang belum pernah dijamah oleh suaminya maupun semua kekasihnya sebelumnya. Bobby membungkuk kedepan untuk memeluk Annie dan membelai buah dadanya. Annie melempar tubuhnya sepenuhnya ke pelukan Bobby dan kakinya terjulur ke atas bertumpu pada pintu bilik tersebut, lalu mulai mengangkat pantatnya kemudian menurunkannya lagi menyambut gerakan menusuk Bobby dari bawah.

“Ssshh… ahhh… oh baby… yeah… oh Bobby … kamu begitu besar… oh fuck me Bobby,” racaunya saat Bobby menguburkan dirinya ke dalam tubuh Annie.

Kemudian, tiba-tiba saja terdengar pintu kamar kecil tersebut dibuka lagi dan disusul oleh masuknya suara langkah kaki diiringi oleh suara dua orang pria. Kali ini suara dari salah satu pria tersebut terdengar sangat familiar di telinga Annie.

“Ya dia pergi ke kamar kecil sudah lama tadi, tapi kamu lihat kan panjangnya antriannya tadi. Dia mungkin masih berada didalam menunggu,” Frank tertawa pada sahabatnya.

Annie tercekat, tubuhnya menegang! Itu suaminya!!! Dia ada diluar bilik, di dalam kamar kecil ini, tak jauh darinya. Dia harus menarik kakinya dan berhenti menekan pintu bilik ini, tapi reaksi tubuhnya yang tegang tersebut membuat otot vaginanya mencengkeram batang penis Bobby dengan demikian erat membuat Bobby menggelinjang dibawahnya. Tangan Bobby langsung begerak mengarah ke depan mencari kelentit Annie dan langsung memainkannya. Hampir saja Annie menjerit karena perbuatan Bobby ini, dengan cepat dia meraih ke belakang dan menarik thong-nya yang menyumpal mulut Bobby dan menyumpalkannya ke mulutnya sendiri.

Suara erangannya tertahan oleh sumpalan thong di mulutnya begitu Bobby tak hentinya mempermainkan kelentitnya dan disaat yang bersamaan seluruh batang penisnya terbenam seluruhnya dalam cengkeraman vaginanya. Dan suaminya saat ini berada tak lebih dari beberapa meter jauhnya. Bobby tetap memainkan jemarinya dikelentit Annie dan mulai mengatur kocokannya dalam irama yang pelan. Dengan bantuan Annie yang pinggangnya dicengkeram erat oleh kedua tangannya, Bobby mulai menusukkan batang penisnya sedalam yang dia mampu lalu menariknya hingga hanya tinggal kepalanya saja yang terbenam didalam vagina Annie hingga dia tusukkan kembali lagi. Gelora demi gelora kenikmatan mulai terbentuk didalam perut Annie yang dengan beusaha sebisanya untuk tak mengeluarkan suara dengan menutup mulut yang sudahtersumpal thong-nya sendiri dengan tangannya. Perlahan dia hampir mencapi batas pertahanannya hingga akhirnya telinganya menangkap suara pintu kamar kecil tersebut tertutup dibalik bilik tempatnya berada ini…

Dia renggut lepas thong yang menyumpal mulutnya dan seiring hentakannya kebawah untuk kali terakhir, dia raih batasnya seiring jeritan mulutnya”Aaaaarrrgggghhhh… oh Bobby… Bobby… sssshhhh,” diraihnya moment pelepasan terindah dalam hidupnya yang membuat sekujur sendi ditibuhnya tergetar dan air mata keluar dari sudut matanya.

Tak lama berselang kemudian Bobby menggeram melepaskan gempuran orgasmenya sendiri yang menggempur batas kesadarannya ” Arrrrggggghhh… Annie…,” semburan disusul semburan berikutnya dia tuangkan ke dalam rahim isteri Frank di atas pangkuannya ini.

Tubuh Annie terhempas ke belakang di atas pangkuan Bobby yang juga merasa seluruh tulangnya seakan dilolosi dari tubuhnya. Annie menoleh ke belakang dan memberi sebuah ciuman yang dalam pada Bobby dan jemarinya bergerak menyusuri rambut pria muda ini.

Setelah sekitar 10 menit berlalu, Annie bangkit membuat sebuah suar ‘plop’ sewaktu menarik keluar batang penis Bobby dari vaginanya. Keduanya kemudian keluar dari dalam bilik tersebut dan merapikan diri di depan kaca di atas meja washtafel yang baru beberapa saat lalu juga digunakan oleh kakak Bobby dan Frank beserta temannya untuk merapikan diri. Setelah merasa semua jejak terhapus keduanya dengan berhati-hati menyelinap keluar bergantian dari dalam kamar kecil pria tersebut. Hanya aroma seks yang masih tertinggal di dalam sana…

“Hey dari mana saja kamu ” Tanya Frank pada isterinya begitu dia melihat Annie berjalan mendekat mejanya.

“Oh well, antrian di kamar kecil wanita terlalu panjang lalu Bobby mengajakku kamar kecil lainnya yang terletak dibagian,” jawab Annie berusaha untuk terdengar senatural dan semeyakinkan mungkin.

“Ok well kita harus segera pulang sayang. Dan Bobby, terima kasih sudah menemani dan mengurus isteriku,” kata Frank sambil menjabat tangan Bobby.

“Sama-sama Frank, tak usah sungkan,” jawab Bobby sambil melirik ke arah Annie yang mengedip kepadanya…

Judul: 5 Wanita Haus Seks

Author : Hidden , Category: Pesta Sex

“Hallo Nia..”

“Iya Man pa kabar?”

“Baik, kamu ada dimana?”

“Aku lagi di tempat kost temanku nih, main donk kesini teman-teman ku pingin kenalan sama kamu..”, katanya

“Ehmm.. di daerah mana?” tanyaku.

“Daerah Radio Dalam, dateng ya sekarang”

“Ok deh nanti kalau aku dah deket aku telpon ya” kataku

“Ok aku tunggu ya, jangan lupa siapin diri, hehehe..”, katanya lagi

“Lho, emang aku mau diapain?”, tanyaku penasaran

“Mau diperkosa rame-rame siap nggak?”

“Siapa takut..”, jawabku sekenanya

Lalu aku pun meluncur ke arah Radio Dalam dan sekitar 15 menit akupun sampai di tempat yang telah dijanjikan.

“Hallo Nia, aku dah di depan nih..”, kataku

“Ok aku keluar ya, sabar..”

Lalu munculah seorang gadis yang sangat seksi tingginya sekitar 175 dengan berat sekitar 55 kg, woww.. buah dadanya lebih besar dari pada punya Nia. Lalu dia menghampiri mobilku dan mengetuknya.

“Iya, ada apa?”, jawabku dengan mataku yang tak lepas dari buah dadanya yang montok itu.

“Firman ya..”, kata dia.

“Iya”, kataku.

“Aku Melly temennya Nia yuk masuk yuk..”, katanya dengan senyum nakalnya.

“Oh.. yuk”, jawabku agak sedikit tergagap.

Wah, bakal ada pesta besar nih pikirku dalam hati. Sesampai dikamarnya aku disambut dengan pelukan dan ciuman oleh Nia dan aku diperkenalkan kepada 3 temennya yang lain yang satu bernama Dita, Ayu dan Kiki. Dan harus kuakui mereka bertiga tidak kalah menggiurkannya dengan si Melly.

Tiba-tiba Nia membuka omongan yang bagiku sifatnya hanya basa-basi dan kemudian diteruskan oleh teman-temannya dan lama-kelamaan omongan kami berlanjut ke arah selangkangan. Dan tiba-tiba dari arah belakang ada yang memelukku saat aku akan menengok, dengan cepatnya Melly mencium bibirku dengan liarnya, maka akupun tak kalah bernafsunya aku balas dengan liarnya pula.

Dan ternyata yang memelukku dari belakang adalah Nia dia terus menciumi leherku dan terus turun ke bawah mencoba membuka bajuku sementara aku masih saja berciuman dengan Melly. Ketika bajuku dilepaskan oleh Nia tiba-tiba ada tangan yang membuka celanaku termasuk celana dalamku maka langsung saja adekku yang telah tegang sedari tadi keluar dari sarangnya. Dan seketika itu juga “Adekku” langsung dilahap dengan liarnya setelah aku lihat ternyata Dita dengan ganasnya sedang mengulum kemaluanku.

Saat aku sedang diserang oleh tiga wanita ini aku sempat mencari kemana Ayu dan Kiki ternyata mereka ada di sofa dekat situ dan keduanya sudah telanjang bulat dan aku lihat Kiki sedang menjilati vagina Ayu dan Ayu pun mendesah-desah dan meliuk-liukan badannya diatas sofa tersebut sementara aku sendiri sedang kewalahan menangani seranga dari tiga wanita ini, maka aku tidak memperhatikannya.

Langsung saja aku buka baju Melly yang terdekat dengan aku dan ketika Melly sedang membuka seluruh bajunya aku tarik Dita keatas dan kami pun berciuman sementara itu Nia menggantikan posisi Dita mengulum kemaluanku. Begitu pula dengan Dita aku buka bajunya dan posisinya digantikan oleh Nia sedangkan posisi Nia digantikan oleh Melly, wow.. ternyata kuluman Melly lebih enak dari pada Nia dan Dita sampai akhirnya aku merebahkan diri di ranjang yang berada disitu.

Nia setelah melepas bajunya langsung saja memgang kemaluanku dan diarahkannya ke liang vaginannya yang ternyata sudah basah sedari tadi setelah pas maka diturunkan pantatnya perlahan-lahan hingga akhirnya..

Bless.., “Aah..”, desah Nia.

Sementara Nia sedang asiknya menaik turnkan pantatnya diatasku, maka aku tarik Melly keatasku dan aku menjilati vaginanya.

“Ahh.. enak Man terus Man ohh..” desah Melly.

“Ahh.. ohh.sst” desah Nia yang bersahut-sahutan dengan Melly dan Ayu.

“Ohh.. yess lick my pussy Man ohh yess sst” racau Melly ketika klitorisnya aku hisap-hisap.

Sementara itu aku tarik pula si Dita dan aku masukan jari tengahku ke liang vaginanya sehingga membuat Dita meracau dan meliuk-liukan badannya.

“Ohh yes Man enak Man dalem lagi Man ohh..” racau Dita.

Sementara setelah berada dalam posisi seperti selama kurang lebih 15 menit akhirnya Nia menggenjotnya semakin cepat dan mengerang.

“Ahh.. Man aku keluar Man ah..” desah Nia dan seketika itu pula tubuhnya melemas dan menggelimpang disampingku dan ternyata tanpa aku sadari dibawahku sudah ada si Ayu yang dengan cepatnya langsung melumat kemaluanku maka aku pun menggeliat menahan nikmat hisapan Ayu dan Melly segera turun dari mulutku dan memasukan kemaluanku ke vaginanya dan langsung digoyangkannya naik turun dan kadang memutar, sementara Dita tidak mau kehilangan kesempatan maka dia menyodorkan vaginannya ke mulutku dan akupun menjilati dan mengihisap-hisap vaginanya.

Setelah 5 menit aku jilati vagina nya maka tubuh Dita mengejang dan dia berteriak, “Man ahh.. aku keluar Man.. ah..” sambil menekan vaginanya ke mulutku langsung saja aku menghisap vaginanya kuat-kuat dan aku merasakan mengalir deras cairan dari vaginanya yang langsung aku sedot dan aku telan habis.

Setelah Dita merebahkan diri di sampingku ternyata Kki juga tidakmau ketinggalan dia menaiki aku dan kembali aku disodorkan vagina ke 3 siang ini yang langsung aku lumat habis baru aku memulai menjilati vagina Kiki Melly yang masih bergoyang diatasku akhirnya mengerang kuat.

“Man aku keluar Man ah.. sst ahh..” racaunya.

Terasa sekali cairanya mengalir deras mambahasi kemaluanku dan seketika itu pula ubuhnya melemas dan menggelimpang disampingku dan ternyata Kiki sudah tidak tahan dan langsung menurunkan tubuhnya ke bawah dan memasukan penisku ke vaginanya dan..

“Ahh.. sst ahh.. Man mentok Man.. ah..” desahnya.

Sedangkan Ayu yang sedari tadi hanya melihat sambil masturbasi sendiri aku tarik keatasku dan aku jilat dan hisap vaginannya

“Ohh yess ohh lick it honey oh..” desah Ayu.

Setelah 10 menit Kiki diatasku dan menggoyangkan pinggulnya akhirnya dia pun mengalami klimaks.

Sementara aku sendiri yang sedari tadi belum keluar karena tidak konsentrasi maka setelah Kiki rebah di sampingku maka aku membalikan badan hingga Ayu berada di bawahku dan perlahan-lahan aku masukan penisku ke vaginanya terasa sangat sempit, ketika kepala penisku mulai menyeruak masuk hingga Ayu berteriak.

“Ahh.. pelan-pelan Man sakit”

Maka perlahan-lahan aku masukan lagi setelah setengahnya masuk aku diamkan sebentar agar vagina Ayu terbiasa karena aku melihat Ayu mengerenyitkan dahinya menahan sakit setelah Ayu tenag maka aku sorong pantatku dan akhirnya seluruh penisku berada dalam vagina Ayu

“Ahh Man sakit ah..” desah Ayu.

Dan perlahan-lahan Ayu mulai menggoyangkan pinggulnya maka aku pun menggenjot pantatku keluar masuk. Terasa semppit sekali vagina Ayu dan ketika aku melirik kebawah aku melihat ada teesan darah keluar dari vaginanya yang akhirnya baru aku ketahui bahwa memang Ayu yang termuda diantara semuanya dia baru masuk SMU kelas 1 dan hanya dia yang masih perawan.

“Ahh.. sst.. terus Man enak Man oh.. dalam lagi Man..” racau Ayu.

Maka aku menarik Ayu kepinggiran tempat tidur dengan posisi kakinya berada di bahu aku sementara aku berdiri memang Ayu tidak kelihatan seperti anak baru masuk SMU dengan tingginya sekitar 170 dan buah dadanya berukuran 36 B.

Setelah 10 menit aku menggenjot Ayu akhirnya dia pun mengerang.

“Man aku keluar Man ohh.. Man..”

Namun aku tidak perduli aku terus menggenjot Ayu karena aku sendiri mengejar klimaks ku, setelah itu aku balikan tubuh Ayu sambil terus menggenjotnya hingga akhirnya Ayu berada dalam posisi menungging dan aku terus menggenjotnya dari belakang sambil meremas buah dadanya 36Bnya yang mengayun-ayun.

Ketika aku sedang menggenjot dari arah bawah belakang aku merasakan ada yang menjilati buah pelirku dan ternya Melly sudah bangun lagi sehingga setelah 10 menit aku menggenjot Ayu dari belakang dia pun mengalami orgasme kembali.

“Ahh Man aku keluar lagi Man ah..” dan seketika itu tubuhnya benar-benar melemas melihat kondisinya yang seperti itu maka aku tidak tega dan langsung aku tarik Melly untuk mengangkang dan aku tusukan penisku ke vaginanya dan Melly dengan posisi dibawah mendesah-desah seperti orang yang kepedasan.

“Ahh.. Man terus Man.. esst enak Man terus Man oh..” racaunya.

“Enak Mel, aah.. esst ahh”, racauku tidak karuan karena merasakan sedotan-sedotan di vagina Melly yang kata orang-orang ‘empot ayam’.

Maka dengan semangatnya aku menggenjot Melly dan setelah 10 menit Melly berkata, “Man aku mau keluar Man.. Man ahh”

“Ntar Melll gue juga mau keluar barengan ya ahh” kataku.

Akhirnya, “Man gue nggak kuat Man ah..”, ser.. ser.. ser.., terasa deras sekali semprotan Melly.

“Ahh gue juga Mell ah..”, crot.. crot.. crott.., akhirnya akupun orgasme bersamaan.

Akhirnya Kamipun ketiduran dengan posisi aku diatas Melly. Kira-kira aku tertidur 15 menit tiba-tiba aku merasakan penisku dijilat-jilat dan dihisap-hiasap setelah aku membuka mataku ternyata Dita sedang mengulum penisku.

Maka seketika itu juga aku langsung meracau, “Ah.. ohh.. enak Dit terus Dit”

Tapi Dita tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada dia langsung naik keatas tubuhku dan memasukkan penisku ke liang vagiannya, memang dari ‘peperangan’ tadi hanya Dita yang belum merasakan penisku maka ketika yang lain lain sedang tidur Dita memanfaatkan momen tersebut sebaik-baiknya.

Terus dia menggoyangkan pinggulnya.

“Ahh.. esst enak Man ah..”

Aku pun merasakan keenakan dengan goyangan Dita karena goyangannya benar-benar seperti penari ular dia memutar-mutarkan pantatnya diatas penisku. Lama dia melakukan itu hingga akhirnya kami keluar bersamaan.

“Ahh Man enak Man ayo Man keluarin barengan ohh..”

Akhirnya, “Dit aku mau keluar ahh ohh crot.. crot..”

Kami pun lemas dan Dita menciumku bibirku mesra “Makasih ya Man, enak lho bener yang Nia bilang” katanya.

“Emang Nia bilang apa?” tanyaku penasaran.

“Kontolku kamu enak, kamu bisa bikin ceweq ketagihan nanti lagi ya” katanya.

Aku hanya tersenyum dan memeluk dia.

Akhirnya aku pun menginap disitu dan kami ber-enampun melakukannya berulang kali. Kadang aku mengeluarkan spermaku di dalam vagina Melly, Ayu ataupun yang lainnya secara bergantian. Hingga sekarang pun kami masih sering melakukan kadang satu lawan satu, kadang three some, ataupun langsung berenam lagi.

Judul: Bu Henny dan Temannya

Telah sebulan lamanya Andi, seorang pemuda tampan rupawan, berkenalan dengan wanita paruh baya berumur empat puluh lima tahun bernama Bu Henny, istri seorang pejabat teras pemerintah pusat di Jakarta. Berawal saat mereka bertemu di sebuah department store di kawasan Senen dekat tempat Andi bekerja. Ketika itu Andi dengan tidak sengaja menolong Bu Henny waktu wanita itu mencari sesuatu yang terjatuh dari tas tangan yang dibawanya. Dari pertemuan itulah kemudian keduanya memulai hubungan teman yang kini berkembang menjadi lebih erat, perselingkuhan!

Pemuda lajang yang berwajah tampan itu telah membuat Bu Henny jatuh hati hingga tak dihiraukannya lagi status dirinya sebagai istri seorang pejabat. Ditambah dengan kebiasaan buruk dan kondisi keluarganya yang memang penuh pertengkaran akibat suami yang doyan menyeleweng seperti layaknya kebiasaan para pejabat pemerintah yang tak pernah lepas dari perihal korupsi, kolusi, nepotisme dan perilaku seks yang selama ini selalu diarahkan pada generasi muda sebagai kambing hitam.

Pertemuan pertama yang begitu mengesankan bagi kedua orang itu telah membawa mereka mengarungi petualangan demi petualangan cinta yang dari hari ke hari semakin membuat mereka mabuk asmara. Kencan-kencan rahasia yang selalu mereka lakukan di saat suami Bu Henny melakukan tugas ke luar negeri telah menjadi sebuah jadwal rutin bagi keduanya untuk semakin mendekatkan diri. Nafsu seksual Bu Henny yang meledak-ledak dan terpendam, menemukan tempat yang begitu ia impikan semenjak bertemu pemuda itu. Sebagai pemuda lajang yang juga masih memiliki keinginan libido seksual yang tinggi, Andipun tak kalah menikmatinya.

Bu Henny seperti memberi semua yang pemuda itu dambakan. Kepuasan seksual yang ia peroleh dari hubungannya dengan istri pejabat itu benar-benar telah membuat hidupnya bahagia. Dendam pribadinya sebagai anak muda yang merasa sangat tertipu oleh para pejabat negara seperti terlampiaskan dengan melakukan perselingkuhan itu. Ditambah lagi dengan pesona tubuh Bu Henny yang sangat ia sukai. Sesuai dengan seleranya yang suka pada tubuh montok ibu-ibu dengan postur tubuh bahenol dan payudara besar seperti yang dimiliki wanita itu benar-benar pas seperti seleranya.

Postur tubuh Bu Henny yang bongsor dengan pantat, pinggul dan buah dada yang besar memang telah membuat Andi menjadi gila seks hingga dalam setiap hubungan badan yang mereka lakukan keduanya selalu menemukan kepuasan seks yang hebat. Apalagi dengan bentuk kemaluan yang besar dan sangat panjang dari Andi semakin membuat Bu Henny tak pernah puas dan selalu haus dengan hubungan seksual mereka. Kemaluan Andi yang besar dan panjang serta kemampuannya menaklukkan nafsu kewanitaan Bu Henny hingga wanita itu harus bangkit lagi untuk mengimbangi permainan Andi telah melahirkan gairah yang selalu membara pada diri wanita itu. Tak bosan-bosannya mereka melakukan persetubuhan dimana mereka merasa aman dan nyaman. Hari-hari kedua insan yang mabuk kepuasan seks itupun berjalan lancar dan penuh kenikmatan.

Bulan November tahun 1996, Andi meminta cuti selama satu minggu. Pemuda tampan itu telah sebulan sebelumnya merencanakan untuk menghabiskan liburan di sebuah pulau kecil lepas pantai Bali. Perusahaan tempat ia bekerja memberinya tiket gratis untuknya. Sementara di lain tempat, suami Bu Henny mendapat tugas ke luar negeri untuk jangka waktu yang cukup panjang. Hingga saat Andi mengatakan rencananya pada wanita itu Bu Henny langsung menyambutnya dengan penuh suka cita. Dengan gemas ia membayangkan apa yang akan mereka lakukan di pulau kecil itu. Dengan kemewahan hotel berbintang lima yang eksklusif, tak tertahankan rasanya untuk segera melakukan hal itu. Benaknya kian dipenuhi bayangan kebebasan seks yang akan ia tumpahkan bersama Andi.

Tiba saatnya mereka berangkat ke Bali, keduanya bertemu di airport dan langsung berpelukan mesra sepanjang perjalanan. Tak terasa penerbangan satu jam lebih itu telah membawa mereka sampai di tujuan. Bagaikan sepasang pengantin baru keduanya begitu mesra hingga feri yang membawa mereka menuju pulau Nusa Lembongan itu telah merapat di sebuah dermaga kecil tepat di depan hotel tempat mereka menginap. Keduanya langsung menuju lobby dan melakukan prosedur check in. Tergesa-gesa mereka masuk ke sebuah bangunan villa yang telah dipesan Bu Henny dan langsung menghempaskan tubuh mereka di tempat tidur. Dengan nafas yang terdengar turun naik itu keduanya langsung bergumul dan saling mengecup. Bibir mereka saling memagut disertai rabaan telapak tangan ke arah bagian-bagian vital tubuh mereka. Saat tangan Bu Henny meraba punggung Andi, pemuda itu dengan perlahan melepaskan kancing gaun terusan yang dikenakan Bu Henny hingga gaun itu terlepas dari tubuhnya.

Kini tampak tubuh putih mulus dan bahenol itu terbuka. Dadanya yang membusung ke depan dengan buah payudara yang besar masih dilapisi BH putih berenda itu terlihat semakin menantang dan membuat nafsu Andi semakin tak tertahan. Disingkapnya BH itu kebawah hingga buah dada Bu Henny tersembul dihadapannya. Bibir Andi langsung menyambut dengan kecupan.

“aahh…, hhmm”, desah Bu Henny, kecupan Andi membuatnya merasakan kenikmatan khas dari mulut pemuda itu saat Andi mulai menyedot putingnya.

Perempuan itu terus mendesah sambil berusaha melepaskan celana yang dikenakan Andi, setelah berhasil melepaskan celana panjang itu tangan Bu Henny langsung meraih batang penis Andi yang telah tegang mengeras. Dirabanya lembut sambil mengusap-usap kepala penis yang begitu disukainya itu.

“ooohh…, Bu…, ooohh”, kini desahan Andi terdengar menimpali desahan Bu Henny, kecupan pemuda itupun kini menuju ke arah bawah dada Bu Henny yang terus-menerus mendesah menahan nikmatnya permainan lidah Andi yang terasa menari di permukaan kulitnya. Perlahan pemuda itu menuju ke daerah bawah pusar Bu Henny yang ditumbuhi bulu-bulu halus dari sekitar daerah kemaluannya. Dengan pasrah Bu Henny mengangkang membuka pahanya lebar untuk memberi jalan pada Andi yang semakin asik itu. Jari tangan pemuda itu kini menyibak belahan kemaluan Bu Henny yang menantang, dan dengan penuh nafsu ia mulai menjilati bagian dalam dinding vagina wanita paruh baya itu. Andi tampak begitu buas menyedot-nyedot clitoris diantara belahan vagina itu sehingga Bu Henny semakin tampak terengah-engah merasakannya.

“uuuhh…, uuuhh…, uuuhh…, ooohh…, ooohh…, teruuusss sedooot sayaang…, ooohh pintaar kamu Andi…, ooohh”, kini terdengar Bu Henny setengah berteriak.

Andi semakin terlihat bersemangat mendengar teriakan nyaring Bu Henny yang begitu menggairahkan. Seluruh bagian dalam dinding vagina yang berwarna kemerahan itu dijilatnya habis sambil sesekali tangannya bergerak meraih susu Bu Henny yang montok itu, dengan gemas ia meremas-remasnya. Kenikmatan itupun semakin membuat Bu Henny menjadi liar dan semakin tampak tak dapat menguasai diri. Wanita itu kini membalik arah tubuhnya menjadi berlawanan dengan Andi, hingga terjadilah adegan yang lebih seru lagi.

Kedua insan itu kini saling meraih kemaluan lawannya, Andi menjilati liang vagina Bu Henny sementara itu Bu Henny menyedot buah penis pemuda itu keluar masuk mulutnya. Ukuran penis yang besar dan panjang itu membuat mulutnya penuh sesak. Ia begitu menyenangi bentuknya yang besar, penis yang selalu membuatnya haus. Buah penis itulah yang selama ini dapat memuaskan nafsu birahinya yang selalu membara. Dibanding milik suaminya tentulah ukuran penis Andi jauh lebih besar, penis suaminya tak lebih dari satu perlima ukuran penis pemuda itu. Ditambah lagi dengan kemampuan Andi yang sanggup bertahan berjam-jam sedang suaminya paling hanya dapat membuat wanita itu ngos-ngosan. Sungguh suatu kepuasan yang belum pernah ia rasakan dari siapapun seumur hidupnya selain dari Andi.

Belasan menit sudah mereka saling mempermainkan kemaluan masing-masing membuat keduanya merasa semakin ingin melanjutkan indehoy itu ketahap yang lebih hebat. Bu Henny bahkan tak sadar bahwa ia belum melepas sepatu putih yang dikenakannya dalam perjalanan.

Nafsu mereka yang telah tak tertahankan itu membuat keduanya seperti tak peduli akan hal-hal lain. Bu Henny kini langsung menunggangi Andi dengan arah membelakangi pemuda itu. Digenggamnya sejenak penis Andi yang sudah tegang dan siap bermain dalam vaginanya itu, lalu dengan penuh perasaan wanita itu menempelkannya di permukaan liang vaginanya yang telah basah dan licin, dan “Sreeeppp bleeesss”, penis Andi menerobos masuk diiringi desahan keras dari mulut mereka yang merasakan nikmatnya awal senggama itu.

“ooo…, hh…”, teriak Bu Henny histeris seketika merasakan penis itu menerobos masuk ke liang vaginanya yang seakan terasa sangat sempit oleh ukuran penis pemuda itu.

“aahh…, Buu…, enaakkk”, Balas Andi sambil mulai mengiringi goyangan pinggul Bu Henny yang mulai turun naik di atas pinggangnya. Matanya hanya menatap tubuh wanita itu dari belakang punggungnya. Tangan Andi meraih pinggang Bu Henny sambil membelainya seiring tubuh wanita itu yang bergerak liar di atas pinggang Andi.

“Ohh Andi…, ooohh sayang…, enaaknya yah sayang ooohh…, ibu suka kamu sayang ooohh…, enaknya And…, penis kamu enaakkk”, desah Bu Henny sambil terus bergoyang menikmati penis Andi yang terasa semakin lezat saja. Andipun tak kalah senang menikmati goyangan wanita itu, mulutnya juga terdengar mendesah nikmat.

“aauuu…, ooohh vagina ibu juga nikmat, oooh lezatnya oohh bu, ooohh goyang terus bu..”.

“Sini tanganmu sayang remas susu ibu..”, tangan Bu Henny menarik tangan Andi menuju buah dadanya yang menggantung dan bergoyang mengikuti irama permainan mereka. Andi meraihnya dan langsung meremas-remas, sesekali puting susu itu dipilinnya. Bu Henny semakin histeris”,aauuu…, ooohh enaak, remeeess teruuus susu ibu Andi…, ooohh…, nikmat…, ooohh Andi”.

“Ohh Bu Henny…, ooohh Bu enaknya goyang ibu ooohh terus goyang ooohh sampai pangkal bu ooohh…, tekan lagi ooohh angkat lagi ooohh…, mmhh ooohh vaginanya enaakkk bu ooohh”, teriak Andi mengiringinya, kamar villa yang luas itu kini penuh oleh teriakan nyaring dan desahan bernafsu dari kedua insan yang sedang meraih kepuasan seks secara maksimal itu. Bu Henny benar-benar seperti kuda betina liar yang baru lepas dari kandangnya. Gerakannya diatas tubuh Andi semakin liar dan cepat, menunjukkan tanda-tanda mengalami klimaks permainannya. Sementara itu Andi hanya tampak biasa saja, pemuda itu masih asik menikmani goyangan liar Bu Henny sambil meremasi payudara wanita itu bergiliran satu per satu.

Lima belas menit saja adagan itu berlangsung kini terlihat Bu Henny sudah tak dapat lagi menahan puncak kenikmatan hubungan seksual itu. Lalu dengan histeris wanita itu berteriak keras dan panjang mengakhiri permainannya.

“ooouuu…, ooo…, aa…, iiihh…, ibu keluaarrr…, ooo…, nggak tahaann laagiii enaaknyaa Andi…, ooohh”, teriaknya panjang setelah menghempaskan pantatnya ke arah pinggang Andi yang membuat kepala penis pemuda itu terasa membentur dasar liang rahimnya, cairan kental yang sejak tadi ditahannya kini muncrat dari dalam rahim wanita itu dan memenuhi rongga vaginanya.

Sesaat Andi merasakan vagina Bu Henny menjepit nikmat lalu ia merasakan penisnya tersembur cairan kental dalam liang kemaluan wanita itu, vagina itu terasa berdenyut keras seiring tubuh Bu Henny yang mengejang sesaat lalu berbah lemas tak berdaya.

“ooohh An, ibu nggak kuat lagi…, Istirahat dulu ya sayang?”, pintanya pada Andi sambil melepaskan gigitan vaginanya pada penis pemuda itu.

“Baiklah Bu”, sahut Andi pendek, ia mencoba menahan birahinya yang masih membara itu sambil memeluk tubuh Bu Henny dengan mesra.

Penis pemuda itu masih tampak berdiri tegang dan keras. Dengan mesra dicumbunya kembali Bu Henny yang kini terkapar lemas itu. Andi kembali meraba belahan kemaluan Bu Henny yang masih basah oleh cairan kelaminnya, jarinya bermain mengutil titik kenikmatan di daerah vagina wanita itu. Bibirnyapun tak tinggal diam, ia kembali melanjutkan jilatannya pada sekitar puting susu Bu Henny. Sesekali diremasnya buah dada berukuran besar yang begitu disenanginya itu. Kemudian beberapa saat berlalu, Bu Henny menyuruhnya berjongkok tepat di atas belahan buah dada itu, lalu wanita itu meraih sebuah bantal untuk mengganjal kepalanya. Ia meraih batang penis Andi yang masih tegang dan mulai mengulumnya, tangan wanita itu kemudian meraih payudaranya sendiri dan membuat penis Andi terjepit diantaranya. Hal itu rupanya cukup nikmat bagi Andi sehingga ia kini mendongak menahan rasa lembut yang menjepit buah penisnya. Sementara itu tangan pemuda itu terus bermain di permukaan vagina Bu Henny, sesekali ia memasukkan jarinya ke dalam liang kemaluan itu dan mempermainkan clitorisnya sampai kemudian beberapa saat lamanya tampak Bu Henny mulai bangkit kembali.

“Hmm…, Andi, kamu memang pintar sayang, kamu buat ibu puas dan nyerah, sekarang kamu buat ibu kepingin lagi, aduuuh benar-benar hebat kamu An”, puji Bu Henny pada Andi.

“Saya rasa suasana ini yang membuat saya jadi begini Bu, saya begitu menikmatinya sekarang, nggak ada rasa takut, kuatir ketahuan suami ibu atau waswas. Ibu juga kelihatan semakin menggairahkan akhir-akhir ini, saya semakin suka sama badan ibu yang semakin montok”

“Ah kamu bisa aja, An. Masa sih ibu montok, yang bener aja kamu”.

“Bener lho, Bu. Saya begitu senang sama ibu belakangan ini, rasanya kenikmatan yang ibu berikan semakin hari semakin hebat saja”.

“Mungkin ibu yang semakin bersemangat kalau lagi main sama kamu, gairah ibu seperti meledak-ledak kalau udah main sama kamu. Tapi, ayo dong kita mulai lagi, ibu jadi mau main lagi nih kamu bikin. iiih hebatnya kamu sayang”, kata Bu Henny sambil mengajak Andi kembali membuka permainan mereka yang kedua kali.

Masih di atas tempat tidur itu, kini Andi mengambil posisi di atas Bu Henny yang berbaring menghadapnya. Tubuhnya siap menindih tubuh Bu Henny yang bahenol itu. Perlahan tapi pasti Andi masuk dan mulai bergoyang penuh kemesraan. Di raihnya tubuh wanita itu sambil menggoyang penuh perasaan. Sepasang kemaluan itu kembali saling membagi kenikmatannya. Suara desahan khas mulai terdengar lagi dari mulut mereka, diiringi kata-kata rayuan penuh nikmat dan gairah cinta.

Kini Andi semakin garang meniduri wanita itu. Gerakannnya tetap santai namun genjotan pinggulnya pada tubuh Bu Henny tampak lebih bertenaga. Hempasan tubuh Andi yang kini turun naik di atas tubuh Bu Henny sampai menimbulkan suara decakan pada permukaan kemaluan mereka yang beradu itu. Bibir mereka saling pagut, kecupan disertai sedotan di leher keduanya semakin membuat suasana itu menjadi tegang dan menggairahkan. Teriakan-teriakan nyaring keluar dari mulut Bu Henny setiap kali Andi menekan pantatnya ke arah pinggul wanita itu.

Beberapa saat lamanya mereka lalu berganti gaya. Bu Henny menempatkan dirinya di atas tubuh Andi, dibiarkannya Andi menikmati kedua buah dadanya yang menggantung. Dengan leluasa kini pemuda itu menyedot puting susu itu secara bergiliran. Tak puas-puasnya Andi menikmati bentuknya yang besar itu, ia begitu tampak bersemangat sambil sebelah tangannya meraba punggung Bu Henny. Buah dada besar dan lembut nan mulus itupun menjadi kemerahan akibat sedotan mulut Andi yang bertubi-tubi di sekitar putingnya. Sementara Bu Henny kini asik bergoyang mempermainkan irama tubuhnya yang turun naik bergoyang ke kiri kanan untuk membagi kenikmatan dari kemaluan mereka yang sedang beradu. Penis Andi yang tegang dan keras itu seakan bagai batang kayu jati yang tak tergoyahkan. Sekuat wanita itu mendorong ke arah pinggul Andi sekuat itu pula getaran rasa nikmat yang diperolehnya dari pemuda itu.

“ooohh…,ooohh…, ooohh…, enaknya Andi…, ooohh enaknya penis kamu sayang…, ibu ketagihan…, oohh lezatnya…, aahh…, uuuhh…, sedooot teruuus susu ibu…, ooohh sayang ooohh”, desah Bu Henny bercampur jeritan menahan rasa nikmat dari goyang pinggulnya di atas tubuh Andi. Untuk kesekian kalinya sensasi kenikmatan rasa dari penis Andi yang besar dan panjang itu seperti bermain di dalam liang vaginanya. Liang kemaluan yang biasanya hanya merasakan sedikit geli saat bersenggama dengan suaminya itu kini seperti tak memiliki ruang lagi oleh ukuran penis pemuda itu. Seperti biasanya saat dalam keadaan tegang penuh, penis Andi memang menjadi sangat panjang hingga Bu Henny selalu merasakan penis itu sampai membentur dasar liang rahimnya yang paling dalam. Dan keperkasaan pemuda itu yang sanggup bertahan berjam-jam dalam melakukan hubungan seks itu kini kembali membuat Bu Henny untuk kedua kalinya mengalami ejakulasinya. Dengan gerakan yang tiba-tiba dipercepat dan hempasan pinggulnya ke arah tubuh Andi yang semakin keras, wanita itu berteriak panjang mengakhiri ronde kedua permainannya.

“aahh…, ahh…, aa…, aahh…, ibu ke…, lu.., ar laagiii…, ooohh…, kuatnya kamu sayang ooohh”. jeritnya kembali mengakhiri permainan itu.”ooohh bu…, enaak ooohh vagina ibu nikmat jepitannya oooh hh…”, balas Andi sambil ikut menggenjot keras menambah kenikmatan puncak yang dialami bu Henny. Pemuda itu masih saja tegar bergoyang bahkan saat Bu Henny telah lemas tak sanggup menahan rasa nikmat yang berubah menjadi geli itu.

“aawww…, geliii…, Andi stop dulu, ibu istirahat dulu sayang ohh gila kamu And, kok bisa kayak gini yah?”.

“Habiiis ibu sih goyangnya nafsuan banget, jadi cepat keluar kan?”.

“Nggak tahu ya An, ibu kok nafsunya gede banget belakangan ini, sejak ngerasain penis kamu ibu benar-benar mabuk kepayang…”, kata Bu Henny sambil menghempaskan tubuhnya di samping Andi yang masih saja tegar tak terkalahkan.

“Sabar Bu, saya bangkitkan lagi deh..”, seru pemuda itu sekenanya.

“Baiklah An, ibu juga mau bikin kamu puas sama pelayanan ibu, biar adil kan? Sini ibu karaoke penis kamu…, aduuuh jagoanku…, besar dan panjang ooohh…, hebatnya lagi”, lanjut Bu Henny sambil beranjak meraih batang kemaluan Andi yang masih tegang itu lalu memulai karaoke dengan memasukkan penis Andi ke mulutnya.

Andi kembali merasakan nikmat dari permainan yang dilakukan wanita itu dengan mulutnya, penis besarnya yang panjang dan masih tegang itu dikulum keluar masuk dengan buas oleh Bu Henny yang tampaknya telah sangat berpengalaman dalam melakukan hal itu. Sambil berlutut pemuda itu menikmatinya sembari meremas kedua buah payudara Bu Henny yang ranum itu. Telapak tangannya merasakan kelembutan buah dada nan ranum yang begitu ia sukai. Dari atas tampak olehnya wajah wanita paruh baya yang cantik itu dengan mulut penuh sesak oleh batang penisnya yang keluar masuk. Sesekali Bu Henny menyentuh kepala penis itu dengan giginya hingga menimbulkan sedikit rasa geli pada Andi.

“Auuuww…, nikmat Bu sedot terus aahh, aduuuh enaknya”.

“mm…, mm..”, Bu Henny hanya bisa menggumam akibat mulutnya yang penuh sesak oleh penis Andi.

Andi terlihat begitu menikmati detik demi detik permainannya, ia begitu menyenangi tubuh bongsor wanita yang berumur jauh lebih tua darinya itu. Nafsu birahinya pada wanita dewasa seperti Bu Henny memang sangat besar. Ia tak begitu menyenangi wanita yang lebih muda atau seumur dengannya. Andi beranggapan bahwa wanita dewasa seperti Bu Henny jauh lebih nikmat dalam bermain seks dibanding gadis ABG yang tak berpengalaman dalam melakukan hubungan seks. Setiap kali ia melakukan senggama dengan Bu Henny ia selalu merasakan kepuasan yang tiada duanya, wanita itu seperti sangat mengerti apa yang ia inginkan. Demikian pula Bu Henny, baginya Andi-lah satu-satunya pria yang sanggup membuatnya terkapar di ranjang. Tak seorangpun dari mantan kekasih gelapnya mampu membuat wanita itu meraih puncak kepuasan seperti yang ia dapatkan dari Andi.

Sepuluh menit sudah Andi di karaoke oleh Bu Henny. Kemudian kini mereka kembali mengatur posisi saat wanita itu kembali bangkit untuk yang ketiga kalinya. Ia yang telah terkapar dua kali berhasil dibangkitkan lagi oleh pemuda itu. Inilah letak keperkasaan Andi. Ia dapat membuat lawan mainnya terkapar beberapa kali sebelum ia sendiri meraih kepuasannya. Pemuda itu sanggup bermain dalam waktu dua jam penuh tanpa istirahat. Sejenak mereka bermain sambil berdiri, saling menggoyang pinggul, mirip sepasang penari samba. Namun kemudian dengan cepat mereka menuju kamar mandi dan masuk ke dalam bak air hangat yang luas, sembari mengisi bak rendam itu dengan air mereka melanjutkan permainannya di situ, mereka masuk ke dalam bak dan langsung mengatur posisi di mana Andi menempatkan diri dari belakang dan memasukkan penisnya dari arah pantat Bu Henny.

Adegan seru kembali terjadi, teriakan kecil menahan nikmat itu terdengar lagi dari mulut Bu Henny yang merasakan genjotan Andi yang semakin nikmat saja. Diiringi suara tumpahan air dari kran pengisi bath tube itu suasana menjadi semakin menggairahkan.

“aahh…, nikmat An, aahh…, ooohh penis kamu sayang ooohh enaak, mmhh lezaatnya ooohh…, genjot yang lebih keras lagi dong…, ooohh enaak”, teriak Bu Henny sejadi-jadinya saat merasakan nikmat di liang vaginanya yang dimasuki penis pemuda itu. Andi juga kini tampak lebih menikmati permainannya, ia mulai merasakan kepekaan pada penisnya yang telah membuat Bu Henny menggapai puncak dua kali itu.

“Ooohh…, Bu…, vagina ibu juga nikmat sekali…, ooohh saya mulai merasa sangat nikmat ooohh…, mmhh…, Bu ooohh, Bu Henny ooohh ibu cantik sekali ooohh…, saya merasa bebas sekali”, oceh mulut Andi menimpali teriakan gila dari Bu Henny yang juga semakin mabuk oleh nikmatnya goyang tubuh mereka.

Keduanya memang tampak liar dengan gerakan yang semakin tak terkendali. Beberapa kali mereka merubah gaya dengan beragam variasi seks yang sangat atraktif. Kadang di pinggiran bath tub itu Bu Henny duduk mengangkang dengan pahanya yang terbuka lebar sementara Andi berjongkok dari depannya sambil menggoyang maju mundur, mulutnya tak pernah lepas menghisap puting susu Bu Henny yang montok dan besar itu. Bunyi decakan cairan kelamin yang membeceki daerah pangkal kemaluan yang sedang beradu itupun kini terdengar bergericik seiring pertemuan kemaluan mereka yang beradu keras oleh hempasan pinggul Andi yang menghantam pangkal paha Bu Henny.

“Aduuuhh Annndiii…, enaaknya goyang kamu sayang ooohh…, teruuus…, aahh genjot yang keraass…, ooohh sampai puaasss…, hhmm enaakk sayangg…, mmhh nikmaatttnya…, ooohh…, enaknya genjotan kamu…, ooohh…, Andi sayang oooh kamu pintar sekali ooohh ibu nggak mau berhenti sama kamu…, ooohh.., jagonya kamu sayang ooohh genjot terus yang keras”.

“Ohh Bu Henny, ibu juga punya tubuh yang nikmat, nggak mungkin saya bosan sama ibu, ooohh…, apalagi susu ini…, ooohh mm…, enaknya…, baru sekali ini saya ketemu wanita cantik manis dengan tubuh yang begitu aduhai seperti ibu, oooh Bu Henny…, goyang ibu juga nikmat sekali oooh meski ibu sudah punya anak tapi vagina ini rasanya nikmat sekali bu, ooohh susu ibu juga mm…, susu yang paling indah yang pernah saya lihat…, auuuhh enaaknya vagina ini…, ooohh…, penis saya mulai sedikit peka bu”, balas Andi memuji wanita itu.

Keduanya terus saling menggoyang sambil memuji kelebihan masing-masing, ocehan mereka berkisar pada kenikmatan seks yang sedang mereka alami saat ini. Andi memuji kecantikan dan kemolekan tubuh Bu Henny, sedang wanita itu tak henti-hentinya memuji keperkasaan dan kenikmatan yang ia dapatkan dari Andi. Beberapa saat berlalu, mereka kembali merubah variasi gayanya menjadi gaya anjing, Bu Henny menunggingkan pantatnya ke arah Andi lalu pemuda itu menusukkan kemaluannya dari arah belakang. Terjadilah adegan yang sangat panas saat Andi dengan gerakan yang cepat dan goyang pinggul yang keras memnghantam ke arah pantat Bu Henny. Wanita itu kini menjerit lebih keras, demikian pula dengan Andi yang saat ini mulai merasakan akan menggapai klimaks permainannya.

“ooohh…, ooohh…, ooohh…, aauuuhh…, ennnaakkk…, An.. Di sayang…, genjooot…, ibu mau keluaar lagii…, ooohh…, nggaak tahan lagi sayang…, nikmaat ooohh”, jerit nyaring Bu Henny yang ternyata juga sedang mengalami ejakulasi, vaginanya merasakan puncak kenikmatan itu seperti sudah diambang rahimnya. Ia masih mencoba untuk bertahan.

Demikian halnya dengan Andi yang kini sedang mempercepat gerakan pinggulnya menghantam pantat Bu Henny untuk meraih kenikmatan maksimal dari dinding vagina wanita itu. Kepala penisnyapun mulai berdenyut menandakan puncak permainannya akan segera tiba. Buru-buru diraihnya tubuh Bu Henny sambil membalikkan arahnya menjadi berhadapan, lalu kemudian ia mengangkat sebelah kaki wanita itu ke atas dan dengan gesit memasukkan buah penisnya kembali ke liang vagina Bu Henny.

“oooh Bu, saya juga mau keluar. Kita pakai gaya ini yah?! Saya mau keluarkan sekarang juga…, aauuuhh Bu Henny sayang…, ooohh…, enaakkk…, ooohh…, vagina ibu njepit…, enaak”, teriak Andi diambang puncak kenikmatannya, ia begitu kuat merasakan cairan sperma yang sudah siap meluncur dari penisnya yang dalam keadaan puncak ketegangannya itu. Kemaluannya terasa membesar sehingga vagina Bu Henny terasa makin sempit dan nikmat. Wanita itupun merasakan hal yang tak kalah nikmatnya, vaginanya seakan sedang merasakan nikmat yang super hebat dan membuat wanita itu tak dapat lagi menahan keluarnya cairan kelamin dari arah rahimnya.

“ooohh…, aahh…, ibu keeeluuuaarrr laagii…, aahh enaakkk…, Andiii”, teriak Bu Henny mengakhiri permainannya, disaat bersamaan Andi juga mengalami hal yang sama. Pemuda itu tak dapat lagi menahan luncuran cairan spermanya, hingga penisnya pun menyemprotkan cairan itu ke dalam rongga vagina Bu Henny dan membuatnya penuh, dinding vagina itu seketika berubah menjadi sangat licin akibat dipenuhi cairan kelamin kedua manusia itu. Andi tampak tak kalah seru menikmati puncak permainannya, ia berteriak sekeras-kerasnya.

“aahh…, saya keluaarr juga Bu Henny ooohh…, ooohh…, air mani saya masuk ke dalam vagina ibu…, ooohh…, lezaat…, ooohh Bu Henny sayaanng…, ooohh Bu Henny…, enaak”, jeritnya sambil mendekap wanita itu dengan keras dan meresapi sembuaran spermanya dalam jumlah yang sangat banyak. Cairan putih kental itu sampai keluar meluber ke permukaan vagina Bu Henny.

Akhirnya kedua insan itu ambruk dan saling mendekap dalam kolam air hangat yang sudah penuh itu. Mereka berendam dan kini saling membersihkan tubuh yang sudah lemas akibat permainan seks yang begitu hebat. Mereka terus saling mencumbu dan merayu dengan penuh kemesraan.

“Andi sayang…”, panggil Bu Henny.

“Ya, bu”.

“Kamu mau kan terus main sama ibu?”.

“Maksud ibu?”.

“Maksud ibu, kamu mau kan terus kencan gini sama ibu?”.

“Oh itu, yah jelas dong bu, masa sih saya mau ninggalin wanita secantik ibu”, jawab Andi sambil memberikan kecupan di pipi Bu Henny.

“Ibu pingin terus bisa menikmati permainan ini, nggak ada yang bisa memuaskan birahi ibu selain kamu. Suami ibu nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan kamu. Dulu sebelumnya ibu juga pernah pacaran sama pegawai bawahan suami ibu tapi ah mereka sama saja, hanya nafsu saja yang besar, tapi kalau sudah main kaya ayam, baru lima menit sudah keluar”.

“Yah saya maklum saja bu, tapi ibu jangan kuatir. Saya akan terus menuruti kemauan ibu, saya juga senang kok main sama ibu. Dari semua wanita yang pernah saya kencani cuma Ibu deh rasanya yang paling hebat bergoyang. Bentuk tubuh Ibu juga saya paling suka, apalagi kalau yang ini nih..”, kata Andi sambil memilin puting susu Bu Henny.

“Auuuw…, Andi! geliii aahh…, ibu udah nggak tahan…, nanti lagi ah”, jerit Bu Henny merasakan geli saat Andi memilin puting susunya.

Keduanya terus bercumbu rayu hingga saat beberapa puluh menit kemudian mereka mengeringkan badan lalu beranjak menuju tempat tidur. Di sana lalu mereka saling dekap dan hanyut dalam buaian kantuk akibat kelelahan setelah permaian seks yang hebat itu. Merekapun tertidur lelap beberapa saat kemudian. Masih dalam keadaan telanjang bulat keduanya terlelap dalam dekapan mesra mereka. Dua jam lamanya mereka tertidur sampai saat senja tiba mereka terbangun dan langsung memesan makan malam di kamar.

Hari pertama itu Andi dan Bu Henny benar-benar seperti gila seks. Permainan demi permainan mereka lakukan tanpa mengenal berhenti. Saat malam tiba keduanya kembali melampiaskan nafsu birahi mereka sepuas-puasnya. Klimaks demi klimaks mereka raih, sudah tak terkira puncak kenikmatan yang telah mereka lalui malam itu. Dengan hanya diselingi istirahat beberapa belas menit saja mereka kembali lagi melakukannya. Dari pukul delapan malam sampai menjelang jam empat pagi mereka dengan gila mengumbar nafsu seks mereka di villa yang luas itu. Berbagai macam obat kuat dan ekstasi mereka minum untuk memperkuat tenaganya. Minuman keras mereka tegak sampai mabuk untuk menyelingi permainan itu. Televisi yang ada di kamar itupun mereka putarkan Laser Disc porno yang telah mereka siapkan dari Jakarta, sambil melihat adegan seks di TV itu mereka menirukan semua gerakannya.

Judul: Bu Henny dan Temannya 2

Author : Hidden , Category: Pesta Sex

Malam itu sungguh menjadi malam birahi yang panjang bagi kedua orang yang sedang mabuk seks itu. Begitu salah satu dari mereka merasa lemas mereka langsung menegak pil kuat pembangkit tenaga yang telah mereka siapkan. Belasan botol bir sudah habis ditegak Andi ditambah beberapa piring sate kambing untuk membuatnya selalu tegang dan panas. Barulah menjelang dini hari mereka terkapar lemas kemudian tertidur lelap tanpa busana. Kamar itupun tampak berantakan akibat permainan yang mereka lakukan di sembarang tempat, dari tempat tidur sampai kamar mandi, meja makan, sofa, lantai karpet, sampai toilet jongkok yang ada di kamar mandi.

Keesokan harinya mereka masih tampak terlelap sampai siang menjelang sore, tubuh mereka terasa penat dan malas.

“Huuuaahhmm”, terdengar Andi menguap.

“Kamu sudah bangun sayang?”, tanya Bu Henny begitu mendengar suara pemuda itu, ia lebih dahulu bangun untuk mengambil pesanan minuman yang ditaruh di meja teras samping kolam renang pribadi yang ada di villa itu. Secangkir kopi ia ambilkan untuk Andi lalu wanita itu beranjak keluar kamar menuju kolam renang di depan kamar mereka. Dengan bebas ia lalu membuka gaun tidur yang dikenakannya dan bermain di kolam renang itu. Andi hanya memperhatikan dari dalam kamar. Villa itu memang dibatasi oleh tembok tinggi bergaya tradisional Bali dengan halaman yang luas. Gerbangnyapun dapat dikunci dari dalam sehingga aman bagi tamu dari gangguan. Mereka juga telah memesan agar tidak diganggu selama hari pertama sampai ketiga agar mereka dapat menikmati kepuasan yang mereka inginkan itu secara maksimal.

Andi memandang tubuh Bu Henny dari kejauhan sambil membayangkan apa yang telah diraihnya dari wanita paruh baya yang telah bersuami itu. Betapa beruntungnya ia yang hanya seorang biasa pegawai perusahaan swasta itu dapat menggauli istri pejabat tinggi pemerintah yang biasanya sangat sulit didapatkan orang lain. Seleranya pada wanita dewasa yang berumur jauh di atasnya menjadikan pemuda itu sangat menikmati hubungan gelapnya dengan Bu Henny. Tubuh wanita itu putih mulus dengan wajah manis menggairahkan, buah dada yang begitu menantang dengan ukuran yang besar ditambah lagi dengan goyang tubuhnya yang aduhai menjadikannya benar-benar sempurna di mata Andi.

Dari jauh ia menatap tajam ke arah Bu Henny yang kini duduk di pinggiran kolam itu, tampak jelas saat wanita itu sedikit mengangkang memperlihatkan daerah kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Itu adalah bagian yang paling disukai Andi, dalam setiap hubungan seks yang mereka lakukan Andi tak pernah sekalipun melewatkan kesempatannya untuk menjilati daerah itu. Aromanya yang khas dengan permukaan bibir vagina yang merah merekah menjadikannya selalu tampak menantang dan membangkitkan nafsu birahi.

Umur Bu Henny sudah lebih dari empat puluh tahun justru menambah gairah pemuda itu, ia merasa benar-benar mendapatkan apa yang ia inginkan dari Bu Henny. Gairah dan nafsu birahi yang selalu membara, kedewasaan berfikir maupun teknik bermain cinta yang begitu ia sukai semua ia dapatkan darinya. Kehangatan tubuh wanita bersuami itu sungguh cocok dengan selera Andi. Kehangatan yang tak pernah sekalipun ia dapatkan dari wanita muda, apalagi ABG yang sok seksi seperti yang banyak terdapat di kota-kota besar. Ia sudah bosan dan muak dengan anak-anak kecil yang murahan dan hanya mengenal seks secara pas-pasan itu. Namun hubungannya dengan Bu Henny kini seperti memberinya pengalaman lebih tentang seks dan segala misteri yang ada di dalamnya. Teknik-teknik menikmati senggama yang sebelumnya hanya ia baca dari buku tuntunan seks itu kini dapat ia praktikkan dan rasakan kenikmatannya dari tubuh Bu Henny. Bahkan Bu Henny seperti menuntunnya ke arah kesempurnaan teknik seks yang hari demi hari semakin terasa memabukkan.

Beberapa saat memandangi tubuh bugil itu membuat Andi kembali terangsang. Iapun kemudian beranjak bangun dari tempat tidur dan menyambar sebuah handuk lalu berjalan menghampiri Bu Henny di pinggir kolam itu. Sambil tersenyum Bu Henny menyambutnya dengan sebuah kecupan mesra, Andi merangkulnya dari belakang dan dengan perlahan kemudian mereka masuk ke kolam dan berenang dengan bebas. Mereka asik bermain dengan air, saling menyiram sambil sesekali menggelitik daerah vital. Keduanya bercanda puas dengan sangat bebas. Dunia bagaikan milik mereka berdua di tempat itu. Bu Henny memang sengaja memesan villa dengan bangunan dan lokasi khusus yang jauh dari keramaian, dengan segala fasilitas yang bersifat pribadi seperti kolam, taman dan pantai pribadi yang tertutup untuk tamu lain semua menjadi milik mereka berdua. Dengan sepuas hati mereka menghabiskan sisa waktu siang hari itu untuk bermain di kolam maupun di pantai, berenang kemudian saling berkejaran di pantai dan taman villa itu. Tak ketinggalan mereka melakukan hubungan seks yang cukup seru di kolam renang, hingga hari itu mereka benar-benar sangat ceria.

Senjapun tiba, kedua manusia yang dimabuk nafsu birahi itu rupanya sudah terlalu lelah untuk kembali melakukan senggama seperti yang mereka perbuat kemarin. Kini keduanya tampak duduk di sebuah sofa di teras villa itu sambil menikmati snack dan minuman ringan yang mereka pesan. Beberapa saat kemudian dua orang pelayan hotel mengantarkan makan malam yang mewah sekalian menata kembali kamar yang berantakan oleh permainan seks yang mereka lakukan hari sebelumnya. Kedua orang pelayan itu seperti heran melihat keadaan kamar yang cukup berantakan, tapi sedikitpun mereka tak berani mengeluh ataupun bercanda pada kedua tamunya karena Bu Henny memang membayar villa termahal ditambah dengan kondisi khusus yang membuat mereka menjadi tamu terpenting yang paling dihormati.

Setelah menghabiskan makan malam yang besar dengan menu penuh gizi disertai minuman energi untuk pemulih tenaga itu mereka beranjak naik ke tempat tidur. Bu Henny menyalakan televisi dan memprogram sebuah film horor dari laser disc. Sejenak kemudian mereka sudah terlihat asik saling mendekap sambil menyaksikan film itu hingga larut malam sebelum lalu mereka tertidur saling mendekap mesra. Dua hari itu mereka habiskan dengan mengumbar nafsu birahi sepuas-puasnya hingga kini mereka perlu istirahat yang panjang untuk memulihkan stamina mereka. Hari ketiga mereka habiskan dengan membaca berita dari majalah yang disediakan hotel. Siang harinya mereka mengambil sebuah program hiburan menyelam di laut sekitar pulau itu untuk menyaksikan keindahan bawah laut berupa ikan hias dan karang yang beraneka ragam. Keduanya melakukan itu untuk melengkapi hiburang dan selingan dari tujuan utama mereka, meraih kepuasan seks bebas!

Masih di pulau kecil lepas pantai tenggara pulau Bali, Bu Henny dan Andi menghabiskan liburan satu minggu mereka. Keduanya terlihat asyik duduk menikmati matahari terbenam di ufuk barat. Warna kemerahan bercampur birunya laut semakin terlihat indah dengan terdengarnya lagu-lagu yang dimainkan grup hiburan hotel diiringi alat musik akustik spanyol yang eksotik. Pasangan itu mengambil tempat duduk di pojok kanan sebuah hamparan taman rumput dan bonsai yang indah, sedikit terpisah dari tamu yang lain. Mereka tampak sedang menikmati minuman ringan dan seporsi besar sea food berupa lobster dan soup kepiting kegemaran Andi. Sesekali keduanya tampak tertawa kecil bercanda ria membicarakan kisah-kisah lucu yang mereka alami.

Beberapa saat kemudian ketika mereka sedang asik bercanda seorang wanita cantik berumur kurang lebih sama dengan Bu Henny datang dari arah belakang mengejutkan mereka. Begitu dekat wanita itu langsung menepuk pundak Bu Henny yang sama sekali tak melihat kedatangannya.

“Selamat malam pengantin baru”, ucapnya pada Bu Henny, wanita itu langsung membalikkan badan terkejut mendapat sentuhan tiba-tiba itu. Tapi sesaat setelah mengetahui siapa yang datang, matanya tampak berbinar penuh keceriaan.

“Eeeiiihh…, Rani…, aduuuh jantungku hampir copot…, uuuhh hampiiir aja aku mati kaget Ran, eh ngapain kamu di sini dan kok kamu tahu aku disini?”.

“Aduh Hen, aku tuh nyari kamu dari rumah sampai ke kolong jembatan tahu nggak, susaah banget”.

“lantas siapa yang ngasih info kalu aku di sini”.

“Lho kan kamu sendiri yang cerita sama aku sebelum berangkat, kalau kamu mau liburang ke sini”.

“Oh iya aku lupa”.

“Jelas lupa dong, lha kamu lagi bulan madu kayak gini gimana nggak lupa daratan?”, sahut wanita itu menggoda Bu Henny.

“Idiiih kamu nyindir yah?, Awas tak jitak kamu”, lanjut Bu Henny sambil mengacungkan tangannya ke arah wanita itu.

“Jitak aja, ntar aku buka kartu kamu di suami kamu, ya nggak?”, sergahnya tak mau kalah.

“Alaa…, kalau yang itu sih lapor aja, aku sih sekarang sudah punya jagoan, ngapain takut mikirin si botak jelek itu, huh dasar tua bangka…, moga aja dia mati ketabrak kereta api di Luar negeri, toh paling dia juga lagi nyari jajanan di jalan tuh, siapa nggak tahu sih pejabat pemerintah…, eh ngomong-ngomong aku sampai lupa ngenalin Andi sama kamu, nih dia Arjunaku yang sering kuceritakan sama kamu, Ran. Andi ini Tante Rani, teman akrab ibu dari sejak di SMA dulu”.

“Halo Tante…, saya Andi”, kata pemuda itu sambil mengulurkan tangan pada wanita rekan Bu Henny itu. Sejak tadi ia cuma memperhatikan kedua wanita yang tampak saling akrab itu.

“Halo juga Andi, Bu Henny pernah juga cerita tentang kamu”.

“Eh Ran, kamu ngapain ke sini, pasti deh ada masalah penting di perusahaan, ada apa sih?” tanya Bu Henny penasaran pada Tante Rani, namun raut wajah wanita itu langsung berubah muram saat Bu Henny bertanya.

“Aku ada masalah lagi sama suamiku, Hen”, jawabnya sambil menunduk, wanita itu tampak sedih.

“Ya ampuuun Ran, aku kan sudah bilang sama kamu seribu kali, kalau suami kamu bikin ulah, kamu harus balas. Jangan bodoh gitu dong ah, jangan sok setia begitu. Eh tahu nggak biar kamu nggak cerita sama aku, tapi aku sudah tahu masalah kamu. Pasti suami kamu nyeleweng lagi kan? Eh Ran, Kamu harus sadar tahu nggak, semua yang namanya pejabat itu bangsat, denger yah, bangsat, nggak bisa dipercaya. Kamu susah amat jadi orang setia. eeehh, suami kamu nikmat-enakan di luar sana tidur sama gadis-gadis muda, sadar Ran, kamu harus gitu juga, jangan kalah”, oceh Bu Henny panjang pada Tante Rina yang masih tertunduk. Bu Henny melanjutkan omelan dan nasehatnya pada wanita itu dengan penuh amarah. Ia seperti tak tega jika teman baiknya itu dijadikan bulan-bulanan oleh sumai yang brengsek seperti umumnya pejabat pemerintah.

“Atau gini aja deh, aku nggak mau kamu jadi kusut kayak begini, sebagai sahabat dekat kamu, aku siap ngebantuin kamu supaya bisa ngelupain masalah ini, okay?”, Bu Henny memberi alternatif pada Tante Rani yang sedari tadi hanya bisa terdiam seribu basa.

Bu Henny melanjutkan kata-katanya dengan penuh semangat, “Okay Ran, ini mungkin akan ngejutin kamu, tapi itupun terserah apakah kamu mau terima atau tidak ini hanya ide, kalau kamu terima ya bagus kalaupun nggak juga nggak apa-apa kok, dengerin yah..”, sejenak ia menghentikan kata-katanya lalu beberapa saat kemudian ia melanjutkan, “malam ini kamu boleh gabung sama kita berdua, maksudku Andi dan aku, aku nggak keberatan kok kalau Arjunaku harus melayani dua wanita sekaligus, toh aku sendiri rasanya nggak cukup buat dia, ya nggak An?” katanya sembari melirik pada Andi.

Pemuda itu langsung terkejut, namun sebelum ia sempat berkata Bu Henny sudah kembali melanjutkan ocehannya, “Tapi, Bu…”

“Alaa.., nggak pakai tapi tapi lagi deh, toh kamu juga pasti senang kan?, lagi pula ibu ingin lihat apa kamu sanggup ngalahin kita berdua”.

“Tapi Hen”, sergah Tante Rani.

“Eh kamu nggak usah malu-malu, pokoknya lihat saja nanti yah, ayo sekarang yang penting kita bisa senang sepuas puasnya, umbar dan raih kepuasan. Nggak ada yang berhak ngelarang kamu Ran”, lanjut Bu Henny tak mau mengalah.

Sementara Andi dan Tante Rani hanya terdiam dan saling melirik. Andi yang sejak pertama telah memperhatikan bentuk tubuh Tante Rani yang tak kalah indah dari Bu Henny kini merasakan dadanya berdebar keras. Sudah tergambar di benaknya tubuh dua wanita paruh baya yang sama-sama memiliki tubuh bahenol itu akan ia tiduri sekaligus dalam satu permainan segi tiga yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Dua orang istri pejabat pemerintah dengan wajah cantik manis dan kulit yang putih mulus itu akan ia nikmati sepuas hati.

Belum sempat ia berpikir banyak, Bu Henny tiba-tiba memecahkan keheningan.

“Heh ngelamun kalian berdua yah, ntar aja di kamar lihat kenyataannya pasti asiiik, ya nggak. Sekarang ayoh pesen minuman lagi”, katanya sambil melambaikan tangan pada pelayan bar.

“Dua bir lagi yah, kamu apa Ran, oh yah kamu kan nggak biasa minum”.

“Apa aja deh, Hen”.

“Kasih Gin Tonic aja deh Mas”, lanjut bu Henny pada pelayan itu.

“Baik Bu, saya ulangi, Dua Bir dan Satu Gin Tonic”, ulang si pelayan.

Sesaat kemudian mereka telah terlihat asik berbincang sambil tertawa-tawa kecil. Beberapa botol minuman telah mereka habiskan hingga kini ketiganya tampak mulai mabuk. Pembicaraan mereka jadi ngolor ngidur tak karuan diselingi tawa cekikikan dari kedua wanita itu.

Pukul setengah sepuluh lewat, mereka bertiga meninggalkan bar terbuka menuju ke villa tempat Andi dan Bu Henny. Ketiga orang itu tampak saling berpelukan sambil sesekali tangan-tangan nakal mereka saling mencubit. Obsesi mereka sudah dipenuhi bayangan yang sama akan apa yang segera akan mereka lakukan di kamar itu, hingga begitu masuk kamar ketiganya langsung saling menyerang di atas tempat tidur yang berukuran besar itu. Dengan nafsu menggelora dan nafas yang terdengar turun naik, ketiganya langsung saling melepas pakaian sampai mereka semua telanjang bulat dan memulai permainan segitiga itu. Andi berbaring telentang menghadap ke atas lalu dengan cepat Bu Henny menyambar kemaluan Andi dan mempermainkan penis yang telah setengah tegang itu dengan mulutnya. Ia mulai menjilat kepala penis sebesar buah ketimun itu dengan penuh nafsu, sementara itu Andi menarik pinggul Tante Rani dan menempatkan wanita itu mengangkang tepat di atas wajahnya sehingga daerah sekitar kemaluan wanita itu terjangkau oleh lidah dan bibir Andi yang siap menjilatinya. Pemuda itu menarik belahan bibir vagina Tante Rani dan mulai menjilat dengan lidahnya.

Permainan segitiga itu mulai sudah, Bu Henny mengkaraoke penis Andi dan pemuda itu memainkan lidah dan menyedoti daerah vagina Tante Rani. Suara desahan kini mulai terdengar memecah keheningan suasana malam itu. Decakan suara lidah Andi yang bermain dipermukaan vagina Tante Rani mengiringi desahan wanita itu yang menahan nikmat dari arah selangkangnya. Sementara itu Andi sendiri mulai merasakan kenikmatan dari penisnya yang keluar masuk mulut Bu Henny. Adegan itu berlangsung beberapa saat sebelum kemudian Bu Henny dengan bernafsu mengambil posisi menunggang di atas pinggul Andi dan langsung memaksukkan penis pemuda itu ke dalam liang vaginanya. “Sreeep blesss”, penis besar dan panjang itu menerobos masuk ke dalam liang vagina Bu Henny.

“aahh…, enaak”, desahnya begitu terasa penis itu membelah dinding vagina yang seperti terlalu sempit untuk penis pemuda itu.

Lain halnya dengan Tante Rani yang sejak pertama terus mendesah keras menahan kenikmatan yang diberikan Andi lewat lidahnya yang menjilati seluruh dinding dan detil-detil alat kelamin wanita itu. Ukurannya tampak lebih tebal dari milik Bu Henny, belahan bibir vagina Tante Rani lebih lebar hingga liangnya tampak lebih nikmat dan menggairahkan.

Mengimbangi kenikmatan dari lidah Andi, Tante Rani kini meraih buah dada Bu Henny yang bergelantungan berayun seiring gerakannya di atas pinggul Andi. Kedua wanita yang berada di atas tubuh pemuda itu saling berhadapan dan saling meraih buah dada dan saling meremas membuat adegan itu menjadi semakin panas.

“ooouuuhh Hen, nikmat sekali ternyata…, ooohh kamu benar Hen ooohh sedot terus vagina Tante, And.., oooh enaak”, jerit Tante Rani merasakan nikmat itu, nikmat di selangkangannya dan nikmat di buah dadanya yang teremas tangan Bu Henny.

“Kamu mau rasain yang ini Ran? uuuh, bakalan ketagihan kamu kalau udah kesentuh buah penis ini”, Bu Henny menawarkan posisinya pada Tante Rani yang sejak tadi tampak heran oleh ukuran penis Andi yang super besar dan panjang itu. Ia kemudian mengangguk kegirangan sambil beranjak merubah posisi mereka. Matanya berbinar dengan perasaan setengah tak percaya ia memandangi buah penis itu.

“Uhh besarnya penis ini Hen, pantas kamu jadi gila seks seperti ini.., ooh”, serunya keheranan.

“Ayolah segera coba..”, kata Bu Henny sambil menuntun pinggul wanita itu menuju ke arah penis yang sudah tegang dan keras itu. Namun sebelumnya ia menyempatkan diri menjilati vagina Tante Rani yang tampak merah menggairahkan itu.

“Aduuuh Ran, bagusnya bentuk vagina kamu..”, seru wanita itu sambil menjulurkan lidahnya ke arah kemaluan Tante Rani. Sejenak ia menyempatkan diri memberi sentuhan lidahnya pada vagina Tante Rani.

“Iiihh kamu Hen, aku udah nggak sabar nih katanya sambil menggenggam batang kemaluan Andi. Kemudian dengan gesit di tuntunnya penis itu sampai permukaan vaginanya yang tampak basah oleh air liur Andi dan Bu Henny Dan.., “Sreeettt”, “Auuuwwww Andiii…, vaginaku rasanya robek Henny aduuuh..”, jeritnya tiba-tiba saat merasakan penis Andi yang menerobos masuk liang vaginanya. Lubang itu terasa sangat sempit hingga ia merasakan sedikit perih seperti waktu merasakan pecah perawan di malam pengantin barunya dulu. Namun beberapa saat kemudian ia mulai merasakan kenikmatan maha dahsyat dari penis besar itu. Ia mulai bergoyang perlahan, rasa perih telah berubah menjadi sangat nikmat.

“uuuhh…, aahh…, ooohh enaakkk, Andi ooohh Hen, baru pertama kali aku ngerasain penis segede ini Hen, ooohh pantas kamu begitu senang berselingkuh…, oooh Hen…, aku bakalan ketagihan kalau seperti ini nikmatnya…, ooohh”, wanita itu mulai mengoceh saat menikmati penis besar Andi yang keluar masuk liang vaginanya.

Sementara Bu Henny kini menikmati permainan lidah Andi pada permukaan vaginanya yang berada tepat di atas wajah pria itu. Andi sesekali menyedot keras clitoris Bu Henny yang merah sebesar biji kacang di celah vaginanya hingga wanita itu berteriak geli. Dua orang wanita itu kembali saling meremas buah dada. Keduanya dalam posisi berhadap-hadapan. Tangan Andipun sebelah tak mau ketinggalan meremas sebelah susu Bu Henny yang tak sempat diremas Tante Rani. Bergilir diraihnya payudara montok kedua wanita yang menidurinya itu. Penisnya yang tegang terus keluar masuk oleh gerakan naik turun Tante Rani di atas pinggulnya. Goyangan wanita itu tak kalah hebatnya dengan Bu Henny, ia sesekali membuat putaran pada poros pertemuan kemaluannya dengan penis Andi sehingga kenikmatan itu semakin sensasional. Namun itu hanya dapat ia tahan selama lima belas menit, ketika Andi ikut menekan pinggangnya ke atas menghantam posisi Tante Rani, wanita itu berteriak panjang dengan vagina yang berdenyut keras dan cairan kelamin yang tiba-tiba meluncur dari dasar liang rahimnya.

“ooohh Anndiii Taantee keluaarr…, ooohh enaak, Henny aku nggak kuat lagi ooohh…, nikmatnya penis ini…, ooh enaakkk”, teriaknya panjang sebelum kemudian terkapar disamping Andi dan Bu Henny yang masih ingin melanjutkan permainan itu. Andi bangkit sejenak dan memberikan ciuman pada Tante Rani, lau mengatur posisi baru dengan Bu Henny.

“Ayo Bu, kita lanjutin mainnya.., istirahat dulu ya Tante”, seru Andi pada Tante Rani.

“Baiklah, aku mau lihat kalian main aja”, jawabnya sembari kemudian berbaring memandangi Andi dan Bu Henny yang kini saling tindih meraih kepuasan. Kedua orang itu sengaja menunjukkan gaya-gaya bermain yang paling hot hingga membuat Tante Rani terheran-heran menyaksikannya. Goyangan tubuh Bu Henny yang begitu gesit di atas tubuh Andi sementara pemuda itu memainkan buah dada besar Bu Henny yang bergelantungan dengan penuh nafsu. Suara desah nafas yang saling memburu dari keduanya terdengar sangat keras dan terpatah-patah akibat menahan kenikmatan dahsyat dari kedua kemaluan mereka yang beradu keras saling membentur yang menimbulkan bunyi decakan becek. Daerah sekitar kemaluar mereka tampak telah basah oleh cairan kelamin yang terus mengalir dari liang vagina Bu Henny hingga semakin lama Andi merasakan dinding kemaluan Bu Henny semakin licin dan nikmat.

“Oh anak muda ini begitu perkasanya…”, benak Tante Rani berkata kagum pada pemuda itu. Ia begitu heran melihat keperkasaan Andi dalam bermain seks. Begitu tegarnya anak itu menggoyang tubuh bongsor Bu Henny yang bahenol itu. Andi seperti tak tergoyahkan oleh lincahnya pinggul wanita paruh baya yang bergoyang di atasnya penuh nafsu. Bahkan liang vagina Bu Henny yang sudah punya dua orang anak remaja itu seperti tak cukup besar untuk menampung batang penis Andi yang keluar masuk bak rudal nuklir. Bahkan kini hanya beberapa menit saja mereka bermain Bu Henny sudah tampak tak dapat lagi menguasai jalannya permainan itu. Wanita itu kini mendongak sambil menarik rambutnya untuk menahan rasa nikmat yang begitu dahsyat dari liang vaginanya yang terdesak oleh penis pemuda itu.

“Auuuhh…, ooohh…, mati aku Ran…, enaak…, ooohh…, Andi sayaang…, oooh remas terus susu ibu An”, teriak wanita itu sembari menggelengkan kepalanya liar kekiri dan kanan untuk berusaha menahan rasa klimaks yang diambang puncaknya itu.

Tante Rani semakin terpesona melihat gerakan liar Bu Henny yang tampak begitu menggodanya untuk kembali mencoba tubuh Andi. Bu Henny tampak begitu menikmatinya dengan maksimal sampai sehisteris seperti yang ia lihat. Keinginannya seperti bangkit kembali untuk mencoba lagi kenikmatan dahsyat dari buah penis besar yang kini tambak semakin bengkak dan keras itu. Menyaksikan hal itu ia lalu bangkit dan mendekati kedua orang yang sedang bermain itu. Andi menyambut Tante Rani dengan mengulurkan tangannya ke arah vagina wanita itu, ia langsung meraba permukaannya yang masih basah oleh caiiran kelamin, lalu dua jarinya masuk ke liang itu dan mengocok-ngocoknya hingga membuat Tante Rani merasa sedikit nikmat. Wanita itu membalas dengan kecupan ke arah mulut Andi hingga mereka saling mengadu bibir dan menyedot lidah. Permainan itu menjadi seru kembali oleh teriakan nyaring Bu Henny yang kini terlihat sedang berada menjelang puncak kenikmatannya. Goyang tubuhnya semakin liar dan tak karuan sampai kemudian ia berteriak panjang bersamaan dengan menyemburnya cairan hangat dan kental dari dalam rongga rahim wanita itu.

“ooouuu…, aakuu keeeluaarr…, aahh enaak…, oooh..”, jeritnya dengan tubuh yang tiba-tiba kejang kemudian lemas tak berdaya.

“Ouuuh hebatnya anak muda ini”, benak Tante Rani kagum pada Andi setelah berhasil membuat Bu Henny terkapar.

“Sialan Ran, aku kok cepat keluar kayak gini yah?”, seru Bu Henny sambil melepas gigitan bibir vaginanya pada penis Andi yang masih keras dan perkasa itu.

“Memang kamu bener-bener jago Andi…, beri Tante kesempatan lagi buat menikmatinya…, ooohh, sini kamu yang di atas dong sayang”, ajak Tante Rani setelah Bu Henny selesai dan menyamping.

Ia kemudian berbaring pasrah membiarkan pemuda itu menindihnya dari arah atas. Andi sejenak memegangi kemaluannya yang masih tegang dan kemudian dengan perlahan mencoba masuk lagi ke dalam liang vagina Tante Rani. Wanita itu mengangkat sebelah kakinya agak ke atas dan menyamping hingga belahan vagina itu tampak jelas siap dimasuki penis Andi. Ia langsung terhenyak dan mendesah panjang saat kembali dirasakannya penis itu menerobos masuk melewati dinding vaginanya yang terasa sempit.

“Ohh…, yang pelan aja An…, enaakknya”, pinta Tante Rani sambil meresapi setiap milimeter pergesekan dinding vaginanya dengan buah penis Andi.

Andi mulai bergoyang dengan perlahan seperti yang diinginkan wanita itu. Tante Rani meremas sendiri buah dadanya yang ranum sementara Andi meraih kedua kakinya dan membentangkannya ke arah kiri dan kanan sehingga membuka selangkangan wanita itu lebih lebar lagi. Tak ayal gaya itu membuat Tante Rani berteriak gila menahan nikmatnya penis Andi yang terasa lebih dalam masuk dan membentur dasar liang vaginanya yang paling dalam.

“Aahh…, ooohh hebatnya kamu Andi…, ooohh Henny nikmat sekali hennn…, ooouuuhh enaakk…, oooh genjotlah yang keras An…, oooh semakin nikmat ooohh pintaar…, ooohh yaahh…, mm…, lezaatt…, ooohh Andi…, pantas kamu senang sama dia Hen…, ooohh ampuuun enaknya…, oohh pintar sekali kamu Andi…, ooohh”, desah Tante Rani setengah berteriak. Pantatnya ikut bergoyang mengimbangi kenikmatan dari hempasan tubuh Andi yang kian menghantam keras ke arah tubuhnya. Penis besar itu benar-benar memberinya sejuta sensasi rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Kenikmatan dahsyat yang membuatnya lupa diri dan berteriak seperti orang gila.

Dijambaknya sendiri rambutnya yang tergerai indah sampai ia terlihat seperti orang yang sedang dimasuki roh setan. Tiba-tiba ia berguling dan segera menindih tubuh pemuda itu dan menggoyang turun naik sambil berjongkok. Jari telunjuknya berusaha meraba daerah kemaluannya sendiri untuk membuat clitoris sebesar biji kacang di celah bibir kewanitaannya mendapat sentuhan lebih banyak lagi dari kulit tebal penis Andi yang terasa begitu nikmat membelai permukaan vaginanya. Hempasan demi hempasan dari tubuh pemuda itu berusaha diimbanginya dengan berteriak menahan nikmatnya benturan penis Andi. Sesekali ia membalas dengan juga menghempaskan tubuh dan pantatnya dengan keras, namun gerakan itu justru semakin membuatnya tak dapat bertahan. Kenikmatan maha dahsyat itu kembali membuatnya menggapai puncak permainan untuk yang kedua kalinya. Tak dapat ditahannya akibat dari sebuah genjotan keras yang membuat clitoris sebesar biji kacang di celah vaginanya masuk ke dalam liang itu dan tersentuh kedahsyatan penis Andi yang perkasa. Dengan sepenuh tenaga ia berteriak keras sekali sambil menghempaskan tubuhnya yang bahenol itu sekeras-kerasnya.

“Aooowww…, ooohh…, aku keluaar lagiii…, ooohh enaak Andiii…, ooohh uuuhh…, air maniku tumpah…, ooohh, nikmat sekali ooohh…, nanti main lagi aahh”, teriaknya panjang.

Andi merasakan denyutan keras pada vagina Tante Rani yang sekaligus menyemburkan cairan hangat dan memenuhi rongga vagina itu. Liang kemaluan itu berubah menjadi sangat licin dan nikmat hingga Andi terangsang untuk terus menggoyang pinggulnya. Direngkuhnya pinggul itu, ia mendekap erat sambil terus menggoyang memutar poros pantatnya hingga penisnya seperti mengaduk-aduk isi dalam vagina Tante Rani. Namun wanita itu merasakan kegelian yang dahsyat. Kenikmatan yang tadinya begitu hebat tiba-tiba berubah menjadi rasa geli yang seakan membuatnya ingin melepaskan penis Andi dari dalam vaginanya. Namun pemuda itu tampak semakin asik menggoyang dan menciumi sekujur tubuhnya penuh nafsu. Hingga tak dihiraukannya gerakan meronta Tante Rani yang berusaha melepaskan diri akibat rasa geli yang tak dapat ditahannya lagi.

“aaww…, geeliii…, ampun sayang Tante nyerah lepasin Tante dong…, geliii”, teriaknya memohon pada Andi. Dengan sedikit perasaan kecewa Andi menghentikan gerakannya, dan melepaskan pelukannya pada pinggul Tante Rani yang langsung saja terjatuh lemas.

“Ohh. Tante nggak kuat lagi Andi.., ooh hebatnya kamu, sudah dua kali tante kamu bikin keluar, gila kamu. Benar-benar jantan, Hen, kamu sungguh beruntung…, ooohh nikmatnya”, lanjutnya sambil membelai kemaluan Andi yang masih saja tegak tak tergoyahkan. Dikecupnya kepala penis itu dengan lembut lalu ia meraih batangnya dan tanpa diminta mengkaraoke pemuda itu. Andi tersenyum melihatnya lalu memberikan belaian pada rambut wanita itu.

Sementara Bu Henny masih terpaku menyaksikan kehebatan Andi, tak pernah sebelumnya ia bayangkan seorang lelaki muda seperti Andi membuat dua orang wanita paruh baya seperti dirinya dan Tante Rani menyerah pada keperkasaan dan kejantanannya. Bahkan ia telah membuat Tante Rani meringis dan memelas memohon Andi untuk berhenti, betapa dahsyatnya keperkasaan pemuda itu. Kini ia hanya memandangi Tante Rani yang tengah berusaha melanjutkan birahi anak itu yang belum juga tuntas. Dilihatnya jam dinding, “Sudah jam satu dini hari, ia sanggup bertahan selama itu, ooohh hebatnya”, batin Bu Henny.

Tiga jam lebih pemuda itu mampu bertahan dari serangan ganas kedua wanita dewasa itu. Kini dengan sisa tenaganya Tante Rani dan Bu Henny kembali mencoba memuaskan Andi. Bergilir mereka melakukan karaoke sambil menunggu saat vagina mereka siap untuk menerima masuknya penis besar Andi. Secara bergilir juga mereka memberi kesempatan pada Andi untuk menjilati daerah kemaluan mereka untuk kembali membangkitkan nafsu birahi itu. Dan beberapa saat kemudian mereka berhasil dan memulai lagi permainan segi tiga itu. Masih bergilir kedua perempuan itu saling menukar posisi untuk mengimbangi kekuatan Andi. Bergantian mereka meraih kenikmatan dari penis besar sang pemuda perkasa itu, beragam gaya mereka pakai agar tidak cepat keluar. Namun keperkasaan Andi memang benar-benar dahsyat hingga salah satu dari mereka yaitu Bu Henny kembali terkapar meraih puncak kenikmatan dari penis Andi.

“Ohh Tante…, sebentar lagi saya keluar”, kata Andi tiba-tiba saat memulai permainannya dengan Tante Rani setelah membuat Bu Henny terkapar.

“Ohh kamu kuat sekali An, kalau nggak keluar sekarang mungkin Tante dan Bu Henny nggak sanggup lagi, Tante sudah kamu bikin keluar tiga kali, dan juga Bu Henny.., sekarang keluarin yah sayang..”, rajuk Tante Rani pada pemuda itu.

“Baiklah Tante, saya nggak akan nahan lagi, ayo kita mulai”, ajaknya sembari memeluk tubuh bugil Tante Rani dan langsung menusukkan kemaluannya dalam liang vagina wanita itu.

Mereka kembali bermain, tapi kini dengan gerakan pelan dan mesra seperti dua orang yang saling jatuh cinta. Diiringi kecupan dan remasan pada payudara Bu Rani yang ranum itu Andi terus berusaha meraih kepuasannya secara maksimal. Hingga beberapa puluh menit kemudian ia tampak mulaui mempercepat gerakannya secara bersamaan dengan Tante Rani yang juga mengalami hal yang sama.

“Naah Tante…, saya mau keluar…, oooh goyang yang keras…, ooohh tekan terus tante…, ooohh memeknya tante jepit lagi…, ooohh nikmat sekali…, ooohh”, terdengar pemuda itu menjerit pelan meresapi kenikmatan dari tubuh Tante Rani.

“Tante jugaa…, Andii…, oooh penis kamu panjang sekali…, ooohh enaak nikmatnya…, ooohh remas yang keras susuku Andi…, ooohh susu tante ooohh teruuus…, tante keluaarr lagiii…, ooohh enaak”, jerit Tante Rani.

“Saya juga keluaarr Tante…, ooohh enaknya…, kocok terus Tante…, ooohh air mani saya mau nyemprot…, aahh”, jerit Andi pada waktu yang bersamaan.

Tiba-tiba Bu Henny yang sejak tadi hanya melihat mereka bangkit dan mendekati Andi.

“Cabut An sini semprot ke muka ibu, ibu pingin minum sperma kamu cepaat”, teriaknya.

“Baik Bu…, ooohh…, minum Bu…, ooohh”, teriak Andi sambil berdiri di hadapan Bu henny yang mendongak tepat di bawah penis yang menyemprotkan cairan sperma itu. Lebih dari empatkali ia menyemprotkan cairan itu ke mulut Bu Henny yang menganga dan langsung ia telan, kemudian tak ketingggalan ditumpahkannya juga ke arah muka Tante Rani yang masih tergolek lemas di sampingnya. Wanita itupun menyambut dengan membuka lebar mulutnya, ia bahkan meraih batang penis itu dan mengocokkannya dalam mulut sehingga seluruh sisa cairan sperma pemuda itu ia telan habis. Akhirnya tergapai juga puncak kenikmatan Andi yang begitu lama itu. Dengan diiringi teriakan panjang dari mulut Tante Rani, mereka bertiga terkapar lemas dan tak sanggup lagi melanjutkan permainan itu. Ketiganya kini saling bercanda ria setelah berhasil meraih kepuasan dari hubungan seks yang begitu seru, empat jam lebih mereka mengumbar nafsu birahi itu sampai puas dan kemudian tertidur kelelahan tanpa seutas benangpun melapisi tubuh mereka.

Liburan seminggu di pulau kecil itu memasuki hari kelima. Andi yang semula hanya ditemani Bu Henny yang memang sengaja merencanakan liburan itu tak pernah menyangka akan mengalami pengalaman hebat seperti saat ini. Seorang lagi istri pejabat pemerintah yang haus kepuasan seksual kini bergabung dan semakin membuat suasana menjadi lebih luar biasa. Dua orang wanita paruh baya yang masing-masing memiliki pesona kecantikan dan tubuh yang sangat disukainya sekarang benar-benar dapat ia nikmati sesuka hatinya. Mereka melampiaskan nafsu seks yang membara itu sepuas hati tanpa ada yang menghalangi. Semua gaya dan tipe permainan cinta dari yang buas sampai yang lembut, satu lawan satu atau dua lawan satu mereka lakukan tanpa kenal henti.

Hari-hari selama seminggu itupun penuh dengan pelampiasan birahi mereka yang tak pernah sedetikpun mereka rasakan dari suami-suami mereka, para pejabat pemerintah yang berlagak jago tapi hanya mampu bermain seperti ayam yang dalam waktu lima menit saja sudah berteriak menggapai puncak meski istri mereka baru sampai tahap pemanasan saja.

Tante Rani merasakan pengalaman pertamanya berselingkuh dengan anak muda itu sebagai mimpi indah yang tak akan dilupakannya. Setiap ia meminta Andi melayaninya tak pernah sekalipun ia dapat bertahan lebih dari lima belas menit sementara pemuda itu sanggup membuatnya menggapai puncak tak pernah kurang dari tiga kali dalam setiap permainannya. Pernah suatu saat ketika Bu Henny meninggalkan mereka berdua dalam villa untuk berjalan-jalan di sebuah pagi, Tante Rani meminta Andi untuk menggaulinya sepuas hati. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk bertahan dari serangan pemuda itu. Dibiarkannya tubuh bahenol putih mulus itu dijadikan seperti bantal guling oleh Andi. Namun hasilnya tetap saja ia tak dapat membuat Andi kalah, meski telah dibiarkannya pemuda itu menggenjot dari segala arah, dibuatnya Andi bernafsu seperti binatang buas yang meraung. Tapi sia-sia saja, bahkan saat Bu Henny kembali ke villa itu setelah dua jam berjalan-jalan di pantai, Andi masih saja tegar menghantamkan penis besarnya dalam liang vaginanya yang sudah tiga kali menggapai puncak dalam satu ronde permainan anak itu. Hingga Bu Henny yang kemudian bergabunng sekalipun dapat ia robohkan dalam beberapa puluh menit saja. Bahkan sampai berulang-ulang lagi Bu Henny bangkit, ia belum keluar juga. Barulah setelah mereka berdua bergilir memberikan liang vaginanya dimasuki dari arah belakang pantat, Andi dapat meraih ejakulasi permainannya.

Waktu liburan mereka telah habis, ketiganya kembali ke Jakarta setelah melewati hari-hari yang begitu menggairahkan, hari-hari penuh teriakan kenikmatan hubungan badan yang maha dahsyat. Pengalaman seks di pulau kecil itu benar-benar seperti mimpi bagi kedua wanita paruh baya itu. Justru sekembalinya mereka dari pulau itulah, ada sedikit perasaan gelisah di dalam hati Tante Rani yang membayangkan dirinya kembali ke pelukan lelaki yang sebenarnya tak pernah ia cintai. Suaminya yang botak tua bangka, lelaki penuh nafsu besar dengan kemampuan seperti cacing itu kini membuat perasaannya muak ingin muntah.

Tak habis-habisnya mereka membicarakan seputar kenikmatan cinta dari Andi yang dialami Tante Rani dalam perjalanan pulang itu. Ada secercah harapan dalam benak Tante Rani saat Bu Henny memberinya ijin untuk boleh bergabung bersamanya menikmati kepuasan dari Andi kapan saja ia suka asalkan mereka melakukannya atas sepengetahuan Bu Henny yang secara resmi adalah pacar gelap Andi.

Pesawat yang membawa mereka kembali ke Jakarta telah mendarat, ketiganya berpisah di Bandara lalu pulang ke tempat tinggal masing-masing dengan hati yang riang dan kesan yang begitu kuat akan kenangan dan pengalaman hebat yang mereka lalui dalam seminggu itu. Sesampainya di rumah masing-masing, kedua wanita itu masih tak dapat melepas bayangan keperkasaan Andi, hingga saat mereka berkumpul dengan suami dan anak-anaknya suasana menjadi sangat dingin.

Sejak saat itu hari-hari bersama suaminya dirasakan Tante Rani seperti neraka. Setiap malam saat ia melayani suaminya di ranjang tak pernah dapat ia nikmati. Permainan suaminya yang seperti ayam kurang gizi benar-benar membuatnya muak, bahkan ingin muntah. Setiap kali dilihatnya tubuh lelaki itu seakan ia sedang menghadapi bangkai busuk saja.

Suatu malam saat suaminya baru pulang dari kantor, Tante Rani yang tampak baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan badannya di atas tempat tidur langsung disambar oleh lelaki botak itu.

“Ayo Ran, aku sudah satu minggu nggak main sama kamu, yuuk layani aku sebentar..”, ajak pria itu. Tante Rani diam saja tak beranjak dari tempat tidur, ia merasa malas menanggapinya.

“Ntar dulu dong pi, aku keringin badan”, jawabnya acuh tak acuh, sementara lelaki botak itu mulai meraba pahanya yang mulus sambil mendaratkan ciumannya di pipi Tante Rani.

“Ayo dong, aduuuh aku nggak tahan nih…”, pria itu merajuk genit sambil membelai bulu-bulu halus di permukaan kemaluan Tante Rani.

“Papi…!, sabar dong..!”, Sengit Tante Rani agak sewot.

“He. Jangan marah dong sayang, aku kan suami kamu”.

“Huh..”, ia berkesah sambil membuang sisir yang ada di tangannya, sementara lelaki itu melepas handuk yang melilit tubuh wanita itu dan langsung saja mengangkat paha istrinya dan membukanya lebar. Lalu lidahnya menjilat-jilat bagaikan anak kecil yang menikmati es krim. Tante Rani hanya memandanginya sambil tersenyum, tak sedikitpun ia menikmati permainan suaminya. Dibiarkannya lelaki botak itu menjilati permukaan vaginanya hingga becek. Tak puas sekedar menjilati, lelaki itu menusukkan dua jarinyanya ke dalam liang kemaluan sang istri yang hanya memandangnya sinis dan tampak jijik. Beberapa saat kemudian ia beranjak duduk di pinggiran tempat tidur dan meminta sang istri untuk menyedot kemaluannya.

“Huuuhh…, ayo karaoke aku sebentar Ran”, pintanya pada Tante Rani, nafasnya terdengar sudah turun naik tak tentu menandakan nafsu birahi yang sudah berkobar.

“ooohh nikmat…, mm”, desahnya begitu penis kecil dan pendek mirip penis monyet itu tersentuh lidah Tante Rani.

“Huh…, dasar botak, aku sangat berharap biar kamu cepat mati saja”, benak Tante Rani dalam hati, ia sangat kesal menghadapi suaminya yang tampak sudah bagai sampah saja. Tak ada daya tarik selain harta dan kekayaan yang didapatkannya dari korupsi itu.

Sambil terus melayani lelaki itu ia membayangkan dirinya berada bersama Andi, hingga tampak wanita itu memejamkan mata sambil terus menyedot keras batang kemaluan sang suami. Namun hanya beberapa menit saja adegan itu berlangsung tampak pria itu sudah tak dapat menahan kenikmatan.

“ooohh…, ayo cepaat masukin, Ran aku mau keluar aauuuhh…, ooohh”, tiba-tiba ia merengkuh tubuh Tante Rani dan menindihnya. Dengan ngawur ia berusaha memasukkan penis yang sudah akan muntah itu ke arah liang vagina istrinya. Dan baru beberapa detik saja masuk, sebelum Tante Rani sempat bergoyang, penis itu memuntahkan seluruh cairan spermanya.

“aahh…, aku keluarrr…, Ranii…, ooohh”, teriaknya saat merasakan cairan maninya meluncur dalam liang vagina sang istri yang sedari tadi hanya tersenyum sinis melihat tingkahnya yang sok jagoan.

Hanya beberapa menit saja persetubuhan itu berakhir dengan sangat mengecewakan Tante Rani. Dipandanginya lelaki botak itu yang kini tergolek lemas dan hanya bisa membelai permukaan vagina yang tak sanggup ditaklukkannya. Pria itu tampak malu sekali melihat istrinya yang kini terlihat memandanginya dengan senyum menyindir. Namun ia tak sanggup mengatakan apa-apa. Kemudian dengan tak tahu malu ia menutupi mukanya dengan bantal dan berusaha menyembunyikan dirinya dari perasaan malu itu. Beberapa menit kemudian lelaki botak itupun tertidur sebelum berhasil membuat istrinya puas. Namun bagi Tante Rani, yang terpenting adalah ia kini memiliki pasangan lain yang dapat membuatnya meraih kepuasan seks. Yang terpenting kini baginya adalah bahwasanya tidak hanya pria itu yang bisa mencari lawan selingkuh, namun dirinyapun berhak dan sanggup melakukannya. Tentunya dengan bentuk tubuh indah dan wajah manis yang dimilikinya seperti saat ini hal itu sangt mudah.

“Mengapa aku harus diam sementara suamiku itu dengan seenaknya mengumbar nafsunya dengan para gadis remaja atau pegawai bawahan di kantornya? Akupun sanggup membuat diriku puas dengan mencari pasangan main yang jauh lebih hebat, tak ada asyiknya bermain dengan hanya satu pasangan seperti ini. Apalagi dengan laki-laki seperti ini, “Ciiih jijik aku..”, benaknya berkata sendiri sambil membalik arah badannya kemudian berlalu dan keluar dari kamarnya.

Itulah hari-hari yang kini dilalui oleh Tante Rani semenjak ia mengenal Andi dari Bu Henny. Kini hubungannya dengan dua orang itu menjadi semakin akrab saja. Hampir setiap hari mereka menyempatkan diri untuk saling menghubungi. Dengan rutin pula mereka menentukan jadwal kencan mereka seminggu sekali yang mereka lakukan di hotel-hotel berbintang di mana mereka bisa mengumbar nafsu sepuas-puasnya. Sampai kemudian kedua wanita itu memutuskan untuk membeli sebuah Villa mewah secara diam-diam di kawasan Puncak untuk mereka pergunakan sebagai tempat rendezvous yang aman dan nyaman.

Seiring dengan waktu berlalu dan hubungan cinta segitiga mereka yang semakin dekat saja dari hari ke hari, dua wanita istri pejabat itupun membuat sebuah perusahaan besar yang berbasis di bidang pengangkutan export-import untuk semakin menutupi kerahasiaan hubungan mereka. Sehingga ketiga orang itupun tak perlu lagi mengatur alasan khusus pada suami mereka untuk dapat bertemu Andi setiap hari, hal itu karena mereka berdua menempatkan diri sebagai dewan komisaris dan direktris pada perusahaan itu. Tiap hari kini mereka dapat melampiaskan nafsu birahi mereka pada Andi, di kantor di villa atau di manapun mereka suka.

Kehidupan Pemuda itupun menjadi sangat bahagia, dengan kebutuhan seksual yang selalu dipenuhi oleh dua wanita sekaligus, ia sudah tak perlu memikirkan tentang wanita lagi. Kehangatan kedua wanita paruh baya yang benar-benar pas dengan seleranya itu sudah lebih dari cukup. Materi berupa harta sudah tak masalah lagi, kedudukannya sebagai direktur perusahaan itu sudah menjadikannya benar-benar lebih dari cukup. Hidupnya kini benar-benar bahagia seperti apa yang pernah ia cita-citakan.

Judul: Pak Tigor Pemuas Nafsuku

Author : Hidden , Category: Setengah Baya

Namaku Reni, usia 27 tahun. Kulitku kuning langsat dan rambutku sebahu dengan tinggi 165 cm dan berat 51 kg. Aku telah menikah setahun lebih. Aku berasal dari keluarga Minang yang terpandang. Sekilas wajahku mirip dengan Putri Indonesia 2002 Melani Putria. Bedanya aku telah menikah dan aku lebih tua darinya 2 tahun. Aku bekerja pada sebuah Bank pemerintah yang cukup terkenal.

Suamiku Ikhsan adalah seorang staf pengajar pada sebuah perguruan tinggi swasta di kota Padang. Di samping itu, ia juga memiliki beberapa usaha perbengkelan.

Kami menikah setelah sempat berpacaran kurang lebih 3 tahun.Perjuangan kami cukup berat dalam mempertahankan cinta dan kasih sayang. Di antaranya adalah ketidaksetujuan dari pihak orang tua kami. Sebelumnya aku telah dijodohkan oleh orang tuaku dengan seorang pengusaha.

Bagaimanapun, kami dapat juga melalui semua itu dengan keyakinan yang kuat hingga kami akhirnya bersatu. Kami memutuskan untuk menikah tapi kami sepakat untuk menunda dulu punya anak. Aku dan Bang Ikhsan cukup sibuk sehingga takut nantinya tak dapat mengurus anak.

Kehidupan kami sehari-hari cukup mapan dengan keberhasilan kami memiliki sebuah rumah yang asri di sebuah lingkungan yang elite dan juga memiliki 2 unit mobil sedan keluaran terbaru hasil usaha kami berdua. Begitu juga dalam kehidupan seks tiada masalah di antara kami. Ranjang kami cukup hangat dengan 4-5 kali seminggu kami berhubungan suami istri. Aku memutuskan untuk memakai program KB dulu agar kehamilanku dapat kuatur.

Aku pun rajin merawat kecantikan dan kebugaran tubuhku agar suamiku tidak berpaling dan kehidupan seks kami lancar.

Suatu waktu, atas loyalitas dan prestasi kerjaku yang dinilai bagus, maka pimpinan menunjukku untuk menempati kantor baru di sebuah kabupaten baru yang merupakan sebuah kepulauan. Aku merasa bingung untuk menerimanya dan tidak berani memutuskannya sendiri. Aku harus merundingkannya dulu dengan suamiku. Bagiku naik atau tidaknya statusku sama saja, yang penting bagiku adalah keluarga dan perkawinanku.

Tanpa aku duga, Suamiku ternyata sangat mendorongku agar tidak melepaskan kesempatan ini. Inilah saatnya bagiku untuk meningkatkan kinerjaku yang biasa-biasa saja selama ini, katanya. Aku bahagia sekali. Rupanya suamiku orangnya amat bijaksana dan pengertian. Sayang orang tuaku kurang suka dengan keputusan itu. Begitu juga mertuaku. Bagaimanapun, kegundahan mereka akhirnya dapat diatasi oleh suamiku dengan baik. Bahkan akhirnya mereka pun mendorongku agar maju dan tegar. Suamiku hanya minta agar aku setiap minggu pulang ke Padang agar kami dapat berkumpul. Aku pun setuju dan berterima kasih padanya.

Aku pun pindah ke pulau yang jika ditempuh dengan naik kapal motor dari Padang akan memerlukan waktu selama 5 jam saat cuacanya bagus. Suamiku turut serta mengantarku. Ia menyediakan waktu untuk bersamaku di pulau selama seminggu.

Di pulau itu aku disediakan sebuah rumah dinas lengkap dengan prasarananya kecuali kendaraan. Jarak antara kantor dan rumahku hanya dapat ditempuh dengan naik ojek karena belum adanya angkutan di sana.

Hari pertama kerja aku diantar oleh suamiku dan sorenya dijemput. Suamiku ingin agar aku betah dan dapat secepatnya menyesuaikan diri di pulau ini. Memang prasarananya belum lengkap. Rumah-rumah dinas yang lainnya pun masih banyak yang kosong.

Selama di pulau itu pun suamiku tidak lupa memberiku nafkah batin karena nantinya kami akan bertemu seminggu sekali. Aku pun menyadarinya dan kami pun mereguk kenikmatan badaniah sepuas-puasnya selama suamiku di pulau ini.

Suamiku dalam tempo yang singkat telah dapat berkenalan dengan beberapa tetangga yang jaraknya lumayan jauh. Ia juga mengenal beberapa tukang ojek hingga tanpa kusadari suatu hari ia menjemputku pakai sepeda motor. Rupanya ia meminjamnya dari tukang ojek itu.

Salah satu tukang ojek yang dikenal suamiku adalah Pak Tigorus. Pak Tigorus ini adalah laki-laki berusia 50 tahun. Ia tinggal sendirian dipulau itu sejak istrinya meninggal dan kedua anaknya pergi mencari kerja ke Jakarta.

Laki-laki asal tanah Batak itu harus memenuhi sendiri hidupnya di pulau itu dengan kerja sebagai tukang ojek. Pak Tigorus, yang biasa dipanggil Pak Tigor, orangnya sekilas terlihat kasar dan keras namun jika telah kenal ia cukup baik. Menurut suamiku, yang sempat bicara panjang lebar dengan Pak Tigor, dulunya ia pernah tinggal di Padang yaitu di Muara Padang sebagai buruh pelabuhan. Suatu saat ia ingin mengubah nasibnya dengan berdagang namun bangkrut. Untunglah ia masih punya sepeda motor hingga menjadi tukang ojek.

Hampir tiap akhir pekan aku pulang ke Padang untuk berkumpul dengan suamiku. Yang namanya pasangan muda tentu saja kami tidak melewatkan saat kebersamaan di ranjang. Saat aku pulang, aku menitipkan rumah dinasku pada Pak Tigor karena suamiku bilang ia dapat dipercaya. Akupun mengikuti kata-kata suamiku.

Kadang-kadang aku diberi kabar oleh suamiku bahwa aku tidak usah pulang karena ia yang akan ke pulau. Sering kali suamiku bolak-balik ke pulau hanya karena kangen padaku. Sering kali pula ia memakai sepeda motor Pak Tigor dan memberinya uang lebih.

Suamiku telah menganggap Pak Tigor sebagai sahabatnya karena sesekali saat ia ke pulau, Pak Tigor diajaknya makan ke rumah. Sebaliknya, Pak Tigor pun sering mengajak suamiku jalan-jalan di pantai yang cukup indah itu.

Suamiku sering memberi Pak Tigor uang lebih karena ia akan menjagaku dan rumahku jika aku ditinggal. Sejak saat itu aku pun rutin di antar jemput Pak Tigor jika ke kantor. Tidak jarang ia membawakanku penganan asli pulau itu. Aku pun menerimanya dengan senang hati dan berterima kasih. Kadang aku pun membawakannya oleh-oleh jika aku baru pulang dari Padang.

Setelah beberapa bulan aku tugas di pulau itu dan melalui rutinitas seperti biasanya, suamiku datang dan memberiku kabar bahwa ia akan disekolahkan ke Australia selama 1,5 tahun. Ini merupakan beasiswa untuk menambah pengetahuannya. Aku tahu bea siswa ini merupakan obsesinya sejak lama. Aku menerimanya. Aku pikir demi masa depan dan kebahagiaan kami juga nantinya sehingga tidak masalah bagiku.

Suamiku sebelum berangkat sempat berpesan agar aku jangan segan minta tolong kepada Pak Tigor sebab suamiku telah meninggalkan pesan pada Pak Tigor untuk menjagaku. Suamiku pun menitipkan uang yang harus aku serahkan pada Pak Tigor.

Sejak suamiku di luar negeri, kami sering telpon-teleponan dan kadang aku bermasturbasi bersama suamiku lewat telepon. Itu sering kami lakukan untuk memenuhi libido kami berdua. Akibatnya, tagihan telepon pun meningkat. Bagaimanapun, aku tidak memperdulikannya. Selagi melakukannya dengan suamiku, aku mengkhayalkan suamiku ada dekatku. Tidak masalah jarak kami berjauhan.

Aku mulai jarang pulang ke Padang karena suamiku tidak ada. Paling aku pulang sebulan sekali. Itu pun aku cuma ke rumah orang tuaku. Rumahku di Padang aku titipkan pada saudaraku.

Aku melewatkan hari-hariku di pulau dengan kesibukan seperti biasanya. Begitu juga Pak Tigor rutin mengantar jemputku. Suatu saat ketika aku pulang, Pak Tigor mengajakku untuk jalan-jalan keliling pantai namun aku menolaknya dengan halus. Aku merasa tidak enak. Apa nanti kata teman kantorku jika melihatnya. Kebetulan saat itu pun aku sedang tidak mood sehingga aku merasa lebih tenang di rumah saja. Di rumah aku beres-beres dan berbenah pekerjaan kantor.

Akhir-akhir ini, aku merasakan bahwa Pak Tigor amat memperhatikanku. Tidak jarang ia sore datang sekedar memastikan aku tidak apa-apa sebab di pulau itu ia amat disegani dan berpengaruh.

Aku sadari kadang dalam berboncengan tanpa sengaja dadaku terdorong ke punggung Pak Tigor saat ia menghindari lubang dan saat ia mengerem. Aku maklum, itulah resikonya jika aku berboncengan sepeda motor. Semakin lama, hal seperti itu semakin sering terjadi sehingga akhirnya aku jadi terbiasa. Sesekali aku juga merangkul pinggangnya jika aku duduknya belum pas di atas jok motornya. Aku rasa Pak Tigor pun sempat merasakan kelembutan payudaraku yang bernomer 34b ini. Aku menerima saja kondisi ini sebab di pulau ini mana ada angkutan. Jadi aku harus bisa membiasakan diri dan menjalaninya. Tak bisa membandingkannya dengan di Padang di mana aku terbiasa menyetir sendiri kalau pergi ke kantor.

Pada suatu Jumat sore sehabis jam kerja, Pak Tigor datang kerumahku. Seperti biasanya, ia dengan ramah menyapaku dan menanyakan keadaanku. Ia pun aku persilakan masuk dan duduk di ruang tamu.

Sore itu aku telah selesai mandi dan sedang menonton televisi. Kembali Pak Tigor mengajakku jalan ke pantai. Aku keberatan sebab aku masih agak capai. Lagipula aku agak kesal dengan kesibukan suamiku saat kutelepon tadi. Ia tidak bisa terlalu lama di telpon.

“Kalau gitu, kita main catur saja, Bu… Gimana?” Pak Tigor mencoba mencari alternatif. Kebetulan selama ini ia sering main catur dengan suamiku. Akupun setuju karena aku lagi suntuk. Lumayanlah, untuk menghilangkan kekecewaanku saat ini. Aku pun lalu main catur dengan laki-laki itu. Beberapa kali pula aku mengalahkannya. Taruhannya adalah sebuah botol yang diikat tali lalu dikalungkan ke leher.

Seumur hidupku, baru kali ini aku mau bicara bebas dengan laki-laki selain suamiku dan atasanku. Tidak semua orang dapat bebas berbicara denganku. Aku termasuk tipe orang yang memilih dalam mencari lawan bicara sehingga tidak heran jika aku dicap sombong oleh sebagian orang yang kurang aku kenal. Bagaimanapun, dengan Pak Tigor aku bicara apa adanya, ceplas ceplos. Mungkin karena kami telah saling mengenal dan juga aku merasa membutuhkan tenaganya di pulau ini.

Tanpa terasa, telah lama kami bermain catur hingga jam menunjukan pukul 10 malam. Di luar rupanya telah turun hujan deras diiringi petir yang bersahut-sahutan. Kami pun mengakhiri permainan catur kami. Aku lalu membersihkan mukaku ke belakang.

“Pak, kita ngopi dulu, yuk… ? Biar nggak bosan dan ngantuk,” kataku menawarinya.

Di pulau saat itu penduduknya telah pada tidur dan yang terdengar hanya suara hujan dan petir. Setelah menghabiskan kopinya, Pak Tigor minta izin pulang karena hari telah larut. Aku tidak sampai hati sebab cuaca tidak memungkinkan ia pulang. Rumahnya pun cukup jauh. Lagi pula aku kuatir jika nanti ia tersambar petir .

Lalu aku tawarkan agar ia tidur di ruang tamuku saja. Akhirnya ia menerima tawaranku. Aku memberinya sebuah bantal dan selimut karena cuaca sangat dingin saat itu.

Tiba-tiba, lampu mati. Aku sempat kaget, untunglah Pak Tigor punya korek api dan membantuku mencari lampu minyak di ruang tengah. Lampu kami hidupkan. Satu untuk kamarku dan yang satu lagi untuk ruang tamu tempat Pak Tigor tidur.

Aku lalu minta diri untuk lebih dulu tidur sebab aku merasa capai. Aku lalu tidur di kamar sementara di luar hujan turun dengan derasnya seolah pulau ini akan tenggelam.

Aku berusaha untuk tidur namun ternyata tidak bisa. Ada rasa khawatir yang tidak aku ketahui sebab petir berbunyi begitu kerasnya hingga akhirnya aku putuskan ke ruang tamu saja. Hitung-hitung memancing kantuk dengan ngobrol bareng Pak Tigor. Rasa khawatirku jadi berkurang sebab aku merasa ada yang melindungi.

Sesampainya di ruang tamu, aku lihat Pak Tigor masih berbaring namun matanya belum tidur. Ia kaget, disangkanya aku telah tidur. Aku lalu duduk di depannya dan bilang nggak bisa tidur. Ia cuma tersenyum dan bilang mungkin aku ingat suamiku. Padahal saat itu aku masih sebal dengan kelakuan suamiku. Tanpa sengaja kucurahkan kekesalanku. Aku tahu, mestinya aku tidak boleh bilang suasana hatiku saat itu pada Pak Tigor namun entah mengapa kata-kata itu meluncur begitu saja.

Dengan cara bijaksana dan kebapakan ia nasehati aku yang belum merasakan asam garam perkawinan. Dalam suasana temaram cahaya lampu saat itu aku tidak menyadari kapan Pak Tigor pindah duduk kesampingku. Aku kurang tahu kenapa aku membiarkannya meraih jemariku yang masih melingkar cincin berlian perkawinanku dan merebahkan kepalaku didadanya. Aku merasa terlindungi dan merasa ada yang menampung beban pikiranku selama ini.

Pak Tigor pun membelai rambutku seolah aku adalah istrinya. Bibirnya terus bergerak ke balik telingaku dan menghembuskan nafasnya yang hangat. Aku terlena dan membiarkannya berbuat seperti itu. Perlahan ia mulai menciumi telingaku. Aku mulai terangsang ketika ia terus melakukannya dengan lembut. Bibirnya pun terus bergeser sedikit demi sedikit ke bibirku. Saat kedua bibir kami bertemu, seperti ada aliran listrik yang mengaliri sekujur tubuhku.

Aku seperti terhipnotis. Aku seperti tak peduli bahwa yang mencumbuku saat itu adalah orang lain. Mungkin aku telah salah langkah dan salah menilai orang. Jelas bahwa Pak Tigor sama sekali tak merasa sungkan memperlakukanku seperti itu. Seolah-olah ia telah menyimpan hasrat yang mendalam terhadap diriku selama ini. Malam ini adalah kesempatan yang telah ditunggu-tunggunya… Anehnya, aku seperti tak kuasa menahan sepak terjangnya. Padahal yang pantas berbuat itu terhadapku hanyalah suamiku tercinta. Sepertinya telah tertutup mata hatiku oleh nafsu dan gairahku yang juga menuntut pelampiasan.

Pak Tigor pun mengulum bibirku beberapa saat. Aku pun membalasnya sambil menutup kedua mataku menikmatinya. Tangannya juga tidak mau tinggal diam dengan terus merabai buah dadaku yang terbungkus BH dan kaos tidur itu.

Aku lalu dibimbingnya ke kamar tidur dan direbahkannya di ranjang yang biasa aku gunakan untuk bercinta dengan suamiku, namun kini yang berada di sini, di sampingku bukanlah suamiku melainkan seorang laki-laki tukang ojek sepantaran ayahku yang notabene tidak pantas untukku.

Aku telah terlarut dalam gairah yang menghentak. Aku tahu akan terjadi sesuatu yang terlarang di antara kami berdua. Itulah yang menyihirku dan, entah bagaimana caranya, membuat aku memasrahkan diriku pada laki-laki ini. Pak Tigor menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Sedang lampu di luar telah ia matikan tadi.

Aku diam saja menanti apa yang akan diperbuatnya padaku. Padahal selama ini aku tidak sekali pun memberi hati jika ada laki-laki lain yang iseng merabaku dan mencolekku. Aku termasuk wanita yang menjunjung tinggi kesucian dan kehormatan sesuai dengan yang selalu diajarkan orang tua dan agamaku.

Sekarang semua itu musnah oleh keangkuhanku sendiri. Aku terbaring tak berdaya. Pak Tigor mulai melepaskan pakaianku satu persatu, mulai dari kaosku lalu celana panjang dan akhirnya bra dan celana dalam kremku terlempar ke bawah lantai.

Aku hanya memejamkan mataku. Aku pun semakin buta oleh nafsuku yang mulai menggebu-gebu merasuki jiwa dan tubuhku. Bahkan sepertinya aku tak sabar menanti tindakan Pak Tigor selanjutnya.

Selesai menelanjangi aku, ia pun melepaskan pakaiannya hingga lapis terakhir. Aku berdebar-debar karena kini kami sudah sama-sama bugil. Kuperhatikan tubuhnya yang hitam. Meskipun sudah tua namun ototnya masih ada. Ada gambar tattoo tengkorak di lengannya. Aku rasa dia adalah laki-laki yang keras dan jarang ada kelembutan. Itu aku ketahui saat ia mulai merabaiku dan menelanjangiku.

Aku tersentak ketika Ia mulai memelukku dan menciumiku dari leher hingga belahan dadaku dengan kasar. Rabaan tangannya yang kasar membuatku tak hanya kesakitan, melainkan juga terangsang. Suamiku jika merabaiku cukup hati-hati. Nyata perbedaannya dengan Pak Tigor yang keras wataknya. Tampaknya ia sudah lama tidak berhubungan badan dengan wanita, maka akulah yang menjadi sarana pelampiasan nafsunya. Aku merasa tak kuasa apa pun atas tindakannya.

Spontan air mataku terasa menetes karena tersirat penyesalan telah menodai perkawinanku, namun percuma saja. Sekarang semuanya sudah terlambat. Pak Tigor semakin asyik dengan tindakannya. Tiap jengkal tubuhku dijamahnya tanpa terlewatkan seinci pun. Kekuatan Pak Tigor telah menguasai diriku. Aku membiarkan saja ia terus merangsangi diriku. Tubuhku pun berkeringat tidak tahan dan geli bercampur gairah.

Lalu mulutnya turun ke selangkanganku. Ia sibakkan kedua kakiku yang putih bersih itu. Di situ lidahnya bermain menjilati klitorisku. Kepalaku miring ke kiri dan ke kanan menahan gejolak yang melandaku. Peganganku hanya kain sprei yang aku tarik karena desakan itu. Kedua kakiku pun menerjang dan menghentak tidak tahan atas gairah yang melandaku.

Beberapa menit kemudian aku orgasme dan mulutnya menelan air orgasmeku itu. Badanku lemas tak bertenaga. Mataku pun terpejam.

Lalu aku kembali dibangkitkan oleh Pak Tigor dengan meciumi balik telingaku hingga liang kehormatanku. Di sana jarinya ia masukkan dan mulai mengacak-acak liang kewanitaanku lalu mempermainkan celahnya.

Aku semakin sadar jika Pak Tigor telah lama merencanakan ini. Bisa jadi telah lama ia berobsesi untuk meniduriku karena sama sekali tak nampak keraguan dalam seluruh tindakannya mencabuliku. Berarti ia memang telah berencana melanggar amanat suamiku dan menguasaiku.

Akupun akhirnya orgasme untuk yang kedua kalinya oleh tangan Pak Tigor. Badanku telah basah oleh keringat kami berdua. Aku benar-benar merasa lemas.

Pak Tigor lalu minta izin padaku untuk memasukkan penisnya ke lubang kehormatanku. Aku menggeleng tidak setuju sebab aku tahu konsekuensinya. Liang kehormatanku akan tercemar oleh cairan laki-laki lain. Aku merasa terlalu jauh berkhianat pada suamiku. Bagiku cukuplah tindakannya tadi dan tidak usah diteruskan lagi hingga penetrasi.

Ia pun mau menerima pendapatku. Akan tetapi, aku bisa melihat ada rasa kecewa di matanya. Aku bisa bayangkan dirinya yang telah terobsesi untuk menyenggamaiku. Aku lihat penisnya telah siap memasuki diriku jika aku izinkan. Panjangnya melebihi milik suamiku dan agak bengkok dengan diameter yang melebar.

Pak Tigor minta aku untuk membantunya klimaks dengan mengulum penisnya. Aku kembali menggeleng karena aku dan suamiku selama ini tidak pernah melakukan oral sex baik suami kepadaku dan juga sebaliknya meskipun kami selalu menjaga kebersihan wilayah sensitif kami. Pak Tigor terus memohon sebab ia merasa tersiksa karena belum klimaks.

Lama-kelamaan aku merasa kasihan juga. Tidak adil rasanya bagiku yang telah dibantunya sampai dua kali orgasme untuk membiarkannya seperti itu.

Akhirnya aku beranikan diri mengulumnya. Dengan sedikit jijik aku buka mulutku, namun tidak muat seluruhnya dan hanya sampai batangnya saja. Mulutku serasa mau robek karena besarnya penis Pak Tigor. Baru beberapa kali kulum aku serasa mual dan mau muntah oleh aroma kelamin Pak Tigor itu. Aku maklum saja karena ia kurang bersih dan seperti kebiasaan laki-laki Batak, penisnya tidak ia sunat hingga membuatnya agak kotor. Mungkin juga disebabkan oleh makanan yang tidak beraturan.

Satu menit, dua menit… lima menit berlalu… Entah berapa lama lagi setelah itu aku mengulumi penis Pak Tigor sampai basah dan bersih oleh air liurku… Aku lalu menyerah dan melepaskan penis Pak Tigor dari mulutku. Aku heran Pak Tigor ini sampai sekian lama kok tidak juga klimaks. Aku salut akan staminanya. Aku juga salut atas sikapnya yang menghargai wanita dengan tidak memaksakan kehendak. Padahal dalam keadaan seperti ini, aku bisa saja dipaksanya namun tidak ia lakukan.

Aku merasa bersalah pada diriku dan ingin membantunya saat itu juga. Di dalam pikiranku berperang antara birahi dan moral. Akhirnya, kupikir sudah terlanjur basah. Di samping itu, aku tidak ingin menambah masalah antara aku dan Pak Tigor. Jika aku larang terus nantinya Pak Tigor bisa saja memperkosaku. Seorang laki-laki yang telah berbirahi di ubun-ubun sering bertindak nekad dan lagi pula aku sendirian.

Akhirnya, dengan pertimbangan demi kebaikan kami berdua, maka aku izinkan dia melakukan penetrasi ke dalam rahimku.

“Hmmm… Pak Tigor… Begini deh… Kalau Bapak memang benar-benar mau mencampuri saya… Boleh, Pak… “

Pak Tigor pun tampaknya gembira sekali. Padahal tadi sempat kulihat wajahnya tegang sekali.

“Ibu benar-benar ikhlas… ?” tanya Pak Tigor menatap dalam-dalam mataku dengan penuh birahi. Tangannya membelai rambutku. Aku membalas tatapannya sambil tersenyum, lalu mengangguk dengan pasti.

Pak Tigor mencium dan mengulum bibirku dalam-dalam… Seolah menyatakan rasa terima kasihnya atas kesediaanku. Setelah dilepaskannya pagutannya dari mulutku, kami pun berpandangan dan saling tersenyum…

Aku lalu berbaring dan membuka kedua pahaku memberinya jalan memasuki rahimku. Tubuh kami berdua saat itu telah sama-sama berkeringat dan rambutku telah kusut. Dari temaran lampu dinding aku lihat Pak Tigor bersiap-siap mengarahkan penisnya. Posisinya pas diatas tubuhku. Tubuhnya telah basah oleh keringat hingga membuat badannya hitam berkilat. Tampaknya ia masih berusaha menahan untuk ejakulasi. Di luar saat ini hujan pun seakan tidak mau kalah oleh gelombang nafsu kami berdua.

Pak Tigor dengan hati-hati menempelkan kepala penisnya. Ia tahu jika tergesa-gesa akan membuatku kesakitan sebab punyaku masih kecil dan belum pernah melahirkan.

Aku pun berusaha memperlebar kedua pahaku supaya mudah dimasuki kejantanan Pak Tigor sebab aku melihat kejantanannya panjang dan agak bengkok jadi aku bersiap-siap agar aku jangan kesakitan.

“Pelan-pelan ya, Pak… ” Aku sempat bilang kepadanya untuk jangan cepat-cepat.

Dengan bertahap, ia mulai memasukan penisnya. Aku memejamkan mata dan merasakan sentuhan pertemuan kemaluan kami.

Untuk melancarkan jalannya, kakiku ia angkat hingga melilit badannya, lalu langsung penisnya masuk ke rahimku dengan lambat. Aku terkejut dan merasakan ngilu di bibir rahimku.

“Auuch… ooh… auuch… ” Aku meracau kesakitan. Pak Tigor membungkam mulutku dengan mulutnya. Kedua tubuh bugil kami pun sepenuhnya bertemu dan menempel.

Tidak lama kemudian seluruh penisnya masuk ke rahimku dan ia mulai melakukan gerak maju mundur. Aku merasakan tulangku bagai lolos, sama seperti saat aku dan suamiku melakukan hubungan intim pertama kalinya dan kuserahkan kegadisanku padanya di malam pengantin dulu.

Tidak lama kemudian aku merasakan kenikmatan. Mulut pak Tigor pun lepas dari mulutku karena aku tidak kesakitan lagi. Aku tersengal-sengal setelah selama beberapa waktu mulutku disumpalnya. Kekuatan laki-laki ini amat membuatku salut, sampai membuat ranjangku dan badanku bergetar semua seperti kapal yang terserang badai.

Kurang lebih 15 menit kemudian Pak Tigor gerakannya bertambah cepat dan tubuhnya menegang hebat. Aku merasakan di dalam rahimku basah oleh cairan hangat.

Tubuhnya lalu rebah diatas tubuhku tanpa melepaskan penisnya dari dalam rahimku. Aku pun dari tadi telah sempat kembali orgasme. Kami pun tertidur sementara diluar hujan masih saja turun. Butiran keringat kami membuat basah sprei yang kusut di sana-sini.

Saat itu tidak ada lagi batas diantara kami, namun aku merasa telah berdosa kepada suamiku. Hingga tengah malam Pak Tigor pun kembali menggauliku sepuasnya dan akupun tidak merasa segan lagi karena kami tidak lagi merasa asing satu sama lain. Aku pun tidak merasa jijik lagi jika melakukan oral sex dengan Pak Tigor.

Bagi seorang wanita seperti diriku, sangat sulit rasanya untuk melepaskan diri dari kejadian ini. Penyesalan pun tiada gunanya. Aku yang di luarnya tampak keras, berwibawa dan kadang sombong, semuanya menjadi tiada arti lagi saat seorang laki-laki seperti Pak Tigor telah berhasil menggauliku. Kehormatan dan perkawinan yang aku junjung pun luntur sudah, namun apa lagi yang bisa kuperbuat… Pak Tigor pun kini telah merasa jadi pemenang dengan kemampuannya menaklukkanku hingga aku tidak berdaya. Aku semakin tidak berdaya jika ia telah berada di dalam kamarku, untuk bersebadan dengannya.

Aku merasa telah terperdaya oleh gelombang gairah yang dipancarkan oleh Pak Tigor. Sangat aneh bagiku jika Pak Tigor yang seusia dengan ayahku ini masih mampu mengalahkanku dan membuatku orgasme berkali-kali tidak seperti suamiku yang hanya bisa membuatku orgasme sekali saja. Begitu juga aku. Kuakui aku mendapatkan pengalaman baru dan mengaburkan pendapatku selama ini bahwa laki-laki paro baya akan hilang keperkasaannya. Selama kami berhubungan badan aku sempat bertanya padanya bagaimana ia bisa sekuat itu.

Pak Tigor pun bercerita bahwa ia sering mengkonsumsi makanan khas Batak berupa sup anjing yang menurutnya dapat menjaga dan menambah vitalitas pria.

Aku bergidik jijik dan mau muntah mendengarnya. Aku jadi ingat, pantas saja saat bersebadan dengannya bau keringatnya lain. Juga saat aku mengulum kemaluannya terasa panas dan amis.Rupanya selama ini Pak Tigor sering memakan makanan yang di agamaku diharamkan.

Pernah suatu kali aku kurang enak badan padahal Pak Tigor ngotot ingin mengajakku untuk bersetubuh. Aku pun dibelikannya makanan berupa sate. Saat aku santap, rasanya sedikit aneh. Setelah makan beberapa tusuk, aku merasakan tubuhku panas dan badanku seakan fit kembali. Setelah sate itu aku habiskan, kami pun melakukan persetubuhan dengan amat panas dan bergairah hingga aku mengalami orgasme sampai tiga kali. Tubuhku seakan segar bugar kembali dan enak sekali.

Setelah persetubuhan, Pak Tigor bilang bahwa yang aku makan tadi adalah sate daging anjing. Aku marah dan ingin memuntahkannya karena jijik dan kotor. Hanya karena pandainya ia memberiku pengertian, ditambah sedikit rayuan, aku jadi bisa menerimanya. Bagaimanapun, aku memintanya untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi walaupun terus terang, aku pun mau tak mau harus mengakui khasiatnya… Ia pun berjanji untuk tidak mengulanginya lagi tanpa seizinku.

Selama aku bertugas di pulau itu hampir satu tahun, kami telah sering melakukan hubungan seks dengan sangat rapi. Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Untungnya pula, akibat perbuatan kami ini aku tidak sampai hamil. Aku memang disiplin ber-KB supaya Pak Tigor bebas menumpahkan spermanya di rahimku.

Kapanpun, kami sering melakukannya. Kadang di rumahku, kadang di rumah Pak Tigor. Kadang kalau kupikir, alangkah bodohnya aku mau saja digauli di atas dipan kayu yang cuma beralaskan tikar usang. Bagaimamanapun, yang penting bagiku hasrat terpenuhi dan Pak Tigor pun bisa memberinya.

Pernah suatu hari setelah kami bersebadan di rumahnya, Pak Tigor minta kepadaku untuk mau hidup dengannya di pulau itu. Permintaan Pak Tigor ini tentu mengejutkanku, rasanya tidak mungkin sebab aku terikat perkawinan dengan suamiku dan aku pun tidak ingin menghancurkannya. Lagi pula Pak Tigor seusia dengan ayahku. Apa jadinya jika ayahku tahu. Rupanya Pak Tigor mulai mencintaiku sejak ia dengan bebas dapat menggauliku.

Di samping itu, keyakinan kami pun berbeda karena Pak Tigor seorang Protestan. Bagiku ini masalah baru. Memang, sejak berhubungan intim dengannya, aku tak lagi menjalankan agamaku dengan taat. Kebiasaan Pak Tigor menyantap daging anjing dan babi, juga menenggak tuak, sedikit demi sedikit ikut mempengaruhiku. Kadang aku ikut pula menikmati makanan seperti itu. Sekedar menemaninya dan sebagai wujud toleransiku padanya. Lagipula, khasiat itu semua terhadap gairah seks kami telah terbukti… Apapun, perbedaan agama itu tetap saja terasa menjadi ganjalan.

Pak Tigor pun pernah menanyakan padaku kenapa aku tidak hamil padahal setiap ia menyebadaniku spermanya selalu ia tumpahkan di dalam. Aku tidak memberitahunya jika aku ber-KB karena tidak ingin mengecewakannya. Jelas ia sebenarnya menginginkan aku hamil agar memuluskan langkahnya untuk memilikiku.

Aku harus menyiasatinya agar ia tidak lagi bermimpi untuk menikahiku. Sebenarnya bagiku hubungan ini hanyalah sebagai pelarianku dari kesepian selama jauh dari suamiku. Aku pun menjelaskannya kepada Pak Tigor dengan lembut dan baik-baik saat kami usai berhubungan badan.

Aku pun bilang jika kelak aku pindah kerja, ia harus rela hubungan ini putus. Selama aku dinas di pulau ini dan suamiku tidak ada, ia kuberi kebebasan untuk memilikiku dan menggauliku. Syaratnya, asal jangan berbuat macam-macam didepan teman-teman kantorku yang kebetulan hampir semuanya penduduk asli pulau ini.

Akhirnya ia mau mengerti dan menerima alasanku. Ia berjanji akan menutup rapat rahasia kami jika aku pindah. Ia pun menerima segala persyaratanku karena rasa cintanya padaku.

Selama aku tugas di pulau ini, Pak Tigor terus memberiku kenikmatan ragawi tanpa kenal batas antara kami. Bagiku cinta hanya untuk suamiku. Pak Tigor adalah terminal persinggahan yang harus aku singgahi. Dalam hatiku, aku berjanji untuk menutup rapat rahasia ini karena masih ada penyesalan dalam diriku. Kadang aku mengganggap diriku kotor dan telah merusak kesucian pernikahan kami. Bagaimanapun, mungkin ini memang tahapan kehidupan yang harus aku lewati…

Judul: Rp. 123.500

Author : chads , Category: Umum

Hari ini hari Valentine, ..

Ia mencium bibir-ku, lidahnya yang menyelip masuk kubalur balas dengan lidah-ku, sementara rengkuhan tangannya memeluk-ku erat, aku dapat mencium aroma tubuhnya dari jarak sedekat ini, namun yang kulakukan hanyalah membalas ciumannya, sesekali ia mencium dagu-ku sebelum mencium bibirku lagi.

Namanya Joshua, Jo biasa aku memanggilnya kekasih-ku, cinta-ku dan belahan jiwa-ku, seseorang yang telah memberikan-ku segenap cintanya, yang membuatku tak mampu untuk tak membalas rasa sayang dan cintanya ini pada-ku.

Tak kutolak saat tangannya menyusup diantara kaus biru muda yang kukenakan, tangannya meremas halus buah dada-ku yang masih tersembunyi dalam bra penutupnya, ku pejamkan mata-ku, sementara kurasakan ciumannya yang mengunduh bebas ke tengkuk-ku, hangat telapak tangannya kurasakan dipermukaan payudara-ku itu.

Ia menyingkap kaus-ku keatas, meloloskan kaus-ku itu, aku terus memejamkan mata-ku, sementara kurasakan ciumannya di permukaan perut-ku, aku merinding saat kurasakan bibirnya itu mencium perut-ku itu, aku kian merinding saat ia bermain nakal dengan mengeluarkan lidahnya, membuat permukaan tubuh-ku itu kian basah.

Aku tercekat saat jemarinya melepas bra-ku, aku membuka mata, menatap wajah Jo, menatap matanya sebelum kemudian yang kurasakandari tatapannya itu adalah sebuah rasa sayang, hangat kasih sayang yang membuat-ku membiarkan-nya untuk melakukan apa yang ingin dilakukannya itu. aku percaya akan tatapan matanya itu, akan cintanya.

Kubiarkan dirinya yang mulai menciumi payudara-ku itu, memainkan puting-ku dengan lidahnya, aku hanya membalas dengan desahan-desahan kecil meski jantung-ku berdebar kencang, aku mulai merasakan sebuah dorongan gairah yang tak dapat kubendung, kugigit bibir bawah-ku saat kurasakan Jo mengigit kecil di payudara-ku itu, tangannya yang lain memainkan payudara-ku dengan tangannya, meremas lembut, sambil sesekali memilin putingnya pelan.

Kembali ia menciumku, namun kali ini aku mulai membuka kancing kemejanya, satu persatu kulepas kancing kemeja-nya itu hingga dadanya yang bidang yang biasanya menjadi tempatku bersandar, bukan pertama kali aku melihat Jo telanjang dada, kadang ia suka mengusili-ku dengan berusaha memeluk-ku dengan tubuh telanjangnya, namun kali ini terasa lain, jantungku berdebar kencang melihat dadanya itu seperti sebuah pheromenon yang membuat sisi lain dari tubuhku terbangun.

Entah ide dari mana, tangan-ku ikut mengapai puting kecil di dadanya itu, mencium dadanya itu hingga membuat tubuh Jo sedikit gemetar, ia tersenyum pada-ku dan dengan sengaja aku mengusilinya dengan menjilat putingnya itu lagi, lagi-lagi tubuh Jo gemetar kecil, tak mau kalah ia kembali mencium buah dada-ku itu, menjilati puting kecil di dada-ku itu yang membuat-ku kembali mendesah pelan.

Aku terpejam merasakan sensasi birahi yang mulai menguasai diri-ku, aku membiarkan Jo yang mulai meloloskan celana pendek tidur-ku itu, aku tak berusaha membuatnya menghentikan kegilaan ini, aku diam, karena aku yakin apapun yang terjadi Jo tak akan meninggalkanku, aku tahu betul wataknya, dan aku tahu dalam kemungkinan sejelek apapun ia akan bertanggung jawab atas perbuatannya ini, tak ada lagi yang perlu kukhawtirkan, membuatku rela menyerahkan diriku pada seseorang yang begitu kucintai ini.

Aku meraih kancing Jeans yang dipakainya, kulepas kancing itu dan menurunkannya kebawah, untuk pertama kalinya aku menyentuh alat vital seorang lelaki dewasa, masih terbungkus celana dalam namun menggodaku untuk mengintip benda didalamnya, aku tersenyum nakal saat menyentuh kemaluannya itu, Jo tersenyum dan membalasnya dengan menyentuh bibir kemaluan ku yang masuh terbungkus celana dalam itu, perlahan kami mulai saling menggesekan alat kelamin kami, mulai memancing birahi kami dalam permainan terlarang.

Aku merasa vagina-ku itu mulai basah, sama dengan kepala penis Jo yang mulai mengeluarkan sedikit cairan lengket, aku tak tahu apa itu tapi aku yakin itu bukanlah sperma, mungkin sejenis cairan yang sama dengan yang keluar dari kemaluanku saat ini, aku melepas celana dalam Jo penasaran, penisnya yang telah menegang itu terasa begitu keras, Jo mencium-ku bibirku sebelum kemudian beralih ke tengkuk-ku, ia membisik-ku dan mulai menarik lepas celana dalam-ku, hembusan nafasnya di telinga-ku membuat-ku kian melayang dalam lautan birahi ini.

Jo membelai lembut vagina-ku yang ditumbuhi bulu-bulu halus tipi situ, ia mencium-ku, sementara mulai membimbing kemaluannya itu ke mulut vagina-ku, ia menindih tubuhku, terasa berat namun ia menyangganya dengan sikunya hingga tak sepenuhnya menindihku, kepala penisnya tergesek-gesek pelan di bibir kemaluan-ku yang membuat ku menggelinjang resah sambil menutup sepasang mata-ku, kurasakan kepala kemaluannya yang mendesak di depan bibir vagina-ku, terasa begitu hangat sementara juga membuat-ku kian hanyut..

Aku mendesah kecil, sama seperti Jo yang kenapa ikut mendesah-desah pula, ia mencium-ku, sambil meremas tangan-ku, ia mengengam tangan-ku erat, sementara ia mulai menekan penisnya itu masuk dalam vagina-ku dan aku tak berusaha menghentikannya.

Gerakan penisnya itu tertahan, aku juga mendesah menahan rasa perih di vagina-ku itu, pelan ia menarik penis itu keluar sebelum kembali mencoba menekannya masuk, masih tertahan, ia sempat berhenti, Jo terdiam sesaat, aku mencium bibirnya seolah memberikan izin pada Jo untuk memiliki tubuh-ku, ia pun kembali menekan penisnya masuk dan mulai merobek kesucian-ku, perih namun ada sedikit kebahagiaan karena memberikannya pada seseorang yang begitu kusayangi.

Ia menggerakan bagian bawah tubuhnya perlahan, aku merasakan gesekannya dalam tubuh-ku, pelan rasa sakit yang membuatku terus mengigit bibir-ku itu mulai hilang, tubuhku mulai terbiasa dengan benda asing yang berada dalam tubuhku ini sekarang, aku mulai merasakan kenikmatan diantara rasa sakit itu, terlebih saat Jo mulai menciumi payudara-ku, menambah rangsangan yang diterima oleh tubuhku, aku mulai mendesah-desah kecil hanya tertahan sesekali saat Jo melumat bibirku lagi.

Ia tak pernah berhenti menciumi-ku seolah dalam ciumannya itu ia mengungkapkan segala kasih sayangnya, tangannya yang terus menggengam erat tangan-ku tak pernah dilepaskannya, seolah mengatakan ia tak akan pernah melepaskan-ku, akan selalu melindungi-ku apapun yang terjadi.

Gerakan tubuhnya bertambah kian cepat, bukan rasa sakit yang kurasakan sekarang, namun sebuah kenikmatan yang tak dapat kuungkapkan, gerakanny akian cepat sementara rasanya tubuhku ikut menurut, tubuhku terasa begitu bergelora, Jo melepas gengaman tangannya ia memeluk leher-ku sambil menciumi telinga.

Aku memeluk pinggulnya yang tengah bergerak-gerak menghujamkan kemaluannya itu dalam tubuh-ku, aku mendesah tak karuan merasakan kenikmatan yang kian bertambah itu, terlebih saat Jo mulai menggerakan pinggulnya itu memutar, rasanya kenikmatan yang kurasakan itu kian bertambah saja, saat itu aku merasakan sesuatu yang lain dari dalam tubuh-ku, aku seolah akan meledak kapan saja, aku mengatur nafas-ku, sementara tak ingin kehilangan kenikmatan itu ..

Semakin kutahan, justru semakin dalam kenikmatan yang kurasakan, rasanya kenikmatan itu ian bertumpuk, aku masih berusaha menahannya hingga akhirnya tak tertahan lagi, tubuhku menegang tiba-tiba, yang kurasakan hanya mulutku yang mulai bergeremutuk dan aku mendesah panjang, tubuh-ku bergetar-getar tak karuan, aku merasakan sebuah kenikmatan yang sungguh tak dapat kuungkapkan..

Jo mencium bibir-ku saat tubuhku masih menggelinjang dan bergetar selama beberapa detik, aku merasakan tubuhnya yang juga ikut bergetar, kugerakkan tangan-ku memainkan puting didadanya itu, smabil menciuminya, tangannku yang lain menyusup di telinganya, pikrku bila aku merasakan kenikmatan saat merasakan hembusan ditelingaku, mungkin Jo juga merasakan kenikmatan yang sama .

Dan ternyata semua itu membuat Jo kian resah, gerakkannya menjadi tak beraturan, kadang ia menghujam cepat kadang hanya penetrasi-penetrasi dangkal, dan kemudian ia malah melakukan tusukan-tusukan yang begitu dalam yang sedikit membuatku merasa perih namun juga memberikan sebuah kenikmatan yang lebih nyaman lagi..

Jo menciumku begitu mesra, sementara ia terus menggerakan penisnya itu keluar masuk dalam kemaluan-ku, kian lama tubuhnya kian gemetar dan saat itulah tubuhnya bergetar hebat dan menumpahkan cairan cintanya dalam tubuhku,

Tubuhku ikut bergetar sesaat setelah kurasakan sejenis cairan kental itu tumpah di dalam lubang kewanitaan-ku itu, nafas kami memburu, dengan tubuh yang bergelimang keringat, aku terdiam mulai merasakan ketakutan, sementara Jo terus memeluk-ku dengan erat, setelah semuanya terjadi rasa takut itu baru muncul, tak tertahan aku mulai menitikkan air mata, Jo mencium-ku sepertinya menyadari tetesan air mata-ku.

Kusentuh permukaan perutku yang mulai menggelembung, entah berapa lama aku mengurung diri dalam kamar-ku, menangis dalam sebuah penyesalan, sebuah kebodohan, aku melangkah turun dari tempat tidur-ku, aku menatap wajah-ku di cermin dalam kamar-ku, aku berusaha tersenyum, namun tak kulihat bayangan Shelina yang kukenal, bukan lagi wajah cantik yang selama ini menjadi kebanggaanku, hanya sebuah wajah kusut dengan kantung mata dan bola mata memerah mungkin karena terlalu banyak menangis, menangis selama 5 bulan ini .

Aku membuka kunci kamar-ku, aku mengintip ke ruang keluarga, Papa sedang menonton Televisi, kulihat dirinya yang sedang menonton Tayangan Televisi itu, entah mengapa baru hari ini kusadari, seletah melepas segala kearogan-an ku selama ini, yang tak pernah memperdulikannya, yang kutahu hanya bagaimana menghabiskan uang pemberiannya dan terus menuntut lebih, lebih dan lebih, selalu melawan padanya, termasuk urusan Jo, aku menyesal atas semua pembangkangan-ku selama ini, menyesal meski hanya satu itu yang tak kusesali.

Rambutnya yang mulai tipis memutih , dengan pipi yang mulai pirus termakan usia, aku yakin ia tahu keadaan-ku, meski dengan mata plusnya, aku yakin ia dapat melihat perubahaan pada tubuhku, ia diam, seolah menunggu aku yang bercerita. Namun aku belum berani mengatakannya, belum aku belum mampu untuk menceritakan semua ini padanya, mungkin ia akan kecewa sekali padaku, tidak dia pasti akan kecewa aku yakin itu.

Kukunci pintu kamarku, aku kembali melangkah menuju tempat tidur-ku, kunyalakan lampu tidur disebelahku, sebingkai foto yang telah lama tak kujamah itu kini sayup kupandangi, aku menatapnya dalam, memandang senyuman di Foto itu, aku terus menatapnya seolah ingin kembali ke masa-masa itu,

Tapi aku tahu itu tak mudah, … tak mungkin, bukan sekedar tak mudah

Pelukan hangat itu, kecupan hangatnya, dan suara ponselku yang berdering tiap jam-nya, hanya sekedar untuk menanyakan “ Lagi apa sayang ?? “ Aku merindukannya, aku sungguh merindukannya, tanpa terasa air mataku kembali menetes..

Kuusap halus perutku yang tengah mengandung ini, aku menangis keras, aku benci diriku sendiri

Benci Janin dalam perutku ini

Maafin aku Jo,..

Kamu dimana ??

Aku tak mau mengingat ini semua lagi, namun aku tak dapat melupakannya, semua terekam begitu jelas

*****

Manusia adalah sesosok mahluk yang tak pernah puas, mahluk yang tak pernah tau untuk mensyukuri segala sesuatu yang telah dimilikinya ..

Ya seperti yang aku ceritakan tadi, namaku Shelina, usia-ku 19 tahun aku seorang mahasiswi semester 7, harusnya,… Andai semua kejadian ini tak pernah terjadi, 6 bulan ini aku mengurung diri di kamar ini, tak melihat sinar matahari, benci cahaya yang berlebihan, aku bersembunyi dalam kegelapan terkadang aku hanya melamun, melayangkan pikiranku entah kemana, kadang aku hanya menangis seharian atau kadang aku memandangi diriku sendiri di depan cermin, sambil terus membasuh diriku dengan air dan sabun berulang-ulang untuk membersihkan tubuh-ku yang ‘kotor’ ini.

Aku berusaha tak mengingat ini semua, namun bayangan ini selalu muncul dalam kepala-ku.

Tiap langkah, tiap kata, tiap detik kejadian itu yang entah mengapa terekam begitu jelas dalam ingatanku.

Pertemuan pertama dengan Jo, aku masih ingat betul saat masa Orientasi Mahasiswa baru, aku kerap menjadi sasaran dari para senior cewe yang entah kenapa begitu sering mengerjaiku, ya … saat itu aku sedang dihukum melakukan skot jump sampai 30 kali, tak ada pilihan lain, meski kaki-ku terasa begitu pegal saat hitungan belum mencapai 10 kali, ada seorang senior yang ternyata ketua umum masa Orientasi Mahasiswa itu yang menyelamatkan-ku, ya dapat ditebak orang itu Jo..

Entah kenapa sejak pertama kali aku menatapnya, jantung-ku berdegup begitu kencang, ia sendiri seperti terus menatap wajah-ku yang membuatku salah tingkah sendiri, ya bahkan aku merasa malu hingga memalingkan wajah-ku kesamping.

Sejak itu hubungan kami mulai berjalan, mulai dari sekedar SMS Hai, dan itu berlangsung dua bulan lebih, sampai akhirnya ia berani mengajak-ku sekedar menonton, aku masih ingat benar judul film yang kami tonton saat itu Click, ceritanya tentang remote universal yang membuat pemakainya bisa mempercepat waktu, atau memundurkan waktu, ia melihat masa depan yang hanya ada sebuah penyesalan, andai remote itu benar-benar ada, aku ingin mengulang semua waktu ini, dan kembali kemasa-masa indah itu.

Sedikit gambaran tentang Jo, tingginya sekitar 184cm, tinggi memang karena dia termasuk tim utama basket di kampus, tinggi dan besar tubuhnya itu yang justru itu membuatku nyaman jalan bersama Jo, aku memang cukup tinggi 171 cm, dan itu kadang membuat beberapa cowok yang mendekatiku sedikit minder, sedangkan jujur salah satu kriteria cowok idaman-ku haruslah tinggi besar supaya bisa memeluk-ku dengan hangat dan erat.

Jo tidak terlalu tampan, biasa saja dan gaya rambutnya tidak pernah berubah selama 3 tahun kami bersama, gaya Monet , sering aku memintanya untuk membiarkan rambutnya tumbuh panjang, namun ia selalu beralasan gatal atau ketombean-lah sehingga kembali mencukur rambutnya yang mulai memanjang itu ke style semula..

Ia juga bukan orang kaya, tapi ia punya sebuah semangat yang membuat-ku yakin dia tak akan memiarkan ku menderita, ia selalu berusaha untuk membuat-ku terus nyaman bersamanya, ia tak pernah mengeluh seberapa letihnya dia untuk menyanggupi segala macam permintaan-ku mulai drai yang sepele, sampai hal-hal yang besar, tak semua bisa ia berikan memang, segala yang terbentur dengan uang kadang tak dapat dipenuhinya, Salah-ku memang yang selalu menuntutnya begitu banyak .. namun karena itulah aku begitu menyukainya, sungguh menyukai bagaimana ia mencintai-ku ..

Kadang teman-teman-ku pun sering menyindir-nyindir tentang-nya, mereka selalu mengatakan kalau Jo bukan-lah orang yang tepat untuk-ku, dulu aku tak terlalu perduli dengan segala ocehan mereka itu, sungguh … , meski kadang aku harus naik motor bebek keliling kota, ya ia kurang suka naik mobil-ku, mungkin itu lebih menyangkut harga dirinya, dan jujur aku juga tak keberatan meski kadang harus kehujanan ataupun kedinginan, nah dingin itu yang membuat Jo selalu memberikan jaket-nya untuk melindungi dari ras dingin, dan tanpa aku sadari dalam perhatian kecil-nya itu aku selalu menggunakan jaket yang ia pinjamkan, seolah aku tak perduli dengan dirinya yang pasti lebih kedinginan lagi karena memboncengku .. itu memang kebodohan-ku.

Dimabuk cinta, mungkin itu kata yang tepat untuk hubungan kami saat itu, aku merasa tak akan bisa lagi hidup tanpanya, Jo adalah nafas-ku, sama seperti setelah semua kesalahan-ku sekarang,.. aku tak bisa hidup tanpanya ..

Kenangan-kenangan saat aku merasakan ketegangan saat melihat ia memasuki ruang sidang skripsi-nya, dan rasa haru saat melihat ia keluar dari ruangan itu dengan senyuman mengembang di wajahnya.. Atau saat jantungku ikut berdebar kencang saat menunggu sebuah telepon kepastian, apakah ia diterima bekerja di sebuah perusahaan itu atau tidak, seharian kami menunggu telepon itu berdua, hingga akhirnya pukul 3 sore lebih sedikit saat telepon yang ditunggu-tunggu itu datang..

Kebahagian, dan kebahagian seperti ini yang begitu aku rindukan ..

Aku begitu merindukannya, semua bias, buyar oleh satu kesalahan fatal-ku itu .

Pekerjaannya sebagai seorang Junior Auditor di salah satu kantor akuntan Big Four memaksanya sering keluar kota untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjan-nya, disaat jarang bertemu denganya tu, aku kembali dekat dengan teman-teman SMA-ku dulu, dan seperti yang kukatakan tadi, mereka tak terlalu menyukai hubungan ku dengan Jo, selalu aja saja cerita-cerita jelek mereka, pelan tapi pasti aku mulai terpengaruh kata-kata itu..

Aku tetap bersikap seperti biasanya pada Jo, masih dengan kemesraan yang lama, namun ada sedikit keraguan di dalam hati-ku sekarang..

Ya hari itu hari Valentine, Jo menyempatkan diri-nya di tengah pekerjaa-nya yang justru sedang menumpuk-numpuknya, ia pulang untuk memenuhi keinginan-ku, tak bisa bersama seharian memang, tapi mendengar ia menyempatkan dirinya untuk pulang saja sudah membuat-ku begitu senang.

Jo bukan seorang yang romantis, aku tahu benar hal itu namun entah kenapa ia bisa begitu romantis hari itu, ia tahu Papa keluar kota satu minggu ini, jelas aku yang memberitahu padanya, ia datang tepat jam 12 malam tanggal 14, membawakan-ku coklat dan sebuah hadiah, kalung yang begitu aku inginkan aku sampai tak bisa menghentikan air mata bahagia-ku, selama 3 tahun ini, baru kali itu Jo bisa begitu romantis, bukan masalah hadiahnya itu, namun perhatiannya yang membuatku begitu kehabisan kata-kata, aku mencium-nya, memeluknya untuk membalas semua perhatiannya itu, dan ia pun balas mencium-ku sesekali mencium bibir-ku, dan semua itu terjadilah begitu saja, tak ada penyesalan akan semua itu, sampai detik ini..

Itu bukan awal dari semua ini,

Aku terbangun pagi harinya, masih ada Jo disebelah-ku ia tertidur begitu lelap, ia baru sampai Jakarta dari Jogja jam 11 malam, mempersiapkan semua hadiah untuk-ku, menahan semua rasa lelah dan kantuk-nya untuk memberikan-ku kejutan ini, aku mencium keningnya, tak mau membangunkannya, jam 10 pagi ini dia harus kembali ke Jogja kembali dengan pekerjaanya, aku keluar dari kamar-ku, aku ingin membuatkan sarapan untuknya, saat itulah ponsel-ku bordering, sebuah pesan pendek dari Jonathan, aku sengaja mensave nomornya di tempat yang sama dengan Joshua, aku cuma takut Jo tahu ‘kesalahan’ yang kulakukan.

Aku tersenyum melihat pesan singkat dari Jonathan, sebelum kembali dengan kesibukan membuat sarapan untuk belahan jiwa-ku. Aku membuatkan nasi goreng untuk Jo, aku memang tidak pandai memasak, meski Jo sering memuji masakan buatan-ku, buatnya enak, meski kata Papa gak enak..

Aku membawa nasi goreng itu ke kamar, Jo sudah bangun, ia tiba-tiba memeluk-ku dengan begitu erat, berulang ia mengucapkan kata maaf, aku tahu sebuah kesalahan yang kami lakukan semalam, namuntak ada penyesalan dari-ku, aku merasa telah memberikannya untuk seseorang yang tepat, aku mengungkapkan semua perasaanku pada Jo, semuanya dan semua khayalan-ku di masa depan bersamanya..

Jo terus memeluk-ku erat, seperti apa yang kusukai darinya pelukannya terasa begitu hangat, Ia meminta waktu pada-ku sampai ia mampu menghidupi keluarga kami nantinya, satu tahun lagi katanya, satu tahun lagi dan aku tahu satu tahun penuh penantian ini akan terasa begitu lambat, namun aku sungguh menantikan hari itu tiba, aku mencium kening Jo lagi, air mata bahagia-ku mengalir di Pipi-ku, Jo mengusap air mata-ku meki membiarkan bola matanya tergenang air mata..

Hari itu rasanya akan berjalan begitu sempurna, meski aku tak bisa mengantarnya ke Bandara, ia tak mengijinkan-ku, buat dia kuliah-ku lebih penting dari sekedar mengantarnya ke Bandara ..

Dan ini lah semua kesalahan itu,

Sesuai janji ku dengan Jonathan dan teman-teman-ku yang lain, aku pergi bersama mereka malam itu, ke sebuah Club, aku tahu Jo pasti akan sangat marah, ia tidak menyukai aktivitas seperti itu, buang-buang uang katanya, dan pastinya ia juga tak akan suka aku begitu, sudah 3 kali aku membohonginya belakangan ini, dan ini untuk keempat kalinya.

Namun aku sadar kesalahan-ku kali ini jauh lebih fatal, kali ini ada Jonathan, dan jujur ada yang berbeda dengan hubungan kami belakangan ini, sedikit lebih dari sekedar teman aku saja merasa begitu, bisa saja Jonathan juga merasakan hal yang sama, atau mungkin, melihat perhatiaanya padaku bisa saja ia menilai lebih lagi dari hubungan kami.

Seperti biasa sampai pukul 11 Jo tak pernah lupa untuk menanyakan keadaan-ku, ada dimana …, apa yang sedang kulakukan …, sudah makan apa belum … dan sebagainya dan kali ini lagi-lagi aku membohongi- nya, aku tak menyadari-nya saat aku membalas pertanyan-nya “ dimana ?? ” biasanya ia tidak pernah bertanya seperti itu semalam ini, dengan tanpa sedikitpun rasa bersalah aku membohongi-nya dengan mengatakan di rumahlah, lagi tiduran. Terlebih aku mulai mabuk saat itu dan aku beberapa kali membiarkan Jonathan memeluk-ku, dan tanpa aku sadari sepasang mata mengamati-ku dari jauh, Jo berulang kali menelepon-ku, jelas aku tak berani mengangkat panggilannya dengan suasana seribut ini, ada rasa bersalah karena tidak mengangkat teleponnya terlebih karena membohongi-nya..

Hingga sebuah pesan singkat masuk, dari Jo yang rupanya terus mengawasi-ku dari tadi, jutaan penyesalan muncul dari hati dan kepala-ku ..

Mataku mencari, diantara kerumunan itu aku melihat jelas tatapan mata penuh kekecewaan dari Jo, tatapan mata it terlihat begitu sedih bukan sebuah kemarahan, seperti seseorang yang sungguh kecewa dan kehilangan segenap kepercayaannya, tatapan mata itu seolah kosong dalam kebingungan.

Aku terlonjak kaget, aku nyaris sadar betul dari mabuk-ku saat melihat Jo memang berdiri disana, aku ingin segera berlari turun hendak menghampiri-nya, otakku berputar cepat, berusaha memikirkan alasan terbaik yang dapat kuberikan untuknya, aku mencari kebohongan apa lagi yang dapat kukatakan padanya. Namun yang ada dalam otak ku hanya satu cara, yaitu kejujuran, hanya itu yang terfikir, meski butuh sebuah keberanian untuk mengatakannya.

Aku segera berusaha untuk berlari turun, namun Jo tak lagi berdiri di tempat-nya tadi, aku berusaha mencarinya, melihat ke segala arah berusaha mencari sosok Jo, di sebelah kanan aku sepintas melihat dia melangkah kesana, aku pun berlari mengejarnya.

Aku menyelusuri lorong-lorong gelap itu, setelah masuk lebih dalam lagi, mulai muncul keraguan dalam diriku, mungkin aku salah mengambil jalan ?? tapi rasanya aku yakin melihat Jo masuk ke lorong ini tadi, lorong-lorong terhubung dengan ruang-ruang VIP, dan terasa begitu sepi, aku segera membalik kan tubuh-ku hendak berbalik arah.

Namun baru beberapa langkah aku berjalan. Seseorang tiba-tiba menarik-ku masuk ke dalam ruangan, aku berusaha berontak dan berusaha melihat siapa yang menarik-ku itu, ternyata seorang lelaki paruh baya yang terlihat sudah begitu mabuk, dan di dalam ruangan itu ada 3 orang lainnya yang terlihat sama mabuknya dengan yang tengah menculik-ku ini, ia mendorongku hingga jatuh terbaring diatas lantai yang terasa begitu dingin itu.

Dari omongan mereka sepertinya mereka salah mengenaliku dengan pelacur yang mereka sewa dan kabur tadi, aku berusaha menerangkan semampu-ku, namun nyaris percuma berdebat dengan orang-orang mabuk seperti mereka, satu-satunya yang bisa kulakukan adalah berusaha keluar dari ruangan ini, akupun berusaha untuk berdiri dan hendak berlari menerjang keluar, namun salah satunya menarik rambutku dan mendorong-ku hingga kembali terjerembab di atas lantai itu.

Sakit namun yang lebih menakutkan lagi keempatnya mengerubungi-ku, tercium bau alcohol yang begitu kental dari mulut mereka, dan itu membuatku sungguh ketakutan mereka akan memperkosaku, terlebih saat mereka mulai berusaha melucuti pakaian-ku, aku terus berusaha melawannya, usia mereka semua jelas seusia dengan Papa-ku, bahkan mungkin lebih tua lagi darinya, mereka melepas pakaian-ku, dan mulai menciumi tubuhku, aku berusaha melawan namun jelas aku kalah tenaga dan jumlah dari mereka semuanya ada 4 orang, tua dan berkeriput dengan rambut yang sudah memutih, tawa mreka yang begitu menjijikan membuat-ku begitu mual melihat wajah mereka itu, aku terus berusaha memberontak, namun tangan-tangan jahanam itu terus merogoh tubuh-ku, meremas-remas payudara ku yang masih dalam bra-ku..

Mereka tak perduli dan melakukan semua ini sambil tertawa, seseorang diantara mereka membuka pakaian-nya, sementara 3 orang yang lain tak pernah melepas tangan-tangan mereka dari tubuh-ku, salah satunya melepas pengait bra-ku, hingga kini sepasang payudara-ku menggantung di depan mereka, tangan-tangan itu bertambah liar, mereka memilin-milin payudara-ku , aku pun mulai menangis sejadi-nya, baru semalam aku merasakan pengalaman pertama-ku, dan sekarang aku harus merasakan pengalaman yang lainnya, aku tak mungkin rela dan tak mau diperlakukan seperti ini oleh mereka, aku sadar kalau semua ini memang salah-ku namun aku tak mau kesalahan-ku harus berujung seperti ini..

Aku menangis dan memohon sebisa-nya, namun tak ada artinya untuk berbicara dengan orang-orang yang tengah mabuk berat seperti mereka, yang lainnya melucuti rok dan celana dalam-ku, tangan-tangan mereka langsung menyelip diantara belahan vagina-ku, aku meringis saat merasakan tangan-tangan mereka menyentuh bagian kewanitaan-ku itu, ingin menjerit sejadinya, namun jelas tak ada yang akan datang menolong-ku, ruangan ini kedap suara, terlebih suara musik di depan begitu kencang, aku terkurung dalam ruangan ini bersama 4 orang iblis.

Aku tercekat saat salah satu dari mereka menampar bokong-ku, perih namun mereka hanya tertawa melihat reaksi wajah-ku. Tangan-tangan mereka terus meremas-remas payudara dan bokong-ku, aku berusaha melawan, tak sudi dengan sentuhan tangan-tangan kotor mereka, mereka mulai bergantian menelanjangi diri mereka sendiri, hingga kini hanya tinggal celana dalam yang melekat ditubuh mereka.

Belum cukup aku terkejut, mereka mulai memaksa-ku, menarik tangan-ku dan memasukannya dalam celana dalam mereka, terpaksa aku harus menyentuh kemaluan mereka yang sudah membengkak itu, terasa lain dengan yang kemarin kurasakan, tak ada suka cita, atau kerelaan melakukan ini semua, hanya ada ketakutan dalam hati-ku, dan aku terpaksa menggerakan jemariku pada penis mereka, takut akan ancaman mereka..

Sementara aku harus melayani dua orang, yang satu terus memainkan payudara-ku dari belakang, sambil terus mendengus di telinga-ku yang membuat-ku merinding tak karuan, yang satunya lagi terus menggesek-gesekan jemarinya di permukaan vagina-ku, pelan gesekan-gesekan itu mulai membuat-ku terbuai, tubuhku mulai menurut, namun tidak pikiran-ku..

Belum cukup, pria tua disebelah kanan-ku membuka celananya, penisnya tak besar, namun cukup panjang dan keras, warnanya hitam begitu pekat dan kini berada tepat di depan mulut-ku, aku menghindari penisnya yang berbau tak sedap itu, namun orang dibelakang-ku menangkap wajah-ku dan memaksa mulutku untuk terbuka, aku tak dapat melawan lagi, hanya bisa meringis takut sambil berharap ada seseorang yang membuka pintu itu dan menyelamatkanku,namun pintu itu tak pernah terbuka..

Penis itu pun mulai menjejali mulut-ku, aku tak dapat menghindarinya, pelan penis itu mulai menyentuh lidahku, terasa aneh dalam mulut-ku, asin namun berbeda dengan rasa asin garam, dan baunya itu sungguh memuakan, sementara aku masih belum terbiasa dengan rasa aneh dalam mulut-ku itu, lelaki tua itu mulai menggerakan penisnya keluar masuk dalam mulut-ku, ia menjejali mulutku, hingga membuat-ku tersedak berulang kali..

Ia hanya tertawa melihatku tersedak seperti itu, ia malah menjejalkan penisnya lagi, lebih dalam hingga membuat wajahku terbenam dalam selangkangannya yang berbulu lebat itu, dan aromanya sungguh menjijikan, aku kembali tersedak hebat, aku bahkan bisa merasakan rontokan bulu kemaluanya di dalam mulutku sekarang, seseorang menarik kepalaku lagi, bukan untuk membebaskan-ku namun hanya untuk menghujamkan penisnya dalam mulut-ku lagi,..

Orang ini lebih kejam dari orang yang satunya, Ia bukan hanya membuat-ku tersedak, namun juga terus menghujamkan penisnya meski aku terbatuk-batuk sambil mengemut penisnya itu., puas melihatku terbatuk-batuk ia melepaskan-ku, baru aku merasakan sedikit kelegaan, namun seseorang kembali menarik kepala-ku, si kejam tadi rupanya belum puas dengan apa yang sudak dilakukannya tadi.

Ia menarik-ku hanya untuk mendorong tubuh-ku hingga terjatuh ke lantai itu lagi, aku menahan rasa sakit akibat benturan itu, namun belum hilang rasa pening-ku akibat dorongannya tadi, ia menghujamkan penisnya kemulut-ku, aku kembali tersedak karena penisnya itu yang mauk begitu dalam, namun tak peduli dengan keadaan-ku ia terus menyodokan penis tua-nya dalam mulut-ku berulang-ulang, entah berapa menit berlalu, hingga akhirnya ia melepaskan-ku, aku langsung terbatuk tak karuan, namun aku merasa lega terlalu cepat, kembali ia menarik-ku dan menghujamkan penisnya lagi dalam mulut-ku berulang-ulang..

Aku hanya bisa pasrah menerima semua ini, meski suara tawa mereka begitu menjijikan terdengar di telinga-ku, tak ada yang dapat kulakukan aku hanya bisa berusaha tegar menerima semua ini, masih terbatuk-batuk karena sodokan-sodokan kasar itu, Tua Bangka ini akhirnya melepaskan penisnya dari mulut-ku, ia belum puas mempermainkan-ku, tangannya mengesek-gesek vagina-ku, membuat tubuhku mulai resah, ia berpindah ke depan lubang kemaluan-ku, ia akan memperkosa-ku sekarang.

Jelas aku tak sudi membiarkan ia menyetubuhi-ku, aku berusaha menghindar namun seseorang menamparku, aku terdiam sejenak namun masih tak rela menyerahkan tubuhku pada mereka, aku terus berontak sambil terus menggerak-kan pinggulku kesana kemari,

Tua Bangka itu akhirnya menangkap pinggulku, sementara yang lain menahan tubuh bagian atas-ku, aku tak bisa lagi menghindar, sementara kuraskaan penisnya yang berada tepat di depan bibir kemaluan-ku, tak lagi bisa menghindar aku hanya menangis menyesali semua ini, kurasakan penisnya mulai menyusup masuk, aku mendesah tak rela merasakan bagian tubuhnya yang mulai memasuki tubuhku itu,.

Pelan penis itu mulai keluar masuk mencari jalan termudah untuk menyetubuhi-ku, kian lama penis itu mendesak kian dalam dan lebih dalam lagi, membuatku kembali merasakan rasa perih seperti semalam, namun perasaan-ku jauh berbeda dengan yang kurasakan semalam, aku merasakan kebencian yang teramat sangat saat ini, wajah itu, wajah yang tengah tertawa itu tak akan pernah kulupakan sepanjang hidup-ku.

Beberapa menit kemudian tua bangka ini berhasil memasukan penisnya itu seutuhnya dalam tubuh-ku, aku merasakan benda asing itu mulai bergerak-gerak dalam vagina-ku, tua bangka ini berusaha mencium-ku, namun aku selalu berhasil menghindarinya, meski ia tak pernah berhenti berusaha mencium-ku, sementara tangan-tangan yang lain terus memainkan payudara-ku sekenanya..

Tangan-tangan kasar mereka meninggalkan jejak-jejak merah di payudara-ku, kadang mereka menyedoti payudaraku atau meremasnya kasar, bahkan salah stau dari mereka mengigit pelan puting payudara-ku. Tubuhku bergetar-getar sesaat, saat mulai merasakan sedikit kenikmatan dari apa yang mereka lakukan pada tubuh-ku, namun sisi dominan dari diriku terus menolak apa yang mereka lakukan pada diri-ku itu.

Tua bangka itu menarik kaki-ku hingga ke pundaknya, membuat kedua pahaku mengatup, penis di dalam tubuhku itu makin berasa, begitu juga dengan rasa perih yang kurasakan, ia terus menggerakan penisnya itu dengan cepat tak perduli dengan erangan kesakitan-ku, kadang aku menjengut rambutnya sebagai bentuk perlawanan-ku, namun itu hanya membuatnya kian tertawa.

Desahan-ku yang tak pernah berhenti meluncur dari mulut-ku mungkin adalah sebuah stimulasi yang membuat mereka kian terangsang, gesekan penisnya dalam tubuhku bertambah kian cepat dan dalam, aku mulai tak mampu menolak kenikmatan yang mulai menguasai diriku itu, namun aku masih memiliki harga diri yang membuatku tak sudi menyerah sampai disini.

Tubuh tua itu mulai bergetar-getar, seperti tubuh Jo semalam, aku segera ikut menghentakan tubuhku ke tubuhnya berharap itu memberikan kenikmatan pada tua bangka ini, dan membuatnya segera selesai dan membebaskan-ku, tubuhnya bergetar kian keras, begitu juga batang kemaluannya itu yang ikut bergetar-getar, dan tak lama kemudian ia menumpahkan spermanya itu dalam vagina-ku, ya ampun, bagaimana ini ??

Setelah menumpahkan spermanya dalam tubuhku, kurasakan penisnya itu kian menciut sebelum kemudian meninggalkan tubuh-ku, aku segera memohon mereka untuk melepaskan-ku, namun salah satu dari mereka malah memberikan-ku segelas besar bird an memaksa-ku meminumnya, dan kembali mendorongku jatuh.

Ia membuat-ku menungging keatas, sementara penisnya kembali berada di depan bibir kemaluan-ku, untuk kedua kalinya kembali penis yang lain menyetubuhi-ku, penis itu mendesak masuk dengan keras, dalam beberapa tusukan hingga akhirnya terbenam dalam kemaluan-ku, aku menjerit merasakan kesakitan yang teramat sangat itu, namun bukan melepaskan-ku ia malah mengujamkan penisnya keluar masuk dalam tubuhku..

Sementara yang lainnya mengangkat wajah-ku dan memaksa-ku menjilati penisnya, aku terpaksa membuka mulutku dan memasukan penisnya dalam mulutku setelah ia memencet hidungku dan memaksa-ku membuka mulut-ku, penis itu benar-benar menjijikan sejenis cairan yang tidak terlalu kental menetes dalam mulut-ku, rasanya sungguh aneh namun aku tak dapat menolaknya saat ia mulai menggerakan penisnya itu dalam mulut-ku..

Orang yang tengah menyetubuhi-ku itu, mencengkram pinggulku begitu kuatnya, ia menghujamkan penisnya begitu cepat dalam dalam yang embuat tubuhku merasakan rasa sakit yang teramat sangat, menahan rasa sakit itu bukan semuanya, karena orang yang tengah memperkosa mulutku itu meremas-remas payudaraku dengan begitu kasaranya, dada-ku itu terasa begitu perih namun tak juga membuat keempat orang ini merasakan sedikit keibaan, yang ada malah mereka kian tega menyetubuhi-ku.

Orang yang dibelakang-ku itu malah menjilati punggungku, tubuhku bergidik saat kurasakan lidahnya itu menyapu tubuhku, kian lama kian cepat juga ia menyetubuhi-ku hingga akhirnya ia mendesah panjang dan tubuhnya bergetar tak karuan, saat itu kembali cairan spermanya kembali meleleh dalam vagina-ku, kini mereka melepaskan-ku sejenak, sementara aku kembali terbaring diatas lantai dingin itu, aku hanya bisa meneteskan air mataku. Ini masih belum akan berakhir, aku tahu itu.

Aku menarik nafas panjang, masih ada dua orang lagi yang menunggu gilirannya, tubuhku begitu letih dan mabuk-ku sudah benar-benar hilang sekarang, saat itu kudengar seseorang mengetuk pintu ruangan itu, aku melirik kecil saat melihat pintu itu terbuka, ingin kukumpulkan segenap tenaga untukberteriak, namun aku begitu lelah, orang yang diluar masih terus mengetuk sementara keempat tua Bangka ini menyumpah-nyumpah salah satunya akhirnya berjalan kearah pintu, membuka pintu itu dan yang ada diluar ternyata Jo, dia … dia melihatku.

Saat itu juga Jo langsung menerobos masuk, mungkin ia mengamuk melihat tubuhku yang tergeletak di atas lantai dengan pakaian yang tak karuan, menghajar salah satu dari lelaki itu, ia memukuli mereka satu persatu, dua orang terjatuh sementara yang satunya ketakutan, Jo berusaha membangunkan-ku memakaikan baju-ku yang sedikit robek itu, namun saat ia lengah seseorang menusuk perutnya dengan pecahan botol, aku menjerit ketakutan saat melihat darah mulai mengalir dari tubuhnya, aku menjerit sambil berusaha berlari keluar mencari pertolongan, Jo begitu mengamuk ia memukuli orang-orang itu dengan sisa-sisa tenaganya..

Aku berusaha meminta pertolongan, Jonathan dan beberapa teman-ku yang lain ternyata ikut mencari-ku yang hilang bersama Jo, Jo nekad memasuki beberapa kamar hingga akhirnya menemukan-ku, dan sekarang ia terlibat dalam perkelahian, ia tidak pergi tadi hanya berjalan menuju pintu keluar untuk berbicara dengan-ku, Sekarang semua kebodohan-ku itu berakibat lebih fatal lagi, aku tak memperdulikan lagi keadaan-ku, aku harus kembali keruangan itu secepatnya, namun saat sampai disana aku hanya bisa menjerit sekerasnya,

Pikiran-ku dipenuhi dengan rasa bersalah dan penyesalan, Ruangan itu telah kosong dengan hanya ada Jo tergeletak disana dengan tubuh yang bersimbah darah, aku membawanya dengan mobil-ku sendiri ke rumah sakit terdekat, aku terdiam tak tahu apalagi yang harus kulakukan saat seorang dokter keluar dan hanya meminta maaf dari-ku, pihak Club hanya meminta maaf padaku dan memberikan sejumlah uang untuk menutup apa yang terjadi pada-ku, aku menerimanya bukan karena jumlah uang besar yang mereka tawarkan, namun saat ini tak ada yang tahu apa yang telah terjadi padaku malam itu, dan lagi saat itu aku belum tahu bahwa aku tengah mengandung, terlebih hatiku dihantui oleh berjuta penyesalan , aku merasa bahwa akulah yang telah membunuhnya, dan yang bisa kulakukan sekarang hanya menangis..

Tak lama kasus pembunuhan Jo pun digelar namun tak sampai selesai, sebulan kemudian kasus itu pun ditutup, mendengar itu membuat penyesalan di hatiku kian bertambah, terlebih sebuah pukulan lain menghampiri-ku, ya dua hari setelah kasus Jo ditutup aku menyadari bahwa aku tengah mengandung, pukulan demi pukulan itu membuat-ku kian rapuh, aku mulai tertutup dan terus mengurung diriku..

Kesadaran bahwa aku sendiri tak tahu, anak siapa yang berada dalam perut-ku ini, Jo atau keempat pemabuk itu, membuatku kian terpukul, jelas aku tak sudi mengandung anak mereka, sungguh terlebih perasaan bersalah-ku pada Jo, aku telah kehilangan dirinya begitu cepat, saat sebuah harapan kebahagiaan yang abadi akan menghampiri kami segera, semua buyar hanya karena kebohongan-ku, sebuah ketololan karena tak pernah dapat mensyukuri sebuah kebahagiaan yang tengah aku rasakan.

Entah setan apa yang membisiki-ku detik ini, rasanya semua ini harus berakhir sekarang, aku lelah, aku tak mampu lagi bertahan, dan lagi aku yakin aku tak kan sudi merawat anak ini, tak mau ..

Aku membuka laci meja belajar-ku, masih dengan penuh tangisan ini, kuraih sesuatu di dalam laci itu, sebotol kapsul obat tidur yang telah beberapa kali kukonsumsi, 1 butir cukup untuk membuat-ku tidur lelap selama 12 jam, 10 butir mungkin cukup untuk membuatku tidur selamanya, kubuka tutup botol itu kutuang isi nya keatas meja sebelum kuambil butir demi butir ..

I’m sorry , I’m so sorry

But I miss you so

On and on the pain goes on

And it wouldn’t just wouldn’t die

wo jing yuan bi xiang xiang zhong ruan ruo

qie wu neng wei li

dui ni de yan shen xuan ze le tao bi

hen zi ji hen zi ji

On and on the pain lives on It’s hurting so much more

Jiu rang wo bei hui bu dang chu de zui e tun qu

Cheng fa guo huo neng fou dai lai jie duo

i’ll be fine, i’ll be fine

So many cried listening to God

Rang jian qiang tu zhi shi zhong wei zhuang

So many lies listening to you

Tian liang hou

I will be fine

On and on the pain goes on

and I just don’t know how to cope

Shen shou bao zhu zi ji shi fou jiu

neng gou pu zai kong xu

Zui hou xin nian bie fang qi

I will be fine I will be fine

So many cried listening to you

Xi wang ni neng zai gei wo li liang

So many lies listening to you

Shen me shi hou

I will be fine

Dang wo zai ye bu dui ren he shi qi dai

Zhi sheng xia ni zhi sheng xia ni

You tian tang wo she qi yi qie jian ni

Qing ni yao we xiao bu yu

So many cried listening to you

Xi wang ni neng zai gei wo li liang

So many lies listening to you

Shen me shi hou

I will be fine

*****

Dimana aku ??

Sebuah rumah sakit, tubuhku sungguh terasa lelah dan bagian bawah tubuhku pun terasa begitu ngilu

Masih terasa sakit, Jo belum mengizinkan ku untuk bersamanya lagi, aku melihat kesekelilingku, Papa duduk di kursi dekatku, ia tersenyum melihat-ku yang baru saja siuman, aku tersenyum membalas senyumannya itu.

Aku melirik kearah pintu saat seseorang membuka pintu kamar-ku, terdengar sebuah suara .. sayup ..

Suara kecil itu membuat tubuhku yang begitu lelah ini terasa begitu ringan

Sebuah suara tangisan, seorang perawat membawa bayi itu kedekatku yang masih terbaring lemah, aku melirik kearah Papa yang berada di dekat-ku, ia tersenyum melihat-ku dan berjalan mendekat, susetr itu membiarkan-ku mengendong bayi itu, bayi mungil yang sangat lucu ..

Andai aku selalu mengatakan tidak untuk merawatnya maka ia tidak akan pernah hidup

Andai Papa tidak menyelamatkan-ku waktu itu, membuatku menceritakan segalanya, aku tak akan melihat anak-ku yang begitu lucu ini sekarang.

Aku melihat tangisannya yang mulai berhenti, sebuah senyuman kecil mengembang di wajah beyi kecil itu, aku melihat dalam senyumannya, senyuman Jo

Ini anak kita ..

Judul: Tante Rita, Ibu Kostku Yang Seksi

Author : bigcock99 , Category: Setengah Baya

Sebelumnya saya kost diMalang dan karena ribut dengan salah satu anak kost di sana, saya coba cari tempat kost lain. Rumah kost baru ini saya ketahui dari salah seorang teman yang masih saudara sepupu ibu kost saya. Waktu pertama kali saya datang, ibu kost saya (sebut saja namanya Rita) agak ragu-ragu karena dia sebenarnya berencana untuk menerima wanita. Maklum karena dia hanya tinggal sendiri ditemani seorang pembantu. Untung akhirnya Mbak Rita mau menerima saya karena tahu saya adalah teman dekat saudara sepupunya.

Sebagai gambaran, Mbak Rita tingginya 163 cm dengan wajah yang cantik. Kulitnya putih dan badannya juga sangat seksi dengan ukuran dada yang lebih besar dari umumnya wanita Indonesia. Belum lama saya tinggal di sana saya mulai tahu kalau Mbak Rita dibalik penampilan luarnya yang cukup alim, ternyata mempunyai libido seks yang cukup tinggi. Waktu itu saya sedang di rumah sendiri dan saya suruh pembantu untuk membelikan makanan di luar.

Saya iseng dan masuk ke kamarnya serta membuka lemari pakaiannya. Di lacinya, di bawah tumpukan pakaian dalamnya ternyata terdapat dua buah vibrator yang mungkin sering digunakan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Mbak Rita juga mempunyai beberapa pakaian dalam dan baju tidur yang sangat seksi. Hal ini sebenarnya sudah saya ketahui dengan memperhatikan pakaian-pakaian dalamnya bila dijemur di halaman belakang rumah.

Di rumah pun Mbak Rita cukup bebas, dia hampir tidak pernah menggunakan bra bila di rumah walaupun dia tahu saya ada di rumah. Di balik baju kaos ketat atau baju tidur yang dikenakannya seringkali putingnya terlihat menonjol dan saya sendiri yang kadang-kadang risih untuk melihatnya. Kalau keluar kamar mandi pun Mbak Rita biasanya hanya mengenakan handuk yang tidak terlalu besar dan dililitkan di badannya sehingga kemontokan buah dadanya dan kemulusan pahanya terlihat jelas.

Suatu pagi waktu saya sedang sarapan, Mbak Rita masuk ke ruang makan sehabis melakukan senam aerobik di halaman belakang. Dia mengenakan baju senam berwarna merah muda dengan bahan yang cukup tipis tanpa lapisan dalam lagi. Karena bajunya basah oleh keringat, waktu dia masuk saya cukup kaget, karena buah dada dan putingnya terlihat jelas sekali di balik baju senamnya. Saya yakin dia sadar akan hal itu dan sengaja mengenakan baju senam itu untuk menggoda saya. Waktu saya menoleh ke dadanya, Mbak Rita langsung bertanya,

“Hayo, lihat apa kamu ?”.

Saya sendiri hanya tersenyum dan berkata, “Nggak lihat apa-apa kok, lagian Mbak pakai baju kok transparan betul sih ?”.

Mbak Rita balik bertanya, “Memangnya kamu nggak suka lihat yang begini ?”.

“Ya suka dong Mbak, namanya juga laki-laki”.

Waktu itu saya malu sekali dan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan ke hal lainnya. Tetapi sepanjang sarapan harus diakui kalau saya berkali-kali mencoba untuk mencuri pandang ke arah dadanya.

Malam harinya ketika saya sedang nonton TV di ruang depan Mbak Rita menghampiri saya dengan menggunakan baju tidurnya yang berwarna putih. Dia ikut nonton TV, dan selang beberapa lama dia berkata kepada saya.

“Wan, aku pegal-pegal semua nih badannya, mungkin karena aerobik tadi pagi. Bantu pijitin Mbak yah ?”.

Dengan spontan saya berkata, “Boleh Mbak. Di mana ?”

“Ke kamar Mbak aja deh”, katanya.

Sebenarnya saya sudah menunggu kesempatan ini sejak lama, tetapi memang karena saya orangnya pemalu, saya tidak pernah berani untuk mencoba-coba mengutarakan hal ini ke Mbak Rita. Saya mengikuti Mbak Rita ke kamarnya dan dia menyuruh saya duduk di tempat tidurnya. Mbak Rita kemudian mengambil baby oil dari laci sebelah tempat tidurnya dan memberikannya ke saya. Saya bilang kalau bajunya nanti kotor bila pakai baby oil.

Tujuan saya sebenarnya adalah supaya Mbak Rita mau melepaskan baju tidurnya. Mbak Rita langsung mengangkat baju tidurnya di hadapan saya dan yang mengejutkan, dia hanya mengenakan celana dalam G-string berwarna putih yang tidak cukup untuk menutupi bulu kemaluannya yang lebat. Di kiri kanan celananya masih tampak bulu kemaluannya, Tubuhnya indah sekali, payudaranya besar dengan bentuk yang indah dan puting yang berwarna coklat kemerahan.

“Bagaimana Wan, menurut kamu badanku, bagus ?”.

Sayapun mengangguk sambil menelan ludah. Baru pertama kali ini saya melihat tubuh wanita dalam keadaan yang hampir telanjang bulat. Biasanya saya hanya melihat di film atau majalah saja (waktu itu belum ada internet seperti sekarang). Mbak Rita kemudian merebahkan badannya dan saya mulai memijitnya dari belakang setelah terlebih dulu mengoleskan baby oil. Luar biasa, kulitnya mulus sekali dan sekujur tubuhnya ditumbuhi oleh bulu-bulu halus yang menambah keseksiannya.

Pada waktu saya memijit kaki dan pahanya, Mbak Rita membuka kakinya lebih lebar, dan saya dapat melihat kemaluannya yang tercetak jelas pada celana dalamnya yang kecil itu. Belum lagi bulu kemaluannya yang keluar dan menambah indah pemandangan itu. Saya terus memijiti paha bagian dalamnya dan saya sengaja untuk tidak sampai ke selangkangannya agar dia terangsang secara perlahan-lahan.

Mbak Rita mengeluarkan lenguhan-lenguhan lembut dan saya tahu dia menikmati pijitan saya. Kakinya juga dibuka lebih lebar dan mengharapkan tangan saya menyentuh kemaluannya. Tetap saja saya sengaja untuk tidak menyentuh kemaluannya. Dari kemaluannya sudah mulai keluar sedikit cairan yang membasahi celana dalamnya. Saya tahu kalau dia sudah terangsang.

Saya minta Mbak Rita membalikkan badannya. Dia langsung menurut dan saya usapkan baby oil di dada dan perutnya. Payudaranya cukup kenyal dan waktu saya memainkan jari-jari saya di putingnya dia menutup matanya dan terlihat benar-benar menikmati apa yang saya lakukan.

Kemudian Mbak Rita bangun dan meminta saya membuka pakaian saya. Dia berkata kalau dia sudah benar-benar terangsang dan sejak kematian suaminya dia tidak pernah tidur dengan seorang pria pun. Aku minta Mbak Rita yang melucuti pakaianku. Dengan cepat Mbak Rita membuka baju kaos yang aku kenakan dan kemudian celana pendek dan celana dalamku.

“Kamu juga udah terangsang yah Wan ?”.

“Iya dong Mbak, dari tadi juga udah berdiri begini”, kataku sambil tertawa.

Mbak Rita kemudian memegang kemaluanku dan mulai melakukan oral seks kepadaku. Terus terang itu adalah pertama kali seorang perempuan melakukan hal itu kepada saya. Dulu saya pernah punya pacar tapi kami tidak pernah melakukan hal-hal sejauh itu. Paling-paling juga kami hanya berpegangan tangan dan berciuman. Mbak Rita ternyata ahli sekali dan saya merasakan kenikmatan yang luar biasa.

Selang beberapa lama kemudian, Mbak Rita melepaskan celana dalamnya dan menyuruhku tiduran di ranjang dan dia naik di atasku. Kakinya dibuka lebar di atas kepalaku sambil lidahnya menjilati kemaluanku. Pinggulnya diturunkan dan kemaluannya hanya beberapa senti di atas mukaku. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Langsung saja aku menjilati kemaluan dan clitorisnya dari bawah. Ternyata rasanya tidak jijik seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Cairannya sedikit asin dan tidak berbau. Aku tahu kalau dari kesehariannya yang resik, Mbak Rita pasti juga rajin menjaga kebersihan kemaluannya.

Aku terus menjilati kemaluannya dan mulai memberanikan diri menjilati bagian dalamnya dengan membuka kemaluannya dengan jariku lebih lebar. Mbak Rita sangat menikmati dan dia juga menjilati kemaluanku dengan lebih ganas lagi. Kemudian dia bangun dan memintaku memasukkan kemaluanku ke dalam punyanya.

“Ayo dong Wan, aku sudah nggak tahan lagi nih”.

Aku bilang kalau aku belum pernah melakukan hal ini dan Mbak Rita berkata, “Kamu tiduran aja, nanti Mbak akan mengajari kamu.”

Kemudian Mbak Rita duduk di atasku dan dengan perlahan memasukkan kemaluanku. Rasanya nikmat sekali dan Mbak Rita mulai menggoyangkan pinggulnya. Aku memejamkan mataku dan berpikir kalau beginilah rasanya berhubungan dengan wanita. Kalau sebelumnya hanya imajinasi semata, sekarang aku merasakan bagaimana nikmatnya berhubungan dengan wanita secantik Mbak Rita.

Malam itu kami berhubungan badan dua kali. Setelah kami selesai yang pertama, Mbak Rita mengajak saya mandi dan kemudian mengganti sprei dengan yang baru karena kotor oleh keringat dan baby oil yang digunakan tadi. Kemudian kita lanjut lagi dan mencoba melakukan gaya-gaya lainnya.

Setelah kejadian malam itu, Mbak Rita sering mengajak saya tidur di kamarnya dan hubungan seks di antara kami menjadi hal yang rutin kami lakukan. Mbak Rita juga suka mengajak saya melakukannya di seluruh bagian rumah, dari ruang tamu sampai halaman belakang. Biasanya bila melakukan di luar kamar, kami melakukannya malam hari setelah pembantu tidur.

Pernah sekali pembantu rumah memergoki kami di ruang tengah waktu dia mau mengambil minuman di dapur. Cepat-cepat dia memalingkan muka dan balik ke kamarnya. Setelah itu dia tidak pernah lagi keluar malam-malam dan itu membuat kami lebih bebas melakukannya di rumah. Sewaktu pembantu mudik pada saat lebaran kami menghabiskan waktu di rumah tanpa mengenakan pakaian selembarpun.

Saya juga mulai sering pergi dengan Mbak Rita dan waktu itu hubungan kami sudah layaknya seperti orang pacaran. Diapun sudah tidak mau lagi disapa dengan Mbak dan dia minta saya memanggilnya dengan nama depannya sendiri. Dia juga tidak mau lagi menerima uang kost dari saya dan uang kiriman orang tua dapat saya gunakan untuk bepergian dengan dia.

Satu hal yang saya ingin ceritakan, dia jarang sekali mengenakan celana dalam bila pergi keluar rumah, kecuali kalau ke kantor. Pernah juga beberapa kali saya minta dia ke kantor dengan tidak mengenakan celana dalam di balik roknya dan dia menuruti. Kalau saja karyawan laki-laki di bank tempat dia bekerja tahu kalau di balik roknya yang lumayan pendek itu tidak ada apa-apa lagi…

Kalau bra, biasanya dia kenakan karena bila tidak akan terlihat jelas dan dia risih bila banyak mata lelaki yang memandang ke arah dadanya. Sampe akhirnya tante rita menikah dan kami masih sering ML cuman ga sesering dulu cuman pas suaminya lagi pergi keluar kota dan kita ngelakuinnya di hotel….hmm enak bangett loh

Judul: Dini dan Cacatfisik

Author : cacatfisik , Category: Umum

Namaku Dini (ini bukan nama asliku), umurku 23 aku masih single. Aku tinggal di Jakarta. Aku bekerja pada salah satu Bank Swasta di Jakarta dalam jajaran staf direksi. Nah, pengalamanku kali ini berhubungan dengan Cyberpace . Hal ini semuanya berawal pada suatu malam ketika hujan mengguyur kota Jakarta dengan derasnya, dan aku dihinggapi rasa sepi luar biasa, entah mengapa malam itu aku tak bisa memejamkan mataku.

Aku masih ingat, hari itu hari Jumat malam, aku tidak tahu apa yang mesti kulakukan untuk mengisi malam ini dan besoknya buat weekend, biasanya aku melewatkan waktu dengan beredar ke Café atau diskotik di Daerah Kota bersama sahabatku Lisa, dan beberapa teman gaulku lainnya, tetapi malam itu tiba-tiba aku malas untuk pergi ke mana-mana, lagipula hujan belum berhenti, sedangkan Lisa sahabatku sedang berada di Semarang untuk urusan bisnisnya selama lima hari.

Aku lalu memutuskan untuk membuat susu panas, chees toast dengan scramble egg di dapur, sementara aku memasak, beberapa temanku menelepon mengajak pergi, tetapi aku menolaknya, aku tidak berminat mengikuti ajakan mereka, aku memutuskan untuk berdiam diri di rumah saja malam itu.

Setelah semua yang kumasak sudah jadi, aku membawanya ke ruang tengah di lantai atas rumahku, lalu aku mulai meng-connect PC-ku dengan internet provider. Mulailah aku menjelajahi dunia maya, ditemani segelas susu panas dan teman-temannya tadi. Aku membuka mIRC, dan mencoba chatting dengan beberapa netter lain, tak lama kemudian aku akhirnya online dengan beberapa cowok, satu diantaranya menarik perhatianku, dia memakai nickname [cacatfisik] yang kebetulan sama dengan keadaan diluar.

Dia bilang, dia berumur 21 tahun, sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Depok, walaupun terus terang aku tidak mempercayai sepenuhnya, tetapi aku menanggapinya juga, karena dia lebih sopan dibandingkan yang lain, dan dari segi bahasa yang digunakan juga menunjukkan dia (mungkin) seseorang yang ‘berkelas’, hal itu membuatku untuk men-disconnect cowok-cowok lainnya, dan hanya melayani chat dengan si [cacatfisik] saja.

Ternyata [cacatfisik] orang yang menyenangkan juga( cie elah promosiii), dan lumayan berwawasan luas padahal dia masih kuliah, segala hal yang aku omongkan ‘nyambung’ , hingga kadang secara tidak sadar aku senyum-senyum sendiri di depan layar monitor PC-ku, mirip orang yang tidak waras. Lumayan lama aku chatting dengannya hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4 dinihari, gelas susu panas tadi sudah lama kosong, begitu juga toast yang sudah tandas duluan, lalu akupun mulai merasakan mataku berat dan badanku penat, akhirnya setelah memutuskan untuk bertemu dengannya sore nanti, aku segera beranjak tidur.

Aku tidur nyenyak sekali, rupanya aku benar-benar kelelahan setelah semalaman chatting dengan [cacatfisik]. Aku terbangun oleh dering telepon yang terletak di meja kecil tepat di samping tempat tidurku. Dengan malas kuraih gagang telepon yang berbentuk boneka Garfield itu, seseorang menyapaku di ujung sana.

“Din, elo masih tidur gini hari?!” ternyata Lisa.

“Mmm.. elo di mana Lis..?” suaraku terdengar serak karena aku memang masih ngantuk berat.

“Masih di rumah Jakarta, ntar gue pulang dua hari lagi kok, udah dulu yah.. met tidur lagi deh.. hi.. hi.. hi… ‘Klik!” telepon ditutup.

“Sableng..” kataku dalam hati. Mataku melirik ke arah weker, “Gila, udah jam setengah satu siang..”

Dengan malas aku turun dari tempat tidurku, lalu kubuka tirai jendela kamarku, di luar hari sangat terang, matahari bersinar dengan cerahnya, kulihat ke bawah salah satu pembantuku yang masih muda, si Imas sedang menyiram tanaman, aku menikmati sebentar udara luar yang masuk ke kamarku, lalu aku mulai melakukan senam-senam kecil, meregangkan otot-otot tubuhku yang terasa kaku, setelah sedikit berkeringat, aku turun ke lantai bawah.

“Selamat siang Neng Dini, mau makan apa neng..?” sapa pembantuku yang lain lagi.

“Tolong bikinin telur dadar pakai kornet ya Bik,” pintaku.

“Baik Neng..”

Aku lalu membuka kulkas, kutuang segelas orange juice dingin dalam gelas dan meneguknya habis, lalu tak lama kemudian aku makan dengan telur dadar kornet dan sup panas sambil membaca Kompas edisi hari itu. Beberapa berita di koran membuatku berharap agar tidak ada lagi fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar, karena kalau hal itu terjadi maka itu bakalan menjadi suatu pekerjaan lagi bagiku di kantor.

Selesai makan aku beranjak lagi ke atas, lalu masuk kamarku lagi, kuambil bathrobe dan towel, lalu aku mulai mandi. Entah mengapa, tiba-tiba dalam kamar mandi aku mencoba membayangkan si [cacatfisik] tadi, walaupun semalam aku sudah melihat fotonya yang dikirimkan padaku, dimana dia terlihat lumayan tampan, tetapi karena aku belum melihatnya secara keseluruhan (karena fotonya hanya setengah badan) maka dalam bayanganku dia bertubuh tegap, dan atletis. Lalu dalam keadaan telanjang bulat di dalam kamar mandi, aku mulai merangsang diriku sendiri.

Tanpa sadar tanganku mulai menggerayangi bagian-bagian sensitif sekujur tubuhku. Anganku melayang membayangkan seolah cowok itu datang memelukku, lalu menciumi tubuhku dengan mesra, hingga kurasakan tubuhku merinding, lambat namun pasti kurasakan tangannya meremas dadaku yang kenyal, jemarinya memelintir puting-putingnya dengan lembut, hingga kedua putingku mengacung keras.

Aku mulai mengejang dan dia mulai berbuat lebih jauh lagi, tangannya menelusup di selangkanganku, lalu membelai lembut gumpalan daging lunak penuh bulu, menyibakkannya lalu menelusupkan tiga jarinya, menggosok dan mengucek-ngucek klitoris dalam liang kewanitaanku hingga aku makin mendesah-desah penuh kenikmatan, tubuhku mulai berkeringat sementara rongga bagian dalam kewanitaanku mulai licin, basah dan berdenyut-denyut hangat, aku makin tak tahan lagi.

Sesaat kemudian aku segera membuka laci toilet, dan kuambil vibrator berbentuk kemaluan laki-laki berulir dengan panjang sekitar 30 cm, yang digerakkan tenaga baterai, dan segera menghidupkannya. Batangan plastik itu bergerak-gerak dan bergetar perlahan, aku lalu memasukkannya senti demi senti dalam lubang kewanitaanku dan..,

“Srett.. srett..!” kubayangkan cowok itu menghunjamkan batang kejantanannya menembus dalam-dalam lubang kewanitaanku menyungkal hingga ke pangkalnya, sampai aku merasakan geli namun nikmat luar biasa, akibat gesekan dinding-dinding lubang kewanitaanku dengan permukaannya yang berulir. Kurasakan hawa hangat mulai menjalari seluruh saraf tubuhku, berpusat dari pangkal selangkanganku.

Mulailah aku mengocok-ngocokkan batang bergetar itu keluar masuk liang kewanitaanku, hingga batang itu berlumuran lendir bening hangat kental yang berbau khas, aku sendiri makin mengerang-erang pelan, keringatku makin banyak.

“Ohhh.. mmmhhh.. sshhh.. aahh.. ahhh.. ouwfouwww.. hhmmmhh..” Akhirnya setelah berulang kali batang itu keluar masuk dalam liang kewanitaanku, kurasakan sesuatu mendesak dari dalam tubuhku, seakan-akan ada sesuatu yang akan meledak, aku mencoba bertahan dan tanganku makin menggila mengucek-ucek liang kewanitaanku sampai-sampai sebagian lendir hangatnya meleleh, berleleran di antara paha dan pantatku. Hingga akhirnya aku tak bisa lagi menahannya dan..,

“Auuhhh! oohhh! aahh! ouww! hehhhsshh!” maka jebollah pertahananku, kurasakan sesuatu meledak dari lubang kewanitaanku, begitu nikmat menjalari seluruh saraf tubuhku, hingga kurasakan badanku melayang ringan dan seakan-akan seluruh persendian tubuhku berlolosan. Tubuhku bergetar hebat, dan mataku terpejam erat, sedang nafasku terengah-engah menikmati sensasi luar biasa. Aku mencapai klimaks.

Dalam keheningan kamar mandiku, aku bermasturbasi gara-gara membayangkan bersetubuh dengan seseorang yang aku sama sekali belum pernah ketemu, setelah nafasku teratur, aku menyeka keringat tubuhku dengan handuk, kusimpan lagi vibrator berulir yang telah ‘berjasa’ itu setelah sebelumnya mencucinya bersih-bersih, dan akhirnya aku mulai benar-benar mandi. Kurasakan kesegaran luar biasa saat air hangat mengguyur tubuhku dari shower.

Tak lama aku sudah selesai berdandan. Aku merasa seksi sekali hari itu, kukenakan hipster hitam dengan tank top dan cardigan-nya, sengaja aku hanya memoles sedikit make-up pada wajahku, setelah menyemprotkan Aqua Di Gio pada tubuhku, aku segera menyambar tas tangan Prada dan kunci kontak Honda Estillo hitamku, lalu turun ke bawah.

“Mau pergi Neng?” tanya pembantuku yang sudah agak tua.

“Iya Bi, tolong si Imas suruh bukain pintu garasi!” perintahku.

“Jaga rumah baik-baik ya Bik, kunci semua pintu dan jendela, kalau ada orang yang nggak dikenal, jangan biarkan masuk..” sambungku lagi.

Aku selalu mengingatkan pembantuku dalam hal keamanan, karena aku tinggal sendirian di rumah, dan hanya ditemani mereka berdua saja.

Kemudian aku sudah meluncur ke arah Pondok Indah, matahari sudah mulai condong ke Barat, aku ingin jalan-jalan sebentar cuci mata di PIM II, melewatkan waktu sebentar sebelum jam 5 sore, dimana aku ada janji dengan si [cacatfisik] nanti. Aku melihat baju-baju yang ada di gerai Metro, coba-coba beberapa potong, dan akhirnya tanpa kurencanakan aku membeli dua potong pakaian Invio, dua botol kecil nail enamel dan satu clear mascara. Aku selalu saja tak bisa menahan nafsu belanjaku apabila sedang berjalan-jalan.

Aku bergegas pergi saat kulihat arloji di pergelangan tanganku menunjukkan pukul lima kurang seperempat. Aku menyempatkan untuk menghubungi nomor HP si [cacatfisik] dengan telepon wartel, sengaja aku tidak menghubunginya via HP-ku, karena aku tidak ingin dia mengetahui nomor HP-ku (walaupun akhirnya cacatfisik(gue) juga tau hehhe). Dia mengatakan sudah berada di Café itu menungguku, memberitahuku warna bajunya dan tempat duduknya, akupun mengatakan warna baju dan ciri-ciriku padanya.

Lalu aku berjalan menuju Café yang ada di dekat pintu masuk PIM II, dan segera menemukannya duduk sendirian. Aku lalu berkenalan dengannya, dan mengambil tempat duduk di hadapannya, lalu beberapa saat kemudian aku sudah terlibat obrolan ringan dengannya, dan aku tidak memerlukan waktu yang lama untuk mengetahuinya bahwa dia tidak berbeda dari bayanganku, dan tidak berbeda pula dari semua hal yang dia telah katakan semalam dalam chatting. Aku menilainya sebagai pria yang tampan, dan wajahnya lumayan bersih, dan mempunyai sex appeal yang tinggi, untuk bisa memuaskanku

Aku benar-benar senang dan bahagia,. Hingga kira-kira setelah satu setengah jam aku menghabiskan waktuku dengannya, aku mengajaknya ke hotel tempat aku biasa check in di bilangan Depok…

Sampai di kamar, dia duduk duluan di kasurnya yang lumayan besar. Saya jongkok di depannya dan mulai mencium bibirnya lagi. Kali ini tanganku mulai berani memegang penisnya yang berukuran 17cm – 18 cm. Untuk ukuran tubuhnya yang tinggi kurus penisnya termasuk besar dan pas sekali.

Tiba-tiba dia mendorongku menghentikan ciuman dan berbisik, ” Din…, gw, paling jauh cuma ciuman”. ( speak bego )

Dengan kaget saya langsung bilang, “Ya sudah deh …, tidak usah saja ginian”.

Dengan cepet dia memotong omonganku, “Bukan gitu Din.., Maksud gw…, ya pelan-pelan saja, gw juga tidak mau loe ngira gw beginian sama semua cewek”.

.

“sialan loe!”, katanku ikutan ketawa kecil.

Tidak berapa lama, dia mulai mencium ku. Setelah beberapa menit dia buka bajuku. Tinggal BH ku yang berwarna biru muda. Tanpa melepas BH-ku, payudaraku diremas-remas dan mulai saya pindah ciumin dan mainin kedua biji pelirnya

“Loe tiduran saja Din”, kata nya sambil berdiri dan membuka baju dan celanaku. Dengan perlahan saya tarik ke bawah celana dalamku bulu vaginaku tipis dan lurus. dia tidak begitu suka vagina yang berbulu lebat. Mulailah dia jilati vagina saya sambil dia masukin lidahnya ke dalam vaginaku akupun diam saja sambil sedikit bergoyang.

Setelah beberapa menit aku sudah basah dan dia juga sudah tidak tahan dari tadi cuma tegang saja. Saya ciumi pelan pusarnya naik ke payudaranya terus leher dan melumat bibirnya. Sambil berciuman saya mencoba memasukkan penisnya ke vaginaku. Pertama sih pelan eh tahunya tidak masuk-masuk. Penisnya terlalu besar, dan lumayan panjang. aku mencoba lagi menusukkan penisnya, eh tetap saja tidak masuk.

“Benar juga nih anak gede banget”, dalam hatiku.

Sambil menciumnya, dia berbisik, “Saya coba agak keras ya Din?”.

Tanpa menunggu jawaban langsung dia coba menerobos lagi dengan lebih keras. Tetap saja tidak bisa.

Akhirnya setelah kira-kira 10 menit tembus juga pertahananku. aku tampak kesakitan, tapi lama-lama aku mulai mendesah-deash kecil keenakan. Tangan kanannya menutup mulutku supaya aku tidak mendesah terlalu keras. penisnya makin menggila mengucek-ucek liang kewanitaanku sampai-sampai sebagian lendir hangatku meleleh, berleleran di antara paha dan pantatku. Hingga akhirnya aku tak bisa lagi menahannya dan.., “Auuhhh! oohhh! aahh! ouww! hehhhsshh!” maka jebollah pertahananku,

saya cuma bisa bertahan 20 menit.

“gw mau keluar nih …” katanya dengan napas yang tidak teratur.

“Mau Di luar atau di dalam din ??!”, tanyanya cepat.

“di dalam saja ” kataku

Tidak berapa lama dia keluarin spermanya di vaginaku. aku langsung mengambil tissue dan membersihkan spermanya divaginaku. dia masih telentang diam di tempat tidur. dan kami pun istirahat selama 10 menit dan mengulanginya sampai waktu check out hampir tiba.. dan akupun memberikan no hp ku kepada dia agar dia bisa memuaskanku selagi aku kesepian.

Judul: Nanda dan Nikmat Tubuhnya

Author : blink182 , Category: Daun Muda

Terasa terik menyengat sinar mentari disiang ini, laju sepeda motor matic-ku pun melaju dengan kencangnya. Sekali-kali mataku melirik spidometer tangki bensinku yang sebentar lagi akan terisi penuh oleh bensin di dekat renon, denpasar.

Saat itu ku kenakan jaket kesayangan ku merk At**** yg merupakan brain terkenal band kesayanganku ”Blink 182” begitu pula sepatuku ber merk Mac**** yg sama juga terkenalnya. Terlihat sosok gadis belia seumuranku 2 tahun yang lalu saat turun dari motor untuk mengantre, dan sekarang saya sendiri kini menginjak umur 18 tahun smester 2 di PTN fave Bali. Terlihat putih mulus kulitnya, begitu juga pakiannya girlie banget tak luput wajahnya yang menawan, membuatku tak karuan tak sengaja dipandang olehnya. Rasa grogi menyertaiku ketekia menyapa dengan kata

” hai!, sndiri ya.. jaket km keren, beli dmn? gua nyari kyk ntu kok gak nemu-nemu ya?”, katanya rada nyeroscos.

”hei, gw bli di b********** kmaren stoknya tinggal ini, hehe..kalo mau ntr bisa dibantu kok nyarina! hahaha..”,

sahut gw dengan deg degan. Maklum lah gw berparas biasa saja, namun banyak tman sma bilang kalo aku ganteng apalagi aku juga anak band. Tmn-tmn biasa memanggil saya Reno

”okey, thx ya..tapi gw cepet-cepet neh..”, sembari ia membalas

dan ia pergi begitu saja..

sial, hilang gitu aja tuh ikan gua, fikirku.

Sampai juga dirumah, dan kumelepas sapatu dan menaruh tasku yg berisi laptop yg selalu kubawa.

” Bluggghhh….. Fiuhh…!!”

terdegar suara seperti itu mungkin. Kulihat hp menunjukan pukul 4 sore, dan 3 pesan masuk dan semuanya dai tmn ku sma yang mengatakan akan main kerumaku yang dulunya tempat tangkringan anak-anak. kulempar hp tak peduli bgtu saja setelah membalas sms tersebut.

Jam telah menunjukan pukul 8 malam, setelah badanku harum dan perutku terisi penuh oleh lauk yg dimasakan mama, akhirnya tmanku si dio datang. Kedatanganya kusambut dgn memukul perutnya yang begitu besar,

”hey Jlek..pa kbr?”, lontar pertanyaan dari mulutnya

”haha.,,dasar gendut, baek..Cuma stres ama kuliahan neh! ntah gimana hasil uas kmaren blom jelas”, sahutku dengan nyroscossnya,,

Kita pun mengobrol panjang lebar sampe akhirnya dia pergi dan menitipkan sebuah nomor telepon temannya yang bernama Nanda. Dio sempet bercerita sedikit tentang Nanda yang berawakan sexy, putih, menggairahkan. langsung kubayangkan bagaimana jadinya ketika memerhatikan nomor itu.

Kumulai dari sebuah missed call yang kucoba ke nomernya, dan trnya ta, Greath!! nyambung. Alhirnya kuberanikan diriku mengirimkan sms ke dia.

”hai, Nanda ya? lam knal. reno”, pesan ku terkirim ternyata sangat kilat, tumben bgt nie operator gak sinting ”pikrku”

”hey, iya ini Nanda, lam knal. anak mna? Btw dpt nomerku drmn?” balasnya cukup lama, namun bergeas ku balas

”anak *******, dari Deo! hehe..”

sms kami lakukan hingga pukul 12 malam, ntah apa sja kami bicarakan. Sampai akhirnya dia menelponku. Terdengar suaranya yang ramah, rame, asik. Terlihat dipembicaraan kita pertama sangatlah akur dan nyambung, sehingga terbesit rasa yang tak biasa kurasakan. Topic demi topic pembicaraan terlontarkan hingga jam menunjukan 2 pagi, namun karena keasikan pembicaraan terus dilanjutkan. Sampai akhirnya sebuah topic tentang seks kita bicarakan, dan tercium bau kalau Nanda suka melakukan hubungan seksual dengan pacar sebelumnya, dan kitapun saling bertukar pengalaman kita masing-masing. Dan tersirat kata dari bibirnya

”main donk kesini, qt jalan kek ato gmn, mau?” pinta nanda

“okey, maybe lusa aja ya, skalian maen gitu ke rumah kakak spupu”, sahutku

”Ok, asik…udah ya, Nanda bobo dlu, Muacchhh” katanya langsung menutup telepon, dan kurasakan ada sambaran dengan kecupan dari jarak jauh tersebut.

Singakat waktu, hari itupun tiba. Ku pacu matic ku dengan rasa penasaran dan deg-degan yang selalu menghantui. Memang sulit mencari tempatnya kos, sampai aku memutar-mutar 3 kali. ”Damn!” fikirku, dan akhirnya ketemu juga nomer rumah kosnya. Kutelpon dia dari depan kosnya. Tak lam kutunggu keluarlah sesosok wnita cantik, putih bersih, bertoked kencang yang kelihatan dari kaosnya yang berwarna putih, sambil membawa handuk kecil mengusap-usapkan rambutnya yang terlihat sehabis keramas.

”hey, Reno? ayo masuk”, ajaknya

”iya, ok-ok”

sesampainya didalam rumah kos, kita berbincang ria diberan kosny yang pas banget ada sofa and mejanya. Lalu sebuah minuman botol menghampiriku. ”lega….” kurasa….hehe.

”eh no bole liat kamar kamu gak nda?”, pintaku

”eh, masuk aja kali..biasain aj, sory berantakan”

sudut demi sudut kupandangi, ternyata kamar yang lumayan untuk anak putri itu terdapat sbuah Tv, lemari, kasur, kipas angin dan WC didalam, dan kulihat pula beberapa pakaiannya yag dijemur, ”huhuh gila, g-string man!!!” fikirku..

sengaja dia rebahkan dirinya dikasur sembari menonton acara tv anak muda, dan kudekati dia. Ku duduk disampingnya dan menghadap ke tv. Sekali-kali kupandangi Nanda yang saat itu mngenakan kaos putih ketatnya, celana pendek diatas lutut, erlihat juga bra nya berwarna putih samar-samar.

”Nda, lu cantik ya, manis, No jd gmes ma km” sembari ku mencubut pipinya,

”aah….paan sih, pake nyubit segala, thx buat pujiannya”, sahutnya

Kurebahkan badanku sampingnya, dan terlihat dia enjoy aja dengan posisi itu. Lalu kita bercanda ria hingga sore menjelang. Kuberanikan diriku mendekatinya ebih dekat lagi, kucoba peluk dia. ”great!!”, dia tidak menolak sedikitpun, dan kuangkat dagunya, kulumat dengan lembut bibirnya yang sexy.

”mmmmMMmmphh……sluRRpppsssss….MMmmmpphh. .” terdengar suara lumatan kita berdua beradu saat itu. Kuberanikan diri untuk merangsangnya, kumulai dari turun kelehrnya, kuliat dia menggelinjang nikmat dengan perlakuanku yang serakah menjilati lehernya. Terkadang kusempatkan diri untuk menjilati telinganya”

”Aarrrghhh…..ssssshhh….OOOuuurrgghh…Noooo… ..eeemmpph…”, desahnya yang terdengar ditelingaku, takkusangka tanganya telah menyusup masuk kedalam celana jeans ku, dan mencoba untuk menggapai kntl ku yang sudah mengeras. Digenggamnya dengan erat kntlku olehnya, terlihat dia meremas-remas kntlku dengan ganasnya.

Tank mau kalah, ak melepas kaosnya yang ketat, kugapai kedua buah toketnya yang WOW…ukurannya menakjubkan bagiku, kutarik bra-nya kebawah lalu kujilat, kuisap, kusedot putingnya yang telah mengeras akibat rangsanganku. Terlihat olehnya tangan kiriku meremas-remas dengan ganasnya, sesekali ku pelintir putingnya. Mulutkupun semakin buas memainkan putingsusunya bergantian.

”oohhh…renn…ttrrrr,,,,,,,,,trrrruuss,,,renn,,, oh,….enak bgt ren……

udah lammm…aa…aku gak ngerasain belaian …….nikmat kayak gini”, eragnya begitu nikmat tersengal-sengal agak terputus-putus,

Kuberanikan diri untuk menulusuri kebawah, dengan tangan kiriku mencoba menyelip kedalam isi cd nya, tanpa halangan berhasil. Terasa bulu-bulu yang tercukur rapi tumbuh sektiar 1-2cm begitu lebat sesuai feel tanganku yang meraba, dan basah V-nya pun ak bisa dibendung lagi. ternyata nanda juga berusaha untuk mengocok Kntl ku yang keras ga karuan.

Mungkin karena sulit, dengan manjanya ia merayuku aga melapas seluruh bajuku. Kontan, ia dengan ganasnya membuka bajuku serta celana ku. Tiada pakian yang masih tersisa ditubuhku yang melekat lagi, lalu kupaksa ia juga membuka bajunya. seblum sempat kumembuka bajunya, tanganya denagn ganas menggapai Kntl ku, mendekatkan wajahnya dengan Kntlku, lalu mulai denagn kecupan mesra yang mengawali sentuhan bibirnya yang begitu sensual dengan Kntlku yang berukuran kurang lebih 18cm.

”sLuurrrppsss….mmmmmpphh…mmmmppHhhhh…….cup pz….slurpz.ss…..”; cuapan mulutnya menjelajahi senti demi senti bagian Kntlku. Tak pernah kurasakan kenikmatan Blowjob yang dilakukan Nanda, sungguh luar biasa. Sekitar 20 menit puas menjilati, mengulum Kntlku dengan ganas, kuberanikan diri untu memutar posisi tubuhnya, dan ku incar selangkangannya.

Kudapati V yang begitu menawan. Terlihat V berwarna pink, dengan kulit V yang masi kencang dan eknyal, beitu juga bulu-bulu yang tercukur rapi menawan. Mata lelaki mana yang tidak ingin mencicipi V yang begitu menawan seperti ini, fikirku sejenak. Langsung lidah ki mulai menjilati V-nya yang begitu sexy, seraya kubuka V-nya dengan jariku.

Mulai kujilati sedikit demi sedikit terjelajahi isi V Nanda. Tercium bau yang khas dari V Nanda.

”Ouuhhh…..mmmpphh…..Renn….Truss Ren…..oowwhh……Enak beibh….Oh…….mmmph”, Terlotar kata-kata sekan di begitu menikmati jilatan lidahku yang bgitu ganas merajahi isi-isinya, seraya ia mengigit bibirnya.

”Ohhhhmm…..Sayyaaaaaannnnnggg…..aaakkuu keluaaaarrrrrrrrr….oh……Mphh”,

Blassss….Orgasme pertama Nanda ditandakan dengan mucratnya cairan-cairan yang terpadu dilihaku. Kuisap-isap kembali hingga tubuhnya yang montok menggelinjang tak karuan.

”Renn…Masuukkkiinn please…aku udah ga tahaannn…mmpphh…”, pintanya lanjut dengan desahan-desahan dasyat

lalu ku mulai melepas V nya, kuancungkan Kntlku ke arah V-ny Nanda. Mulai ku gesek-gesekan Kntlku di antara belahan V-ny. terlihat wajahnya yang bergerak kekanan kiri terangag berat dengan perlakuanku. Kucoba masukkan Kntlku kedalam V-nya, dengan bantuan tanggan lebutnya juga menaikkan bulu-bulu yang menghalangi jalan kami.

”Awww….Ohh…pelan-pelan Ren”, pintanya padaku

Terasa sekali V-nya sangat keset, mungkin karena sudah lama Nanda tidak melakukan hubungan intim. Kudesak, dan agak kupaksa untuk memasukan penisku yang kelihatan sekali urat-utratnya (nanda sempat mengatakan kntlku kayak ktntl org arab, keras, berotot, sawo matang). Kutekan-tekan pinggulku agar lebih leuasa memasuki liang V-ny. BlAsss…. Akhirnya!

”Aww….Oooouugghh…mmmppphh…Oughh…genjot Say…please…”, rintih nanda ketika kntlku baru saja masuk kedala V-ny yang begitu nikmat.

Mulai kugerakan pinggul ke, melaju kedapan kebelakang dengan tempo yang santai, agar qta sama-sama bisa menikmati. Jujur kalau aku lebih suka hardcore, aku suka menggenjot dengan ganas hingga pasanganku tergeletak lemah, bahkan aku pernah mengeluarkan Sprm sendiri dengan tangan gara-gara pasanganku sudah tak kuat dengan gaya Hardcoreku. Kembali dengan permainanku dengan nanda, terasa sekali V nanda seperti memijatku dengan otot-otot V-ny.

”Oh…….beibhb………mmmmpph…aku sayaaaaaaannnggg kkmmuuuu.,,,oohh..”, kudegar keluh nanda yang tak kupedulikan, yang kufikirkan adalah kenikmatan V-nya begitu menakjubkan.

Kini berganti posisi, nanada berada diatasku, menggerakan pantatnya naik turun begitu cepat dari sebelumnya. Masih terasa keset V-nanda dalam genjotan demi genjotan yang kita lalui bersama. tak kusia-siakan kesempatan yang ada, kumainkan kedua buah toketnya yang ranun. Kuremas-remas…kusedot-sedot, hingga kubuat banyak sekali tanda diekitar toketnya. hanya desahan yang kudengar dari bibirnya yang sexy, kulumat kulepas, kulumat, dan kulepas kemabali. Sampai akhirnya badan Nanda mulai bergetar beda dari genjotan-genjotanya.

”ren..aku keluaaaaaaaaarr…..Oowwwhhhhhhh……..aaahhhh… aahhhhhh…..”, nanda kembali orgasme untuk ke dua kalinya saat ini.

Kini kuubah posisi berganti kepososi Doggy, sambil kuremas-remas toketnya yang ranun begitu indah. Belum pernah kuremas toket seranun dan sesexy ini, fikitku. Kupercepat genjotanku maju mundur, terlihat dia makin menjadi-jadi. Nanada meremas tanganku, dicengkramnya hinga ad secuil luka di jariku karena kukunya yang panjang bercatkan hijau. kurasakan sensasi yang sangat-sangat indah, tak pernah kubayangkan aku bisa menikmati tubuh gadis ini.

”ren, aku cape……….bntar lagi aku keluaar:, kata nanda

”sabar sayang dikit lagi ren keluar kok, kit akluarin bareng aj”, sahutku sambil menggenjot tubuhnya

”iya sayang….mmmmphh…ohh…..trus say….ahhhhh…..aaaauugggghh…”, rintihnya kembali.

setelah 30 menit menggenjotnya, mulai kurasakan akan keluarnya Sprm ku.

’beib, aku mau keliar…..oooouuurgghh:, kataku padanya

”aku juga..” sahutnya

”’Crooottttzz,,,,,crottt…crooott,,,,croottt….. croottt….crtooooottt..” banyak kali terasa spermaku muncrat kedalam V-ny.

ternyata beda tipis selisih waktu kita keluar. Kucabut Kntlku dari V-ny. Terlihat Sprm ku mengalir dan menetes dari V-ny. Reflek tangan Nanda mengembat Kntlku langsung di emut-nya menghabisi sisa Sprm yg ada di Kntlku.

”MMmmmmphh..say Sprm km nikmat, walo dapet dkit…..mmphhh” dengan ganasnya menikmati Kntlku.

Terasa kelelahan meyertai kita, bergegas aku kekamar mandinya untuk membersihkan tubuhku, begitu jug adirinya. Tak luput ku mainkan juga toketnya yang indah disana.

”Nan, ga papa aq ngluarin didlm?”, tanyaku

”Gpp Ren, aku ada obat kok, nanti ku minum. Thx ya, aku satang kamu, aku sayang arab-mu, aku mau km ngisi kesepian ku ren”,pintanya

”ok Nda, aku sayang kamu” , jwbku singkat seraya memeluknya lalau mencium keningnya.

setelah kejadian itu, kami masih sering melakukan hubungan.

Judul: Jika waktu bisa kuulang kembali

Author : dexsa , Category: Umum

Kisah ini berawal dari pertemuanku kembali dengan Arti sebut saja namanya begitu karena dia biasa dipanggil Arti, orangnya cukup unik tak begitu cantik memang namun bagi saya saat itu dia begitu luar biasa innerbeauty nya mengalahkan kecantikan fisiknya, dulu aku sangat-sangat menyayanginya, mencintainya sepenuh hati dan berharap dia adalah pasangan hidupku yang sebenarnya hingga aku berani mengambil keputusan untuk berhubungan badan dengannya dengan harapan dia benar-benar terikat oleh hubungan kami ini dan tidak lari dariku.

Namun kenyataan lain walau sudah seringkali kita berhubungan badan tetapi saat dimana aku kehilangan pekerjaan aku kehilangan dia juga, dia pergi tanpa meninggalkan suatu pesan kenapa dia meninggalkanku, hanya satu yang ku ingat saat telpon rumah berdering kala itu “mas kita udahan aja ya”. Kala itu dunia seperti runtuh hancur , sepertinya aku tidak sanggup untuk menghadapi kenyataan itu hingga aku lari ke kota untuk menghilangkan segala kenangan yang pernah kami perbuat.

Hubunganku dengan keluarganya sudah cukup dekat, bapak ibunya telah menyetujui karena itulah aku berani berhubungan badan dengannya, dia tipe cewek yang nafsunya sangat besar, aku sampai dibuat kewalahan akan caranya berhubungan, segala posisi diakuasai namun yang paling aku tidak tahan adalah posisi doggy stylenya yang pasti akan cepat membuat seorang laki-laki orgasme dan payudranya yang bulat besar akan membuat laki-laki berdegup keras jantungnya.

Sampai dikota aku bertemu dengan Dena dia wanita kalangan baik-baik hingga aku tak berani berbuat apa-apa mengingat aku masih sayang sama Arti, namun aku bulatkan tekad untuk melamarnya, dan diterima pacaran kami cukup singkat sekitar 3 bulan berpacaran dan kami langsung menikah, hingga setelah 3 tahun kami dikaruniai anak yang manis, namun dibanding dengan Arti, istriku adalah tipe istri kebanyakan, dia tidak suka gaya-gaya apapun. Baginya berhubungan seks adalah suatu pekerjaan rutin.

Inilah yang membuatku tidak bisa melupakan Arti, istriku tidak pernah mau melakukan hal-hal yang sepebarnya aku inginkan namun menurut dia menjijikkan seperti Oral sex, anal atau doggy style, selama 3 tahum itu setiap berhubungan kami tidak ada variasinya sam sekali yah hanya buk baju celana dan posisi saya diatas yah hanya seperti itu terus.

Namun beberapa waktu yang lalu sebuah sms membuat hidupku berubah total, membuat aku bingung dan sedikit menyesal akan kejadian masa lalu , nomor hp tersebut berasal dari suatu kartu yang namanya tidak ada dalam list phonebook ku, “ ini mas Nanang ya?” isi pesan tersebut, dan kujawab “ siapa neeh , kok tahu nomorku darimana?”, dijawab lagi “ masak lupa sama aku ?“

Hmmmm pikiranku saat itu ini adalah sms iseng saja, dan tidak kujawab lagi sampai keesokan harinya, hingga saat makan siang hpku berbunyi lagi dan sms yang aku kira iseng tadi ternyata dari orang yang selama ini ku impikan, kuinginkan dan kudambakan untuk menjadi pasangan hidupku “ mas ini Arti, mas ada di kantor ya?”, sontak jantungku berdegup kencang, memori yang sudah terhapus kembali lagi seperti baru kemarin terjadi, memori saat dimana kami melakukan hubungan seks di gudang kantor kami dulu terulang, saat dia merelakan keperawanannya kuambil, saat kami berhubungan di pantai , saat kami berhubungan di hotel murah, dan semua memori indah kembali seperti baru terjadi kemarin, langsung tanpa basa-basi kutelepon dia

“ ini Arti ya?”

“ ya mas ini Arti, sekarang mas udah jadi orang gedean ya, dah nggak ingat sama arti lagi”

“ sapa bilang, bukannya yang ngk ingat itu kamu, bukannya dulu kamu yang meninggalkanku?” jawabku

Selama 15 detik dia tak menjawab hingga jawaban yang kuteriam membuatku salah tingkah sendiri

“ abis mas egois seeh, tiap kita ML mas doang yang sampe klimaks sedang aku masih tanggung, mas kurang kuat” jawabnya

“ wew jangan salah saat itu khan karena memang waktu kita sebentar saja bisa ML nya jadi harus buru-buru sampai klimaksnya” jawabku

“ idih emaang masnya loyo seeh”

“ eh jangan salah lho aku sanggup kok bertahan lama, mau buktinya apa ?“

“ok kapan-kapan aku call lagi deh, neeh anakku gi nangis”

Telepon ditutupnya langsung, aku jadi tambah bingung, apa yang telah aku lakukan tadi, bukannya aku adalah tipe orang yang menjunjung kesetiaan, bukannya aku paling benci dengan penghianat cinta atau perselingkuhan, dah ya ampuuun dia tadi menyebutkan anaknya baru menangis, berarti dia sudah punya suami, waduh….

Berabe ini, namun bayangan keindahan dan memori diantara kami membuatku segera menghilangkan kekhawatiran ini. 2 hari berlalu dengan cepatnya dan 2 hari itu pula aku meminta “jatah” pada istriku namun seperti biasa “hanya formalitas saja” yang aku dapatkan tidak ada variasi, tidak ada kenikmatan sepetri jika aku berhubungan dengan Arti, padahal 2 hari tersebut tiap minta jatah aku selalu membayangkan bahwa istriku adalah Arti, namun tetap saja jauh berbeda istriku ini tipe cewek pasif sekali dia hanya buka celana dalam dan masukin penisku ke vaginanya saja dan menyuruhku agar cepat keluar, sepertinya berhubungan badan adalah sebuah penderitaan baginya.

Saat aku dikantor aku berpikir ingin sekali mengulang waktu itu namun bagaimana ya caranya, aku tipe lelaki setia, dan memebenci perselingkuhan karena aku pernah di kecewakan oleh Arti, disisi lain aku menginginkan Arti kembali, tanpa sadar hp kuambil dan kucari nama Anto, sengaja kuberi nama demikian agar istriku tidak curiga kalau-kalau suatu saat dia iseng melihat-lihat isi hp ku, kutekan tombol call dan sambil menunggu aku mempersiapkan kata-kata untuk menghadapinya,

“halllo , selamat siang“ sahut telepon seberang ,

namun waduuh suaranya kok laki-laki jangan-jangan suaminya, namuan karena terlanjur aku pura-pura menanyakan

“ ibu Artinya ada pak, ini dari kantor” jawabku padahal aku hanya mengira-ira saja moga-moga arti adalah wanita karir hingga dia juga bekerja,

“ oh ya bentar ,… ma.. ma … ini ada telepon dari kantor”, waduuuh aku jadi salah tingkah lagi neeh, laki-laki tadi menyebut arti dengan panggilan mama,

“hallo ada apa mas sahutnya”,

” eh enggak gimana kabarmu hari ini” jawabku salah tingkat, “

“eh bentar ya aku agak keluar dulu biar suamiku nggak denger”,

” ya”

“ kenapa mas Nanang nelpon aku, kangen ya?” ledeknya,

” cuman nanya doang kok, emang ngk boleh, eh yang itu tadi suami kamu ya?”

“ iya” jawabnya singkat

“Hmmm sebenarnya aku pengin ketemu dengan kamu namun gimana ya, masing-masing dari kita sudah punya pasangan saya takut nanti terjadi apa-apa” sahutku

“ idih emang mau ada kejadian apa kalau kita ketemu , GR neeh mas Nanang nya , emang mau membuktikan ya kalau bisa tahan lama “ candanya

“ nggak kok cuman mau ngajak jalan saja sekedar menceritakan kehidupan kita masing-masing setelah kita berpisah” jawabku

“ hmmm gimana ya bentar ya…”,

” mas… mas ini aku disuruh lembur neeh, mana hari sabtu lagi huh bosku emang kelewatan, gimana neeh mas boleh nggak kalau enggak boleh lembur ya aku jawab neeh, ditunggu ma bosku neeh jawabannya” sayup-sayup kudengar jawaban suaminya,

“ yah ikuti aja deh kemauan bos, ntar daripada ada masalah”

“ mas boleh neeh aku ngelembur, nanti aku calling lagi ya aku mau siap-siap dulu” hp ditutup dan timbul suatu pertanyaan besar dalam hatiku

“ apa dia masih kangen sama aku, atau apalah itu…..”

Aku segera menelepon rumah “ bun aku hari ini nggak pulang ada meeting di puncak, ada client dari semarang yang kesini dan aku harus menemaninya” ,

” ya ati-ti ya pa, jangan lupa oleh-olehnya” jawab istriku singkat

Hmmm lampu hijau neeh…

Sambil menunggu jam 3 ( biasanya kalau sabtu jam kantorku baru boleh pulang) aku siap-siap sambil menunggu dering dari anto eh arti ( he he he )

Jam setengah 3 hpku berdering kulihat dilayar anto memanggil segera saja aku angkat

“ ya ada apa Arti?, mas aku dah ada di Pancoran neeh bisa jemput nggak”

“ eh kamu dah ada disitu ya, ok tunggu bentar akan ku jemput dengan segera”

tanpa berpikri panjang aku segera memangil temanku dan pura pura bilang kalau orang rumah ada yang sakit

“ ton orang rumah ada yang sakit neeh, gantiin bentar ya sampai jam 3, aku mau kabur”

“ ok deh bos, moga2 cepet sembuh deh, emang siapa yang sakit, “

“neneknya “ jawabku singkat.

Aku segera menuju ke parkiran dan segera memacu mobil ku, ngk bagus-bagus amat seeh tapi lumayan untuk pegawai sekelasku, Tarunaku segera meluncur ke pancoran mencari Arti, aku mencoba membayangkan wajahnya seperti apa sekarang, lebih cantik atau karena sudah menikah jadi kurang menarik, sesampainya di pancoran aku lihat sekeliling wah yang mana ya Arti, kocoba telepon sambil melihat kesekeliling siapa yang mengangkat, terlihat wanita dewasa nan ayu mengangkat

“ halo mas , ada dimana”, seketika itu jantungku berdegup keras , aArti berubah menjelma menjadi wanita dewasa yang cantik putih bersih dan membunyai ukuran dada yang terbilang cukup besar, aku ada di jalana neeh pake Taruna biru plat B XXXX X, seketika itu juag dia melihat sekeliling dan melihat aku dalam mobil, langsung dia menghampiri dan masuk ke mobil

“ wew dah jadi orang sukses ya…. Katanya sambil bercanda”,

“ he he biasa aja eh kita mau kemana neeh” tanyaku

“ terserah deh yang penting lembur” jawabnya

Aku segera memacu mobil ke daerah Banten namun sebelumnya kita masuk ke mall untuk membeli persiapan sambil bercanda-canda mengenang masa lalu, kami menceritakan kehidupan masing-masing seteah kami pisahan, setelah berbelanja kami langsung meluncur ke pantai di sana dan segera menyewa kamar disana.

Sesampainya di kamar aku langsung merebahkan badanku di tempat tidu berhadap arti juga mau menemaniku di tempat tidu, namun harapan itu agaknya tertunda karena dia sibuk mencari baju ganti

Ku datangi dia kupeluk dari belakang namun dia menolak dengan halus,

”janganlah mas aku belum siap” katanya

Sambil menunggu aku menyalakan tv dan mencoba mengajak ngobrol tentang maslaah keluarga,

” ya mas dulu aku meninggalkan mas karena kupikir mas tidak akan bisa membahagiakan aku, tidak akan bisa memuaskan aku”, jawabnya setalah kutanya kenapa dia meninggalkanku

“ trus gimana dengan suamimu sekarang?” tanyaku

“ ah ngk usah di bahas, dia orangnya kaku, “,

“kaku kenapa?”

“ hmmmm emang saat menikah hidupku sepertinya akan lebih baik, suamiku termasuk kuat diranjang dan bisa membuatku orgasme berkali-kali dalam semalam, namun semenjak dia menjadi pengurus parpol hal itu tidak pernah aku dapati lagi, dia kaku buru-buru terus hingga kadang aku harus bermasturbasi untuk memuaskan nafsuku”

“ oooo jawabku”

“ itupun belum seberapa, sekarang dia bahkan tidak bisa memuaskan aku sama sekali, kontol suamiku sekarang dah impoten kali, blum apa-apa dah keluar, pernah coba pake obat kuat ya tetep aja loyo, sebel aku jadinya”

“ kok bisa begitu “ sanggahku

“ yah dulu dia nyalon jadi caleg tapi modal kami habis , rumah mobil dan perhiasanku hilang semua , dan dia tidak kepilih jadinya dia stress sendiri”

“ hmmm wah berabe donk si nonok” candaku

“ ya iya lah , lagian semenjak dia ngk kepilih dia depresi akhirnya aku yang harus bekerja, sudah nglamar kesana-kesini ngk di terima, maklum ijazahku hanya D3”

“ lha terus kamu kerja dimana, bukannya tadi siang kamu bilang kalau mau lembur”

“ oh itu, ya aku kerja di kantor K****** di sana , itupun dengan penuh perjuangan” tandasnya

“ perjuangan gimana, aku kok ngk ngerti”

“ya dulu pas wawancara aku gagal, kurayu managernya agar mau menerima aku” ,” dia mau menerima aku asal aku mau melayaninya”

“trus.. trus “ ucapku seakan ingin mengerti kelanjutannya

“ ya sudah siang itu pas wawancara aku mengoral dia dia juga sempat memasukkan penisnya ke nonokku, dan akupun nyampe juga, itung-itung memuaskan nafsuku yang ngk kesampaian pikirku saat itu”

“ waaah beruntung sekali ya managermu” jawaku

“ ya tapi cuman bentar kok, semiggu setelah aku di terima dia dipindah ke Magelang katanya disuruh jadi kepala cabang disana, jadi nafsuku ya … seperti ini deh”

“hmmmmmm… aku paham hal itu sebagai orang normal kita juga butuh seks, dan seks itu nikmat khan, eh tapi kok kamu tau nomorku seeh dari siapa”

“ oh itu bulan lalu aku ketemu sama Rita, dia yang ngasih tahu aku, aku sebenarnya khawatir kalau-kalau nanti kamu marah2 saat ku telepon dan kamu maki2 aku, tapi kenyataannya tidak, aku sangat menyesal meninggalkanmu dulu mas “ jawabnya

“ sudahlah itu tidak perlu dibahas, nanti malah bikin nggak mood lho, ayuk keluar bentar cari makan, laper neeh, di hotel makanannya kurang enak, mana banyak orang lagi nanti kalau ada yang kenal malah berabe kita”

“bentar dulu mas saya mau mandi dan ganti baju dulu, awas jangan ngitip ya”, “ OK” jawabku

Dia segera msuk ke kamar mandi namun pintunya tetap terbuka seolah-olah mengajakku ikut kedalamnya namun aku tetap menjaga agar terkesan aku adalah lelaki yang bisa menahan nafsu, padahal adik kecilku sudah meraung-raung minta keluar.

“mas ..mas ambilkan baju donk di tasku yang warna kuning ya”

“ok” wah kayaknya dia memang sudah siap neeh pikirku, segera ku ambil tasnya dan kucari baju kuning tadi, hmmm pada saat kutarik ternyata ada sesuatu di sana, sebuah benda yang tertutup dengan plastik, coba kulihat dan kuraba

“ ya ampuuun ternyata sampai sebegitunya dia , ternyata dia menyimpan dildo ukuran besar”

“ mas udah belum dingin neeh” katanya

Sesegera aku ke kamar mandi dan menyerahkan bajunya, aku pura-pura berbalik dan memberikan baju kuning tersebut dengan tangan kebelakang supaya dia yakin kalau aku tidak melihatnya

Namun hal yang tak kusangka tapi kuinginkan terjadi juga, dia dari balik kamr mandi memelukku dari belakang dan meminta maaf atas kejadian dulu

“ maafin Arti ya mas dah ninggalin mas” aku segera berbalik untuk membalas pelukannya namun aku kaget karena tidak ada sehelai benangpun yang menutupi orang yang berada dibelakangku tadi

Aku segera saja memeluknya dan menciumnya

“ ngk pa2 kok tapi hari ini aku ingin kau jadi milikku” kataku di telingannya

Bau harum tubuhnya membuatku sangat bergairah apalagi buah dadanya yang cukup besar, sesegera aku menciup dan meremasnya wahh ukuran yang sangat besar dan kenyal lagi

Erangan pun mulai muncul dari mulutnya :stttt ahhh…. Sttt ahh….. mas memang pintar kuhisap pelan pelan putingnya sambil meraba raba memeknya yang sudah basah, entar itu basah karena air mandi atau memang karena sudah terangsang

Ahhh…. Ahhhh. Aaaaaaaah erangnya lagi saat kocoba mengusap-usap memeknya dan memasukkan jariku kesana, basah sekali memeknya dan kayaknya emamng dia tipe yang haus akan seks

Kuajak dia ke tempat tidur untuk menyelesaikan “pekerjaan “ ini, posisi terlentang membuatku tidak bisa menahan lagi segera ku hisap jilati memeknya , dan erangan kuat muncul dari mulutnga “ ayuh mas ayuh mas aku mau nyampe neeh…”

Wah belum apa2 dah mau nyampe dia, segera ku percepat gerakan lidahku di memeknya tanpa kuduga dia memegang kepalaku dengan kuat dan menekankan di memeknya dan “ ahhhhhhhh ….. cairan bening yang cukup banyak keluar dari dalam memeknya

“ aku nyampe mas, kamu pinter sekali” kayanya

Aku tak mau menyia-nyiakan waktu ku ingin segera memasukkan jariku ke memeknya dan membuat dia terangsang lagi, namun dia segera bangun dari tidurnya dan berkata

“ gantian mas aku yang nyervis’ dan dengan cekatannya dia membuka semua baju dan celanaku

“ idih punya mas tambah gede aja, perasaan dulu ngk segede ini deh” candanya

Tanpa di komando dia segera mengocok dan menjilat jilat kepala penisku,

“ ahhh sttttts nikmat ti, sttttt …. Enaaak “ erangku, sepertinya dia tahu kelamahanku, dan aku merasa melayang dibuatnya kenikmatan yang tak pernah aku peroleh dari istriku

Dia mulai lagi dengan mengocok penisku, mempermainkan keduabuah kelerengku di hisap-hisapnya sampai-sampai aku mau keluar, segera ku tarik badannya dan ku ciumi susunya yang kenyal tadi, aku tak mau “kalah” malam ini,.

Kelihatan sekali gairahnya kembali memuncak, desahan desahan yang membangkitkan birahi kembali terdengar kali ini tangan kiriku telah masuk ke memeknya dan tangan kananku mendekap erat tubuhnya.

“ mas aku dah nggak tahan , pengin ngerasain punya mas, ayu mas masukin” pintanya, namun aku tak peduli karena kalau aku masukin sekarang maka aku yakin aku akan cepat sampai dan kalah.

Kuulangi terus gerakan menjilat menghisap dan menggigit sampai disekitar payudaranya terlihat cupang yang banyak sekali, namun aku menghindari menhisap bagian lehere karen kutahu itu “berbahaya” bagi kami, 20 menit berlalu dia meminta lagi, kurasakan ini sat yang tepat karena aku sudah bisa mempertahankan libidoku yang sebenarnya tinggi sekali, kubaringkan dia dan tanpa diajari dia segera mengangkangkan kedua kakinya hingga lubang kewanitaannya terlihat jelas dan menunggu untuk dimasuki, aku segera mencari dompetku untuk memakai kondom, namun arti segera mencegah

“ aku ingin yang asli mas, aku ngk mau kamu pake kondom” katanya,

aku mengiyakan dan segera memasukkan batangku ke dalam memeknya hmmm walaupun sudah basah ternyata memeknya seret sekali dan nimkat sekali, akhirnya semua batangku bisa masuk ke lubang memek tadi, terlihat jelas betapa senangnya dia dan segera dia menggoyangkan pantatnya maju mundur kiri kanan hmm enak sekali , erangan darinya pun muncul berkali kali sambil aku juga memaju munurkan penisku ,

“ ahhhh enak mas ayo lebih kencang lago ayooo puaskan hasratmu malam ini ayooo” katanya ,

Kutepuk paha kananya untuk memberi kode , dan ternyata dia masih ingat akan kodeku, segera dia berbalik badan dan menungging membelakangiku, wahh pantat yang nikmat segera aku masukkan penisku dari belakang dia semakin tak terkendali entah terdengar dari kamar sebelah atau tidak dia menjerit-jerit keenakan, menggelingang dan terus bergoyang segera berbalik dan mencubit kaki kiriku.

Aku ingat kode itu dan aku mencabut penisku dan aku merebahkan badanku kini dia berada diatasku dengan gaya yang luar biasa, payudaranya tak sejengkalpun terlewatkan oleh sapuan bibir dan lidahku , nikmat sekali rasana namun selang beberapa saat dia semakin tak terkendali posisinya yang diatas langsung memeluk erat tubuhku, mengiggit putting ku dan mengisap hisap dadaku dan akhrnya dia mengejang dengan kerasnya mencakar punggungku, dan lemas seketika, kurasakan lelehan orgasmenya cukup banyak, akupun tak mau tinggal diam kusuruh dia berbalik dan dalam posisi doggy style.

Aku kembali menerobos liang kewanitaanya, tak bebebarpa lama kurasakan penisku ingin menyemburkan spermanya,

“ Ar aku dah mau nyampe, kluarin didalam apa nggak?”,

” jangan” jawabnya,akhirnya di berbalik dan mengulum serta mengocok penisku dan crooot…. Croot… croot , spermaku tumpah dalam mulutnya, dia begitu rakus melumat dan menghisap habis semua spermaku dan akupun lemas berbaring di dekatnya, artipun segera berbaring manja di sampingku,

”mas maafkan Arti ya mas, arti ngerusak rumah tangga mas kalau begini caranya”

” ah tidak kok yang penting kikita tahu sama tahu saja, aku juga ingin membantumu melepaskan hasrat yang tak tersampaikan”

Kamipun terlelap dan tidur bersama dalam kedaan tanpa sehelai benangpun, dia memegan penisku dan aku memegangi dan mengusap memeknya sampai kami tertidur pulas, lupa makan malam namun kenikmatan ini takkan kulupakan

Judul: Pembantuku yang Seksi Abis

Author : dion2007 , Category: Umum

Sudah sebulan pembantu kami pulang kampung, dan dia telp tidak bisa balik lagi dengan alasan yang banyak banget hingga gua gak bisa bilang apa-apa,

Aduh…pusing juga neh nggak ada pembantu.

Mau ngambil di Yayasan banyak banget yang bilang macam2. Akhirnya dengan terpaksa ngungsi dulu di rumah orang tua, (gua yakin banyak juga DS er yang ngalamin kerepotan kayak gua).

Mungkin nasib lagi beruntung….nggak beberapa lama di rumah orang tua akhirnya dapet juga pembantu, Sebut saja namanya Surti. Surti gadis berasal dari sebuah desa di daerah Jawa Tengah, usianya kurang lebih 19 Thn Tamatan SD. wajah cukup lumayan cantik, kalo kerja jadi pembantu sebenarnya kurang pas, Istri Gua aja mula2 kurang setuju, karena dia khawatir dan emang tahu kalo Suaminya agak Buaya juga nih , tapi dengan berbagai alasan yang masuk diakal gua berhasil ngeyakinin bini kalo kita mesti terima Surti jadi pembantu.

Sebulan sudah Surti jadi pembantu dirumah gua, awalnya sih memang banyak yang harus diajarin, tapi kelamaan udah pinter kerjanya. Selama 2 Minggu ini emang gua banyak perhatiin pembantu Gua ini, awalnya sih merhatiin kerjaannya, lama-lama merhatiin yang lainnya udah lumayan cantik, bibirnya sensual, body seksi kalo menurut gua.

Hari itu kalo gak salah hari Sabtu di pertengahan bulan Nopember 2007, setiap sabtu-minggu kan gua libur kerja, tapi bini gua sih masuk kerja (doi kerja si perusahaan Jasa, jadi liburnya nggak tentu), jadi dengan berat hati saat itu gua paksain bangun pagi2 banget.(biasanya bangun setelah bedug Subuh)tapi saat itu gua bangun sebelum subuh.

Memang biar gua nggak punya temen bernama Untung, tapi selalu untung menyapa gua hahaha….sudah tiga hari PAM ditempat gua mati, so yang biasanya gua mandi di Kamar mandi gua sendiri di dalam kamar, jadi harus keluar kamar. pas gua keluar kamar gua dengar bunyi kecipak kecipuk, wah ada yang mandi pagi2 gini, siapa lagi kalo bukan si Surti …ternyata suaranya bukan di Kamar Mandi,… emang di kamar mandi ruang tengah (kamar mandi yang biasanya dipakai bersama…, biasanya pembantu gua mandinya di sini) airnya juga sudah habis, jadi si Surti Mandi di belakang di tempat Penampungan air PAM.

Karena gua liat air di kamar mandi gak ada, Gua mau kedapur bikin kopi aja sambil nuggu si surti selesai mandi, tp gua iseng juga pengen ngintip karena ruang yang dia mandi deket bersebelahan ma dapur jadi deh gue intip dari lubang kunci yang emang udah rusak dan woow…. Bro…putih mulus banget badannya, bener-bener nggak nyangka bro…doi lagi asyik aja sabunan, gua lihat payudaranya yang nggak begitu gede beserta putingnya yang menantang, kaya mangga mengkel bikin adek gua langsung berdiri aja….

sayangnya karena dia mandinya jongkok, meqinya nggak begitu keliatan bro, selesai mandi doi pakai handuk sambil deg-deg an takut ketahuan gua keluar dari dapur menuju ruang tamu dan tanpa sepengetahuan dosqi, gua ikutin dari belakang menuju kamarnya, dan gua intip lagi ohh… ternyata dia punya kebiasaan kalo mo Subuhan gak pake apa-apa cuma jubah luar aja(tau kan maksud gua) yg nutupin seluruh badannya. Pagi hari itu juga gua gak nahan, sambil ngebayangin si Surti, gua paksa istri gua ngelayanin sampai 2 kali hahaha …gak kuat bro.

Hari-hari selanjutnya gua jadi rajin bangun pagi dan walau PAM udah lancar lagi, tp gua masih bisa ngintip surti dikamarnya sehabis dia mandi.

Kebiasaan ngintip itu, bikin menambah ngeres otak gua, dan keinginan mo menyetubuhi surti makin bertambah besar.

Hari itu mungkin hari Naas bagi surti, tp hari beruntung buat gua bro… hari itu hari Minggu pagi buta, Bini gua sepulang kerja hari sabtu ada acara di kantornya sampai malam, akhirnya bilang nggak pulang ke rumah, dia pulang ke rumah orang tuanya yang nggak begitu jauh dari kantornya.

Kesempatan neh, setan & iblis mulai main-main di otak gua. seperti biasa, Surti bangun pagi terus langsung mandi, kali ini gua nggak ngintip dia mandi, tp langsung masuk ke kamarnya, sambil deg-deg an nunggu dia selesai mandi yang ditunggu akhirnya datang juga…(kayak acara di TV ). pas dia lagi buka handuk tanpa bra bre bro lagi dengan tenaga yang dipinjemin setan, gua langsung peluk dan gua cium, doi gelagepan dan tentunya kaget bukan kepalang.

“hhp..hppp” Surti berusaha untuk berontak tapi tau sendiri Setan ma Iblis udah nurunin ilmunya ma gua, jadi doi gak bisa apa2 hehehe, mula-mula Surti gua ancam, bahwa gua udah punya photo bugilnya dan akan gua sebarin ke kampungnya kalo dia nggak mau diem (padahal sih bohong, mana berani gua moto dosqi, ketahuan bini berabe hehehe…) dan juga gua ancam kalo dia gak mo nurut gua bisa keras ma dia, dan gua janji kalo dia nurut gua akan tambah gajinya, akhirnya dengan terpaksa doi Nurut.

“Pak… saya mau diapain”

“sttt diem aja … pokoknya kamu taunya enak..”

“Jangan perkosa saya pak!” kata Surti memelas

“Siapa yang mau perkosa kamu, saya nggak akan perkosa kamu kok…saya cuma pengen cium aja”kata gua untuk berusaha nenangin dosqi.

Karena gua udah yakin Surti gak berontak lagi, mulai bibir gua yang dari tadi melahap ganas bibirnya, menjelajah kesekitar buah dadanya yang putih mulus dan bagai buah mangga mengkel itu. Sekitar agak lama juga gua nyiumin dan menghisap buah dada dan putingnya Surti, sambil tangan gua membelai belai lembut bibir vaginanya yang ditumbuhi bulu tidak begitu lebat.

“Pak.. jangan pak… saya belum pernah begini” ujar surti, walau begitu tubuhnya mulai bereaksi.

“udah tenang aja gak papa kok…” jari tanganku mulai masuk pelan-pelan di sekitar bibir vaginanya puting susunya bertambah tegang.

“Pakk..jangannn.” namun tanngannya berkata lain, tangannya memegangi kepalaku yang asyik menyedot dan memainkan putting susunya, seakan didekapnya, tidak mau dilepaskan

Setelah puas dengan buah dadanya aku dorong dia ke tempat tidur dan mulailah menjelajah vaginanya uhh.. bersih bro vaginanya (ye..abis mandi, gimana gak bersih ;P). dengan gemas gua lahap dan gua isep bibir meqinya, kadang gua sedot. Surti meracau gak jelas

“ehmmm pakk…teruss..pak” sudah banyak cairan bening memenuhi rongga meqinya, dan lidah gua terus bermain di dalam meqinya sambil tangan gua berusaha untuk membuka celana gua sendiri.

Mr. P gua udah tegang dari tadi, setelah gua lihat surti udah horny banget, pelan pelan gua pasang pengaman di Mr. P gua dan gua tempelin Mr.P gua ke Miss V nya perlahan-lahan gua masukin, ternyata walau udah banyak cairan susah juga Bro…maklum perawan hehehe…, kirain reaksi surti nggak mau, ternyata karena udah horny kali ya, dia malah Bantu ngepasin Punya gua ke Ms. V nya.

“Pak…sakit pak, perihh…”

“ iya sakit sedikit, ntar juga enaknya banyak”

akhirnya dengan perjuangan keras bobollah keperawanan surti, beserta lumatan bibir gua ke bibirnya yang seksi itu, Mr. P gua maju mundur tak kenal lelah,

“Gimana sekarang udah enak kan?”

“Hhee.. ehh….”

Beberapa menit kemudian.

“Pak .. eh.. Pak….saya…saya mau Pipis “ sambil merem melek akhirnya kakinya mengejang dan tangannya mencegkeram pundak gua keras banget.

Surti mencapai orgasme, mungkin untuk yang pertama kalinya. Dan gua lihat dia lemas, tapi gua gak perduli gua kocok terus Mr. P gua di dalam meqinya yang udah banyak cairan bercampur darah.

“Ampun pak…ampunn…surti capek”

“Sebentar lagi sayang…” nggak sadar gua ngomong sayang biasanya cuam ke bini

Tidak lama berselang gua juga mencapai Orgasme.

“Surt… Bapak juga dah mau keluar nehhh…”

“Ehmmm… crot..crot”

Seluruh badan gua lemas, dan gua rebah disamping Surti yang kelihatan menangis.

“Pak… surti takut nih”

“Tenang…kamu gak bakalan hamil kok, dan nggak bakalan ada yang tahu…”

Hari berganti hari, perbuatan kayak gini gua ulang setiap ada kesempatan dan Surti dengan rela sekarang ngelayanin gua, dan yang pasti gua selalu siap pakai pengaman demi keamanan Rumah tangga gua juga tentunya.

Gaji yang gua janjiin juga nggak lupa gua tepatin, jadi lah surti pengasuh yang multi fungsi, bisa ngasuh anaknya dan Bapaknya hahaha.. :

Judul: Digarap 2 lelaki

Author : ines , Category: Pesta Sex

Aku, seorang model yunior, diperkenalkan oleh temanku pada seorang fotografer ternama supaya aku bisa diorbitkan menjadi model terkenal. Temanku ngasi tau bahwa om Andi, demikian dia biasanya dipanggil, doyan daun muda. Bagiku gak masalah, asal benar2 dia bisa mendongkrak ratingku sehingga menjadi ternama.

Om Andi membuat janjian untuk sesi pemotretan di vilanya di daerah Puncak. Pagi2 sekali, pada hari yang telah ditentukan, om andi menjemputku. Bersama dia ikut juga asistennya, Joko, seorang anak muda yang cukup ganteng, kira2 seumuran denganku.

Tugas Joko adalah membantu om Andi pada sesi pemotretan. Mempersiapkan peralatan, pencahayaan, sampe pakaian yang akan dikenakan model. Om Andi sangat profesional mengatur pemotretan, mula2 dengan pakaian santai yang seksi, yang menonjolkan lekuk liku tubuhku yang memang bahenol. Pemotretan dilakukan di luar.

Bajunya dengan potongan dada yang rendah, sehingga toketku yang besar montok seakan2 mau meloncat keluar. Joko terlihat menelan air liurnya melihat toketku yang montok. Pasti dia ngaceng keras, karena kulihat di selangkangan jins nya menggembung. Aku hanya membayangkan berapa besar kontolnya, itu membuat aku jadi blingsatan sendiri.

Setelah itu, om Andi mengajakku melihat hasil pemotretan di laptopnya, dia memberiku arahan bagaimana berpose seindah mungkin. Kemudian sesi ke2, dia minta aku mengenakan lingeri yang juga seksi, minim dan tipis, sehingga aku seakan2 telanjang saja mengenakannya. Pentil dan jembutku yang lebat membayang di kain lingerie yang tipis.

Jokopun kayanya gak bisa konsentrasi melihat tubuhku. Aku yakin kon tolnya sudah ngaceng sekeras2nya. Om Andi mengatur gayaku dan mengambil poseku dengan macam2 gaya tersebut. Tengkurap, telentang, ngangkang dan macem2 pose yang seksi2. Kembali om Joko memberiku arahan setelah membahas hasil pemotretannya.

Sekarang sekitar jam 12 siang, om Andi minta Joko untuk membeli makan siang. Sementara itu aku minta ijin untuk istirahat dikolam renang aja. Om Andi memberiku bikini yang so pasti seksi dan minim untuk dikenakan. Tanpa malu2 segera aku mengenakan bikini itu. Benar saja, bikininya minim sehingga hanya sedikit bagian tubuhku yang tertutupinya. Aku berbaring di dipan dibawah payung. Karena lelah akibat sesi pemotretan yang padat dan angin sepoi2, aku tertidur.

Ditengah tidurku aku merasakan ada sesuatu yang meraba-raba tubuhku, tangan itu mengelus pahaku lalu merambat ke dadaku. Ketika tangan itu menyentuh selangkanganku tiba-tiba mataku terbuka, aku melihat om Andi sedang menggerayangi tubuhku.

“Nes, kamu seksi sekali, om jadi napsu deh ngeliatnya. Om jadi pengen ngentotin Ines, boleh gak Nes. Nanti om bantu kamu untuk jadi model profesional”, katanya.

Karena sudah diberi tahu temanku, aku tidak terlalu kaget mendengar permintaannya yang to the point.

“Ines sih mau aja om, tapi nanti Joko kalo dateng

gimana”, tanyaku.

Om Andi segera meremas2 toketku begitu mendengar bahwa aku gak keberatan dientot.

“Kamu kan udah sering dientot kan Nes, nanti kalo Joko mau kita main ber 3 aja, asik kan kamunya”, katanya sambil tersenyum.

Aku diam saja, om Andi berbaring di dipan disebelahku. Segera aku dipeluknya, langsung dia menciumku dengan ganas. Tangannya tetap aktif meremas2 toketku, malah kemudian mulai mengurai tali bra bikiniku yang ada ditengkuk dan dipunggung sehingga toketku pun bebas dari penutup. Dia semakin bernapsu meremas toketku.

“Nes, toket kamu besar dan kenceng, kamu udah napsu ya Nes. Mana pentilnya gede keras begini, pasti sering diisep ya Nes”.

Dia duduk di pinggir dipan dan mulai menyedot toketku, sementara aku meraih kontolnya serta kukocok hingga kurasakan kontol itu makin mengeras. Aku mendesis nikmat waktu tangannya membelai selangkanganku dan menggosok-gosok nonokku dari luar.

“Eenghh.. terus om.. oohh!” desahku sambil meremasi rambut om Andi yang sedang mengisap toketku.

Kepalanya lalu pelan-pelan merambat ke bawah dan berhenti di puserku. Aku mendesah makin tidak karuan ketika lidahnya bermain-main di sana ditambah lagi dengan jarinya yang bergerak keluar masuk nonokku dari samping cd bikini ku. Aku sampai meremas-remas toket dan menggigit jariku sendiri karena tidak kuat menahan rasanya yang geli-geli enak itu hingga akhirnya tubuhku mengejang dan nonokku mengeluarkan cairan hangat.

Dengan merem melek aku menjambak rambut om Andi. Segera tangannya pun mengurai pengikat cd bikiniku sehingga aku sudah telanjang bulat terbaring dihadapannya, siap untuk digarap sepuasnya. Dia segera menyeruput nonokku sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah om Andi melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku.

“Jembut kamu lebat ya Nes, pasti napsu kamu besar. Kamu gak puas kan kalo cuma dientot satu ronde”, katanya.

Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, mulutku sudah dilumatnya dengan ganas. Kurasakan aroma cairan cintaku sendiri pada mulutnya yang belepotan cairan itu. Aku agak kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku. Setelah beberapa menit baru aku bisa beradapatasi, kubalas permainan lidahnya hingga lidah kami saling membelit dan mengisap.

Cukup lama juga kami berpagutan, dia juga menjilati wajahku sampai wajahku basah oleh liurnya.

“Ines ga tahan lagi om, Ines emut kontol om ya” kataku. Om Andi langsung bangkit dan berdiri di sampingku, melepaskan semua yang nempel dibadannya dan menyodorkan kontolnya. kontolnya sudah keras sekali, besar dan panjang. Tipe kontol yang menjadi kegemaranku. Masih dalam posisi berbaring di dipan, kugenggam kontolnya, kukocok dan kujilati sejenak sebelum kumasukkan ke mulut.

Mulutku terisi penuh oleh kontolnya, itu pun tidak menampung seluruhnya paling cuma masuk 3/4nya saja. Aku memainkan lidahku mengitari kepala kontolnya, terkadang juga aku menjilati lubang kencingnya sehingga om Andi bergetar dan mendesah-desah keenakan. Satu tangannya memegangi kepalaku dan dimaju-mundurkannya pinggulnya sehingga aku gelagapan.

“Eemmpp..nngg..!” aku mendesah tertahan karena nyaris kehabisan nafas, namun tidak dipedulikannya.

Kepala kontol itu berkali-kali menyentuh dinding kerongkonganku. Kemudian kurasakan ada cairan memenuhi mulutku. Aku berusaha menelan pejunya itu, tapi karena banyaknya pejunya meleleh di sekitar bibirku. Belum habis semburannya, dia menarik keluar kontolnya, sehingga semburan berikut mendarat disekujur wajahku.

Kuseka wajahku dengan tanganku. Sisa-sisa peju yang

menempel di jariku kujilati sampai habis. Saat itu mendadak pintu pager terbuka dan Joko muncul dari sana, dia melongo melihat kami berdua yang sedang bugil.

“Jok, mau ikutan gak”, tanya om Andi sambil tersenyum.

“Kita makan dulu ya”. Segera kita menyantap makanan yang dibawa Joko

sampai habis.

Sambil makan, kulihat jakunnya Joko turun naik melihat kepolosan tubuhku, meskipun agak gugup matanya terus tertuju ke toketku. Aku mengelus-elus kontolnya dari luar celananya, membuatnya terangsang

Akhirnya Joko mulai berani memegang toketku, bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu melepas kancing bajunya dan meraba-raba dadanya.

“Nes, toketnya gede juga ya.. enaknya diapain ya”, katanya sambil terus meremasi toketku.

Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka pakaiannya. Nampaklah kontolnya cukup besar, walaupun tidak sebesar kontol om Andi, tapi kelihatannya lebih panjang. Kugenggam kontolnya, kurasakan kontolnya bergetar dan mengeras. Pelan-pelan tubuhku mulai menurun hingga berjongkok di hadapannya, tanpa basa-basi lagi kumasukkan kontolnya ke mulut, kujilati dan kuemut-emut hingga Joko mengerang keenakan.

“Enak, Jok”, tanya om Andi yang memperhatikan Joko agak grogi menikmati emutanku.

Om Andi lalu mendekati kami dan meraih tanganku untuk mengocok kontolnya. Secara bergantian mulut dan tanganku melayani kedua kontol yang sudah menegang itu. Tidak puas hanya menikmati tanganku, sesaat kemudian om Andi pindah ke belakangku, tubuhku dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tanganku.

Aku mulai merasakan kontolnya menyeruak masuk ke dalam nonokku. Seperti biasa, mulutku menganga mengeluarkan desahan meresapi inci demi inci kontolnya memasuki nonokku. Aku dientotnya dari belakang, sambil menyodok, kepalanya merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada toketku. Aku menggelinjang tak karuan waktu pentil kananku digigitnya dengan gemas, kocokanku pada kontol Joko makin bersemangat.

Rupanya aku telah membuat Joko ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang ngentot. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat sampai kesempatan untuk menghirup udara segar pun aku tidak ada. Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja dientot dari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunya menyebabkan kontol yang lain makin menghujam ke tubuhku. kontol Om Andi menyentuh bagian terdalam dari nonokku dan ketika kontol Joko menyentuh kerongkonganku, belum lagi mereka terkadang memainkan toket atau meremasi pantatku.

Aku serasa terbang melayang-layang dibuatnya hingga akhirnya tubuhku mengejang dan mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh kontol Joko. Bersamaan dengan itu pula entotan Om Andi terasa makin bertenaga. Kami pun nyampe bersamaan, aku dapat merasakan pejunya yang menyembur deras di dalamku, kemudian meleleh keluar lewat selangkanganku.

Setelah nyampe, tubuhku berkeringat, mereka agaknya mengerti keadaanku dan menghentikan kegiatannya.

“Nes, aku pengen ngen totin nonok kamu juga”, kata Joko.

Aku cuma mengangguk, lalu dia bilang lagi,

“Tapi Ines istirahat aja dulu, kayanya masih cape deh”. Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di daerah dangkal untuk menyegarkan diriku. Mereka berdua juga ikut turun ke kolam, om Andi duduk di sebelah kiriku dan Joko di kananku. Kami mengobrol sambil memulihkan tenaga, selama itu tangan jahil mereka selalu saja meremas atau mengelus dada, paha, dan bagian sensitif lainnya.

“Nes, aku masukin sekarang aja ya, udah ga tahan daritadi belum rasain nonok kamu” kata Joko mengambil posisi berlutut di depanku.

Dia kemudian membuka pahaku setelah kuanggukan kepala,dia mengarahkan kontolnya yang panjang dan keras itu ke nonokku, tapi dia tidak langsung

menusuknya tapi menggesekannya pada bibir nonokku sehingga aku berkelejotan kegelian dan meremas kontol om andi yang sedang menjilati leher di bawah telingaku.

“Aahh.. Jok, cepet masukin dong, udah kebelet nih!” desahku tak tertahankan.

Aku meringis saat dia mulai menekan masuk kontolnya. Kini nonokku telah terisi oleh kontolnya yang keras dan panjang itu, yang lalu digerakkan keluar masuk nonokku.

“Wah.. seret banget nonok kamu Nes”, erangnya.

Setelah 15 menit dia gen tot aku dalam posisi itu, dia melepas kontolnya lalu duduk berselonjor dan manaikkan tubuhku ke kontolnya. Dengan refleks akupun menggenggam kontol itu sambil menurunkan tubuhku hingga kontolnya amblas ke dalam nonokku. Dia memegangi kedua bongkahan pantatku, secara

bersamaan kami mulai menggoyangkan tubuh kami.

Desahan kami bercampur baur dengan bunyi kecipak air kolam, tubuhku tersentak-sentak tak terkendali, kepalaku kugelengkan kesana-kemari, kedua toketku yang terguncang-guncang tidak luput dari tangan dan mulut mereka. Joko

memperhatikan kontolnya sedang keluar masuk di nonokku.

Goyangan kami terhenti sejenak ketika om Andi tiba-tiba mendorong punggungku sehingga pantatku semakin menungging dan toketku makin tertekan ke wajah Joko. om Andi membuka pantatku dan mengarahkan kontolnya ke sana.

“Aduuh.. pelan-pelan om, sakit ” rintihku waktu dia

mendorong masuk kontolnya.

Bagian bawahku rasanya sesak sekali karena dijejali dua kontol kontol besar. Kami kembali bergoyang, sakit yang tadi kurasakan perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat. Aku menjerit sejadi-jadinya ketika om Andi menyodok pantatku dengan kasar, kuomeli dia agar lebih lembut dikit. Bukannya mendengar, om Andi malah makin buas menggentotku.

Joko melumat bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku agar aku tidak terlalu ribut. Hal itu berlangsung sekitar 20 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Joko erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan Joko.

Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah

lemas ini. Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin dahsyat, pentilku disedot kuat-kuat oleh Joko, dan om Andi menjambak rambutku. Aku lalu merasakan peju hangat menyembur di dalam nonok dan pantatku, di air nampak sedikit cairan peju itu melayang-layang. Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan kontol masih tertancap.

Setelah sisa-sisa kenikmatan tadi mereda, akupun mengajak mereka naik ke atas. Sambil mengelap tubuhku yang basah kuyup, aku berjalan menuju kamar mandi. Mereka mengikutiku dan ikut mandi bersama. Disana aku cuma duduk, merekalah yang menyiram, menggosok, dan menyabuniku tentunya sambil menggerayangi. nonok dan toketku paling lama mereka sabuni sampai aku menyindir

“Lho.. kok yang disabun disitu-situ aja sih, mandinya ga beres-beres dong, dingin nih” disambut gelak tawa kami.

Setelah itu, giliran akulah yang memandikan mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, akupun mengemut kontol mereka secara bergantian sehingga langsung saja napsu mereka memuncak. aku segera diseret ke ranjang.

Om Andi mendapat giliran pertama, kelihatannya mereka dia main berdua aja dengan ku. Jembutku yang lebat langsung menjadi sasaran, kemudian salah satu jarinya sudah mengelus2 nonokku. Otomatis aku mengangkangkan pahaku sehingga dia mudah mengakses nonokku lebih lanjut. Segera kontolnya yang besar, panjang dan sangat keras aku genggam dan kocok2.

“Nes, diisep dong”, pintanya. Kepalanya kujilat2 sebentar kemudian kumasukkan ke mulutku. Segera kekenyot pelan2, dan kepalaku mengangguk2 memasukkan kontolnya keluar masuk mulutku, kenyotanku jalan terus.

“Ah, enak Nes, baru diisep mulut atas aja udah nikmat ya, apalagi kalo yg ngisep mulut bawah”, erangnya keenakan.

Tangannya terus saja mengelus2 no nokku yang sudah basah karena napsuku sudah memuncak.

“Nes, kamu udah napsu banget ya, nonok kamu udah basah begini”, katanya lagi. kontolnya makin seru kuisep2nya. Kulihat Joko sedang mengelus2 kontolnya yang sudah ngaceng berat melihat om Andi menggarap aku.

Tiba2 dia mencabut kontolnya dari mulutku dan segera menelungkup diatas badanku. kontolnya diarahkan ke nonokku, ditekannya kepalanya masuk ke nonokku. terasa banget nonokku meregang kemasukan kepala kontol yang besar, dia mulai mengenjotkan kontolnya pelan, keluar masuk nonokku. Tambah lama tambah cepat sehingga akhirnya seluruh kontolnya yang panjang ambles di nonokku.

“Enak om , kontol om bikin nonok Ines sesek, dienjot yang keras om “, rengekku keenakan.

enjotan kontolnya makin cepat dan keras, aku juga makin sering melenguh

kenikmatan, apalagi kalo dia mengenjotkan kontolnya masuk dengan keras, nikmat banget rasanya. Gak lama dientot aku udah merasa mau nyampe,

“om lebih cepet ngenjotnya dong, Ines udah mau nyampe”, rengekku.

“Cepat banget Nes, om belum apa2″ jawabnya sambil mempercepat lagi enjotan kontolnya. A

khirnya aku menjerit keenakan “Om, Ines nyampe mas , aah”, aku menggelepar kenikmatan.

Dia masih terus saja mengenjotkan kon tolnya keluar masuk dengan cepat dan keras. Tiba2 dia mencabut kontolnya dari nonokku.

“Kok dicabut om, kan belum ngecret”, protesku.

Dia diem saja tapi menyuruh aku menungging di pinggir ranjang, rupanya dia mau gaya anjing.

“Om, masukkin dinonok Ines aja ya, kalo dipantat gak asik”, pintaku.

Dia diam saja. Segera kontolnya ambles lagi di nonokku dengan gaya baru ini. Dia berdiri sambil memegang pinggulku. Karena berdiri, enjotan kontolnya keras dan cepat, lebih cepat dari yang tadi, gesekannya makin kerasa di nonokku dan masuknya rasanya lebih dalem lagi,

“Om , nikmat”, erangku lagi.

Jarinya terasa mengelus2 pantatku, tiba2 salah satu jarinya disodokkan ke lubang pantatku, aku kaget sehingga mengejan. Rupanya nonokku ikut berkontraksi meremas kontol besar panjang yang sedang keluar masuk,

“Aah Nes, nikmat banget, empotan nonok kamu kerasa banget”, erangnya sambil terus saja mengenjot nonokku.

Sementara itu sambil mengenjot dia agak menelungkup di punggungku dan tangannya meremas2 toketku, kemudian tangannya menjalar lagi ke i tilku, sambil dientot i tilku dikilik2nya dengan tangannya. Nikmat banget dien tot dengan cara seperti itu.

“Om , nikmat banget ngentot sama om , Ines udah mau nyampe lagi. Cepetan enjotannya om ,” erangku saking nikmatnya.

Dia sepertinya juga udah mau ngecret, segera dia memegang pinggulku lagi dan mempercepat enjotan kontolnya. Tak lama kemudian,

“Om, Ines mau nyampe lagi, om , cepetan dong enjotannya, aah”, akhirnya aku mengejang lagi keenakan. Gak lama kemudian dia mengentotkan kontolnya dalem2 di nonokku dan terasa pejunya ngecret.

“Aah Nes, nikmat banget”, diapun agak menelungkup diatas punggungku.

Karena lemas, aku telungkup diranjang dan dia masih menindihku, kontolnya tercabut dari nonokku.

“Om , nikmat deh, sekali entot aja Ines bisa nyampe 2 kali. Abis ini giliran Joko ya”, kataku.

“Iya”, jawabnya sambil berbaring disebelahku.

Aku memeluknya dan dia mengusap2 rambutku. “Kamu pinter banget muasin lelaki ya Nes”, katanya lagi.

Aku hanya tersenyum, “Om, Ines mau ke kamar mandi, lengket badan rasanya”, aku pun bangkit dari ranjang dan menuju ke kamar mandi.

Selesai membersihkan diri, aku keluar dari kamar mandi telanjang bulat, kulihat om Andi sudah tidak ada dikamar. Joko sudah berbaring diranjang. Aku tersenyum saja dan berbaring disebelahnya. Dia segera mencium bibirku dengan penuh napsu. kontolnya keelus2. Lidahku dan lidahnya saling membelit dan kecupan bibir berbunyi saking hotnya berciuman. Tangannya juga mengarah kepahaku.

Aku segera saja mengangkangkan pahaku, sehingga dia bisa dengan mudah mengobok2 nonokku. Sambil terus mencium bibirku, tangannya kemudian naik meremas2 toketku. Pentilku diplintir2nya,

“Jok enak, Ines udah napsu lagi nih”, erangku.

Tanganku masih mengocok kontolnya yang sudah keras banget. Kemudian ciumannya beralih ke toketku. Pentilku yang sudah mengeras segera diemutnya dengan penuh napsu,

“Jok , nikmat banget “, erangku.

Diapun menindihku sambil terus menjilati pentilku. Jilatannya turun keperutku, kepahaku dan akhirnya mendarat di nonokku.

“Aah Jok , enak banget, belum dientot aja udah nikmat banget”, erangku.

Aku menggeliat2 keenakan, tanganku meremas2 sprei ketika dia mulai menjilati nonok dan i tilku. Pahaku tanpa sengaja mengepit kepalanya dan rambutnya kujambak, aku mengejang lagi, aku nyampe sebelum dientot. Dia pinter banget merangsang napsuku. Aku telentang terengah2, sementara dia terus menjilati nonokku yang basah berlendir itu.

Dia bangun dan kembali mencium bibirku, dia menarik tanganku minta dikocok kontolnya. Dia merebahkan dirinya, aku bangkit menuju selangkangannya dan mulai mengemut kontolnya.

“Nes, kamu pinter banget sih”, dia memuji.

Cukup lama aku mengemut kon tolnya. Sambil mengeluar masukkan di mulutku,

kontolnya kuisep kuat2. Dia merem melek keenakan.

Kemudian aku ditelentangkan dan dia segera menindihku. Aku sudah mengangkangkan pahaku lebar2. Dia menggesek2kan kepala kontolnya di bibir nonokku, lalu dienjotkan masuk,

“Jok , enak”, erangku.

Dia mulai mengenjotkan kon tolnya keluar masuk pelan2 sampai akhirnya blees, kontolnya nancep semua di nonokku.

“Nes, nonokmu sempit banget, padahal barusan kemasukan kontol berkali2ya”, katanya.

“Tapi enak kan, abis kontol kamu gede dan panjang sampe nonok Ines kerasa sempit”, jawabku terengah.

Dia mulai mengenjotkan kontolnya keluar masuk dengan cepat, bibirku diciumnya.

“Enak Jok, aah”, erangku keenakan.

enjotannya makin cepat dan keras, pinggulku sampe bergetar karenanya. Terasa nonokku mulai berkedut2,

“Jok lebih cepet dong, enak banget, Ines udah mau nyampe”, erangku.

“Cepet banget Nes, aku belum apa2″, jawabnya.

“Abisnya kon tol kamu enak banget sih gesekannya”, jawabku lagi.

enjotannya makin keras, setiap ditekan masuk amblesnya dalem banget rasanya. Itu menambah nikmat buat aku

“Terus Jok , enak”. Toketku diremas2 sambil terus mengenjotkan kontolnya keluar masuk.

“Terus Jok , lebih cepat, aah, enak Jok, jangan brenti, aakh…” akhirnya aku mengejang, aku nyampe, nikmat banget rasanya. Padahal dengan om Andi, aku udah nyampe 2 kali, nyampe kali ini masih terasa nikmat banget. Aku memeluk pinggangnya dengan kakiku, sehingga rasanya makin dalem kontolnya nancep. nonokku kudenyut2kan meremas kontolnya sehingga dia melenguh,

“Enak Nes, empotan nonok kamu hebat banget, aku udah mau ngecret, terus diempot Nes”, erangnya

sambil terus mengenjot nonokku. Akhirnya bentengnya jebol juga. Pejunya ngecret didalam nonokku, banyak banget kerasa nyemburnya

“Nes, aakh, aku ngecret Nes, nikmatnya nonok kamu”, erangnya. Dia menelungkup diatas badanku, bibirku diciumnya.

“Trima kasih ya Nes, kamu bikin aku nikmat banget”. Setelah kontolnya mengecil, dicabutnya dari nonokku dan dia berbaring disebelahku. Aku lemes banget walaupun nikmat sekali. Tanpa terasa aku tertidur disebelahnya.

Aku terbangun karena merasa ada jilatan di nonokku, ternyata om Andi yang masih pengen ngentotin aku lagi. kulihat kontolnya sudah ngaceng lagi. nonokku dijilatinya dengan penuh napsu. Pahaku diangkatnya keatas supaya nonokku makin terbuka.

“Om , nikmat banget mas jilatannya”, erangku.

Ngantukku sudah hilang karena rasa nikmat itu. Aku meremas2 toketku sendiri untuk menambah nikmatnya jilatan di nonokku. Pentilku kuplintir2 juga. Kemudian itilku diisep2nya sambil sesekali menjilati nonokku, menyebabkan nonokku sudah banjir lagi.

Aku menggelepar2 ketika i tilku diemutnya. Cukup lama itilku diemutnya sampai akhirnya kakiku dikangkangkan.

“Om, masukin dong om , Ines udah pengen dientot”, rengekku.

Dia langsung menindih tubuhku, kontolnya diarahkan ke nonokku. Begitu kepala kontolnya menerobos masuk,

“Yang dalem om , masukin aja semuanya sekaligus, ayo dong om “, rengekku karena napsuku yang sudah muncak.

Dia langsung mengenjotkan kontolnya dengan keras sehingga sebentar saja kontolnya sudah nancap semuanya dinonokku. Kakiku segera melingkari pinggangnya sehingga kontolnya terasa masuk lebih dalem lagi.

“Ayo om , dienjot dong”, rengekku lagi.

Dia mulai mengenjot nonokku dengan cepat dan keras, uuh nikmat banget rasanya. enjotannya makin cepat dan keras, ini membuat aku menggeliat2 saking nikmatnya,

“Om , enak om , terus om , Ines udah mau nyampe rasanya”, erangku. Dia tidak menjawab malah mempercepat lagi enjotan kontolnya. Toketku diremas2nya, sampe akhirnya aku mengejang lagi,

“om enak, Ines nyampe om , aah”, erangku lemes.

Kakiku yang tadinya melingkari pinggangnya aku turunkan ke ranjang. Dia tidak memperdulikan keadaanku, kontolnya terus saja dienjotkan keluar masuk dengan cepat, napasnya sudah mendengus2. nonokku kudenyut2kan meremas kontolnya. Dia meringis keenakan.

“Nes, terus diempot Nes, nikmat banget rasanya. Terus empotannya biar om bisa ngecret Nes”, pintanya.

Sementara itu enjotan kon tolnya masih terus gencar merojok nonokku. Toketku kembali diremas2nya, pentilnya diplintir2nya.

“Om , Ines kepengin ngerasain lagi disemprot peju om “, kataku.

Terus saja kontolnya dienjotkan keluar masuk nonokku dengan cepat dan keras, sampai akhirnya,

“Nes, aku mau ngecret Nes, aah”, erangnya dan terasa semburan pejunya mengisi bagian terdalam nonokku. Nikmat banget rasanya disemprot peju anget. Dia ambruk dan memelukku erat2,

“Nes, nikmat banget deh ngen tot ama kamu”, katanya.

Setelah beristirahat sebentar, aku segera membersihkan diri dan berpakaian. Kami kembali ke Jakarta. Diperjalanan pulang aku hanya terkapar saja dikursi mobil. Lemes banget abis dien tot 2 cowok berkali2.

“Om, jangan lupa orbitin Ines ya”, kataku.

“Jangan kawatir, selama om masih bisa ngerasain empotan nonok kamu, pasti kamu melejit keatas deh. Bener gak Jok”, jawabnya.

Joko hanya tersenyum saja. Gak lama setelah mobil jalan, akupun tertidur.

Judul: Kawan Suamiku, Rekan Selingkuhku

Author : tonydwi , Category: Umum

Aku bernama Erni umur 34 tahun,mempunyai pengalaman berselingkuh dengan teman suamiku bernama Vin umurnya 34 tahun. Tinggiku 157 cm dan berat 55 kg, dadaku 34 B, sedangkan Vin tinginya 183 cm dengan berat badan (mungkin) 80-an kg.

Pria ini teman dekat suamiku. Karena ulah suamiku aku menyukai pria asal Itali ini. Aku, pernah ngesek bersama dengan suamiku sekaligus melibatkan Vin. Peristiwa itu mengawali diriku menyukai Vin, dan ketagihan untuk ngesek lagi dengan teman suamiku itu . Aku bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta. Sedangkan Vin teman sekantor suamiku.

Aku dan suamiku sudah menjalani pernikahan selama 9 tahun dan memperoleh seorang anak. Kehidupan perkawinanku baik2 saja, meski aku berselingkuh dengan Vin.Karena “hubungan” kami hanya terbatas kebutuhan seks saja. Pada suatu siang, Vin meneleponku. Bahwa nanti malam dia mengajak bertemu, dan aku bersedia.Kebetulan suamiku tugas ke luar kota, dan beberapa hari ini muncul keinginan ngesek dengan dia.

” Oke aku tunggu di rumah atau ketemu di luar saja,” jawabku. Vin mengusulkan aku ke apartemennya saja. Agar tidak ada orang yang tahu.

” Ok deh nanti jam 7 an aku ke sana ” jawabku.

Sore itu aku bergegas pulang. Sampai di rumah aku sampaikan kepada pembantu dan anakku, bahwa nanti malam aku ada acara kantor. Dan kemungkinan pulangnya agak larut. Alasan serupa juga kusampaikan kepada suamiku via SMS. Dia tidak keberatan, karena aku beralasan .akan dijemput dan diantar oleh sopir kantorku.

Setelah semua kebutuhan dan keperluan di rumahku beres, Aku segera mandi. Kupilih baju tipis dan rok yang juga terbuat dari kain halus.CD yang kukenakan model G string dan BH berbahan transparan juga berwarna hitam.Aku utahu pertemuan bertujuan ML (making love) .

Aku tidak memesan taksi dari rumah, agar pembantuku tidak tahu kalau aku naik taksi.Setelah berjalan kaki beberapa meter dari rumah, aku mencegat taksi.Vin tinggal di sebuah apartemen di Kebayoran Baru. Ternyata dia sudah menungguku di depan lobby. Kami beriringan masuk lift ke lantai 11.

“Er saya mandi dulu ya,” kata Vin . Dia baru pulang dari kantor, dan belum sempat mandi. Sementara menunggu Vin, aku duduk santai di ruang tamu. Sam,bil menonton TV. Selang beberapa menit kemudian, Vin dengan mengenakan kimono biru, duduk disampingku. Tanpa terasa selama ngobrol dan minum, dia menghabiskan 2 kaleng bir.

Mataku sempat meselintas melihat penis dan kantung pelirnya dari celah kimononya.. Ternyata dia tidak mengenakan celana dalam. Tanganku segera mengelus elus pahanya. Vin sejenak melirikku dan memelukku serta menciumiku.Kubalas dengan tidak kalah mesra. Vin yang semula mengelus elus dan meremas remas tanganku, beralih meraba raba pahaku dan lututku. Tahap demi tahap dadaku yang terbuka, sampai di atas tonjolan payudaraku dia diciumi dan dijilati.

Rasanya enak dan lembut. Tangannya mengelus elus bagian payudaraku yang tertutup BH dan blus tipis.Gerakan bibir dan lidahnya yang mengecup dan mengelitik putingku yang sudah menonjol dari balik BH tipis itu. Rasanya nikmat dan merangsangku. Nafsu ku mulai meninggi dan tanganku segera menyelinap ke balik kimononya,mengelus dan merba raba paha dan penisnya yang masih “tidur”.Vin tampaknya mulai terangsang, hal itu kuketahui dari penisnya yang begerak menegang. Diamenggelinjang keenakan.

” Er….. enak sekali,” bisiknya..Satu persatu kancing blusku dia lepas, . sehingga BH hitamku mencuat keluar. Payudaraku yang tertutup BH dia raba raba.Kedua punting terasa membesar dan mengeras. Dari balik BH ku yang tipis itu kelihatan tonjolan puntingku. Vin semakin gemas, dia menjilatinya dan menciuminya. Aku semakin kegelian.Belum lagi hilang kenikmatan yang kuperoleh, terasa tanganya merambat ke bawah. Perutku dielus elus dan pada gilirannya rambut bawahku juga merasakan hal serupa. Dalam keadaan yang semakin terangsang, kukulum bibirnya dan kupermainkan lidahnya.

Vin kelihatannya semakin benafsu. Setelah dia melepas kuluman di bibirku, bibirnya dan lidahnya beralih menjilati leherku dengan lembut. Sementara kedua tangannya bekerja untuk menanggalkan blusku. Blusku dicampakan. Kini bagian atas tubuhku sudah terbuka bebas. . Mulut pria yang dengan” rakus” melumat leherku beralih melumat bagian depan dadaku. Aaaahhh…aaaahh. Aku merintih keenakan dan kegelian.

Penis Vin yang kuelus elus terasa semakin menegang. Penis itu begitu panjang dan keras sekali. Nikmat sekali menggegam dan mengelus penis yang kini sudah tegang. Pelan-pelan kukocok kocok, sampai Vin merintih dan melenguh keenakan.Tanganku menarik penis keluar dari sela sela kimono. Melihat penis dengan kepala yang cukup besar itu nafsuku semakin berkobar. Segera kucium dan kujilati. Vin menggegejang.

Dan dia cengan cekatan melepas kaitan BH ku, dan melepaskannya dari tubuhku. Dua gunung kembar yang terbuka itu, kugeser geser ke kepala penisnya. Vin semakin mengejang dan merintih.

Dia menarik tubuhku ke atas, kepalanya menunduk dan bibirnya mengecup ngecup dadaku. Buah dadaku dikulum, dan putingnya disedot sedot dengan lembut.

“Eeehhhh…. eeehhhh.” Aku menggelinjang dan kerengguk kepala Vin kelengketkan ke dadaku. Kegelian dan kenikmatan semakin menjadi jadi.

“Aaaaaahhhh …. aaaach… Enaaaaak ..Vinnnn” aku merintih rintih, tangannya mengelus dan mengelitikan rambut dan vaginaku yang masih tertutup CD tipis.

Vaginaku mulai basah. Vin yang tangan yang kekar dan berbulu ini memang pintar membuat diriku cengan cepat terangsang.. Tanpa kusadari kedua kakiku terentang lebar. Melihat posisiku seperti itu, dia semakin bernafsu. Pangkal pahaku dielus elus, sekali kali jari jarinya mengesek gesek bibir vaginaku yang semakin basah. Kiltorisku yang sudah mengeras, dielus elusnya juga. Enak banget. Vin bangkit dan segera menarik rsleting serta melepas rokku.

Diriku kini hanya terbalut CD. Rambut vaginaku terbayang jelas dibalik CD. Vin kemudian berjongkok dibawahku dan lidahnya menjilati vaginaku. Lidahnya bergeser geser di bagian lubang vagina dan klitorisku. Cara pria ini mengoral membuat diriku semakin terangsang. Lenguhan dan rintihan disertai gelinjangan liar menunjukan bagaimana dirku tak terkontrol lagi. Lidah Vin menjelajah di sela sela CD ku yang bagian tepinya ditarik dan digserkan ke sampaing.

Vaginaku terbuka lebar, karena kedua pahaku kurentangkan. Lidanya semakin menyusup ke dalam lubangku. Terasa geli sekali. Cairanku mengalir deras. Bibir vaginaku dikecup sangat lembut sekali. Sementara kedua tangannya mengelus elus kedua pahaku. Mataku yang terpejam semakin terasa gelap. Aliran rangsangan sudah sampai ke ujung kepalaku.

Kepala Vin kucengkeram, setiap kali kegelian yang begitu tinggi menjalar ke sleuruh tubuhku.

” Aaaah.. Vin nikmat sekali aaaah, aku nggak kuat Vin..enaaaaak,” rintihku sambil meremas rambut kepalanya. Masih dalam posisi dia mengulum vaginaku, Vin melepas komononya. Kini Vin sudah bertelanjang bulat. Aku yang dari tadi duduk dalam posisi melorot, bangun dan duduk di tepi sofa. Kuraih penis yang digegamanku ukurannya itu, dan segera kukulum.

Cairan yang membasahi penis itu agak asin. Kepala penis yang mirip helm tentara ini kujilati dengan penuh nafsu. Tanganku mengelus elus kantung bijinya yang menggelantung dibawah penis yang masuk di mulutku. Vin melenguh keenakan dan tubuhnya sempat begetar.

” Er… nikmat …aaaah,” bisik Vin, dan permainan pada penisnya kutingkat lebih seru lagi. Vin sempat kelojotan juga, kedua kakinya direntangkan lebih lebar. Posisi ini membuat ku semakin leluasa mengoralnya.

Tampaknya Vin sudah tidak tahan lagi merasakan penisnya kujiltai dan kusedot sedot. Dia menarik tubuhku dan mendekapnya.Kami berpelukan dengan posisi berdiri. Tubuh jangkung itu menduduk dan bibirku yang masih basah oleh cairan penisnya langsung dikulum. Terasa penisnya membentur tubuhku dan dia geser geser. Penis ukuran ” large” menyusup ke selangkanganku dan bergerak gerak bergser geser di vaginaku yang masih tertutup CD. Meski dilapisi kain CD, gerakan penis itu terasa menggelikan dan enak sekali.

Tiba-tiba Vin membalik badanku sehingga posisinya dia memelukku dari belakang. Leher dan tengkuk dia ciumi dan jilati. Sementara kedua tanganya meremas remas dan mengelus kedua buah dadaku. Aku merintih, menggelijang. Vin sangat tahu kalau aku paling tidak tahan bila bagian belakangku diciumi atau dijilati. Pinggul dan bokongku meliuk liuk. Aku merintih keenakkan. Pria yang merangsangku ini memang sangat faham dimana titik titik sensitifku.

Termasuk area tubuhku bagian belakang.Kalau diciumi atau dijilati di bagian ini, aku merasakan suatu kegelian yang sangat tinggi. Mataku terpejam, untuk menikmati rangsangan demi rangsangan yang terjadi pada diriku. Tak lama kemudian, Vin berjongkok di bagian bokongku merasakan suatu sensasi lain.Lidah dan bibir Vin terasa eank sekali saat menjelajah di sekitar itu. Belahan bokokngku berkali kali di jilatinya Geli sekali. Tubuhku bergetar menahan kenikmatan. Kain mirip tali di G Stringku ditarik pelan pelan.

“Apa yang akan dia lakukan lagi”, kataku dalam batin. Ternyata lidahnya menjilati sekitar lubang belakangku.bergantian dengan menyentuhkan ujung lidahnya ke bibir vaginaku. Sementara kedua tangannya mengelus elus bulu vaginaku. Kenikmatan yang kuperoleh aku ekspoltasikan dengan mengelus elus elus tangannya, serta menekan agar masuk lebih ke bawah lagi.

Dia semakin terbawa oleh permainanku juga. Ketika aku melebarkan posisi kedua kakiku. Melalui sela sela CD ku. Lidah Vin menyusup lebih dalam dan menjilati vaginaku dengan lembut. Tubuhku mengejang ngejang, keenakan.

“Aaaaahh…. eeeeeh…eeeeehhh…eeehhh.”

Perasaan dan otakku semakin tak terkendali. Teramasuk saat Vin memintaku menungging juga kuturuti. Kedua tanganku berpegangan di sofa. Dia menempatkan posisinya di bawahku. Payudaraku yang menggelantung di raih dan dikulum serta putingnya begrantian dijilati. Lidahnya menjilati dari payudara, perut terus turun sampai mendekati gundukan rambut vaginaku.

Dia berkali kali menjilati dan jari jarinya mengelus elus vaginaku. Gila, enak sekali, sensasi dari permainan ini. Tubuhku sempat beberapa kali bergoyang dan bergetar. Saat lidah dan bibirnya mengecup bagian yang sangat senesitif bagiku.Pelan pelan Vin menarik CD ku dan dia memlorotkan dan mencampakan di lantai di tumpukkan kimononya. Masih dalam keadaan bertelanjang bulat, Vin minta agar diriku tetap menungging.

Kedua kakiku direntang lagi. Vin berjongkok di belakangku dan dia mengoral seluruh bokongku. Aku sempat beteriak dan melenguh ketika lidahnya menjilati lubang duburku. Enak dan geli sekali. Bokongku bergoyang goyang menikmati rangsangan yang belum pernah aku peroleh dari suamiku.

” Vin …… enaaaak… geliii sekaliiii,” lenguhku sambil memutar mutar pinggulku.

Rasa kegelian semakin memuncak saat lidahnya berulang ulang menyapu dan menjilati kulit di antara lubang vagina dan lubang dubur. Bibir vaginaku yang sudah basah kuyup, terasa dikuak oleh tangan Vin dan lidahnya menjilati lebih ke dalam lagi. Vaginaku merasakan suatu isapan yang lembut. Ternyata Vin memang menyedotnya. Wuaaah…. enak dan nikmat banget. Ujung lidah yang menggelitik dinding vaginaku, kurasakan semakin nikmat saat dia menyedot vaginaku..

Cairan yang tersimpan di dalam terasa mengalir keluar, dan dia menghirupnya. Mungkin dia menelannya. Aku sudah tidak peduli lagi. Apa pun yang dia lakukan, aku pasrah. Terpenting aku merasakan suatu kenikmatan dan kepuasan yang panjang. Pria teman suamiku ini memang hebat dalam teknik mengoral. Hal ini kurasakan. Beberapa kali aku harus menyerah kalah ( sudah orgasme), padahal masih pada tahap fore play. Kehaliannya dia mengoral itu menjadikan aku sering orgasme duluan.

Setiap kali ML dengan dia, sedikitnya mengalami dua kali orgasme. Permainan oral seks dia, diselingi dengan bergantian mengulum kedua payudaraku, Gundukan dimana rambut bawahku tumbuh berkali kali kalu dikecup dan dijilatinya. Pangkal selangkangku jug a memperoleh giliran disapu sapu oleh lidah dan bibirnya. Permainan Vin ini membuat diriku semakin nikmat. Dibandingkan suamiku saat mengoral diriku, Vin jauh lebih pintar, dan sabar serta lembut.Aku yakin siapaun wanita yang merasakan permainan Vin tersebut akan mengalami seperti diriku.

Rintih rintih dan kegelinjangan menunjukan kalau aku semakin terangsang.Terutama saat Vin kembali mengulum bibir vaginaku, lidahnya menjilat pelan di ujung klitorisku. Vaginaku semakin kencang. Tiba tiba kegelian semakin menyelimuti diriku ketika vaginaku terasa disedot dan payudaraku di remas lembut sekali, dan lubang duburku di elus elus oleh jari Vin.

“Aaaaaaaahhh… aaaahh.” T

ubuhku bergoyang hebat, mataku gelap. Rasa geli pada idirku meningkat lebih cepat..

“Aaaaaaahhh… Vinnnn… saya orgasmee … aaaaahhhhh,” teriakku dan tubuhku mengejang lebih keras.

Vin bukannya mengedurkan permainan malahan mulutnya semakin “melumat” vaginaku. Orgasme yang terjadi pada diriku semakin panjang. Vaginaku berkedut kedut.

Vin kuduga juga merasakan gerakan pada vaginaku itu. Dia berbisiki,

” Er … saya masuki yaaa,” dan kujawab ” Iya Vin… masukin aku dari tadi sudah kepingin punyamu ke dalam,”.

Vin berdiri, penisnya di arahakan ke vaginaku dan terasa sangat lembut mengeser geser di sana. Tak lama kemudian terasa vaginaku tersumpal benda keras dan besar.

” Eeeeeehhhhh…” aku merintih pelan dan Vin yang kedua tanganya memegang pinggulku segera mendorong penisnya. Aaaahh… enak sekali. Batang penis pajang dan besar itu tahap demi tahap menyusup lebih dalam . Ketika dia mendorong lebih dalam terasa sepertinya menyentuh dinding rahimku. Nikmaaat sekali.

Kegelian semakin menjadi jadi ketika penis itu berputar putar pelan dalam di dalam. Dinding vaginaku yang mencengkeram penis itu merasakan adanya batang penis berulir ulir bergerak keluar masuk. Guratan dan uliran urat yang melingkar lingkar pada penis Vin memang menjadikan penis ekstra besar itu menjadi semakin lebih istimewa. Apalagi pemiliknya tergolong “pria kuat dan tahan lama

Dengan posisi dogystyle, Vin “menghajarku” dengan kelembutan yang dia miliki. Setiap kali dia menghujamkan penisnya ke dalam kuimbangi dengan memutar mutar pinggulku. Bila dia memutar penisnya bokongku kudorong ke belakang, sehingga putaran tidak hanya terasa di dalam tapi juga dirasakan oleh bibir vaginaku. Kenikmatan lain yang dia berikan, saat dia ” menghajarkan” seperti itu, berkali kali bibirnya menjilati punggung dan leherku.

Sedangkan kedua tangannya terus mengelus elus payudaraku yang makin mengencang dan menggelantung . Sepertinya Vin memang ingin memberikan kenikmatan secara utuh., Agar diriku memperoleh kepuasan prima. Kegelian dan kenikmatan semakin menjadikan diriku melambung ke langit. Lenguhan dan desahan dari Vin berulang kali menunjukan dia juga menikmati permainanku yang cenderung lebih pasif dibandingkan permainan dia.

Tanpa terasa mungkin sudah lebih dari 10 menit dia bermain dengan gaya doggystyle itu. Meski aku merasakan kenikmatan yang begitu tinggi. Kekuatan tubuhku tak mampu mendukungnya. Lama kelamaaan kakaiku sudah tidak tahan lagi menyangga tubuhku. Kakiku agak gemetaran. Vin tampaknya tahu akan kondisiku.

” Kamu capek ya … tapi saya lagi enak nih,” bisiknya dan aku hanya menjawab pendek, ” Iyaaa… kita berubah posisi yuk,” kataku.

Vin pelan pelan mencabut penisnya dan minta aku berdiri. Kemudian dia duduk di pinggir sofa. Kulihat penis yang mencuat keras itu mendonggak ke atas. Dari posisinya aku mengetahui agar aku duduk dipangkuannya. Tanganku melingkar di lehernya dan kuposisikan lubang vaginaku tepat di penis Vin. Kuturunkan badanku pelan pelan, sementara tangan Vin yang menggegam penis, juga mengarahkannya tepat ke lubang vaginaku.

Bleeeessss….. penis itu masuk ke dalam. Vin segera menggerakkan pinggulnya.Meski penis itu terasa sesak dan padat, tapi vaginaku merasa kegelian. Pinggulku kuputar putar, dan kuselingi dengan gerakkan naik turun.Bibir kami saling berpagutan, tanganku melingkar di leher Vin. Kedua tangan Vin memeluk pinggulku. Tubuh kami saling lengket, sehingga kedua payudaraku sering kali kegelian tergesek oleh bulu2 dada.

Kami saling bergantian mengeksplorasi leher. Kecupan dan jilatan membuat Vin, beberapa kali merintih. Setiap kali dia tidak tahan kegelian pada lehernya, Bibirnya langsung menyambar biibirku dan mengulumnya. Lidahnya maupun lidahku saling ” bermain” di dalam mulut. Permainan semakin seru. Tubuhku yang dipelukan dan pangkuannya, bergerak semakin liar. Dengusan nafas dan nafsu kami berdua semakin mengebu ngebu. Kedua tangan Vin mengangkat pinggulku dan kemudian menurunkannya secara pelan pelan.

Vaginaku terasa seperti dimasuki benda kenyal, keras panjang dan besar yang kurasakan begitu enak. Apalagi saat tubuhku terdiam penis itu begerak gerak di dalam vaginaku. Gerakan dan sentakan itu membuatku mengalami suatu kenikmatan yang sulit aku ceritakan.

Entah bagaimana, perasan kenikmatan yang kualami kali ini semakin menghebat. Aku berkali kali menggelinjang dan mengenjang. Begitu pula Vin, kulihat semakin bernafsu memuaskan diriku. Sentuhan sentuhan dan gesekan penisnya terasa enak sekali, sehingga vaginaku mencengkeramnya.

” Er… enak nggak.,” bisik Vin dan aku berterus terang,

” Enak sekali Vin… aaaacchhhh… aaachhhh, Bikin aku puas lagi yaaaaa”.

Mendengar jawabanku itu Vin segera memutar pelan penisnya dan sepertinya seluruh dinding vaginaku tergesek gesek dan diaduk aduk lembut olehnya. Aku semakin merintih rintih. Vin mendorong tubuhku dan dia membukukan kepalanya.

“Aaaaahhh…aaaaaah.. “

Mulutnya mengulum buah dadaku dan putingnya dia isap isap.

” Yaaaa.Vin…. enaaaaaaaaaak,” aku berteriak histeris sambil menghentakan hentakan kepalaku.

Nafsuku semakin teak terkendali dan liar. Rintihan dan lenguhanku bertubi tubi mengikuti alur permainan Vin. Vaginaku semakin mengencang dan aku merasakan sebentar lagi akan orgasme lagi.

” Vin kam,u hebat … kamu jantan .. Vin… bentar lagi aaaaahh,” teriakku keenakan.

Bibirnya yang melumat payudaraku beralih melumat bibirku. Dan, aku sudah tidak tahan lagi.

” Vin ayuk saama Vin… ayuk dong sayang….aku mau puncaaak nih ” kataku

setengah berteriak dan dia membalasnya,” Iyaaaa… ayuk sama sama… “.

Tubuhku dan tubuh dia bergerak cepat. Aku naik turun dan dia mengimbangi dengan mendorong ke atas, sehingga penisnya semakin ke dalam.

” Aaaaaaaaaaah……….aaaaaaaaaaaaaaah sayaa klimakass,” teriakku dan aku mencapai titik klimaaks yang sangat tinggi.

Tubuhku mengejang dan bergetar keras. Tak lama kemudian nafas Vin semakin cepat dan dia juga menrintih keras,

” Eeeehhh….eeehhhhh…. saya keluar Errrr,” tubuhku ditekan kebawah dan dipeluknya dengan ketat.

Terasa sperma yang hangat menyemprot dan membasahi vaginaku. Aku roboh di pelukkannya., Pria ini memelukku dan mencium bibirku. Mesra sekali. Aku merasakan suatu bahagia dan kepuasan yang begitu tingg, seperti terbang ke surga.Aku menilai Vin memang jantan, pria sejati. Dia telah memberikan kepuasan yang sangat istimewa kepadaku.

Dalam keadaan saling berpelukkan. Vin menggeser tubuhnya dan tubuhku sehingga posisi kami tiduran di sofa panjang yang muat untuk tiga orang. Kucium ketiaknya dan bulu dadanya.

” Terima kasih sayang…kamu memberikan kepuasan seperti kualami sekarang ini,” bisikku.

Vin tersenyum dan menciumi rambut kepalaku. Setelah pulih , usai melewati “pertempuran” yang begitu seru dan nikmat. Aku mencoba bangkit dan menarik vaginaku. Ternyata penis Vin masih menegang, sehingga masih memadati lubang vaginaku. Sehingga agak sulit keluarnya. Vin yang sudah membuka matanya sempat tersenyum.

” Biarin di dalam dulu ya… sampai dia lemas sendiri,” katanya sambil meraih payudaraku dan mengelusnya lembut.

Beberapa menit kemudian setelah terasa vaginaku agak melonggar, pelan pelan aku bangkit dan melepas penisnya.

” Saya mau ke kamar mandi dulu,” kataku sambil berdiri.

Tapi saat melihat tubuh Vin yang terkapar dan jantan itu. Muncul keinginanku. Penis yang berlumur sperma bercampuran cairan vagina, kucium dan kulum sebentar. Vin sempat menggeliat.

” Err geli sekali…” katanya.

Aku segera bangki menuju ke kamar mandi. Saat aku membersihkan diri. Vin menyusulku. Dia minta aku duduk di bibir bathup. Dan dia membantu membersihkan vagianku dengan penuh perhatian. Setelah vaginaku bersih. Gantian aku yang mencuci penisnya. Selama aku menyambuni dan mengosok penis yang bergelantung, aku sempat membatin.

” Burung ini memang besar dan panjang .. pantas saja aku keenakan setiap kali dia masuk ke punyaku,”.

Setelah mandi aku dan Vin beristirahat di tempat tidurnya. Kami berdua tetap tanpa sehela benangpun. Saat aku menghitung waktu. Baru kusadari tadi kami ngesek lebih dari 35 menit. Beberapa menit berlalu aku terlelap dipelukan Vin.

Setelah terbangun jam menunjukan pukul 21.00. Vin menyiapkan makanan dan kami makan bersama. Romantisnya lagi, selama makan dan berbincang kami tetap telanjang bulat. Tubuhku terasa sudah kembali pulih. Ditambah dengan minum sesloki red wine lagi.

Setelah berkumur dan membersihkan mulutku, Vin mengajaku kembali ke tempat tidur. Dia memelukku dan mencium ku kembali. Kurasakan jilatan pada leherku. Nafasnya begitu hangat dan harum. Aku diam saja, menikmati jilatan dan ciumannya. Tapi hal itu tak berlangsung lama. Kubalas dengan mengulumnya bibir dan memainkan lidahku di dalam mulutnya. Sedangkan tanganku meraba raba dadanya. Vin bereaksi dengan mengelu elus payudaraku.

Putingku yang mulai mengeras dan mencuat diusap usah oleh jari jarinya. Terasa lembut dan enak. Lidaku gantian menjilati lehernya. Dia merintih kegelian. Penisnya kuelus elus, dan mulai mulai menegang kembali Tampaknya Vin mulai terangsang. Vin menurunkan kepalanya, dan mengulum puting buah dadaku. Nikmat sekali. Kulumannya dan ciumannya menjadi aku semakin terangsang.. Bibir dan lidahnya menciumi seluruh bagian depan tubuhku.

Jari jarinya yang bermain di vaginaku pelan pelan dengan lembut menyusup masuk ke dalam vaginaku. Jari tengah yang ukurannya cukup besar bermain di dalam. Terasa geli dan enak. Jari itu keluar masuk dan berputar putar di dalam. Aku merintih keenakan. Pahaku kukangkangkan lebih lebar lagi. Di bangkit dan kepalanya ke bawah .Dia menjilati rambut vaginaku, dan klitorisku. Dirku semakin kegelian. Rintihan dan desahan mengalir dengan cepat.

” Vin terus Vin.. terussss,” kataku merengek rengek minta agar dia mengoralku lebih enak lagi.

Lidahnya berulang ulang menjilati seluruh bibir dan lubang vaginaku. klitorisku di kecup2nya. Aaaaaah.. aku kegelian. Lubang vaginaku terasa dijuluri oleh lidahnya dan di dalam bergerak gerak menjelajahi seluruh dinding depan liang kenikmatanku itu. Kedua tangan Vin secara bersama juga mengelus dan meremas lembut kedua payudaraku. Aku menggelinjang semakin hebat. Kuangkat dan ketekuk kedua pahaku, agar Vin lebih mudah menikmati vaginaku.

“Aaaaahhhh…..aaaaahhhh…aaaahahhh .” Aku melolong keeenakan saat vaginaku terasa disedot dengan lembut oleh Vin. Tubuhku bergetar getar tidak karuan.

” Vin …Vin aku enak… gantian Vin …,” rintihku sambilberusaha duduk dan menarik tubuh dia.

” Kamu terlentang ya..” kataku.

Dia sangat mahfum dengan kemauanku itu. Tubuh yang perkasa itu terlentang. Kulihat penisnya sudah mencuat ke atas. kuraih penis itu kuelus elus sebentar. Kemudian aku mengulumnya. Kini kubalas permainan dia. Penis yang begitu dan menggiurkan itu kuisap isap, dan kujilati dengan [penuh nafsu.. Vin merintih rintih.Lenguhan berganti rintihan semakin cepat ketika.Kantung bijinya kujilati dan kukecup kecup..

” Er… aku geli sekali… kamu gituin.” rintih Vin.

Penisnya semakin tegang dan panjang.Kepala penis yang besar seperti helm, dan kini beriar kujilati dengan ujung lidahku. Vin mengejang ngejang.Tangan Vin berusaha menggapai tubuhku. Kemudian posisiku beralih tubuhku di sampingnya. Sehingga tanganya bisa menjangkau payudara dan vaginaku. Saat aku mengoralnya, Vin merangsang payudara bergantian dengan vaginaku.

Kini aku ikut menggelinjang. Pinggulku bergoyang goyang. Dia menarik pinggulku. Menempatkan posisi vawahku persisi di mulutnya. Kami bergaya 69. Vaginaku dijilati dan disedot sedot. Sementara tangan kanannya mengelus elus kedua buah dadaku bergantian. Hisapan dan hilatan terus kulakauakn pada penisnya. Lidahku juga menjilati bagian bawah kantung pelirnya. Di sini Vin, kembali mengejang.

” Terus ke bawah lagi jilati semua… aaaahh….aaaahhh…aaah,” rintih Vin.

Vin dan akupun sudah semakin tidak tahan. Ingin segera mentutaskan permainan ini.

” Err masuk yaaa.. kamu di atas,” pintanya.

Beberapa menit aku masih mengoralnya.Aku bangun dan berjongkok di atas penisnya. Kugegam penis itu dan kubimbing masuk ke dalam vaginaku. Enak sekali, penis yang panjang itu terasa masuk sangat dalam.sekali. Pinggulku bergoyang dan berputar. Menstimulasi penis Vin yang tercengkeram di dalam. Setiap aku menggerakan pionggulku, Vin melakukan hentakan dan gerakan memutar yang berlawanan. Nikmat sekali. Tapi aku ingin bisa lebih menikmati lagi.

” Vin… kamu diam ya .. biar kamu menikmati saja dan aku yang kerja,” kataku dan dia mengangguk sambil tersenyum.

Kedua tangannya terus mengelus kedua payudaraku dan bergantian dengan mengelus pinggulku. Bokongku naik turun dan pinggulku berputar putar, Penis di dalam diremas remas oleh dinding dan otot vaginaku. Vin memejamkan matanya, menikmati permainanku. Meski tubuhnya diam, terasa penis yang sedang merasakan kedutan kedutan vaginhaku juga memebrikan perlawanan. Penis itu sepertinya tersentak sentak dan bergerak memutar.

Aku geli sekali dan nikmat. Aku merintih dan mendesah desah lebih liar lagi. Vaginaku terasa geli sekali.

” Sayaaaaa…. enak Vin.. aaaahhh aaaahahh aaaahhh,” rintihku sambil memacu gerakan pinggulku lebih liar.

Vin mendekap pingganku dan mengikuti gerakan tubuhku yang meliuk liuk. Bokokngku ku tekan lebih dalam lagi. Gesekan bulu yang mengelilingi penis Vin, membuat vagina dan selangkanganku semakin kegelian. Suara di kamar berukuran 3 kali 4 meter itu semakin ramai oleh dengusah nfaas dan rintihan kedua manusia yang sedang berpacu kenikmatan.

Tubuhku semakin mengejang dan rintihanku sudah tidak beraturan lagi. Terasa aliran kenikmatan dan kegelian menjalar ke seluruh tubuhku. Mulai dari ujung kaki sampai ke ubun ubun.

” Vin saya enaaak…. ayuk… ayuk kita bareng…eeeehh..eeehhh,” kataku saat merasakan kegelian yang begitu hebat dan sebentar lagi pasti segera orgasme.

G Spotku berkali kali tersentuh oleh penis Vin. beberapa menit kemudian tubuhku mengejang dan aku berteriak keras,

” Aaaaaaahhh………aku klimaksss Vin….”.

Vaginaku berkedut kedut lebih cepat. Vin merasakannya,

” Enaaak .. punyamu … aaaahh” rintihnya sembari dan tangan Vin dari tadi mengelus dan meraba payudaraku beralih memegangi pinggangku.

Beberapa menit kemudian dia melenguh panjang,” Aaaaauuuuuhhh…aaauhhh,”.

Penis yang begitu besar dan memadati vaginaku, terehentak hentak dan menyemburkan sperma. Dengan vaginaku masih mencekeram penisnya, aku duduk terdiam. Kedutan di dalam vaginaku masih berlangsung ssementara penis Vin pun belum terlihat tanda lunglai. Kupandangi Vin, dia tampak puas. Begitu pula aku juga mengalami kepuasan lagi.

Selewat beberapa menit kemudian, terasa penis Vin mengecil, dan pelan pelan kutarik keluar. Tubuhku roboh ke samping Vin. Kupeluk tubuh pria yang sering memmuaskan dahaga seksku itu. Kami berciuman dan berulang ulang menyampaikan perasaan masing masing. Vin dan aku sama sama puas dan merasakan kenikmatan.

Setelah membersihkan diri aku bersiap siap pulang. Vin masih sempat menciumku bibir dan vaginaku. Akupun sebelum keluar kamar mengulum penisnya yang terkulai lemas di balik celananya. Vin mengantarku pulang dengan mobilnya. Di tengan perjalanan kami berjanji bila ada kesempatan dan membutuhkan akan ML lagi.

Malam itu aku sungguh bahagia karena memperoleh kepuasan dan kenikmatan. Desakan dan luapan libido kini terbayar sudah. Sampai menjelang tidur pun bayangan, serunya permainan ngesek tadi terus muncul di kepalaku. Kubayangkan begitu aku begitu nikmat ketika penis Vin menjelajahi dan menghujam di dalam vaginaku. Dan setiap kali aku membayangkan penis yang panjangnya lebih dari 17 cm, mungkin juga antara 18- 20 cm itu vaginaku mengencang.

Judul: Permainan Istriku Ketika Di Pijat

Author : the_4_kid , Category: Swing

Sudah sekitar 2 bln terakhir ini gw sering berfantasi yg mungkin bs dibilang nakal. Yakni merasa lbh horny jk melihat istri gw ML sm cowok lain. Ya.., mungkin krn khdpn seks yg monoton. Seiring dengan berjalannya waktu gw berhasrat ingin mencoba merealisasikan fantasi gw tsb.

Istri gw tergolong alim & pemalu. Pernah gw pancing ide gila ini sewaktu sedang ML dengannya. Walhasil… do’i marah bro.

Hingga suatu hari muncul ide yg mnrt gw cocok untuk merealisasikan fantasi gw tsb.

Awalnya gini, untuk menjaga kebugaran & vitalitas tubuhnya, istri gw sering dipijat. Tp selama ini yg mijat adl ibu2x tua. Ya.., namanya juga tukang pijat beneran.

Sedikit info ttg istri gw, usianya 29 th, tingginya 165cm, ukrn bra 36B. Kulit kuning langsat. Facenya sepintas spt Dina Lorenza.

Kejadian ini berawal ketika suatu hr gw pernah baca iklan dikoran tentang pijat refleksi. Bermodalkan info tsb, lalu gw ketempat pemijatan tsb. Singkat cerita, setelah mendapatkan info yg gw butuhkan, akhirnya gw membuat janji dgn pengurus panti pijat tsb mengenai kapan, siapa yang yg memijat & dipijat, kategori pemijatan & tempatnya.

Di hari & tempat yg telah dipersiapkan, sekarang gw tinggal menunggu waktunya sj. “Jam berapa Mas pijatnya?” tanya F istri gw. “Jam 9”. “Kok ga suruh Bi Tika sj sih yg pijat. Kaya’ biasanya?” “Pijat yg satu ini lain. Namanya juga refleksi. Bukan spt pijat urut biasa. Tp fungsi utamanya utk merelekskan otot2x yg kaku. Bahkan bs menyembuhkan penyakit tertentu jika rutin”.

Tepat jm 9 lwt 10 menit sang pemijat pun datang.

“Malam Mas T. Maaf sy sdkt terlambat.” “Ndak apa2x. Kebetulan anak2x sdh tidur, jadi ga ada yg ganggu. Maklum msh kecil2x.”

Setelah perkenalan sejenak dgn istri gw, lalu acara pemijatan pun dimulai.

Sengaja gw pilih ruang kamar tidur khusus tamu dlm proses pemijatan kali ini. Karena sebelumnya gw sdh memasang hidden cam di salah sudut kmr tsb. Jd nanti gw bs leluasa memantau seluruh isi ruangan.

“Bisa dimulai skrng Mbak F” tanya A kepada istri gw. Sdkt info lagi, pemijat yg gw pilih memang usianya lebh muda 3 th dr istri gw. Dan face-nya pun lumayan ganteng. Kulitnya kuning, tinggi sktr 170 cm.

Istri gw berbaring telungkup diranjang yg memang khusus utk 1 orang. Dia hanya berbalut kain tp msh menggunakan bra & cd.

A memulai aksinya. Pijatan dimulai dari telapak kaki. Gw memperhatikan dgn seksama setiap gerakannya.

“Kalo terasa sakit, bilang ya Mbak,” ucap B kepada istri gw. “Iya,” jwb F singkat.

Sambil memijat B berusaha bersikap sopan baik dlm berbicara maupun bertindak. Dan untuk mencairkan suasana, kami bertiga pun terlibat perbincangan ringan.

Hampir 10 menit berlalu, tahap pemijatan berhenti didaerah lipatan dengkul. Kemudian B beralih ke punggung.

“Maaf Mbak F, sy buka bra-nya ya. Soalnya mau diberi minyak?” Dengan posisi kepala yg miring, Istri gw melirik kearah gw. Dan gw pun mengangguk pelan. “Buka sj A, biar nggak mengganggu,” jwb gw.

F mulai kelihatan rileks. Dan dia mulai menikmati pijatan B didaerah punggungnya.

“Aku ke WC dulu Ma, udah kebelet nich,” kata gw pura2x. Padahal disinilah awal fantasi gw bermulai. Lalu gw meninggalkan mereka berdua di dalam kamar.

Keluar dr kamar gw tdk menuju ke WC melainkan ke ruang tamu sambil menghidupkan alat perekam dr hidden cam yang sdh gw pasang.

Video receiver & recorder yg gw beli cukup kecil tp lumayan canggih. Selain kualitas gambar yg cukup bgs, alat ini juga dilengkapi dgn audionya.

Sungguh pemandangan yg bs bikin horny melihat istri gw disentuh & diraba oleh pria lain. Apalagi ketika A minta izin istri gw utk menurunkan sdkt cd-nya krn akan memijat daerah pantat.

Gw semakin horny ketika melihat aksi A yang agak menekan-nekan jarinya didaerah pangkal tulang ekor pantat istri gw. Dan istri gw pun kelihatannya semakin rileks dan menikmati setiap sentuhan & pijatan A.

Gw mengambil inisiatif utk cari alasan keluar rumah supaya mereka bisa lebih leluasa. Dgn berpura-pura keluar dr WC, gw msk lagi kedalam kamar.

Pemandangan yang indah. Kini cd F sudah berada di daerah dengkulnya. Meskipun pantatnya tertutup kain.

“Ma., aku keluar sebentar mau beli nasi goreng. Mama mau nggak?” Istri gw hanya menjawab dgn gelengan pelan dengan mata yg terpejam.

Kelihatannya dia sudah benar2x rileks. Lalu gw pun keluar dgn menghidupkan motor. Dan berlalu.

Beberapa meter dr rumah, gw mematikan mesin. Lalu gw kembali lg kerumah. Dan masuk lewat pintu belakang yg sengaja tdk gw kunci. Dari dlm dapur, gw mulai menonton aksi A.

Pemandangan yg gw lihat semakin indah. Kini cd F sudah terlepas dari tubuhnya. Samar-samar gw bisa mendengar percakapan mereka krn gw sengaja mengecilkan volume audionya.

A sekarang memijat bagian paha F. Ketika kamera zoom-nya diperbesar, gw dpt melihat dgn jelas ada sesuatu yang menonjol dibalik training A.

“Jika terasa sakit, bilang ya Mbak.” F hanya mengangguk pelan. Tangan A semakin naik keatas pangkal paha F. Terlihat jelas posisi F yang mulai berubah. Dia mungkin sdng menahan geli atau juga merasakan sensasi tertentu ketika jari2x A terkadang dengan sengaja menyentuh vaginanya.

Posisi kaki F sekarang tidak serapat pada saat mulainya pemijatan. Sedikit demi sedikit mulai melebar baik sengaja atau pun karena akibat pijatan A yg membuatnya bergeser.

“Enak Mbak F?” Istriku hanya terdiam. Mungkin karena agak malu.

“Mas T beli nasi gorengnya di mana mbak?” “Di daerah L” balas F.

Jarak tempuh dr rumah ku ke daerah L sekitar 15 menit PP. Proses pemesanan kira2x 15 menit. Jadi ada wktu 30 menit. Mungkin itu yg ada dalam benak A.

A menuangkan sedikit minyak di atas bongkahan pantat F. Dan mulai memijat lembut lalu turun kearah anus F. Mendapat sentuhan itu F secara reflek menggoyangkan pantatnya.

A merasa mendapat angin segar. Tampak sekali A berusaha merangsang F dgn sentuhan2xnya baik didaerah anus maupun daerah vagina F. Dan sekarang tanpa malu2x lagi bahkan lebih intensif. F istri gw pun tampak semakin menikmatinya.

Suasana horny didalm ruangan gw ganggu sejenak dgn bunyi sms yg sengaja gw kirim ke F yg beritanya bahwa ban motor gw bocor. Jadi mungkin agak lama br bs kembali kerumah.

Jawaban yg gw terima sedikit mengejutkan. “Iya…, ndak apa2x. Sebentar lagi pijatannya udah selesai”. Setelah mengirimkan sms, A melanjutkan lagi pemijatannya.

Kali ini di mulai memijat daerah leher. A berdiri tepat di atas kepala F yang sekarang kepalanya disuruh menghadap sejajar ranjang.

Dengan memijat2x lembut sesekali tangan A mengelus punggung F. Dengan posisi mata tetap terpejam, F nampak sekali menikmati setiap sensasi yang dirasakannya.

Tangan kiri memijat lembut pangkal leher F dan tiba2x tangan kanannya mengelus dan mengusap vagina F yang menurut gw pasti sudah sangat basah.

“Ach…., ach.., terdengar desahan F. “Nikmati saja mbak” ucap A sambil mulai memasukan jarinya kedalam vagina F. “Hmm…, ackh….” Nafas F semakin tidak teratur.

Lalu.., A menarik tangan kanannya dan tiba2x mengeluarkan kontolnya. Kini pemandangan yg kulihat benar2x dahsyat. Dengan posisi berdiri diatas kepala F, kontol A berada tepat dihadapan mulut F. Meskipun F belum menyadarinya karena sedari tadi matanya terpejam. Setelah itu, A memainkan kembali tangannya di daerah vagina F.

“Mbak.., tolong buka matanya,” pinta A. Lalu perlahan F membuka matanya. F sempat kaget mendapati ada sebuah torpedo yang mengacung tegak dan jelas lebih besar & panjang dari punya gw berada tepat didepan mulutnya.

Dengan nafas sedikit memburu, tanpa diperintah, dengan perlahan F mulai mencium dan menjilat kontol A. A memajukan sedikit posisi berdirinya agar F dapat dengan mudah memasukan kontolnya kedalam mulutnya.

Sungguh diluar dugaan gw. Ternyat F yg selama ini gw kenal agak sedikit berbeda. Dengan lembut F mulai mengulum & menghisap batang kontol A. Mendapat perlakukan spt itu, A menyuruh F berbaring terlentang tanpa melepaskan kontolnya dari mulut F.

Lalu A mulai meraba dan menjilat toket F.

Mereka melakukan aksi seperti itu sekitar 5 menit. “Boleh sy masukan mbak?”

F mengangguk pelan. “Jawab dong mbak,” ucap A pelan sambil mulai mencium bibir F. Karena pengaruh libido yg sdh tidak terkendali, gw melihat F mulai bertindak diluar kendalinya.

“Boleh,” ucap F lirih.

Kemudian A memposisikan kontolnya didepan vagina F. Dengan sekali dorongan halus, perlahan-lahan kontol A masuk kedalam memek F. “Aacchhh…,” desah F.

A mulai memompa pantatnya secara perlahan. F yang dalam kendali birahi seolah-olah mengimbanginya.

Oohh., nikmat sekali memekmu mbak. Sempit sekali. Bagaimana kontolku mbak. Nikmat? Tanya A. “Iya…,” “Apanya mbak? Pancing A. “Kontolmu nikmat. Besar & panjang.” Nikmat mana dengan punya suamimu mbak?

“Eh…ackh.. nik..mat kontolmu.”

“Yeaach…, nikmatilah Mbak, nikmatilah kontolku.”

Uch…achk, Terdengar desahan F Istri gw.

“Agak cepat A. Genjot yg cepat. Ack…, yah…, genjot yg keras A.” Teriak F. “Apanya yg digenjot Mbak?” Pancing A. “Memekku A. Genjot memekku.”

“Aa….aaack….., aku hampir sampai A. Terus…., yg cepat..” nafas F semakin memburu.

Perkiraan gw sebentar lagi F pasti akan merasakan orgasmenya. Namun beberapa detik kemudian, ternyata A mencabut kontolnya dari vagina F.

“Jangan dicabut A, please…, aku belum dapet. Please.., masukan lg kontolmu A. Aku mohon…,” pinta F.

“Tenang aja mbak. Pasti aku masukan lagi. Tapi, kita ganti posisi dulu. Sekarang mbak nungging ya..? perintah A.

Demi meraih orgasme dan karena dipengaruhi birahi yg tinggi, F istri gw seolah-olah melupakan statusnya sekarang.

Tanpa diperintah kedua kalinya, F langsung mengambil posisi menungging.

Melihat lubang memek F yang menganga, A langsung mengarahkan kontolnya.

Blezzz.., kontol A yang panjangnya ge perkirakan 20 cm langsung lenyap ditelan memek F istri gw.

“Ackh…, pelan-pelan A,” erang F. Tapi A tdk menghiraukan ucapan F. Begitu kontolnya amblas, langsung digenjotnya cepat-cepat.

“Oh.., yeach.., nikmat sekali memekmu F. Legit.”

Nafas F kian memburu mendapat perlakuan sedikit kasar dari A.

“Terus.., genjot terus yang cepat. Ackh…, ackh…., oohhh..,” F kian meracau.

“Semakin cepat A. Aku udah mau sampe…, ackh..”

Mendengar ucapan F, A tiba-tiba langsung mencabut kontolnya dari lubang memek F.

“Aduh.., please A jangan dicabut. Please…, masukan lagi,” terdengar suara F sedikit menghiba.

Lalu A membalikan tubuh F. Disuruhnya F mengangkang. Kemudian…, Blezzz, kontol A masuk lagi.

Sambil melumat bibir F, dengan genjotan berirama dan pelan A mulai memompa pantatnya.

Gw yang sedari tadi melihat kejadian ini, jadi ikut-ikutan ngos-ngosan menahan nafsu.

Terus terang, gw jadi sangat horny melihat F istri gw di perlakukan sedemikian rupa oleh pria lain.

Hampir 5 menit berlalu, bibir F dan A masih tetap berpagutan, saling hisap dan menjilat. Dan mulai tampak tanda-tanda F akan segera orgasme.

Ciumannya semakin kuat. “Ackh…., ackh…., mmph…, te..rrus.., agak cepat A.”

“Mbak…F,” terdengar pelan suara A sambil mengurangi kecepatan genjotannya.

“Mbak F…., kalo’ mbak pengen sampe, mbak F harus menuruti semua keinginan saya.”

F terdiam sejenak. Birahinya mengalahkan akal sehatnya. Lalu mengangguk pelan.

“Baiklah…, saya akan buat mbak F orgasme dengan syarat mbak harus mau menelan sperma saya. Bagaimana mbak F ?” tanya A sambil tetap memompa pantatnya.

Gila.., batinku. F pasti tidak akan meu melakukan hal itu. Selama ini dia tidak pernah mau jika gw akan ejakulasi di mulutnya. Apalagi menelan sperma.

“Terserah kamu A. Yang penting sy bisa sampe. Puaskan sy sekarang A, please…” pinta F.

Mendengra ucapan F, gw sempat terperanjat. Tapi gw juga penasara, apa betul f mau melakukan hal tersebut.

“Baiklah mbak.” Lalu A mulai menaikan kecepatan genjotannya. Sambil menjilat puting F.

“Yeach…, terus A. Ter..russs., yang cepat A.”

“Ackh…, nikmat sekali mbak memekmu. Ayo mbak…, ucapkan mbak kalo mbak mau menelan sperma sy. Katakan mbak,” perintah A.

“Saya mau sperma kamu A.” “Mau apa mbak? Ucapkan yg jelas.”

“Saya mau menelan sperma kamu A.” “Kamu haus…?” “Iya…, A. Sy haus dan mau menelan perma kamu.”

“Terus…., ohh…., nikmat sekali kontolmu A. Genjot yg cepat A. Sy udah mau sampe…., lebih cepat lagi A.”

“Saya akan memberikan orgasme terhebat yg belum pernah kamu rasakan mbak,” balas A.

Melihat tanda-tanda F akan segera klimaks…, “Nah…, sekarang tahan nafasnya mbak,” perintah A.

F menuruti perintah A. Dia segera menahan nafasnya. “Tahan terus mbak, jangan dikeluarkan dulu sampai mbak sampe,” perintah A lagi.

Beberapa detik kemudian….

“Aaacchkkkk…………..,” teriak F. Sungguh pemandangan yang benar-benar menakjubkan. Mata F terpejam begitu dia memperoleh orgasmenya. Nampak sekali dia merasakan suatu kenikmatan ML yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Tubuhnya bahkan menegang keras berbarengan dengan orgasme yang diperolehnya.

Tidak lama setelah F orgasme, tiba-tiba A mencabut kontolnya. Dan mengarahkan ke mulut F.

Sambil mengocok kontolnya dengan cepat, “Sekarang…, buka mulutnya mbak,” pinta A.

Dugaan gw meleset. Gw kira F tidak bakalan mau melakukan itu. Tapi yang gw lihat ternyata sungguh diluar dugaan. F menuruti perintah A.

“Hisap kepala kontol sy mbak,” perintah A. Sambil mengocok dengan semakin cepat, A menghisap dengan kuat kepala kontol A.

“Aa….ackhh….., ackh…., telan mbak. Telan semuanya.” “Tanpa ragu F istri gw menuruti semua perintah A dengan menelan semua sperma A.

Setelah semua spermanya diperas keluar, perlahan A menarik keluar kontolnya dari mulut F.

“Bagus mbak…, bagaimana rasanya ? Nikmat bukan. Sy yakin pasti mbak suka dengan rasa sperma sy. Karena saya bukan perokok.

F hanya tersenyum tipis sambil mengangguk pelan.

“Orgasme yg mbak alami tadi itu namanya A Little Death. Nikmat nggak?”

“Iya…, sy belum pernah orgasme senikmat itu. Ini pengalaman yg luar biasa,” jawab istri gw.

Setelah beristirahat sejenak, lalu mereka pun berpakaian kembali. Dan gw segera pura-pura kembali dari membeli nasi goreng.

“Ohh.., udh selesai mijatnya,” tanya gw pura-pura. “Udah Mas,” jwb A. Dan setelah ngobrol sebentar, lalu A berpamitan pulang.

“Gimana Ma ? Enak nggak ?” pancing gw. “Lumayanlah,” balas istri gw datar berusaha menutupi kejadian yg sebenarnya.

“Kalo rutin tiap minggu mau nggak ?” pancing gw lagi. “Terserah Mas aja.”

Judul: Pengalaman Di Hotel GBS

Author : ryo_kesepian , Category: Umum

KOta BL, Senin – 31 Desember 2001 Pukul 13.00

Sama – samar kudengar suara hujan dari kamar hotel yang kubooking bersama teman – teman untuk acara tahun baru nanti malam.Ku pandangi kamar yang bertarif 700 ribu dengan pandangan kagum dan bangga karena bisa menginap di hotel mewah bintang lima yang baru berdiri sejak 5 bulan yang lalu.Interior yang mewah dan suasana yang romantis serta ciri khas kebudayaan daerah yang jelas terpampang membuatku merasa nyaman untuk tinggal di kamar berduaan dengan pasangan,begitu yang terlintas dibenakku.

Perlahan saya bangkit dari tempat tidur berukuran king size yang telah kududuki selama 5 menit.Pandanganku yang semula menonton acara MTV kualihkan ke arah jendela.saya berjalan menuju jendela,memandang keluar melihat kotaku yang disiram oleh hujan yang telah berlangsung selama selama dua pekan.Dingin hujan ditambah dengan dinginnya AC membuat diriku merasa bergolak untuk menikmati kehangatan dari seorang wanita yang telah lama menjadi partnerku untuk urusan sex.

Klik….

Kudengar suara kunci pintu diputar dan pintu kamar mandi terbuka diiringi dengan langkah seorang gadis yang keluar dari kamar mandi.Maya, begitu nama gadis partner sexku.Sebenarnya kami pernah berpacaran selama kurang lebih tiga tahun yang selalu disertai putus sambung sehingga akhirnya kami menyadari bahwa kami tidak dapat bersatu disebabkan oleh perbedaan prinsip.Namun karena masih memiliki rasa sayang kami akhirnya berkomitmen untuk menjadi ‘sahabat’ yang saling membantu termasuk untuk urusan sex.

“Loh, kok belum dibuka sih bajunya say. Lagi liat apa ?”

“Hhmmm….. Ga liat apa – apa kok.Cuman lagi liat pemandangan kota aja.” jawabku.

Maya berjalan ke arahku dan kemudian memelukku dari belakang.Kurasakan dadanya yang berukuran 36-B menghimpit punggungku.Rasa hangat kurasakan dipunggungku,kudekap tangannya yang melingkari dadaku.Memang tinggi badan kami sepadan, yaitu 168 cm. Yang berbeda hanya beratnya saja,Maya 48 Kg dan saya 55 Kg.

“Say, udah lama yah kita ga berduaan seperti ini.saya kangen banget ma kamu.” bisik Maya.

“Namanya juga tinggal berjauhan.Masak kamu tega sih nyuruh saya tiap hari bolak balik S – BL.Emangnya saya penjabat? Kalo pengacara iya.He…he….he…” candaku.

“Ihh…nihh orang.Asal aja ya ngomongnya.” sambila berkata demikian Maya memasang tampang cemberut sambil melayangkan cubitan ke arah pinggang dan tanganku.

Secara reflek kubalikkan badanku dan kutangkap kedua tangannya.Sambil senyum kutatap kedua matanya dan perlahan kucium bibirnya yang merah merona.Dengan mata terpejam Maya menerima ciumanku dan kedua tangannya perlahan – lahan memeluk leherku.Kedua tanganku kuarahkan ke bongkah pantatnya yang montok dan kuremas – remas.Ternyata Maya hanya mengenakan celana dalam berenda warna merah dan buah dadanya dibiarkan tanpa ditutupi dengan BH.Kurasakan lidah Maya menari bersama lidahku, kami saling berpagutan dengan penuh nafsu.

Tiba – tiba…

“Aduh… !! Apaan sihhh ! Sakit tau !” kulepaskan ciumanku.Kurasakan sakit di bibirku.Maya sengaja menggigit bibir bawahku,raut muka nakal terlihat dari wajahnya yang bersih.

“Rasain.Itu balasannya yang udah buat saya kangen selama 6 bulan.Gara – gara suara kamu yang mendesah – desah di telpon saya sampai ga bisa tidur sebelum masturbasi.” jawab Maya sambil tersenyum.Memang selama ini setiap kali kami saling telepon akan ada selingan sex telepon selama 20 menit.Hal itu sering kami lakukan sehingga membuat tagihan telpon kami menjadi bengkak.Maklumlah selama ini kami kuliah di kota berbeda.Maya di kota Sd dan saya di Kota S tetapi setiap 6 bulan saya dan Maya berusaha pulang ke kota kami di BL.

“Awas kamu yahh.Kubalas nih…” Langsung kucium bibir Maya dengan penuh nafsu.Maya berusaha mengimbangi ciuman yang kulancarkan sambil tangan kanannya mengelus – elus penisku dari luar celana.Tangan kananku pun tak mau kalah,kuremas buah dada Maya sebelah kanan sambil kuplintir putingnya yang berwarna kecoklatan.

Masih saling berciuman,kedua tangan Maya berusaha membuka kancing celana jins biru tua kesayanganku.Setelah berhasil membuka kancing dan resleting celanaku,secara otomatis celanaku jatuh kebawah melewati kedua kakiku,yang tersisa hanyalah CDku saja.Kuangkat kedua kakiku secara bergantian untuk lepas dari celana yang sudah jatuh kelantai.Maya langsung memasukkan tangannya kedalam CDku,perlahan-lahan tangannya mulai mengelus dan mengocok penisku yang sudah tegak berdiri dari tadi.

Kulepaskan ciumanku dan dengan cepat pula kulepaskan kaos yang kupakai serta CDku.Begitu melihat penisku yang berdiri tegak keatas,Maya terlihat kaget.

“Gila ! Say,kontolmu kok tambah gede ? Habis kamu apain ?”

“Nga kuapa-apain kok.Paling cuma ngocok aja waktu kita sex di telpon.”

“Ah yang bener…. Jangan-jangan kamu sering ngentot ma perempuan lain yahh….”

Pertanyaan Maya hanya kujawab dengan senyuman,memang gaya bahasa Maya agak kasar bagiku tapi Maya memang kuajarkan untuk berbahasa kasar ketika kita sedang bercinta karena Maya dulunya adalah gadis alim yang punya nafsu sex yang besar tapi tidak dapat tersalurkan.

“Udah jangan ngerusak suasana,mo dilanjutin nga acara ngentotnya ? Kalo mau buka donk CDnya”

“Ihhh….. Yayangku kok jadi pemarahan sih… Hehehehhe….” Sehabis berkata demikian Maya segera melepas CDnya.Terlihat bulu kemaluannya yang tercukur tipis dan rapi membuat diriku bertambah nafsu.

Kembali kucium Maya dengan penuh nafsu sambil kutuntun Maya ke arah ranjang dan kuremas – remas kedua buah dadanya.Maya pun tidak tinggal diam,kedua tangannya asyik mengelus biji penisku dan mengocok penisku dengan lembut.Kudengar suara napas Maya dan diriku sudah mulai berat seperti habis olahraga selama 2 jam.Begitu sampai ditepi ranjang,Maya menjatuhkan dirinya secara perlahan dengan ditopang oleh kedua tangannya dengan posisi masih dalam keadaan berciuman.Begitu Maya sudah dalam posisi tidur,perlahan ciumanku mulai kuarahkan ke bagian telinganya,turun ke leher dan akhirnya berhenti di dada sebelah kanan.Kuhisap secara bergantian kedua puting milik Maya yang sudah mengeras sambil kuremas – remas dengan penuh nafsu.Tangan Maya mencengkram kepalaku sambil merintih pelan.

“SSttt…..ah….ahh….hmmmm……Eeennaaakkk Say….”

Lidahku mulai menari di kedua puting milik Maya.Kujilat,kusedot – sedot dan kugigit – gigit pelan kedua putingnya secara bergantian.Puting yang sudah mengeras seperti biji kacang atom menambah nafsuku untuk terus bermain di dadanya.Memang untuk ukuran wanita puting susu milik Maya termasuk besar dan saya termasuk lelaki yang lumayan suka dengan puting wanita yang besar (karena menurut mitos yang kubaca di majalah,wanita dengan puting susu besar memiliki nafsu sex yang besar pula).Kedua tangan Maya mulai mengacak – acak rambutku.Kuarahkan tangan kiriku ke daerah vaginanya.Perlahan kuarahkan jari tengahku ke belahan vaginanya.Kurasakan vagina Maya sudah mulai basah.Kumasukan secara perlahan jari tengahku kedalam lubang vaginanya dan jari tengahku mulai bermain didalam lubang kenikmatannya.Kedua tangan Maya menjambak rambutku secara tiba – tiba sambil mengeluarkan suara.

“Uuuhhhh…..ahh….. Say udah nga tahan lagi nnniiihhh….. Cepat Masukin kontolnya… !”

Rengekan Maya tetap tak kuhiraukan,kumainkan kedua dadanya sambil kupercepat pompaan jari tengahku didalam lubang kenikmatan milik Maya.Rupayanya Maya sudah tidak tahan,berkali-kali kedua pahanya menjepit tanganku.Selang 5 menit kemudian Maya mengejang,kedua pahanya menjepit tanganku dan rambutku dijambak dengan kuatnya.

“Aaaahhhh………..”erang kenikmatan Maya.

Tanganku penuh dengan cairan kenikmatan yang terasa hangat,jari tengahku pun terasa dipijit perlahan oleh dinding kenikmatan milik Maya.Begitu kedua pahanya mulai longgar kutarik tanganku dan kujilat cairan kenikmatan dari Maya tanpa sisa.Tampaknya saya masih haus dengan cairan kenikmatan milik Maya,segera kuarahkan kepalaku ke vaginanya dan kujilat serta kusedot-sedot vagina milik Maya.Vaginanya terasa becek lagi,Maya kembali mengusap-usap kepalaku.

“Say,gantian donkk.Maya khan jupa pengen ngisap kontolmu,pengen rasain sperma kamu.”

“Ya udah kita ganti posisi ke 69 aja.saya dibawah yahh….”

Kami pun berganti posisi,saya tidur telentang dan Maya naik diatas perutku.Vagina Maya yang terlihat basah dengan warna merah kecoklat-coklatan diarahkan ke mukaku.Segera kusambar vagina,kujilat,kusedot-sedot,dan kumainkan lidahku di vagina Maya.Maya sendiri asyik dengan kontolku,perlahan dikocok dan dihisap kontolku dengan lembut disertai dengan permainan lidah Maya diseputar kepala kontolku.Kurasakan rasa dingin bercampur nikmat setiap kali Maya memainkan lidahnya diseputar kepala kontolnya.Tanpa bisa kucegah kutembakan cairan spermaku kedalam mulut Maya,Maya langsung berhenti menghisap kontolku.Setelah selesai kukeluarkan spermaku Maya menelan semua spermaku dan menjilat sisa-sisa sperma yang ada dikontolku.

“Satu sama yahhh….”Maya tersenyum sambil mengedipkan matanya.

“Spermamu banyak juga,saya ampe sempat eneg waktu nelannya.”sambil berkata demikian Maya berlutut disamping tubuhku.

“Iya udah dua minggu nga ngocok biar bisa keluarin dimulut kamu ma didalam vagina kamu.”

“Daasarr…. ! Masukkin ya kontolnya..”Sambil meraih kontolku dan mengarahkannya ke vagina miliknya.

“Iya,masuukkin aja.saya udah nga tahan nih..”

Kontolku masuk dengan mudahnya di vagina Maya yang sudah basah oleh cairannya sendiri dan cairan ludahku.Setelah masuk semuanya,Maya mulai perlahan naik turun diatas kontolku.Dengan posisi Maya diatas dia terlihat sexy,kedua payudaranya ikut naik turun mengikuti irama Maya yang memompa kontolku.Kupeluk pinggangnya dan perlahan kugoyangkan kedua pinggulku mengikuti irama goyangan Maya.Tak lama kemudian Maya terlihat begitu liar,dia menggoyang pinggulnya dengan cepat dan ditopangkannya kedua tangannya kedadaku.

“Cepoookk…..cepokkk…..ceepoookkk……”

Ternyata vagina Maya sudah becek sekali sehingga menimbulkan bunyi dan tak berapa lama kumudian Maya mengalami orgasmenya yang kedua.Maya pun merebahkan tubuhnya ke dadaku yang bidang,kurasakan kontolku dipijat-pijat dengan perlahan oleh dinding vagina Maya.Kubiarkan Maya menikmati sisa-sisa orgasmenye.Setelah nafas Maya mulai teratur segera kubalikkan tubuhnya dan kini posisi kami adalah missionary.Maya hanya bisa menatapku sambil tersenyum,kupompakan kontolku dengan perlahan sambil mencium bibir Maya.Semakin lama kupercepat pompaan kontol dengan hitungan 10x pompa cepat 1x tusukan yang dalam (teknik ini kupelajari semalam sebelumnya dari sebuah majalah bacaan dewasa).Rupanya Maya sangat menikmati teknik yang kulakukan padanya.

“Ehh….hhmmm….say….enakkkk….”

“Teerruuussss sayy…..teerrruussss…..ahhh…..”

Tiba-tiba…..

“Sayyy…………” teriak Maya

saya masih terus memompa vagina MAya,tak kuhiraukan teriakan dan cakaran Maya dipunggungku.Kucium bibir Maya dan kemudian kualihkan ke payudaranya.Kunikmati kedua puting coklat Maya seperti saya menikmati es krim.Rasa pegal dikedua tanganku mulai terasa,perlahan kurebahkan badanku diatas tubuh Maya dan kucium bibirnya dengan nafsu.Maya tampak begitu nafsu menyambut ciumanku,dia menyedot lidahku dan memainkan lidahnya didalam rongga mulutku.Puas dengan ciuman dibibir kuarahkan ciumanku kekupingnya.KUmainkan lidahku dilekukan kupingnya,hal ini membuat Maya tambah naik nafsunya.

“Say…geeelllliii…..aahhhh…..”

“Sayyy……lebbbihhh dallaammm lagiii…..teruussshhh….”

Racauan Maya tak kudengar lagi karena tiba-tiba kurasakan kontolku hendak memuntahkan peluru yang sudah lama kutahan.

“May..saya mo keluar nihhh…..”

“Sama-sama…saya juga mo keluar kokk…..”

Kupercepat pompaaanku dan tak lama kemudian…

“May……”

Kutekan pinggulku dengan kuat ke dalam vagina Maya dan kulepaskan sperma yang sudah siap untuk bertemu dengan induknya.Sekejap rasa nikmat,puas dan lega menjadi satu membuat diriku seperti terbang ke langit kesembilan.

“Saayyy…..saya….sayaa…..aaahhhh……”

Kedua paha Maya menjepit pinggulku,Maya pun mengalami orgasme yang ketiga.Kubiarkan Maya memelukku,kudengar suara nafas Maya yang terengah-engah seperti lari 5 km.Berangsur-angsur nafas Maya mulai kembali normal.Perlahan kuangkat tubuhku,kulihat Maya tersenyum dengan bahagia.Kucium bibirnya dan kurebahku tubuhku disampingnya.Maya memelukku sambil tangannya mengelus-elus kontolku (Sejenak saya berpikir mengapa kontolku tidak lemas setelah berhubungan dengan Maya,apa memang nafsuku sedang tinggi.Tapi tak kuhiraukan kejanggalan tersebut karena hari ini saya memang akan bercinta sampai puas dengan Maya).

“Say,tadi itu enak banget.saya ampe keluar empat kali.Kamu emang perkasa…”

“Loh..bukannya tiga kali? Tadi kamu tiba-tiba teriak kenapa ?”

“Ihhh…kamu ini.Tadi itu pas ngentot pertama saya keluar trus keluar lagi barusan.Jadi selama ngentot tadi saya keluar 2 kali.” Maya tersenyum malu ketika mengatakan hal tersebut

“Jadi hari ini saya yang menang yahhh….hehehhehe….”

“Iya,kamu yang menang. kontol kamu enak banget say.Tambah gede dan juga kamu tambah pintar aja.Sapa yang ngajarin ?”

“Ada dehhh..RAHASIA.Tapi memek kamu juga enak,kelihatannya tambah sempit.Beda ama waktu kita ngentot pertama kali.Makasih yahh… ! CUP..”Sambil kukecup keningnya tanda ucapan terimakasih dan sayang.Tampak raut muka Maya tersipu malu bercampur senang dan memelukku dengan lebih erat lagi.

“Yang penting kamu bisa membuat saya puas itu sudah cukup kok.”

Setelah itu permainan kami lanjutkan seharian dikamar mandi,diranjang,diatas kursi tamu,di depan jendela yang menghadap ke kota serta dilantai kamar beralaskan selimut hotel yang tebal.Total permainan kami saat itu adalah sekitar 8 kali.Akhirnya Maya kuantar pulang kerumah pukul 21.45 dan saya kembali ke hotel tempat saya melakukan ‘olahraga’ nikmat bersama Maya karena malam itu saya mengadakan pesta tahun baru bersama teman-temanku.Sepanjang jalan kuputar lagu Stinky yang berjudul Cinta Suci secara berulang-ulang dan saya pun dengan suara lemas ikut menyanyikan lagu tersebut.

Judul: Roti Bakar

Author : razi@075 , Category: Setengah Baya

Minggu kemarin aku ditugaskan oleh kantorku ke kantor

cabang di Bandung. Memang aku sudah ada rumah yang sudah

disiapkan oleh kantor pusat, jadi tidak perlu lagi untuk

menginap di hotel, yang tentu akan lebih besar

pengeluarannya.

Sudah tujuh hari ini aku selalu makan malam keluar

rumah, karena rumah tempat tinggalku hanya ada pembantu

pria yang hanya membersihkan rumah serta mencuci pakaian

dan pulang pada sore hari setelah aku pulang dari kantor

cabang di Bandung.

Memang sudah dua hari ini aku bila tidak ingin makan

malam yang harus naik angkot, aku suka makan roti bakar

dan bubur kacang ijo yang berada di depan kantor

cabangku. Itupun tidak boleh lebih dari jam sembilan

malam, karena lebih dari jam tersebut warung tersebut

sudah tutup.

Aku kaget juga saat makan diwarung tersebut

yang biasa melayani Pak tua, kok tiba-tiba yang melayani

seorang ibu yang berwajah lumayan manis, dengan tubuh

sintal, umur kira-kira 45 tahun, dan berkulit kuning

langsat seperti ciri-ciri khas orang Jawa Barat.

“Bu, bapak yang biasa melayani disini, kemana bu?”

sapaku.

“Och Mang Didin, sedang sakit Mas.” jawabnya.

“Lalu ibu siapa?” tanyaku penasaran.

Dia hanya tersenyum manis saja.

“Wach ini ibu bikin penasaran aja nich” pikirku dalam

hati.

Memang sich dia balik bertanya, aku ini siapa, dan

setelah aku jelaskan, dia memang memperkenalkan diri

bahwa dia ibu Lastri. Dia jelaskan bahwa dia tinggal

persis dibelakang kantorku saat ini, tetapi masuk gang

kecil. Aku duduk sambil makan roti tidak biasanya hingga

sampai warung tersebut tutup.

Cukup jelas bahwa Bu

Lastri hanya tinggal bersama seorang anaknya laki-laki

yang sudah berkeluarga. Lalu dari informasi pembantu di

kantor cabangku, bahwa Bu Lastri tersebut ditinggal

cerai oleh suaminya setahun yang lalu, dan dikatakan

bahwa Bu Lastri sebelum cerai termasuk orang yang

berada, meskipun tidak terlalu kaya sekali. Pastas

pikirku, dari dandanannya, Bu Lastri tidak terlalu

seperti ibu-ibu yang lain, dalam arti tidak memakai

kebaya, melainkan memakai baju terusan hingga

dengkulnya.

“Bapak kapan ngobrol dengan Bu Lastri? tanya pembatuku.

“Tadi malam.” jawabku singkat.

“Wach bapak pulang kantor suka malam sich, Bu Lastri

kalau siang atau sore kira-kira jam lima suka ngobrol

disini dengan saya lho.” jawab pembantuku lagi.

Och ternyata Bu Lastri suka ambil air ledeng dari

kantorku, untuk air termos diwarungnya. Hm.. Kesempatan

pikirku.

Singkat cerita, aku sengaja pulang agak sore, dan memang

benar Bu Lastri sedang ngobrol dengan si Dadang

pembantuku. Lalu aku ditegurnya sambil berkata.

“Maaf nich Mas, ketahuan dech, sering minta air nich.”

“Nach yach.. Ketahuan, kalau begitu harus bayar nich,

dengan roti bakar.” candaku.

Tapi tiba-tiba si Dadang mau izin pulang cepat karena

adiknya mau kedokter, kebetulan pikirku he he he.

“Iya dech nanti aku bilang sama Mang Didin menyiapkan

roti bakar untuk Mas”

Lalu aku coba untuk menggodanya “Ech enggak bisa, yang

ambil air khan ibu, yang membuatkan roti bakar juga

harus Bu Lastri dong.”

Dia menatapku tajam sambil menggigit bibirnya yang

sangat indah dilihat, aku sudah dapat membaca

pikirannya, bahwa dia sudah mengerti maksudku. Lalu aku

balas tersenyum kepadanya, diapun tersenyum kembali

sambil permisi untuk ke warungnya.

Akhirnya aku paling sering pulang sore-sore hingga suatu

waktu saat si Dadang hendak izin tidak bisa masuk,

akupun izin ke kantor untuk istirahat dirumah, padahal

ada niat untuk mengencani Bu Lastri, karena memang aku

sudah ada sinyal dari pandangan matanya beberapa hari

yang lalu.

Siang hari seperti biasa Bu Lastri datang untuk minta

air, lalu aku pura-pura menjawab meringis sambil

memegang pinggangku. Dan memang benar Bu Lastri datang

menyambut.

“Kenapa Mas pinggangnya”

“Enggak tahu nich, tadi pagi bangun tidur langsung

pinggang saya terasa mau patah.”

“Mau ibu pijitin” tantangnya. Wach kebetulan nich

pikirku.

Singkat cerita aku sudah tiduran dibangku panjang

diruang tamuku tanpa baju, lalu Bu Lastri memijit

pinggangku. Setelah lima menit aku bangkit berdiri, lalu

aku tawarkan ide gilaku untuk memijitnya.

“Ach memang Mas bisa mijit, kalau bisa kebetulan nich

betis ibu suka pegal-pegal”

Aku tidak banyak bicara aku suruh Bu Lastri tiduran

untuk memijit betis bagian belakang. Memang seperti

kebiasaan Bu Lastri hanya memakai baju daster bercorak

kembang hingga batas dengkulnya. Lalu aku mengambil body

oil dari kamarku.

Aku urut betis Bu Lastri lalu

pelan-pelan pijitanku aku naikkan hingga pahanya. Dia

ternyata hanya diam saja. Karena sudah ada sinyal

pikirku, aku singkapkan dasternya hingga kedua belah

pantatnya yang sangat menantang terlihat jelas di depan

mataku. Aku pijat pahanya sambil kedua jempolku aku

masukan ke dalam celana dalamnya. Dia hanya mendesah.

“Och..”

Hm.. Kesempatan nich, aku tidak buang-buang waktu lagi,

aku turunkan celana dalam Bu Lastri hingga batas

dengkulnya, lalu aku masukan tangan kananku ke dalam

celah kedua belah pahanya, sambil memasukan jari

tengahku ke dalam lubang kemaluan Bu Lastri.

“Och.. Och..” desah Bu Lastri sambil mengangkat

pantatnya agak ke atas, hingga makin jelas terlihat

kemaluan Bu Lastri yang sudah berwarna coklat tua. Lalu

aku lumurkan body oil persis dilubang anus Bu Lastri,

hingga meleleh hingga ke lubang kemaluannya.

Aku gosok-gosok lubang kemaluan Bu Lastri bagian luarnya,

sedangkan jempolku aku gesek-gesek secara perlahan

dilubang anusnya. Rupanya Bu Lastri tidak kuat lagi

menahan gejolak napsu birahinya. Langsung dia berdiri

sambil menarik celana dalamnya ke atas kembali, dan

mencium bibirku lalu berkata pelan.

“Mas masih siang enggak enak nanti ada yang datang lagi,

nanti sore pasti saya akan ambil air lagi dech” Bu

Lastri seakan mengisyaratkan aku bahwa nanti sore saja

setelah hari agak gelap.

Benar saja masih seperti tadi Bu Lastri berpakaian, dia

datang berpura-pura untuk minta air, kulihat mang Didin

sedang sibuk melayani tamu yang memesan roti bakar

diwarung Bu Lastri. Aku menyuruh Bu Lastri masuk

kembali, tapi sekarang aku ajak dia kekamar tengah

tempat aku nonton TV, aku langsung mendekapnya, dia

menyambut dengan ciuman sambil melumat lidahku.

Lalu aku suruh Bu Lastri membuka dasternya. Hingga dia telanjang

bulat, lalu aku suruh dia nungging diatas bangku, secara

pelan-pelan aku selusuri pahanya dengan lidahku, hingga

sampai ke lubang kemaluannya. Tampak memang Bu Lastri

rajin merawat tubuhnya.

Tanpa buang waktu aku buka celanaku lalu aku masukan

kontolku ke dalam lubang kemaluannya dari belakang, aku

genjot Bu Lastri dari belakang hingga cairan putih

menetes dari lubang kemaluannya. Sedangkan dia hanya

menunduk sambil mendekap senderan bangku tamuku, sambil

memejamkan matanya menahan rasa nikmat.

Aku balikkan tubuh Bu Lastri lalu aku jilat teteknya

yang sudah mulai mengendor, aku buat beberapa sedotan

keras dari bibirku dibagian pinggir teteknya hingga

membekas berwarna merah kehitam-hitaman. Dia hanya

mendesah terus menerus. Aku bisikan perlahan.

“Ibu isep saya punya yach”

Tanpa disuruh lagi Bu Lastri langsung duduk di bangku

sambil mengulum kontolku, dan tampaknya beliau tahu

persis cara mengulum yang benar. Diputar-putarnya

kontolku dengan lidah serta air liurnya, hingga kontolku

makin tegang dan keras. Lalu aku pegang kepalanya dengan

kedua tanganku dan langsung kugoyangkan kontolku keluar

masuk ke dalam mulutnya.

Lalu dijilatnya pinggiran

kontolku hingga bagian paling bawah mendekati lubang

anusku. Wow memang ibu yang satu ini sangat lihai cara

memberikan kenikmatan pada pria.

Lalu aku tarik bangku tamuku, aku sandarkan tubuh Bu

Lastri di sandaran bangku hingga kepalanya menyentuh

tempat duduk, sedangkan pinggangnya terganjal disandaran

bangku, lalu aku renggangkan kedua belah paha Bu Lastri

dan kumasukan kontolku ke lubang kemaluannya mulai dari

perlahan hingga kugenjot kencang.

Tampak Bu Lastri hendak berteriak, tapi karena takut

terdengar tetangga, ia hanya mendesah.

“Och.. Och.. Och.. Teruskan Mas, teruskan..”

Kami berdua hingga berkeringat, karena memang sengaja

aku menahan pejuku untuk tidak muncrat dahulu. Karena

aku memang benar-benar terangsang dengan putihnya body

Bu Lastri, buah dadanya yang masih bulat menantang,

meskipun agak turun sedikit, serta pinggulnya sangat

menantang bila dia memakai rok maupun celana ketat.

Aku cabut kontolku sambil membersihkan lubang kemaluan Bu

Lastri dengan tissue, karena tampaknya Bu Lastri telah

mencapai puncak kenikmatannya, sehingga tampak cairan

pejunya meleleh.

Akhirnya aku angkat Bu Lastri ke dalam

kamar tidurku, aku rebahkan dia, aku kecup bibirnya

sambil tanganku memelintir puting susunya, kadang-kadang

aku ramas buah dadanya. Lalu ciumanku dibibirnya aku

pindahkan kekedua buah dadanya, aku jilat secara

bergantian puting susu Bu Lastri. Dia tampak gelisah

karena mulai terangsang kembali sambil kadang-kadang

mengangkat pinggulnya supaya memeknya bergesekan dengan

kontolku, mulai dari buah dadanya jilatanku turun ke arah

pusar serta perut bagian sisi kanan dan kirinya.

“Och..!!” tampak Bu Lastri tak kuat lagi menahan

rangsangan yang aku berikan lewat jilatan lidahku. Ia

pun langsung membalikkan badanku hingga terlentang lalu

diapun mulai membalas dengan menjilat kedua puting

tetekku, lalu mengangkat kedua pahaku hingga ke atas,

hingga pinggangku agak terangkat, lalu ia mulai menjilat

kedua bijiku lalu lebih turun kembali disekitar

pinggiran lubang anusku, kadang-kadang ujung lidah Bu

Lastri menyentuh pas ditengah lubang anusku, dan memang

kenikmatan yang luar biasa yang saya dapatkan pada sore

hari ini.

Karena memang service dari Bu Lastri secara

bertubi-tubi tanpa henti, langsung membuat aku tidak

dapat lagi menahan pejuku untuk keluar.

Lalu aku angkat Bu Lastri untuk posisi menduduki

kontolku, secara perlahan dia masukan kontolku ke dalam

lubang kemaluannya. Langsung tanpa diberi komando Bu

Lastri memacu diriku seperti kuda liar, terus dia

menggoyangkan pinggulnya maju mundur. Kejadian ini

berlangsung selama duapuluh menit dan tampak keringat

mulai menetes dari tubuh Bu Lastri, langsung dia

mendekap diriku, sambil berbisik.

“Keluarkan yach Mas.. aku sudah tak kuat lagi..”

Sambil mengangguk aku cium bibirnya yang mungil. Lalu Bu

Lastri kembali pada posisi menduduki aku sambil memacu

goyangan pinggulnya lebih kencang lagi, terus.. Dia

memacu, akupun tak dapat menahan kenikmatan yang sudah

memuncak diubun-ubun kepalaku. Lalu aku lepaskan pejuku

didalam lubang kemaluan Bu Lastri, dan tampaknya ini

juga diimbangi dengan goyangan Bu Lastri yang makin lama

makin melemah sambil kadang-kadang dia menghentakkan

pinggulnya, yang rupanya dia mengeluarkan pejunya untuk

yang kedua kalinya.

Lalu dia tersungkur merebahkan

badannya diatas tubuhku, sambil memeluk erat tubuhku.

Setelah sepuluh menit, aku bisikan ditelinga Bu Lastri.

“Bu yuck pake baju, nanti mang Didin nyariin lho..”

Lalu Bu Lastri bangun dan membersihkan dirinya didalam

kamar mandiku, demikian juga aku. Setelah rapih Bu

Lastri berkata.

“Mas aku kedepan yach” Lalu aku menjawab.

“Terima kasih, ‘roti bakarnya’ yach bu”

Lalu dia berbalik memandangku tajam sambil tersenyum dan

berkata, “Awas kamu yach..”

Judul: Rape Of Julie Estelle

Author : naga_langit , Category: Artis

Siapa yang tak kenal dengan Julie Estelle. Seorang model yang cantik sekali , artis yang lumayan bagus aktingnya , sudah bermain di beberapa film seperti kuntilanak , selamanya , Alexandria dan lain lain.

Di usianya yang muda , Julie Estelle menjadi artis yang banyak dicari oleh produser film karena setidaknya wajah cantiknya bisa mengundang banyak penonton ( terutama pria ) untuk datang ke bioskop , apalagi Julie Estelle juga pernah berpose untuk playboy . Bahkan kepopulerannya sudah melebihi sang kakak cathy sharon yang lebih dulu terjun ke dunia entertaintment.

Malam itu , merupakan malam yang melelahkan bagi Julie , hampir seminggu ini ia harus shooting film . Ia sudah membayangkan untuk pulang ke rumah , berendam di tub dengan sedikit aroma therapy yang menenangkan lalu tidur sepuasnya.

“akhirnya….”

Julie bergumam sendiri saat sampai di rumah , seperti biasa ia parkirkan mobilnya ke dalam garasi . rumahnya yang besar terlihat sepi , karena ia tinggal sendiri disana sedangkan pembantu rumah tangga akan datang hanya jika Julie meneleponnya.

Masuk ke dalam rumah . Julie langsung masuk ke kamar tidurnya , ia nyalakan CD musik kesukaanya lalu berbaring dengan santainya di tempat tidur , matanya terpejam namun tak tidur , ia sedangkan menenangkan pikiran dengan mendengarkan musik.

Buah dadanya yang menonjol naik turun seirama dengan tarikan nafasnya.

Beberapa menit ia berbaring lalu bangun menuju kamar mandi yang berada di kamarnya untuk menyiapkan bathtub tempatnya berendam nanti.

Sementara menunggu bathtub penuh , Julie menuju lemari pakaian menyiapkan pakaian tidur , dan bersiap berganti pakaian.

Julie mulai membuka pakaiannya satu persatu , pertama blousenya diikuti oleh roknya. Kini ia hanya mengenakan bra dan celana dalam saja . betapa pemandangan yang menyejukkan mata , melihat kulit putih mulus seorang jullie Estelle yang hanya tertutup pakaian dalam , buah dadanya setengah mengintip di balik bra- nya.

Belum juga Julie melepas pakaian dalamnya , tiba tiba pintu kamarnya terbuka dan masuk dua orang pria menggunakan penutup muka langsung mneyergapnya.

“Aww..!!! Hei…..!!!”

Julie tersentak dan terpekik kaget saat tubuhnya terhempas ke tempat tidur.

“hai…nona Julie yang cantik….!!! Kita udah nungguin kamu dari tadi , hehehehe…” kata si jangkung

“kita ini penggemar berat kamu loo sayang, hehehehe…” sambung boncel

Jangkung dan boncel adalah preman yang sedang bekerja sebagai kuli bangunan di sebuah rumah yang sedang dibangun , beberapa meter dari rumah jullie Estelle.

Setiap Julie keluar rumah , pandangan mereka tak pernah sedetik pun lepas dari keindahan lekuk tubuh artis cantik itu , dan lama kelamaan rasa kagum mereka berubah menjadi niat jahat untuk memperkosanya.

“siapa kamu….??? Mau apa ….???!!! Julie berontak

“kami ini sedikit mencicipi tubuh kamu sayang…”

“wiihh…kamu ternyata lebih cantik aslinya daripada di Tv…”

”nggak mau…!!! jangan…tidak…jangan!!!!” Julie menjerit panic

”cel, kerasin radionya…!!!” kata jangkung. “ kita pesta ngentot artis male mini , hahaha..!!” si jangkung menahan tubuh Julie yang terus meronta ronta di tempat tidur.

“Jangan…!!!!Tolong…!!!!” Julie berteriak

Boncel menaikkan volume musiknya menjadi lebih keras , lalu membantu angkung yang terus menahan tubuh Julie yang berontak.

Boncel meraih kedua tangan Julie dan mengikatnya di tempat tidur di atas kepala gadis itu. Si jangkung lalu melepas kaitan bra di balik punggung Julie , sehingga buah dada putih dan ranum itu kini terbuka dengan bebasnya.

Dengan tak sabar jangkung mulai meremas remas kedua buah dada itu bergantian.

“mmmm..empuk bener…..!!! nona Julie emang selalu bikin kita ‘tegang’, apalagi kalo pake baju sexy…..hmmmm….”

“ tidaakk….Jangan..!!!tolong…jangaann…..”Julie mulai menangis saat buah dadanya diremas remas , apalagi kini jangkung mulai menjilati dan mengulum dengan asyiknya puting susu yang mulai mencuat.

Puas bermain main dengan buah dada Julie Estelle , jangkung bangkit untuk melepas celananya , dan Julie pun memandang ngeri saat penis pria itu yang berukuran besar sudah berdiri tegak menunggu mangsa. Boncel pun ikut melepas pakaiannya.

”hehehe…kenapa ngeliatin aja…..ga sabar ya…??”

jangkung lalu menyentuhkan penisnya ke wajah halus Julie Estelle , pria itu menggeram menikmatinya , penisnya kemudian ia sodorkan ke mulut gadis itu.

“ayo isep nona cantik…..!!!”

Julie menutup rapat mulutnya sambil menahan nafas , penis jangkung terlihat kummel dan baunya tak sedap , sungguh menjijikan bagi Julie Estelle.

”Isep…cepatt…!!!!” kata jangkung sambil memukul mukulkan penisnya ke bibir Julie yang tertutup rapat.

Smentara itu , boncel melepas turun celana dalam Julie . sempat gadis itu melakukan perlawanan namun mereka terlalu kuat untuknya, apalgi tangannya juga terikat di atas kepala.

Tubuh mulus Julie Estelle kini sudah polos tanpa sehelai benang pun , dan tentu saja hal ini membuat birahi kedua pemerkosanya semakin naik tak terkendali.

Boncel membuka lebar paha Julie , vaginanya ia jilati dengan liar. Kepala boncel seolah terbenam diantara kedua kaki Julie Estelle , vagina artis cantik itu begitu harum karena terawatt dengan baik , boncel pun semakin bernafsu karenanya.

Ia mulai menjilat dan menghisap labianya dan hisapannya makin kuat , ia lalu berhenti sejenak dan berkata,

“mmm…..memek artis emang beda…nikmat bangetd…!!!”

boncel melanjutkan aksinya menjilati vagina Julie. Sementara jangkung masih berusaha memasukan penisnya kedalam mulut Julie , ia mencubit puting susu Julie dengan keras.

“Aaaawwww…!!!”

saat mulutnya terbuka , penis jangkung pun dengan cepat menerobos masuk.

”ayo iseepp….tapi awas kalo berani gigit…..!!!”

.

Julie sudah ketakutan jika mereka akan bertindak lebih kasar lagi , ia tak punya pilihan selain mengikuti kehendak mereka. Penis di mulutnya ia hisap , oral sex bukan hal yang aneh buat selebritis seperti dia , maka ia pun menggunakan semua pengalamannya dalam urusan sex , agar semuanya cepat selesai.

Penis jangkung , ia hisap dari pelan lalu keras lalu pelan lagi , diselingi pula dengan jilatan jilatan yang menggetarkan jiwa , seandainya tangannya tak terikat ia mampu memberikan pelayanan yang lebih “liar” lagi

Di bawah , boncel sudah bersiap siap memasukan penisnya ke liang vagina artis cantik itu.

“siap siap ya nona cantik……”

Dan tanpa menunggu jawaban Julie , penis boncel sudah menyeruak masuk dengan kasarnya.

Julie Estelle menjerit tertahan karena mulutnya tersumpal penis jangkung.

“uuhhh…anjrritt..!!!! enak bener……ngentot artis emang yahuud…..”

Boncel mulai bergerak maju mundur , menghantam vagina Julie.

Jangkung sudah mencabut penisnya dari mulut Julie , ia membiarkan dulu boncel menikmati tubuh indah itu.

Tubuh mulus Julie terguncang guncang dengan keras sehingga buah dadanya bergoyang menggoda , bibir sexynya tak henti henti merintih dan mengerang.

“aaw…..aahhh..aahhhh…..oohh….aaahhh….”

“aahh…ooowhhh..oow….aaahh…ahhh……”

Boncel terus menusukan penisnya semakin dalam dan dalam. Penisnya yang juga berukuran lumayan terasa sempit di vagina itu. Entah karena menikmati atau berharap semuanya cepat selesai , Julie Estelle turut menggoyangkan pinggulnya mengimbangi serangan serangan boncel. Pria ini pun semakin bersemangat dan memacu lebih keras lagi.

“ooohhh……aahhh…aaahhhh…ooohh….owww….”

“aaahhh…owww….aahh…aahhh……”

ekspersi wajah Julie tiba tiba berubah , matanya terpejam dan ia menggigit bibirnya seolah menahan sesuatu . sadar jika korbannya akan orgasme , genjotan boncel semakin cepat dan cepat , hingga Julie pun akhirnya tak tahan lagi.

“Aaaahhhhh……OOhhh….”

Julie menjerit panjang , tubuhnya bergertar dan mengejang , vaginanya pun basah tanda ia telah mencapai orgasme , tubuhnya pun terasa melemah.

boncel kini semakin keras dan kasar menggenjot tubuh Julie untuk mencapai kepuasan , tubuh molek gadis itu terbanting banting karenanya.

Julie sendiri sudah tak peduli lagi , tubuhnya sudah benar benar kehabisan tenaga , menangispun ia tak sanggup.

Akhirnya Julie merasakan cairan hangat menyembur membasahi vaginanya , rupanya boncel sudah mencapai puncak pula , spermanya terasa lengket dan hangat.

”udah dong…giliran gue…..!!!”

Boncel mencabut penisnya , ia juga melepaskan ikatan Julie karena yakin gadis ini sudah psarah dan tak akan melawan lagi.

Kini giliran jangkung menggenjot tubuh Julie Estelle.

”bodi kamu emang sempurna banget…..!!!” kata jangkung kagum sambil meraba raba tiap lekuk indah tubuh Julie.

Jangkung lalu membalikkan tubuh Julie , dan mengelus elus punggung Julie hingga ke pantat.

“hmmm…..gilaa….nih pantat, empuk , mulus lagi…..!!!”

Jangkung meremas remas bulatan pantat Julie tanpa ada perlawanan dari gadis itu yang memang sudah kehabisan tenaga.

Namun Julie tiba tiba tersentak saat merasakan sebuah batang penis akan merobek pantatnya.

“Tidaaakkk..Jangann…Jangann disanaaaa..Jangaannn..!!!”

Penis jangkung sedang berusaha keras menerobos liang pantat Julie yang sempit , membuat gadis itu menjerit kesakitan.

“awwaa…jangaannn…sakiit…ampuunn…”

Namun hanya jeritan yang bisa ia lakukan , karena tubuhnya tak mempunyai kekuatan.

“pantat kamu pernah dientot , sayang…???” Tanya jangkung

Julie diam tak menjawab , jangkung pun menampar bongkahan pantat Julie dengan keras.

“Jawwaabb…!!!”

“awwa….!!!! Bee…belum pernah….” Jawab Julie pelan

“sekarang kamu rasain nih….!!!”

Penis itu akhirnya menyeruak masuk ke pantat Julie dengan keras, membuat gadis itu melolong kesakitan.

Dan jeritan jeritan kesakitan itu tidak berhenti selama penis jangkung terus menerus menghantam pantat Julie Estelle.

Sungguh malang nsaib artis cantik satu ini , sepanjang malam tubuhnya yang putih mulus menjadi bulan bulanan kedua pemerkosanya , tubuhnya digilir hampir tanpa jeda.

Waktu menjelang shubuh saat kedua pria itu meninggalkan Julie Estelle dengan tubuh yang telah basah oleh keringat , buah dadanya terlihat bekas bekas merah juga di lehernya , dan cairan sperma juga membasahi vagina , dan wajahnya ,

Judul: Dina’s Single story : Menjadi asisten dukun Hi- tech

Author : dina_nakal , Category: Umum

“Vi, mau gak jadi pacar gue?”, tanya Wawan.

“emm,, sori nih Wan, tapi gue lagi gak mood punya cowok”, jawabku.

“emang kenapa?”.

“ya lagi males aja”.

“please,,,”.

“kan masih banyak cewek di kampus ini”.

“ya, tapi yang paling cantik disini kan lo”.

“ah, udah ah, gue lagi buru-buru nih”.

“Vina,,tunggu”. Aku tak mengindahkan panggilan Wawan dan pergi meninggalkannya. Wawan memang sangat tergila-gila padaku seperti laki-laki lainnya di kampusku, bahkan aku sempat melihat isi tasnya dan menemukan buku yang aneh, setelah kubuka ternyata isinya adalah biodataku.

Isi buku itu :

Nama : Vina Larasati

TTL : Bandung, 2 Desember 1987

Berat : 49 kg

Tinggi : 168 cm

Zodiak : Sagitarius

Hobi : baca, makan bakso, godain cowok

Warna favorit : Ungu, putih

Makanan favorit : bakso, pangsit, roti

Minuman favorit : jus alpuket, tequila

Artis idola : Beyonce, Christina Aguilera, Kangen Band ()

Tempat favorit : Blitz Megaplex, Komik kafe

Ukuran bh : 34B

Nama Ayah : Kusuma Chokro Aminanto

Nama Ibu : Mona Deliawati

Dan masih banyak lagi, tak kusangka bahkan dia lebih tau tentang aku daripada diriku sendiri.

Itulah sebabnya aku tidak mau menerimanya menjadi pacarku, yah aku memang tidak mempermasalahkan wajahnya yang jelek, culun dan jerawatan itu. Tapi, seperti yang kubilang tadi, aku tidak nyaman dengannya karena dia aneh dan suka membanggakan dirinya, memang sih dia pintar dan sering ikut lomba karya ilmiah tingkat dunia, tapi aku benci kepada lelaki yang sombong. Setelah aku meninggalkannya, aku masuk ke dalam mobilku untuk pergi ke mall yang sudah menjadi tempat aku dan teman-temanku hang out. Sesampai di mall, aku langsung parkir mobilku dengan mudah karena memang sedang sepi, lalu aku keluar dari mobil dan menuju lift. Aku keluar dari lift dan menuju food court dimana teman-temanku sudah menunggu.

“hi girlz, sorry ya gue telat”.

“emang lo kenapa?”.

“biasalah, tadi ada cowok nembak gue”.

“siapa lagi, banyak banget sih yang nembak lo?”.

“itu si Wawan, anak teknik”.

“oh, si Wawan yang culun itu?”.

“iya”.

“berani-beranian, dia nembak lo, emang dia gak ngaca apa?”.

“ah, gue sih gak masalahin culunnya apa wajahnya”.

“oh, jadi lo terima dia?”.

“enak aja, ya nggak lah”.

“terus?”.

“emang sih gak masalah buat gue mukanya, tapi tau gak sih lo, masa’ dia punya biodata gue gitu”.

“maksud lo?”.

“ya, mulai dari nama gue, nama bonyok gue, bahkan ampe nomer bh ‘n jadwal menstruasi gue dia udah tau”.

“hah, kok bisa dia tau?”, tanya Riska

“mana gue tau, itu yang gue bikin illfeel ama dia”.

Kami pun terus ngerumpi dari masalah Wawan hingga hal lainnya sampai waktu sudah menujukkan pukul 8 malam.

“girlz, balik yuk capek nih gue”.

“tapi, kita nebeng ya”, balas Dewi

“ok, yuk”.

“anterin ampe rumah ya,pleeasssee”, pinta si Rani.

“ok,,ok,,sip dah”, jawabku. Lalu aku antar mereka satu persatu ke rumah mereka masing-masing, setelah itu aku pulang ke rumahku. Aku langsung parkir mobilku di garasi dengan hati-hati karena memang aku sering membuat lecet mobilku yang mengakibatkan aku mendapat omelan dari ortuku. Setelah beberapa menit ketegangan sewaktu memarkir mobil, aku pun berhasil memarkirkan mobilku dengan selamat.

Aku pun langsung ke luar garasi dan menutupnya, kemudian aku langsung masuk ke dalam rumah.

“mbok, bikinin orange jus donk”.

“non baru pulang ya?”, tanya Mbok Tari, pembantuku.

“iya mbok, tadi abis jalan-jalan, tolong ya mbok bikinin orange juice”.

“sip non, beres, non mau makan sekalian?”.

“gak usah ah, aku mau tidur aja, capek”.

“ok, non, ntar Mbok bawain minumannya ke kamar”.

“makasih ya Mbok”. Setelah beberapa menit aku menunggu di kamar sambil rebahan di ranjang dan menyetel radio, Mbok Tari membuka pintu kamarku sambil membawa minumanku.

“ni non minumannya”.

“makasih banyak mbok, oh ya mbok, ntar kalau mama ama papa udah pulang, aku gak usah dibangunin ya, capek berat nih”.

“ok non”. Lalu Mbok Tari keluar dari kamarku, aku segera meminum habis orange juice karena memang aku kehausan. Tanpa sadar, hanya dalam waktu 5 menit mataku sudah memaksaku untuk menutup, kuturuti kemauan mataku dan aku pun berpetualang di negeri mimpi.

Tiba-tiba aku berada di dalam sebuah kamar dimana banyak foto-fotoku tertempel di dinding baik yang sedang foto dengan teman-temanku baik yang sedang sendirian. Tiba-tiba ada seseorang masuk, setelah kuteliti ternyata orang itu adalah Wawan tapi telanjang bulat dengan penis yang cukup besar menggantung di tengah-tengah daerah selangkangannya. Aku mau bicara, tapi suaraku sama sekali tidak keluar. Wawan mendekatiku dan mulai mengelus-elus bahuku dan pipiku, tangan Wawan mulai merayap lebih ke bawah lagi sehingga kini kedua tangannya memegang kedua buah payudaraku dengan mantap.

Wawan lebih mendekatkan dirinya lagi kepada diriku sehingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya menerpa wajahku, dan dia langsung mendekatkan bibirnya ke bibirku yang tipis dan mungil. Dia lumat bibirku dengan penuh bernafsu seolah dia tak mau melepaskan bibirku, lalu dia mulai memasukkan lidahnya ke dalam mulutku dan menggerak-gerakkan lidahnya di dalam rongga mulutku, sementara itu tangannya mulai meremas-remas kedua buah payudaraku dengan gerakan memutar membuatku mendesah keenakan. Tanpa sadar aku memainkan lidahku juga dan membelit lidahnya sehingga kami seperti bermain di dalam rongga mulutku dengan lidah kami.

Aku menutup mataku karena entah kenapa aku menikmati dicumbu oleh Wawan. Akhirnya, setelah puas melumat bibirku, Wawan pun melepaskan cumbuannya terhadap bibirku dan mulai menurunkan ciumannya ke leher jenjangku membuatku kegelian. Hei, aku baru sadar, kata orang-orang kalau sedang mimpi tidak terasa apa-apa dan tidak ingat semuanya, tapi kok aku merasa geli dan aku ingat kalau aktifitas terakhirku sebelum tidur yaitu rebahan di kasur. Tapi, begitu aku menyadarinya, Wawan sudah mulai menjilati payudaraku yang masih terbungkus baju berwarna putih sehingga baju yang kupakai waktu itu basah karena jilatannya.

Lalu dia mulai membuka kaosku dari bawah dengan kedua tangannya sehingga lama kelamaan baju yang menutup bagian atas tubuhku terbuka dan perut serta bh yang menutupi payudaraku bisa terlihat olehnya. Aku pun meluruskan tanganku ke atas sehingga dia bisa membuka bajuku, setelah membuka bajuku, dia membuka kaitan bhku dengan kedua tangannya sementara dia jilati belahan payudaraku membuat birahiku semakin di puncak saja. Setelah beberapa detik berusaha, kait bhku pun terlepas dan bhku langsung dilepaskan olehnya lewat kepalaku lagi.

Wawan menyuruhku agar tanganku tetap lurus ke atas sehingga dia bisa menjilati payudaraku dengan leluasa. Wawan menjilati kedua buah payudaraku yang montok dan kencang mulai dari pangkalnya alias dekat ketiakku. Aku merasa geli yang teramat sangat karena dia kadang-kadang menjilati ketiakku sehingga aku ingin menurunkan kedua tanganku tapi tidak bisa karena ditahan olehnya dengan kedua tangannya.

Setelah itu, dia alihkan jilatannya ke belahan payudaraku dari atas hingga turun ke bawah, kemudian setelah belahan payudaraku basah oleh air liurnya, dia jilati seluruh permukaan payudaraku yang putih mulus dengan lidahnya hingga semuanya tertutupi air liurnya. Kini dari semua sudut payudaraku, sekarang tinggal putingku saja yang belum tersentuh lidahnya. Tanpa buang-buang waktu, dia gerakkan lidahnya menuju putingku, lalu dia mulai menjilati, menyedot, dan mengigiti putingku yang masih agak berwarna pink itu sementara putingku yang satunya dipelintir dan ditarik-ditarik oleh kedua jarinya membuatku semakin merasa nikmat saja.

Rupanya dia sudah tidak tahan lagi, dia berjongkok sehingga kini vaginaku tepat berada di depan wajahnya, Wawan merangkul pantatku dengan kedua tangannya sehingga vaginaku semakin mendekat ke arah wajahnya. Wawan menjilati vaginaku mulai dari daerah selangkanganku sampai ke bibir vaginaku yang masih tertutup rapat.

“aahhh,,,mmmhhh,,,”, desahku menerima serangan lidah Wawan di sekitar vaginaku.

“aaahhhh,,,akkuu keellluuaarrr”, erangku ketika mencapai orgasme karena sudah tidak tahan. Aku sudah tidak bisa membedakan lagi ini mimpi atau bukan karena rasa nikmat yang kurasakan begitu nyata. Kemudian, Wawan menyeruput habis cairan yang mengalir keluar dari vaginaku tanpa menyisakannya.

Begitu menghabiskan cairanku, Wawan menyuruhku tiduran di ranjang, aku menurutinya tanpa pikir panjang. Dia mendekati tubuhku yang sudah terbaring pasrah di atas ranjang, Wawan membuka kedua kakiku lebar-lebar sehingga vaginaku yang sangat bersih dan harum terlihat olehnya. Wawan seperti serigala yang kelaparan melihat bentuk vaginaku yang sangat bagus dan dalamnya masih merah merekah. Wawan letakkan kedua kakiku di bahunya dan dia langsung menaruh penisnya di depan bibir vaginaku yang masih tertutup rapat. Dia elus-eluskan penisnya di belahan bibir vaginaku membuatku menjadi semakin menginginkannya dan tanpa sadar aku berkata.

“ayoo,,cepeet Wan,,gue udaahh gaakkk taahaann”. Dia tersenyum melihatku yang sudah berhasil ia kuasai. Wawan membuka bibir vaginaku dengan kedua jarinya dan dia langsung bersiap-siap dengan menaruh penisnya di depan lubang vaginaku dan..

“bleess,,,mmhhhh”, desahku ketika penis Wawan yang tidak begitu besar menembus masuk ke lubang vaginaku. Tanpa berlama-lama Wawan langsung mulai memompa penisnya keluar masuk vaginaku.

“aahhh,,,teeruusss,,”, desahku karena memang terasa nikmat.

Desahan-desahan lembut keluar dari mulutku yang tak henti-hentinya menerima hujaman demi penis Wawan menerjang vaginaku. Selama terus menggenjotku, tangannya meremas-remas kdua payudaraku dan memilin-milin putingku, juga dia terus mencumbuku seolah aku kekasihnya yang sudah berpuluh-puluh tahun tak bertemu. Dia putar-putarkan pinggulnya sehingga penisnya terasa berputar di dalam vaginaku. 15 menit kemudian, aku tak tahan dan akhirnya aku orgasme untuk yang kedua kalinya, tapi cairanku tertahan oleh penis Wawan yang sedang tertanam di vaginaku sehingga berbunyi kecipak air setiap kali penisnya bergerak keluar masuk vaginaku.

5 menit kemudian, aku merasakan penis Wawan berdenyut-denyut dan akhirnya, Wawan pun oergasme dan menyemburkan spermanya di dalam vaginaku. Spermanya benar-benar terasa hangat di dalam vaginaku. Setelah itu, tiba-tiba aku tersadar dan membuka mataku, jantungku berdegup kencang seperti sehabis mimpi buruk, tapi itu memang mimpi buruk kurasa. Selain merasa deg-degan, aku juga merasakan vaginaku basah, maka dari itu aku langsung membuka selimut dan melihat ke arah selangkanganku yang terbalut celana tidurku yang terbuat dari katun. Jelas sekali, di celanaku basah hanya di bagian selangkanganku saja, karena penasaran, aku membuka celana tidurku, dan karena kalau tidur aku tidak memakai celana dalam, aku pun bisa langsung melihat vaginaku belepotan dengan noda putih.

Aku mencolek sedikit cairan putih itu, cairan itu sangat lengket dan ketika aku memutuskan untuk sedikit menjilatnya agar lebih yakin, aku jadi benar-benar yakin kalau itu adalah sperma yang sudah bercampur cairanku sendiri.

“hah?! kok bisa ada peju disini? apa gara-gara mimpi tadi?”, tanyaku keheranan juga ketakutan. Untungnya sudah jam 8 pagi sehingga aku bisa bangun dan bertanya ke teman-temanku. Siangnya, aku bercerita kepada teman-temanku, dan mereka mengatakan kalau aku harus ke dukun.

“apaan lo bilang Wi, dukun? gak ah, gue kan paling anti ama yang begituan”.

“coba dulu dah, nih gue kasih alamatnya”.

“yaudah, tapi gue gak bakal ke sana, daripada gue ke dukun mendingan gue dugem”.

“ada benernya juga Lo”, sambung Riska.

“yaudah, ntar malem kita dugem yuk”.

“ok, gurlz nanti malem kita dugem ya”.

Di klub malam itu, tak biasanya aku mual-mual, biasanya meskipun aku minum lenih dari 5 gelaspun aku kuat, tapi malam itu, entah kenapa aku merasa mual, untung aku bisa menahan dan muntah di kamar mandi sehingga aku tidak muntah di depan banyak orang. Saat di toilet, aku berkaca untuk merapikan make-upku, tapi tiba-tiba aku melihat sesosok orang dan ternyata itu adalah Wawan menatapku dingin.

Spontan, aku terkejut dan lari keluar kamar mandi. Sejak kejadian malam itu, aku sering melihat bayangan Wawan baik di cermin, jendela, ataupun tepat berada di hadapanku. Tapi dengan menenangkan hatiku, aku bisa melewati malam itu tanpa mimpi buruk. Esok harinya, setelah bangun tidur, sambil bermalas-malasan aku menyalakan televisi dan kebetulan chanelnya tentang berita. Aku menjatuhkan remote dan tersentak kaget melihat berita di channel yang kusaksikan.

“telah diketemukan lelaki berumur 20 tahun gantung diri di kamarnya setelah ditolak oleh seorang gadis”.

“ah, mampus gue, apa gara-gara gue? jadi mimpi yang kemarin ‘n bayangan-bayangan yang gue lihat, jangan-jangan hantu”. Badanku langsung keringat dingin dan pucat, untungnya Mbok Tari masuk untuk membawakan sarapan.

“non, nih sarapannya”, kata Mbok Tari sambil meletakkan makanan di meja yang berada di samping ranjangku.

“mbookk,,,”, teriakku sambil memeluk Mbok Tari dengan kencang.

“ada apa Non, kok pucat begini?”.

“tadi malem, aku abis ngeliat hantu”.

“tenang non, tenang non”, Mbok Tari berusaha menenangkanku sampai aku tenang 3 menit kemudian.

“udah non, sekarang udah siang, jadi gak bakalan ada hantu”. Setelah kupikir-pikir Mbok Tari ada benarnya juga sehingga aku menjadi tenang. Setelah itu, aku mandi sambil ditemani oleh Mbok Tari karena aku masih merasa takut. Kemudian, aku pergi ke salon sambil was-was, takut-takut ada hantu Wawan di kursi belakangku. Di perjalanan aku terus-terusan mual, dan ingin muntah sampai-sampai aku harus berhenti untuk muntah. Aku juga jadi memikirkan masalah mualku ini.

“masa’ gara-gara tadi malem, masih kerasa ampe udah siang begini sih?”, tanyaku dalam hati. Karena itu aku membatalkan rencanaku untuk pergi ke salon dan jadi pergi ke dokter. Dokter bilang tidak ada apa-apa dengan diriku dan mual-mual yang kurasakan hanyalah masuk angin biasa, tapi aku yakin ada sesuatu yang tidak beres dengan diriku. Hari demi hari berlalu, aku masih mual-mual dan terus menerus dihantui oleh hantu Wawan sampai aku merasa tidak tahan lagi dan hampir gila, saat itulah aku melihat sepotong kertas di dompetku.

“apaa nih?”, tanyaku dalam hati. Dan ternyata itu kertas itu berisikan alamat dukun yang pernah ditawarkan oleh Dewi. Aku memutuskan untuk mencobanya, daripada aku tidak melakukan usaha apa-apa dan bisa-bisa lama kelamaan aku menjadi gila. Tapi, aku tidak mengajak teman-temanku karena aku sudah pernah bilang kalau aku anti dukun, masa’ tiba-tiba aku berubah pikiran, gengsi donk.

Yang aku tau, dukun biasa buka praktek pada malam hari, jadi aku memutuskan untuk datang malam hari. Malam harinya aku langsung memacu mobilku ke tempat praktek dukun itu yang bertempat di jl. Pocong Marocong. Setelah sampai, rumahnya sangat seram sesuai dengan dugaanku, aku masuk ke dalam rumah dan betapa kagetnya karena begitu aku masuk keadaan dalam rumah sang dukun sangat berbeda dengan di luarnya. Di dalam ruangan itu, ada foto-foto sang dukun yang ternyata narsis, ada yang sedang senyum, ada foto yang seperti gaya Naif atau jaman dulu, bahkan ada fotonya yang sedang memeluk Teddy Bear. Tiba-tiba kudengar suara.

“silakan masuk Vina”. Aku tersentak kaget karena suara itu entah muncul darimana dan bagaimana dia bisa tau namaku. Aku pun mendekati pintu satu-satunya yang ada di hadapanku. Begitu aku masuk ke dalam, aku menjadi kurang yakin kalau tempat yang kudatangi adalah rumah dukun karena ruangan itu dicat pink dan banyak teddy bearnya, ditambah lagi, ada seorang pria tua dihadapanku yang sedang memegang laptop dan memakai pakaian seperti Rhoma Irama.

“silakan duduk dek Vina, sebentar ya, gue lagi main CS nih”. Aku pun duduk di hadapannya dengan wajah heran dan bingung. Tiba-tiba.

“mampus lo, akhirnya kena juga gue tembak”. Aku agak kaget juga mendengarnya berteriak seperti itu. Tak lama kemudian dia menyapaku.

“maaf ya, gue tadi main dulu, abis tanggung sih”.

“mm,, maaf nih, mbah, dukun apa bukan?”.

“ya dukunlah, emang lo kira apa?”.

“abisnya gak meyakinkan sih”.

“emang menurut lo dukun tuh kayak gimana?”.

“yah biasanya kan, dukun itu serem, catnya gelap, dekorasinya tengkorak, pokoknya yang kayak gitu deh”.

“aah, itu mah dukun kuno”.

“oh, jadi mbah dukun gaul ya?”.

“yah, bisa dibilang begitu”.

“terus kenapa catnya pink ‘n banyak teddy bear?”.

“oh, gue emang agak feminim”.

“ini dukun beneran apa bukan sih?”, tanyaku dalam hati.

“udah, jangan ngebahas itu, lo punya masalah diikuti hantu terus kan?”.

“hah?! mbah tau darimana?”.

“lo lihat di pintu masuk tadi deh”, aku pun langsung menoleh ke belakang dan melihat ada semacam gerbang seperti alat pendetektor logam yang ada di bandara pesawat.

“itu bukannya alat pendetektor logam, mbah?”.

“oh, bukan, itu, alat pendetektor masalah gaib”.

“hmmh? saya jadi bingung nih mbah?”.

“udah, deh pokoknya, gue tau masalah lo”.

“mbah dapet dari mana tuh alat?”.

“dari temen chatting sesama dukun dari Amrik”. Aku jadi semakin bingung saja.

“oh ya mbah tau darimana nama saya?”.

“lo gak lihat ada kamera pengawas di depan pintu, nah kan gue dapet tuh gambar lo, langsung dah gue cek ke markas polisi tentang data lo”.

“hah, kok bisa?”.

“iya, dong, biar dukun, gue juga bisa ngehack”.

“ah, bingung saya jadinya mbah”.

“udah, lo gak perlu bingung, mendingan sekarang lo diem dulu dah”. Lalu mulutnya komat-kamit sperti sedang membaca mantra, dan tak lama kemudian Mbahpun selesai.

Mbah, nama mbah siapa?”.

“oh ya, gue lupa, nama gue, Charles Ganteng, biasa dipanggil Centeng”.

“…”, aku hanya diam.

“oh ya, nama hantu yang ngikutin lo Wawan kan?.

“iya, tau darimana Mbah?”.

“emangnya tadi gue komat-kamit buat apa”.

“ya maap mbah, sayakan gak tau”.

“bentar ya, gue e-mail si Wawan dulu biar dateng ke sini”.

Biarpun cara manggil hantunya tidak biasa, tapi hantu Wawan benar-benar muncul di samping Mbah Centeng.

“nah, ini dia, si hantu, sini lo”. Wawan pun mendekati Mbah Centeng.

“lo kenapa gangguin si neng cantik ini?”.

“abisnya gue cinta mati ama dia”, jawab hantu Wawan.

“cinta sih cinta, tapi kan lo beda dunia sekarang, mendingan sekarang lo jangan ngikutin neng Vina lagi, kalau gak gue kepret, jadi babi lo”.

“gue bakal terus ngikutin Vina”.

“ee,, dibilangin ngeyel ye,,”.

“bukan gitu, Vina udah ngandung bayi gue”.

“hah?!”, aku tersentak kaget.

“emang bener?”, tanya Mbah Centeng kepadaku.

“saya gak pernah begituan ama dia mbah, paling-paling waktu di dalam mimpi yang pernah gue alamin”, jawabku.

“ooh gitu, waduh curang lo ye, mau mati, sempet-sempetnya nanem peju di neng ini, supaya arwah lo terus ngikutin neng ini”.

“udah pergi lo, gue mau ngobatin neng ini dulu, abis itu nanti gue balikin lo ke alam lo”. Hantu Wawan pun langsung menghilang meninggalkan aku dan Mbah Centeng.

“oh gitu ceritanya,, i see”, ocehan Mbah Centeng.

“gini aja dek Vina, lo mau gak telanjang?”.

“hah, buat apa mbah?”.

“supaya gue bisa ngangkat tuh bayi”.

“di cessar aja deh mbah”.

“emangnya gue dokter!! lagian ini kan bayi goib, jadi mana bisa”.

“oh, ya, yaudah mbah, saya mau telanjang deh, tapi mbah jangan ngiler ya ngeliat body saya”.

“lo do’ain aja biar gue gak nafsu”. Aku mulai melucuti pakaianku satu per satu mulai dari kaos, celana jeans, sampai bra dan juga celana dalamku sehingga kini tubuh putih mulusku terpampang jelas di hadapan Mbah Centeng tanpa sehelai benang pun.

“body lo mantep banget”.

“tuh kan mbah jadi mupeng”.

“wajar dong, gue cowok normal biarpun agak fenimim”.

“terus, saya mau diapain mbah?”.

“oh ya, ampe lupa, lo tiduran deh”. Aku menurutinya dan tidur terlentang di lantai.

“bentar ya, gue scan dulu pake hp gue”. Lalu dia menggerakkan hpnya di sekitar perutku.

“nah, selesai, gila bayinya udah gede kayak gini, cepet amat”.

“mana mbah, sini saya liat”.

“tapi bo’ong,,”.

“yee, si Mbah ngelawak mulu”.

“bentar, gue tadi belum dapet”. Lama juga dia menggerak-gerakkan hpnya di sekitar perutku.

“ah, sialan nih bayi, pake ngumpet segala”.

“emang gak ada cara lain, Mbah?”, tanyaku.

“ada sih ‘n bisa langsung keluar dari dalam badan lo”.

“nah, tuh ada cara lain”.

“iya, tapi gue harus nyemprotin peju gue ke dalem memek lo supaya tuh bayi bisa keluar”.

“wah, jangan-jangan mbah ini, dukun cabul ya”.

“enak aja, nih kalau gak percaya ada sertifikat ISO ‘n SIP”.

“apaan tuh mbah?”.

“ISO itu International Sorcerer Organization, kalau SIP itu Surat Izin Perdukunan”.

“tapi mbah yakin kan, kalau abis itu, saya bakalan sembuh?”.

“200% yakin dah”. Agak ragu-ragu juga aku memutuskannya. Karena baru kali ini aku disuruh memilih untuk membiarkan seorang laki-laki tua mencicipi tubuh indahku atau aku terus menerus dihantui Wawan seumur hidupku.

“ok lah Mbah, tapi mbah telanjang dulu, biar saya ngeliat barang mbah juga”.

“wuih, gak nyangka, cantik-cantik aggresif juga, ok”. Lalu Mbah Centeng pun mulai membuka pakaiannya sendiri yang seperti pakaian Rhoma Irama itu. Penis Mbah Centeng termasuk penis yang besar dari semua penis yang pernah kulihat, karena penis Mbah Centeng berukuran panjangnya 23 cm dan diameternya 6 cm.

Lalu Mbah tiduran di lantai dan menyuruhku untuk menduduki wajahnya, setelah aku duduk di atas wajahnya, aku langsung menggerak-gerakkan pinggulku maju mundur serta menggoyang-goyangkan pinggulku sementara Mbah Centeng memegangi pinggangku dengan kedua tangannya. Aku apit kepala orang tua itu dengan kedua paha putihku sehingga kepalanya benar-benar terjepit di selangkanganku.

Dia jilati vaginaku sampai aku benar-benar merasa keenakan karena dia pintar memainkan lidahnya yang panjang jika dibandingkan dengan manusia normal. Lidahnya terasa benar-benar nikmat menjilati rongga bagian dalam vaginaku dan bahkan lidahnya sampai mentok di ujung vaginaku. Karena itulah, aku jadi cepat mencapai orgasme dan mengalirkan cairan dari dalam vaginaku ke wajah Mbah Centeng, dengan sigap dia menerima semua cairanku dengan mulutnya sampai tak bersisa, dan Mbah Centeng memasukkan lidahnya lagi ke dalam vaginaku untuk menjilati sisa-sisa cairanku yang menempel di dinding vaginaku.

“mmmhhhh,,aahhhh”, desahku lembut menerima serangan lidah Mbah Centeng di dalam vaginaku. Setelah puas menjilati bagian dalam vaginaku, Mbah Centeng menyuruhku untuk menaiki penis supernya itu. Aku posisikan kepala penisnya tepat di depan lubang vaginaku, lalu aku mulai menurunkan tubuhku dengan perlahan agar tidak membuatku kesakitan, untungnya Mbah Centeng mengerti dan membiarkan aku yang memasukkan penisnya ke dalam vaginaku.

Ternyata, memang tidak mungkin, vaginaku hanya bisa menelan 3/4nya saja dari penis Mbah Centeng. Mbah Centeng tidak bergerak sama sekali supaya aku bisa terbiasa dengan penisnya terlebih dahulu.

“dek Vina,, memek lo manteb banget,, seret’n sempit banget”.

“mmmm,,”. Setelah beberapa detik kemudian, Mbah Centeng mulai menghujamkan penisnya ke atas sehingga penisnya lebih masuk ke dalam vaginaku.

“aahhh,,”, desahku karena hujaman penis Mbah Centeng berasa pedih tapi nikmat di vaginaku. Mbah Centeng memompa penisnya dengan perlahan agar aku tidak terlalu merasa sakit, dan lama kelamaan rasa pedih itu hilang dan berganti menjadi rasa yang sangat nikmat. Tanpa sadar, malah kini aku yang menggerakkan tubuhku naik turun sementara Mbah Centeng diam saja dan memperhatikan wajahku yang mengeluarkan ekspresi orang yang sedang keenakan. Melihat payudaraku berguncang naik turun dengan indah sesuai irama tubuhku yang naik turun, Mbah Centeng gemes dan langsung menangkap kedua buah payudaraku dengan kedua tangannya dan meremasnya dengan lembut.

Kadang aku memajukan tubuhku sehingga aku bisa memberikan bibirku untuk dilumat Mbah Centeng. Sudah 30 menit, Mbah Centeng memompa vaginaku, dia belum menandakan tanda-tanda akan orgasme. Karena aku bosan dengan posisi ini, aku meminta untuk posisi baru. Aku tidur terlentang dan menaruh kakiku di kedua pundak Mbah Centeng, dan dia pun langsung memasukkan penisnya lagi ke dalam vaginaku. Kali ini dia langsung memompa penisnya tanpa menunggu seperti sebelumnya.

“aahhh,,teerruusss,,,mmbaahhh”, desahku karena memang terasa luar biasa nikmat. Entah sudah berapa kali aku orgasme, mungkin lebih dari 4 kali karena setiap kali Mbah Centeng memompa penisnya ke dalam vaginaku terdengar bunyi kecipak air yang sangat kencang menandakan kalau vaginaku sudah sangat becek.

10 menit kulalui dengan posisi itu, kini Mbah Centeng sudah sangat bernafsu karena itu dia menekan kakiku ke depan sehingga kini dia agak setengah berdiri sementara kedua lututku berada di samping kiri dan kanan kepalaku. Dalam posisi ini aku merasakan hujaman penisnya lebih kuat dan lebih dalam dari sebelumnya.

“mmmaahhh,,,,Mbaahhhh”, desahku merasakan kenikmatan yang lebih daripada sebelumnya. Dan setelah 1 jam lebih kami bersetubuh, akhirnya penis Mbah Centeng mulai berdenyut-denyut dalam vaginaku dan dinding vaginaku meremas-remas penisnya agar cepat memuntahkan isinya.

“aakhhh,,,keelluuaarrr”, teriak Mbah Centeng seiring semburan spermanya yang masuk ke dalam vaginaku dengan sangat kencang dan banyak mungkin sampai lebih dari 6 kali semburan.

“nah,, sekarang coba lo berdiri”.

“kenapa mbah, saya lemes nih”.

“yaudah, sini gue bantuin”. Dengan dipapah oleh Mbah Centeng, aku berdiri, setelah berdiri sperma mengalir keluar dari vaginaku dalam jumlah banyak, dan tak lama kemudian.

“pluk,,”, bunyi dari seonggok daging kecil yang keluar dari vaginaku.

“hah?! apaan tuh Mbah?”.

“itu bayi si Wawan”.

“waduh,, kok bisa keluar sih?”.

“peju gue udah gue latih supaya bisa ngebunuh peju laen”.

“…”. Wawan pun muncul ketika Mbah Centeng memanggilnya dari laptopnya lagi.

“nih,, bayi lo!!”.

“mbah kejem amat”, balas Wawan.

“biarin aja, supaya lo gak bisa deket-deket ‘n gangguin neng Vina lagi, sekarang pergi lo,,,sshuhhh”. Hantu Wawan menghilang dan berubah jadi asap sehingga kami tinggal berdua lagi di ruangan itu.

“waduh, Mbah, thank’s banget nih,,”.

“gak papa, emang udah pekerjaan gue kok”.

“gue mesti bayar berapa?”.

“gak perlu, tadi kan udah dibayar”.

“huu,, dasar, oh ya mbah, nanti saya hamil gak nih ama Mbah?”.

“gak bakalan, peju gue udah gue latih biar gak bisa hamilin cewek”.

“hebat banget sih mbah, yaudah mbah, saya pulang dulu”.

“dek Vina, jangan pulang dong”.

“kenapa? masih ada hal yang perlu saya lakuin?”.

“nggak sih, tapi gue ketagihan nih ama memek lo”.

“dasar mbah, ngerasain langsung ketagihan”.

“iya, kan jarang-jarang gue bisa ngentot ama cewek yang sexy ‘n cantik kayak lo,, jangan pulang ya plzzz”. Tadinya, aku berencana untuk menolaknya tapi tiba-tiba Mbah Centeng sudah merogoh-rogoh vaginaku lagi sehingga nafsu biarhiku muncul lagi.

“yaudah deh mbah,, tapi saya mandi dulu ya biar wangi”.

“yaudah. sekalian ama gue aja, kebetulan gue juga mau mandi”. Akhirnya malam itu, kami berdua bersetubuh semalam suntuk karena ramuan yang dibuat oleh Mbah Centeng, tenaga kami jadi tidak habis-habis dan kami tidak mengantuk, sehingga Mbah Centeng puas menikmati tubuhku sampai esok harinya.

Aku membuka mataku dan melihat Mbah Centeng yang masih dalam posisi tadi pagi yaitu sedang mengenyot puting kananku.

“mbah,, bangun mbah,,”, kataku sambil menggoyang-goyang badan Mbah Centeng. Akibat aku menggoyang-goyangkan badannya, Mbah Centeng membuka matanya.

“ada apa cantik?”.

“udah siang nih, mbah, saya mau pulang”.

“bentar lagi deh sayang”, balasnya sambil mengenyot puting kananku.

“mmmm,, mbah,, saa,,yaa,, maauu puulaanngg”, kataku sambil terbata-bata karena terasa geli. Mbah Centeng akhirnya membuka matanya lebar-lebar.

“kenapa sih sayang buru-buru?”.

“yee si mbah, saya kan pengen pulang, lagian dari kemarin malam kan mbah udah ngentotin saya terus, pasti mbah udah puas kan?”.

“belum,,”.

“belum apanya,, liat tuh barang mbah udah ampe gak bisa diri lagi”, kataku seraya menunjuk penis Mbah Centeng yang sudah benar-benar lemas karena isinya sudah disedot semua oleh vaginaku yang sekarang sangat belepotan oleh sperma Mbah Centeng yang sudah mengering.

Mbah Centeng akhirnya melepaskan kenyotannya terhadap puting kananku dan duduk sila sementara aku menaruh kepalaku di daerah selangkangannya dan memperhatikan wajahnya yang ada di atas kepalaku.

“gini, sayang”, dia memanggilku sayang karena dia memang sangat menyukaiku dan aku pun sudah takluk akibat penis dan daya tahannya yang luar biasa.

“ada apa mbah?”.

“mau gak dek Vina kerja disini?”.

“kerja? gimana caranya?”.

“iya, jadi kalau yang datang pria dan ngeluh penyakit yang gak sembuh-sembuh, nanti dia harus ngentot ama dek Vina supaya penyakitnya kebuang lewat pejunya”

“terus,, pasien itu ntar ngeluarin pejunya dimana?”.

“di dalam memek dek Vina”.

“berarti ntar saya bisa hamil ‘n penyakitnya pindah ke saya donk?”.

“ya nggak,, ntar abis itu mbah buang peju mbah di memek dek Vina supaya peju ‘n penyakit itu ilang dari badan dek Vina,, gimana?”.

“mm,,,gimana ya?”.

“mbah bayar deh, 5 juta per minggu”.

“yang bener mbah?”.

“bener,, lagian kan, dek Vina cuma dientot doang”.

“yee, emangnya saya perempuan murahan apa,, enak aja si mbah?”.

“yaa,, plzz dong,, kan sekalian mbah bisa ngentotin dek Vina setiap hari,,plzzz”.

“tapi, saya boleh pulang ke rumah kan?”.

“boleh,, jam kerja dek Vina mulai dari jam 4 sore ampe jam 6 pagi, gimana?”.

“alah, pake jam kerja, udah kayak orang kantoran aja,, yaudah deh mbah boleh”.

“asiik,, mbah jadi makin cinta ama dek Vina”.

“ama saya, apa ama bodi saya”.

“dua-duanya sih,,hehehe”.

“yaudah, mbah mulai kerjanya besok aja ya, saya mau ketemu temen-temen saya dulu”.

“yaudah, sampai besok ya”. Aku pun memakai baju dan langsung menuju rumah dengan mobilku. Keesokan harinya, pada jam 15.30, aku berangkat ke rumah Mbah Centeng, tapi di tengah perjalanan, ada telpon masuk.

“halo,, siapa nih?”.

“ni Mbah Centeng, mau ngasih tau, dek Vina datangnya jam 11 malem aja”.

“kenapa Mbah?”.

“dek Vina belum ketemu 2 piaraan gue”.

“piaraan?”.

“udah pokoknya, dek Vina datengnya jam 11 malem aja”.

“sip mbah, yaudah kalo gitu, saya pulang lagi ya mbah”.

Sekitar jam 10.30, aku kembali memacu mobilku ke arah rumah Mbah Centeng.

“ayo dek Vina silakan masuk”, suara Mbah Centeng ketika aku turun dari mobil dan menuju teras rumahnya. Aku masuk ke rumah Mbah Centeng untuk yang kedua kalinya, yang terdengar hanyalah suara jangkrik karena rumah Mbah Centeng boleh dibilang jauh dari pusat keramaian. Perlahan aku memasuki rumah Mbah Centeng, dan langsung menuju ruangan praktek Mbah Centeng. Di dalam ruangan itu Mbah Centeng sudah menunggu sambil berduduk sila di depan meja yang ada laptop di atasnya.

“mbah, kok sepi sih? mbah gak laku yah?”.

“enak, aja, sengaja gue tutup cepet supaya gue bisa ngenalin lo ama peliharaan gue”.

“peliharaan apaan sih mbah? saya jadi bingung”.

“mending lo buka baju dulu deh”. Aku menuruti kata Mbah Centeng dan membuka semua pakaianku dan karena aku memang sengaja tidak memakai pakaian dalam, jadi ketika sudah kulepaskan kaos dan celana jeansku, tubuh putihku langsung terlihat jelas oleh Mbah Centeng tanpa ada sehelai benang pun yang menutupiku.

“wah, dek Vina udah siap ya? gak pake bh ‘n celana dalam?”.

“iya donk mbah”.

“bentar ya, mbah panggil dulu piaraan mbah”. Aku jadi deg-degan karena aku penasaran dengan piaraan Mbah Centeng itu. Akhirnya muncullah kedua piaraan Mbah Centeng yang ternyata 2 jin berwajah seram.

“ada apa bos,, manggil-manggil kami, orang lagi enak-enak tidur juga,,,”.

“tidur mulu,, tuh liat di depan lo ada siapa!!”. Mereka berdua langsung menatapku dengan mata mereka yang menyeramkan.

“wuah,, cantik sekali,, siapa ini bos?”.

“lah,, kok bisa ngerti cantik apa nggak sih,, jin apaan nih?”, tanyaku dalam hati.

“ini sekretaris gue yang baru”.

“bos tumben pake sekretaris?”.

“iya,, biar gue tiap hari bisa cuci mata, lagipula dia seneng ‘n mau jadi sekretaris gue”.

“boleh kenalan gak bos?”.

“justru itu,, gue manggil lo berdua biar kenalan ama sekretaris cantik gue”. Mereka berdua mendekatiku dan mengubah wujud mereka menjadi lebih kecil sehingga sepantaran dengan Mbah Centeng.

“perkenalkan,, nama gue Tomang”.

“nama gue Cuprit”.

“nama saya Vina”.

“Vina,, cantik sekali,,”, kata Cuprit.

“terima kasih”.

“bos, kok dia telanjang?”, tanya Tomang ke Mbah Centeng.

“itu dia, supaya lo bertiga lebih deket,, lo berdua boleh ngentot ama dia”.

“si bos sembarangan aja,, mana mau cewek secantik Vina ini ngentot ama 2 jin yang serem kayak kita, bener kan neng Vina?”, ujar Cuprit.

“nggak kok, bener apa kata Mbah Centeng,, kalian boleh kok menikmati tubuh saya”.

“yang bener nih?”, tanya Tomang keheranan mendengar kata-kata itu keluar dari bibir mungil seorang gadis cantik sepertiku.

“bener kok,, saya kan bakal jadi rekan kerja kalian”.

“bos,, gimana nih?”.

“yaudah,, silakan,, itung-itung hadiah buat lo berdua karena lo berdua adalah 2 jin gue yang paling penurut”.

“makasih bos”, jawab mereka berdua serentak. 2 jin itu berubah bentuk, yang tadinya bagian bawah tubuh mereka adalah asap kini menjadi seperti bagian bawah seorang laki-laki. Cuprit mempunyai penis yang panjang tapi kurus, sedangkan Tomang mempunyai penis yang gemuk tapi pendek.

“maaf ya neng Vina,, kami nyobain badan neng dulu”.

“silakan aja,, saya bakal ngelayanin kalian berdua”, jawabku sambil terkesima dengan kesopanan mereka yang seperti seorang pria bangsawan.

Tomang si berbadan besar mendekatiku yang duduk tanpa berbusana di tengah-tengah ruangan dari arah kananku, sementara Cuprit yang berbadan kurus mendekati dari arah kiriku. Secara perlahan, aku menurunkan tubuhku dan ditahan oleh kedua jin itu dengan kedua tangan mereka. Sekarang aku tidur terlentang sambil pasrah kepada dua jin yang akan mencicipi tubuhku.

“ohh,, gue udah gak sabar pengen nyobain memek neng Vina ini, Mang”, kata Cuprit pada Tomang.

“sama ama gue”, balas Tomang.

“yaudah,, ayo dimulai aja”, kataku menyela pembicaraan mereka.

“ok deh,, kalo emang diijinin”, balas Tomang. Tomang mulai menjilati seluruh bagian payudara kananku, sementara Cuprit menyapukan lidahnya juga di seluruh bagian payudara kiriku, baru kali ini aku merasakan kedua buah payudaraku disapu oleh 2 jin secara bersamaan, rupanya lidah mereka lebih kasar dan panjang dibandingkan dengan manusia. Mulut mereka juga bisa melebar dengan ukuran yang tak dapat dipercaya, bahkan mereka bisa memasukkan payudaraku yang berukuran 34B secara utuh ke dalam mulut mereka sehingga tidak heran lagi, baik payudara kanan maupun kiriku bermandikan air liur mereka.

Tidak henti-hentinya mereka memainkan mulut mereka di kedua buah payudaraku, juga sambil asyik melahap payudaraku masing-masing, Tomang dan Cuprit juga secara bergantian mengelus-elus daerah selangkanganku mulai dari bawah sampai ke atas hingga mengenai klitorisku sehingga aku tidak bisa diam dan menggelinjang kesana kemari menerima rangsangan birahi dari 2 jin yang sangat ahli memainkan tubuh wanita, apalagi aku memang sensitif. Akhirnya hanya dalam waktu 7 menit, aku mencapai orgasme dan mengeluarkan desahan nikmat.

“aaahhh,,,mmhhhh,,,oohhh”.

“wah, udah keluar ya neng Vina”, aku hanya mengangguk pelan.

“kalau gitu, gue duluan ya Prit,, gue kan abang lo”.

“curang lo, pake abang-abangan segala,, yaudah sono duluan,, tapi ntar bersihin loh,, jigong lo kan bau neraka”.

“ya iyalah,, kita kan emang dari neraka”.

Tomang pun memuntahkan payudara kananku yang tadi sedang dimasukkan ke dalam mulutnya lalu dia bergerak ke arah selangkanganku. Aku menekuk kakiku yang tadinya lurus dan tegang, setelah itu aku melebarkan kedua kakiku sehingga memberikan pemandangan indah ke Tomang yang sudah menaruh wajahnya di tengah-tengah kedua pahaku.

“hmm,,neng Vina memeknya wangi ‘n bentuknya bagus banget”, komentar Tomang sambil mengelus-elus belahan vaginaku dari bawah ke atas, kemudian dia memainkan klitorisku membuatku semakin kegelian dan keenakan.

“jiilaatt,,,donnngg”, kataku meminta karena birahiku yang sudah tidak bisa kutahan lagi. Tomang mulai menjulurkan lidahnya, dan akhirnya lidahnya menyentuh bibir vaginaku yang sudah basah akibat orgasme pertamaku tadi.

“ahhhh,,,teeruusss”. Dengan dukungan dariku Tomang menggerakkan lidahnya dan menyapu bibir luar vaginaku dari atas ke bawah, dan sebaliknya sehingga tidak heran aku menggelinjang karena selain memang terasa nikmat, beberapa kali lidahnya terkena klitorisku sehingga menambah rasa nikmat yang sudah ada. Sementara Tomang asyik menyeruput cairanku di bawah sana, kini Cuprit leluasa memainkan lidahnya di bagian tubuh atasku, mulai dari payudaraku, perutku, leherku, dan wajahku dijilati olehnya sehingga sekarang aku benar-benar berlumuran air liur Cuprit.

Tadinya dia ingin tidur di atas tubuhku tapi karena takut nanti aku keberatan ditindih badannya, Cuprit memutar badannya sehingga badannya berada di atas kepalaku, dan kepalanya ada di depan wajahku, dia langsung lumat bibirku dan memainkan lidah panjangnya di dalam rongga mulutku, dan aku juga membalas serangan lidahnya dengan lidahku sehingga lidah kami saling bertemu dan membelit satu sama lain. Kurasakan benda hangat, keras, kasar, dan agak menonjol di sana sini menerobos masuk lubang vaginaku tanpa permisi.

“ohh,, sempitt gilaaa”, desah Tomanh yang ternyata sedang berusaha menjebloskan penis gemuknya ke dalam lubang vaginaku yang gelap, lembap, sempit, kesat, dan merupakan surga dunia bagi laki-laki ataupun JIN laki-laki.

Penisnya memang tidak terlalu panjang tapi diameternya membuat vaginaku benar-benar terasa penuh, tapi terasa nikmat. Aku melingkarkan kakiku di pinggangnya, lalu karena sudah tidak tahan lagi, Tomang mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur sehingga penisnya yang gemuk itu bergesek-gesek dengan dinding vaginaku secara terus menerus sehingga menimbulkan sensasi tersendiri. Cuprit melepaskan cumbuannya terhadapku, tapi aku tak rela karena permainan lidahnya yang panjang membuatku ketagihan, tapi Cuprit tetap menyudahi cumbuannya.

Rupanya, birahinya juga sudah tak bisa dikendalikan lagi olehnya sehingga dia mengangkangi wajahku, kemudian dia berjongkok tepat di atas wajahku sehingga penis panjangya berayun-ayun di depan mataku. Aku seperti ikan yang melihat penis panjang Cuprit sebagai umpan karena aku membuka mulutku dan aku menggerakkan kepalaku ke arah penis Cuprit untuk menangkapnya dengan mulutku. Cuprit tersenyum senang karena aku sekarang menjadi budak seksnya yang akan melakukan apapun demi mendapatkan penisnya. Karena itulah dia mempermainkanku, Cuprit menaik-turunkan tubuhnya sehingga kadang penisnya menjauh dari lubang mulutku dan kadang penisnya bisa masuk ke dalam mulutku dengan sangat dalam.

Aku tidak marah, karena aku memang menyukai jika aku dipermainkan seperti itu bahkan aku sempat tertawa kecil karena aku menganggap diriku sebagai ikan yang sedang berusaha menangkap umpan. Akhirnya, Cuprit capek sendiri dan malah kini dia bertumpu pada lutut dan kedua sikunya kemudian dia menurunkan bagian bawah tubuhnya sehingga kini aku bisa meraih penisnya dengan mulutku dan memasukkan ke dalam mulutku dengan leluasa.

Tapi berada di tengah-tengah selangkangan jin bukanlah pengalaman yang menyenangkan karena baunya bukan sekedar bau tapi baunya amat menyengat. Karena birahi yang sudah tidak bisa terkontrol, aku tidak memikirkan baunya lagi, malah aku menjilati penis dan buah zakar Cuprit dengan sangat antusias. Entah sudah berapa lama tubuhku dimainkan oleh kedua jin itu, tapi kudengar Mbah Centeng berkata.

“udah 1 jam Vina sayang, sabar ya, mereka biasanya 1 ronde itu 1 setengah jam”.

“hah?!”, teriakku kaget dalam hati.

“berarti bisa pingsan nih gue, tapi gapapa deh, yang penting enak”, kataku dalam hati. Rupanya Cuprit tidak puas memainkan penisnya di mulutku saja sehingga dia mencabut penisnya yang sedang asyik kukulum dan menyuruh Tomang untuk berhenti sebentar memompa vaginaku. Tomang menghentikan pompaannya terhadap vaginaku dan mencabut penisnya keluar dari lubang vaginaku, sementara Cuprit mendorong tubuhku sehingga sekarang posisiku miring.

Lalu Tomang tiduran di depanku dan Cuprit tiduran di belakangku sehingga aku seperti menjadi dinding pemisah di antara mereka. Tomang mengangkat kaki kiriku ke atas tinggi-tinggi. Kemudian, Tomang mulai memasukkan batang kejantanannya ke dalam tempat sebelumnya yaitu vaginaku, dan Cuprit sedang berusaha memasukkan penis panjangnya ke dalam lubang anusku.

Agak sakit dan perih juga ketika Cuprit berusaha menanamkan penisnya ke dalam anusku karena anusku kering dan memang masih sempit meskipun sudah beberapa kali diterobos Mbah Centeng malam kemarin. Pas sekali diameter penis Cuprit di dalam anusku tapi lubang anusku hanya bisa menelan 3/4nya saja dari penis Cuprit, ini dikarenakan penisnya yang begitu panjang sampai mentok di dalam anusku. Lalu mereka mulai memompa penis mereka ke dalam kedua lubangku dengan irama yang kadang bersamaan, kadang iramanya berlawanan.

“aaahhh,,,oohhhh,,,terrusss,,,entoott akkuuuu,,,akuu adalahh budak kaaliaann,,,!!!!”, desahku seperti orang kesetanan karena rasa nikmat yang kurasakan belum pernah kudapat dari manusia bahkan Mbah Centeng sekalipun. Hanya selang 5 menit setelah aku dipompa oleh Tomang dan Cuprit secara bersamaan, aku mengalami orgasme yang begitu dahsyat, bahkan aku seperti dialiri listri 10000 volt dan badanku sangat tegang sehingga cairan yang keluar dari vaginaku sangat deras dan melumasi dinding vaginaku yang sedang bergesekan dengan penis Tomang yang menimbulkan bunyi kecipak air yang sangat kencang. Karena aku belum minum ramuan anti capek Mbah Centeng, aku merasa tenagaku sudah terkuras habis dan mataku sudah mulai sayup-sayup meskipun aku baru 2 kali orgasme, tapi seperti yang kubilang tadi orgasme keduaku sangat dahsyat sehingga menguras tenaga banyak sekali.

Akhirnya..

“ahhh,,keluuaarrr!!!”, teriak Tomang disusul dengan semburan hangat dari penisnya menyemprot masuk ke dalam rahimku dengan sangat kencang dan banyak. Tak lama kemudian.

“oohhhhh,,,!!!!”, erang Cuprit yang juga mencapai orgasme dan menyemburkan spermanya ke dalam lubang anusku. Aku benar-benar letih setelah > 1 1/2 jam, 2 jin itu menyetubuhiku. Aku mengatur nafasku yang tersengal-sengal menandakan kalau aku sangat kelelahan, tapi sambil mengatur nafas aku merasakan penis mereka tidak mengecil sama sekali, ukurannya tetap.

“maaf ya neng Vina,, bukannya kami mau membuat neng pingsan, tapi ngentot kami tidak bakalan tidur kalau gak ngencrot 3 kali”. Aku sudah tidak bisa menjawab karena sagat kelelahan. Mereka mengerti kalau aku sudah mencapai batasku sehingga dia tidak menunggu balasan dariku, mereka langsung mencabut penis mereka dari kedua lubangku.

Kemudian mereka bertukar posisi sehingga kini penis gemuk Tomang yang berada di depan lubang anusku dan penis panjang Cuprit berada di depan lubang vaginaku. Aku sudah tidak peduli apa yang mereka akan lakukan terhadap tubuhku karena aku sudah tidak punya tenaga lagi. Tomang mengangkatku sehingga tubuhku yang putih mulus dan lebih kecil daripada badan Tomang berada di atas tubuhnya. Kemudian Cuprit menuntun penis abangnya itu ke dalam anusku sampai penisnya amblas ditelan anusku, tapi aku merasa lubang anusku melebar karena penis gemuk Tomang.

Setelah itu, Cuprit mengangkat kedua kakiku dan menaruh kakiku di bahunya. Lalu dia menuntun penisnya masuk ke dalam vaginaku sampai mentok ke dalam lubang vaginaku seperti tadi, hanya 3/4nya saja yang bisa masuk. Mereka mulai memompa penisnya keluar masuk di tempat mereka masing-masing. Sambil menggenjot anusku, Tomang menjilati bagian belakang leher dan kupingku, sementara Tomang melumat bibirku lagi seperti sebelumnya. 8 menit kemudian aku mengalami orgasme sehingga aku tidak kuat lagi dan akhirnya aku pingsan karena tenagaku sudah benar-benar nol.

Aku buka mataku karena mendengar kicauan burung yang sangat merdu.

“hoahhhmmmmm,,,”, aku menguap. Aku baru menyadari kalau aku tidur di atas Mbah Centeng dan aku merasakan penisnya masih tertanam di vaginaku.

“mbah, bangun mbah”, kataku sambil menggoyang-goyang badan Mbah Centeng.

“hooahhh,, eh,, udah bangun ya Vina sayang”.

“Tomang ama Cuprit mana Mbah?”.

“lagi tidur di alamnya, mereka cape’ abis ngentotin Vina semalaman”. Lalu aku merasakan ada sesuatu di wajah, payudara, daerah selangkanganku, dan juga daerah pantatku. Aku bangun dan langsung pergi ke kaca, betapa terkejutnya aku melihat hampir di seluruh bagian tubuhku ditutupi noda sperma yang sudah mengering apalagi daerah selangkanganku dan juga daerah pantatku, sudah seperti danau sperma yang sudah mengering saja.

“mbah,, ini peju ya?”.

“ya,, itu semua peju kami bertiga”.

“waduh,, parah,, yaudah,, Vina mau mandi dulu ya”.

“ikut dong,,”.

“yaudah, Mbak,, sekalian sabunin Vina ya Mbah”.

“gak usah disuruh,, juga mbah sabunin”.

Setelah selesai mandi sambil ngesex, kami pun keluar dari kamar mandi di ruangan tidur Mbah Centeng.

“mbah,, tadi malem,, Vina diapain aja”.

“ya dientot ama 2 jin mbah”.

“yee si mbah, ditanya bener-bener, gitu doang jawabnya”.

“abisnya,, mau dijawab apa?”.

“udahlah,, kapan nih Vina mulai kerja?”.

“tar sore,, dek Vina kesini lagi ya”.

“oh ya mbah,, sebenarnya mbah melayani apa aja sih?”, tanyaku sambil memakai baju.

“ya nyembuhin penyakit, cari kerja, bikin orang sukses, dan lain-lain”.

“lain-lain,, maksudnya pelet mbah?”.

“eitss,, mbah paling anti yang namanya pelet”.

“loh,, bukannya dukun terkenal kalo peletnya mantep?”.

“ah gak juga,, nih buktinya mbah bisa berhasil tanpa pelet”.

“kenapa sih mbah gak mau ngasih layanan pelet?”.

“soalnya mbah pernah denger lagu”.

“lagu apa mbah?”.

“gini nih,, bila kau cinta, katakan cinta. Bila kau sayang,, katakan sayang,,, gitu dek Vina”.

“alah si mbah,, itu mah lagunya Anima kan..”.

“tau aja dek Vina,,”.

“ya taulah,, Vina kan anak muda”, kataku sambil mengambil tasku.

“yaudah mbah, Vina pulang dulu ya”.

“ya,, tapi ntar sore dek Vina mulai kerja ya”.

“sip mbah,,,”. Mulai hari itu aku sudah mempunyai pekerjaan yaitu menjadi sekretaris Mbah Centeng, lumayan dengan gaji 5 juta per minggu, aku bisa membeli kebutuhanku dengan uangku sendiri, lagipula kerjaku enak. Hanya membiarkan tubuhku dicicipi oleh pasien-pasien yang datang ke tempat praktek Mbah Centeng mulai dari jam 4 sore sampai jam 11 malam. Dan selanjutnya, aku harus melayani 2 jin piaraan Mbah Centeng yaitu Tomang dan Cuprit serta Mbah Centeng sendiri sampai jam 6 pagi, dan aku tidak kelelahan karena aku diberi persediaan ramuan anti capek asli bikinan Mbah Centeng sendiri.

Nama Mbah Centeng sebagai dukun yang tadinya sudah terkenal menjadi semakin sangat terkenal apalagi di kalangan laki-laki, tentu saja karena cara mengobatinya yang unik dan menguntungkan bagi laki-laki yaitu boleh menyetubuhi gadis cantik sepertiku, dan bahkan Mbah Centeng membuat website tentang tempat prakteknya, dan kebanyakan isinya adalah komentar semua pasien laki-laki yang mengatakan kalau mereka ketagihan menikmati tubuhku, selain itu di website Mbah Centeng dimuat foto-foto ketika aku sedang bersetubuh baik dengan pasien, dengan Tomang & Cuprit, juga dengan Mbah Centeng.

Karena mengetahui aku hidup makmur, teman-temanku yaitu Dewi, Riska, dan juga Rani menjadi sekretaris Mbah Centeng juga sehingga kini di tempat praktek Mbah Centeng ada 4 orang gadis cantik yang siap disetubuhi kapan saja. Selain itu, kami berempat setiap hari sabtu-minggu berada di alam jin untuk melayani semua jin yang merupakan teman-teman Tomang dan Cuprit. Yah,, itulah ceritaku,, kini aku, Rani, Riska, dan Dewi menjadi gadis paling kaya di kampus kami.

Judul: Selingkuhku Karena Suamiku

Author : Hidden , Category: Umum

Kisah ini sengaja saya tulis untuk sedikit membantu saya membebaskan perasaan yang benar-benar terpendam dalam diri saya untuk sekian lamanya.

Saya adalah seorang wanita yang sudah bersuami. Semua orang memuji kecantikan diri saya walaupun kulit saya tidak bisa dikatakan putih. Entah mereka yang saya kenal maupun selentingan dan kekaguman orang di luar sana. Baik yang mengungkapkan langsung maupun yang disampaikan melalui orang lain.

Nama saya Nanik. Saya adalah anak pertama dari sebuah keluarga yang serba berkecukupan. Ayah saya adalah seorang pengusaha di bidang perbankan yang cukup diperhitungkan di daerah saya. Saya menikah atas dasar paksaan ayah saya. Sungguh tidak mengenakan menikah dengan orang yang tidak saya cintai, walaupun sudah kurang lebih sembilan tahun usia pernikahan kami. Suami saya, Bramono, adalah seorang dokter yang sedang mengambil spesialisasi bedah di Rumah Sakit pemerintah di kota kami. Terlihat hebat memang. Tapi sayangnya keluarganya ternyata memiliki bibit keturunan “orang stress”.

Ini yang menyebabkan saya mengambil keputusan untuk lebih baik mengadopsi daripada memiliki keturunan ‘stress’.

Sikapnya sebagai suami sama sekali tidak mencerminkan seorang suami. Terlebih saat dia menyadari bahwa dirinya adalah kesayangan ayah saya, mertuanya.

Beberapa alasan ayah saya sangat menyayanginya adalah karena suami saya adalah seorang dokter dan (katanya) adalah keturunan orang terhormat. Terhormat? Menjaga nama baik diri sendiri saja tidak bisa, apalagi nama baik keluarga dan rumah tangga?

Sudah cukup lama saya bertahan menjaga nama baik keluarga, hingga akhirnya saya menyadari bahwa ada pihak ketiga yang mengganggu rumah tangga kami.

Namanya Erna. Dia seorang mahasiswi kedokteran hewan yang menjadi gundik suami saya untuk sekian tahun lamanya. Sama sekali tidak ada yang menarik dari dirinya. Kalau boleh saya menyombongkan diri, perbedaan saya dan dirinya ibarat langit dan bumi.

Entah apa yang diinginkan suami saya dari dirinya.

Bukan hanya nama baik rumah tangga kami yang tercoreng, tapi juga nama baik orang tua saya. Dia membawa ‘gundik’nya itu dengan leluasa menggunakan kendaraan pribadi ayah saya, karena memang ia belum mampu memiliki sebuah mobil. Bahkan untuk membeli bautnya pun mungkin masih meminta uang dari saya.

Di tengah kebingungan, saya mendaftarkan diri untuk mengikuti program Magister Manajemen yang baru saja dibuka di sebuah universitas negeri di kota saya. Di sini saya banyak menjumpai teman baru. Kejenuhan dan kebingungan saya mulai sedikit terobati dengan aktivitas belajar baik di kampus maupun di luar.

Entah angin darimana yang berhembus, saya mendengar bahwa salah seorang teman kuliah saya bertempat tinggal di daerah perumahan yang sama dengan Erni. Tiba-tiba timbul kembali rasa penasaran terhadap ‘gundik’ suami saya itu.

Ibarat wartawan, saya pun mulai melancarkan beberapa pertanyaan daerah seputar perumahan tersebut.

Namanya Eri. Begitu setidaknya ia dipanggil. Pertama memang ia menaruh curiga terhadap pertanyaan saya. Saya berusaha membohonginya agar aib rumah tangga saya tidak terbongkar. Namun karena rasa penasarannya yang begitu besar, saya tidak dapat lagi menutupinya. Terlebih dia begitu jelas memberi informasi mengenai dimana lokasi tepatnya Erni tinggal dan keadaan sekelilingnya.

Hingga akhirnya saya meminta tolong untuk sesekali mengintip apakah suami saya pernah berkunjung ke sana.

Akibatnya, saya sering berhubungan dengannya untuk mendapatkan informasi lebih darinya.

Dari sekedar menerima informasi dan meminta tolong lagi, akhirnya saya tidak dapat menahan lagi penderitaan yang saya alami. Saya akhirnya sering berkeluh kesah mengenai keadaan rumah tangga saya yang sebenarnya. Entah kenapa saya lakukan ini.

Eri adalah totally stranger, yang seharusnya sama sekali tidak mengetahui kondisi intern rumah tangga kami. Tapi bagaimana lagi?

Saya sudah sering berkeluh kesah dengan orang tua mengenai suami saya. Mereka hanya menyuruh saya untuk bersabar. Dengan adik saya, mereka memang merasa kasihan kepada saya, namun mereka juga tidak bisa berbuat banyak karena kesibukan bisnisnya.

Saya juga pernah berkeluh kesah dengan bibi (tante) saya yang belum menikah, namun dengan cepat dia menjawab, “Waduh, janganlah bicara itu kepada saya, saya tidak sama sekali tidak tahu masalah seperti itu!”

Kemana lagi saya harus berkeluh?

Pada awal cerita saya kepada Eri, dia memang menganjurkan agar saya berbicara kepada orang tua saya. Namun itu merupakan anjuran basi bagi saya.

Eri tidak putus asa. Dia terus memberi dukungan secara moral. Yang membuat diri saya seolah semakin tenang berada di sisinya untuk mendengarkan dan menerima dukungannya. Kemudian dia pun membuka rahasia mengenai dirinya. Mengenai siapa dirinya sebenarnya dan bagaimana kondisi orang tuanya.

Dari situ saya melihat beberapa kemiripan diantara kami berdua. Saya pun mulai comfortable apabila sudah berada di sisinya. Dan pertemuan pun sering kami atur. Entah itu berkedok kelompok belajar atau lainnya.

Hingga akhirnya, entah kenapa tumbuh rasa suka saya kepada dirinya, dan di suatu saat Eri memberanikan diri untuk menyentuh tangan saya dan memegangnya. Saya merasakan getaran yang ia jalarkan ke diri saya. Akhirnya tanpa saya sangka, ia mengutarakan perasaannya. Perasaan yang sama dengan apa yang saya rasakan terhadap dirinya.

Singkat cerita, kami mulai sepakat saling mengasihi. Dan kami pun mulai secara rutin bertemu untuk berbagi kasih. Walau pun hanya sebatas di dalam mobil saya.

Kekagetan saya yang berikutnya adalah sewaktu Eri tiba-tiba mencium bibir saya. Lucu rasanya saya mengenang kejadian tersebut. Seolah saya adalah seorang gadis yang baru pertama kali dicium oleh pria. Saya tidak tahu harus bagaimana. Di satu sisi, saya memang mencintainya. Di sisi lain, saya sudah menikah dan bersuami.

Kembali dia melayangkan kecupan dibarengi dengan sedikit lumatan pada bibir saya.

Saya tetap tidak berkutik. Hingga akhirnya dia bertanya,”Kenapa tidak dibalas?”

Setelah kami saling tatap untuk beberapa saat. Akhirnya….. saya pun membalas lumatan bibirnya.

Kisah kasih kami terus berjalan dengan sedikit bumbu saling cemburu apabila saya terkesan mulai denkat dengan suami saya, atau saya mendengar isu bahwa Eri berkenalan dengan seorang gadis. Tapi itu semua tetap tidak mempengaruhi cinta kami.

Percumbuan kami semakin hangat. Dia pun mulai berani menggerayangi bagian-bagian tubuh saya. Baik dengan menggunakan tangannya atau dengan mulutnya.

Buah dada saya yang berukuran 36B ini sudah sering kali menjadi sasaran empuk mulutnya. Dan saya sangat menikmatinya. Saya pun sering mencumbu dadanya yang lapang, dan sesekali mempermainkan mulut dan lidah saya di pentilnya. Dia pun sangat menikmatinya.

Hingga akhirnya permainan kami mengalami peningkatan. Jemarinya mulai terampil menyusup kepada celana dalamnya dan mempermainkan klitoris saya.

Saya mulai merasakan geli dan nikmat bercampur menjadi satu, terlebih apabila ia kombinasikan dengan mencumbu tubuh saya.

Kami saling bergantian mencumbu hingga akhirnya pun saya hanyut dalam kebiasaan melakukan oral sex terhadapnya. Dia begitu surprise saat saya melakukan oral. Eri tidak menyangka, seperti halnya saya. Saya bahkan sempat terheran pada diri saya sendiri. Banarkah saya melakukan ini? Pertama kali saya melakukan oral sex terhadapnya, memang saya kikuk sekali. Eri hanya membuka sedikit celana dalamnya hingga kepala penisnya tersembul. Entah kenapa, saat saya sedang mencumbu tubuhnya, saya sangat terdorong untuk mencumbu penisnya dan memasukkannya ke dalam mulut saya. Dan sejak saat itu, percumbuan kami belumlah lengkap apabila saya belum melakukan oral sex terhadapnya. Bagi saya, saya merasa memiliki hobby baru. Membuatnya nikmat melalui oral sex.

Hingga suatu saat di tengah percumbuan hebat kami dimana pakaian kami sudah hampir terbuka semua, di jok belakang mobil saya di pelataran parkir department store “R” yang terletak di jalan yang menggunakan nama seorang pangeran, ia mengangkat rok saya dan menyingkap sedikit celana dalam saya, lalu kemudian dengan cepat dan lembutnya, Eri mencumbu dan menyapu vagina saya dengan lidahnya. Sungguh saya dibuatnya kaget dan bingung yang bukan kepalang. Suami saya sama sekali tidak pernah melakukan hal ini terhadap saya. Di tengah kebingungan itu, saya sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Saya mencintainya, tapi saya sama sekali tidak menyangka hingga sejauh ini kisah asmara kami. Begitu lembutnya dia mempermainkan klitoris saya dengan sapuan lidahnya, hingga akhirnya rasa bingung itu lenyap ditelan rasa geli dan nikmat yang sudah menjalar di sekujur tubuh saya. Saya hanya bisa meremas rambut kepalanya, menekan kepalanya lebih dekat di vagina saya yang kian membasah. Kenikmatan itu juga yang akhirnya membuat saya mengangkat kedua paha dengan lebih membuka kangkangan keduanya.

Setelah kurang lebih lima belas menit dia menjilati klitoris saya dengan berbagai cara, saya disuruhnya rebah di jok belakang dan segera dia menindih saya. Rupanya Eri telah menurunkan celananya tanpa sepengetahuan saya sewaktu saya masih melayang-layang.

Dengan cepat Eri menyodorkan penisnya menuju bibir vagina saya. Dan mempermainkan kepala penisnya di bibir vagina saya. Saya kembali menggelinjang. Sama sekali tidak terbesit di benak saya, bahwa kami masih bermain di area parkir sebuah pusat belanja yang terletak di jalan “D”. Yang suatu saat dapat dipergoki satpam.

Kembali saya tersentak hebat saat kepala penisnya menggesek-gesek klitoris saya dengan agak kuat. Tubuh saya mulai bergetar hebat. Apa ini yang dinamakan luapan birahi?

Karena vagina saya yang sudah basah sejak tadi, Eri tidak mendapat kesulitan untuk akhirnya dengan cepat dan lembut menyelipkan penisnya di liang vagina saya.

Saya kembali tersentak dalam sejuta kenikmatan. Sebuah benda yang besar dan panjang menyelinap masuk secara perlahan, sehingga menimbulkan gesekan halus pada klitoris saya. Tubuh saya mengejang sesaat.

Tiba-tiba muncul rasa heran yang amat sangat dalam diri saya.

Selama ini saya tidak pernah merasakan nikmatnya sex dengan suami saya. Yang saya tahu selama ini, sex adalah menyakitkan. Saya hanya menjadi mesin pemuas nafsu sex suami saya tanpa peduli apakah saya menikmatinya atau tidak. Nikmat sex seolah-olah hanya dongeng belaka di telinga saya.

Tapi Eri… seolah-olah dia kini memberikan bukti bahwa nikmat sex itu ada. Dan nyata.

Kini saya sadar sepenuhnya. Saya semakin mencintainya. Saya pun kembali larut dalam kebahagiaan nikmatnya sex. Saya pun menyambut cintanya, juga menyambut goyangannya tidak kalah hebat. Seolah saya ingin menumpahkan dan mencapai kenikmatan sex yang baru saya rasakan dan ingin memberitahunya untuk bersama menikmati sex ini sepuas-puasnya.

Entah berapa lama kami bercinta dan saling berpacu dalam nafsu birahi di dalam mobil Genio berwarna gelap bernomor polisi D* 1**9 **. Akhirnya dia membiarkan saya selesai terlebih dahulu. Sungguh saya tidak menyangka bahwa kenikmatan sex itu begitu indah, menyenangkan dan memuaskan. Saya pun dibuatnya lemas dan tidak bertenaga, terkapar di jok mobil. Telentang tidak berdaya, dengan rasa sejuta bahagia dan kepuasan yang tidak ternilai. Sementara Eri akhirnya mempercepat ritme ayunan pinggulnya dan saya merasakan adanya semburan hangat di dalam vagina saya. Semburan sperma Eri.

Saya sempat khawatir akan kehamilan akibat hubungan kami. Tapi Eri segera berbisik bahwa dia ingin saya hamil dan membesarkan anak tersebut.

Berangsur-angsur kekhawatiran saya menghilang. Di satu sisi, keinginan saya untuk hamil bisa saja terkabul. Dan ini yang saya tunggu.

Akhirnya siasat pun diatur, apalagi golongan darah Eri sama persis dengan suami saya.

Sejak saat itu, kami pun rutin melakukan hubungan sex untuk saling meluapkan cinta dan memuaskan nafsu birahi kami, dimana pun kami sempat. Bahkan pernah di ruangan kantor saya pada saat sepi, Eri meminta saya untuk berdiri membungkuk di tepi meja kerja saya dan dia menyetubuhi saya dari belakang dengan terlebih dahulu mengangkat rok dan menurunkan celana saya dan kemudian mempermainkan vagina saya dengan lidahnya yang kasat.

Kini bukan saja suami saya yang berselingkuh. Saya pun turut terjerumus dalam dunia perselingkuhan. Perselingkuhan yang saya rasa adalah abadi.

Apakah ini semua karena cinta sejati saya dengan Eri?

Apakah karena awalnya kawin paksa oleh ayah saya, hingga tidak pernah ada cinta antara saya dan suami saya?

Hingga kini hubungan saya dan Eri telah berusia dua tahun, baik hubungan komunikasi maupun secara sexual. Kami tetap saling memperhatikan, mengasihi, menjaga dan juga saling mengisi kekurangan satu sama lain. Seperti layaknya suami istri sejati.

Kini saya sudah tidak peduli lagi terhadap apa yang dilakukan suami saya. Anak kandung saya dari hasil hubungan intim saya dengan Eri dan anak angkat saya pun lebih dekat dengan Eri ketimbang suami saya. Entah kenapa, saya sangat berbahagia menjalani semua ini. Saya sudah menemukan cinta sejati saya.

Untuk Eri, apabila Anda membaca cerita ini, saya ingin mengatakan kepada Anda bahwa kami bertiga sangat mencintai dan merindukanmu.

Salam dari Surya, putra kandungmu dan Nindi, putri angkatku.

Judul: Awal Menjadi Gigolo

Author : Hidden , Category: Umum

Namaku Sony, wajahku lumayan ganteng, tubuh tinggi dan sexy. Tetapi keadaan ekonomiku kurang mencukupi. Makanya aku pergi ke kota untuk mencari pekerjaan yang dapat memenuhi masa depanku. Pada waktu aku sedang mencari pekerjaan, kulihat ada papan iklan di sudut jalan, “DICARI COWOK DAN CEWEK UNTUK JADI MODEL…” Aku tertarik dan langsung pergi ke tempat yang ditunjukkan papan iklan itu. Setelah sampai, kulihat tempatnya ramai dengan orang yang ikut mendaftar menjadi model. Aku langsung saja masuk ke tempat itu.

Setelah giliranku mendaftar, aku ditanya sama Mbak yang mengurus bagian pendaftaran. Orangnya cantik dan tubuhnya wuih…

“Namanya siapa Mas..?” katanya.

“Sony, Mbak..” kataku sambil melihat wajahnya yang ayu.

“Boleh lihat kartu identitasnya Mas..?” katanya lagi.

“Ini Mbak..” kataku sambil menyerahkan KTP.

“Ok.., sekarang Mas masuk ke ruangan test ya… Mas jalan aja lurus, terus belok kanan.., nach disitu Mas masuk aja ya..!” katanya.

Lalu aku pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh Mbak itu.

Aku duduk menunggu giliran. Ketika aku sedang menunggu, ada beberapa cewek-cowok yang keluar dari kamar itu dengan kepala tertunduk. Pasti mereka tidak lulus test… aduh aku jadi takut dan badanku jadi gemetar tidak karuan.

Lalu.., “Mas Sony…” tiba-tiba ada suara memanggil namaku.

Langsung saja aku masuk ke ruangan test. Disitu ada 2 cewek cantik, mereka berdua memakai baju ketat, sehingga susu yang besar terlihat seperti menyembul, dan di bagian bawah mereka hanya memakai rok mini sekitar 10 cm dari ‘anu’-nya.

“Mas Sony ya..? Aduh gantengnya. Sudah pernah jadi model sebelumnya..?” katanya.

“Belum pernah Mbak… Saya baru aja datang dari desa…” kataku lugu.

“Ooo… sekarang coba buka baju dan celananya Mas ya..?” katanya.

“Lho kok pake buka baju segala sih Mbak..? Emangnya Sony mau diapain..?” kataku.

“Mas mau jadi model nggak..? Kalau mau jadi model, ya harus nurut..! Ya.., ayo cepet gih buka bajunya… sini biar kami bantu.” katanya sambil terus menuju ke arahku untuk melepaskan bajuku, sementara temannya yang satunya melepaskan celanaku.

Lalu sekarang aku sudah setengah telanjang di depan mereka berdua yang cantik itu. Gundukan batang kejantananku di balik celana dalamku terpampang dengan jelas di depan mereka.

“Wow, besar juga ya kontol Mas. Mas Sony udah pernah ngeseks sebelumnya..?” tanyanya ketika melihat gundukan senjata kemaluanku di balik celana dalamku.

“Belum pernah Mbak… Emangnya kenapa sih Mbak kok nanya yang gituan..?” kataku sambil memandang mereka yang kelihatannya tertarik dengan batang kejantananku yang lumayan besar.

“Begini Mas, kami mencari beberapa model yang masih ‘hijau’ pengalamannya…”

“Apa hubungannya Mbak jadi model sama pengalaman… khan lebih banyak pengalamannya maka semakin bagus dia nantinya…” kataku.

“Kami hanya mencari cowok dan cewek yang setengah perawan begitulah… sekarang saya mau ngetest kontol Mas… ok..?” katanya sambil terus membuka pakaiannya satu-persatu, sementara yang satunya mendekatiku.

Dia memeluk tubuhku, menciumiku dan meraba-raba tubuhku. Sementara Mbak yang satunya sudah melepas baju ketatnya, sehingga susunya yang besar tergantung bebas. Rupanya dia tidak memakai BH. Wow.., ukurannya besar sekali. Baru kali ini kulihat susu sebesar itu. Lalu dia melepas rok mininya, dan… ohhh.., terpampanglah bentuk kemaluannya yang gundul dan montok itu. Setelah itu dia mendekatiku sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya yang bulat. Aku jadi teransang, dan akhirnya batang kejantananku menegang dan bertambah besar gundukannya di celana dalamku. Dia menggoyangkan tubuhnya sambil menempelkan kemaluannya ke gundukan batang kejantananku. Ohhh.., batang kejantananku bertambah keras saja mendapatkan perlakuan seperti itu.

“Mas Son, CD-nya dibuka ya..? Kasihan yang di dalam pengen ketemu temennya…” katanya sambil dipelorotkannya celana dalamku.

Seketika itu juga batang kejantananku berdiri dengan kokohnya bagaikan “Pedang Nagapuspa”.

“Aduh Mas.., kontolnya besar sekali… eehhmmm…” katanya lagi sambil mengurut batang kemaluanku.

Akhirnya aku hanya bisa pasrah, dia terus dengan lembutnya mempermainkan kemaluanku. Lalu aku disuruh tidur telentang. Sementara aku tidur di lantai yang dingin, Mbak itu dengan agresifnya terus mengulum batang kemaluanku.

Sementara itu Mbak yang satunya yang baru saja selesai membuka pakaiannya, langsung saja mengangkangkan kakinya di atas wajahku. Kemaluannya yang dikelilingi bulu lebat itu ditempelkannya di wajahku, lalu digeser-geserkan dengan irama lembut.

Lalu.., “Jilatin dong Mas Son… eehhmm…” katanya memelas.

Akhirnya kudekatkan juga kepalaku ke lembah kemaluannya. Tercium bau khas vagina, dan kujulurkan lidahku menjilati kemaluannya yang sudah basah itu. Dia mengerang dan menggelinjang kecil menahan nikmat. Kulihat dia meremas sendiri buah dadanya dan memuntir-muntir sendiri puting susunya.

“Oh… yesss…, jilat terus Mas.., ohhh.. yess..!” katanya sambil tangannya diangkat sebelah, sempat terlihat olehku bulu ketiaknya yang lebat sekali.

Mbak ini sungguh maniak sekali.

Beberapa saat kemudian dia meronta dengan kuat, “Aaahh… ohh.. yesss… aargghh..,” lalu dia menjepit kepalaku dengan pahanya, lalu menekan tubuhnya ke bawah agar kepalaku menempel lebih kuat lagi ke vaginanya. Aku jadi susah bernafas dibuatnya. Dia tambah mengerang, sementara Mbak yang satunya masih terus mengulum batang jenatananku yang tambah mengeras.

“Lagi Mas… arghh.. sshhh.. yah.. yah.. lagi.. oohh..” makin menggila lagi dia ketika aku mencoba mengulum klitorisnya dan memainkannya dengan lidahku di dalam mulut.

Aku memasukkan lidahku sedalam-dalamnya ke dalam lubang kemaluannya. Bau cairan kewanitaan semakin keras tercium. Vaginanya benar-benar sudah basah. Tiba-tiba dia menjambak rambutku dengan kuat, dan menggerakkan badannya naik turun dengan cepat dan kasar. Lalu dia menegang, dan tenang. Saat itu juga aku merasakan cairan hangat semakin banyak mengalir keluar dari liang kewanitaannya. Kujilati semuanya.

“Ohhh.. God… Bener-bener hebat kamu Mas Son… ahh… ngak kuat lagi deh untuk berdiri… shitt..!” dia terbujur lemas di sampingku.

Aku hanya tersenyum, lalu Mbak yang tadi mengulum batang kejantananku kini mulai mengangkangkan kakinya di atas senjataku. Dan, “Bless…” dimasukkannya batangku pada lubangnya yang hangat dan sudah basah sekali.

Dia pun mulai menggoyangkan tubuhnya perlahan-lahan. Pertama dengan gerakan naik turun, lalu disusul dengan gerakan memutar. Wah.., Mbak ini rupanya sudah profesional sekali. Lubangnya kurasakan masih sangat sempit, makanya dia juga hanya berani gerak perlahan-lahan tetapi teratur.

Dengan posisinya itu, Mbak itu terlihat sangat cantik dan seksi, buah dadanya tergantung sangat menantang. Aku dengan posisi setengah duduk berusaha untuk menghisap susunya. Dia mengerang dan gerakannya bertambah cepat, jariku berusaha mencari lubang pantatnya yang saat ini menganga karena posisinya yang sedang berjongkok di atas batang kejantananku. Dengan mudah aku memasukkan jari tengahku ke dalam lubang pantatnya. Cairan dari vaginanya dan penisku membasahi lubang pantatnya, dan terasa sangat licin dan lengket. Aku mempermainkan jariku mengikuti irama turun naik badannya, dia terlihat menikmati sambil melempar kepalanya ke belakang.

Dia kemudian mengerang, “Ooocchhh… aachhh… yesss..!”

Aku mencoba memasukkan jari kedua ke dalam lubang pantatnya, dan berhasil dengan mudah, lubangnya basah dan licin sekali. Dengan dua jari memasuki lubang pantatnya, dan batang kejantananku di vaginanya, dia setengah berteriak bilang, “Mas Son.., aku mau keluar.., ohhh… yesss..!”

Dia berhenti naik turun dan menekan vaginanya keras-keras ke pangkal batangku, dan tidak lama terasa lubang kemaluannya berdenyut dengan keras. Dia mengerang dengan keras sambil memelukku dengan kuat. Dengan pijitan vaginanya, aku tidak dapat menahan diri dan bilang ke dia kalau aku juga akan keluar.

“Please.., give it to me, I want to feel it inside me..” katanya menjawab desahanku tadi.

Semprotan spermaku terasa sangat kuat dan banyak sekali. Bersamaan dengan semprotan itu, dia bilang, “Aku keluar lagi Mas Son.., oocchh.. it so gooddd…”

Pantatnya ditekan keras-keras ke bawah, seakan-akan batang kejantananku kurang dalam memasuki liangnya. Kedua jariku kutekan dalam-dalam ke lubang pantatnya sambil digoyang-goyangkan di dalamnya. Terasa batang kemaluanku di dalam dibatasi oleh dinding pantat dan vaginanya. Dengan tetap memeluk tubuhku, dia merebahkan diri ke lantai yang dingin itu. Kakinya melingkar di pinggangku dan penisku tetap berada di dalam vaginanya.

Wajah, mata, dahi, hidung, pokoknya seluruhnya habis diciumi oleh Mbak itu sambil berkata, “Terima kasih Mas… Mas Sony memang perkasa.”

Melihat aku sudah selesai dengan temannya yang sudah tertidur itu, Mbak yang satunya mulai beraksi. Setelah selesai membersihkan batang kejantananku, Mbak yang tadi tertidur langsung menjilat batang kemaluanku lagi. Dengan tetap bersemangat, batang penisku dihisap dan dimasukkan ke dalam mulutnya.

Dengan cepat batang kejantanku menjadi keras lagi, dan dia berkata, “Mas Son, please fuck me from behind.”

Dia terus membelakangiku, dan pantat serta vaginanya terlihat merekah dan basah. Sebelum aku memasukkan bnatang kemaluanku, kujilat dulu vaginanya dan lubang pantatnya. Tercium bau sabun LUX di kedua lubangnya, dan sangat bersih.

“Boleh juga nih cewek..” kupikir.

Cairan dari vaginanya mulai membasahi bibir kemaluannya, ditambah dengan ludahku.

Dari ujung penisku terlihat cairan menetes dari lubangnya. Kuarahkan penisku ke lubang vaginanya, dan menekan ke dalam dengan perlahan sambil merasakan gesekan daging kami berdua. Suara becek terdengar dari penisku dan vaginanya, dan cukup lama aku memompanya dengan posisi ini. Dia kemudian berdiri dan bersandar ke dinding sambil membuka pahanya lebar-lebar. Satu dari kakinya diangkat ke atas, dari bawah vaginanya terlihat sangat merah dan basah.

“Ayo Mas.., masukkan kontolnya… please now.” katanya sudah tidak sabaran.

Aku dengan senang hati berdiri dan memasukkan penisku ke vaginanya. Dengan posisi ini aku bergerak mememasuk-keluarkan penisku.

Sambil memeluk tubuhku dan berciuman, dia bilang, “Mas Son aku mau keluar, kita sama-sama Mas… ohhh… yesss..!”

Vaginanya diperkecil dan memijat penisku, dan dengan bersamaan kami emncapai puncak kenikmatan itu. Aku masih dapat juga keluar, walaupun tadi sudah keluar banyak sekali. Dan yang kali ini sama enaknya.

Kami bertiga tertidur, aku dipeluk sama dua Mbak-Mbak yang asoy itu.

Tetapi tiba-tiba.., “Sari.. Mira.., apa-apaan ini..? Disuruh kerja kok malah tidur. Ayo bangun..!” tiba-tiba suara itu muncul.

Aku terbangun dan melihat wanita cantik yang umurnya mungkin diatas Mbak-Mbak itu. Langsung saja kedua Mbak-Mbak itu berpakaian.

Ketika aku mau berpakaian, “Kamu anak muda… cepet masuk dan jangan dipakai dulu bajunya… kamu belum selesai ditest.. ngerti..? Ayo cepet masuk ke ruanganku..!” katanya.

Setelah itu aku masuk ke ruangannya, tante cantik itu pamit ke kamar mandi.

Setelah menunggu sendirian di ruang kerjanya, aku iseng-iseng membuka album foto di depanku. Setelah kubuka, betapa terkejutnya diriku, semua foto disitu membuat batang kejantananku menjadi naik lagi. Ada foto seorang cewek dan cowok telanjang. Aku takut nanti ketahuan, maka langsung kututup album itu. Di ruangan itu terdapat rak-rak audio-video. Setelah kuperiksa, ternyata ada beberapa keping CD dan VCD. Aku curiga dengan dua keping VCD yang tidak ada sampulnya. Maka, langsung saja kumasukkan CD-nya, terus kuputar. Saat muncul opening scene, disitu tertulis, “SEX Intertainment, Ltd”

“Aduh..! Pasti film biru..” pikirku.

Dan ternyata benar, isinya film BF, judulnya “Daun Muda”. Disitu adegan antara cewek seusia tante-tante yang vaginanya dimasuki penis para perjaka muda. Terus ada juga adegan 69, tante-tante itu dengan rakusnya melahap batang kemaluan para cowok-cowok muda.

Karena teransang, aku mengelus-elus batangb kejantananku yang sudah tegang. Lalu tiba-tiba terdengar tawa kecil di belakangku. Aku kaget, malu dan salah tingkah, karena tante cantik itu sudah berada di belakangku. Langsung saja kumatikan TV-nya, lalu aku tertunduk malu sambil melihat batang kemaluanku yang mulai mengecil.

“Kamu suka juga ya rupanya. Aduh besar juga ya punyamu. Kamu benar-benar cowok yang masih hijau Sayang…”

Aku tersenyum, dan tidak berani melihat wajahnya.

“Eee… siapa namanya tadi..?” katanya.

“Sony, tante..” kataku.

“Ooo.., Sony. Sony sayang, kamu udah sering gitu juga kan..?” katanya.

“Eeee… cuman sekali Tante, dengan pacar Sony di kampung.” kataku.

“Satu apa dua.. hayooo ngaku aja dech. Tadi ama pegawai Tante kamu ngeseks juga khan..?” katanya.

“Oh… ya.. ya… Sony lupa… hee.. heee…” jawabku sambil menatapnya.

Tante itu memakai baju ketat, sehingga susunya yang lebih besar dari kedua mbak tadi seakan memanggilku untuk menyentuhnya. Bagian bawahnya hanya memakai rok super mini, sehingga kedua kaki jenjangnya terlihat begitu putih dan mulus. Kemudian tante cantik itu duduk di sebelahku. “Tante tadi lagi buang air, tapi terus terdengar suara TV masih nyala. Tapi suaranya kok ah.., uh.., ah.., uh. Terus tante intip kamu lagi ngocok punyamu. Kamu nggak tahu ya..?”

“Ya Tante..” kataku.

“Sony sayang, kamu benar-benar ingin jadi model..? Apa sih tujuanmu Sayang..?” tanyanya.

“Sony cuman butuh uang dan pekerjaan, Tante.” kataku.

“Cuman itu, nggak ada yang lain, Sayang..?” katanya.”Ya Tante… cuman itu.” kataku.

“Kamu mau kalau Tante suruh apa aja..?” katanya lebih mengorek.

“Sony akan nurut ama Tante, asalkan Sony dapat uang, Tante…” kataku.

“Kamu betul-betul cowok lugu Sony sayang… Tante akan menolong kamu. Kamu mau Tante ajarin sex tingkat tinggi, Sayang..?” katanya.

“Sony akan lakukan apa yang Tante suruh, tapi Sony ingin tahu nama Tante dulu, khan kita belum berkenalan tadi..” kataku.

“Nama lengkap Tante, Juliet atau biasa dipanggil Nyi Ringin Ireng..” katanya.

“Kok namanya aneh Tante… apa maksudnya nama itu..?” tanyaku.

“Begini Syang, ‘Nyi’ itu ‘cewek dewasa’, terus ‘Ringin’ itu ‘pohon beringin’ atau bisa dimaksudkan ‘hutan’, yang artinya bulu-bulu di tubuh Tante, di ketek, di kemaluan, dan lain-lain… terus ‘Ireng’ itu ‘hitam’. Kamu khan tahu bulu itu warnanya hitam… begicu Sony, ngerti khan..?” katanya.

“Sony ngerti Tante. Oh ya, Tante jadi nggak ngajarin Sony ilmu sex tingkat tinggi..?” kataku.

“Tentu Sony sayang. Tante akan tunjukin kebisaan Tante yang telah membuat cowok-cowok di seluruh nusantara ini ketagihan…”

Tangannya memegang kedua pipiku, “Son kamu ganteng dech…”

Lalu kupeluk dia, kucium pipinya, lalu keningnya.

“Ayo Tante.., ajarin Sony, bimbing Sony.., kasih tau Sony harus gimana saja. Tante khan juara dunia sejati. Tante khan udah punya jam terbang banyak. Tunjukin itu dong Tante..!” kataku.

“Sabar Sony sayang.., Tante akan ajarkan bagaimana ngesex dengan benar..” katanya seraya mencium bibirku.

“Ayo peluk Tante, Sony sayang..!”

Lalu aku mengangguk, terus memeluknya dan mengelus rambutnya yang indah itu. Tante Juliet berdiri, dan menghampiri rak audio, terus dia memutar CD lagu-lagu House.

Lalu tante kembali menghampiriku.

“Sony sayang..,” bisiknya.

“Mm.., beri Sony ilmu itu, Tante..!”

Lalu kupeluk Tante Juliet dengan erat.

“Apa yang harus Sony lakukan, Tante..?” kataku.

“Sony pingin merasakan sesuatu yang indah bersama Tante..? Tante juga Sony sayang, Tante ingin merasakan batangmu itu merobek punya Tante.” katanya sedikit bermanja.

“Sony sayang, menurut kamu Tante masih menarik nggak sih..?”

Aku agak bingung dan hanya dapat mengangguk memberi jawaban.

“Sony sayang, ayo cium bibir Tante sayang..!”

Lalu adegan pagutan ke bibir, leher, telinga dan tengkuk mulai kulancarkan. Tubuh Tante Juliet mulai bergetar.

Dengan instingku yang baru saja dipupuk, kuraba puting kirinya perlahan.

“Uhh, ya gitu Sayang, teruskan..!” dengusnya.

Kurasakan debar jantungnya meningkat. Lantas hidungku dan mulutku mulai mengecup bahunya yang terbuka, karena baju atasnya kubuka sedikit. Dia menggeliat.

“Nikmat sekali Sayang… kamu pinter Son..!” bisiknya sambil matanya tetap terpejam.

Kini kedua tangannya memegangi tanganku. Matanya masih terpejam. Lalu tangan Tante Juliet memegangi tanganku. Sekarang matanya terbuka. Dia tersenyum. Kukecup bibirnya lembut, lalu pipinya, telinganya, dan tengkuknya.

“Apa lagi sekarang, Tante..?” bisikku.

“Ayo ciumi leher Tante yang jenjang ini Sony sayang..!” katanya.

Lalu kucium lehernya, kurasakan debar jantungnya dan bunyi nafasnya yang mengeras. Lalu tangan kirinya diangkat untuk memegangi tengkuknya sendiri. Saat sekilas kutatap bagian ketiaknya, kulihat sesuatu yang luar biasa. Bulu ketiak Tante Juliet ternyata lebat sekali. Aku terkesiap. Wow..! seperti tidak percaya melihat bulu hitam rimbun itu menghiasi bagian bawah lengannya. Kuangkat tangan kanannya. Sama lebatnya. Wow..! Aku belum pernah melihat bulu ketiak selebat itu. Dengan lembut kuraba kedua ketiak itu.

“Nggak pernah dicukur ya Tante..?” kataku penasaran.

“Sony sayang, seorang cewek yang bulu keteknya lebat itu berarti nafsunya tinggi sekali sayang… Coba kamu rasakan nikmatnya…” katanya.

Lalu kucium ketiak berbulu lebat itu. Wow..! Enak e rek..! Bau asli tubuh aduhai itu menyergap hidungku. Bau alami itu bertambah dengan bulu lebat, sepanjang hampir 6-9 cm. Dari ketiak kanan, aku pindah ke ketiak kiri. Sama, ternyata aroma dan sensasi bulunya yang sebelah kiri dengan yang kanan tidak berbeda. Aku terangsang sekali, sehingga batang kejantananku tambah menegang. Dengan hidung dan mulut di ketiak kirinya, kedua tanganku meraba kedua puting susunya. Keras sekali. Kupegang lembut susunya yang tergantung itu. Kenyal sekali. Nafsuku semakin berkobar.

Akhirnya baju atasnya itu kulepas. Dan, wow..! Susunya besar dan kencang, dengan puting mungilnya yang mengeras. Puting itu berwarna kecoklatan.

“Ayo remas susu Tante, Son..!” katanya.

Lalu kuremes pelan kedua susunya.

“Oh yesss..! Nikmat Son.., teruskan Sayang..!”

Kuciumi lehernya, tengkuknya, telinganya, bahunya, dan ketiaknya sambil mempermainkan puting dan payudaranya.

“Tante, Sony suka ketek berbulu lebat Tante, tetek dan puting Tante juga, ehm…”

Tante Juliet tersenyum, kupandangi tubuh indah itu yang sekarang tinggal bercelana dalam tipis.

Baru kusadar, di bawah pusarnya tampak segitiga warna hitam. Bentuknya mirip celana dalam, jadi bila tante tidak pakai celana dalam, itu bukanlah masalah, karena bulu-bulu kemaluannya sudah membentuk celana dalam. Itu pasti bulu kemaluannya yang dia bilang seperti hutan beringin. Aku jadi tambah penasaran. Aku tambah begitu bernafsu ingin tahu, dan Tante Juliet rupanya tahu hal itu.

“Sony sayang, kamu pingin liat ‘hutan Kalimantan’-ku yang lain ya..?”

“Biar Sony lihat sendiri ya Tante..?” kataku.

Lalu aku menciumi pusarnya, dan turun ke bawah tanpa membuka celana dalamnya, hingga kurasakan bulu tebal tergesek ke hidungku, hingga jadi geli ingin bersin. Setelah itu kusisipkan jariku ke celana dalamnya. Kurasakan ketebalan bulu kemaluannya yang lebat. Aku tidak tahu dimana klitoris dan labia mayoranya.

“Rasakan Son, pasti kamu tahu, ayo… do it..!” katanya.

Berkat tuntunannya, jemariku mulai tahu mana yang klitoris, mana yang labia mayora. Jemariku basah sekali karena cairan dari vagina yang berbulu lebat itu. Celana dalam tante jadi basah, sehingga semakin menempel ke vulva, dan bulu lebat itu makin terlihat jelas.

“Ayo sekarang buka CD Tante… please..! Tante udah nggak tahan nich..!” katanya.

Lalu dipeganginya kepalaku yang setengah plontos, lalu digesek-gesekkan ke celana dalamnya yang basah kuyup dengan aroma yang khas dari vaginanya itu.

“Stop Son… Tante udah nggak tahan Son..!” katanya.

Tiba-tiba dia melepas celana dalamnya, dan melemparkannya ke lantai. Lalu, wow..! Luar biasa, benar dugaanku… bulu lebatnya membentuk segitiga seperti celana dalam. Lalu kunaikkan kaki kanannya ke kursi kerjanya. Wah..! Luar biasa. Kelebatan bulu kemaluannya menutupi vulva. Kusibakkan bulu kemaluannya itu, lalu tampaklah vulva yang berwarna agak gelap, kecoklatan, bukan kemerahan, bukan coklat muda. Aku terkesima. Kusibak dan belai bulu kemaluannya yang sedikit basah itu. Aku terus memandanginya. Lalu kuraba klitorisnya yang menyembul keras dan agak gelap itu.

“Ohhh… hhmmm… kamu nakal ya..!” katanya.

Batang kemaluanku kian menegang, kulihat ada tetesan maniku. Aku menghela nafas.

“Sekarang giliran batangmu ya, Sayang..?” kata Tante Juliet yang kemudian duduk di kursi kerjanya itu.

Aku yang dari tadi sudah telanjang dengan batang kejantanan yang menegak lalu mendekat ke tempat Tante Juliet duduk. Tante Juliet terkesima, terus dipandanginya batang kemaluanku. Tante Juliet langsung menggenggam batang kejantananku dengan kedua tangannya sekaligus, sepertinya dia mengukur panjang batang kemaluanku.

“Wow.., Son punya kamu dua kali genggaman tanganku…” katanya.

Kemudian dia menggenggamnya, tidak terlalu keras, sesaat saja, lalu dilepas.

“Panas sekali punyamu Son..” bisiknya mesra.

Tidak lama kemudian, batang kejantananku mulai dilahap oleh Tante Juliet. Mulutnya yang sensual itu seperti karet, mampu mengulum hampir seluruh batangku, membuatku seakan-akan terlempar ke langit ke-7 merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Dengan ganasnya, mulut Tante Juliet menyedoti penisku, seakan-akan ingin menelan habis seluruh isi batangku. Tubuhku terguncang-guncang dibuatnya. Dan Tante Juliet nan rupawan itu masih menyedot dan menghisap batang kejantananku tersebut. Belum puas dengan yang itu, Tante Juliet mulai menaik-turunkan kepalanya, membuat penisku hampir keluar setengahnya dari dalam mulutnya, tetapi kemudian masuk lagi. Begitu terus berulang-ulang dan bertambah cepat. Gesekan-gesekan yang terjadi antara permukaan penisku dengan dinding mulut Tante Juliet membuatku hampir mencapai klimaks untuk kedua kalinya. Apalagi ditambah dengan permainan mulut Tante Juliet yang semakin bertambah ganasnya. Beberapa kali aku mendesah-desah.

“Ohhh… yesss… Tante sungguh hebattt… ohhh… Tante udah ya… Sony nggak tahan nich..!” kataku.

Kami menuju sofa, terus duduk berdua berhadapan telanjang. Terus kucium bibirnya, pipinya, dan keningnya. Terus dia berdiri.

“Mau kemana Tante..?” tanyaku.

“Ambil minuman Sayang.., tenggorokanku kering habis ngemut punyamu..”

Tante Juliet berjalan menuju kulkas, mengambil botol besar Coca-Cola. Aku sangat teransang sekali sewaktu dia berjalan membelakangiku. Dia berjalan dengan menggoyangkan pinggulnya sambil kedua tangannya diangkat ke atas, sehingga kedua ketiaknya yang lebat itu terlihat samar. Ohhh… pantatnya yang bulat dan besar itu seakan membuatku jadi salah tingkah, sehingga kemaluanku bangun lagi. Lalu saat dia kembali ke sofa, terlihatlah sekarang dengan jelas bulu ketiaknya dan bulu kemaluannya yang lebat itu, dan lagi susunya yang besar itu, ohhh…

Lalu kami minum bergantian dari botol yang sama. Kemudian bersandar ke sofa, sama-sama diam.

“Gimana Tante, udah segar sekarang..?” tanyaku.

“Ya dong Sayang… aduhhh… punya kamu koq kecil lagi..?” katanya sambil mengelus kemaluanku, dan aku hanya tersenyum.

“Sony sayang, jilatin punya Tante dong Sayang..!” katanya sambil terus berdiri di depanku.

Lalu kucium paha kanannya, lalu kiri, lalu kanan, lalu kiri lagi, lalu pusarnya.

“Ohhh.. yeesss… teruskan Sayang… ohhh… sedeppp.. ahhh..!” katanya.

Karena nafsunya, akhirnya Tante dengan tidak sabar langsung menarik kepalaku dan wajahku ditempelkannya ke bibir kemaluannya yang penuh dengan bulu lebat itu. Kunaik-turunkan lidahku di vagina yang lebat bulu itu. Lantas dia mengangkat satu kakinya di sofa.

“Ayo jilat lebih dalam Sony sayang..!” katanya.

Dengan lembut kugesekkan lidahku ke klitorisnya, lalu labia mayoranya. Aku merasakan begitu banyak cairan yang keluar.

“Ayo sayang sedot cairan Tante… ohhh.. yeess..!” katanya sambil mendesis.

Lalu langsung saja aku menyedotnya, “Slurping.., lumayan juga ya Tante… segar juga..”

Mungkin inilah jamunya seorang pria, cairan vagina wanita lajang yang masih virgin. Tante Juliet tidak tahan dengan perlakuanku, badannya terutama kakinya sampai gemetar bagai terkena setrum, lalu dia duduk di sofa dengan kakinya dibukanya lebar-lebar.

“Ayo sayang, bikin Tante keluar… ohhh… yesss..!” katanya.

Kepalaku menyeruak masuk ke dalam, terus kedua kakinya kuangkat, sehingga terkuaklah bagian bibir kemaluannya. Kujulurkan lidahku ke liang senggamanya yang basah itu. Kujilat.., lepas.., jilat.., lepas.., kudiamkan, berulang-ulang, Tante Juliet jadi gemas dibuatnya.

“Ayo dong Sayang. Kamu jahat deh.., Son. Tante udah nggak tahan nich..!” katanya.

“Ya Tante, maafkan Sony…” kataku.

“Ayo Son, tunggu apa lagi… cepet bikin Tante keluar..!” katanya sambil mendesis lagi.

Dengan kedua jempolnya, tante merentangkan bibir vaginanya agar lebih terbuka. Merah tua kecoklatan dan mengkilat basah terlihat jelas warna vaginanya. Klitorisnya mengeras, seperti biji kacang garing cap “Garuda”.. ini kacangku.

Lalu dengan lembut kutempelkan ujung lidahku ke klitorisnya yang mulai keras itu. Terus kulanjutkan dengan ilmu jilatan ala Shaolin seperti yang diajarkan Tante Juliet.

“Ahhh… yesss.., nikmat.., terus dong Sayang..!” katanya.

Sekarang lidahku mulai bermain dengan kecepatan 350 km/jam… Klitoris itu kujilati terus… terus… dan terus… Hingga tubuh tante bergetar hebat. Lidahku terus menjelajah ke labia mayora, sampai banjir permukaan vaginanya.

“Ouhh… yesss… Son… kamu pintar deh…” katanya.

Lalu aku sekarang duduk di sofa dan tante langsung jongkok di depanku dan menyuruhku membuka kaki lebar-lebar. Batang kejantananku yang sudah tegang itu tepat berada di depan wajahnya. Lalu dia mulai menjilati kakiku, mulai dari jempol kakiku dan yang lainnya. Dia naik ke betisku yang berbulu lebat, persis hutan di Kalimantan. Ohhh… lalu naik lagi ke pahaku, dielusnya dan dijilatinya, ohhh… setelah itu dia berpindah ke lubang anusku. Diciumnya, dijilatinya dan ohhhh… dimasukkannya jari tengahnya ke lubang anusku. Ohhhh… nikmatnya. Lalu dia mulai mengelus-elus batang kemaluanku dan tangan satunya memijit-mijit ‘my twins egg’-ku. Aahhh… aku mengerang kenikmatan.

Kemudian dia memasukkan batang kejantananku ke mulutnya, dia hisap batang penisku, terus diemut-emutnya. Dia gerakkan kepalanya naik-turun dengan batang kemaluanku masih berada di dalam mulutnya. Terasa ujung kepala kemaluanku menyentuh tenggorokannya dan masih terus dia tekan. Semua batang kejantananku ditelan oleh Tante Juliet, lidahnya menjilat bagian bawah penisku dan bibirnya dibesar-kecilkan. Sebuah rasa yang tidak pernah kubayangkan. Batang kemaluanku kemudian dikeluar-masukkan, tetapi tetap masuk seluruhnya ke tenggorokannya.

Setelah beberapa lama dihisap dan dikeluar-masukkan sambil tangan yang satu memeras biji kemaluanku dan tangan yang satu lagi dimasukkannya ke dalam lubang pantatku, terasa aku sudah mau keluar, dan kubilang sama Tante Juliet, “Tante… Sony mau keluar… ohhh…”

Dikeluarkannya batang penisku dan bilang, “Go on come in my mouth. I want to taste and drink your cum, Sony… hhhmm..!”

Batangku dimasukkannya lagi, dan sekarang dia memasukkan dengan lebih dalam dan dihisap lebih keras lagi.

Setelah beberapa kali keluar masuk, cairanku keluar di dalam mulut tante, dan langsung ke dalam tenggorokannya, terasa tengorokannya mengecil dan jari di lubang pantatku lebih ditekan ke dalam lagi, sampai semuanya masuk. Aku benar-benar merasakan enak yang sulit dikatakan. Perlahan-lahan dikeluarkannya batang kemaluanku.

“Punya kamu enak Sony sayang… Tante suka..!” katanya.

Lalu kuangkat tubuh Tante Juliet ke lantai, dan kubaringkan. Perlahan kubuka pahanya lebar-lebar. Liang senggamanya yang tertutup bulu lebat itu mungkin sudah terbuka agak lebar, habis pandanganku tertutup bulu yang lebat itu.

“Tante, Sony udah nggak tahan nich..!” kataku memohon.

“Sabar dong Sayang… biar Tante yang memasukkan batangmu, ya..?” katanya.

Lalu tangan tante memegang penisku, dan membimbingnya ke lubang kenikmatannya.

“Tekan disini Son… pelan-pelan yaaa..!”

Lalu dengan hati-hati dia membantuku memasukkan penisku ke dalam liang senggamanya. Belum sampai setengah bagian yang masuk, dia sudah menjerit kesakitan.

“Aaa.. sabar Sayang… oohhh… pelan-pelan Son..!” tangan kirinya masih menggenggam batang kejantananku, menahan laju masuknya agar tidak terlalu keras, sementara tangan kanannya meremas-remas rambutku.

Aku merasakan batang kejantananku diurut-urut di dalam liang kewanitaannya. Aku berusaha untuk memasukkan lebih dalam lagi, tetapi tangan tante membuat panisku susah untuk memasukkan lebih dalam lagi. Aku menarik tangannya dari batang penisku, lalu kupegang erat-erat pinggulnya.

Kemudian kudorong batang kejantananku masuk sedikit lagi, “Ohhh.. yeess.. ohhh… ssshhh.. aachh… ohhh.. Sayang..!” kembali tante mengerang dan meronta.

Aku juga merasakan kenikmatan yang luar biasa, tidak sabar lagi kupegang erat-erat pinggulnya supaya dia berhenti meronta. Lalu kudorong sekuatnya batangku ke dalam lagi. Kembali tante menjerit dan meronta dengan buasnya.

Aku berhenti sejenak, menunggunya tenang dulu, lalu, “Lho koq berhenti.., ayo goyang lagi donk Son..!” katanya.

Lalu aku menggoyangkan penisku keluar masuk di dalam vaginanya. Tante terus membimbingku dengan menggerakkan pinggulnya seirama dengan goyanganku. Lama juga kami bertahan diposisi seperti itu. Kulihat dia hanya mendesis sambil memejamkan mata, menikmati irama permainan kami.

Tiba-tiba kurasakan bibir kemaluannya menjepit penisku dengan sangat kuat, tubuh tante mulai menggelinjang, nafasnya mulai tidak karuan, dan tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.

“Ohhh… ohhh… Sayang.., Tante udah mo keluar nich… sshh… aaahhh..” katanya dengan goyangan pinggulnya sekarang sudah semakin tidak beraturan, “Kamu kuat sekali Sayang..!” sambungnya.

Aku semakin mempercepat goyanganku.

“Aaahh… Tante… keluar Son.., ohhh… endanggg..!” dia mengelinjang dengan hebat, kurasakan cairan hangat keluar membasahi pahaku.Aku semakin bersemangat menggenjot.

Aku juga merasakan bahwa aku akan keluar tidak lama lagi, dan akhirnya, “Ahhh… sshhh… ohhh..!” kusemprotkan cairanku ke dalam liang kenikmatannya.

Lalu kucabut batang kemaluanku dan terduduk lemas di lantai.

“Kamu hebat Sayang… udah lama Tante nggak pernah klimaks… oohhh..!” katanya girang.

“Ohhh… Sony cape’ Tante.., udah tiga kali baginian… uhhh..!”

Tante kemudian ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sehabis tante dari kamar mandi, dia menuju ke arahku lagi dan membersihkan batang kejantananku dengan lap.

Sambil membersihkan penisku, dia berkata, “Son.., kamu belum selesai ditest… sekarang kamu kerjain Tante dari belakang ya..?” katanya.

Dia terus membelakangiku dan pantat serta vaginanya terlihat merekah dan basah, tetapi bekas-bekas spermaku sudah tidak ada.

Sebelum kumasukkan batang kejantananku, kujilat dulu kemaluannya dan lubang pantatnya. Tercium bau sabun di kedua lubangnya, dan sangat bersih. Cairan dari vaginanya mulai membasahi bibir kemaluannya, ditambah dengan ludahku. Dari ujung penisku terlihat cairan menetes dari lubangnya. Kuarahkan batang penisku ke lubang vaginanya, dan menekan ke dalam dengan pelan sambil merasakan gesekan daging kami berdua. Suara becek terdengar dari kemaluan kami berdua, dan cukup lama aku memompanya dengan posisi ini.

Tante kemudian berdiri dan bersandar ke dinding sambil membuka pahanya lebar-lebar. Satu dari kakinya diangkat ke atas. Dari bawah, vaginanya terlihat sangat merah dan basah.

“Ayo.., masukin lagi sekarang, Son..!”

Aku dengan senang hati berdiri dan memasukkan batang penisku ke lubang vaginanya. Dengan posisi ini aku mengeluar-masukkan kejantananku lebih bersemangat. Setiap kali aku mendorong batang kejantananku ke liang senggamanya, badan tante membentur dinding.

Sambil memeluk tubuhku dan berciuman, dia berkata, “Son.., Tante mo keluar nich..!”

Lalu bibir vaginanya diperkecil dan memijat batang penisku. Kami keluar bersamaan, aku masih bisa juga keluar walaupun tadi sudah keluar dua kali. Dan yang kali ini sama enaknya dengan yang sebelumnya.

“Sony.., kamu benar-benar hebat… kamu lulus Sayang..!” katanya sambil memeluk dan mencium bibirku.

Terus kami berdua mandi untuk membersihkan badan kami.

Nah.., mulai sejak itu, aku menjadi seorang gigolo yang kerjanya hanya memuaskan cewek-cewek kaya yang butuh kepuasan.

Judul: Tetangga Yang Menggoda

Author : nice_dick , Category: Umum

Ini adalah cerita pengalamanku yang sedang kualami sekarang. Dan aku mengetiknya di sela-sela istirahat sehabis melakukan seks. Aku seorang pengusaha muda dan mahasiswa jurusan ekonomi. Aku tinggal di sebuah kompleks bank pemerintah yang kini bank tersebut sudah dimerger. Aku sudah mempunyai pacar yang kebetulan tetanggaku di kompleks tersebut. Orangtuaku termasuk orang terpandang, sehingga aku di kalangan anak muda di kompleks tersebut cukup disegani. Dua tahun yang lalu aku merupakan ketua organisasi remaja, sehingga aku semakin dikenal oleh berbagai kalangan di lingkunganku.

Kebetulan di lingkunganku banyak gadis remaja yang cantik-cantik. Termasuk pacarku yang sekarang merupakan salah satu gadis yang menjadi incaran anak-anak muda di lingkungan tersebut. Entah kenapa dia mau menjadi pacarku. Sejujurnya aku menyukai beberapa gadis cantik selain pacarku tersebut, tetapi aku berpikir dua kali jika aku berbuat macam-macam pasti akan menjadi bahan omongan di lingkunganku.

Singkat cerita, aku tergoda oleh salah satu anak tetangga orangtuaku, sebut saja Gita (nama sengaja kusamarkan). Padahal aku sudah menjalin asmara dengan gadis yang juga tetanggaku. Kami bahkan sudah bertunangan. Gita adalah seorang mahasiswi Tarqi. Ia mempunyai body yang sangat menggoda, walaupun agak sedikit gemuk, tetapi ia mempunyai bibir yang sexy dan mempunyai payudara berukuran 36B. Sebagai gambaran, body-nya mirip dengan artis Feby Febiola, dan bibirnya seperti Cornelia Agatha. Tingkah lakunya selalu menggodaku. Sebagai laki-laki normal, kadang aku berpikiran agak kotor.

Hingga suatu kesempatan, ia meminta bantuanku untuk dicarikan HP dengan harga miring. Tentu saja kesempatan itu tidak kusia-siakan (dalam hatiku aku akan membelikannya HP tersebut dengan cuma-cuma). Aku menyanggupinya, tetapi aku memberikan syarat agar ia mau kuajak pergi makan dan nonton berdua tanpa sepengetahuan pacarku dan teman-temanku. Dasar Gita memang centil, persaratanku ia setujui karena ia pikir sangat mudah sekali untuk menjalaninya.

Akhirnya aku membelikannya HP yang ia inginkan, dan aku pun menagih janjinya. Kemudian pada hari minggu siang, aku dan Gita pergi berdua untuk makan siang dan nonton. Ketika kami sedang nonton, kesempatan tersebut tidak kusia-siakan untuk sekadar mencium dan meraba-raba tubuhnya. Tidak kusangka ia malah bilang kepadaku sebenarnya ia juga menyukaiku. Ketika aku dengan hot-hotnya menciumi dan menggerayangi tubuhnya, ia berbisik kepadaku bahwa ia sudah horny, dan mengajakku keluar dari bioskop untuk pergi ke pantai. Ketika di tengah perjalanan, aku memberanikan diri untuk mengajaknya ‘chek in’ di hotel yang terdekat, ternyata ia menyetujuinya.

Aku tiba di hotel yang dituju sekitar puku 3 sore. Setelah aku membayar kamar hotel tersebut, aku dan Gita dengan langkah yang terburu-buru menuju ke kamar hotel. Sesampainya di kamar hotel dan mengunci pintu, aku langsung melancarkan ciumanku, dan Gita membalasnya dengan sangat antusias. Kemudian masih dalam keadaan berdiri kubuka pakain serta celana panjangnya hingga ia hanya memakai BH dan CD yang berwarna hitam. Kemudian ia juga memintaku untuk membuka baju dan celana panjangku.

Kini kami dalam keadaan hanya memakai pakaian dalam saja. Kemudian ia kubimbing ke atas ranjang yang berukuran double size. Aku mulai melumat bibirnya yang sexy dan menciumi serta menjilat seluruh tubuhnya. Kemudian ketika aku mencium CD-nya, di bagian kemaluannya yang sudah basah, ia menggelinjang dan sesekali merintih-rintih keenakan. Setelah aku puas menciumi seluruh tubuhnya, kemudian kubuka BH dan CD-nya. Aku pun membuka CD-ku, kini kami berdua sudah benar-benar bugil.

Aku sampai menahan nafas ketika kulihat payudaranya yang besar dan montok. Dengan sangat bernafsu kulumat puting susunya yang berwarna coklat kemerah-merahan. Karena sebenarnya Gita masih berusia 20 tahun, sehingga terlihat body-nya yang serba kencang. Aku juga meraba dan mengusap bulu-bulu di kemaluannya yang sangat lebat. Aku semakin bernafsu mencium dan menjilat seluruh tubuhnya yang mulus.

Kemudian aku memasukkan dua jari tanganku ke dalam vaginanya yang sudah basah, sedangkan lidahku sibuk menjilati puting susunya yang berwarna coklat kemerah-merahan. Gita semakin merintih-rintih dan menggelinjang serta nafasnya mulai berat. Kemudian kubuka kedua pahanya lebar-lebar agar aku dapat dengan leluasa memainkan lidahku ke dalam vaginanya. Aku menjilati dan memainkan klitorisnya dengan penuh gairah. Setelah kupuas, giliran Gita memainkan rudalku yang sudah tegang dengan lidahnya. Ia jilati kemaluanku yang berukuran lumayan panjang dan besar (kira-kira 20 cm dengan diameter 3,5 inchi).

Ia menjilat dan mengulum rudalku dengan penuh kenikmatan. Aku tidak menyangka kalau kemaluanku akan dibersihkan oleh gadis impianku. Setelah ia puas, kemudian Gita mengambil posisi telentang dengan kedua paha dibuka lebar-lebar, ia memintaku untuk segera memasukkan rudalku ke dalam vaginanya. Aku mengambil ancang-ancang untuk memasukkan batang kemaluanku ke dalam vaginanya yang sudah basah. Kupikir pasti aku tidak akan kesulitan untuk memasukannya, ternyata beberapa kali aku mencoba selalu saja meleset, dengan tidak sabar Gita menarik rudalku dan mengarahkan ke arah lubang kewanitaannya.

Ternyata Gita masih perawan, tetapi dengan kegigihanku akhirnya aku berhasil memasukkan ujung rudalku ke dalam vaginanya. Ketika kutekan dengan sedikit paksaan, Gita menjerit kesakitan, kemudian aku menghentikan sejenak seranganku sampai kulihat ia sudah siap kembali, dan perlahan-lahan kumasukkan batang rudalku. Gita kembali merintih menahan sakit.

Aku bertanya, “Git, kamu mau diterusin atau nggak..?”

Ia menjawab, “Terusin dong sayang, tapi pelan-pelan ya..!”

Akhirnya dengan perjuangan yang cukup melelahkan, aku berhasil memasukkan setengah batang kemaluanku, dan aku mendiamkan sejenak aktifitasku. Aku merasakan dari vagina Gita keluar darah segar pertanda keperawanannya sudah hilang. Dinding vaginya yang lembut dan hangat memijat-mijat batang kemaluanku. Aku tidak terlalu memaksa untuk membenamkan seluruh rudalku ke dalam vaginanya. Mungkin ukuran rudalku yang lumayan panjang, sehingga membuat sakit vagina Gita yang baru pertama kali melakukan seks.

Kemudian aku mulai menaik-turunkan pantatku secara perlahan dan beraturan. Dan secara perlahan-lahan aku membenamkan rudalku sedalam-dalamnya, hingga akhirnya seluruh batang kemaluanku amblas ke dalam vagina Gita. Gita sudah mulai terbiasa dengan rudalku, malah ia mulai memutar pinggulnya, sehingga semakin menambah kenikmatan pergumulan kami saja.

Aku semakin bersemangat untuk memainkan rudalku dengan cepat. Permainanku diimbangi Gita dengan menjepit pantatku dengan kedua kakinya. Aku merasakan rudalku semakin mentok saja mengenai ujung rahimnya. Kami berganti posisi dengan cara sambil duduk. Gita semakin terlena, karena posisi tersebut membuat rudalku semakin bergesekan dengan klitorisnya, sehingga hal itu membuat Gita semakin terbakar birahinya.

Kami sempat beristirahat sejenak, karena posisi tersebut banyak menguras tenaga kami. Sambil istirahat aku meremas-remas dan menjilati serta menghisap puting susuya secara bergantian. Setelah tenaga kami terkumpul, kami melanjutkan kembali dengan lebih menggebu-gebu.

Setelah kira-kira 25 menit kami bergumul hebat, aku mulai merasakan spermaku akan keluar, begitupun dengan Gita, ia mulai mendekati orgasmenya. Aku merasakan dinding vaginanya yang berdenyut kencang dan semakin banjir.

Aku berkata setengah berbisik, “Git, aku sudah mau keluar nih, kita keluarinnya sama-sama ya..?”

Gita menjawab dengan terputus-putus, “Ia.. sa.. yaaa.. ngg.. sshhh.. cepetan dong keluarinnya aku.. sebentar lagi selesai nih..!”

Dengan nafas yang tidak beraturan, aku menjawab, “Tahan sebentar ya sayang.., aku juga sudah mau keluar..”

Tidak lama kemudian aku memuntahkan spermaku ke dalam rahimnya, dan aku pun merasakan cairan hangat dari dalam vagina yang mengenai rudalku.

“Ooohhh.. shhh…” hampir bersamaan kami melenguh mengakhiri perjalan yang melelahkan dan penuh kenikmatan.

“Sayang.., vaginaku hangat banget sama spermamu..” Gita memberikan komentar puas dengan keperkasaanku.

Kemudian kami beristirahat sejenak sambil memberikan pujian kepuasan masing-masing. Tetapi tanganku dan Gita masih meraba-raba dan mengusap kemaluan kami satu sama lain, sehingga birahi kami kembali timbul. Kali ini Gita yang mendahului dengan menjilat dan melumat hampir seluruh rudalku ke dalam mulutnya. Bukan hanya itu saja, ia juga dengan sangat agresif menciumi seluruh tubuhku.

Aku mendorong tubuhnya ke samping hingga ia telentang. Kini giliranku untuk menciumi seluruh tubuhnya. Payudara Gita yang sudah mengeras dan puting susu menjulang tinggi, membuatku semakin bernafsu untuk meremas, menjilati serta menghisap-hisap puting susunya hingga puting susu Gita semakin terlihat basah dan mengkilap. Jari-jari tanganku dengan nakal memainkan klitoris dan menyodok-nyodok ke dalam vaginanya yang sudah banjir.

Gita semakin kelojotan dan mulai memohon-mohon kepadaku untuk segera memasukkan rudalku ke dalam lubang kewanitaannya. Aku merubah posisi dengan tidur telentang, sementara Gita berjongkok sambil mengangkang untuk mengambil posisi memasukkan zakarku ke vaginanya. Dengan tidak sabar Gita meraih batang kemaluanku dan dituntun ke arah vaginanya. Ketika rudalku mulai memasuki vagina Gita yang pinggirannya ditumbuhi bulu-bulu lebat, aku merasakan dinding vaginanya yang sudah banjir menghangatkan dan memijat-mijat batang zakarku.

Gita mulai menggerakkan pinggulnya yang montok ke atas ke bawah, dan memutarnya ke kiri dan ke kanan. Sedangkan tanganku mulai meremas-remas sepasang payudara yang besar dan kencang. Gita dengan sangat bernafsu menekan pantatnya kuat-kuat, sehingga rudalku seluruhnya amblas ditelan vaginanya. Kali ini Gita yang memegang peranan, aku menurutinya saja, karena kulihat dengan posisinya yang di atas ia sangat bergairah sekali. Aku mengangkat badanku untuk melumat puting susunya. Perbuatanku semakin membuat Gita mabuk kepayang. Ia memeluk kepalaku ke arah payudaranya. Pantatnya semakin cepat ditarik dan diputar-putar. Hingga akhirnya ia mencapai orgasme yang kedua kalinya.

Aku yang belum mencapai klimaks membuat keputusan berganti posisi dengan dogie style. Gita mengambil posisi menungging, kemudian kuarahkan rudalku ke vaginanya lewat belakang. Aku sangat bernafsu sekali melihat pantatnya yang lebar dan sexy. Tangan kananku memegang dan menepuk-nepuk pantatnya, sedangkan tangan kiriku meremas-remas payudaranya. Gerakan tersebut kulakukan secara bergantian. Ternyata posisi tersebut membuat Gita bangkit kembali gairahnya, karena klitorisnya terkena gesekan rudalku.

Kali ini Gita mulai memberikan perlawanan. Ia menggoyang-goyangkan pantatnya maju mundur berlawanan dengan arah goyangan pantatku. Ketika Aku mendorong pantatku ia menyodorkan pantatnya ke belakang, dan ketika Aku menarik pantatku ke belakang ia menarik pantatnya kedepan.Irama nafas kami semakin cepat, kami melakukan goyangan dengan cepat, sehingga setiap kali kucabut dan menyodok vaginya dengan rudalku timbul bunyi akibat vagina Gita yang banjir oleh lendir birahi. Aku mulai merasakan spermaku akan segera keluar. Ternyata Gita juga sudah merasakan ia akan mengalami orgasme yang ketiga kalinya. Tidak lama kemudian rudalku memuntahkan sperma secara berturut-turut di dalam vaginanya. Aku pun merasakan gerakan Gita yang bergoyang-goyang pelan dan tegang, sedangkan punggungnya telihat melengkung seperti udang karena ia juga telah orgasme.

Aku mencabut batang kemaluanku dari vaginanya setelah Aku tidak merasakan muncratan spermaku. Aku telentang lelah, sedangkan Gita menjilati sisa-sisa spermaku yang masih keluar dari zakarku. Ia menghentikan aktifitasnya setelah spermaku tidak keluar lagi.

Kami berpelukan erat sambil menghayati kenikmatan yang barusan kami lakukan. Kami melakukan bukan hanya sekali saja, tetapi entah sampai berapa kali. Permainan kami semakin lama bertambah hot saja, karena ternyata Gita mulai terbiasa dan ketagihan dengan keperkasaan rudalku. Kami memutuskan pulang setelah merasa sudah sama-sama lemas dan puas. Andai saja kami melakukannya pada malam minggu, mungkin kami akan terus melakukannya sampai pagi.

Setelah kejadian pada malam itu, hingga kini kami jadi sering melakukannya sampai pagi. Aku melakukan hubungan seks dengan Gita dengan system kalender, hal itu kami lakukan untuk menghindari kehamilan. Aku semakin ketagihan, karena tunanganku adalah tipe gadis pendiam dan alim, dan aku tidak pernah mendapatkan pelayanan darinya. Kemanapun aku pergi, termasuk chek-in, aku selalu membawa laptop. Komputer tersebut kupergunakan untuk memantau perkembangan usahaku, selain itu juga digunakan untuk mengetik ceritaku dan memutar film blue sebagai pembakar hasrat birahi kami. Tentu saja perbuatanku yang sedang menceritakan seks kami tidak diketahui oleh Gita, karena ia masih tertidur untuk istirahat sejenak.

Judul: Anak bosku

Author : otong_top , Category: Umum

Belum lama ini saya bergabung dengan sebuah perusahaan eksportir fashion ternama di kotaku. Dan anak gadis pemilik perusahaan itu, Dewi namanya, baru lulus sekolah dari Singapore, umurnya sekitar 23 tahun, cantik dan waktu masih SMA sempat berprofesi sebagai model lokal. Nah, Dewi itu ditugaskan sebagai asisten GM (yaitu saya), jadi tugasnya membantu saya sambil belajar.

Singkat cerita, Dewi semakin dekat dengan saya dan sering bercerita.

“Nico, cowok tuh maunya yang gimana sih. Ehm.., kalo di ranjang maksud gue..”

“Nic, kamu kalo lagi horny, sukanya ngapain?”

“Kamu suka terangsang enggak Nic, kalo liat cewek seksi?”

Yah seperti itulah pertanyaan Dewi kepadaku.

Terus terang percakapan-percakapan kita selang waktu kerja semakin intim dan seringkali sensual.

“Kamu pernah gituan nggak, Wi..?, tanyaku.

“Ehm.. kok mau tau?”, tanyanya lagi.

“Iya”, kataku.

“Yah, sering sih, namanya juga kebutuhan biologis”, jawabnya sambil tersipu malu.

Kaget juga saya mendengar jawabannya seperti itu. Nih anak, kok berani terus terang begitu.

Pernah ketika waktu makan siang, ia kelepasan ngomong.

“Cewek Bali itu lebih gampang diajakin tidur daripada makan siang”, katanya sambil matanya menatap nakal.

“Kamu seneng seks?”, tanya saya.

“Seneng, tapi saya enggak pandai melayani laki-laki”, katanya.

“Kenapa begitu?”, tanya saya lagi.

“Iya, sampe sekarang pacarku enggak pernah ngajak kimpoi. Padahal aku sudah kepengen banget.”

“Kepengen apa?”, tanyanku.

“kimpoi”, katanya sambil tertawa.

Suatu ketika ia ke kantor dengan pakaian yang dadanya rendah sekali. Saya mencoba menggodanya, “Wah Dewi kamu kok seksi sekali. Saya bisa lihat tuh bra kamu”. Ia tersipu dan menjawab, “Suka enggak?”. Saya tersenyum saja. Tapi sore harinya ketika ia masuk ruangan saya, bajunya sudah dikancingkan dengan menggunakan bros. Rupanya dia malu juga. Saya tersenyum, “Saya suka yang tadi.”

Suatu ketika, setelah makan siang Dewi mengeluh.

“Kayaknya cowokku itu selingkuh.”

“Kenapa?”, tanyaku.

“Habis udah hampir sebulan enggak ketemu”, katanya.

“Terus enggak.. itu?”, tanyaku.

“Apa?”

“Itu.. seks”, kataku.

“Yah enggak lah”, katanya.

“Kamu pernah onani enggak?”, tanyaku.

Dia kaget ketika saya tanya begitu, namun menjawab.

“Ehm… kamu juga suka onani?”

“Suka”, jawabku.

“Kamu?”, tanyaku.

“Sekali-sekali, kalo lagi horny”, jawabnya jujur namun sedikit malu.

Pembicaraan itu menyebabkan saya terangsang, Dewi juga terangsang kelihatannya. Soalnya pembicaraan selanjutnya semakin transparan.

“Dewi, kamu mau gituan enggak.”

“Kapan?”

“Sekarang.”

Dia tidak menjawab, namun menelan ludah. Saya berpendapat ini artinya dia juga mau. Well, setelah berbulan-bulan flirting, sepertinya kita bakalan just do it nih.

Kubelokkan mobil ke arah motel yang memang dekat dengan kantorku.

“Nic, kamu beneran nih”, tanyanya.

“Kamu mau enggak?”

“Saya belum pernah main sama cowok lain selain pacarku.”

“Terakhir main kapan?”

“Udah sebulan.”

“Trus enggak horny?”

“Ya onani.. lah”, jawabnya, semakin transparan. Mukanya agak memerah, mungkin malu atau terangsang. Aku terus terang sudah terangsang. This is the point of no return. Aku sadari sih, ini bakalan complicated. But… nafsuin sih.

“Terus, kapan kamu terakhir dapet orgasme”

“Belum lama ini.”

“Gimana?”

“Ya sendirilah.. udah ah, jangan nanya yang gitu.”

“Berapakali seminggu kamu onani?”, tanyaku mendesaknya.

“Udah ah… yah kalo horny, sesekali lah, enggak sering-sering amat. Lagian kan biasanya ada Andree (cowoknya-red).”

“Kamu enggak ngajak Andree.”

“Udah.”

“Dan..?”

“Dia bilangnya lagi sibuk, enggak sempet. Main sama cewek lain kali. Biasanya dia enggak pernah nolak.”

Siapa sih yang akan menolak, bersenggama sama anak ini. Gila yah, si Dewi ini baru saja lulus kuliah, tapi soal seks sepertinya sudah terbiasa.

“Nic, enggak kebayang main sama orang lain.”

“Coba aja main sama saya, nanti kamu tau, kamu suka selingkuh atau enggak.”

“Caranya?”

“Kalo kamu enjoy dan bisa ngilangin perasaan bersalah, kamu udah OK buat main sama orang lain. Tapi kalo kamu enggak bisa ngilangin perasaan bersalah, maka udah jangan bikin lagi”, kataku.

“Kamu nanti enggak bakal pikir saya cewek nakal.”

“Enggaklah, seks itu normal kok. Makanya kita coba sekali ini. Rahasia kamu aman sama saya”, kataku setengah membujuk.

“Tapi saya enggak pintar lho, mainnya”, katanya. Berarti sudah OK buat ngeseks nih anak.

Mobilku sudah sampai di kamar motel. Aku keluar dan segera kututup pintu rolling door-nya. Kuajak dia masuk ke kamar. Tanpa ditanya, Dewi ternyata sudah terangsang dengan pembicaraan kita di mobil tadi. Dia menggandengku dan segera mengajakku rebahan di atas ranjang.

“Kamu sering main dengan cewek lain, selain pacar kamu, Nic?”

“Yah sering, kalo ketemu yang cocok.”

“Ajarin saya yah!”

Tanganku mulai menyentuh dadanya yang membusung. Aku lupa ukurannya, tapi cukup besar. Tanganku terus menyentuhnya. Ia mengerang kecil, “Shh.. geli Nic.” Kucium bibirnya dan ia pun membalasnya. Tangannya mulai berani memegang batang kemaluanku yang menegang di balik celanaku.

“Besar juga…”, katanya. Matanya setengah terpejam. “Ayo, Nic aku horny nih.” Kusingkap perlahan kaos dalamnya, sampai kusentuh buah dadanya, branya kulepas, kusentuh-sentuh putingnya di balik kaosnya. Uh.. sudah mengeras. Kusingkap ke atas kaosnya dan kuciumi puting susunya yang menegang keras sekali, kuhisap dan kugigit pelan-pelan, “Ahh.. ahh.. ahh, terus Nic.. aduh geli… ahh.. ah.”

Dewi, yang masih muda ternyata vokal di atas ranjang. Terus kurangsang puting susunya, dan ia hampir setengah berteriak, “Uh.. Nic… uh.” Aku sengaja, tidak mau main langsung. Kuciumi terus sampai ke perutnya yang rata, dan pusarnya kuciumi. Hampir lupa, tubuhnya wangi parfum, mungkin Kenzo atau Issey Miyake. Pada saat itu, celanaku sudah terbuka, Aku sudah telanjang, dan batang kemaluanku kupegang dan kukocok-kocok sendiri secara perlahan-lahan. Ah.. nikmat. Bibirnya mencari dan menciumi puting susuku. “Enak.. enak Dewi”. Rangsangannya semakin meningkat.

“Aduuhh.. udah deh.. enggak tahan nih”, ia menggelinjang dan membuka rok panjangnya sehingga tinggal celana dalamnya, merah berenda. Bibir dan lidahku semakin turun menjelajahi tubuhnya, sampai ke bagian liang kenikmatannya (bulu kemaluannya tidak terlalu lebat dan bersih). Kusentuh perlahan, ternyata basah. Kuciumi liang kenikmatannya yang basah. Kujilat dan kusentuh dengan lidahku. liang kenikmatan Dewi semakin basah dan ia mengerang-erang tidak karuan. Tangannya terangkat ke atas memegang kepalanya. Kupindahkan tangannya, dan yang kanan kuletakkan di atas buah dadanya. Biar ia menyentuh dirinya sendiri. Ia pun merespon dengan memelintir puting susunya.

Kuhentikan kegiatanku menciumi liang kenikmatannya. Aku tidur di sampingnya dan mengocok batang kemaluanku perlahan. Dia menengokku dan tersenyum, “Nic.. kamu merangsang saya.”

“Enak..”

“Hmm…”, matanya terpejam, tangannya masih memelintir putingnya yang merah mengeras dan tangan yang satunya dia letakkan di atas liang kenikmatannya yang basah. Ia menyentuh dirinya sendiri sambil melihatku menyentuh diriku sendiri. Kami saling bermasturbasi sambil tidur berdampingan.

“Heh.. heh.. heh.. aduh enak, enak”, ceracaunya.

“Gile, Nic, gue udah kepengin nih.”

“Biar gini aja”, kataku.

Tiba-tiba dia berbalik dan menelungkup. Kepalanya di selangkanganku yang tidur telentang. Batang kemaluanku dihisapnya, uh enak banget. Nih cewek sih bukan pemula lagi. Hisapannya cukup baik. Tangannya yang satu masih tetap bermain di liang kenikmatannya. Sekarang tangannya itu ditindihnya dan kelihatan ia sudah memasukkan jarinya.

“Uh… uh… Nic, aku mau keluar nih, kita main enggak?”

Kuhentikan kegiatannya menghisap batang kemaluanku. Aku pun hampir klimaks dibuatnya.

“Duduk di wajahku!”, kataku.

“Enggak mau ah.”

“Ayo!”

Ia pun kemudian duduk dan menempatkan liang kenikmatannya tepat di wajahku. Lidah dan mulutku kembali memberikan kenikmatan baginya. Responnya mengejutnya, “Aughhh…” setengah berteriak dan kedua tangannya meremas buah dadanya. Kuhisap dan kujilati terus, semakin basah liang kenikmatannya.

Tiba-tiba Dewi berteriak, keras sekali, “Aahhh… ahhh”, matanya terpejam dan pinggulnya bergerak-gerak di wajahku. “Aku.. keluar”, sambil terus menggoyangkan pinggulnya dan tubuhnya seperti tersentak-sentak. Mungkin inilah orgasme wanita yang paling jelas kulihat. Dan tiba-tiba, keluar cairan membanjir dari liang kenikmatannya. Ini bisa kurasakan dengan jelas, karena mulutku masih menciumi dan menjilatinya.

“Aduh… Nic.. enak banget. Lemes deh”, ia terkulai menindihku.

“Enak?”, tanyaku.

“Enak banget, kamu pinter yah. Enggak pernah lho aku klimaks kayak tadi.”

Aku berbalik, membuka lebar kakinya dan memasukkan batang kemaluanku ke liang kenikmatannya yang basah. Dewi tersenyum, manis dan malu-malu. Kumasukkan, dan tidak terlalu sulit karena sudah sangat basah. Kugenjot perlahan-lahan. Matanya terpejam, menikmati sisa orgasmenya.

“Kamu pernah main sama berapa lelaki, Dewi..?, tanyaku.

“Dua, sama kamu.”

“Kalo onani, sejak kapan?”

“Sejak di SMA.”

Pinggulnya sekarang mengikuti iramaku mengeluar-masukkan batang kemaluan di liang kenikmatannya.

“Nic, Dewi mau lagi nih.” Uh cepat sekali ia terangsang. Dan setelah kurang lebih 3 menit, dia mempercepat gerakannya dan “Uhh… Nic.. Dewi keluar lagi…” Kembali dia tersentak-sentak, meski tidak sehebat tadi.

Akupun tak kuat lagi menahan rangsangan, kucabut batang kemaluanku dan kusodorkan ke mulutnya. Ia mengulumnya dan mengocoknya dengan cepat. Dan “Ahhh…” klimaksku memuncratkan air mani di wajah dan sebagian masuk mulutnya. Tanpa disangka, ia terus melumat batang kemaluanku dan menjilat air maniku. Crazy juga nih anak.

Setelah aku berbaring dan berkata, “Dewi, kamu bercinta dengan baik sekali.”

“Kamu juga”, mulutnya tersenyum.

Kemudian ia berkata lagi, “Kamu enggak nganggap Dewi nakal kan Nic.”

Aku tersenyum dan menjawab, “Kamu enjoy enggak atau merasa bersalah sekarang.”

Dia ragu sebentar, dan kemudian menjawab singkat, “Enak..”

“Nah kalau begitu kamu emang nakal”, kataku menggodanya.

“Ihh… kok gitu..” Aku merangkulnya dan kita tertidur.

Setelah terbangun, kami mandi dan berpakaian. Kemudian kembali ke kantor. Sampai sekarang kami kadang-kadang masih mampir ke motel. Aku sih santai saja, yang penting rahasia kami berdua tetap terjamin.

Judul: Mbak Ira, Suster Cantikku

Author : yoohanes , Category: Umum

Cerita ini terjadi beberapa tahun yang lalu, dimana saat itu

saya sedang dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari. Saya

masih duduk di kelas 2 SMA pada saat itu. Dan dalam urusan

asmara, khususnya “bercinta” saya sama sekali belum memiliki

pengalaman berarti. Saya tidak tahu bagaimana memulai cerita

ini, karena semuanya terjadi begitu saja. Tanpa kusadari, ini

adalah awal dari semua pengalaman asmaraku sampai dengan saat

ini.

Sebut saja nama wanita itu Ira, karena jujur saja saya tidak

tahu siapa namanya. Ira adalah seorang suster rumah sakit

dimana saya dirawat. Karena terjangkit gejala pengakit

hepatitis, saya harus dirawat di Rumah sakit selama beberapa

hari. Selama itu juga Ira setiap saat selalu melayani dan

merawatku dengan baik. Orang tuaku terlalu sibuk dengan usaha

pertokoan keluarga kami, sehingga selama dirumah sakit, saya

lebih banyak menghabiskan waktu seorang diri, atau kalau pas

kebetulan teman-temanku datang membesukku saja.

Yang kuingat, hari itu saya sudah mulai merasa agak baikkan.

Saya mulai dapat duduk dari tempat tidur dan berdiri dari

tempat tidur sendiri. Padahal sebelumnya, jangankan untuk

berdiri, untuk membalikkan tubuh pada saat tidurpun rasanya

sangat berat dan lemah sekali. Siang itu udara terasa agak

panas, dan pengap. Sekalipun ruang kamarku ber AC, dan cukup

luas untuk diriku seorang diri. Namun, saya benar-benar merasa

pengap dan sekujur tubuhku rasanya lengket. Yah, saya memang

sudah beberapa hari tidak mandi. Maklum, dokter belum

mengijinkan aku untuk mandi sampai demamku benar-benar turun.

Akhirnya saya menekan bel yang berada disamping tempat tidurku

untuk memanggil suster. Tidak lama kemudian, suster Ira yang

kuanggap paling cantik dan paling baik dimataku itu masuk ke

kamarku.

“Ada apa Dik?” tanyanya ramah sambil tersenyum, manis sekali.

Tubuhnya yang sintal dan agak membungkuk sambil memeriksa suhu

tubuhku membuat saya dapat melihat bentuk payudaranya yang

terlihat montok dan menggiurkan.

“Eh, ini Mbak. Saya merasa tubuhku lengket semua, mungkin

karena cuaca hari ini panas banget dan sudah lama saya tidak

mandi. Jadi saya mau tanya, apakah saya sudah boleh mandi hari

ini mbak?”, tanyaku sambil menjelaskan panjang lebar.

Saya memang senang berbincang dengan suster cantik yang satu

ini. Dia masih muda, paling tidak cuma lebih tua 4-5 tahun

dari usiaku saat itu. Wajahnya yang khas itupun terlihat

sangat cantik, seperti orang India kalau dilihat sekilas.

“Oh, begitu. Tapi saya tidak berani kasih jawabannya sekarang

Dik. Mbak musti tanya dulu sama pak dokter apa adik sudah

boleh dimandiin apa belum”, jelasnya ramah.

Mendengar kalimatnya untuk “memandikan”, saya merasa darahku

seolah berdesir keatas otak semua. Pikiran kotorku

membayangkan seandainya benar Mbak Ira mau memandikan dan

menggosok-gosok sekujur tubuhku. Tanpa sadar saya terbengong

sejenak, dan batang kontolku berdiri dibalik celana pasien

rumah sakit yang tipis itu.

“Ihh, kamu nakal deh mikirnya. Kok pake ngaceng segala sih,

pasti mikir yang ngga-ngga ya. hi hi hi”.

Mbak Ira ternyata melihat reaksi yang terjadi pada penisku

yang memang harus kuakui sempat mengeras sekali tadi. Saya

cuma tersenyum menahan malu dan menutup bagian bawah tubuhku

dengan selimut.

“Ngga kok Mbak, cuma spontanitas aja. Ngga mikir macem-macem

kok”, elakku sambil melihat senyumannya yang semakin manis

itu.

“Hmm, kalau memang kamu mau merasa gerah karena badan terasa

lengket mbak bisa mandiin kamu, kan itu sudah kewajiban mbak

kerja disini. Tapi mbak bener-bener ngga berani kalau pak

dokter belum mengijinkannya”, lanjut Mbak Ira lagi seolah

memancing gairahku.

“Ngga apa-apa kok mbak, saya tahu mbak ngga boleh sembarangan

ambil keputusa” jawabku serius, saya tidak mau terlihat

“nakal” dihadapan suster cantik ini. Lagi pula saya belum

pengalaman dalam soal memikat wanita.

Suster Ira masih tersenyum seolah menyimpan hasrat tertentu,

kemudian dia mengambil bedak Purol yang ada diatas meja

disamping tempat tidurku.

“Dik, Mbak bedakin aja yah biar ngga gerah dan terasa

lengket”, lanjutnya sambil membuka tutup bedak itu dan

melumuri telapak tangannya dengan bedak.

Saya tidak bisa menjawab, jantungku rasanya berdebar kencang.

Tahu-tahu, dia sudah membuka kancing pakaianku dan menyingkap

bajuku. Saya tidak menolak, karena dibedakin juga bisa

membantu menghilangkan rasa gerah pikirku saat itu. Mbak Ira

kemudian menyuruhku membalikkan badan, sehingga sekarang saya

dalam keadaan tengkurap diatas tempat tidur.

Tangannya mulai terasa melumuri punggungku dengan bedak,

terasa sejuk dan halus sekali. Pikiranku tidak bisa

terkontrol, sejak dirumah sakit, memang sudah lama saya tidak

membayangkan hal-hal tentang seks, ataupun melakukan onani

sebagaimana biasanya saya lakukan dirumah dalam keadaan sehat.

Kontolku benar-benar berdiri dan mengeras tertimpa oleh

tubuhku sendiri yang dalam keadaan tenglungkup. Rasanya ingin

kugesek-gesekkan kontolku di permukaan ranjang, namun tidak

mungkin kulakukan karena ada Mbak Ira saat ini. fantasiku

melayang jauh, apalagi sesekali tangannya yang mungil itu

meremas pundakku seperti sedang memijat. Terasa ada cairan

bening mengalir dari ujung kontolku karena terangsang.

Beberapa saat kemudian mbak Ira menyuruhku membalikkan badan.

Saya merasa canggung bukan main, karena takut dia kembali

melihat kontolku yang ereksi.

“Iya Mbak..”, jawabku sambil berusaha menenangkan diri,

sayapun membalikkan tubuhku.

Kini kupandangi wajahnya yang berada begitu dekat denganku,

rasanya dapat kurasakan hembusan nafasnya dibalik hidung

mancungnya itu. Kucoba menekan perasaan dan pikiran kotorku

dengan memejamkan mata.

Sekarang tangannya mulai membedaki dadaku, jantungku kutahan

sekuat mungkin agar tidak berdegup terlalu kencang. Saya

benar-benar terangsang sekali, apalagi saat beberapa kali

telapak tangannya menyentuh putingku.

“Ahh, geli dan enak banget”, pikirku.

“Wah, kok jadi keras ya? he he he”, saya kaget mendengar

ucapannya ini.

“Ini loh, putingnya jadi keras.. kamu terangsang ya?”

Mendengar ucapannya yang begitu vulgar, saya benar-benar

terangsang. Kontolku langsung berdiri kembali bahkan lebih

keras dari sebelumnya. Tapi saya tidak berani berbuat apa-apa,

cuma berharap dia tidak melihat kearah kontolku. Saya cuma

tersenyum dan tidak bicara apa-apa. Ternyata Mbak Ira semakin

berani, dia sekarang bukan lagi membedaki tubuhku, melainkan

memainkan putingku dengan jari telunjuknya. Diputar-putar dan

sesekali dicubitnya putingku.

“Ahh, geli Mbak. Jangan digituin”, kataku menahan malu.

“Kenapa? Ternyata cowok bisa terangsang juga yah kalau

putingnya dimainkan gini”, lanjutnya sambil melepas jari-jari

nakalnya.

Saya benar-benar kehabisan kata-kata, dilema kurasakan. Disatu

sisi saya ingin terus di”kerjain” oleh mbak Ira, satu sisi

saya merasa malu dan takut ketahuan orang lain yang mungkin

saja tiba-tiba masuk.

“Dik Iwan sudah punya pacar?”, tanya mbak Ira kepadaku.

“Belum Mbak”, jawabku berdebar, karena membayangkan ke arah

mana dia akan berbicara.

“Dik Iwan, pernah main sama cewek ngga?”, tanyanya lagi.

“Belum mbak” jawabku lagi.

“hi.. hi.. hi.. masa ngga pernah main sama cewek sih”,

lanjutnya centil.

Aduh pikirku, betapa bodohnya saya bisa sampai terjebak

olehnya. Memangnya “main” apaan yang saya pikirkan barusan.

Pasti dia berpikir saya benar-benar “nakal” pikirku saat itu.

“Pantes deh, de Iwan dari tadi mbak perhatiin ngaceng terus,

Dik Iwan mau main-main sama Mbak ya?

Wow, nafsuku langsung bergolak. Saya cuma terbengong-bengong.

Belum sempat saya menjawab, mbak Ira sudah memulai aksinya.

Dicumbuinya dadaku, diendus dan ditiup-tiupnya putingku.

Terasa sejuk dan geli sekali, kemudian dijilatnya putingku,

dan dihisap sambil memainkan putingku didalam mulutnya dengan

lidah dan gigi-gigi kecilnya.

“Ahh, geli Mbak”m rintihku keenakan.

Kemudian dia menciumi leherku, telingaku, dan akhirnya

mulutku. Awalnya saya cuma diam saja tidak bisa apa-apa,

setelah beberapa saat saya mulai berani membalas ciumannya.

Saat lidahnya memaksa masuk dan menggelitik langit-langit

mulutku, terasa sangat geli dan enak, kubalas dengan

memelintir lidahnya dengan lidahku. Kuhisap lidahnya

dalam-dalam dan mengulum lidahnya yang basah itu. Sesekali

saya mendorong lidahku kedalam mulutnya dan terhisap oleh

mulutnya yang merah tipis itu. Tanganku mulai berani, mulai

kuraba pinggulnya yang montok itu. Namun, saat saya mencoba

menyingkap rok seragam susternya itu, dia melepaskan diri.

“Jangan di sini Dik, ntar kalau ada yang tiba-tiba masuk bisa

gawat”, katanya.

Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung menuntunku turun dari

tempat tidur dan berjalan masuk ke kamar mandi yang terletak

disudut kamar.

Di dalam kamar mandi, dikuncinya pintu kamar mandi. Kemudian

dia menghidupkan kran bak mandi sehingga suara deru air agak

merisik dalam ruang kecil itu. Tangannya dengan tangkas

menanggalkan semua pakaian dan celanaku sampai saya telangjang

bulat. Kemudian dia sendiripun melepas topi susternya,

digantungnya di balik pintu, dan melepas beberapa kancing

seragamnya sehingga saya sekarang dapat melihat bentuk

sempurna payudaranya yang kuning langsat dibalik Bra-nya yang

berwarna hitam. Kami pun melanjutkan cumbuan kami, kali ini

lebih panas dan bernafsu. Saya belum pernah berciuman dengan

wanita, namun mbak Ira benar-benar pintar membimbingku.

Sebentar saja sudah banyak jurus yang kepelajari darinya dalam

berciuman. Kulumat bibirnya dengan bernafsu. Kontolku yang

berdiri tegak kudekatkan kepahanya dan kugesek-gesekkan. Ahh

enak sekali. Tanganku pun makin nekat meremas dan membuka

Bra-nya. Kini dia sudah bertelanjang dada dihadapanku, kuciumi

puting susunya, kuhisap dan memainkannya dengan lidah dan

sesekali menggigitnya.

“Yes, enak.. ouh geli Wan, ah.. kamu pinter banget sih”,

desahnya seolah geram sambil meremas rambutku dan

membenamkannya ke dadanya.

Kini tangannya mulai meraih kontolku, digenggamnya. Tersentak

saya dibuatnya. Genggamannya begitu erat, namun terasa hangat

dan nikmat. Saya pun melepas kulumanku di putingnya, kini

kududuk diatas closet sambil membiarkan Mbak Ira memainkan

kontolku dengan tangannya. Dia jongkok mengahadap

selangkanganku, dikocoknya kontolku pelan-pelan dengan kedua

tangannya.

“Ahh, enak banget Mbak.. asik.. ahh… ahh..”, desahku menahan

agar tidak menyemburkan maniku cepat-cepat.

Kuremas payudaranya saat dia terus mengocok kontolku, sekarang

kulihat dia mulai menyelipkan tangan kirinya diselangkannya

sendiri, digosok-gosoknya tangannya ke arah memeknya sendiri.

Melihat aksinya itu saya benar-benar terangsang sekali.

Kujulurkan kakiku dan ikut memainkan memeknya dengan jempol

kakiku. Ternyata dia tidak mengelak, dia malah melepas celana

dalamnya dan berjongkok tepat diatas posisi kakiku.

Kami saling melayani, tangannya mengocok kontolku pelan sambil

melumurinya dengan ludahnya sehingga makin licin dan basah,

sementara saya sibuk menggelitik memeknya yang ditumbuhi

bulu-bulu keriting itu dengan kakiku. Terasa basah dan sedikit

becek, padahal saya cuma menggosok-gosok saja dengan jempol

kaki.

“Yes.. ah.. nakal banget kamu Wan.. em, em, eh.. enak banget”,

desahnya keras.

Namun suara cipratan air bak begitu keras sehingga saya tidak

khawatir didengar orang. Saya juga membalas desahannya dengan

keras juga.

“Mbak Ira, sedotin kontol saya dong.. please.. saya kepingin

banget”, pintaku karena memang sudah dari tadi saya

mengharapkan sedotan mulutnya di kontolku seperti adegan film

BF yang biasa kutonton.

“Ih.. kamu nakal yah”, jawabnya sambil tersenyum.

Tapi ternyata dia tidak menolak, dia mulai menjilati kepala

kontolku yang sudah licin oleh cairan pelumas dan air ludahnya

itu. Saya cuma bisa menahan nafas, sesaat gerakan jempol

kakiku terhenti menahan kenikmatan yang sama sekali belum

pernah kurasakan sebelumnya.

Dan tiba-tiba dia memasukkan kontolku ke dalam mulutnya yang

terbuka lebar, kemudian dikatupnya mulutnya sehingga kini

kontolku terjepit dalam mulutnya, disedotnya sedikit batang

kontolku sehingga saya merasa sekujur tubuhku serasa

mengejang, kemudian ditariknya kontolku keluar.

“Ahh.. ahh..”, saya mendesah keenakkan setiap kali tarikan

tangannya dan mulutnya untuk mengeluarkan kontolku dari

jepitan bibirnya yang manis itu.

Kupegang kepalanya untuk menahan gerakan tarikan kepalanya

agar jangan terlalu cepat. Namun, sedotan dan jilatannya

sesekali disekeliling kepala kontolku didalam mulutnya

benar-benar terasa geli dan nikmat sekali.

Tidak sampai diulang 10 kali, tiba-tiba saya merasa getaran di

sekujur batang kontolku. Kutahan kepalanya agar kontolku tetap

berada dsidalam mulutnya. Seolah tahu bahwa saya akan segera

“keluar”, Mbak Ira menghisap semakin kencang, disedot dan

terus disedotnya kontolku. Terasa agak perih, namun sangat

enak sekali.

“AHH.. AHH.. Ahh.. ahh”, teriakku mendadak tersemprot cairan

mani yang sangat kental dan banyak karena sudah lama tidak

dikeluarkan itu kedalam mulut mbak Ira.

Dia terus memnghisap dan menelan maniku seolah menikmati

cairan yang kutembakkan itu, matanya merem-melek seolah ikut

merasakan kenikmatan yang kurasakan. Kubiarkan beberapa saat

kontolku dikulum dan dijilatnya sampai bersih, sampai kontolku

melemas dan lunglai, baru dilepaskannya sedotannya. Sekarang

dia duduk di dinding kamar mandi, masih mengenakan pakaian

seragam dengan kancing dan Bra terbuka, ia duduk dan

mengangkat roknya ke atas, sehingga kini memeknya yang sudah

tidak ditutupi CD itu terlihat jelas olehku. Dia mebuka lebar

pahanya, dan digosok-gosoknya memeknya dengan jari-jari

mungilnya itu. Saya cuma terbelalak dan terus menikmati

pemandangan langka dan indah ini. Sungguh belum pernah saya

melihat seorang wanita melakukan masturbasi dihadapanku secara

langsung, apalagi wanita itu secantik dan semanis mbak Ira.

Sesaat kemudian kontolku sudah mulai berdiri lagi, kuremas dan

kukocok sendiri kontolku sambil tetap duduk di atas toilet

sambil memandang aktifitas “panas” yang dilakukan mbak Ira.

Desahannya memenuhi ruang kamar mandi, diselingi deru air bak

mandi sehingga desahan itu menggema dan terdengar begitu

menggoda.

Saat melihat saya mulai ngaceng lagi dan mulai mengocok kontol

sendiri, Mbak Ira tampak semakin terangsang juga.

Tampak tangannya mulai menyelip sedikit masuk kedalam

memeknya, dan digosoknya semakin cepat dan cepat. Tangan

satunya lagi memainkan puting susunya sendiri yang masih

mengeras dan terlihat makin mancung itu.

“Ihh, kok ngaceng lagi sih.. belum puas ya..”, canda mbak Ira

sambil mendekati diriku.

Kembali digenggamnya kontolku dengan menggunakan tangan yang

tadi baru saja dipakai untuk memainkan memeknya. Cairan

memeknya di tangan itu membuat kontolku yang sedari tadi sudah

mulai kering dari air ludah mbak Ira, kini kembali basah. Saya

mencoba membungkukkan tubuhku untuk meraih memeknya dengan

jari-jari tanganku, tapi Mbak Ira menepisnya.

“Ngga usah, biar cukup mbak aja yang puasin kamu.. hehehe”,

agak kecewa saya mendengar tolakannya ini.

Mungkin dia khawatir saya memasukkan jari tanganku sehingga

merusak selaput darahnya pikirku, sehingga saya cuma diam saja

dan kembali menikmati permainannya atas kontolku untuk kedua

kalinya dalam kurun waktu 10 menit terakhir ini.

Kali ini saya bertahan cukup lama, air bak pun sampai penuh

sementara kami masih asyik “bermain” di dalam sana. Dihisap,

disedot, dan sesekali dikocoknya kontolku dengan cepat,

benar-benar semua itu membuat tubuhku terasa letih dan basah

oleh peluh keringat. Mbak Ira pun tampak letih, keringat

mengalir dari keningnya, sementara mulutnya terlihat sibuk

menghisap kontolku sampai pipinya terlihat kempot. Untuk

beberapa saat kami berkonsentrasi dengan aktifitas ini. Mbak

Ira sunggu hebat pikirku, dia mengulum kontolku, namun dia

juga sambil memainkan memeknya sendiri.

Setelah beberapa saat, dia melepaskan hisapannya.

Dia merintih, “Ah.. ahh.. ahh.. Mbak mau keluar Wan, Mbak mau

keluar”, teriaknya sambil mempercepat gosokan tangannya.

“Sini mbak, saya mau menjilatnya”, jawabku spontan, karena

teringat adegan film BF dimana pernah kulihat prianya menjilat

memek wanita yang sedang orgasme dengan bernafsu.

Mbak Ira pun berdiri di hadapanku, dicondongkannya memeknya ke

arah mulutku.

“Nih.. cepet hisap Wan, hisap..”, desahnya seolah memelas.

Langsung kuhisap memeknya dengan kuat, tanganku terus mengocok

kontolku. Aku benar-benar menikmati pengalaman indah ini.

Beberapa saat kemudian kurasakan getaran hebat dari pinggul

dan memeknya. Kepalaku dibenamkannya ke memeknya sampai

hidungku tergencet diantara bulu-bulu jembutnya. Kuhisap dan

kusedot sambil memainkan lidahku di seputar kelentitnya.

“Ahh.. ahh..”, desah mbak Ira disaat terakhir berbarengan

dengan cairan hangat yang mengalir memenuhi hidung dan

mulutku, hampir muntah saya dibuatnya saking banyaknya cairan

yang keluar dan tercium bau amis itu.

Kepalaku pusing sesaat, namun rangsangan benar-benar kurasakan

bagaikan gejolak pil ekstasi saja, tak lama kemudian sayapun

orgasme untuk kedua kalinya. Kali ini tidak sebanyak yang

pertama cairan yang keluar, namun benar-benar seperti

membawaku terbang ke langit ke tujuh.

Kami berdua mendesah panjang, dan saling berpelukkan. Dia

duduk diatas pangkuanku, cairan memeknya membasahi kontolku

yang sudah lemas. Kami sempat berciuman beberapa saat dan

meninggalkan beberapa pesan untuk saling merahasiakan kejadian

ini dan membuat janji dilain waktu sebelum akhirnya kami

keluar dari kamar mandi. Dan semuanya masih dalam keadaan

aman-aman saja.

Mbak Ira, adalah wanita pertama yang mengajariku permainan

seks. Sejak itu saya sempat menjalin hubungan gelap dengan

Mbak Ira selama hampir 2 tahun, selama SMA saya dan dia sering

berjanji bertemu, entah di motel ataupun di tempat kostnya

yang sepi. Keperjakaanku tidak hanya kuberikan kepadanya, tapi

sebaliknya keperawanannya pun akhirnya kurenggut setelah

beberapa kali kami melakukan sekedar esek-esek.

Kini saya sudah kuliah di luar kota, sementara Mbak Ira masih

kerja di Rumah sakit itu. Saya jarang menanyakan kabarnya,

lagi pula hubunganku dengannya tidak lain hanya sekedar saling

memuaskan kebutuhan seks. Konon, katanya dia sering merasa

“horny” menjadi perawat. Begitu pula pengakuan teman-temannya

sesama suster. Saya bahkan sempat beberapa kali bercinta

dengan teman-teman Mbak Ira. Pengalaman masuk rumah sakit,

benar-benar membawa pengalaman indah bagi hidupku, paling

tidak masa mudaku benar-benar nikmat. Mbak Ira, benar-benar

fantastis menurutku.

Judul: If Only

Author : Denyaza , Category: Setengah Baya

Aku gak tau kenapa aku melakukannya. Gak ada yang spesial dari wanita ini.

Tubuhnya aja hitam oleh matahari, badannya kotak, dan rata seperti pintu jati didepan rumah kami. Dan usianya, ya Tuhan sudah menginjak 45 trahun….!!

Mungkin benar kata pepatah jawa yang bilang bahwa TRESNO IKU JALARAN SAKA KULINA. Cinta itu datang karena telah terbiasa….

Aku selalu melihatnya, walaupun tidak menggoda tapi melihatnya setiap hari membuatku jadi terobsesi untuk setidaknya….mencobanya.

Dia mertua wanitaku. Kami semua menyebutnya mama. Mama adalah orang desa yang lugu yang hampir menghabiskan seluruh waktunya kalo tidak di sawah ya di dapur. Pengabdian 100 persen untuk suaminya, papa mertuaku.

Dan keinginan yang menggelegak dalam darahku ini bermula ketika disuatu pagi yang dingin, dengan hujan gerimis yang turun perlahan, dan saat ku terjaga untuk memulai aktivitasku hari ini dengan mandi, aku melihatnya, hanya berselempang handuk menutupi tubuhnya, mengangkat panci besar berisi nasi dari pawon (kompor kayu bakar) menuju amben kecil dibelakangnya dimana dia meletakkan bakulnya.

Nggak ada yang spesial, sumpah! Dia benar2 kotak seperti pintu jati di depan rumahku, dan aku tidak merasakan apapun memandangnya hingga sang syetan meniupkan angin kecil yang dingin menghampirinya.

Dalam posisi berdiri, kedua tangan memegang panci besar panas yang membuatnya sedikit membungkuk saking beratnya, si angin nakal telah mengibarkan handuknya dan membuatnya merosot pelan meninggalkan tubuhnya.

Aku tertegun.

Aku adalah seorang pengingat yang buruk, aku bahkan nggak bisa mengingat nomer hpku sendiri, atau kodepos rumahku, atau nomer rekening bank ku, tapi pemandangan yang terhampar didepanku saat itu seperti sebuah film dvd yang bening, yang siap berputar kapanpun aku memikirkannya.

Mama agak terhenyak melihatku melihatnya dalam keadaan seperti itu, tapi gimana lagi? kedua tangannya sibuk membopong panci dan dia nggak bisa menutupi ketelanjangannya.

Dan dengan anggun dia melangkah melewatiku, telanjang bulat, nyaris sambil memejamkan mata, dan bisa kurasakan aromanya menusuk kelelakianku yang segera meronta dari tidur panjangnya.

Payudaranya masih kencang untuk ukuran wanita seusianya, badannya yang kotak terlihat lebih bergelombang, dan harum kesegaran wangi sabun ditubuhnya sesaat membius otakku, membuatku mematung beberapa saat lamanya.

Dengan suara gemetar mama berkata dari belakangku,

“Den, tolong ambilin handuk mama…”

Dan itu adalah awal obsesiku terhadap mertua wanitaku…

******

Sejak saat itu yang ada dalam otakku adalah bagaimana caranya agar aku bisa melakukan sex dengan mama. Bahkan ketika aku menggumuli istrikupun yang ada dalam pikiranku adalah mama. Mama yang telah menghipnotisku dengan ketelanjangannya pagi itu.

Suatu waktu, saat libur tahun baru tiba, dan semua keluarga berkumpul di rumah ini, aku akhirnya dapat menyelesaikan dahagaku dengan tuntas.

Saat itu semua orang sedang berkumpul di ruang tengah menyaksikan acara pergantian tahun di televisi, sementara mama seperti biasa sibuk di dapur menyiapkan hidangan istimewa untuk seluruh keluarga.

Pukul 23.15

Dewi, istriku, sudah terlelap setelah capek menyusui anakku yang baru 5 bulan dikamarnya. Papa sedang ngobrol dengan keluarga besar di ruang tivi sementara mama yang kelelahan tertidur di amben dapur.

Aku baru saja memasukkan motorku, yang karena ketersediaan lahan, cuma mendapatkan tempat parkir di samping dapur.

Rok mama tersingkap oleh angin yang lagi-lagi ditiupkan sang syetan.

Dan aku tertegun. Seperti kebanyakan orang desa yang lain, mama tidak pernah memperhatikan penampilan dan baju-baju yang dikenakannya. Aku melihat celana dalam yang dipakainya sudah bolong dibeberapa bagian, yang memudahkan aku untuk mendapatkan pandangan yang jelas tentang bentuk kewanitaannya di temaramnya lampu 5 watt yang menerangi ruangan itu.

Posisi mama tidur miring kekiri dengan sebagian kakinya terjuntai di tanah. Hampir-hampir seperti posisi favoritku kalo sedang bercinta dengan istriku.

Daging yang terhimpit kedua pahanya tampak kehitaman, seperti kebanyakan vagina yang kurang terawat. Bulu-bulu yang terurai keluar keriting dan luar biasa lebat, membuatku merinding, tapi juga terangsang luar biasa.

“Den….” Bisik mama.

Aku terhenyak. Apakah mama melihatku? Aku buru-buru menyandarkan motorku dan bergegas pergi.

“Den….”

Lagi. Tidak, mamaku belum terjaga. Dia sedang bermimpi Deni. Begitu kata syetan dalam hatiku.

Akupun mengurungkan langkahku, dan beranjak mendekat.

Iya, dia masih terlelap.

“Hhhh…Den….”

Apa yang diimpikannya? Kenapa ada aku?

Aku memberanikan diri untuk menghampirinya. Ketegangan di kelelakianku hampir mencapai puncaknya. Aku sudah sampai pada tahap rangsangan dimana seolah apabila aku tidak segera mendapatkan pelampiasan, aku akan meledak oleh nafsu yang memenuhi rongga dadaku.

Dan perlahan tanganku menyentuhnya. Aku duduk di sampingnya, mama membelakangiku. Aku menatap gundukan daging yang selama ini menghantuiku, membelainya pelan.

Apa mama memimpikanku ma? Bisikku sambil gemetar tanganku menelusuri belahan kewanitaannya.

Suara keramaian di ruang tivi sesaat mengagetkanku, terompet-terompet dibunyikan, petasan, dan teriakan2 selamat tahun baru membuat suasana hiruk pikuk.

Tapi mama cuma melenguh pendek dan meneruskan tidurnya. Jelas dia keletihan oleh banyaknya pekerjaan siang tadi dan tidak akan mau terganggu tidurnya oleh apapun.

Aku menyingkap roknya lebih melewati pahanya…

Tidak sehitam yang kubayangkan. Pahanya nyaris putih, agak meremang oleh bulu-bulu halus tapi tidak hitam. Pahanya mulus dan lembut ditelapak tanganku.

Sebuah gerak halus pada pundaknya membuatnya terlentang. Masih terlelap dalam tidurnya.

Sebenarnya aku bisa meninggalkannya saat itu. Karena tekanan gairah dan adrenalin telah meledakkanku dan aku ejakulasi dicelanaku. Begitu saja.

Begitu dahsyatnyakah wanita ini hingga bisa membuatku klenger tanpa menyentuhku sama sekali?

Aku berdiri. Lebih baik aku segera membersihkan diri dan pergi ke istriku. Itu akan lebih sehat to?

“Jangan pergi Den….”

Walaupun cuma bisikan tapi aku jelas sekali mendengarnya. Aku menengok ke bawah dan mamaku yang terlentang dengan rok tersingkap nampak mengerjapkan matanya.

“Ma…?”

Mama menarik tanganku dan menjatuhkanku menindihnya.

Aku diam tak bergerak. Aku berbisik lirih sambil mencoba untuk tetap berpikiran sadar.

“Ma, apa ini gak papa?”

Mama tak menjawab. Dia cuma memejamkan mata dan menaikkan pahanya ke bibir amben tanpa suara.

Andai saat itu ada orang yang masuk ke dapur dan melihat kami dalam posisi ini pasti dia akan jatuh pingsan.

Aku setengah berdiri, dengan posisi menindih mama yang seolah setengah meminta agar aku berbuat lebih jauh, sejauh-jauhnya….

Jadi aku sampai pada titik kewarasanku dan aku memulainya dengan begitu menggebu-gebu.

Aku lupakan dulu itu foreplay, pemanasan atau apalah itu namanya….Yang kutahu diujung kelelakianku ada rasa gatal yang begitu menyiksa yang menuntut pelepasan sesegera mungkin atau aku akan meleleh dan menguap oleh panas yang meradang.

Aku menyingkap roknya, menarik celana dalamnya dengan kasar, dan tanpa menunggu responnya aku membuka celanaku sendiri, menarik keluar kelelakianku dari sela-sela celana dalamku dan langsung menghujamnya. Sedalam-dalamnya aku bisa.

Dia mengeluh pendek, tapi tidak membuka matanya.

Aku terhenyak sesaat oleh sensasi hangat yang kurasakan menyelimuti penisku, sebelum mulai mengayunkannya dengan cepat.

Vagina tua itu sudah basah dan lembab saat aku memasukinya, dan daya gesek dinding-dindingnyapun tidak begitu menggigit. Tapi aku dibutakan oleh sensasi adrenalin yang terus memacu syarafku hingga aku seperti terbang diawang-awang ketika aku menggagahi mertua wanitaku.

Yang ada cuma derit amben dan suara kecap becek dari pertemuan tubuh kami.

Dengan nafas memburu aku meraih payudaranya dari balik bajunya dan meremas gemas sambil berbisik keras,

“Ya Tuhan….cuma kaya gini aja rasanya kok aku sampai keedanan to ma…..”

Mamaku tak menjawab. Kelopak matanya bergerak-gerak dan mulutnya setengah terbuka tapi dia tak mengucapkan satu patah katapun padaku.

Aku meneruskan ayunanku dengan keras dan dalam, mencoba masuk lebih dalam lagi untuk mencapai dan menggesek semua isi dari vagina yang beberapa hari ini selalu membayangi pikiranku.

Mama melenguh menerima hujaman terdalamku beberapa kali, lalu tiba-tiba mencengkeram pantatku untuk berhenti berayun. Aku menampik tangannya dan bahkan berayun semakin cepat dan dalam. Kukorbankan tenagaku malam ini seluruhnya untuk menikmatimu mama….

Mama mulai mendesis dan menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan.

“ssssh…..udah den…..aduh…..mama pengen pipissss…….” Bisiknya sambil mencoba mendorong badanku.

Tapi aku menampik lagi tangannya. Tangan kiriku menelusup masuk meraih payudaranya sementara tangan kananku mencari klitorisnya dan menekannya dengan kencang.

Biasanya istriku langsung jebol kalo aku udah melakukan hal ini. Dan like mother like daughter, mamapun langsung meledak.

Diiringi pekikan kecil dia meronta terakhir kalinya sebelum mengejang dan mencengkeram punggungku dengan kedua tangannya menahan sensasi orgasme luarbiasa yang melandanya.

Aku merasakan pancaran-pancaran air menyembur membasahi selangkanganku, sementara kedutan-kedutan lembut memijit-mijit batang penisku dengan mama meracau dalam setengah sadar menikmati puncaknya.

Aku tidak berhenti lama, aku punya gunung lain yang harus dikejar, gunung kenikmatanku sendiri. Ejakulasi pertamaku tadi membuat penisku tahan lebih lama dalam liang kewanitaan mama, dan dengan setengah memburu aku berpacu sendiri menuju puncak.

Mama masih terus menggeliat-geliat, menahan rasa geli dan ngilu di vaginanya tiap kali aku menghujam masuk. Dan aku mulai bisa merasakannya. Seperti ada sesuatu yang merangkak naik dari ujung-ujung kakiku…..berdesir dengan panas hingga mencapai sukma terdalamku dan akupun…..

“Mama aku keluar……arkh……”

Entah berapa kali aku ejakulasi di dalam liang rahimnya, yang jelas aku sendiri sampai bergidik dengan sensasi yang timbul dari pelepasan itu, dan setelah sejenak rohku seperti melayang naik ke awan, aku lantas terjerembab tanpa daya diatas tubuh mertuaku yang setengah telanjang itu.

Napas kami terengah-engah. Tapi kami tak punya kesempatan untuk menatanya atau berkomentar tentang percumbuan kami itu karena tau-tau sebuah suara dari ruang tivi membbuat kami melonjak kaget.

“Ma….air panasnya habis ma, masak air lagi ya, cepetan….”

Itu suara papa yang berjalan mendekat dari ruang tivi.

Dengan kecepatan luar biasa aku memakai lagi celanaku dan segera menyelinap bersembunyi di balik motorku yang terparkir tak jauh dari dapur.

Mama sendiri bergegas bangun dan dengan limbung berjalan ke arah suara sambil berkata lirih.

“Iya pa, udah papa disitu aja, ntar kalo dah panas mama antar kesitu.”

*******

Itulah awalnya. Setelah itu kami jadi makin sering melakukannya. Aku tahu ini salah, begitu juga mama. Tapi kami juga tahu kalo ini benar-benar enak, dan kami ketagihan untuk terus melakukannya setiap hari, setiap kali ada waktu yang luang dan sepi.

Kami terus melakukannya hingga kini mamaku hamil lagi. Papa cuma geleng kepala mendengar hal ini.

” Dulu Dewi juga gitu Den, kebobolan, eh sekarang ternyata kebobolan lagi…..Kondom jaman sekarang emang payah…..” Begitu komentar papa.

Inilah rahasiaku, semoga saja ini tetap jadi sebuah rahasia.

Judul: Atik… Pembantu yang manis

Author : Deny_06 , Category: Daun Muda

Saat aku pulang dari kantor ku lihat ada seorang cewek yang wajahnya cukup manis, tubuhnya sintal, tidak terlalu tinggi, Tidak terlalu tinggi 158 cm-an, toket kelihatan montok dan mengkel. Aku yang biasanya gak terlalu peduli sama pembantu kali ini harus ngiler melihatnya. Pikiran seronok langsung menjalar dalam otakku. Siapa gerangan sicewek yang baru membukakan pintu gerbang saat aku memasukkan mobil ke garasi ini.

“Selamat sore Pak…” Sapanya dengan lembut.

“Sore” Jawabku singkat. Rasanya bergetar hatiku. Bahaya nih, kenapa aku tertarik banget sama dia ya ? Anganku jadi berkecamuk. Pikiran kotor dan ngeres jadi terus membayang dalam angan. Baru lihat saja kok aku jadi nafsu gini. Padahal dia kan hanya pembantu. Aku langsung masuk ke rumah dan mencari istriku, langsung tanya tentang itu cewek.

“Itu pembantu baru ya… emang dapat dari mana…?”

“Istri teman kamu tadi yang bawain, katanya dia baru dapat 2, sementara dia Cuma butuh 1 saja, trus dia bawa ke sini. Dia katanya anak lampung.”

“Oh… jawabku. Kayaknya dia masih bocah gitu… Emang dia sudah bisa kerja ?” Tanyaku.

“Baru 18 th, tapi katanya sudah pernah kerja sih. Ya gak salah kan kalo kita coba dulu” Kata istriku.

“Terserah Mama dech… Kan ini urusan perempuan.” Padahal dalam hati aku sangat cocok banget dengan pembantu yang satu ini. Pokoknya bakal bisa aku betah di rumah.

Keesokan harinya saat istriku ngantar anakku sekolah, aku coba ajak bicara dia.

“Nama kamu siapa ?” Tanyaku.

“Atik Pak” Jawabnya singkat. Walaupun masih agak malu2 tapi kelihatannya dia cukup berani.

“Umur kamu berapa ?”

“18 tahun Pak ?”

“Masih kecil ya kamu, tapi kok kayak dah dewasa gitu, badan kamu tidak sesuai dengan umur kamu. Bahkan maaf ya… toket kamu sudah gede banget gitu. Kayaknya sudah pernah diremas2 cowok dech“ Dengan sopan aku berusaha menggodanya.

“Ih Bapak bisa saja, saya jadi malu.” Ujarnya tersipu. Kelihatannya dia tersanjung dengan ucapanku.

“Pacar kamu pasti nakal… dan seneng ngremesin toket kamu ya….” Karena dia kelihatannya tidak keberatan aku goda.

“Bapak kok tahu sih…?”

“Tahulah… bahkan dengan lihat bentuk badan kamu aku juga tahu kalo kamu pernah, bahkan sering… maaf ya jangan marah kalo aku salah…. Kamu sering dientot kan….” Tembakku.

Dia kaget, mukanya jadi merah dan kayak orang ketakutan.

“Jangan malu dan takut, itu kan urusan kamu sendiri. Buat aku gak ada pengaruhnya kok bila pembantu disini walau masih bujang tapi sudah gak perawan…” Aku coba menenangkannya.

“Tapi Bapak jangan bilang sama Ibu ya Pak…, saya takut ibu jadi mulangin saya nanti.” Pintanya.

“Iya aku gak akan bilang kok, tapi ada syaratnya. Pertama, kamu harus mau crita tentang pacar kamu, dan gimana dia berhubungan” pancingku.

“Kami sebenarnya sudah tunangan Pak, makanya setiap ada kesempatan kami sering melakukannya. Tapi dia juga ngencani cewek lain, makanya aku tinggal ke Jakarta.”

“Lha kamu sekarang jauh dari pacar kamu, trus apa kamu gak ketagihan…?”. Kejarku, karena aku sudah nafsu banget tuk bisa ngentotin dia.

“Sering juga sih Pak nafsu banget. Bapak kan tahu orang kalo sudah pernah ngrasain yang satu itu pasti akan ketagihan. Tapi gimana lagi, saya sudah jengkel banget sama dia, walau masih cinta.” Critanya sambil nunduk.

“Kalo lagi pingin, gimana kamu ngatasinya ?” Dia terbuka banget sama aku. Kayaknya ada kesempatan nih buatku.

“Ih… malu ah Pak.” Gak apa2, cerita saja. Siapa tahu aku bisa bantu kamu.

“Gimana ya Pak… saya kan orang normal… jadi kalo udah ngebet ya……..” Dia diam sejenak, kelihatannya ragu untuk mengatakannya. Aku diam saja menunggu, akhirnya….. “Saya… jadi masturbasi…. Habis mau sama siapa lagi… kan sekarang sudah gak punya pacar lagi. Bapak jangan ketawain saya ya… maaf kalo saya ngomong apa adanya…” lanjutnya.

“Kasihan juga ya kamu…, kalo ada kesempatan mau gak kamu aku bantuin nglepas hasrat kamu saat muncul…?” pancingku.

“Bapak bantunya gimana… emang Bapak mau sama saya….?” Katanya dengan malu dan ragu-ragu.

“Aku kan kasihan sama kamu, lagian kalo pas kamu nafsu gak tersalurkan kerja kamu malah berantakan nanti. Emang kamu mau dimarahin Ibu karena kerja gak bener…?, Kalo bantunya gimana kita lihat saja nanti.” Aku denger suara mobil, istriku sudah datang dari antar anak sekolah.

“Nanti kita atur saja ya… Tuh Ibu sudah datang, bukain pintunya dulu.” Kataku padanya.

Istriku masuk ke rumah sambil bilang, katanya mau shoping sama temen2nya. Katanya nanti pulangnya sekalian jemput anak dari sekolah. Wah kesempatan bagus nih pikirku, karena aku sudah ngebet banget tuk bisa muasin Atik yang suka kehausan itu. Setelah aku ijinkan istriku langsung berangkat. Aku langsung panggil Atik.

“Tik, bisa gak kamu bantu pijitin badan aku… di kamar ya….” Pintaku.

“Bisa Pak” Aku langsung ke kamar, Atik ngikuti dari belakang. Kupikir ini kesempatan bagus, rasanya aku sudah gak kuat nunggu lebih lama lagi. Lagian sayang kalo dilewatkan kesempatan yang ada. Aku langsung copot baju dan celana panjangku. Tinggal CD yang menempel di celanaku.

“Lho kok pakaiannya dicopot smua Pak, katanya mau dipijitin. Maaf ya Pak… karena saya bisa nafsu kalo lihat laki2 hanya pakai cd gini…”

“Ya sudah, kamu sini……” Ku raih tangannya dan langsung aku tidurin di ranjang.

“Kamu lagi nafsu kan….” Atik diam saja.

Aku langgsung cium kening, kelopak mata, hidung terus akhirnya bibirku sampai ke bibirnya. Tanganku dari belakang leher menuju ke arah toketnya yang sudah membusung menanti serangan dariku, setelah sampai kuelus dari pinggir toket memutar trus kuremas dengan pelan.

“Agh…. Shhh…. Pak……” Dia mulai mendesis dan menggeliat. Bibirnya menyambut bibirku, kuteroboskan lidahku kedalam mulutnya tuk menggapai lidahnya. Dia membalas dengan mengeluarkan lidahnya dan melilit lidahku. Sungguh nikmat rasanya memeluk cewek ABG seperti Atik. Kugigit lidahnya…..

“Ough….. shhhhh…. Pak…. Atik…. een….nak…. terus … Pak……” Atik mulai lepas kendali, kelihatan sekali bahwa dia besar nafsunya.

Setelah beberapa saat kami bersilat lidah, bibirku kuturunkan ke lehernya. Secara bergantian kuserang bibir leher dan daun telingannya sambil tanganku terus meremas-remas toketnya kanan dan kiri bergantian. Tak henti2 Atik mengerang nikmat bahkan semakin keras erangannya, pasrah terhadap apa yang aku lakukan.

Aku berusaha membuka baju oblongnya, dia membantu mempermudah dengan mengangkat tangannya. Aku benar2 gak tahan melihat gundukan toketnya, aku buka juga celana dan bra-nya biar lebih mudah meremas dan enak rasanya. Sekarang Atik sama denganku, hanya mengenakan cd. Atik belum berani untuk membalas seranganku, sengaja aku biarkan dia menikmati serangan yang aku lakukan biar dia lain kali ketagihan permainanku.

Kucium pinggir toketnya yang keras dan membusung, badannya langsung menggeliat dan kepalanya menggeleng ke kanan kiri sambil tangannya menjambak rambutnya sendiri. Pelan2 dari pinggir toket bibirku mendaki ke puncak pentilnya, kugigit pelan dan kuhisap secara bergantian, sambil tanganku menerobos cd-nya yang sudah basah. Kutemukan gundukan yang terbelah yang sedang menantikan serangan. Saat tanganku mengelus belahannya dia, semakin menggeliat dan merintih dahsyat….

“Auww….ssshhhh…….Ough…..Pak…… pacarku mainnya gak seenak in…..ni… Pak….” Ceracaunya.

Aku buka cd-nya biar gerakan tanganku lebih leluasa. Atik ngebantu dengan mengangkat pantatnya sehingga aku dengan mudah mencopotnya.

Mengingat dia sudah gak perawan, dengan lembut jari tengahku kuteroboskan memasuki gua nikmatnya yang sangat sempit. Kutemukan benjolan kecil yang sangat basah. Sambil bibirku menyerang toketnya jari tanganku kukeluar masukkan sambil mengelus-elus benjolan shg membuat dia semakin kelojotan dan meraung-raung kenikmatan.

“Ough…… shhhh…….Atik…. me…. Layangggg…. Ah……… Pak…….” Tak kupedulikan ceracaunya, terus kuserang dia.

Kontolku rasanya sudah gak tahan untuk menjelajah dan menyodok memek Atik yang sempit itu. Tapi aku harus sabar, aku pingin dia bisa mencapai puncak dulu biar bener2 puas.

Setelah 15 menit ku serang akhirnya….

“ Ah… augh…shhhh…shhhh….. Pak…. Atik….. ma….u…..klu…..ar….. te….ruuuusssssss……….” Badannya berkelojotan tak karuan dan mengejan beberapa kali, tanganku kena semburan basah kenikmatannya. Nafasnya terus memburu, akhirnya dia lunglai. Dia aku peluk mesra sambil aku ciumin bibirnya biar dia lebih bisa ngerasa nikmat di puncak orgasmenya. Setelah nafasnya agak normal kutanya,

“Gimana Atik….. Enak ya….?”

“Aduh… enak banget Pak, hampir tak kuat ngrasain ngrasain nikmatnya…..” jawabnya sambil ngos-ngosan.

“ Pemanasan aja mainnya Bapak enak banget, gimana kalo punya Bapak yang masuk ya…..”

“Mau…..?” Tanyaku. “Mmm………” Dia hanya menggumam.

Aku sebenarnya juga sudah gak tahan untuk segera nyodok memek dia, makanya aku dudukin dia di tepi ranjang. Kuraih tangannya untuk memegang kontolku yang menonjol dan masih terbungkus cd.

“Kok kepalanya kluar Pak….. gede banget……..punya Bapak. Mana muat punyaku nanti….” Komentarnya.

“Coba saja…..buka saja cd-ku….” Kataku sambil mengelus2 rambutnya. Atik menarik cd-ku ke bawah karena dia duduk di depanku saat kontolku yang sudah ngaceng berat lepas dari cd mengenai mukanya.

“Ouw…. Pak. Bener-bener gede Pak…..” Serunya.

Kuraih kepala Atik dan kutarik dan kusuruh dia menjilat kontolku. Atik menjilati kontolku dari ujungnya, lidahnya dimainin disitu terus kebagian batang dan pangkal kontolku. Aku rasanya melambung kenikmatan. Dia kusuruh menghisap kepala kontolku sambil kepalanya kupegang dan kugerakkan maju-mundur.

“Ough….tik…..nikmat banget. Kamu pinter banget Tik……..” Erangku. Sambil ngemut lidah dia tak henti-hentinya mengusap-usap kontolku, dibantu tangannya membantu dengan mengocok maju-mundur sehingga semakin membuatku kenikmatan.

Setelah 10 menit, kusuruh Atik mengeluarkan kontolku dari mulutnya.

Kubaringkan Dia diranjang. Atik membuka selangkangannya, sehingga mempertontonkan gundukan memeknya yang terbelah merekah semakin membuatku bernafsu.

“Ayo Pak…. Atik pingin banget rasain kontol Bapak……” Taka sabar dia.

Aku memposisikan diriku diantara paha dia. Kuangkat kedua kakinya. Kontolku kugesek2kan ke memeknya. Atik meringis tak sabar menunggu. Kutekan pelan kontolku di lubang nikmatnya. Rasanya sempit banget memek Atik. Karena tak sabar dia mengangkat pantatnya yang otomatis membuat kontolku masuk dan kejepit di memeknya. Sungguh nikmat banget memek ABG satu ini.

“Ouw….www…sshhhh….. enak Pak….. genjotin saya Pak…. Ouh….. nikmatin….sa…ya….” Katanya sambil pantatnya langsung digoyang2, sehingga membuatku ngerasakan nikmat yang tak terkira. Rupanya dia sangat pinter ngelayani pria.

“Plok-plok-plok…….” Bunyi benturan antara pangkal kontol dan memek dia saat aku semakin gencar menggenjot Atik.

“Ouh….. sshhhh…. Ter…rus….. Pak…… Enak…..banng…nget…..kontol Bapak……” Tak hentinya dia meracau sambil tangannya menjambat rambutnya sendiri dan kepalanya terus menggeleng ke kanan kiri.

Lima menit kemudian….

“Ouwww….. Pak….. Aaa…..tik…… sam…. Pai…. Lagi…………….ough… sssshhhh…….” Badannya mengejan dan kontolku terasa kesemprot oleh cairan nikmatnya. Saat dia keluar kusambut dengan sodokan kontol dengan semakin gencar sehingga benar2 kelojotan, sampai akhirnya badan Atik melemas.

Kuperlambat kocokanku, kucium bibir dan kuremas toketnya sambil menunggu dia agak pulih lagi.

Setelah kukocok agak pelan selama 2 menit kelihatannya dia mulai tegang lagi.

“Bapak kuat banget….. aku jadi enak…..” katanya.

“Ayo bantu aku sampai keluar….” Kataku.

“Siap Pak…….” Jawabnya.

Akhirnya kegencarkan lagi genjotanku. Atik menggoyang dan memutar pantatnya mengimbangi gerakannku, sehingga kontolku seperti diremas2 rasanya. Sungguh nikmat banget ngentotin Atik.

“Ouhgh…….Tik…..kamu pinter banget….. enak banget memek kamu……”

Lima menit kemudian Atik mengejan lagi dan badannya melemas. Aku juga sudah gak kuat lagi nahan lebih lama.

Kucabut kontolku dan aku merangkak ke atas.

“Supaya kamu gak hamil aku semprotin di mulut kamu ya……” pintaku.

Tangannya langsung meraih kontolku dan memasukkan ke mulutnya. Sambil mengocok dan lidahnya bermain2 dikepala kontolku. Aku semakin blingsatan dan semakin gencar sodokan kontolku dimulutnya. Dan, akhirnya….

“Oughhhhh…ssssss……..Tik………………” Aku mengejan dan menyemprotkan maniku yang banyak kemulutnya.

Atik aku suruh nelan spermanya. Atik turuti apa yang aku suruh.

Kami terkulai lemas sambil berpelukan.

Judul: Pengalaman dengan perawat

Author : andri_bdg , Category: Umum

Kejadian ini aku alami sekitar tahun 1980-an, ketika aku melakukan studi/belajar di salah satu perguruan tinggi terkenal di Jawa Tengah. Aku tinggal di salah satu tempat kost-kostsan mahasiswa, waktu itu kami menempati satu kamar yang cukup besar, dihuni bersama 2 orang mahasiswa lain yang kebetulan satu daerah dengan ku. Jadi kami ber-tiga menempati kamar yang cukup baik untuk ukuran mahasiswa saat itu. Diantara kami bertiga, ada salah seorang yang kebetulan membawa motor, jadi kadang-kadang kami bergantian pinjam motor untuk hal yang mendesak dengan konsekuensi siapa yang memakai motor tersebut pada saat kembali BBM harus dalam keadaan penuh (full tank).

Selama kurun waktu setengah tahun, kami menjalani kehidupan sebagai mahasiswa sebagaimana layaknya mahasiswa yang lain, karena kami berasal dari luar kota, maka dalam segi keuangan kami saling bantu, terutama apabila ada diantara kami yang terlambat menerima kiriman. Bukannya sombong, kami bertiga di kelas termasuk mahasiswa yang cukup dipandang karena prestasi akademis kami di atas rata2, jadi hampir setiap hari tempat kost kami selalu didatangi temen mahasiswa lain yang umumnya saling mencari informasi, apalagi pada saat2 ada tugas-tugas yang harus diselesaikan.

Singkat cerita, sekitar bulan ke-8 aku sebagai mahasiswa, ada salah seorang teman mahasiswa dari daerah lain yang harus di opname karena mengalami kecelakaan lalu lintas, kondisinya tidak begitu parah sih, tetapi harus tetap di opname sekitar 5 hari.

Sebagai teman dan karena rasa solidaritas, hampir tiap hari kami bertiga bezuk ke rumah sakit yang kebetulan hanya berjarak 500 m dari tempat kost kami, dari sinilah awal perkenalan kami dengan salah seorang perawat yang cukup menarik dan cantik, kita sebut saja mbak Sri, yang ternyata juga kost tidak jauh dari rumah sakit. Mbak Sri berasal dari luar kota dengan jarak tempuh sekitar 2 jam. Awalnya kami hanya pertemanan biasa, pada saat tidak bertugas dan kebetulan kami tidak ada kuliah, mbak Sri suka main ketempat kost kami dan biasanya bersama teman sekamar yang perawat juga, dan biasanya pula ada saja makanan yang dibawa, kami sebagai anak kost tentunya seneng-seneng saja menerima kedatangan mbak Sri yang cantik dan ramah, apalagi selalu membawa makanan.

‘Witing tresno jalaran soko kulino’ demikian pepatah jawa yang kurang lebih artinya ‘awal timbulnya perasaaan cinta/sayang disebabkan karena seringnya ketemu’, demikian juga yang terjadi pada kami. Entah apa dasarnya, dari kami bertiga ternyata mbak Sri lebih memilih aku, hal ini dapat dicirikan dengan lebih sering minta tolong atau minta antar ke suatu tempat ke aku.

“Dri tolong anterin ke ….’ demikian mbak Sri menyebut penggalan namaku, dan biasanya kalo sedang tidak dipakai, aku pinjam motor temenku mengantar mbak Sri ke tempat yang diinginkan.

Karena kedekatan kami yang semakin akrab, sehingga kunjungan jadi terbalik, aku lebih sering berkunjung ke tempat kost-kostan mbak Sri yang hanya berjarak 300 m dari tempatku. Mbak Sri kost pada suatu keluarga yang dihuni oleh sepasang suami istri dengan anak 1 umur 3 tahun dan seorang ibu yang kelihatannya sudah sakit-sakitan karena sudah lanjut usia. Rumah itu terdiri dari rumah induk dengan 3 kamar dan sebuah paviliun. Kamar depan ditempati oleh pasangan suami-istri dengan 1 anak, kamar tengah ditempati mbak Sri bersama 1 orang teman yang sama-sama perawat dan kamar belakang ditempati ibu yang sudah lanjut usia. Sementara paviliun di sewa oleh sepasang suami istri yang masih pengantin baru.

Malam minggu merupakan acara wajib mengunjungi mbak Sri, biasanya kami hanya jalan-jalan disekitar keramaian yang tidak jauh dari tempat kost-kostan, kadangkala hanya sekedar nyari sate ayam atau sate + gule kambing kegemaran kami berdua. Dan yang bayar secara bergantian, tetapi lebih banyakkan mbak Sri yang biasa traktir. Acara malem minggu biasanya dilanjutkan ngobrol di tempat kost mbak Sri sampe jam 11-12 malem. Sejauh ini tidak ada kejadian-kejadian istimewa sehubungan dengan hubungan seorang pria dan wanita, hanya ngobrol, jalan dan ngobrol.

Pada malam minggu berikutnya, kebetulan teman yang punya motor sedang pulang ke daerahnya, maka aku pinjam motor untuk ngapelin mbak Sri, kami berangkat pukul 7 malem, putar-putar ke beberapa tempat sambil nyari tempat makan, selesai makan jam 9-an mbak Sri ngajak ke suatu tempat yang katanya tempat para pasangan memadu kasih, dari tempat tersebut kita dapat melihat gemerlapnya kota karen kami berada di ketinggian. Awalnya kami hanya ngobrol sambil duduk di rerumputan dengan pandangan menikmati indahnya lampu berwarna warni di kejauhan, didorong oleh suasana, kami ngobrol sambil berpegangan tangan sambil bersenda gurau, ketawa-ketiwi, hingga pada suatu momen entah sengaja atau tidak, pipi kami saling bersentuhan, kami sama-sama kaget dan saling pandang, tapi tidak lama, entah ada kekuatan dari mana aku dekatkan bibirku ke wajah mbak Sri dan secara tiba-tiba bibir kami saling bersentuhan ringan, hanya sekilas kemudian kami saling berpandangan tanpa sepatah katapun.

“Kenapa Dri?” Tanya mbak Sri memecah kecanggungan, aku jadi salah tingkah dan bingung harus ngomong apa, akhirnya hanya diam seribu basa. Kali ini mbak Sri mengambil inisiatif, diraihnya tanganku kemudian didekatkanya bibirnya ke bibirku sampai akhirnya aku merasakan sedotan ringan yang cukup mantap. Rupanya mbak Sri sudah berpengalaman dalam hal ini, dan naluriku merespon sedotan bibir mbak Sri dengan kembali menyedot ringan seperti apa yang dilakukan mbak Sri. Rupanya inilah yang disebut dengan ciuman, ciuman dari bibir ke bibir, dan sesungguhnya aku belum pernah mengalami sebelumnya.

Suasana sangat mempengaruhi keadaan kami berdua, akhirnya pagutan bibir kami makin inten dengan dekapan yang cukup erat. Aku merasakan lidahnya mencari-cari sesuatu dan secara naluri aku sedot lidahnya sampai mbak Sri tersengal-sengal.

Satu per satu pasangan yang mungkin sama melakukan seperti yang kami lakukan, meninggalkan lokasi dan akhirnya kamipun meningggalkan lokasi dengan pertimbangan keamanan. Saat kami berboncengan motor, terasa mbak Sri makin mesra, dipeluknya aku dengan kuat dan terasa tonjolan kenyal di punggungku yang menambah kemesraaan kami berdua.

Sesampainya di tempat kost, kami meneruskan ngobrol sabil saling memegang dan meremas jari-jari kami.

“Dri, kamu gak usah pulang”, tiba-tiba mbak Sri melontarkan pernyataan yang bagiku bagai suara halilintar ….. rupanya mbak Sri mengetahui kebingunanku, “Aku Cuma sendirian, temenku tadi sore pulang kampung karena hari Senin kebagian libur” lanjut mbak Sri mempertegas pernyataan pertamanya. Hal ini makin membingungkan, “Nanti seperti biasa, Andri pamitan ke mbak …. (nama yang punya rumah), tapi gak pulang, masuk kekamarku” makin jelas pernyataan mbak Sri. Akhirnya aku menyetujui usulnya mbak Sri, siapa sih yang tidak menyambut tawaran seperti ini?.

Sekitar pukul 11.30 malem, seperti biasa aku pamitan ke yang punya rumah dari balik pintu, sambil agak berteriak “mbak, aku pulang dulu” … “ya silahkan mas Andri” terdengar jawaban dari dalam kamar. Kemudian aku diseret ke kamar tengah secara berhati-hati, disuruh menunggu disitu, sementara mbak Sri kembali lagi ke pintu depan, sambil ngomong “Ati-ati ya”, sambil menutupkan pintu dan menguncinya, sengaja agak keras agar terdengan tuan rumah bahwa tamunya sudah pulang.

Tidak lama mbak Sri masuk kamar dan menguncinya dari dalam, sementara aku masih berdiri bengong di dalam kamar tanpa tau yang harus kulakukan. “Tidurnya di bawah saja, kalo di atas takut berderit tempat tidurnya” bisik mbak Sri di telingaku, aku mengiyakan tanda setuju. Kemudian dengan sangat berhati-hati, agar tidak membuat kegaduhan, mbak Sri mencari-cari sesuatu di lemari, rupanya yang dicari adalah celana training dan kaos. “Nih ganti biar bajumu gak kusut”, bisik mbak Sri selanjutnya. Dengan rasa canggung, sambil membalikkan badan, aku mengganti bajuku dengan pakaian tidur yang diberikan mbak Sri, sementara itu mbak Sri sibuk menggelar beberapa selimut yang cukup tebal di bawah, rupanya mempersiapkan tempat untuk aku tidur. Tidak lama kemudian kami menempatkan diri masing-masing, aku tidur di bawah, sementara mbak Sri tidur di atas, di tempat tidur. Rupanya rasa kantuk yang biasanya sudah mendera kami, tiba-tiba seperti sirna ditelah keheningan malam.

“Dri, kok diam saja, melamun ya?” mbak Sri berbisik memecah keheningan,

“Apa mbak?” aku balik berbisik karena pertanyaan tadi tidak jelas. Kami sama-sama hilang rasa kantuknya, tapi tidak bisa ngobrol karena takut terdengar dari kamar sebelah. Rupanya mbak Sri memaklumi keadaan ini, akhirnya mbak Sri menurunkan bantalnya dan turun menggeser tidurku.

“Nah kalo gini khan ngobrolnya bisa tenang, gak takut kedengeran dari luar” bisik mbak Sri ditelingaku. Kami melanjutkan obrolan sambil berbisik, sementara kami tidur sambil saling bergesekan karena sempit, tapi rupanya hal inilah yang diinginkan kita berdua.

Aku merasakan remasan lembut pada tanganku, dan tiba-tiba tanganku ditari ke arah dada mbak Sri sambil menyentuh payudaranya, rupanya mbak Sri tidak memakai BH, tidak tau kapan mencopot pembungkus payudara tersebut, mungkin tadi pada saat mbak Sri ke kamar mandi sambil melepas BH-nya.

Aku tidak tau apa yang harus kuperbuat, rupanya ketololanku bisa ditangkap oleh mbak Sri

“Kok diem saja, gak pingin menyentuh dadaku?” bisik mbak Sri sambil menekan dan menggesekkan tanganku ke payudaranya.

Seerrrrr ….. ada perasaaan aneh saat tanganku bersentuhan dengan tonjolan daging yang terasa hangat, akhirnya aku mencoba untuk menyentuh lembut dada mbak Sri dengan telapak tanganku, terasan gundunkan yang kenyal dan di bagian tengan terasa ada tonjolan halus yang makin lama makin keras setiap kali telapak tanganku mengusap tonjolan itu.

“Sssstttt, geli tapi enak Dri” bisiknya lirih seperti orang kepedesan ditelingaku. Suara rintihan itu membangkitkan semangat pada diriku, aku kembali meremas2 payudara mbak Sri sambil mengusap tonjolan yang sudah sangat keras, dan bibirku mencari-cari bibirnya, kami kembali berpagutan sambil tanganku masih asyik meremas dadanya, meneruskan keasyikan yang tadi kami lakukan di tempat pacaran. Rupanya nafsu makin meningkat pada diri kami, aku merasakan adikku sudah sangat tegang dan berusaha menyembunyikannya, malu, jangan sampai bersentuhan, sementara tanganku makin liar meremas-remas dada mbak Sri sampai tanpa sengaja, beberapa kancing daster mbak Sri copot, maka tanganku tidak lagi terhalah oleh apapun dapat menyentuh langsung gundukan daging hangat yang ternyata sangat menggairahkan untuk di raba.

“Terus Dri, sssttttt …. sssttttt” terdengar suara rintihan seperti kepedasan dari mulut mbak Sri, rupanya nafsu mulai menguasai perasaan mbak Sri, dengan masih tetap berpagutan, terasa mbak menggeser badannya dan menarik badanku sehingga akhirnya aku menindih badan mbak Sri. Mau tidak mau, tesasa adik kecilku menyentuh dan bergesekan dengan tumpukan daging lain di antara selangkangan mbak Sri, karena gesekan itu, kaki mbak Sri makin di buka dan terasa sekali alat kelamin kami saling bergesekan. Sampai akhirnya, terasa dengan kasar mbak Sri meremas-remas bokonngku sambil menekan sehingga gesekan kelamin makin inten.

“Auhhhh …. aduuh… ssttt .. auuu” terdengan rintihan mengeluarkan suara-suara aneh, tangan mbak Sri semakin liar menekan-nekan bokongku yang akhirnya dengan taran yang tiba aku merasakan tekanan tanhan pada bokongku disertai bokongnya mbak Sri yang di angkat sambil di goyang secara brutal.

“ooooooohhhhhhh ……. ooohhhhhhhhh ….. uuuuuhhhhhhh” terdengan lenggukan panjang, yang kemudian saya ketahui belakangan bahwa saat itu mbak Sri telah mengalami orgasme. Cengkeraman mbak Sri mulai mengendur dan mengendur sampai akhirnya sama sekali tidak ada tekanan, rupanya mbak Sri tertidur karena kelelahan setelah menerima kenikmatan yang sungguh luar biasa. Akupun karena lelah ikut tertidur sambil tanganku masih menggenggam dan menempel di payudaranya.

Belakangan aku ketahui bahwa mbak Sri pernah berpacaran dan sampai melakukan ML beberapa kali, maka waktu bersentuhan denganku emosinya cepat sekali terusik dan hanya satu yang diinginkan, terpuaskan, dalam bentuk orgasme.

Demikian sekelumit pengalaman pertama kali tidur di tempat kost-kostan anak putri yang kebetulan telah berpengalaman. Masih banyak pengalaman-pengalaman mengasikkan bersama mbak Sri, tetapi aku mencona menunggu dulu respon, apakah cerita semacam ini banyak yang seneng atau justru sebaliknya.

Mudah-mudahan mbak Sri-ku membaca ceritaku ini, aku gak akan melupakan saat-saat indah bersamamu.

Judul: Istriku nyidam threesome

Author : kuda nil , Category: Pesta Sex

Sudah 3 tahun aku menunggu akhirnya istriku hamil juga. Hasil pemeriksaan dokter dia sudah terlambat 2 bulan, dan dinyatakan bahwa istriku sehat, kehamilannya juga tidak ada masalah.

Karena ini kehamilan pertama otomatis istriku yang cantik, mungil ini sangat manja, belum waktunya ngidam dia sudah minta yang aneh aneh, kemarin dia minta kelapa muda yang harus aku ambil sendiri di pohonnya?what !! tapi demi istri tersayang aku mau juga belajar memanjat, tentu saja memakai tali pengaman.

Tetapi permintaan kali ini membuat aku terperanjat dan bingung bagaimana memenuhinya. Ketika kami asyik tiduran di kamar tiba tiba istriku bicara pelan : ? Mas sebenarnya aku ngidam sesuatu yang agak aneh mas?tapi takut ngomong sama mas. Pasti marah?tapi nggak tahu aku pusing banget, ngidam yang satu ini kayaknya harus bisa jadi beneran ..?

?Ngidam apa sih sayang?kalo bisa aku cari ya tentulah aku cari..? Kataku sambil baca koran.

? Bener nih gak marah..? tapi aku sebenarnya gak mau tapi entah sampe terbawa mimpi mas. Aneh banget. Aku ngidam ini mas…? Rini istriku menyodorkan cakram dvd. ? Hmmm apa nih ma ? hehehehehe jadi pengen bercinta nih ? kalo ngidam begini gampang…mas sekarangpun ok ok aja….? Kataku senyum senyum sambil menyalakan film XXX tersebut di player. Rupanya film tentang cewek disetubuhi rame rame.

?Wah masa pengen bercinta rame rame begini?wah kamu bisa aja ? Kataku sambil asyik nonton film horny tersebut.

Sambil tertunduk istriku berkata pelan : ?itu masalahnya?aku sering mimpi disetubuhi sama cowok cowok ganteng yang berbatang besar gitu mas?aneh ya..apa aku ini sudah gila tapi setiap aku tidur, mimpi itu langsung berputar di kepalaku.?

Sungguh aku terkejut bukan main. Ini tidak main main..ngidam model apa ini ?!

? Nggak ah !! gimana sih kamu?jangan bercanda Rin?? Teriakku marah marah.

Istriku menundukkan kepalanya sambil menangis. ? Habis?aku memang kepengen?gimana hayo??

Permintaannya memang gila dan bikin pusing kepala, sengaja 2 minggu ini aku biarkan. Akibatnya dia menangis tiap malam, aku sama sekali tidak diajak bicara.

Aku benar2 penasaran sebenar yang dia inginkan detailnya bagaimana sih. ? Dik…ok ok…gini gini…sebenarnya kamu inginnya bagaimana sih sayang ? hmmm….?

Sambil masih menangis istriku berbicara tersendat sendat :? aku sebenarnya Cuma ingin di gosok gosok aja kok mas, gak masuk beneran, Cuma penasaran aja gimana rasanya..bener gak masuk dan lagi kan dia nanti pake kondom. Dia nanti juga gak meluk Rini.. boleh ya mas…? Istriku kembali menangis.

Kepalaku benar benar pusing.Jelas aku tidak terima istriku disetubuhi laki laki lain, gila apa…!! Memang sih tidak sampai masuk, tapi kan nempel juga..

Terpikir olehku mending aku cerai saja, tapi menceraikan istri ketika hamil jelas jelas gak bener juga.

Andi temanku yang juga temannya Rini mengerti kesulitanku. ? Ron, itu memang permintaan gila, eh sorry aku gak bilang istrimu gila…tapi itu permintaan yang lain dari pada yang lain.?

Terus aku harus gimana Ndi ? masa aku harus carikan gigolo ? wah..gila apa !!?

Emosiku meledak ledak. ? Atau kamu mau bantu Ndi ?…aku tahu kamu bersih tapi aaahhhh gila, aku gak bisa melihat istriku disetubuhi orang lain.?

?Tenang Ron, kan gak bercinta beneran, cuma nempel doang…mungkin gak terlalu parah sih…dan pake kondom lagi, cukup aman. Mungkin istrimu cuma ingin merasakan gosokan di klitorisnya.? Andi berusaha meredam kemarahanku.

Beberapa hari aku tidak bisa tidur, akhirnya aku bulatkan tekadku, ok lah gak papa, semoga itu hanya keinginan di depan aja, nggak bener bener. Aku tahu karakter Rini, dia memang menggebu gebu di depan tapi kalau di seriusin biasanya gak jadi, semoga saja.

?Dik…ok kita carikan cowok yang bersih ya..trus harus berapa orang ? satu aja kan ? hah tiga ?!! kita coba 1 orang dulu aja gimana ? ok ? ok dua orang aja Kataku berusaha merayu.

Rini bersikeras minta 3 orang..ini membuatku pusing tujuh keliling. 3 orang tidak main main. Aku kawatir berpengaruh di kehamilannya, kalo keguguran gimana ?

Selain itu dia kan belum pernah mencoba bercinta dengan lebih dari satu orang atau apa itu namanya ? threesome ? dan sebangsanya..

Karena aku tidak bisa mencarikan aku serahkan sendiri ke Rini untuk mencari. Aku menyerah…terserah dialah..asalkan dia harus yakin kalo cowok cowok itu bersih..selain itu aku yakin dia Cuma ingin di depan aja, nggak bakalan beneran.

Semula dia tidak mau, alasannya dimana dan bagaimana mencarinya.

3 hari berlalu, aku tiduran sambil mengelus elus perutnya yang masih belum kelihatan hamilnya, Rini berkata pelan :? Mas…aku sudah dapat..aku ajak si Andi, sama Anton aja, mas kan juga kenal kan ?

Lho…aku kapan itu sempat minta tolong Andi, dia gak enak katanya, tapi kalo dia bisa bantu ya gak papa, aku lumayan percaya sama dia, tapi kamu bener bener gak masuk kan ? aku terus terang sangat keberatan kalo terjadi coitus. Cuma gesek gesek aja kan ?? Rini menggangguk angguk kan kepalanya ? Cuma gesek gesek klitoris aja tapi sampe aku orgasme ya mas.

Malam harinya aku diskusi dengan Andi dan Anton :? Aku hanya membantu saja Ron, jangan kuatir, gak bakalan masuk, aku hanya menggesekkan batangku saja, Anton juga sudah setuju dengan rencanaku.? Kata Andi.

Segera aku siapkan tempat tidur, rencananya aku hanya duduk di sebelahnya selama Rini dirangsang. Semoga saja tidak terjadi hal hal yang tidak aku inginkan, sungguh aku berharap ketika cowok cowok ini sudah siap, Rini membatalkan rencananya.

Rini muncul dengan memakai black lingerie dari La Zenza. Puting susunya yang merah muda membayang di balik bra tipis, Sementara stocking hitamnya yang berenda menempel lekat di pahanya yang mulus. Ahhh istriku memang cantik….dadaku bergemuruh karena cemburu.

Andi dan Anton terpaku menatap istriku, mereka tampak sungkan dihadapanku. ? OK lalu aku harus bagaimana ? ? Tanyaku memecah kebekuan.

? ummmm…umm, kalo bisa mas jangan disini dong..aku malu, gimana kalo mas di kamar sebelah aja. Aku gak lama kok…kan cuma menggesek gesek aja gak lebih….kata istriku. ? Dan lagi nanti mas kan bisa melihat dari video yang mas buat.

? Nanti aku akan bener bener jaga Ron..? Kata Anton pelan.

Aku letakkan camera video di meja sebelah tempat tidur. Kemudian sambil berjalan ragu aku berlalu ke kamar sebelah. Sekilas aku melihat Anton menurunkan celana panjangnya.

Di kamar sebelah aku tiduran di tempat tidur dengan gelisah, 5 menit berlalu, aku mendengar suara lirih rintihan istriku yang berulang ulang. 10 menit berlalu…..

Kemudian terdengar derakan tempat tidur yang bergoyang goyang, sedikit terdengar jeritan istriku…mungkin dia orgasme..

Ahh.. hatiku dibakar cemburu yang luar biasa. Kupukul dinding berkali kali karena aku menyesal mengapa menyetujui keinginan istriku. Sungguh bodoh…!!

20 menit berlalu….mengapa mereka lama sekali ? kembali terdengar rintihan dan jeritan panjang istriku. Derakan tempat tidur terdengar bertambah keras.

30 menit…aku tambah gelisah..mengapa lama sekali…45 menit…

Tiba tiba pintu kamarku terbuka, Rini berjalan pelan masuk menyerahkan camera video. Tali lingerie yang kiri terlihat putus sehingga buah dadanya yang ranum menyembul keluar.

? Mas lihatnya nanti aja ya setelah Andi dan Anton pulang…takut kalo mas marah. Nanti malah ribut…? Rini berkata pelan sambil menyeka keringat di lehernya.

Aku lihat Anton dan Andi masih menarik celananya ke atas. Di lantai aku lihat 2 kondom terisi penuh sprema Hhhh…aku menghela nafas…kalau mereka sampai ejakulasi tentu tidak hanya sekedar menggosok klitoris…

?Ron…eeee..tadi..eeee maksudku begini…eeee? Anton tampak kikuk menjelaskan.

? Ok…ok…kalian pulanglah…tidak perlu dijelaskan, aku bisa lihat dari filem ini kan ? thanks sudah merepotkan. Kataku dengan berjalan menuju televisi. Aku tidak sabar ingin segera menontonnya.

Setelah mereka keluar dan Rini menutup pintu depan, dia berjalan dan duduk disampingku sambil berbisik ,? Mas nanti jangan marah ya…mungkin adegannya agak berlebihan… tapi dilihat aja dulu mas…?

Aku diam saja sambil menyalakan TV. Adegan dimulai dengan Anton dan Andi melepas celana panjangnya. Terlihat istriku duduk di tempat tidur. ? ok sekarang kita harus bagaimana Rin ?? Suara Anton terdengar tidak terlalu jelas.

?ummm kalian tiduran aja, nanti aku duduk diatas kalian, gak papa kan ? tapi kalian diam aja lho tangan kalian jangan lari kemana mana…eh jangan lupa pake kondomnya…? Anton mulai rebahan di tempat tidur sementara Rini istriku perlahan mulai menaiki tubuh Anton. Hmmm aku yakin Anton terangsang berat, terlihat batangnya sudah menjulang tinggi padahal masih belum apa apa.

Sekilas Rini memandang camera, kemudian dengan posisi woman on top , tubuhnya perlahan bergoyang maju mundur. Andi duduk terdiam sambil memandang istriku.

Dadaku bergemuruh, tubuhku menggigil melihat istriku memejamkan matanya, aku cemburu karena Rini berusaha mencari kenikmatan dengan batang Anton. Goyangan Rini bertambah cepat dengan diiringi suara rintihan pendek pendek. ? Andi kamu siap siap dong?? Bisik istriku.

Kemudian tubuh istriku berpindah ke atas tubuh Andi. Terlihat batang andi sangat besar, lebih besar dari milikku. Kembali Rini bergoyang di atas batang Andi, kali lebih cepat. Rintihan dari mulutnya makin keras. ? aaahhh nikmat mas?maaf ya mas?aaah nikmat mas?

Tampaknya Anton dan Andi turut terangsang, tangannya mulai bergentayangan ke payudara istriku yang bergoyang indah, berulang kali Rini menepisnya. Kali ini Andi turut menggerakkan tubuhnya naik turun. Kurang ajar?aku khawatir batang Andi masuk ke dalam vagina istriku.

Tubuh Rini makin bergetar. Lenguhannya makin keras. Rintihan histerisnya membuat diriku gemetar. Rini mengayunkan tubuhnya ke depan dan kebelakang menyebabkan rambut panjangnya terlempar kesana kemari. Gerakan tubuhnya makin liar.

Tiba tiba kulihat jemari Rini mengarah ke sela sela pahanya, rupanya dia ingin menggenggam batang milik Andi. Sesuatu kejadian yang tak kuduga terlihat didepan layar. Rini memasukkan batang Andi ke dalam vaginanya !!?

? Ohhh..aku nggak kuat ?please aku gak kuat?masuk ya?? Rini merintih.

? Ahhh jangan Rin..jangan ! ? Andi berusaha melarang tetapi nafsu mengalahkan suaranya. Dan batang besar Andi perlahan memasuk vagina istriku yang licin merekah. Wajah Andi tampak kebingungan dengan berkali kali menghadap ke camera seakan minta maaf bahwa itu bukan kehendaknya.

Aku panik melihat apa yang ada didepan layar, sementara Rini istriku tertunduk merasa bersalah disebelahku. ? Rin?kenapa harus masuk Rin?kamu sendiri yang janji untuk tidak coitus? gimana sih Rin?

Aku kembali melihat ke layar. Batang Andi yang besar tampak keluar masuk dengan cepat. Sesungguhnya meskipun hatiku cemburu tapi pemandangan didepanku sangat menggairahkan. Lekuk tubuh istriku benar benar sexy dan menggairahkan. Gerakan Rini yang naik turun menyebabkan tempat tidur berderak derak. Rupanya ini yang tadi terdengar dari sebelah.

? Andi?kurang cepat?aaahhh lebih dalam dong.. aakhh??Tangan Rini meremas kuat sprei. Anton yang ada disampingnya berdiri dan sepertinya berbisik ke istriku. Yang kulihat istriku hanya mengangguk angguk.

Anton berjalan mengambil kondom di meja rias kemudian perlahan berjalan ke belakang istriku. Andi masih sibuk memompa, sementara Rini lemas merebahkan tubuhnya ke dada Andi. Dengan tenang Anton mengolesi anus istriku dengan pelicin. Apa yang akan dia lakukan ?

Perlahan Anton mengarahkan batangnya ke anus istriku, sambil meremas pinggul dan pantat, dia tekan batangnya memasuki anus istriku. Gila !! aku benar benar shock melihat ini. Kulihat Rini sama sekali tidak protes bahkan wajahnya tampak menikmati. ? Aaaaa?pelan?sakit..!!…pelan pelan ??

Dalam sekejap batang Anton yang tidak terlalu besar sudah masuk semua sampai ke pangkalnya. Tak lama kemudian batang Andi dan Anton bergerak mempompa bergantian.

Rintihan Rini makin keras, lenguhan panjang dan pendek membuat kedua laki laki itu bertambah cepat bergantian mengayunkan batangnya. Vagina istriku mencengkeram erat setiap hentakan dan tarikan batang ANdi. Sementara Anton berulang kali menepuk pantat istriku…sangat menggairahkan !

Aku terpesona melihat kondisi istriku saat itu. Disebelahku Rini pun terpaku melihat dirinya sendiri di layar TV. Derakan tempat tidur semakin cepat bergantian dengan jeritan pendek istriku, menahan kenikmatan. Rini mengimbangi pompaan dua pria itu dengan goyangan dan geliat pinggulnya.

Rini benar-benar mengerahkan seluruh tenaganya untuk menggapai kepuasannya. Bermenit-menit telah lewat, gerakan mereka tidak nampak mengendor. Aku yakin Rini mendapatkan multi orgasme. Mungkin orgasme beruntun yang sangat panjang. Dan dia belum akan berhenti. Kepalaku makin lama makin pusing melihat layar. Semuanya terasa bergoyang.

Dalam keadaan telanjang dan mengkilat karena keringatnya, istriku menggelinjang, menciumi dada berbulu Andi. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat mendebarkan dan amat erotis. Tidak heran dengan cepat Anton dan Andi mengalami ejakulasi?? Rinnnn?aku keluar.!! ? TEriak Anton. Dengan cepat Andi mengikuti ? Aku jugaaaa!!!? Andi tidak mau kalah.

Tak lama kemudian kedua laki laki itu menggelepar di sebelah istriku. Dada istriku naik turun menahan nafasnya yang memburu. ? Andi?tolong masukkan lagi please?aku belum puas?

Andi bangkit kembali?hmmm rupanya dia masih kuat. ? Lepas kondomnya Di..gak usah pake…panas..ayo cepet ! ?

Aku terkejut, bagaimana mungkin istriku mengijinkan Andi menyetubuhinya tanpa kondom. Dengan segera Andi menghunjamkan batang raksasanya ke vagina istriku dalam dalam. Mataku mendadak kabur…

Aku memandang Rini disebelahku…,? Dek…sebenarnya kamu ini nyidam apa enggak sih ? kok jadi begini ceritanya ? ?

Rini masih tertunduk,? Maaf mas…maafkan aku…sebenarnya dulu sebelum menikah dengan mas, kami sudah sering main bertiga.?.Bisiknya.

Aku melihat kembali ke layar kaca kembali, tampak sekarang Anton memuncratkan spermanya ke mulut istriku. Kepalaku tambah pusing.

Jadi selama ini kalian berakting didepanku ? Ok Ok sekarang panggil mereka…cepat panggil mereka lagi !! jadi adek nggak nyidam kan sebenarnya ?! …aku mau kalian bercinta lagi di depanku ! langsung ! tapi aku juga ikutan main !! ? Teriakku ke istriku.

? Kita main ber empat ok ?! Dan aku mau nonstop sampe pagi ! Sekaraang !?

Istriku memandangku dengan takut?kemudian perlahan mengangkat HPnya.

Kepalaku rasanya ingin pecah. Jadi istriku selama ini selalu bercinta bertiga dengan mereka ? kenapa aku tidak curiga selama ini ? seharusnya aku sudah curiga ketika Rini sudah tidak perawan di malam pertama. Seharusnya aku curiga ketika Andi dan Anton bersedia mengantarkan istriku ke Surabaya kapan itu. Aaaaaarrrgghhhh !!!! sungguh bodoh diriku !!!

Judul: Nikmatnya Teman Pacar

Author : Gundalgandul , Category: Umum

Sejak berpacaran dengan Lina, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas terkemuka di Bandung, yang berbeda dua angkatan dengannya, Andi mulai bergaul dengan teman-teman Lina. Aktifitas Lina membawanya sering berkumpul dengan anak-anak Hukum yang seperti teman-teman baru bagi Andi. Kenyataan ia satu-satunya anak Ekonomi saat berkumpul dengan teman-teman Lina membuatnya mudah dikenali. Dari sering berkumpul ini pula ia mulai kenal satu persatu anak Hukum. Sikapnya yang mudah bergaul membuat ia juga diterima dengan tangan terbuka oleh komunitas anak-anak Hukum.

Sebagai anak Ekonomi dan punya pengalaman organisasi lebih banyak dibanding teman-teman Lina, membuatnya sering memberikan wawasan baru bagi anak-anak Hukum angkatan Lina. Di sini juga ia menjadi kenal Lira, yang sama seperti teman Lina yang lain, sekedar kenal dengannya. Lira sering ikut datang karena statusnya sebagai pacar Boy, salah satu pentolan angkatan Lina. Tidak ada perhatian khusus Andi kepada Lira, kecuali tentu saja, sebagai laki-laki normal, dadanya yang super. Meski bersikap biasa kepada Lira dan cenderung bersikap sama terhadap teman Lina yang lain, kelebihan pada tubuh Lira kerap membuatnya tak kuasa melirik lebih dalam, terutama saat Lira memakai baju yang memamerkan lekuk tubuhnya secara sempurna, apalagi kulit Lira putih bersih dan mulus.

Perkenalan lebih terjadi saat Lina meminta Andi mengantarnya ke kost Lira karena perlu meminjam bahan kuliah. Saat itu pun Andi masih belum sadar Lira itu siapa, dan baru paham setelah disebutkan pacar Boy. Meminjam buku menjadi waktu bertamu yang lebih lama setelah Andi dan Lira ternyata punya selera musik yang sama. Obrolan itu masih dalam batas koridor pertemanan, hanya bedanya setelah itu, Andi jadi lebih ingat siapa Lira, paling tidak namanya. Lira sendiri sebetulnya bukan teman akrab Lina. Bisa dikatakan beda gank, tapi hubungan mereka baik.

Aktifitas mengantar Lina ke kampus pun kini menjadi lebih menyenangkan bagi Andi karena ia sering bertemu Lira. Namun, sekali lagi ini sebatas karena mereka punya selera musik yang sama. Paling tidak, saat menunggu Lina berurusan dengan orang lain, terutama di lingkungan organisasi mahasiswa kampus, Andi punya teman ngobrol baru yang nyambung diajak ngobrol. Lina pun merasa beruntung Andi mengenal Lira karena ia jadi lebih santai mengerjakan sesuatu di kampus terutama jika ia minta Andi menunggunya.

Sampai tiba masa-masa sibuk di organisasi mahasiwa Hukum yaitu pemilihan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa. Rapat-rapat sering digelar untuk merumuskan strategi kampanye. Kasihan kepada Andi, pada suatu hari Lina tidak minta ditunggu lagi oleh pacarnya itu, tapi ia minta dijemput lagi pukul empat sore, dua jam setelah rapat dimulai. Andi pun memutuskan untuk menunggu di kost-an salah satu teman yang kost di dekat kampus. Sayang, saat tiba di kost-kostan tersebut temannya sedang keluar. Tak habis akal ia menuju kost-an temannya yang lain. Namun, jalan ke kost-an temannya itu melewati kost-an Lira. Dari jalan, yang hanya berjarak sekitar 15 meter dari deretan kamar kost tersebut. Ia melihat Lira keluar dari kamarnya hendak menjemur handuk. Andi melambatkan motornya dan berharap Lira melihat. Dan, harapannya terkabul. Ia akhirnya memutuskan main di kost Lira sembari menunggu Lina selesai rapat.

“Lina lagi rapat ya?”

Lira membuka pembicaraan sambil sibuk menata rambutnya yang basah. Ia mempersilakan Andi duduk di atas karpet karena di kamarnya memang tidak ada kursi. Semua perabot terletak di bawah termasuk sebidang meja kecil tempat Lira belajar.

“Iya. Loe kok ngga ikut Lir?”

“Males. Gue tau pasti lama. Lagian sekarang kan yang rapat pentolan aja.”

“Boy di sana juga?”

“Iyalah, dia kan proyeknya. Masa’ dia ngga dateng. Ini juga gue lagi nungguin dia. Janjian ntar gue jemput jam enam, mau nonton.”

Andi baru sadar kalau ini adalah malam Minggu dan ia belum punya rencana. Dari tadi pandangannya tidak lepas dari rambut ikal sebahu Lira yang basah habis mandi. Ia hanya bisa menelan ludah melihat Lira yang seksi sekali dalam kondisi seperti itu. Aroma yang cukup familiar baginya merebak dari rambut Lira yang masih basah.

“Shampo loe shampo bayi ya, Deedee kan, rasa strawbery?”

“Hahaha, kecium ya, kok tau sih?

“Yah, elo Lir, gue kan juga pake Deedee. Cemen yah?”

“Buset, orang kayak loe shamponya Deedee? Lina yang mau apa emang elo yang suka?”

“Gue udah pake shampo itu sejak SMA,”

“Hihihi…, geli gue, lucu aja, liat loe shamponya Deedee,” ledek Lira sambil tertawa geli.

Keduanya terdiam sesaat. Sampai tawa Lira berderai lagi.

“Kok sama lagi sih. Kita emang udah jodoh ketemu kali nih. Jodoh jadi temen gitu maksud gue.”

Lira berusaha meluruskan kalimatnya karena sadar perkataannya bisa diartikan berbeda. Keduanya memang saling nyambung awalnya karena punya selera musik yang sama.

“Mungkin kali ya…., loe bocor sih,” sahut Andi terkekeh.

Obrolan pun terus berlanjut mengalir seperti sungai. Lira yang cerewet selalu punya bahan pembicaraan menarik demikian pula dengan Andi. Uniknya obrolan tersebut selalu nyambung. Di tengah ngobrol Andi sekali-sekali melirik dua tonjolan di dada Lira yang luar biasa ranum. Soal cewe, selera Andi memang yang memiliki dada besar. Ia sudah bersyukur punya Lina yang berdada lumayan berisi, namun melihat Lira, rasanya rugi kalau diabaikan, membuat darahnya berdesir kencang.

Saat melihat dari jalan tadi, Andi menemukan Lira hanya memakai kimono mandi dan sedang menjemur handuk. Ia sempat diminta menunggu cukup lama oleh Lira karena harus berpakaian dulu. Harapannya, Lira keluar dengan pakaian lebih tertutup, tapi yang didapati adalah Lira hanya memakai tank top putih yang memamerkan ceplakan branya dengan jelas hingga renda-renda di dalamnya berikut celana pendek yang membuat 3/4 pahanya terbuka.

“Eh, Lir, gue mo nanya nih….”

“Apaan?”

“Tapi jawab jujur ya….”

“Apaan dulu??

“Ya ini gue mo nanya?.”

“Oke, jujur….”

“Anak-anak Hukum sebetulnya risih ngga sih gue sering ngumpul bareng mereka.”

“Angkatan gue??

“Iya.”

“Jujur kan?…Ngga, yakin gue. Eh, tapi maksudnya ngumpul karena loe nemenin Lina kan?”

“Iya.”

“Ya ngga sama sekali. Yang suka sama loe banyak kok.”

“Bener loe? Kalo cowo-cowonya gimana?”

“Ngga juga. Kenapa sih? Ya kalo ada paling yang dulu naksir Lina tapi keserobot elo?hahahaha….”

“Sialan loe?, serius nih gue.”

“Gue juga serius. Bener kok, percaya deh sama gue.”

“Mereka, terutama yang cewe, malah yang gue tau pada keki sama Lina.”

“Keki kenapa? emang salah gue apa?”

“Maksudnya keki soalnya Lina dapet cowo kayak elo.”

“Emang gue kenapa?”

“Ya?loe kan sabar banget tuh mau nungguin Lina, terus gabung sama kita-kita, maen bareng?”

“Gitu ya…?”

“Iya pak Andi. Nih ya, gue kasih bandingan: cowo gue yang dulu, itu sama sekali ngga mau gabung. Sebates nganterin gue aja. Sombong banget, kayak ngeliat apaan gitu kalo kita ngumpul. Ngga tau, pembawaan anak teknik kali ya, berasa pintar sedunia.”

Lira nyerocos tapi dari sorot matanya terlihat ia sangat serius.

“Dulu gue tuh sering nahan hati soalnya cowo gue itu diomongin terus sama temen-temen gue. Sombong lah, belagu lah. Ya mereka sih ngomongnya baik-baik, minta gue ajak dia bergabung. Tapi cowo gue ngga mau gimana. Jadi serba salah kan?”

“Anak teknik? Dani maksud loe?”

“Betul pak! Dani. Mungkin juga karena ketuaan kali ya? Tapi ngga tau ah! Nah, ketika loe masuk dan mau mencoba berbaur. Temen-temen gue, ngga cewe ngga cowo, jelas seneng. Apalagi loe bisa nyambung. Yang cowo respek sama loe, yang cewe,….hihihi, demen.”

Lira sengaja hanya sampai kata itu. Sebetulnya ia ingin bilang ke Andi bahwa anak-anak, cewe-cewe tentunya, banyak yang naksir Andi.

“Demen apaan?” Andi berusaha memaksa Lira memperjelas omongannya sambil tergelak.

“Ya demen…ih, loe GR ya?” kata Lira sambil menunjuk Andi.

“GR apaan? kan gue cuman minta diperjelas,”

“Nih ya, ada satu temen gue yang bilang berharap banget loe putus sama Lina. Katanya, gue mau deh, biar bekas temen juga…tuh…”

“Yang bener loe? Siapa?”

“Ngga usah gue kasih tau. Kalo perasaan loe peka, loe pasti tau deh! Eh, bener tuh, dalem hati loe pasti seneng juga kan disenengin cewe-cewe….hahaha.”

“Sialan loe!” balas Andi sambil terkekeh.

Tanpa sadar, Andi mendorong paha kiri Lina. Sejak perkenalan pertama mereka saat ngumpul bersama teman-teman yang lain sepuluhan bulan yang lalu. Baru kali ini mereka benar-benar saling bersentuhan secara fisik. Meski sebuah sentuhan tanpa maksud apa-apa, tak kurang Lira tertegun sejenak. Syaraf sensorik di pahanya seperti mengalirkan sesuatu yang menbuatnya berdesir. Hampir tidak ada yang tahu, bagian yang didorong dan disentuh Andi justru bagian paling sensitif pada Lira, bagian yang mampu mengalirkan perasaan erotik dalam diri cewe berumur 20 tahun itu.

Lira berusaha tidak memandang mata Andi, tapi ia tak kuasa menahannya. Rangkaian kejadian yang hanya berlangsung sekitar satu detik itu seperti membuat tubuhnya mengalirkan darah demikian cepat.

“Eh, Lir, sorry ya kalo terlalu keras. Ngga sakit kan?”

Kali ini Lira malah berharap Andi kembali menyentuhnya. Desiran akibat sentuhan tak sengaja tadi benar-benar membuatnya merasakan sensasi yang selama ini belum pernah ia rasakan. Tapi, ia berusaha mengendalikan diri. Pahanya yang merinding tersentuh tangan Andi berusaha ia tutupi.

“Ngga kok Ndi, ngga papa, cuma kaget.”

“Aduh, gue jadi ngga enak. Bukan maksud gue mau lancang ke loe kok, Lir reflek aja.”

“Iya gue tau,” Lira berusaha menahan agar mulutnya tidak mengatakan bahwa bagian yang Andi sentuh adalah daerah paling sensitif dari tubuhnya.

Andi benar-benar jadi tidak enak dan salah tingkah. Lira bukan tidak menyadari hal tersebut. Ia kini paham, Andi memang bukan tipe cowo yang suka merayu perempuan, bukan cowo yang suka pegang-pegang perempuan sembarangan. Memang tidak salah teman-teman di kampusnya banyak yang suka pada Andi. Sikapnya gentleman banget, sama sekali tidak terlihat dibuat-buat. Dan, kenyataannya Andi memang benar-benar menyesal telah berlaku kasar, menurut ukurannya, kepada seorang perempuan. Ia adalah laki-laki yang paling tidak bisa berbuat kasar pada perempuan.

“Gue juga termasuk yang dongkol sama Lina, kenapa gue justru nyambung sama cowo-nya…hahaha,” Lira berusaha mencairkan suasana dengan melontarkan joke yang sejujurnya ngga lucu.

Andi pun tertawa meski masih agak dipaksa. Ia benar-benar merasa bersalah karena tanpa terkontrol menyentuh paha Lira terlalu dalam. Maksudnya hanya pengakuan ‘kekalahan’ karena didesak soal banyak perempuan yang menyenanginya. Sejujurnya ia juga suka Lira karena ia anggap perempuan yang suka bicara tanpa basa basi, apalagi dengan orang yang ia rasa bisa membuatnya nyaman. Sikapnya itu membuat Andi merasa lebih dekat dengannya, meski dengan dasar suka sebagai teman.

Dari sisi laki-laki, Andi juga terkesiap dengan sentuhannya itu. Ia jadi menyadari Lira memiliki tubuh yang kencang dengan kulit yang halus. Benar-benar membuat kelaki-lakiannya bangkit. Ingin rasanya berbuat lebih dari itu. Tapi ia tidak tahu harus bagaimana. Ia juga sadar, situasi seperti ini sudah cukup sebagai tanda bahaya bagi dua insan berlainan jenis yang berada dalam satu ruangan. Hanya ia juga tak kuasa dan tak mengerti bagaimana menghentikannya. Langsung pergi, jelas akan membuat Lira marah, ia bisa menangkap bahwa Lira tidak menginginkan itu.

Masih diliputi perasaan tak menentu dan membuatnya tertegun seperti patung, Andi terkejut ketika Lira sudah menjulurkan tangan dan meraih tangannya. Tapak tangannya digenggam kedua tangan Lira dan diarahkan ke bibirnya. Dalam keadaan terbuka, Lira menciumi perlahan-lahan permukaan telapak tangan kanannya. Andi benar-benar tegang bercampur kaget. Ia tahu itu sudah lebih dari sekedar pertanda Lira menginginkan sesuatu, lebih dari sekedar sentuhan tanpa sengaja. Lira pun bukan tanpa maksud seperti itu. Ia sadar antara dirinya dan Andi baru benar-benar kenal beberapa bulan belakangan. Tapi, akal sehatnya tak kuasa menahan keinginannya untuk disentuh lebih dalam oleh Andi.

Andi benar-benar bimbang. Ia tahu, Lira sudah membuka gerbang dan kini dialah yang harus memainkan bola. Semua ada di tangannya. Di antara bimbang untuk meneruskan, yang artinya ia dan Lira sudah melanggar komitmen pada pasangan masing-masing, atau menghentikan, yang artinya ia bisa kehilangan kesempatan merasakan sesuatu yang selama ini sering membuat badannya bergetar dan hanya ia lampiaskan pada Lina, tangannya seperti bergerak sendiri membelai pipi kiri Lira. Jantung Andi berdegup kencang, bukan lagi takut Lira akan menolak, tapi sadar ia telah membuat sebuah pilihan penuh resiko tapi pasti sangat menyenangkan.

Lira tersenyum. Merasakan belaian lembut jemari Andi di pipinya. Andi pun bergerak menyisir leher dan tengkuk Lira. Sampai di punggung, tangan kirinya ikut merangkul Lira dan seketika keduanya sudah berpelukan. Lira membenamkan seluruh tubuhnya ke Andi. Pelukannya bahkan lebih kuat dari Andi dan pantatnya ia geser mendekat. Keduanya masih duduk di lantai beralaskan sebuah karpet tebal berwarna merah. Andi mengangkat wajah Lira perlahan. Ia bisa melihat Lira tersenyum bahagia merasakan kehangatan tersebut. Andi sadar, ia melakukannya bukan untuk mengejar perasaan Lira, tapi lebih pada nafsu. Nalurinya sebagai laki-laki berkata bahwa ini adalah kesempatan merasakan nikmatnya tubuh seksi Lira yang selama ini sudah ia kagumi. Dalam hati ia terus membatin untuk tidak tanggung-tanggung dan ragu. Ia bertekad menunjukkan pada Lira bahwa ia memang laki-laki sejati. Sambil mulai menjilati daun telinga Lira, Andi berusaha membisikkan kata-kata rayuan ke telinga Lira.

Glek! Mulutnya justru seperti terkunci. Semuanya sangat sulit untuk dikatakan. Balasan Lira hanya sebuah erangan manja berikut usapan halus disekujur punggung Andi. Tanpa ragu ia mendekatkan bibirnya yang merekah menyentuh bibir Andi. Halus, lembut dan perlahan penuh perasaan, keduanya saling mengulum bibir lawannya. Berpagutan dan saling bertukar lidah membuat suasana semakin hangat.

“Ndi…,” Lira berusaha mengontrol dirinya. Ia ingin terus merasakan belaian laki-laki yang dikaguminya itu.

Andi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia paham ini adalah titik kebimbangan Lira. Memaksa Lira menyelesaikan apa yang ingin dikatakannya sama saja berpeluang menghentikan semuanya. Ia terus mencium Lira penuh kehangatan. Tangannya mulai menggerayangi sisi kiri tubuh Lira dan berbalik ke atas menuju sebuah bongkah daging keinginan setiap laki-laki. Ia mulai dengan meraba permukaannya halus dan meremasnya pelan. Persis seperti yang ia lakukan pada Wita, sahabatnya, beberapa tahun silam. Perbuatan berdasarkan naluri yang membuat ia dan Wita hampir mengakhiri persahabatan erat yang mereka bangun sejak masuk kuliah, runtuh hanya bersisa nafsu.

Andi seperti merasakan kembali sensasi itu. Sensasi bercumbu dengan perempuan yang rela menyerahkan tubuhnya secara total pada dirinya. Sesuatu yang justru tidak ia rasakan saat melakukannya pertama kali dengan Lina. Status berpacaran membuat mereka mudah melakukan apapun seperti ciuman, pelukan, bahkan rabaan. Andai dulu ia mengabaikan pertanyaan Wita apakah mereka benar melakukan hal tersebut, ia dan Wita saat ini pasti sudah tak ubahnya dua insan yang saling mengejar nafsu. Tidak ada lagi keindahan persahabatan dan keagungan sebuah kedekatan yang tidak dilandasi nafsu, murni sebuah kasih sayang dua manusia yang saling membutuhkan.

Tapi dulu tindakannya tepat. Karena, ia dan Wita lebih membutuhkan hubungan tanpa berlandaskan nafsu birahi. Walaupun akhirnya ia dan Wita menghentikan semuanya sebelum keduanya bersatu dalam sebuah persetubuhan, perlu waktu berbulan-bulan untuk membangun kembali landasan yang telah mereka hancurkan sendiri.

Kini, terhadap Lira, semuanya berbeda. Tidak ada halangan untuk melakukannya saat ini. Benar atau salah, itu soal nanti, karena saat ini nafsulah yang melandasi hubungan dirinya dengan Lira. Lira bukan teman dekatnya. Sejak awal ia tertarik pada Lira karena tubuh Lira yang menggoda iman. Kalau kemudian ia menjadi dekat dengan Lira karena sesuatu hal, itu tak ubahnya alat untuk masuk ke dalam perasaan Lira.

Remasannya ke dada Lira semakin kuat. Tanpa ragu, ia menyisipkan jarinya dari sisi atas untuk merasakan langsung lembutnya bongkahan indah itu. Lira mengerang dan berusaha mendekap Andi lebih kuat. Tangan Andi meremasnya makin kuat dan semakin ia merasakan betapa kencangnya dada Lira. Kencang, halus dan terawat. Ia pun kagum kepada Lira yang menyadari bahwa bagian tubuhnya yang sedang remas Andi adalah daya tarik utama dirinya, terbukti dari hasil perawatan yang dilakukannya itu. Sembari tangan kanannya meremas dada Lira, dan lidahnya menjilati leher Lira. Tangan kirinya membuka pengait bra di belakang. Sekali terbuka, kedua tangannya menyusup dari bawah dan mengangkat pakaian Lira melewati leher.

Dan sekejab ia langsung bisa melihat bukit besar menantang itu langsung di depan matanya. Sejenak ia kembali mengagumi keindahan yang terpampang di depan matanya itu. Dua bongkah daging yang sejak setahun lalu membuat dirinya kerap tak bisa tidur. Tak berlama-lama puting susu Lira sudah menjadi sasaran mulutnya. Kuluman bibir, gigitan kecil plus sapuan lidah membuat Lira terlonjak tak bisa menahan diri. Badannya menegang setiap Andi menghisap putingnya. Ingin rasanya Andi mengecup kuat area di kulit yang menutupi tonjolan dada Lira, tapi ia sadar hal tersebut akan mempersulit posisi Lira. Apalagi Lira memohon dengan suara lirih.

“Jangan ada…bekasnya…Ndi….”

Dua bukit besar itu seperti mainan baru bagi Andi. Ia juga sering merasakannya dari Lina, tapi yang disodorkan Lira dua kali lebih nikmat. Lina juga keras dan kencang, tapi tidak sebesar Lira. Besar tapi masih proporsional. Ia bisa merasakan puting Lira menyentuh telinganya saat ia berusaha membenamkan kepalanya ke sela-sela di antara dua bukit tersebut.

Erangan pelan mulai terdengar keras keluar dari mulut Lira. Nafas Lira mulai memburu dan matanya terpejam. Mulutnya sedikit terbuka dan setiap isapan Andi di putingnya mengeras, kepalanya terlonjak ke belakang. Tangannya hanya bisa menekan kuat punggung Andi. Kendali dirinya benar-benar sudah hilang tertutup kenikmatan isapan dan sapuan lidah Andi di kedua payudaranya. Bahkan angin dingin khas kota Bandung yang kencang dari luar sudah tak terasa lagi di kulitnya. Tak hanya Lira yang terlena, Andi pun semakin bernafsu menggarap buah dada Lira yang menggairahkan itu. Sensasinya seperti mendapatkan sebuah mainan baru. Ia menjelahi setiap titik buah dada Lira tanpa terlewatkan. Ia ingin tahu reaksi apa yang diberikan Lira setiap ia menjelajah setiap permukaan buah dada itu.

Keduanya sedikit tersentak ketika pintu kamar Lira tertutup sendiri tertiup angin kencang dari luar. Andi terdiam dan memandangi Lira sesaat.

“Geblek, lupa ditutup….”

Andi langsung bangkit dan memeriksa keadaan di luar dari jendela, apakah ada mata-mata tersembunyi yang menyaksikan perbuatan mereka.

“Kunci Ndi…, sekalian korden…”

Sebut Lira dengan suara parau dan lemah.

Lira langsung menggamit lengan Andi dan memeluk laki-laki itu dan menempelkan keningnya ke dada bidang penuh bulu itu. Menunduk, ia bisa melihat puting buah dadanya menempel di atas perut Andi.

“Ndi…, tolong…,”

Ia melepaskan tangan Andi yang mengusap-usap halus punggungnya. Tangan kanannya membimbing tangan Andi ke arah selangkangannya. Ia merasakan sendiri sedikit demi sedikit kewanitaannya mulai basah mengalirkan cairan hangat. Ia tahu persis telah dihinggapi nafsu.

Sejenak Lira was-was. Ia takut Andi melakukannya tindakan bodoh seperti laki-laki lain yang tidak peduli fase-fase seksualitas wanita. Ia ingin dilayani juga sebagai makhluk yang juga memiliki nafsu. Selama ini, yang ia alami hanya melayani keinginan laki-laki tanpa ada balasan dari laki-laki itu.

Tapi kekhawatirannya segera lenyap saat Andi menyambut bimbingan tangannya dan mulai aktif menggerayangi daerah kewanitaannya. Dimulai dengan usapan lembut di atas daerah vaginanya yang masih tertutup dua lapisan, celana dan celana dalam. Dilanjutkan gosokan sedikit keras yang menekan alat genitalnya. Sekali lagi, saat Andi menyentuh paha bagian dalamnya, darahnya berdesir kencang, nafsunya semakin melonjak.

Aliran darah seketika seperti mengalir deras di tengah-tengah selangkangannya. Andi pun tak mau berlama-lama menunggu. Sekali tarik, ia meloloskan celana pendek dan celana dalam yang membuat Lira makin tak berdaya telanjang bulat. Tangan Andi mulai mengusap-usap klitoris dan bagian luar vaginanya. Rasanya seperti melayang setiap sapuan jemari Andi mengenai alat kelaminnya itu. Dipadu permainan lidah di putingnya, Lira semakin lemah tak berdaya. Lututnya terasa lemas yang membuat Andi semakin mudah menjelajahi daerak kemaluannya karena menjadi terbuka.

Tak tahan melakukannya sambil berdiri, Lira memundurkan tubuhnya dan menjatuhkan badannya ke ranjang. Lututnya ditekuk dan kedua pahanya ia buka lebar-lebar. Andi melepas sendiri kaus yang dikenakannya dan tak menyia-nyiakan pemandangan indah bibir-bibir vagina berwarna coklat muda yang terpampang di depannya. Bulu-bulu kemaluan Lira sangat terawat karena terlihat dari cukuran yang rapi. Bulu-bulu itu hanya tersisa di atas klitoris dan panjangnya tidak ada yang melebihi satu milimeter.

Sambil memeluk pinggang Lira dengan tangan kiri, ia mulai memainkan jari kanannya di seluruh permukaan kewanitaan Lira. Pengalaman dengan Lina mengajarkannya untuk tidak langsung memasukkan jari ke dalam vagina. Ia lebih mementingkan usapan di klitoris. Dengan ibu jari dan jari tengah, ia membuka kulit penutup klitoris. Jari telunjuknya mulai meraba-raba permukaan klitoris yang menyembul berwarna merah muda. Lonjakan pantat Lira terasa kuat setiap ia mengusap klitoris itu dibarengi erangan keras dari mulut Lira. Lira meremas-remas sendiri buah dadanya. Ia menahan kenikmatan luar biasa yang dirasakannya.

Puas jemarinya memainkan klitoris Lira, lidahnya mulai bergabung. Setiap jilatan sanggup membuat Lira menjerit. Kedua pahanya berusaha menjepit kepala Andi yang membuat Andi semakin ganas memainkan lidahnya. Sesekali permainan itu ia gabung dengan isapan keras klitoris Lira. Tak usah ditanya reaksi Lira karena perempuan muda itu semakin berisik mengeluarkan erangan dari mulutnya.

Rasanya memang gila permainan mereka, karena jika erangan Lira terdengar sampai keluar, entah apa yang akan terjadi.

Andi sudah mengarahkan lidahnya turun menuju vagina Lira ketika Lira menahan tubuh Andi dan bangkit meraih kancing celana Andi dan melepasnya. Bersama celana dalam, satu sorongan ke bawah langsung menjulurkan batang kemaluan Andi yang sudah mengacung sejak tadi. Lira tahu, apa yang mereka lakukan adalah perbuatan bersama dan kini gilirannya membelai, mencium, menjilat, dan meremas milik Andi. Tak canggung ia menggenggam penis Andi yang mengacung keras. Kedua tangannya mengenggam bersama, terasa besar dan penuh penis itu memenuhinya.

Satu kocokan, kini giliran Andi yang terpaksa memejamkan mata merasakan nikmatnya genggaman tangan halus nan hangat itu. Dari bawah, Lira melirik ke atas dan tersenyum kepada Andi yang berlutut di kasur. Ia paham arti senyum balasan Andi. Tanpa berlama-lama lagi, ia lumat batang tersebut di dalam mulutnya. Sedikit gigitan, ia jilat seluruh permukaannya yang mengkilat itu. Urat-urat di sekujur penis Andi semakin membuat nafsunya memuncak. Ingin rasanya segera merasakannya merayap di dinding vaginanya. Andi terengah merasakan isapan dan kulumannya. Masih ada sedikit rasa dongkol pada Lina, kenapa temannya itu yang bisa mendapatkan laki-laki yang mampu menggetarkan hati setiap wanita itu.

Di tengah usahanya memasukkan seluruh batang kemaluan Andi kemulutnya, Lira hampir tersedak karena ujung kemaluan Andi menyentuh pangkal rongga mulutnya sementara di luar masih tersisa. Ia semakin bernafsu mengulum penis ini. Pelan tapi pasti ia keluar masukkan penis itu di mulutnya. Lidahnya ia sentuhkan ke ujung penis yang kokoh itu. Ia paham laki-laki amat senang diperlakukan seperti itu. Terlihat dari paha Andi yang semakin terbuka membuat penisnya makin mengacung kencang. Seketika ia melihat penis Andi, Lira langsung merasakan rangsangan semakin besar dalam dirinya. Tanpa ragu ia berusaha memberikan pelayanan sempurna pada Andi, laki-laki yang sanggup membuatnya panas dingin meski hanya beradu pandang. Ia ingin Andi merasakan kenikmatan terdalam pelayanan perempuan.

Lira memang tidak salah karena Andi pun mulai merasakan apa yang diharapkannya. Baru kali ini Andi merasakan perlakuan total perempuan selain Lina terhadap dirinya. Apalagi saat Lira mulai menjilati dan mengulum kantung buah zakarnya. Semuanya terasa berbeda, benar-benar sensasi yang memabukkan. Selain merasakan nikmatnya kuluman dan isapan Lira, pemandangan indah sekaligus ia dapatkan. Posisi Lira yang merangkak setengah menunduk membuat bongkahan pantatnya menjulang ke atas. Pasti nikmat membenamkan penisnya ke kemaluan Lira sekaligus menggenggam dan mengusap pantat yang padat dan berisi itu.

Lira merasa belum cukup ketika Andi menarik lengannya. Tapi, ia mengikuti saja keinginan pujaan barunya itu dan menyambut kecupan hangat Andi di bibirnya. Ia merebahkan tubuhnya sembari menarik Andi. Lira sudah tahu kelakuan laki-laki. Jika sudah menarik dan merebahkan tubuh perempuan berarti laki-laki itu sudah ingin melakukan penetrasi.

Namun, dugaannya meleset. Andi justru merebahkan badannya di sisi Lira. Berbaring miring, Andi mengisap lagi buah dadanya. Lira semakin kagum akan laki-laki yang satu ini, benar-benar penuh kendali diri. Ia semakin kaget ketika jemari Andi mulai bermain lagi di sekitar kemaluannya. Kali ini usapannya sedikit keras dan cepat menggosok klitorisnya. Lira menggelinjang menerima perlakuan Andi. Benar-benar laki-laki penuh misteri, pikirnya.

Laki-laki sempurna, pikir Lira menyadari betapa beruntungnya ia berhasil mendapatkan Andi seperti sekarang. Bisa mendapatkan lagi sesuatu yang dulu hilang direnggut kejamnya Dani terhadap dirinya. Kalau saja ia tahu Dani hanya mempermainkannya saat itu, tidak akan ia mau menyerahkan semua kehormatannya kepada laki-laki brengsek pengecut itu. Rasanya muak hatinya mendengar semua orang membicarakan perkawinan Dani saat ia baru dua bulan memadu kasih dengan laki-laki keparat itu.Untung Boy hadir sebagai penyelamat. Ia sayang pada laki-laki ini, tapi kadang perasaannya tak tega melihat kebaikkan hati Boy.

Tapi kali ini ia ingin total merasakan kehangatan Andi. Kekagumannya membuat ia semakin senang akan apa yang dilakukan Andi padanya saat ini. Menikmati usapan jemari Andi yang cepat itu membuatnya ia sanggup melupakan semua pikirannya pada dua laki-laki yang telah sempat mengisi relung hatinya.

Di tengah lonjakan-lonjakan kecil menikmati permainan Andi, tiba-tiba ia merasakan sekujur tubuhnya sebuah rambatan energi tiada tara yang membuat sejenak dirinya seperti melayang. Suara-suara di sekitarnya seketika seperti lenyap, hanya terasa desiran tiada tara yang membuat tubuh sempat terbujur kaku sejenak dan berikutnya terlonjak-lonjak demikian kuat yang semakin lama semakin melemah frekuensi dan intensitasnya. Matanya terpejam, ia baru saja merasakan sensasi terbesar yang belum pernah sekalipun ia rasakan dengan laki-laki lain. Liang vaginanya pun terasa berdenyut lebih kuat dan saat semuanya belum mereda, Andi sudah menindih tubuhnya. Ia bisa merasakan bobot tubuh Andi terutama di bagian bawah pinggangnya. Tangan Andi sudah tegak di sisi buah dada Lira kekar menopang badannya sendiri. Ia bisa merasakan bagian tubuh bawah Andi bergerak-gerak berusaha mengarahkan acungan penisnya. Lira pun langsung meraih penis nan kokoh itu dan membimbingnya ke ujung vaginanya.

Andi tersenyum dan Lira membalasnya dengan senyuman manis diiringi anggukan penuh kepasrahan tanpa paksaan. Terasa Andi mendorong kuat pantatnya dan Lira juga bisa merasakan rengsekan batang kemaluan Andi di dinding vaginanya. Sungguh halus dan penuh perasaan Andi memasukkan penisnya ke vagina Lira. Perlahan cairan di dalam vagina melumasi permukaan penis Andi. Tak ada rasa sakit sama sekali meski penis tersebut lebih besar ketimbang milik Dani dan Boy. Itu karena Andi melakukannya tanpa terburu-buru dan tanpa memaksa. Mulai terasa perih ia menarik kembali penisnya sedikit dan membenamkannya lagi sampai akhir seluruh penisnya dilumat vagina Lira. Sodokan pertama penis tersebut masuk seluruhnya sanggup menyentuh bagian dalam vagina Lira yang belum pernah tersentuh sebelumnya. Lira pun merasakan sekali lagi kenikmatan luar biasa itu. Apalagi, Andi tidak langsung memompa pantatnya cepat-cepat dan keras. Pertama masuk penuh, ia menahannya dan memandangi wajah Lira dan kali ini ditambah sebuah kecupan mesra. Lira seperti diawang-awang diperlakukan seperti itu. Ia merasa dirinya demikian berharga di hadapan Andi,

Andi sendiri merasa telah memenangi sebuah peperangan. Penisnya yang sudah bersarang di vagina Lira adalah sebuah tanda babak baru hubungannya dengan Lira yang tidak akan mudah dikembalikan seperti sedia kala. Bersatunya kedua tubuh mereka adalah sebuah ikatan emosi yang hanya bisa dirasakan oleh Andi dan Lira, tak seorangpun bisa merasakan itu.

Setelah itu, mulailah Andi menggerakkan pantatnya mengangkat dan menekan yang membuat penisnya keluar masuk bergesekan dengan liang vagina Lira. Hangat dan lembut bisa Andi rasakan lewat sekujur penisnya dari dalam vagina Lira.

Lira menyambut setiap gerakan Andi dengan jepitan dan gerakan kecil pantatnya. Dari mulutnya keluar erangan yang semakin lama semakin keras dan cepat berirama. Melihat Lira terpejam dan mengerang dengan mulut yang sedikit terbuka sambil mendongakkan kepala membuat Andi makin bernafsu. Lira semakin seksi dalam kondisi seperti itu. Lehernya yang putih dan guncangan kuat pada buah dadanya membuat Andi semakin ingin membenamkan penisnya dalam-dalam di vagina Lira. Apalagi setiap ujung penisnya menyentuh pangkal vagina Lira. Rasanya sungguh tiada tara. Derit ranjang mulai terdengar seiring semakin kuatnya sodokan Andi. Tapi mereka sudah tidak peduli. Lira bukan tidak menyadari seseorang pasti ada yang mendengar deritan tersebut di bawah. Apalagi kalau teman kost yang menempati kamar di bawahnya sedang berada di kamar. Tapi ia yakin semua temannya akan maklum.

Semakin kuat dan cepat sodokan Andi membuat Lira merasakan lagi desakan rasa luar biasa yang akan tiba. Ia hanya bisa mencengkram punggung Andi keras-keras ketika desiran itu semakin kuat dan mencapai puncak. Kepalanya benar-benar mendongak ke atas hingga kedua bola matanya hanya terlihat tinggal putihnya. Setelah sampai, sekali lagi ia merasakan tubuhnya ringan dan aliran darah mengalir deras ke arah vaginanya. Dinding vaginanya berdenyut kuat hingga Andi juga bisa merasakannya. Andi langsung menghentikan gerakannya membiarkan penisnya merasakan cengkraman kuat yang terjadi hanya beberapa detik itu. Tindakan Andi juga membuat Lira merasakan kenikmatan luar biasa. Kali ini terasa lebih nikmat karena denyutan vaginanya tertahan penis Andi yang sedang membenami kemaluannya itu. Semakin banyak saja kekaguman Lira pada Andi. Tahu kapan ia akan merasakan puncak kenikmatan dan menghentikan sodokan membuat Lira bisa merasakan sepenuhnya kenikmatan tersebut. Sebuah teknik bercinta yang baru kali ini Lira rasakan.

“Andi…,nikmat sekali…,”

Lira memeluk Andi kuat-kuat dan menciumi pipi dan pundak laki-laki itu. Sekali lagi Andi tersenyum membalas Lira.

“Enak?”

“Banget!” Jawab Lira singkat dan tegas.

“Gaya lain…?”

Lira langsung mengangguk dan menunggu aba-aba Andi gaya apa yang diinginkan Andi.

Andi membalik badan Lira dan mengangkat badan bagian bawah Lira dengan memeluk pinggang dari belakang. Lira langsung berdebar-debar begitu tahu Andi ingin melakukan gaya doggy. Missionari saja sudah sanggup mencapai pangkal vaginanya, apalagi doggy.

Tak menunggu lama Andi langsung memasukkan penisnya. Lira menunduk sambil menggigit bibirnya merasakan seluruh penis Andi terbenam makin dalam di vaginanya. Pantatnya terangkat tinggi yang membuat Andi semakin tak bisa mengendalikan birahinya. Kali ini Andi langsung mendorong dengan cepat dan Lira mengikuti irama dengan mendorong pantatnya ke belakang. Keduanya sama-sama merasakan kenikmatan yang lebih dalam.

Masuk hitungan belasan menit menyodok vagina Lira, belum ada tanda-tanda dorongan Andi melemah. Sebaliknya justru makin kuat, membuat Lira makin bernafsu. Tetesan peluh mulai membasahi keduanya, namun baik Lira dan Andi justru makin bersemangat. Lira, yang bisa dua kali beruntun merasakan kenikmatan puncak saat disodok Andi dari belakang justru semakin ingin merenguk terus kenikmatan itu. Pantat dan pinggangnya makin bergerak liar membuat Andi tak mampu menahan lenguhannya.

Tiba-tiba ganti Lira yang berinisiatif. Ia lepaskan penis Andi dari vaginanya dan mendorong Andi sampai terlentang. Ia langsung memanjat tubuh Andi dan duduk di atas acungan penis Andi yang masih kokoh berdiri. Melihat Lira bergerak naik turun, Andi tak kuasa untuk tidak meremas buah dada Lira yang terguncang-guncang. Telapaknya yang besar berusaha meraup seluruh permukaan buah dada itu, tapi tidak pernah berhasil. Remasannya makin kuat membuat Lira makin mempercepat gerakannya.

Sekali lagi Lira harus mengaku kalah. Karena meski ia telah mencoba berbagai goyangan yang dipadu dengan gerakan naik turunnya, justru ia yang kembali merasakan desakan kenikmatan dari liang vaginanya. Lira langsung ambruk menindih Andi yang sudah siap menerimanya dengan pelukan mesra dan kecupan hangat di ubun-ubunnya.

“Kamu kuat banget Ndi…”

“Kamu di bawah lagi ya…?”

Lira mengangguk lemah dan menggulingkan badannya ke sisi kanan Andi.

Sebelum Andi memasukkan lagi penisnya ke vagina Lira, Lira memberikan sesuatu yang belum pernah ia lakukan pada laki-laki manapun yaitu memasukkan penis tersebut ke mulutnya. Sebelumnya ia tidak mau mengulum penis yang sudah masuk ke vaginanya. Tapi, untuk Andi, yang telah memberikannya kenikmatan tiada tara, ia lakukan itu.

Puas mengulum dan menjilati penis yang dipenuhi lendir sisa persetubuhan mereka, Lira kembali merebahkan dirinya dan menyuruh Andi memulai lagi aksinya. Andi langsung bergerak dan dorongan seperti saat pertama mereka memulainya yaitu perlahan dan terus semakin lama semakin kuat dan cepat. Lira sudah pasrah kalau ia harus sekali lagi merasakan orgasme, tapi baru ia berpikirbegitu, tiba-tiba sodokan Andi terasa lebih keras dari sebelumnya. Sesaat kemudian Andi mengerang panjang dan menyodokkan penisnya sangat kuat beberapa kali. Lira pun bisa merasakan hangatnya muncratan sperma Andi di dalam vaginanya. Andi masih terus menyodok terputus-putus dan semakin melemah. Sperma Andi juga Lira rasakan mengalir keluar setiap Andi menyodokkan lagi penisnya. Setelah benar-benar selesai, Andi pun ambruk menindih Lira. Andi terdiam sesaat di atas buah dada idamannya itu merasakan betapa nikmat persetubuhannya dengan Lira.

Lira mengusap lembut kepala Andi penuh kehangatan.

“Puas Ndi…?”

Andi hanya mengangguk. Badannya terasa lemas. Lira tersenyum bahagia mendapatkan jawaban Andi. Paling tidak, tekadnya membuat Andi merasakan kenikmatan tertinggi berhasil ia lakukannya.

“Lir, nikmatnya benar-benar ngga ada yang nyamain…”

“Kamu juga hebat Ndi. Baru kali ini aku ngerasain orgasme….”

Keduanya pun duduk berdampingan di sisi ranjang. Lira merebahkan kepalanya di pundak Andi. Sambil membakar rokok, Andi merangkul Lira. Keduanya hanya bisa terdiam dan sama-sama tidak percaya apa yang baru saja terjadi di antara mereka.

Lira masih tidak percaya ia telah melakukan hubungan seks dengan Andi, pacar Lina, teman satu angkatannya. Meski ia memang sudah kagum pada Andi sejak pertama berkenalan, tapi akhirnya sampai berhubungan intim dengan Andi, adalah sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Andi, walaupun ia juga tertarik pada Lira diawali oleh ketertarikan fisik, tetap saja apa yang baru saja ia alami benar-benar di luar dugaannya. Apalagi Lira seperti menyambut keinginan terpendam Andi itu yang sebetulnya ia simpan dalam-dalam. Ia kenal Boy dan tahu bagaimana Boy selalu menerima sarannya dalam hal aktifitas di kampus. Ia juga tahu Boy sangat menghormatinya terutama sebagai senior meski beda fakultas.

Dalam diamnya, Lira tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya Lina yang terkenal emosional di kampus. Serupa dengan Lira, Andi juga sulit membayangkan apa yang akan terjadi pada Boy jika ia tahu apa yang dilakukannya dengan Lira. Boy memang pendiam dan tenang, tapi Andi tahu Boy adalah orang yang keras.

Andi mengeratkan rangkulannya pada Lira. Lira pun membalasnya diikuti kecupan di bibir. Tapi Andi tak membalasnya yang membuat Lira bingung.

“Kenapa…?”

Andi menggeleng sambil tersenyum dan mengecup kening Lira dan mendekap Lira lebih dalam.

“Yuk ke kampus…,” ajak Andi sambil melepas pelukannya.

Lira mengangguk sambil tersenyum. Berpakaian, kedua lantas keluar kamar bersikap biasa. Andi lebih dulu menuju motornya di lantai bawah.

“Bareng aja…,” sahut Andi.

“Oke!”

Waktu saat itu menunjukkan pukul 4.15 sore. Keduanya tak sadar telah dua jam bercumbu dan berhubungan intim. Kalau sesuai janji, Andi sebetulnya sudah terlambat. Dan memang benar, saat tiba di kampus FH, anak-anak yang rapat sudah duduk-duduk di koridor kampus.

“Bareng Lira?” Tanya Lina tanpa curiga.

“Iya, tadi ketemu di jalan, ya sekalian aja.”

“Tunggu bentar ya, 10 menit lagi.”

“Oke, aku tunggu di sini ya.”

Di tempatnya duduk, Andi melihat Lira berdiri di samping Boy. Boy masih sibuk membahas beberapa masalah dengan teman-temannya. Lira pun melirik ke arah Andi dan memberikan sebuah senyum yang manis. Keduanya memang harus kembali bersikap normal, tapi di hati kecil mereka, baik Andi dan Lira sama-sama berharap kejadian yang mereka alami terulang lagi?

Judul: Suami, Kekasih, dan Anak Kost

Author : Hidden , Category: Umum

Aku wanita ‘udik’ 23 tahun, telah berkeluarga dan punya satu anak lelaki umur 2 tahun. Aku memang kawin muda, 18 tahun. Begitu tamat SMU Aku dinikahkan dengan pria pilihan orang tua. Suamiku, sebut saja Bang Mamat namanya (samaran) waktu menikah denganku usianya 35 tahun, sudah mapan, punya usaha sendiri. Kenapa Aku mau menerima lamaran seorang pria yang 17 tahun lebih tua. Pertama, karena Aku memang dididik untuk patuh kepada orang tua dan Aku anak tunggal. Kedua, lingkunganku di pedalaman selatan Jakarta memang mengharuskan gadis seusiaku segera menikah. Ketiga, Bang Mamat memang baik hati. Dia begitu sibuk mengurus usahanya sampai “lupa” mencari calon isteri. Keempat, meskipun Aku punya banyak kawan lelaki dan beberapa diantaranya naksir Aku, tapi semuanya hanya sebagai teman biasa saja. Tak satupun yang pernah Aku “jatuhi” cintaku, kecuali seseorang yang sempat mengisi hatiku, tapi banyak halangan (nanti Aku ceritakan tentang Mas Narto ini). Pendeknya, Aku belum punya pacar. Kelima, Aku termasuk tipe penyayang anak-anak. Sudah banyak anak-anak tetangga yang Aku “pinjam” untuk kuasuh. Aku ingin menjadi seorang Ibu.

Tahun-tahun pertama masa perkawinanku memang membuatku bahagia. Bang Mamat begitu mengasihiku, penyabar, penuh pengertian. Apalagi setelah Si Randy, anak kami lahir, rasanya Aku adalah ibu yang paling bahagia di jagat ini. Bang Mamat juga sangat menyayangi anak lelakinya. Makin semangat mengurusi usahanya yang akhir-akhir ini terkena dampak krisis ekonomi.

“Aku berjanji akan bekerja keras hanya untuk kamu dan Randy,” katanya suatu ketika. Terharu Aku mendengarnya. Aku berterimakasih kepada orang tuaku telah mempertemukan Aku dengan Bang Mamat. Menikah dengan pilihan orang tua memang tak selalu pilihan yang salah.

Kerja keras Bang Mamat dan anak buahnya membuahkan hasil. Perusahaannya telah berhasil memperluas pasar sampai Kualalumpur dan Chiang-mai. Krisis ékonomi tak hanya berdampak buruk, tapi malah membuat produk usaha kami jadi mampu bersaing dalam harga. Keberhasilan ini membawa dampak lain, yaitu pada Aku sendiri. Waktu Bang Mamat banyak tersita oleh pekerjaaannya, sehingga mengurangi waktu buatku. Apalagi Randy sudah dapat “dilepas”, Aku jadi punya banyak waktu luang. Aku sering kesepian. Dalam sepi ini Aku sering mengharapkan Bang Mamat pulang, lalu mencumbuku, dan diteruskan dengan hubungan seks yang nikmat. Ya, akhir-akhir ini kehidupan seks kami jadi meredup. Bang Mamat menjadi jarang memberiku “nafkah bathin”, jarang menyetubuhiku.

Kehidupan seks-ku waktu remaja boleh dibilang “kuno”. Kawan lelaki banyak, pacaran baru sekali, itu pun secara back street, diam-diam, karena orang tua tak memberi restu. Cara berpacaranpun tak seperti remaja kota jaman sekarang sampai tidur bersama sewa hotel. Kami hanya sekedar cium-ciuman dan meraba-raba. Sehingga dengan Bang Mamat suamiku-lah hubungan seks-ku yang pertama kulakukan. Kepada Bang Mamatlah keperawananku kupersembahkan.

Kadang Aku menangis sendiri dalam sepi, ingat beberapa tahun lalu Bang Mamat begitu menggebu-gebu melumatku sampai Aku terasa melayang-layang, mandi keringat dan lalu kelelahan. Itu dilakukannya hampir setiap hari. Bahkan dikala libur, Bang Mamat “minta” beberapa kali dalam sehari. Senyum sendiri Aku ketika ingat kejadian pagi di hari libur, kami bersetubuh di ruang tamu dan hampir “tertangkap basah” oleh anak buah Bang Mamat. Aku dan Bang Mamat sedang duduk-duduk santai di ruang tamu. Hari libur itu suamiku sedang menunggu stafnya yang akan melapor hasil penjualan bulan berjalan. Kami duduk saling merapat, lalu mulailah Bang Mamat mencumbuiku. Diciuminya seluruh wajahku, lalu leherku. Tangannya mulai menyusup ke dasterku. Dengan lembut disentuhnya puting dadaku, sentuhan lembut beginilah yang membuatku terhanyut. Lalu diremasnya buah dadaku perlahan. Aku mulai terrangsang. Bang Mamat memang nakal. Dipelorotkan sarungnya, dan nongollah batang penisnya yang amat tegang. Aku tak menyangka dia tak memakai celana dalam. Rasanya sehabis “permainan pagi” tadi kami mandi dan Bang Mamat mengambil pakaian dalam lalu pakaian kebesarannya : oblong dan sarung. Entah kapan dia melepas cd-nya. Ditariknya tanganku ke selangkangannya, kubelai-belai penisnya dengan penuh perasaan. Sementara Aku sendiri tambah terangsang.

Bang Mamat cepat-cepat melucuti pakaianku, lalu sarung dan oblongnyapun telah tergeletak di lantai. Kami telah telanjang bulat. Aku ingin Bang Mamat segera “mengisi” selangkanganku yang telah melembab. Kutarik Bang Mamat ke kamar.

“Di sini aja deh,” katanya menahan tarikanku.

“Gile Bang, dilihat orang,” protesku.

“Engga akan kelihatan dari luar deh,” sahutnya. Ruang tamu kami memang ada jendela kaca lebar, tapi tertutup viltrage. Pandangan dari luar memang tak bisa menembus ke ruang tamu.

“Kunci dulu dong pintunya.” Bang Mamat melepaskan tindihan ke tubuhku, bangkit menuju pintu. Pria telanjang bulat dengan penis yang tegang, lalu berjalan adalah suatu pemandangan yang agak lucu, walaupun hanya beberapa langkah.

Aku mempersiapkan diri. rebah terlentang di sofa, sebelah kakiku terjuntai ke lantai. Sebelah lagi Aku angkat ke sandaran sofa.

“Oh …..! ” Bang mamat terperangah melihat posisiku. Ditubruknya Aku. Dibenamkan mukanya ke selangkanganku. Nafsuku makin memuncak ketika kurasakan “kilikan” lidah bang Mamat di bawah sana. Untung Bang Mamat segera tahu bahwa Aku sudah “siap”. Dia bangkit, bertumpu pada kedua lututnya di antara kedua pahaku, mengarahkan “si gagah” ke mulut vaginaku. Aku memejamkan mata menunggu saat-saat nikmat ini………….

Tiba-tiba pintu diketuk. Bang Mamat bangkit, urung penetrasi. Secara refleks Aku menyambar daster dan menutupi tubuh telanjangku. Dari posisi rebahku ini Aku bisa melihat melalu kaca jendela lebar, seseorang berdiri di depan pintu. Pak Sakir (samaran juga) pagi ini memang diundang suamiku untuk melapor. Aku langsung beranjak sambil memunguti bra dan cd-ku, tapi Bang Mamat mencegahku sambil menutup jari telunjuknya di bibir. Lalu, hampir tanpa suara dia kembali merebahkan tubuhku, membuka pahaku lebar-lebar, lalu mulai menusuk.

Aku harus menutup mulutku dengan telapak tangan dan berusaha mati-matian untuk tak mendesah, apalagi merintih. Padahal, pompaan bang Mamat enak dinikmati sambil mendesah, melenguh, merintih, bahkan teriak! Apa boleh buat, kondisi tak mengijinkan. Aneh juga rasanya. Kami sedang asyik menikmati seks, sementara beberapa meter di dekat kami, berdiri seseorang menunggu, sambil sesekali mengulang mengetuk pintu, tak tahu apa yang sedang kami lakukan. Tak tahu? Entahlah. Orgasmeku tak optimal, sebab tak “lepas”, harus menutup mulut. Tak apalah, toh nanti malam kami akan lakukan lagi. Aku cepat-cepat memunguti pakaianku yang berserakan di lantai, lalu masuk kamar. Bang Mamat menemui Pak Sakir hanya dengan belitan handuk di pinggangnya, seolah bersiap mau mandi…….

***

Rheina “Ipeh” Mariyana Rheina Maryana pemeran “Ipeh” di Bagito

Pembaca, perkenankan saya flash-back dulu, agar Anda mendapatkan gambaran yang utuh tentang diriku.

Masa remajaku cukup menyenangkan. Aku banyak dikenal di lingkungan sekolah, terutama cowoknya, karena Aku gampang bergaul. Dari banyak teman cowok, beberapa di antaranya pernah mengungkapkan cintanya kepadaku, atau meminta Aku jadi pacarnya. Tapi semuanya Aku jawab sama, cuma berteman, Aku belum ingin terikat. Mereka mengatakan Aku mirip Ipeh, itu lho yang suka nongol bareng Bagito waktu melawak sebagai bintang tamu (makanya aku pinjam namanya).

“Tapi kamu lebih seksi,” kata mereka. Seksi apanya? Mereka tak mau terus terang mengatakannya. Akhirnya Aku tahu sendiri. Bila Aku sedang jalan-jalan, di Mall atau gedung bioskop, atau jalan kaki dari halte bus ke rumah dan sebaliknya, bila berpapasan dengan cowok, Aku perhatikan mereka, terutama cowok dewasa, setelah menatap mukaku matanya langsung menuju dadaku. Mungkin bentuk dadaku ini sehingga mereka mengatakan Aku seksi?

(Di kemudian hari penegasan tentang hal ini Aku dapatkan dari Mas Narto, cowok yang sempat mengisi hatiku). Mulanya Aku memang tak menyadari akan “kelebihan”ku ini. Bentuknya sama dengan umumnya buah dada, dua bulatan kembar. Tapi setelah hampir setiap mata cowo mengarah ke sini, Aku jadi memperhatikan, apanya sih yang menarik perhatian mereka? Ukurannya barangkali. Kalau kami rombongan cewe pulang sekolah jalan-jalan di Mall mampir ke lingerie-corner, bra yang kubeli memang nomornya paling besar. Menyadari hal ini, Aku jadi lebih berhati-hati mengenakan pakaian atasan. Kalau tak perlu benar Aku jarang memakai atasan yang ngepas, sebab tonjolan kembarnya makin nyata, walaupun bra yang kupilih jenis yang tipis …..

Ayah, Ibu, dan Aku menempati rumah di selatan Jakarta ini secara turun-temurun. Ini memang rumah warisan dari kakek. Rumah sederhana tak begitu besar, 4 kamar tidur, hanya halamannya cukup luas yang ditumbuhi banyak pohon rambutan dan belimbing. Waktu Aku SD dulu lingkungan kampung ini amat sepi. tapi sekarang setelah wilayah ini berkembang menjadi lokasi pendidikan, banyak kampus baru dibangun, dari perguruan tinggi yang terkenal sampai institusi pendidikan yang kampusnya hanya “ruko” serta berbagai macam kursus, daerahku jadi ramai. Pembangunan kampus-kampus diikuti oleh pembangunan usaha ikutannya seperti restoran, warung makan (segala jenis makanan ada), toko buku dan alat tulis, usaha fotokopi, wartel dan warnet, kantor pos, bank, dan tentu saja usaha kost.

Rumah kami sering didatangi mahasiswa yang ingin kost, sewa kamar, atau ngontrak. Ayah tak pernah menerimanya.

“Tanggung,” kata Ayah. “Cuma punya satu kelebihan kamar.”

Sampai pada suatu saat Ayah terpaksa menyewakan kamar yang kosong itu, karena diminta oleh sahabat Ayah yang tinggal di Bandung untuk anaknya, Didin. Didin tinggal setahun lagi menyelesaikan kuliahnya. Aku masih di SMP. Ketika Didin menamatkan kuliahnya dan cabut dari rumah pindah ke Jakarta, kamar diisi lagi oleh anak lelaki kawan Ayah yang tinggal di Salatiga, Narto (bukan nama sebenarnya) namanya. Aku masuk SMU.

Awalnya tak ada apa-apa antara Aku dan Mas Narto. Aku mulai tertarik karena Narto sebagai anak kost bersedia membantu Ayah, Ibu dan Aku, selain karena dia cerdas. Aku serasa mendapatkan guru privat untuk mata pelajaran Matematika, Fisika dan Kimia. Dia pernah usul pada Ayah untuk mengembangkan rumah kami menjadi kost-kost-an memanfaatkan lahan kosong yang terletak di samping-depan rumah. Desain kamarnya dia bikin, bisa jadi 20 kamar kalau 2 lantai.

“Biayanya dari mana?” kata Ayah.

“Pinjam dari bank, Pak.”

“Emang gampang minjem duit di bank.”

“Ada persyaratannya, memang. Sertifikat rumah untuk borg, dan proposal usaha.”

“Proposal apa?”

“Saya dan teman-teman yang bikin proposal,” ujar Narto.

Hitung-hitungan Mas Narto, kami bisa mendapatkan penghasilan lumayan dari usaha ini setelah dipotong cicilan dan bunga bank disamping bisa memberi pekerjaan paling tidak untuk 2 orang.

“Saya jamin kamar akan selalu terisi,” tambah Mas Narto meyakinkan Ayah. Untuk hal ini Aku sependapat dengan Mas Narto. Rumah kami memang letaknya strategis, tak jauh dari jalan raya, tapi cukup hening dan teduh, lingkungan yang hijau.

Tapi ayah masih pikir-pikir, belum mengiyakan.

Mas Narto selalu ada waktu buatku kalau Aku nanya-nanya PR ketiga mata pelajaran itu. Penjelasannya malah lebih enak dibanding guruku, mudah dimengerti. Aku bebas saja keluar masuk kamarnya. Sudah biasa kalau Aku mendapati Mas Narto hanya bercelana pendek di kamarnya. Kadang Mas Narto juga masuk ke kamarku, dengan seijinku. Pernah ketika Mas Narto masuk ke kamarku dan kami ngobrol sambil Aku terus melipat lengan di dadaku. Aku baru saja selesai mandi dan belum sempat mengenakan bra, hanya t-shirt saja. Aku dan juga seisi rumah menganggap kami seperti kakak-adik. Anehnya, kalau Mas Narto liburan semester dan pulang kampung, aku merasa sepi, Aku merindukan kehadirannya. Sebaliknya, bila teman sekolah (cowok) main ke rumah, roman muka Mas Narto menunjukkan rasa kurang senang. Sampai suatu ketika, ternyata Mas Narto mengangga